Search This Blog

Loading...

Thursday, 2 September 2010

Kisah Pilkada

Sambil menikmati sesapan sekotak Ultra Milk rasa Moka dan ditemani lagu favoritku, di jeda – jeda menyiapkan catatan pekerjaan, kusempatkan menuliskan satu catatan kecil tentang kotaku; Manokwari. Catatanku kali ini hanya sebuah tulisan kecil tentang sebuah kegiatan dan beberapa hal tak penting tentang pemilihan kepala daerah di kota kelahiranku. Satu bulan terakhir aku berada di kota ini, gegap gempita Pemilukada guna mencari para pemimpin baru kabupaten dengan ibu kota berjuluk kota buah – buahan sedang hangat – hangatnya dan aku menikmati satu hal yang telah lama kulewatkan; keramaian pilkada. Sambil menikmati berbagai hal yang terjadi, aku juga memutuskan membuat sebuah catatan kecil tentang yang terjadi selama ini dan ada beberapa hal yang cukup membuatku mengeryitkan dahi ^_^ Manokwari Oh Manokwari!!!

Pemilukada kali ini lumayan hangat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya karena peta kekuatan calon cukup beragam dan sedikit terbagi, tidak seperti beberapa tahun lainnya dimana peta kekuatan cukup jelas terbaca. Anyway, catatan kali ini tak terlalu membahas pada kekuatan politik tiap calon dan visi misinya ataupun perkembangan tabulasi politik dan koalisi pendukung calon. Aku memilih menuliskan pengalamanku bersentuhan dengan proses ini yang kutilik dari kacamataku ^__^ Sedikit personal sih 

Beberapa minggu lalu, aku sering tersenyum – senyum melihat bagaimana para kandidat the next bupati and wakil bupati merepresentasikan diri mereka. Calon Mkw 1 dan Mkw 2 terdiri atas 5 kandidat dengan latar belakang yang berbeda. Mulai dari pendeta sebuah denominasi hingga pemimpin sebuah sekolah tinggi yang juga masih menjabat jabatan cukup bergengsi di kabupaten ini. Calon lain tentu saja para kandidat yang memang juga mempunyai jabatan di pemerintahan, dari kepala bagian hingga kepala kantor tertentu. Wakil mereka tentu saja yang tak mau kalah, dari dokter hingga pegawai pemerintahan dan wakil universitas. Tentu saja cukup menarik melihat profil para the next orang besar (dan tentu saja the next ”Orang Kaya Baru”  )

Hal menarik yang sering kulihat di kotaku akhir – akhir ini adalah bagaimana para kandidat memajang wajah mereka ibarat para cover boy majalah remaja yang tentu saja full color dan ’bokar banget’ di sudut – sudut jalan. Ya tentu saja dengan harapan mereka akan dikenal dan mudah – mudahan terpilih. Tentu saja aku sedikit merinding membayangkan biaya yang mereka kocek dari kantong pribadi plus dana suntikan para ”donatur” kampanye mereka (yang aku percaya akan ada timbal baliknya kalau para kandidat usungan terpilih, at least ada 1 – 2 proyek fisik berbunyi fulus jutaan atau milyaran yang wajib terbang ke kantong donatur :D ). At least dari donatur masih sah lah, to some extent karena aku masih sedikit ngeri membayangkan kalau seandainya dana itu ternyata digosok dari pundi – pundi pendapatan dan dana yang dialokasikan untuk para penduduk kota tercinta ini lewat jabatan – jabatan dan kapasitas para beliau terhormat ini. Mudah – mudahan tidak benar walau memang tetap ragu. Berapa duit sih gaji pegawai negeri golongan sekian – sekian untuk membiayai kampanye besar seperti ini hehehe.

Tentang poster, baligo dan stiker plus bentuk – bentuk ajang promo ’muka’ ini dimana wajah para kandidat lagi senang nongkrong, aku suka tersenyum melihatnya. Bukan karena para calon memang seganteng aktor favoritku, tapi karena bentuk ajang promo dan cara mereka merepresentasikan diri. Tentu saja agar nama mereka mudah diingat oleh para calon penusuk poster. Ooops, sory maksudnya para pencoblos yang mudah – mudahan bukan para pencoleng . Ada yang mengusung gabungan suku kata pertama nama calon Mkw 1 dan Mkw 2 dengan nama mirip sebuah kelompok musik dari Amerika, sebut saja ”Jofi” alias gabungan nama pak John Warijo dan Dr Firman (lupa kandidat nomor berapa nih hehehe). Ada juga yang melakukan hal yang sama tapi dengan mengikutkan gabungan suku kata pertama plus fam tapi kok malah mirip kata ”Bahasa Roh” sih ^___^. (Aslinya sih ”Basaroh” alias gabungan nama pak Bastian Salabai dan pak Robert Hammar). Kandidat lain tentu saja tak mau kalah, seperti calon nomor urut 5 alias pak Natan Mandacan dan pak Wempi Rengkung yang memilih membuat gabungan nama yang menurutku kurang unik  Iyalah, cukup simpel kok seperti ”NDM & WWR. Selain itu kandidat lain seperti pak Lazarus Indow dan pak Rachmat Sinnamur cukup percaya diri dengan mengusung ”Lazarus mendulang Rachmat”. Untuk kandidat pak Buiney dan pak Eddy Waluyo tak terlalu kuperhatikan tulisan di poster mereka, mungkin karena aku hanya memperhatikan yang berada di jalan dekat rumahku yang kebetulan tak ada poster dari kandidat yang bersangkutan  Tentu acara ’bongkar pasang kandidat’ ini sudah final, tidak seperti beberapa bulan lalu dimana dari bacaan yang kubaca, bahkan ada calon wakil bupati yang tak bertempat tinggal di daerah ini dan notabene tak pernah tahu Manokwari itu di pulau mana 

