Search This Blog

Loading...

Sunday, 21 February 2010

A Letter to her

You never know how hard I try to stand on and fight my right.
You never know how much I try to prove that I am deserved for your love.
You never know how much I try to keep my self straight and pursue my dream just to be accepted.
You never know!!!

Kalo memang sa tidak pernah menjadi bagian dalam ko pu hidup, tidak perlu telpon sa too. Kenapa ka setiap kali ko telpon pasti begini, dan sa pu emosi yang kacau balau. Ko tahu, sa su bahagia di sini,sa bahagia jauh dari ko. Sa bahagia bisa kejar sapu impian. Ko kan tra pernah tahu apa yang sa inginkan sejak kecil karena toh ko tra pernah peduli sama sa.

Apa sa memang benar – benar pernah berbagi nafas deng ko? Sa tra tau. Sejak kecil sa selalu bertanya, kenapa ko pu perlakuan ke sa selalu berbeda dan seiring deng waktu.,sa belajar untuk bisa terima sa pu kondisi. Tapi sulit. Sangat sulit.

I want to escape from u forever.

Sa tidak ingin benci ko. Sa sayang ko tapi kenapa ko tra pernah sekalipun menganggap sa tuh ada ka. Kenapa sa tidak pernah ko bela. Kenapa sa harus selalu jadi yang pihak yang mengalah ka? Sa capek diam, karena tiap kali sa bicara, yang ada semua salahkan sa. Sa macam orang terhilang sekali.

Ko dimana dulu waktu dong perlakukan sa seperti hewan?
Ko dimana dulu waktu dong pu kelakuan mengancam sapu kehormatan diri?
Ko dimana waktu sa pu tubuh hampir kehilangan nilai?
Ko dimana waktu sa merasa tertekan dan beberapa kali mo bunuh diri?
Ko dimana???

Kalo memang sa bisa kembalikan ko pu kromosom, sa akan kembalikan.
Sa tra suka hutang budi.
Sa tra suka terikat dalam ko pu hirarki.
Sa tra suka menjadi bagian dari ko, jujur!!!

Kenapa sa tra pernah bisa ko perjuangkan untuk ko bela?
Kenapa harus demi orang2 tertentu sa harus selalu mengalah.

Sa tahu dulu sa bukan yang ko inginkan.
Mungkin sa memang cuma ko pu proyek uji coba kan?

Ko tra tau, betapa berat sa waktu kecil hanya ingin membuktikan kalo sa layak dicintai?
Membuktikan bahwa sa bisa bikin ko bangga dan peluk sa atau setidaknya banggakan sa?
Tapi selalu sama kan hasil akhirnya.
Sa tidak pernah ada di ko pu hati.
Selamanya tidak pernah ada.

Sa tra peduli orang mo bilang sa apa.
Sa su cukup kenyang bertarung sejak lama deng barang ini.

Ko tahu, sa beberapa minggu lalu nonton film ‘Precious’.
Pada satu sisi sa macam lihat kembali ke dalam film itu. Macam sa ingat sa langsung ooo.
Ko tra pernah tahu betapa beratnya jadi diri sendiri.
Mungkin untuk jadi diri sendiri memang tong dua harus jauh eee.

Apakah sa memang tidak pernah bisa jadi seseorang yang bikin ko bangga?
Sa cape mengais kasih sayang.
Sa cape buktikan diri.
Sa cape sekali.

Ko tahu, sa selalu berharap dan berdoa, suatu hari sa tra mo jadi seperti ko.
Sa ingin bisa tegas, bisa mandiri, bisa hargai orang lain dan tra mo ulang apa yang sa rasa dulu.

Ko kemana ka selama ini?
Tra usah peduli suda sama sa.
Sa masih bisa hidup tanpa ko.
Sa bisa atasi sa masalah sendiri.
Sa bisa simpan sa pu luka hati sendiri.
Sa masih kuat untuk angkat sa wajah dan berjuang untuk apa yang sa percaya.

Ko tra pernah mengerti sa.

Sa capek mengais ko pu kasih sayang, ko tahu.

Sa berhenti!

Tolong jang ganggu sa pu hidup lagi.

Ko tra pernah percaya sa.
Ko tra pernah bisa percaya sa pu kata – kata dan pendapat.
Kenapa ko selalu lebih suka dengar orang lain yang bicara ka?

Sa capek harus selalu menjawab pertanyaan – pertanyaan basi sejak lama.

Ko tau sa tra pernah baik – baik saja dalam hubungan deng ko.

Ko kenapa tra pernah anggap sa normal, bahkan ko tahu, ko bikin sa hati hancur sekali kala ko masih mempertanyakan sapu orientasi seksual tuh.

Apa sa tra layak memang untuk dikasihi.

Ko tahu, sa su berhenti berharap sejak lama.

Sa cuma minta, ko BACK OFF dari sapu hidup.

Jang sibuk baurus sa, jang sibuk nasehat sa. Sa capek.

Sa cuma perlu orang yang bisa kasi tunjuk sa jalan yang bisa bikin sa kuat, yang bisa bela dan terima sa apa adanya.

Dan ko G-A-G-A-L!!

(Canberra, 20 Februari 2010)

0 comments: