Search This Blog

Loading...

Friday, 29 October 2010

Macet Pasir Putih

Hari minggu lalu mungkin hari yang tak terlalu menyenangkan bagiku. Bukan karena cuacanya yang cerah dan panas ataupun karena tak ada kegiatan yang dapat dilakukan tapi karena terjebak dalam kemacetan parah di kotaku, khususnya di areal pantai wisata Yenbebai atau yang lebih dikenal dengan nama pantai Pasir Putih. Hari itu hari minggu tanggal 12 September 2010, hari ketiga perayaan Idul Fitri di kotaku Manokwari. Hari itu banyak warga Manokwari khususnya dari daerah transmigrasi di luar kota (Prafi) memilihnya dengan bepergian ke pantai ini. Suasana pantai dipenuhi dengan lautan manusia dengan pakaian warna – warni ditemani aroma daging dan ikan bakar dan disaput asap beraroma makanan. anak kecil, tua muda, lelaki dan perempuan tumpah ruah memenuhi pantai dengan garis pantai sekian puluh meter. Tak ada ruang kosong untuk sekedar berjemur dan mendapatkan celah kosong. Kanak – kanak berlari riang di pantai berkejaran sebagaimana dapat dilihat dari jalan raya yang hanya dibatasi pagar kawat duri bertiang balok biru. Terlepas dari keriaan pantai, aku mendapati diriku berada pada kemacetan yang melelahkan dan menguras emosi dan menantang adrenalin berpacu kencang dengan akal sehat.

Sekitar pukul 1 siang lebih, aku dan adikku mengendarai motor kami ke pantai guna mencari spot untuk mendokumentasikan gaya kami hari ini. Tentu saja sekalian mengambil foto beberapa spesimen tumbuhan dan vegetasi yang hendak kukoleksi. Tujuan kami mulai dari Pasir Putih dan berakhir hingga Amban Pantai. Perjalanan menuju Pasir Putih disambut adikku dengan bahagia karena tampaknya ia butuh acara jalan – jalan usai kepindahan pacarnya ke kota lain. Saat masuk ke lokasi pantai wisata ini, tak terbersit tantangan yang hendak menghadang kami. Dengan membayar tagihan masuk Rp. 3000,-, aku dan adikku pun masuk ke lokasi pantai. Sistem pembayarannya tentu saja bukan a la mesin tol dan petugas resmi. Tapi sekedar beberapa pemuda dengan kaos yang tak seragam menghentikan setiap kendaraan dan menagih uang. Setidaknya mereka memberikan kami karcis. Entah alokasi uang itu dipakai untuk apa, apakah untuk membersihkan pantai walau bukan berarti pantai otomatis bersih karena tetap saja di daratan masih banyak sampah yang betebaran apalagi di air lautnya yang setiap habis hujan ibarat loyang cucian raksasa besar berisikan sampah plastik dan berbagai jenis sampah lainnya ataukah kepentingan yang lain. Aku tak tahu.

Satu hal yang aku tahu, pantai wisata Yenbebai alias Pasir Putih perlu penataan demi peningkatan kualitas layanan masyarakat di masa mendatang. Ada beberapa hal yang kulihat perlu dibenahi dan tentu saja uneg – uneg ini murni karena didorong oleh pengalaman terjebak kemacetan di pantai yang cukup membuatku gerah. Beberapa hal yang ingin kugaris bawahi dalam catatan ini tentang masalah tempat parkir dan manajemen macet, kebersihan pantai dan juga perawatan pantai.

Macet; satu kondisi yang kualami minggu kemarin. Dengan mengendarai motor dan terjebak macet di badan jalan yang sempit yang hanya cukup menampung 2 mobil ukuran standar yang bersisian yang badan jalan telah terpotong dengan parkiran kendaraan bermotor tentu bukan pengalaman menyenangkan. Kemacetan mungkin hal biasa di pantai ini tapi pengalaman minggu kemarin menunjukan bahwa kapasitas tempat parkir dan manajemen macet sudah perlu dipikirkan pengelola pantai ini;Dinas Pariwisata. Manajemen parkir yang tepat tentu saja memberikan kepuasan bagi para pengunjung. Hal – hal yang dapat ditemukan lewat beberapa kali kunjungan ke pantai ini di hari minggu adalah kurang adanya koordinasi antara pihak – pihak yang bekerjasama dengan pengelola. Misalnya saja setiap motor yang melewati ruas jalan di depan pantai wisata akan ditagih uang karcis masuk padahal jalan depan pantai ini merupakan jalan penghubung dengan beberapa kawasan pemukiman a.l. Pasirido, Arowi, Abasi dan Bakaro. Sehingga beberapa kali para pemakai jalan kecuali angkot dikenakan biaya ’lintas’ jalan yang sama. Hal ini tentu saja kurang efektif dan memberatkan penumpang. Selintas bayangan negatif a la ”polisi cepe’ ” di Jakarta mengental dalam benak.