Ada hal menarik lainnya yang sempat kutangkap dari proses demokrasi ini walau tetap saja menurutku masih jauh dari proses demokrasi yang sesungguhnya. Tentu saja aku bicara tentang politik uang yang terjadi. Kalau sekedar kaus dan payung kampanye sih biasa menurutku  Lebih canggih lagi karena ada yang menyewa puluhan taksi dan kendaraan umum lainnya alias angkot umum di kotaku pada masa kampanye dan membuat para warga umum pecinta taksi kelimpungan mencari angkot. Tentu saja para abang ojek bersukacita :D Tapi bukan itu yang jadi masalahnya. Yang jadi masalahnya ternyata terungkap saat aku sedang naik taksi dan sang supir curhat beibeh dengan seorang teman dan penumpang lainnya tentang tunggakan pembayaran dari bagian keuangan kampanye kandidat tertentu yang belum juga membayar setoran dan uang taksi selama 2 hari. Sialnya, he’s not the only one alias ada teman – temannya yang lain yang mengalami nasib serupa. Sedangkan posisi abang supir sangat dilematis karena para bos taksi sudah menagih setoran harian selama beberapa hari. Jadi pengakuan sih abang supir kalau dia kapok ditanggap kampanye dan malah bilang kalau dia tak mau mencoblos tuh kandidat karna bayar taksi saja telat apalagi besok kalo terpilih :D *ekspresi sakit hati ... mungkin ka .

Tapi yang lebih heboh kulihat adalah laporan – laporan teman dan keluarga yang membahas aksi gila – gilaan banjir rejeki selama masa kampanye. Mulai dari kandidat yang menggunakan kapasitasnya dengan mengatasnamakan jabatannya dan sumberdaya jabatannya untuk menggunakannya demi memberikan bantuan atas nama pribadi dalam masa kampanye padahal yang diberikan memang murni milik rakyat sebenarnya hanya disimpan hingga timing yang tepat. Sebut saja pembagian alat dapur seperti mixer, oven hingga alat – alat pembuat kue lainnya. Mungkin supaya para mama – mama Papua ini makin jago bikin kue dan mengingat kandidat pemberi tiap kali membuat kue.. Nah ada juga kandidat yang ’merayu’ para mahasiswa dan organisasi – organisasi pemuda dengan menyediakan printer, komputer, laptop dan saudara – saudaranya demi membeli suara dalam skala kecil. Tentu saja ada juga yang berkampanye dengan menggunakan kapasitasnya sekalian dengan mensponsori kegiatan olahraga yang notabene mengundang banyak anak muda dan dewasa muda yang layak mencontreng hingga para peserta kegiatan tersebut menjadi ”duta terselubung” kandidat bersangkutan. Ya iyalah, kaus dalam pertandingan tersebut notabene dihiasi ibarat kaus kampanye plus poster dan baligo di lokasi kegiatan .

Aksi bagi rejeki di atas tentu saja ini belum apa – apa. Karena ada rumor bahwa akan ada serangan fajar bagi – bagi uang di daerah – daerah target pemilihan hingga para penjaga keamanan harus dilengkapi dengan kendaraan operasional untuk menjaring para ”tim Tolong” a la Pemilukada. Secara pribadi sih kalau saya sih terima saja duitnya, tapi kalo urusan mencontreng pakai nuranilah. Tapi tentu saja dengan membebaskan diri dari intervensi orang lain dan pihak lain yang berusaha untuk menjaring massa lewat cara – cara yang menurutku sangat ”politik praktis”. Mulai dari menggunakan lembaga gereja mengarahkan umat memilih kandidat tertentu hingga kerja tim sukses kandidat tertentu yang memberikan ultimatum ”ancaman dan konsekuensi” yang akan ditanggung bila tak memilih kandidat tertentu yang ternyata masih terkait dengan ’politik air’ a la orde baru  Benar – benar menarik melihat bagaimana masyarakat sipil dalam posisi tawar rendah memilih untuk menjadi pragmatis dan mengesampingkan nurani dan visi serta misi para kandidat.

