Search This Blog

Loading...

Friday, 29 October 2010

Takut

Takut! Semua orang pernah merasakan sensasi dan perasaan ini. Bagaimana manusia merasa tak kuasa akan sesuatu benda mati, benda hidup pun sesuatu yang berada dan diyakini berada di antara hidup dan mati. Aku bukan orang psikologi dan kesehatan yang bisa mendefinisikan bagaimana hal ini dapat terjadi. Yang aku tahu, takut bisa menjadi sebuah sumber uang yang tak akan habisnya dari makhluk bernama manusia. Sebut saja dari bisnis takut yang berubah menjadi bisnis teror. Fulus yang keluar pun bukan dari beberapa ratus rupiah tapi bisa berubah menjadi milyaran rupiah pun dollar, tergantung dikonversikan dalam mata uang apa dan konteksnya di mana. Toh karena aku hidup di tempat dimana takut dan teror menjadi bersaudara, aku mau menempatkannya dalam konteks di mana aku tinggal; tanah Papua dan juga di negara yang bernama Indonesia.

Karena takut akan hilangnya kecantikan sebagai pelaris manis mendapatkan fulus, ketenaran dan kejayaan serta mungkin yang penting sebagai esensi manusia; agar dapat diterima dan merasa menjadi ‘manusia’, beribu cara ditempuh. Dari sejumlah krim malam dan kosmetik mahal walau berbahan dasar janin manusia pun ditempuh. Tak lupa berbagai kunjungan resmi tak resmi ke para peruwat kecantikan pemasang susuk pemaling kesadaran dan pandangan. Tak peduli berbagai ritual yang dijalani dan juga kucuran rupiah yang berpindah tangan, semua akan dijalankan asalkan kecantikan dan kemudaan diperoleh. Mungkin bila harus membunuh pun akan dilakoni oleh para pemuja kemudaan ini. Toh mereka lupa bahwa organ dalam mereka tetap akan menua dan pada akhirnya kan berakhir di kubangan tanah dan digerogoti cacing dan bakteri pengurai. Bukan hanya para kalangan pesohor yang didesuskan takut akan hilangnya kecantikan, toh manusia khususnya perempuan dari berbagai kalangan pun terjangkit virus ini.

Karena takut akan sesuatu yang diyakini jahat dan bukan benda hidup pun mati. Para petinggi baik dari kalangan militer maupun sipil berlomba mengatasi rasa takut dan teror psikologis mereka. Mulai dari menyewa jasa pengawalan berupa para lelaki berbadan kekar dan berotor hingga tak lupa para dukun dikerahkan. Mulai dari ruwatan memakai tumbal hingga bergepok rupiah dan dollar dikeluarkan. Tak tanggung – tanggung ‘staf ahli spiritual’ ini bukan hanya mereka yang berlabel ‘dukun-ilmu-hitam’, toh ada juga yang mengerahkan jubah - jubah agama tertentu lengkap dengan pasukan spiritualnya. Mulai dari mengerahkan teror buatan sendiri yang sayangnya pernah beberapa kali tertangkap calon korban hingga yang berusaha tampil canggih dengan acara ‘penglihatan’ dan terawang yang mumpuni. Banyak orang terjebak dan membiarkan diri dimanipulasi oleh rasa takut mereka akan kekuatan yang tak kelihatan hingga lupa bahwa mereka sendiri mempunyai kekuatan yang ada di dalam diri mereka untuk melawam rasa takut itu.

Karena takut kehilangan pendapatan besar dari bisnisnya, ada yang nekat membayar ratusan bahkan ribuan penjaga yang menjaga aset bisnisnya. Sayangnya kala terjadi perubahan dalam sistem penjagaan, pihak pemberi jasa pun kehilangan mata pencarian. Yang ada malah penyerangan kembali pada aset yang pernah dijaga. Toh gampang sekali mencuci tangan dengan memanfatkan para orang kecil yang didaulat bersalah. Toh sistem hukum yang ada bagai jaring laba – laba yang hanya sanggup menangkap serangga kecil sedang burung besar yang terbang dapat terbang bebas di angkasa. Alih – alih berharap kebenaran akan ketakutan akan diselesaikan, yang ada simpul tak bernama bernama teror terlanjur mengikat setiap orang yang terhubung dengan aset bisnis tersebut. Manusia oh manusia, teror oh teror!!
Karena takut ditinggalkan dalam sebuah hubungan, ada yang rela membiarkan diri hamil agar dapat dinikahi atau setidaknya ‘memiliki’ seorang individu. Terlepas ada cinta ataupun tidak. Yang ada hanyalah kehampaan rasa dan menafikan hidup. Takut akan rasa sepi membuat orang tak berpikir sehat lagi dan kebingungan hilang arah.

Karena takut ketahuan dan tidak percaya diri akan diri sendiri, ada orang yang rela menjadi orang lain memakai identitas palsu, bersembunyi dalam kekerdilan jiwa yang merasa alam dalam bayangan. Mencoba menjadi sisi lain dirinya yang liar dan jantan. Toh sepandai – pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Segalak – galaknya anjing menggonggong, toh mati kena potaz juga. Bayangan terobek cahaya kebenaran dan nama baik hancur berkeping. Toh wajah buruk cermin dibelah coba ditambal dengan penggalan kata – kata suci para nabi tiap hari. Mencoba menguburkan bau telur busuk yang terlajur merebak dan dicium warga satu RW. Manusia oh manusia, mengapa harus takut mengakui perasaan dari awal, toh tak akan sesakit kala wajah palsu dikuak ke umum dan menyakiti hati banyak orang. Yang ada tak ada lagi hormon oksitosin yang dihasilkan untuk membuat beberapa orang percaya.

Rasa takut tidak untuk dihindari pun dibenci.
Rasa takut tidak untuk dijadikan penentu hidup manusia.

Rasa takut membuat kita menjadi lebih manusiawi dan sadar bahwa ada yang ‘lebih’ dari kita. Tapi bukan untuk ditakuti. Bukan untuk dipuja berlebihan. Tapi untuk dihargai dalam level yang membuat kita tetap sebagai manusia.

Rasa takut bila dikelola dengan baik dan sadar akan kehadirannya malah akan menjadi kekuatan terbesar kita untuk membuat perubahan dan menghasilkan hasil yang lebih baik bagi masa depan. Rasa takut bila dikelola dengan baik akan membuat kita lebih waspada dan bukannya menjadi penakut.

Waspada bukan takut berlebihan tetapi rasa takut yang terkontrol dengan logika dan emosi dan tidak membiarkannya terhambur berantakan.

Satu yang pasti, jangan takut merasa ‘takut’ karena takut membuat kita lebih manusiawi ASALKAN jangan berlebihan dan terobsesi pada rasa takut.

(Manokwari, 28 Oktober 2010)

1 comments:

Anonymous said...

hai...
kenapa Blog ini berisi banyak kesedihan... tapi saya mengikutinya selalu. Berharap ada cerita bahagia menjadi bagiannya..