Malam ini sa berada dalam titik kulminasi tekanan tugas dan hampir saja berpikiran dan memang sempat dihinggapi pemikiran kalo “neh ko kuliah cape – cape buat, mati saja, bunuh diri kan lebih gampang tooo, tra perlu repot, ko kan bisa pake cara yang gampang, minum apa ka, tinggal tidur saja too dll”. Kenapa juga lambat sadar bahwa barang itu su dari tadi ada di otak dan bikin sa nangka sekali.
Malam ini sempat berpikir apa sa yang terlalu memaksakan diri untuk kuliah lagi demi sapu impian semasa kecil, demi pengakuan dari orang lain, demi hal – hal lain, demi bajalan gratis dan lain – lain? Apa sa ini su masuk yang sa pu teman Ancilla Irwan bilang “intellectual masochist” alias orang yang mendapat kepuasan dengan cara mendapatkan kepuasan dengan ‘menyiksa diri’ dengan belajar dan terus belajar. Entahlah …
Yang sa tahu malam ini sa macam mo lari ke pantai Pasir Putih (kalo akan ada sini) atau balapan deng motor sampe gas plaat sambil batariak – batariak sampe tenggorokan kering dan lain – lain. Benar – benar tertekan.
Tapi sa tetap tahu yang sa butuhkan cuma suara dari sapu keluarga khususnya papa dan keponakan – keponakan kecil. Sa tahu yang sa butuhkan cuma doa dan menyanyi lagu rohani. Sa tahu yang sa butuhkan cuma menangis sampe puas – puas dan curhat sampe ingus maleleh – maleleh dan lain – lain. Malam ini sa benar – benar dalam titik dimana sa homesick dan rindu rumah sekali … benar rindu suasana Fanindi dan Manokwari. Benar – benar rindu untuk pulang. Sa semakin sadar dimana sapu hati berada, bahwa sa memang su tra bisa resist yang namanya perasaan ingin pulang. Mungkin sudah saatnya menghentikan akhir perjalanan dan kembali ke rumah.
Di paragraf ini, sa mulai berada pada titik sa agak tenang, apalagi sambil menyantap sepiring jagung manis yang dimasukan ke microwave. Sa benar – benar merasa bahwa sa sedang menyiksa diri, sedang tidak jadi Maya yang sebenarnya, sedang merasa bahwa sa sedang menggadaikan sapu kesehatan demi sesuatu yang sa cintai. Apakah memang untuk sesuatu yang tong cintai, harus selalu berakhir dengan pengorbanan dan mencintai hingga terluka seperti ini ka? Apakah tong tra bisa berada pada titik dimana “OK, its enough, I quit.” Jujur malam ini sa benar – benar rindu sapu rumah dan keponakan – keponakan dan sapu bapa sekali.
Mungkin sa terlalu lebay ka berlebihan deng sapu status di Facebook dan lain – lain, tapi malam ini sa benar – benar macam su tra tahan dan berada pada titik dimana sa mo bilang sama Tuhan, “ajar sa untuk bisa mengucap syukur kapan saja dan dimana saja termasuk saat ini. Ajar sa untuk bisa belajar bahwa untuk mencintai memang butuh pengorbanan. Bahwa Tuhan ijinkan hal ini terjadi karena Tuhan tahu sa cinta barang ini dll”
Malam ini sa juga berada pada titik dimana sa bilang sama diri sendiri, kalo sa BUTUH seseorang yang bisa jadi sapu tempat curhat, yang bisa bikin sapu batin sedikit tenang kala begini tapi sa tahu sa tra akan pernah mau orang itu jadi sapu tempat curhat dan cuma jadi sapu pelarian dari masalah – masalah. Sa ingin bilang sama Yesus kalo sa su tra kuat sekali, su jenuh dan berada pada titik kulminasi, tapi sa tahu kalo sa akan jadi makhluk yang sangat egois kalo sampe sa menyerah lagi saat ini, ini pertempuran terakhir yang wajib sa buat saat ini.
Hal hal seperti ini juga bikin sa berpikir untuk bisa punya dan atau bisa sumbang ide ka dan bermimpi bahwa satu hari di Papua akan ada sebuah Women’s centre yang tawarkan jasa konsultasi online dan curhat yang ada relawan yang kerja angkat telepon dan terima telpon curhat para perempuan seperti sa yang tiba- tiba di malam hari merasa sa pada titik dimana sa tra mampu, yang bisa jadi tempat cerita dan beri sa kekuatan, yang bisa kasi tambahan ekstra tenaga atau sekedar menjadi teman cerita. Ingin sekali dan rindu dan percaya bahwa satu hari akan ada di sana, di sebuah tempat bernama Papua, sebuah pusat layanan relawan berbentuk Women’s centre.
Malam ini sempat berpikir juga, apa memang semua beban harus sa pikul sendiri ka atau memang sudah saatnya sa membuka hati bagi makhluk manis bernama lelaki untuk menjadi dan mengisi ruang yang kosong di hati ini. Tentu saja bukan sebagai tempat sampah yang hanya saya perlukan kala emosi di dada terasa sesak dan kondisi emosi sedang tak labil. Tapi lebih dari itu menjadi seseorang yang percaya dan mendukung mimpi – mimpi saya yang kedengaran gila dan aneh. Lelaki yang bisa menjadi panutan dan seseorang yang saya kagumi, yang mo diajak nikah dengan acara yang sederhana dengan format seperti apa yang sa inginkan dan kegilaan lainnya. Untuk lelaki seperti itu, saya rela menunggu biar berapa tahunpun karena sa percaya hidup cuma sekali dan sa hanya mau bikin komitmen sekali.
Mungkin pada titik ini sa terasa seperti orang yang kehilangan harapan, kesepian dan entahlah … mengasihani diri sendiri. Tapi that’s the real me. Sapu diri yang sebenarnya. Sa tra harus pake topeng dan bilang sa lagi senang kala sa memang lagi tra senang. Sa berada pada titik jenuh tapi sa percaya ini hanya sebuah fase dalam sapu hidup dan sa memutuskan untuk tra lari dari sapu masalah walau sa memang akui sa butuh waktu lebih untuk selesaikan akan. Yang pasti, sa percaya ini sapu diri sendiri dan sa tra perlu bikin orang lain terkesan deng sa.
Sa memutuskan untuk tidur barang sejenak. Karena bagaimanapun sapu tubuh perlu istirahat.
Thanx Jesus untuk kesempatan ini, untuk kesempatan dimana sapu kemampuan ditantang dan sa percaya deng Ko, sa bisa jalani sa pu hidup. Keadaan seperti ini semakin menguatkan sa bahwa sa memang sangat benar – benar butuh ko dan memang tanpa Ko sa pasti su tewas sejak lama. Miss u sangat, Jesus. Kuatkan san eh. Sa lemah sekali tapi sa percaya sama Ko, sa pasti kuat. Amen
(Subuh di Canberra, 9 April 2010)
0 comments:
Post a Comment