Selain kurang efektifnya sistem penarikan retribusi, ketersediaan lahan parkir menjadi masalah. Pantai Yenbebai memang strategis di pinggir jalan tetapi karena terlalu dekat dengan jalan penghubung maka luasan parkiran pun berkurang sehingga badan jalan yang sedianya menjadi tempat pejalan kaki pun diperkosa menjadi lahan parkir. Kendaraan roda dua mungkin tidak terlalu menimbulkan kemacetan karena parkir di badan jalan sempit ini walau memenuhi kedua belah pinggir jalan yang disediakan untuk berjalan. Yang menjadi masalah adalah kendaraan roda empat pun ikut – ikutan parkir di tempat yang sama, mulai dari mobil pribadi hingga truk dan minibus hingga mempersempit badan jalan. Kejadian minggu ini juga cukup membuatku menahan napas dan marah. Terjebak hingga lebih dari 45 menit dan terpapar panas dan dengan klakson yang berbunyi di antara arus kendaraan dua arah dan diapit deretan kendaraan yang parkir pada dua sisi hingga memakan badan jalan bukan hal yang menyenangkan saat matahari bersinar terik dan diterpa asap beraroma daging bakar. Saling umpat dan caci serta banyaknya orang – orang yang tak terkoordinir dan sok mengatur tapi malah makin kacau membuat senewen di tengah hari seperti minggu kemarin. Lebih menyenangkan bila pengelola mengambil kebijakan untuk memberdayakan petugas penarik karcis yang hingga 5 – 6 orang itu untuk mengawasi arus penumpang dari arah sebaliknya dan meminta serta mengatur para pengunjung yang hendak pulang terlebih yang memakai kendaraan roda empat untuk memutar dan melewati jalan pintas lewat arah lain. Hal ini bisa dilakukan dengan memutar lewat jalan menuju Pasirido melanjutkan perjalanan keluar lewat jalur Ayambori ataupun lanjut melalui Susweni hingga tembus ke Amban dibandingkan memaksakan diri dengan jalur reguler dan membuat lalu lintas merayap selama lebih dari 1 jam (aku dan adikku ikut antrian saat kendaraan sudah macet dan tak bisa lagi meninggalkan badan jalan karena terjebak di dalamnya saat sedang mengantri pembayaran). Para pengunjung juga bisa membuat pilihan bila ingin menggunakan jalur reguler dengan menunggu hingga sedikit sore saat arus lalu lintas berkurang.

Pelajaran terjebak macet di pantai ini membuatku sadar akan satu pengalaman yang berbeda sewaktu tinggal di luar negeri; memberi kesempatan pada orang lain. Saat terjebak di jalur kemacetan ini, aku tak bisa mengontrol diriku untuk tidak mengumpat para pengendara motor yang menerobos seenaknya dengan harapan melarikan diri dari jalur kemacetan. Alih – alih menciptakan ruang kosong berkendara, mereka malah semakin membuat macet karena menggunakan jalur orang lain dan terjebak di tengah dua jalur kendaraan. Selain itu, kendaraan pribadi khususnya roda empat yang datang ke pantai tidak berpikir untuk parkir di tempat yang lebih lowong dan luas untuk kendaraan mereka walau letaknya sedikit ke arah ujung pantai tetapi memaksakan menggunakan sepertiga badan jalan untuk memarkirkan kendaraan mereka di areal rawan macet. Saat pulang pun tidak bersedia ataupun berpikir untuk mengambil jalur alternatif tetapi memaksakan diri mengikuti jalur reguler padahal di pinggir jalan telah banyak kendaraan yang parkir.

Kebersihan pantai ini pun masih jauh dari yang diinginkan pengunjung. Sesaat aku rindu akan pantai bersih yang beberapa kali kukunjungi sewaktu tinggal di luar negeri ataupun di daerah pesisir luar kota di tanah ini.

(....... unfinished .... saking kesal ^______^)

(Manokwari, September 2010)

0 comments: