Search This Blog

Loading...

Monday, 24 May 2010

Kala nama terbang dalam fantasi kupu - kupu


Musim gugur penuh hujan tersaput reruntuhan dedaunan berwarna kekuningan yang bermain lompat tali bersama angin.

Dan hari ini aku ingin jadi kekupu cantik. Bukan sekedar berkhayal, berimajinasi dan berfantasi tapi memang ingin jadi kupu – kupu. Mungkin impian masa kecil ataukah fantasi masa kecil yang hinggap. Entahlah .. tapi aku suka.

Di saat break esai, kuputuskan mewarnai wajahku, membentuk wajahku dengan fantasi kekupuku. Kuwarnai, kubentuk, kulukis … sayang keterbatasan perlengkapan makeup membuatku tak bisa membentuk kekupu oranye yang pernah kulihat akhirnya kuubah menjadi kupu – kupu biru. Terlalu gila mungkin bagi perempuan lajang berusia 27 tahun yang sedang sibuk memburu esai 4000 kata hari ini ^_^

Dreadful beautiful butterfly!!!; tema hari ini.

Dengan berimajinasi menjadi kekupu, lengkap dengan scarf oranye dan rambut keritingku, aku putuskan menjadi kekupu hingga malam nanti. Aku suka!!!

Pernahkah kau punya fantasi menjadi sesuatu, seseorang ataupun apapun? Aku punya dan aku puas hingga saat ini aku menjadi apapun yang kumau walau kadang hanya terbatas di dalam kamarku. Toh itu dunia yang kupunya, kan? Tak ada seorangpun yang berhak mengatur dunia segi empatku ini, kala dinding – dinding segi empat ini tak mampu menahan fantasiku terbang ke sana kemari, saat imajinasiku menembus dinding – dinding dan mengajak alam raya bermain bersamaku. Sudah sangat lama aku berusaha membatasi impian – impian dan imajinasi – imajinasi liarku; berusaha untuk menekan sisi ini TAPI sisi ini tak pernah bisa hilang, lepas dariku, karena sisi ini lah yang membuatku bisa menjadi aku yang seperti sekarang ini.

Banyak contoh imajinasiku yang membuatku sangat cinta ‘ukur jalan’; mulai dari teman – temanku para manusia pohon waktu SD yang sering kusapa dan kuajak cerita dan kupeluk tiap kali berkunjung ke halaman belakang rumah (itu jauh sebelum aku menonton film Narnia masa kuliah), para putri – putri keladi yang sering kuikat rambut mereka (selalu dimarahi bapak karena daun keladi selalu rusak kuikat dengan rumput ataupun kutusuk dengan ranting kayu dan berandai – andai mereka memakai jepitan rambut; bagaimana bapak tak marah kalo jejeran tanaman keladinya yang lebih dari 20 tanaman berubah bentuk diikat –ikat); berandai – andai jadi manusia pohon kala SD – SMA hingga tiap hari cuma berada di atas pohon dan berandai – andai bisa terjun bebas dari atas pohon dan mendarat bagai daun (hingga membuat mama sering berteriak marah dan saudara – saudara lelaki melempariku dengan batu dan menyuruhku turun dari pucuk pohon); berenang di pantai ataupun naik kapal laut dan berharap bertemu makhluk duyung ataupun Poseidon ataupun syukur – syukur ‘hantu laut’ walau memang sempat mengalami beberapa kejadian supranatural dalam petualangan di laut (antara Manokwari – Windesi) hingga sekedar acara jalan sore.

Bagiku, dunia imajinasiku tak akan pernah berhenti HANYA karena aku perempuan, karena aku berusia 27 tahun, karena aku sedikit lagi akan wisuda dengan gelar Master de el el dan segala macam pembenaran alasan bahwa aku harus berhenti berimajinasi. Toh selama tak ada undang – undang yang mengaturku maka aku pun bebas menjadi apapun yang kuinginkan.

Panggil aku Maya, karena memang itu namaku; nama pemberian ortuku, nama dimana aku dilabel sejak lahir. Dan aku pikir orang tuaku mungkin tak pernah berpikir bahwa namaku itu sangat berpengaruh pada sifat dan karakterku. Sama seperti adikku yang bernama Indra yang berarti dewa perang dan memang sifatnya itu benar – benar sesuai dengan karakter Indra dalam mitologi India, begitu pula adik perempuanku yang bernama Sintha yang lagi – lagi karakternya dan fisiknya benar – benar mirip dengan dewi Sintha, istrinya Rama dalam mitologi India. Sayangnya, orang tuaku lupa bahwa Maya dalam mitologi India tak pernah lepas dari mimpi, ilusi, khayalan, imajinas, baik apakah maya ditinjau dari segi filosofi ataupun merujuk pada pengejewantahan nilai – nilai konseptual dewi dan kekuatan spiritualitas dalam dinamika Hindu, Sikh ataupun Budha (yang baru kupelajari artinya secara seksama kala menjelang usia 26; tahun lalu) TAPI tak salah juga menjadi seorang pemimpi, seorang yang berimajinasi asalkan aku bisa mengontrol dualitas ini dan tak hidup dalam salah satu sisi.

Panggil aku pemimpi, ilusi atau apapun karena itu bagian dari hidupku dan aku menikmatinya!!!

*tiba – tiba ingat bahwa aku belum menuliskan imajinasiku kalau jadi pembuat iklan telepon selular bertema Papua ^__^ *impian bersama Mia kala di dusun – dusun sagu :D

(Campbell, 24 Mei 2010)

0 comments: