Search This Blog

Loading...

Tuesday, 24 August 2010

The freedom is in you

Hari ini kembali lagi aku menulis sebuah catatan tentang refleksi mengenai kemerdekaan di saat peringatan hari kemerdekaan negara ini 17 Agustus 1945; hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Catatan kali ini mungkin sekedar uneg – uneg pribadi yang telah mengendap sekian lama dan mungkin merupakan kelanjutan dari catatan di bulan yang sama setahun lalu tentang hal yang sama.

Hari ini perayaan kemerdekaan Indonesia diperingati dan aku sedikit pesimis tentang apa memang negara bernama resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia benar – benar telah merdeka. Tentu saja ini terlepas dari insiden pengibaran bendera Merah Putih yang terbalik di lapangan Borarsi tadi pagi pun bukan juga karna aku berasal dari Papua jadi nada bicaraku sedikit sinis dengan kata ’merdeka’ tapi aku ingin berdiri pada sebuah titik di mana aku ingin lebih bisa melihat dengan jelas apa memang kemerdekaan merupakan suatu pencapaian yang telah dicapai negara ini khususnya penduduk negara ini apalagi pemegang KTP negara ini.

Sejarah pendirian negara ini sendiri penuh dengan ironi; pendapat pribadi. Menurut para pendiri bangsa Indonesia, bangsa ini dideklarasikan oleh Sukarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan beberapa pengikut mereka di sebuah tempat di pulau Jawa. Akan tetapi di luar negeri khususnya di negera – negara berbasis Anglo Saxon, termasuk yang kubaca di sebuah museum di Australia bahwa negara ini baru merdeka tahun 1949 usai penandatanganan serah terima seluruh wilayah Indonesia kecuali Papua Barat (West Papua). Orang Indonesia boleh bersikukuh dengan pendapat kemerdekaan mereka begitu juga dengan pendapat negara lain. Alasan yang sering dikemukakan oleh para nasionalis Indonesia adalah bahwa mereka yang lebih tahu tentang negara mereka dan merekalah yang mendeklarasikan kemerdekaan mereka. Pada titik ini, kadang aku tersenyum. Bagiku, kalau alasannya hanya seperti itu maka apa bedanya dengan deklarasi kemerdekaan Papua Barat (West Papua) pada tahun 1961? Bagiku kemerdekaan pada tahun 1945 dan juga 1961 kedudukannya sama. Yang berbeda hanyalah peran geopolitik kedua ’negara’ itu dan dukungan dari negara lain yang timbul karna pengaruh peran geopolitik itu.

Kembali pada kemerdekaan itu sendiri, secara pribadi menurutku bangsa Indonesia masih berada dalam mental negara terjajah dan belum merdeka secara utuh bahkan bisa kukatakan hanya berkedok telah ’merdeka’. Negara ini masih hidup dari utang luar negeri. Dana pembangunan terbesarnya saja masih merupakan bantuan luar negeri yang didapatkan dari pajak warga negara lain yang notabene negara – negara tersebut malah sering dimaki – maki oleh penduduk negara ini, misalnya saja Australia adalah negara luar terbesar yang menyumbangkan dana pembangunan bagi Indonesia. Sedangkan negara – negara yang kerap dipuja oleh mayoritas rakyat Indonesia di bagian barat negara ini (apalagi bila membaca surat kabar online dan membaca komentar – komentar tentang negara – negara ini) seperti Iran, Palestina dan negara – negara Arab tak sedikit pun ada bantuan signifikan bagi pembangunan negara ini.

Kemerdekaan sebagai sebuah negara berasas demokrasi juga tak ada di negara ini karena memang negara ini tak punya tradisi berdemokrasi. Pemerintahan yang dijalankan tak lebih dari bentuk modern kerajaan Mataram kuno alias pemerintahan Jawa yang berganti kedok. Mulai dari aturan tak tertulis bahwa presiden negara ini yang harus dari suku dan agama tertentu hingga sistem pemerintahan yang berjalan dengan falsafah etnis tertentu. Tak heran perkembangan negara ini tak pernah bisa pada era tinggal landas tapi hanya pada era ”tinggal takandas”. Sikap pemimpin negara juga seakan mengejewantahkan pribadi dan karakter pemimpin Mataram Kuno dimana pencitraan dan juga keluarganya mendapatkan keistimewaan (priviledge) padahal di dalam negara demokrasi seharusnya menjunjung tinggi paham bahwa kedudukan semua warga negara setara. Contoh kasus yang bisa dilihat beberapa bulan lalu adalah sikap pengawalan pemimpin negara dan keluarganya yang berlebihan dan menunjukan arogansi. Bukankah lebih bijak dalam kasus itu bahwa pemimpin negara yang pro rakyat seharusnya memanfaatkan fasilitas negara dan tak merepotkan kehidupan banyak rakyatnya apalagi sampai memboroskan uang negara untuk hal kecil yang bisa diselesaikan dengan mudah (baca: penggunaan helikopter sebagai solusi transportasi).

