Search This Blog

Loading...

Thursday, 2 September 2010

Catatan Pasir Putih

Beberapa minggu terakhir, aku kerap mengunjungi pantai di kotaku; pantai Pasir Putih. Pantai ini sudah kukenal sejak aku masih SD karena menjadi sebuah tempat pengingat bahayanya tidak tahu berenang karena aku pernah hampir tenggelam sewaktu SD di pantai ini plus pantai ini juga menjadi pengingat dimana anjing kesayanganku sewaktu SD berasal; anjingku namanya ’ Nona Pasput’ alias ’nona Pasir Putih’ :D. Anyway, catatanku kali ini bukan tentang kenangan hewan peliharaanku tapi tentang kondisi pantai ini dan beberapa catatan kecil.

Pantai Pasir Putih alias pantai Yenbebai merupakan pantai wisata di kotaku yang hanya berjarak sekitar 10 – 15 menit naik motor dari pelabuhan utama. Areal pantai ini awalnya didominasi hak ulayat dari suku Meyah yang kebetulan milik keret nenekku dari pihak mama tapi sedang dua dekade belakangan telah terjadi pembauran yang cukup pesat apalagi usai kotaku menjadi ibukota provinsi. Ada banyak kenangan yang tersimpan dari tempat ini karena dari sekitar umur 4 atau 5 tahun aku sudah sering berkunjung ke seputaran daerah ini; selain urusan keluarga juga karena urusan kerjaan keluargaku.

Kunjungan tahun 2010 ini cukup membuatku terhenyak. Bukan karena keindahan pantai tapi karena lautan yang terisi sampah. Aku sampai jengah saat harus berjalan. Tiap akhir minggu aku ke pantai dan tiap kali datang yang kutemui hanyalah sampah dan sampah khususnya sampah plastik. Mulai dari botol mineral, bangkai hewan hingga popok bayi tak ramah lingkungan (pampers/diapers). Benar – benar sakit melihat pemandangan seperti ini. Bukannya apa, saat sedang sibuk berenang dan snorkeling, paparan karang hanya terisi karung plastik dan juga endapan plastik popok di mana- mana. Berbagai merek popok seakan menjadi penghias karang menggantikan keindahan anemon, ikan karang dan landak laut. Miris!!!

Popok bukan hanya penghias karang, botol – botol plastik bawah air juga menjadi teman ikan. Selain itu, di permukaan, sampah organik dan anorganik mengapung ria. Dari tinja hewan, manusia hingga ikan busuk berenang puas. Tentu saja ditemani plastik – plastik hitam dan potongan sayuran busuk. Potongan – potongan kayu juga dengan mulusnya menghias perairan. Lain di air, lain di darat. Di darat, pecahan botol dengan sukses menjadi permata pantai yang berpasir putih lembut. Tentu belum termasuk anjing – anjing buduk yang sibuk berlari hilir mudik menyortir sampah busuk. Semakin buruk saat sadar bahwa tempat sampah sudah berkurang dan tak ada lagi kontainer ataupun bak sampah besar yang pernah ada sekitar 2 tahun lalu kala masih tinggal di kota ini. Miris!!!

Tiba – tiba aku merindukan Manokwari yang dulu, pantai Pasir Putih yang dulu.

Sudah saatnya berpikir tentang tempat ini. Mungkin tahap pertama yang bisa kulakukan adalah mengambil sampah plastik dan kaca yang bisa kuolah jadi benda seni dan mengajak beberapa teman membuat proyek mini untuk tempat ini. Benar – benar rindu pantai yang bersih. Karena kutahu usaha penduduk lokal dan dinas pariwisata masih tak memadai karena dengan hanya mengubur sampah di pasir tak akan menyelesaikan masalahnya. Harus ada ”acara buang suara” ke dinas kebersihan kota plus penduduk Manokwari karena sampah di teluk ini asalnya dari sampah yang dibuang sembarangan ke laut, seakan laut adalah tempat sampah raksasa.

Sudah saatnya bergerak!!!

(Four-season’s room, 2 September 2010)

0 comments: