Sinterklas ataupun Santa Claus alias St. Claus mungkin tokoh paling terkenal di masa perayaan Natal umat Kristiani bahkan mungkin popularitasnya melebihi si Bayi Yesus; alasan dan pemilik perayaan ini. Suasana Natal baik di belahan utara dan negara – negara Eropa ataupun berbasis Kristiani hingga menjalar ke tempat – tempat lain di planet bulat ini tak lepas dari kehadiran pria berjanggut dengan perut berlemak dan berpakaian a la bendera merah putih, yang untungnya ia tak dikerek di tiang bendera. Namanya pu bervariasi di berbagai negara. Mulai dari Santa Claus di negara berbahasa Inggris hingga Sinterklaas a la Belanda (yang diadopsi di Papua) hingga seperti Papa Noel. Aku tak peduli seberapa manis namanya ataupun ia berganti rupa jadi pria langsing six pack a la model majalah Cosmo. Bagiku, aku tak suka dengan Sinterklas yang dikultuskan! Bukan karena ia sekedar ‘pencuri’ makna natal tapi juga alasan aku sering berkelahi dengan orang tuaku plus merupakan salah satu alasan aku sejak kecil percaya bahwa orang dewasa memang tak bisa dipercaya *wink – wink
Aku tak percaya pria gendut ini sejak aku berumur sekitar 7 atau 8 tahun. Sejak kecil aku dan keluargaku memang tak begitu sanggup untuk menghias rumah kami dengan dekorasi natal yang ‘wow’ karena toh pohon natal pertama kamipun hanya sebuah pohon natal plastik kecil bulukan yang bebas dekorasi Sinterklas. Tapi sempat orang tuaku memupuk mimpiku tentang seorang opa gendut baik hati yang akan memberikan hadiah, itu pula yang dikatakan oleh teman – teman sepermainanku. Hingga kaos kaki jelek sekolah kugantungkan di dinding plus juga sepatu yang diisi rumput kuda kuletakkan di depan rumah pada minggu pertama bulan Desember. Tak lupa pula dengan acara menulis surat untuk Santa di kutub utara =D. Menjelang masa – masa menanti itu, yang notabene adalah saat pertama kali aku juga ikut – ikutan tradisi yang diadakan teman sepermainanku yang juga kebetulan adalah para sepupu jauh dari pihak opa, aku mendapatkan satu pelajaran penting dalam hidup; Santa DIDN’T exist!!!
Pace tua itu memang tak ada. Aku bukan kecewa karena hadiahnya tidak kudapat tapi karena aku menemukan faktanya sendiri. Ceritanya dua hari sebelum hari H kedatangan Santa di malam hari alias 2 hari sebelum aku memasang sepatu penuh rumput di rumah, aku dengan kebiasaan kecilku untuk mencari tahu segala sesuatu di rumah termasuk isi lemari orang tuaku sedikit aneh menemukan beberapa barang baru di lemari orang tuaku seperti sapu tangan, mainan anak – anak dan juga benda lainnya. Waktu itu aku hanya cuek dan bertanya, “tumben, ortu lagi punya uang beli barang baru.” Ternyata di hari H saat mengecek hadiah dari Santa, semua benda baru di lemari ada di dalam kotak kado di sebelah sepatu kami. Dan itulah hari dimana aku kehilangan kepercayaanku bahwa pria tua gendut janggutan itu ADA ataupun punya kemampuan menjawab permintaan Tentu saja ini juga termasuk dengan hilangnya kepercayaan pada orang dewasa ^____^ Trust me, sejak aku kecil, aku bahkan sudah tahu bahwa orang dewasa adalah orang – orang yang tak bisa menepati janji mereka!!! Dan pada satu sisi, aku tahu aku dibohongi! Bukankah rasa sayang tak harus bersalutkan kebohongan?
Seiring dengan waktu dan berkembangnya pemahamanku sebagai orang Kristen, aku semakin tak suka pada pria gembul ini. Aku tidak membenci St. Nicolaus; seorang baik hati beberapa abad silam yang menyayangi anak – anak yang aku percaya tidak segemuk dan segembul a la Sinterklas yang digambarkan media, karena ia hanya lelaki miskin yang baik hati dan gemar membagikan apa yang ia punya bagi orang tak mampu.Yang aku benci adalah pengkultusan St. Nicolaus dalam bentuk pria gendut janggutan yang gemar berteriak “ho – ho – ho”. Entahlah siapa yang pertama kali membuatnya menjadi berlemak seperti itu. Untung opa ini tak berteriak “Ho” kalau tidak ia pasti berubah menjadi pria gendut cabul *wkwkwkwkw (Ho dalam slang Amerika = perempuan ‘Nakal’).
Aku punya banyak alasan tak suka pada Sinterklas dalam tradisi natal sebagaimana rasa tak tertarikku pada pohon natal. Anggap saja aku aneh atau apalah, tapi itu yang aku percaya walau aku memang tetap menghargai orang – orang yang merayakan natal dengan perangkat natal warisan kaum pagan Eropa seperti orang tuaku.
Bagiku, Sinterklas hanya ‘bintang tamu’ perebut perayaan ini dari Yesus. Seharusnya Yesus yang menjadi alasan perayaan ini dan bukannya lelaki gembul ini. Toh banyak orang Kristen lupa dengan Yesus dan mengagungkan si Santa Merah – Putih. Hiasan rumah semua bertema Sinterklas. Jalan – jalan hingga bisa diadakan parade Santa. Banyak sekali film natal yang menurutku hanya sebuah pembodohan publik dan iman kekristenan yang tak menumbuhkan iman yang menampilkan si Santa yang Jago sihir, jago menerbangkan kereta kuda yang mungkin bahan bakarnya adalah biogas dari feses rusa Entahlah ... mungkin aku yang aneh menanggapi hal ini. Tapi apa mau dikata, karena pria gendut ini sangat “menjual”. Hello, industri dan para pedagang mencintainya. Santa Sales!!!
