Hari ini saya belajar satu hal untuk tidak menyerah dan untuk mengikuti impianku dengan PERCAYA. Bangun pagi di musim dingin pada pukul 1 siang dilanjutkan dengan acara ngobrol dengan teman – teman serumah membahas kepindahanku ke ruangan lain karna masa kontrak yang akan berakhir akhir minggu ini dan urusan packing segala macam dan juga tentang kondisi kamarku. Akhirnya kembali lagi menatap layar notebook ini dan tiba – tiba teringat akun Facebook yang sudah ditutup sementara saking kecanduan plus numpang singgah sebentar di situs Joel Osteen Ministry. Ternyata, apa yang menjadi bebanku beberapa hari ini ada di sana, di blognya pasangan suami istri pendeta ini. Tuhan memang dashyat!!!
Hari ini dalam blog mereka ada 2 hal yang dibahas yaitu untuk tidak pernah menyerah dan tetap mengejar apa yang Tuhan berikan dalam hati kita dan tentang rasa tidak nyaman dalam cerita Elang yang tidak pernah kehilangan arah pulang dan ujung- ujungnya keduanya berbicara tentang rencana Tuhan dalam impian kita dimana Tuhan selalu memberikan rencana dan panduan dalam pencapaian mimpi kita karena mimpi kita di dalam hidup kita sebenarnya adalah investasi dari Tuhan dalam hidup kita yang wajib kita ikuti.
Saya suka kata – kata Joel Osteen di sini:
“Stir up your gifts because you were made for more. You are anointed, equipped, empowered. Don't just settle where you are because God has greater things in your future. It may not have happened in the past, you may have put your dream on hold for a long time, but the good news is that it's not too late to get started. You can begin right now. If you will make that decision to shake off the complacency and start pursuing what God has placed in your heart you can still become everything God has created you to be.”
Hari ini saya percaya dan mau belajar bahwa saya diberkati dan diperlengkapi dan diberdayakan dan terpilih untuk pekerjaan dan kuliah saya di sini. Beberapa hari ini memang saya sedikit depresi karena menghindari kesenangan, tak ingin menikmati cahaya matahari karena selama sebulan lebih saya memilih mengurung diri dan hanya beredar di dunia maya, hanya menelpon orang tua saya dan lain – lain dan dalam satu sisi saya sedang menyiksa diri sendiri. Hari ini saya memilih untuk tidak mau membuka akun FB saya, memilih menghindari kegiatan – kegiatan ngobrol di dunia maya yang berlebihan.
Hari ini jendela kamar saya dibuka, melihat keluar jendela dan mengagumi musim dingin dari jendela kamar. Melihat ikan cupang biru tua di kamar berlarian dan membiarkan tanaman saya mendapatkan cahaya yang cukup.
Hari ini saya ingin menjadi saya yang baru. Saya yang tidak memberikan excuse ataupun pengecualian – pengecualian dalam hidup saya. Saya yang baru dan punya mimpi panjang yang perlu direalisasikan.
Saya ingin hari ini tak lagi peduli pada kenangan masa lalu saya yang masih membelenggu saya dalam seminggu ini, tak ingin lagi memikirkan kesedihan ditinggal pergi keponakan saya ke surga, tak ingin lagi memikirkan hal – hal yang akan menghambat pencapaian mimpi saya.
Meskipun demikian, saya tetap akan memantau masalah tentang Papua, membaca laporan HAM di tempat kelahiran saya, melihat dan membaca perkembangan umat Kristen yang teraniaya di Indonesia bagian barat dan juga di seluruh dunia dan akan tetap mendoakan mereka. Karena saya menemukan passion saya di sana.
Saya tetap akan kembali dan berdoa dan percaya bahwa impian saya suatu hari nanti akan tercapai. Impian – impian tentang sistem pendidikan dasar di Papua khususnya di kota Manokwari tentang pendidikan di kawasan slum dan bagi masyarakat marjinal perkotaan, program kids for environment, punya kids centre yang gratis dan dapat diakses khususnya bagi anak – anak dari kaum marjinal, punya perusahaan daur ulang yang eco-friendly dan mengedepankan fair-trade, punya sentra usaha kecil rumah tangga yang bergerak di bidang handicraft dan aksesoris tetapi mengedepankan fair-trade dan eco-friendly dan beberapa impian kecil lainnya.
Saya pemimpi. Seorang pemimpi.
Tahun ini, di kala waktu – waktu berdoa saya, saya selalu diingatkan tentang Daniel, tentang karakteristik Daniel di dalam diri saya. Kala berdoa itu, saya selalu diingatkan tentang visi Daniel. Kadang saya protes pada suara itu dengan berargumentasi bahwa saya perempuan dan saya merasa visi Daniel terlalu berat bagi saya. Terlalu berat. Tapi suara dalam hati saya selalu bilang bahwa saya harus menjalankan visi Daniel itu. Visi yang menurut saya bukan urusan saya karena berhubungan dengan integritas dan juga politik serta pembuat keputusan dan ketekunan karena saya tahu sampai dimana kapasitas saya sebagai manusia. Tetapi entahlah … karena hal itu, saya jadi lebih banyak menghabiskan waktu berselancar di dunia maya mencari tahu karakter apa yang ada dalam diri Daniel yang harus saya optimalkan dalam hidup saya. Jujur tahun ini saya merasa panggilan itu semakin kuat dan membuat saya tidak ingin bangun tidur karna kadang visi – visi tentang akhir zaman, melihat Papua dan Indonesia yang berdarah – darah, berdoa dan mimpi melihat kedatangan Tuhan dan penghancuran dunia, melihat visi – visi tentang membangun sesama lewat program – program beterbangan dalam hidup saya dan kadang merasa bahwa saya tidak mengontrol diri saya sendiri karena fokus saya terbagi. Sangat terbagi. Belum lagi diingatkan untuk terus mendoakan orang – orang Kristen khususnya yang suam – suam kuku di Indonesia dan tanah Papua untuk lebih percaya pada Kristus, untuk percaya dengan sungguh – sungguh dan berbuah.
Tak heran saya beberapa kali curhat dan meminta kepada teman – teman saya untuk mendoakan saya karena jujur, saya takut. Bahkan saya tidak berani cerita ke orang tua saya tentang apa yang saya lihat dan dengar walaupun sejak SMA telah bisa mendengar suara itu di dalam diri saya. Jujur saya takut tapi saya percaya ini hanya sebuah proses yang wajib saya jalani.
Anggap saja saya pemimpi. Seorang pemimpi.
Anggap saja saya gila. Satu langkah menjadi orang gila.
Daniel mungkin tokoh yang bagi orang lain biasa saja. Tapi bagi saya akhir – akhir ini, karakter Daniel sering diingatkan pada saya dan walaupun berat, saya ingin melakukannya perlahan – lahan. Beberapa karakter Daniel yang membuat saya sering bertanya pada diri sendiri akhir – akhir ini adalah apakah memang Tuhan serius dengan mengingatkan saya tentang Daniel saat saya berada di Australia sebagai momen yang tepat saat ini. Ada beberapa hal yang membuat saya sambil mengetik catatan ini tertawa dalam hati dan ingin bilang sama Tuhan, “God, Sa kok baru kepikiran hari ini dan lihat akan deng lebih jelas eeee”
Anggap saja saya gila dalam titik ini ^_^
Saya melihat Tuhan sedang mengarahkan saya untuk mencoba menjadi dan melakukan apa yang dilakukan Daniel untuk hidup saya saat ini. Mungkin kedengaran gila tapi tiap kali saya berdoa, ada perkataan dalam hati saya yang selalu muncul bahwa saya akan pergi ke tempat – tempat dimana orang lain dari bangsa saya hanya bisa bermimpi, saya akan menjadi salah satu perwakilan bangsa saya berbicara tentang bangsa ini dan lain – lain yang tidak dapat saya sebutkan di dalam catatan ini. Kadang saya mengedepankan logika saya dan bilang, “tra mungkin ya. Mungkin cuma impian saya yang terpendam dan keluar di saat saya stress” tapi perkataan seperti itu kerap muncul apabila saya lagi merasa down dan menjadi semacam penguat bagi saya untuk bangkit dan mencoba lagi.
Daniel adalah seorang nabi yang juga seorang “penerjemah” dalam artian dia bisa menerjemahkan tulisan tangan Tuhan. Dia seorang terpelajar dan bijak dan Tuhan banyak membukakan rahasianya padanya. Daniel juga seorang yang mempunyai ketetapan hati yang kuat dan punya integritas walau ancamannya Maut.
Saya hanya berharap bahwa suatu hari nanti saat saya bertemu Yesus, semoga saya tidak mengecewakan-Nya dan bisa bilang bahwa saya mencoba dan berusaha menjadi seperti Daniel. Be faithful to the end!!!
“Beranilah seperti Daniel;
Peganglah kebenaran,
Meskipun di mulut Singa,
tetap percaya Tuhan”
(Lagu Sekolah Minggu)
(Canberra, 23 Juni 2010)
0 comments:
Post a Comment