Minggu siang ini sambil memantau siaran radio Kristen di kotaku, tiba – tiba sebuah pikiran berlari di kepalaku, “how do you measure the capacity of you life? How do measure you life? How do measure your happiness? How do measure yourself?” dan tiba – tiba aku mendapati bahwa aku masih dalam sebuah perjalanan panjang yang bernama ‘hidup.
Aku mungkin tak tahu Tuhan membawaku ke arah mana. Apakah jalan setapak penuh lumpur tetapi penuh keindahan alam di kiri kanan ibarat di hutan – hutan hujan tropis di pedalaman Papua yang pernah kulewati, ataukah lewat jalan raya yang menerobos hutan berkabut dan diterpa hujan deras dan angin hingga tak bisa melihat jalan raya di depan dan hanya mengandalkan cahaya lampu dari kendaraan lain seperti perjalanan 3 minggu lalu bersama bro J. Apakah seperti jalur laut di tepi pulau – pulau kecil di teluk Cenderawasih yang indah dengan laut dangkal penuh koral warna – warni bak perjalananku beberapa tahun lalu dengan para teman di komunitas lingkungan hidup, ataukah malah seperti perjalananku bersama teman - teman dengan speedboat di aliran sungai Kohoin yang penuh lumpur dan buaya. Masih tetap berpikir, apakah jalannya akan seperti jalan berliku bagai ular seperti saat ke Anggi dan melihat keindahan alam yang tak bisa dilukiskan dengan kata – kata walapun jalannya curam dan hampir terperosok ke jurang?
Aku tak tahu dan sebenarnya tak ingin tahu (tentang jalan itu).
Yang aku tahu adalah terlepas bagaimana jalannya, sekasar, securam apapun jalannya, yang aku perlu tahu adalah dengan SIAPA aku berjalan?
Aku tahu dengan SIAPA aku berjalan selama ini.
Aku tahu SIAPA yang selama ini ada bersamaku, menguatkanku.
Kala terombang – ambing dalam perahu Johnson yang mati mesin selama 2 jam di sebuah petang menjelang malam di perairan teluk Cenderawasih tahun 2007.
Ia menunjukkan padaku bahwa pulau – pulau kecil di dekat perahu yang terombang – ambing dibawa ombak begitu cantik, dan seburuk apapun kondisi yang terjadi, aku akan punya pengalaman tinggal dan merasakan pagi di pulau – pulau surgawi itu.
Kala mati mesin di aliran sungai Kohoin, Sorong Selatan di tahun yang sama.
Ia yakinkan ku untuk melihat dan menikmati hamparan bakau dan kecantikan hutan perawan di kejauhan.
Kala hampir jatuh ke jurang dengan mobil land cruiser saat bepergian ke Anggi.
Ia menunjukkan padaku keindahan alam yang selama ini aku tak pernah berpikir bahwa keindahan seperti itu begitu eksis di dunia ini, keindahan yang tersembunyi dan tak terekpos ke dunia luar
Kala mesin mobil mati di pertengahan antara Manokwari dan Ransiki di sore hari dan di antara hamparan perkebunan coklat dan campuran rasa lapar,
Ia tunjukkan padaku bahwa ternyata alam Papua begitu ramah dengan menyediakan subsidi makanan dan bahwa segala sesuatu yang selama ini kuperoleh hanya kuambil take for granted dan lupa bahwa semuanya indah dan patut dihargai.
Kala perjalanan pulang dari Apollo Bay 3 minggu lalu dan melewati hutan lebat berkabut dan hujan serta terperangkap dalam hujan angin yang begitu keras di sebuah jalan raya dan mobil hanya bisa bergerak lambat dan tak bisa melihat ke seluruh arah karena pandangan tertutup hujan deras dan mengandalkan cahaya lampu mobil sebagai indikator bahwa ada manusia dalam mobil,
Ia tunjukkan padaku tentang kuasa Tuhan dalam mengendalikan cuaca, memberikan perlindungan kala benar – benar pasrah dengan nasib dalam badai hujan, memberikan ketenangan bahwa semuanya akan baik – baik saja.
Aku percaya bahwa tak peduli bagaimana jalan yang kulalui, ke arah mana akan dibawa selama aku tahu SIAPA yang akan berjalan bersamaku.
Aku tahu SIAPA dia.
Seorang ‘navigator, counselor, comforter’ terbaik dalam hidup. The lover of my soul a.k.a. Jesus Christ.
(Canberra, 28 February 2010)
0 comments:
Post a Comment