Negara ini belum merdeka penuh juga tercermin dari penanganan masalah negara ini yang mana negeri kita terbombardir dengan sejumlah kasus korupsi yang tak pernah selesai. Mulai dari kasus bank Century yang menguap dengan cepat dan tertutupi oleh sejumlah kasus – kasus moral tak penting. Yang makin membuat miris, para politikus negara ini juga seakan memainkan dagelan politik dan sengaja membodohkan diri untuk tidak peduli dan terus saja membiarkan uang negara yang notabene utang luar negeri dipindahkan ke dalam kantong – kantong pribadi. Padahal utang – utang luar negeri itu harus dibayarkan oleh para pembayar pajak dan juga beberapa daerah di negara ini lewat SDA mereka yang diperas tanpa ampun. Jadi secara otomatis dengan membiarkan adanya korupsi dalam skala apapun maka berkontribusi pada kemiskinan masyarakat sendiri.

Sikap mental sebagai bangsa terjajah juga bisa dilihat dari dunia hiburan di negara ini. Mulai dari sinetron yang mengusung dan mengagungkan para manusia berkulit terang dan bertampang Kaukasia alias keturunan Eropa hingga pelabelan manusia berkulit berbeda sebagai bahan lelucon. Mental jajahan ini tercermin karena bangsa ini masih tidak dapat menerima diri mereka sendiri dan menganggap bahwa ras dan bangsa lain lebih superior dari diri mereka. Kalau memang kita sudah ’merdeka’ secara psikologis, bukanlah tak perlu malu lagi menampilkan para bintang sinetron berkulit gelap dan berhidung pesek ataupun bermata sipit di layar kaca khususnya di sinetron pada slot acara prime time dan bukannya mereka yang berkulit gelap hanya menempati ’warga kelas rendahan’ sebagai penghibur ataupun pembokat ataupun sebagai ’jongos’. Tapi mungkin memang mental ’inlander’ masih erat melekat pada konsep dunia hiburan kita.

Kita juga belum merdeka didalam menentukan apa yang nyata dan apa yang tak nyata, karna masalah nyata di depan mata kita bagaikan dunia mimpi sedangkan khayalan tingkat tinggi menjadi kenyataan yang dijalani. Tabung – tabung gas yang meledak di sana – sini dan menyebabkan luka bakar dan kebakaran di mana – mana ibarat pupur bedak pelengkap pergi ke pasar dan bukan hal penting yang perlu dibicarakan berhari – hari dibandingkan kasus para artis pemeran adegan purba yang sebenarnya tak lebih dari pengantar acara ngopi sore hari hari. Para petinggi berebutan mendeskripsikan moral dan apa yang benar pun salah tanpa sadar bahwa sekian meter dari tempat mereka berpijak dan menentukan ’kebenaran’, ada anak – anak kelaparan yang tak bisa menunggu lama untuk dibela. Sebuah pemandangan miris di sebuah bumi bernama Indonesia.

Sudah saatnya berpikir apa memang kita benar – benar ’merdeka’? Ataukah hanya berkedok sudah ’merdeka’?

Di mana ketahahan pangan kita yang disubsidi dari dalam negeri sendiri?

Mungkin gemah ripah loh jinawi masih jauh dari negara ini kala tiap individu masih kebingungan mengais makna ’kemerdekaan’.

Satu yang pasti, aku percaya bila tiap orang melakukan apa yang menjadi kewajibannya dan menerima haknya, maka kelak gemah ripah loh jinawi ada di negara ini tapi mungkin masih sangat jauh dari saat ini.

Kemerdekaan bukan pemberian orang lain dan bukan bagaimana orang lain melabel diri kita sendiri.

The freedom is in you!!!

What the essence of being free and independent? The answer is in you.

(Tanah Papua, 17 Agustus 2010)

0 comments: