Search This Blog

Loading...

Wednesday, 30 June 2010

Kebakaran

Malam ini aku mulai bisa memulai hidupku dan mencoba mengeluarkan emosi yang tertahan di pikiranku selama hampir seminggu. Aku tak tahu, apa catatan ini kedengarannya hanya sebagai catatan orang gila, aku tak tahu dan tak peduli. Yang kuinginkan hanya mengeluarkannya sesegera mungkin. Tak ingin menyimpannya. Hari ini aku bisa bilang bahwa aku sedikit demi sedikit bisa mengatasi rasa aneh dan pikiranku yang kalut usai seminggu. Semuanya bermula pada malam tanggal 24 Juni 2010.

Hal yang akan kutuliskan yang menjadi alasanku memperbaharui statusku di Facebook pada jam 6.45 p.m. tertanggal 24 Juni 2010:

“Let's pray 4 Tanah Papua esp its people. 4 lil children n young women, God please take care of them esp. In highland n remote areas. Let God's peace pours down on this region n the justice be revealed. Amen”

Aku ingat hari itu hari Kamis. Karna bahan makananku habis di kulkas, maka aku memutuskan pergi ke kota berbelanja di sebuah supermarket sambil juga mencari isolasi dan karton untuk mengepak barang – barang yang hendak dikirimkan. Perjalananan ke kota sekitar kurang dari 10 menit bila naik bis namun sore itu, sekitar jam 5 lewat kutempuh dengan menumpang mobil teman serumahku yang hendak berangkat kerja.

Singkat kata, usai berbelanja dan tak sukses menemukan isolasi dan kecapaian plus kelaparan, aku memutuskan duduk di kursi – kursi depan bakery yang berhadapan dengan deretan kasir supermarket. Kebetulan supermarket ini berada di dalam pusat perbelanjaan sehingga aku tak harus berjibaku melawan dingin di luar sana. Sambil memakan mini pizza yang kubeli di bakery samping supermarket, aku sibuk menatap transaksi jual beli di depanku, sekitar 4 meter. Tas dan tas belanjaanku kubiarkan di atas meja.

Saat itu, pukul 6 sore lebih beberapa menit. Itulah sebabnya aku memutuskan menunggu bis pukul 7 p.m. karna aku terlambat naik bis pukul 5.57 p.m. Daripada menahan dingin di halte bis berjarak jalan kaki 7 menit, lebih baik berhangat ria di dalam pusat perbelanjaan ini. sekitar pukul 6.10 pm atau lebih sedikit, saat sibuk menatap dan memandang lurus melihat transaksi di depan mataku, tiba – tiba pandanganku berubah.

Mungkin kedengarannya gila atau apalah, sekali lagi aku tak berusaha meyakinkan siapapun. Anggap saja catatan dari seseorang yang sedang stress, bermimpi atau apalah. Gejala depresi, aku tak tahu.

Yang kulihat bukan lagi kasir yang sedang sibuk mengepak dan menghitung belanjaan tetapi beberapa honai atau rumah tradisional Papua. Bentuknya tak begitu jelas tapi sepertinya di daerah pegunungan Papua. Sepertinya aku familiar pernah melihatnya di foto teman – temanku, bentuk rumah yang familiar bagiku. Tapi sekitar 2 atau 3 rumah di depanku itu terbakar, dengan nyala api yang menyala – nyala dan panas. Terbakar dalam arti yang sesungguhnya.

Tiba – tiba seorang anak kecil lelaki berlari ke arahku, entahlah bagaimana mendeskripsikan posisiku saat itu, seakan aku berada di tempat itu tapi tidak secara fisik berada pula di sana, seakan aku sedang menatap dari layar bioskop dan kelebatan potongan – potongan gambar bergerak di depanku. Sang anak kecil itu begitu ketakutan dan ada ekspresi ngeri di wajahnya. Ia berlari ke arahku dengan menyuarakan satu pekikan yang tak kutahu, bahasanya terdengar asing bagiku, seperti ungkapan tolong atau apalah. Batinku mengisyaratkan ia meminta tolong, dengan kata yang aneh bagiku berawal seperti menggunakan huruf N (kelak beberapa jam usai melihat ini dan mengonfirmasikan pada seorang teman dari sebuah suku di pegunungan, aku mendapatkan jawabannya, kata itu ‘nadadi’ yang berarti ‘tolong’. Anak kecil yang kulihat ini seakan dikejar sesuatu dan tiba – tiba seakan ia ditendang atau dianiaya ataupun ditembak tapi aku merasa ia mati di depanku. Potongan gambar ini pun berpindah.

Aku melihat di bagian lain dari rumah – rumah yang terbakar ini seorang perempuan muda, entahlah sepertinya remaja. Ia berlari ketakutan dan ada wajah ngeri di wajahnya. Sekali lagi aku hanya bisa menatap dan tiba – tiba seperti yang dialami oleh anak kecil tadi, ia seakan dipukul apa ditendang dan ditembak. Terjatuh. Mungkin mati. Dan pandanganku dibawa melihat hal yang lain.

Kembali lagi kulihat rumah – rumah tradisional yang terbakar. Kali ini seakan aku berada sedikit lebih tinggi dari rumah – rumah itu, mungkin di bukit belakang kampung ini. Masih sambil melihat rumah – rumah yang terbakar, ada suara yang bicara padaku. “May, doakan orang – orang ini. tolong doakan mereka.”. Kemudian pandanganku dibawa seakan berada di dalam sebuah ruang yang temaram, aku berpikir aku sedang berada dalam salah satu rumah ini, rumah yang belum terbakar. Di dalam rumah itu, aku melihat samar – samar seorang lelaki Papua (aku mengasumsikan ia Papua karna rambut keriting dan kulitnya yang gelap). Ia mungkin berusia 40 – 50 tahun. Ia memakai kemeja lusuh. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi aku menangkap pembicaraan seakan ada beberapa orang yang bertanya padanya dan ia berusaha melakukan pembelaan. Aku hanya bisa menangkap jelas ia berbicara dengan aksen yang kukenal milik orang pegunungan tengah di Papua. Dengan campuran Bahasa Indonesia dan Melayu Papua. Ia berkali – kali bilang, “Mereka/ Dong tidak tahu apa – apa. Mereka tidak tahu apa – apa.”. Tiba – tiba yang kulihat, ia seperti ditendang dari arah depan dan ditembak. Lalu seakan ia mati.

Setelah itu aku melihat lagi rumah – rumah yang terbakar dan orang – orang berpakaian tradisional lari ke sana kemari dalam suasana yang sangat kacau. Ada kekacauan. Dan tiba – tiba suara itu terdengar jelas di dalam hatiku, “May, tolong doakan mereka. Tolong doakan mereka. Tolong doakan anak – anak dan perempuan – perempuan muda ini.”. Setelah itu semuanya hilang.

Pandanganku kembali melihat suasana supermarket seperti biasa. Tapi aku merasa ketakutan sekali. Sangat takut. Masih mengingat jelas wajah bocah lelaki yang berlari ke arahku. Aku tak bisa melanjutkan makanku dan mulai menangis kecil. Sangat takut. Kuputuskan mengirimkan SMS – SMS ke temanku di sini dan juga sahabatku di Manokwari. Bercerita tentang apa yang kulihat. Sangat takut. Tak cukup dengan mengirimkan SMS, aku memutuskan menelpon temanku dan bercerita. Sambil menangis dan ketakutan.

Hingga saat menunggu bis pukul 7 malam, aku masih sedikit kaget bercampur takut. Mungkin shock kata yang bisa menggambarkan suasana hatiku saat itu. Sangat terguncang.

Usai turun dari bis melewati jalan setapak dari halte bis ke rumah. Di hatiku suara itu kembali berbicara, suara yang sedikit tegas, suara yang jarang bicara kecuali kalau ia ingin bicara. Aku tak tahu.

Suara itu bilang bahwa saat ini memang masa dimana Ia ingin memberi pelajaran bagi manusia – manusia. Ia bilang Ia sudah muak melihat manusia menjadi begitu jahat, ia muak melihat manusia tidak bertobat dan berbalik padanya. Ia berulang kali bicara tentang hatinya yang tak tahan melihat sikap manusia. Perkataannya yang membuatku semakin merasa sedikit sedih adalah ia bilang ia akan memberi hajaran yang dimulai dari bagian barat negara kepulauan ini dimana ia sedih banyak orang lupa akan dirinya dan juga ia akan masuk ke Papua. Tapi satu yang pasti, ia ingin aku mendoakan Papua. Mendoakan umatnya khususnya mereka yang suam – suam kuku dan tidak jelas dengan imannya untuk berbalik kepadanya. Ia ingin sebuah pertobatan sejati, pertobatan tanpa kepura – puraan. Pertobatan yang hanya padanya.

Malam ini aku mengingat jelas bagaimana semalamam aku hanya menangis dan menangis. Apalagi sebuah SMS dikirimkan sahabatku. Rupanya karna ia juga takut, ia memberitahu seorang dosenku yang mengirimkan SMS begini kepadanya untuk dikirim kepadaku:

“Bilang mam N yang bilang waktu de mimpi pertama kali akhir 2007, mimpinya yang sama persis dengan yang mam mimpi de punya tugas untuk mendoakan orang2 Papua, ini amanah.”

Aku tak tahu ke arah mana hal ini akan berlanjut. Satu yang pasti, my life won’t be the same anymore *sigh.

(Canberra, 30 Juni 2010)

0 comments: