Lebah tukang maki,
Entahlah, dua hari terakhir, aku memikirkanmu. Kala hendak tidur dan tiba – tiba teringat kau. Masih kah kau ingat aku ataukah telah lelah dan tak akan pernah memikirkanku lagi usai penolakan berkali – kali.
Lebah tukang maki,
Mungkin aku pernah salah, pernah ragu denganmu, sudah 4 tahun ya mengenalmu dan kau hilang dari hidupku. Kau masih tetap gagah, kupikir kala pertama kali melihatmu di pelabuhan. Terlalu cuek dan merasa gagah ataukah pica bunga, entahlah.
Mungkin aku salah, salah karena memutuskan mundur sehari setelah mengiyakan perubahan status persahabatan kita bulan Mei 2008. Pasti sakit ya, tapi maafkan aku, kala itu aku labil. Terlalu labil, tak tahu apakah memang itu yang terbaik, ataukah karena memang aku tak siap.
Entah sudah berapa kali kau menawarkan niatmu, maafkan aku yang tak pernah bisa sabar dan tak pernah bisa sadar tentang niatmu. Maafkan aku.
Hari ini mengapa aku mengingatmu lagi. Apakah kau masih menganggapku temanmu ataukah hanyalah seorang musuh dari masa lalu.
Yang kutahu, entahlah … mengapa 2 hari belakangan ini mengingatmu lagi. Maafkan aku.
Entah sekarang kau dimana, aku tak tahu. Wish you all the best, lebah tukang maki. Kau salah satu cowok yang membuatku menjadi diri sendiri dan bisa puas bicara tanpa perlu menjaga citra dan wibawa.
Wish you all the best in your life. Jangan khawatir, aku sudah makin pintar dengan hidupku kok dan tak akan pernah “jual cinta demi coklat” seperti kata – katamu beberapa tahun lalu.
Entahlah, mengapa memikirkanmu hari ini.
(Campbell, 26 March 2010)
0 comments:
Post a Comment