Apakah tiap rasa rindu harus berwujud?
Apakah tiap rasa rindu harus ditujukan kepada seseorang?
Apakah tiap rasa rindu hadir karena ketiadaan seseorang ataupun sesuatu?
Apakah tiap rasa rindu ada karena kesepian?
Aku mungkin tak tahu
Dan tak mau tahu!
Bukan para pengupas barisan huruf
Pun penyusun kata
Bukan pemilah makna
Pun pemecah filosofi
Aku hanya tahu
Ada rasa tak enak di dalam diriku
Entah di hati, jantung ataupun serat kelabu otak
Aku hanya tahu
Ada sesuatu yang membuatku tak nyaman subuh ini.
Sesuatu yang membuatku mengambil jeda dari jeratan tugas,
Sekedar menyentuh layar – layar simbol penutur makna.
Merentangkan sesuatu yang membuatku sesak;
Membuatku berhenti berlari dalam pacuan perhitungan kata.
Aku hilang jejak.
Rasa ini!!!
Apakah aku kesepian?
Apakah aku membutuhkan seseorang atau sesuatu?
Apakah aku sendiri?
Apakah sunyi?
Aku tak tahu
Dan tak mau tahu!
Aku baik – baik saja
Selalu merasa baik – baik saja
Terbiasa sendiri sejak lama
Dan kadang tawa dan canda membuatku mengkhianatiku diriku yang sebenarnya.
“May, ko memang dari dulu soliter kan,” ujarku tiap kali menguatkan diri.
“May, bukannya ko memang tra nyaman kan kalo rame,”, kataku menenangkan diri.
Entahlah …
Tiap malam datang memeluk bumi
Aku merasakan sesuatu ini.
Panggilan yang kudapat sejak lama,
Rasa yang kudapat sejak masa remaja,
Kala malam datang dan menyambut subuh.
Rasa ataupun sesuatu yang sama;
Yang tak terjelaskan!!!
Itulah sebabnya aku suka malam!
Itulah sebabnya tiap mentari jatuh, aku tersenyum.
Itulah sebabnya tiap bintang menari, aku tertawa
Dan bulan pun tahu aku bahagia.
Apa memang melajang itu salah?
Apa memang menikah itu sebuah keharusan?
Apa memang tiap hubungan pada akhirnya harus berakhir di ujung selembar kertas?
Apa memang tiap hubungan pada akhirnya harus ditentukan dengan seberapa dalam penetrasi penis?
Apa memang manusia hidup hanya untuk lahir, hidup, bertumbuh, menikah, punya anak, mati dan jadi bangkai?
Apa memang aku harus jadi apa yang orang lain, masyarakat dan manusia lainnya inginkan?
Maaf, aku mungkin salah menafsirkan menjadi manusia.
Aku mungkin bukan orang yang pandai menerjemahkan petunjuk hidup di planet bernama bumi lewat transkrip – transkrip kebenaran.
Malam ini dan tiap malam,
Aku didatangi pertanyaan – pertanyaan.
Bagaimana esok?
Bagaimana hari ini?
Apa yang kau tahu tentang hidup?
Bagaimana kau akan hidup?
Dan pertanyaan – pertanyaan lainnya yang selalu membuatku berpikir dan berpikir!!!
Kadang lelah, capek, suntuk, letih dan ingin lepas.
Tapi pertanyaan – pertanyaan itu terus mengejarku.
Membuatku tak bisa tenang, tak bisa sejahtera.
Entahlah!!!
Apa mereka menginvasi otak, hati dan hasratku?
Semakin lama pertanyaan – pertanyaan itu dan rasa lainnya yang membuatku seperti ingin jadi malaikat.
“Tra lama lagi sayap satu pica kapa di tulang belakang,” pikirku.
Kadang ingin lari dan kembali jadi Maya yang lama;
Maya yang penuh dendam, master of tricks, yang tak punya hati, yang berpikir tentang rancangan kejahatan, yang suka segala sesuatu berbau darah, api dan pisau.
Tapi entahlah …
Semua rasa itu pudar dan hampa
Tak ada lagi sensasi mereka di hatiku.
Apa hatiku telah melunak usai beberapa tahun ini?
Entahlah. Aku tak tahu.
Aku hanya tahu, aku B-E-R-U-B-A-H!!!
Dendamku berkurang,
Benciku memudar,
Sakit hatiku menyusut,
Kepahitanku berangsur – angsur hilang.
Entahlah!!!
Di mana sensasi senang melihat darah anak anjing yang kucabik telinganya sewaktu SD?