Santa Sales! Iya, ungkapan ini kan lebih tepat menggambarkan popularitasnya belum ditambah dengan Pit Hitam pengiringnya yang entah dicomot dari dunia mana dan kenapa juga harus eksis. Memangnya seberapa banyak sih yang mau membeli aksesoris a la bayi Yesus dan kostum Timur Tengah bila ada perayaan natal? Lihat si pria gendut ini, dengan kostum khas Eropa berwarna eye-catching ngenjreng a la bendera Indonesia, ia berhasil menohok perhatian. Mulai dari topi kerucutnya yang bentuknya kok adaptasi dari topi Merlin si penyihir apa topi tidur hingga kostumnya yang bisa diubah bentuk dari coat musim dingin hingga bikini dan lingerie cewek Kalau mau dihitung, pasti bisa didata lebih dari 5 benda yang bisa memuat gambar pria gendut ini.
Aku juga punya alasan – alasan pribadi mengapa aku tak suka Sinterklas. Mungkin kedengaran konyol tapi bagiku pengkultusan Sinterklas apalagi dengan membuat festivalnya dan bahkan kunjungan – kunjungannya hanya membodohi anak – anak dan tidak mengajarkan inti esensi Kekristenan tentang kasih karena Sinterklas adalah makhluk pilih kasih yang hanya ‘menyukai’ anak – anak penurut. Jadi yang anak nakal, ke laut aja =) Padahal inti natal adalah kedatangan Yesus dalam kesederhanaan untuk menebus yang berdosa dan terhilang.
Aku juga punya alasan pribadi tak suka pada Santa karena kunjungannya ke rumah sewaktu adik perempuanku masih kecil dan juga hingga sekarang pada para keponakanku hanya membawa sedikit ‘bencana argumentasi’. Mulai dari membuat sibuk dan repot dan lunturnya semangat anak – anak yang harus menunggu berjam – jam penuh harap akan hadiah dari Santa yang notabene dari orang tua mereka hingga trauma dan ketakutan mereka dan menjerit histeris melihat santa dan para pengiringnya yang aneh binti ajaib itu hingga kecelakaan di kompleks perumahanku. Tahun ini saja sudah ada 1 keponakan jauhku yang menjadi korban saat kunjungan Santa di kompleks perumahannya karena ketakutan dikejar - kejar Pit Hitam dan ia harus jatuh di kolam Kangkung hingga kepalanya pecah berdarah. Belum lagi keponakan perempuanku yang ketakutan dan histeris menangis. Bahkan bayi 1 tahun di rumahku selama dua hari ini ketakutan bila melihat boneka Santa pembelian orang tuanya yang berisikan lagu ‘Jingle Bells’. Bayi ini benar – benar menunjukan ketakutannya dengan menangis dan menghindari boneka Santa kala lagu ini diperdengarkan. Mungkin kemarin melihat bagaimana kakak perempuannya histeris dan menjerit saat kedatangan rombongan Santa yang lagu pengiringnya memakai peralatan sound system besar dengan lagu andalan ‘Jingle Bells’.
Sinterklas juga bagiku hanyalah invasi budaya pagan Eropa yang melunturkan sendi dan esensi budaya kekristenan lokal. Selalu saja PRIA KULIT PUTIH sebagai penolong dan orang baik hati dan PIT HITAM sebagai simbol yang ‘jelek’ dan lain – lain. Seakan – akan dikotomi hitam – putih menjadi pelengkap dunia ini. Seakan – akan di dunia ini yang terhebat dan baik hati dan menjadi ‘pahlawan’ haruslah selalu dari ras Kaukasian dan ras lainnya hanyalah pengiring dan pelengkap kegembiraan alias hanya ‘bantu bikin rame’ saja. Entahlah, apa aku yang terlalu percaya pada ‘teori konspirasi’ hingga kadang sinis melihat Sinterklas. Anggap saja aku aneh!!! Kenapa juga harus si Santa ini yang digembar-gemborkan bahkan dibuat paradenya oleh gereja – gereja Kristen di kotaku? Kenapa tidak mengangkat nasib, aspek sosial pelayanan dan kesederhanaan para guru injil yang mengajarkan literasi dan menyebarkan gospel di pedalaman dan tempat – tempat di mana hidup para kaum marjinal ataupun mengadakan aksi sosial yang lebih mengajarkan makna dan esensi natal yang minus pesta pora. Entah mo dibuat pameran atau workshop dll, yang penting lebih down-to-earth dan mengangkat isu sosial dibandingkan si opa tua yang entah hidup di planet mana.
Yang pasti sekarang aku lebih melihat esensi Sinterklas dalam perayaan ini. Bagiku, ia hanya seorang pria gendut kurang perhatian yang menjadi badut tua pesta dan sebenarnya tak diperlukan dalam perayaan ini; apalagi harus dipercayai.
Dan aku heran, kira – kira ... apa ya kata Yesus tentang Sinterklas?
Karena bagiku, Sinterklas ... Epen ka?*
(Manokwari, 081210/Dari-yang-tak-suka-pada-Sinterklas)
(Catatan: Epen ka is an expression Papuan Malay to express either ‘whatever’ or ‘who cares?’)
2 comments:
Setuju. :)
"Sinterklas pencuri makna natal" malahan di film-film natal (Holywood) dibuat seolah2 natal itu terjadi karena sinterklas.
let's spread the real good news about Christmas
minta Facebook boleh?
Post a Comment