Aksi kandidat ini tentu saja tidak dilewatkan oleh segelintir orang yang memang berniat mendulang untung. Mulai dari aksi beberapa mahasiswa ataupun anak – anak muda yang menawarkan suara mereka dan melakukan sejenis bargaining suara dengan meminta janji dijadikan PNS apabila kandidat yang diusung terpilih. Ada juga yang menjadi tim sukses lokal dengan iming – iming tertentu, mulai dari fasilitas hingga fulus. Hal ini terbukti juga pada pelaksanaan pemilukada di sebuah kompleks di kotaku dimana beberapa mobil sewaan pun parkir dan ada beberapa pemilih yang berjejer rapi dan menumpang mobil hanya sekedar datang dan mencoblos dan langsung bergegas. Saat mereka sedang sibuk mencoblos, supir mobil rental yang berhasil diwawancara seorang temanku yang curiga karena para pemilih tak pernah kelihatan tinggal ataupun menetap di kompleksnya dapat dengan leluasa masuk ke TPS. Usut punya usut ternyata mereka para pemilih bayaran yang dibayar seorang kandidat dengan iming – iming Rp. 100. 000,-./orang. Dari pengakuan supir mobil sewaan, TPS di kompleks temanku merupakan TPS ke 5 dan para pencoblos pencoleng ini dengan sigap berganti – ganti tempat dan memakai pemutih pakaian (Bayclin) untuk menghapus tinta coblos yang menempel di jemari mereka. Anehnya, tak seorangpun perangkat RT ataupun RW yang peduli dan curiga. Benar – benar aneh!!!

Terlepas dari sikap tarik ulur kandidat dan pemilih, ada hal lain yang perlu dicermati dalam proses demokrasi ini; kerja KPU lokal. Dalam pelaksanaan kerja, tentu saja masih jauh dari sempurna, buktinya ada banyak orang yang tak masuk DPT alias daftar pemilih tetap ataupun juga terjadi tumpang tindih data. Buktinya, kartu pemilihku saja ada 2 begitu juga adikku jadi resminya kami punya 4 kartu sedang 2 iparku sama sekali tak mendapat kartu :D Tapi kami masih lebih baik dibandingkan puluhan orang di sebuah kelurahan di kotaku yang tak terdaftar dan terjadi saling tuduh ”tak becus kerja” antara pihak distrik, KPU dan juga para calon pemilih. Walaupun demikian, hal seperti ini masih lebih baik dibanding hal lain yang sempat kurekam dalam benakku kala menuliskan catatan ini; dilematis KPU lokal.

Para pegawai KPU lokal apalagi kepala kantornya mungkin menjadi orang – orang yang sedang was – was pada masa ini. Bukannya apa, ”premanisme” masih menjadi bumbu pewarna proses demokrasi. Pemilu legislatif April dan Juli kemarin saja masih meninggalkan trauma bagi keluarga kepala KPU di kotaku yang notabene masih satu kompleks perumahan denganku. Selama seminggu rumah mereka dititipkan ke tetangga dan mereka menghilang entah kemana karena banyak orang dan pihak – pihak yang marah yang mencari si bapak dan keluarganya. Selain itu, laporan dari seorang teman kecil yang kebetulan masih saudara jauhku bercerita bagaimana ia mengalami trauma bekerja karena edisi pasca pemilihan beberapa bulan lalu dimana kantornya sempat dilempari batu – batu besar sebesar ukuran bola voli hingga kaca – kaca berguguran dan pintu kantor dipalang dari luar. Sialnya, ruang kantor berada di ruko yang tak ada pintu belakang apalagi pintu darurat hingga saudaraku dan teman – temannya ketakutan. Alhasil, dari hasil perbincangan dengannya hari ini, ia bilang kalau mereka akan nekat membobol dan merusak ruang belakang kantornya untuk dibuat pintu darurat; untuk berjaga – jaga. Ia hanya takut akan ada massa pendukung yang bertindak anarkis dan memakai kesempatan melakukan tindak kriminal seperti membakar kantor.

Anyway, Pagi tadi usai menggunakan hak pilihku, aku sedikit lega. Setidaknya aku memutuskan memilih yang kukenal. Toh aku menggunakan hak pilihku.

Semoga akhirnya yang terbaiklah yang terpilih!!!

Tapi lebih baik lagi para pemimpin yang peduli dengan masyarakat dan kabupaten ini!!!

Lebih baik lagi pemimpin yang masih punya nurani!!!

Ada ka??

(Four-season’s room, 2 September 2010; 12. 42 a.m.)

0 comments: