Somewhere in Australia
10. 40 p.m.
Kulihat dia duduk di bangku besi bercat perak. Sendiri! Tas punggungnya tergeletak begitu saja. Kakinya berselonjor lurus. Sesekali tangannya sibuk menekan tombol – tombol perangkat komunikasi portable bernama telepon seluler.
Kuamati pandangan matanya yang sesekali memandang lurus ke depan, menatap bintang – bintang. Mencari Southern Cross, entahlah.
Kembali lagi nafasnya sedikit menghela pelan.
Tiba – tiba kudengar ia bernyanyi, sebuah lagu tanpa tangga nada yang dinamis. Datar!
“Dear God,
It’s me again, again.
Waiting in this bus shelter.
Waiting as I look at You,
Feel your presence
Dear God,
It’s me again, again.
Feeling so blue tonight.
As I see the stars in the sky.
Feel so small.
Dear God,
It’s me again, again.
Feel so insecure
When others judge me based on their values
Feel so insecure.
Dear God,
It’s me again, again.
Feel so insecure tonight
But your presence comes so closer
And I feel You.
Dear God,
It’s me again, again.
Trying to find the way to my soul.
Trying to reach the depth of your plan invested in me.
As I try to find my way back to You, through trials and tribulations.
Up and down, stumble and fall.
In the end, It's me and You.
We'll dance, I promise.
It's me again”
Sambil melihatnya menyanyi lagu itu dengan nada sendu, kuperhatikan jalan raya yang lengang. Bahkan hingga bis terakhir pun tiba dan menjemputnya, kulihat dari balik kaca bis yang lengang, di deretan kursi belakang, ia masih saja bernyanyi.
“Dear God, it’s me again .. again.”
(Canberra, 26 February 2010)
0 comments:
Post a Comment