Di mana tawa puas melihat ayam yang kueksekusi dengan kartafel hingga lehernya patah?
Di mana kepuasan melihat dan mencabut parang dan mengancam orang bila keinginanku ditentang pun egoku tersentil?
Di mana kesenangan melihat ikan – ikan tangkapanku yang kuracun Bayclean menggelepar maut?
Di mana rasa puasku menghancurkan tandan – tandan salak, daun – daun bunga dan pucuk pohon?
Di mana sensasi tawa licikku bila saudaraku berhasil kuadu domba?
Di mana tawaku bermain api dan membakar sesuatu?
Di mana senyum kemenanganku bila berhasil membuat orang lain tersakiti dengan kata – kataku?
Di mana rencana – rencana jahat membunuh orang dengan taktik sederhana dengan meracuni air minum dengan arsenik perlahan – lahan?
Di mana otak nangka jaman dulu untuk membangun kekuasaan perlahan – lahan dengan langkah yang matang dan menggunakan kelemahan lawan sebagai cara mencapai tujuan?
Di mana keinginan menyakiti tubuhku dengan menyayatnya perlahan dengan pisau tertajam dan menikmati nyeri, darah dan luka?
Di mana sensasi rasa puas usai balapan dengan kecepatan tinggi dan menantang maut?
Di mana lagi pikiran – pikiran gelap itu; bunuh diri melompat dari dermaga dan kapal, minum obat banyak – banyak, mogok makan dan berharap tubuh kan lemas dan mati, menyayat nadi perlahan – lahan demi belajar tentang rasa sakit dan penasaran?
Di mana lagi kesukaan berbicara dengan moyang – moyang dan memanggil nama mereka dan merasakan kehadiran mereka dan percaya bahwa mereka ada?
Entahlah …
Aku kehilangan semua itu sensasi, kepuasan dan kemenangan itu perlahan – lahan.
Semuanya memudar
Dan hilang!!!
Tak ada lagi yang tersisa.
Aku takut bahwa aku sebenarnya telah meninggalkan elemen – elemen yang dulu membuatku tegar dan kuat.
Elemen – elemen untuk terus membuatku berjuang, bekerja keras dan menghukum diri bila tak jadi yang terbaik.
Entahlah, semuanya berubah!!!
Bahkan aku tak lagi bisa menikmati melihat darah dan api.
Tak bisa lagi menikmati mendengar suara tangis.
Tak bisa lagi melihat orang tersakiti.
Tak bisa lagi menikmati pertengkaran orang lain.
Tak bisa lagi menikmati permainanku pada emosi orang lain dan tertawa bagaikan Naraku di film kartun Inuyasha melihat orang – orang bertengkar ataupun termakan emosi palsu.
Sekarang rasa lain yang menguat di dalam diriku.
Rasa yang belasan tahun lalu kubenci dan kuidentikan dengan kelemahan.
Cela yang tak termaafkan,
Tapi, menjadi diriku yang sekarang!!!
Apakah aku lemah ataukah menjadi kuat?
Menjadi lebih baik ataukah menjadi lebih buruk?
Membiarkan diriku bergantung pada orang lain?
Membiarkanku percaya pada orang lain walau sekian kali tersakiti?
Apakah ini hidup?
Aku tak tahu apa yang terjadi dan akan terjadi.
Yang kutahu aku sedang B-E-R-D-A-M-A-I!!!
Aku sedang berdamai dengan diri dan hidupku beberapa tahun terakhir.
Berdamai dengan jenis kelaminku,
Berdamai dengan diriku,
Berdamai dengan ras, tubuh dan budayaku,
Berdamai dengan sisi lain diriku yang bertahun – tahun kutekan,
Berdamai dengan namaku,
Berdamai dengan keluargaku,
Berdamai dengan kondisi tubuh, trauma dan luka – luka batinku,
Berdamai dengan masa laluku,
Dan akan terus berdamai!!!
Satu yang pasti,
Aku tahu aku menjadi lebih baik dan tak lagi melihat dari kacamata kebencian
melihat dunia lewat sudut pandang yang berbeda.
Melihat dan menghargai hidupku
Dan sadar bahwa aku manusia biasa,
Bahwa aku lemah dan butuh Tuhan.
Menikmati semua hal sebagai proses, sebagai perjalanan.
Dan aku tahu bahwa aku, Maya, yang sekarang ini berubah dan akan terus berubah
Karena Dia!!!
Y-E-S-U-S!!!
Without Him, I’m nothing.
(Subuh di Campbell, 27 Mei 2010)
0 comments:
Post a Comment