Sambil nongkrong di perpustakaan khusus Asia – Pasifik, di sela – sela waktu membaca buku teks yang kali ini sangat kusuka; tentang sejarah dan politik, pikiranku terbang kembali ke pengalaman Jumat 12 Februari 2010. Saat memutuskan pergi ke Apollo Bay. Ditemani musik lembut, kucoba merangkai apa yang tersisa dari sana. Mencoba mendokumentasikannya walau aku tahu, jauh di sana, di dalam otakku, semuanya terekam dengan baik. Benar – benar a walk to remember. Truly madly deeply do.
Catatan ini mungkin sangat personal pada beberapa sisi. Jujur di tanggal ini, aku benar – benar menemukan diriku kembali; yang cinta mati petualangan dan perjalanan. My passion for it is in my blood!
Cheers,
Maya
=====================
Jumat 12 Februari 2010
8 a.m.
Seperti biasa, aku bangun dan mendapati Andre sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Masih tetap sama; egg dan bacon. Bro J kulihat juga sibuk di depan komputernya. Aku masih malas – malasan. Hari ini kelihatan mendung dan tubuhku juga sedikit kecapaian karena kemarin sore hujan – hujanan di Footscray.
Aku memilih pergi ke beranda belakang dan nongkrong. Tawaran brekkie dari Andre dan J kuacuhkan. Hari ini aku dan J akan berangkat ke Apollo Bay, sekitar 2 – 3 jam perjalanan dengan mobil. Tapi aku sebenarnya sedang gelisah, tak sabar menghitung jam untuk ke sana dan melihat pantai. Sangat tak sabar. Apalagi aku kerap kali mendengar tentang Great Ocean Road. Sangat tak sabar.
Tak lama, Andre dan J bergabung di beranda belakang dan mengobrol denganku. Membahas rencana. Andre katanya akan bergabung dengan J di Buck’s party. Usai mereka menghabiskan brekkie mereka, J pamit. Mamanya akan berangkat ke kota lain dan ia bertugas ke bandara untuk mengambil mobil mamanya. Sedianya mobil Ford itu akan menjadi sarana transportasi kami. Aku diminta menunggu di rumah ataupun mengisi acaraku dulu hingga makan siang.
9 a.m.
Ogah – ogahan, kukenakan pakaian kebangsaanku, yang warna – warni. Hadiah dari housemateku Lisna kala pulang dari Jakarta, bermotif tied-dye warna – warni. Bagiku sangat khas India.
Usai mandi, kebetulan Nadine, si cewek Jerman itu ada di dapur. “Aku ingin mengeksplorasi areal High Street. Kamu masih ada di rumah kan?”, tanyaku. Aku tak punya kunci rumah. That’s all.
Dengan berbekal kamera, dompet, payung dan juga dompet mini, kulangkahkan kaki menuju jalan raya. Ternyata High Street lumayan jauh. Kiri – kanan yang ada hanyalah bangunan ruko dan perdagangan. Tapi karena Melbourne adalah kota yang begitu klasik, kadang bangunan – bangunan tua tersembul di balik jalan raya dan aku sempat mengabadikan beberapa bangunan tua itu. termasuk sebuah bengkel yang mirip kastil abad pertengahan. Cantik sekali!
Hampir 30 menit berjalan kaki. Perutku juga ternyata lapar karena toh aku tadi ogah makan pagi. Saat sedang asyik menatap beberapa bangunan dan juga mengidentifikasi restoran terdekat, mudah – mudahan ada Asian Restaurant (yang sayangnya tak ada *sedih) karena beberapa hari hanya makan roti, telepon genggamkku berbunyi. “Hi, what’re you doin’? Wandering alone in High St?”, tanya bro J. Sambil diikuti dengan tawanya yang khas. Aku bingung apa dia sudah pulang ke rumah? Kembali lagi ia bilang, “Hi, look around you, I’m quite close to you.”, kali ini dengan tawanya yang lebih besar. Sambil celingukan mencari asal suara, kulihat dia berhenti hanya 5 meter dari tempatku berdiri. Bule Jerman ini ternyata sedari tadi sudah berhenti memperhatikanku yang sibuk menatap bangunan.
Tak perlu lama, aku pun sukses masuk ke Ford Biri Tua itu dan medapat tur singkat pengenalan daerah. Jadi sekitar 20 menit dipakai untuk berputar – putar di Northcote, melewati gang – gang dan jalan – jalan kecil. J yang memang sangat berbakat menjadi pemandu menjelaskan beberapa tempat. Tiba – tiba mobil kami berputar ke sebuah tempat yang kupikir sangat familiar. Ternyata memang benar. Ia membawaku ke seorang kenalan lama lainnya. Benar – benar kejutan bahwa ternyata rumah mereka berdekatan.
Usai tur singkat dan say hi di kenalan lama, J kembali mengingatkanku kalau kami akan pergi usai makan siang. Kulirik jam di layar ponsel, masih jam 11. Masih punya waktu 2 jam. Jadi kuminta dia menurunkanku lagi di High St karena aku masih ingin berjalan kaki dan merasakan denyut kota ini.
Aku menikmati sekali berjalan kaki di sepanjang pertokoan kecil dan tua, bertemu banyak tampang Mediterania dan Anglo-saxon. Jarang kulihat orang Asia di jalan, bila dibandingkan dengan di Footscray kemarin. Iseng – iseng aku menyempatkan masuk ke sebuah toko barang – barang murah, sejenis bargain shop. Lumayan, 2 buah kartu lucu bergambar Koala dan Kangguru minum bir berhasil kubeli. Hanya AUD $ 1.
Aku juga menyempatkan diri singgah di sebuah plaza di Northcote. Baru sadar kalau rumah bro J dekat dengan plaza. Menikmati aura belanja yang benar – benar ‘Asian limited’. Bukannya apa, kadang juga jengah melihat populasi Asia yang banyak ditemukan di CBD. Multicultural sih multicultural, tapi kalo jalan dan masih bisa mendengar bahasa ‘ajaib’ yang singgah di kuping, seperti another Asian City deh ^_^ *pendapat pribadi (that’s why I choose Canberra ^_^)
Tiba – tiba teringat bahwa aku belum makan. Mataku menangkap iklan “Fish and Chips”. Tak menunggu lama, aku masuk ke kedai makan itu. Aku sempat gugup karena ternyata menu yang ditawarkan begitu beragam. Selama ini aku hanya makan fish and chips yang standar. Ternyata di tempat ini banyak variasi ikan, seafood dan bumbunya. Yang ada kenyang sungguh mati, mana porsinya besar lagi. Jadi aku memutuskan membawa pulang 2/3 porsi ^_^
12 something
Bro J ternyata sudah di rumah. Semua peralatan camping, fishing dan tas pakaiannya sudah diatur di depan rumah. Tanpa banyak bicara, aku segera mengepak barang yang hendak dibawa. Tak banyak. Memastikan semua berjalan dengan baik. Saat semua sudah siap, tak lupa kumasukan fish and chipsku yang ternyata sudah ‘dikorupsi’ bro J saat tahu itu ‘Fish ‘n chips’ .
***
The beginning of My adventure *love is in the air
Bila ingin ke Apollo Bay, aku dan J harus melewati sebuah highway yang menuju ke Geelong dan aura petualangan pun langsung mengisi mobil.
Saat kendaraan sedikit lambat di highway, J sedikit keki dengan orang – orang yang lambat. Mobil pun merayap dan aku tergagap dengan kondisi flat battery di ponselku. Berdoa sungguh mati supaya jangan keburu padam sebelum keburu memperbaharui status *narsis mode: ON
Akhirnya terbebas juga dan yang ada J mulai kembali melajukan mobil, 100 KM/jam … Jiah. Maunya sih lebih tapi berhubung di beberapa areal ada kamera sensor penangkap kecepatan, maka ya terpaksa 100 KM/jam lah. Aku kebagian memilih lagu apa yang hendak diputar. Berhubung hanya aku dan J yang jadi penghuni mobil itu. Ternyata koleksi CD J lumayan banyak, dan pilihan musiknya juga unik. Tak ada emo musik. Tak ada rock. Yang ada musik etnik modifikasi, musik dalam bahasa asing (Portugis, Afrika, Timur tengah, Asia something, pacific, reagae dll dan bukan yang TOP 40 radio hits). Aku menikmati betul bagaimana dia mereferensikan album penyanyi dari Portugis dan yang ada kami berdua menyanyi dengan menirukan suara penyanyi yang ‘unik’. Sangat lucu!! Apalagi lagi itu diikuti dengan bunyi tepuk tangan, hentakan kaki dan beatbox plus sejumlah onomatopoeia. Tentu saja J dan aku masih sempat menggoyangkan badan di dalam mobil dan sesekali keisengannya kumat dengan berteriak dan mengacuhkan tangannya menantang kamera sensor kecepatan. Tentu saja tanpa “F-word” pose ^_^
Tak berapa lama sebelum tiba di areal Geelong, J memutuskan singgah di sebuah gas station. Kebetulan ada sebuah mini market.
Anak seorang rekan J baru saja tabrakan dan ia ingin menelpon menanyakan nasib remaja itu. Kata J lumayan parah karena siang ini baru saja selesai operasi karena tabrakan frontal. Jadi usai J membelikan coke untuk kami berdua, ia pun sibuk bicara dengan temannya. Yang ada aku kabur ke toilet, berkeliling gas station dan sibuk memotret J dan lingkungan sekitar. 20 menit istirahat di Gas Station pun berakhir kala J dan aku masih sempat – sempatnya berfoto sendiri.
Road trip pun kembali dimulai. Musik pun berganti lagi. Di luar sana, langit terbuka membuatku merasa begitu bebas. Begitu bahagia. J sibuk cerita tentang kekonyolan di Chili kala koin mata uang mereka ternyata ejaannya salah, untuk merujuk ke nama resmi negara dan konyolnya, kata J, baru ketahuan usai 2 tahun sejak koin dilemparkan ke pasaran. Yang ada pasti nasib pembuatnya akan dipecat.
Pagar warna – warni di luar sana begitu menggoda. Pembatas kebisingan, kata J. Kami sudah berada di areal Geelong. Saat melewati sebuah ruas jalan, J spontan cerita dan memperlambat laju kendaraan. Ia ingin menunjukan di mana masa high schoolnya. Saat high school, J tidak tinggal di rumahnya di Apollo Bay tetapi tinggal dengan kerabatnya yang sesama orang Jerman di daerah sana. Kata J, mereka punya farm kecil – kecilan. J bilang ia cukup familiar dengan tempat ini dan sesekali menunjukan dimana dulu tempat nongkrongnya. Sambil sibuk mengidentifikasi di mana ia tinggal dan sibuk menunjuk sana – sini dari dalam mobil, kami kembali lagi melaju.
Tiba – tiba J bertanya padaku, apakah aku sudah siap melihat Great Ocean Road. Aku yang memang cinta mati suasana pantai refleks mengiyakan. Aku bilang satu hal yang kurindukan selama tinggal di Australia adalah bisa melihat laut dengan lepas, bebas dan menghirup udara garam. Sesuatu yang tak kudapatkan di Canberra yang kering.
Melewati bebukitan dan lembah, melewati pepohonan Eucaliptus di pinggir jalan, cerita pun mengalir lagi. Mulai dari Great Ocean Road, mulai dari koala dan kangguru, dari kebakaran hutan hingga kenangan masa kecilnya di Apollo Bay.
***
Great Ocean Road
Saat melewati sebuah tanjakan bukit, J spontan berteriak padaku, “Ayo buka jendelanya. Cepat!!!”. Aku refleks menurunkan kaca jendela. J hanya bisa tertawa kala menyuruhku menengok ke luar, jauh di sana bunyi ombak dan bentangan tebing dan laut. Aku ingat benar kata – katanya J, “Come on, smell the air. This is something that you miss, isn’t? Can you smell the salt?” Aku tak bisa menjelaskan bagaimana emosiku saat itu. campur aduk. Rasanya begitu bebas campur bahagia. Aku bisa kembali mencium aroma garam di dalam rongga dadaku. Puas!!!
Sambil melewati beberapa penginapan pinggir pantai dan membahas harga rumah – rumah yang dibangun di tebing – tebing, J bilang bahwa aku masih punya kesempatan membangun rumah seperti itu di Manokwari. Karna ia pernah liburan ke Manokwari dan paham daerah pesisir, ia iseng – iseng bilang ,”Ayo May, bikin rumah di pinggir pantai.”. Mungkin karena saat melihat jejeran rumah di daerah ini aku spontan bilang ingin punya rumah di pinggir pantai, yang bisa tiap bangun pagi langsung terjun ke air laut.
Aku menikmati perjalanan ini, semakin menyukai perjalanan ini, kala J tiba – tiba menghentikan mobil di sebuah tempat , yang ternyata mengarah ke pantai. Aku awalnya kebingungan. Tapi saat ia memintaku untuk turun. Aku baru sadar bahwa kami di sebuah pantai di antara Anglesea dan Lorne. Menuruni undak – undakan dari batang kayu yang dipotong, sandal kami tergeletak begitu saja di undakan terakhir. Rupanya di pantai sudah ada 2 cewek bule lain yang juga sibuk berfoto. Kamera sakuku segera difungsikan. Yang ada aku begitu bahagia. Tertawa lepas.
Berlarian ke sana – kemari, memotret ke sana kemari. Menikmati bertelanjang kaki di pantai yang bersih. Karena ingin berlari dan bermain ombak, kutitipkan kamera ke J. Rupanya aku sempat beberapa kali menjadi objek candid camera, dan ternyata J juga narsis *baru tahu usai mengecek foto – foto kala ditransfer ke komputer. Yang ada aku hanya bisa ketawa puas dan berlarian sepeti anak kecil di pantai, ketawa lepas. Berlari dari ujung ke ujung pantai. Berlari ke laut. Masuk ke air sebatas paha. Tertawa. Sudah 1 tahun 5 bulan tak bermain di pantai (terakhir ke Pantai di Manokwari bulan September 2008).
Membajak sebuah tulisan di pantai bertuliskan “Great Ocean Road” buatan 2 cewek bule sebelumnya yang telah pergi, aku sibuk berfoto ria. Aku bahagia bisa mendengar debur ombak, mencium aroma garam, melihat burung laut, mencium aroma ganggang mati, dan bertemu sejumlah kerang yang masih hidup. Di pantai yang super duper bersih ini seakan berkaca dan belajar sesuatu kala J sibuk mendapati kerang – kerang hidup yang terseret ombak ke tepian, termasuk sebuah ‘bia mata bulan’. Ia memintaku untuk mengembalikan sejumlah kerang itu ke laut, melemparnya kembali ke karang. Aku tentu saja bersukacita kembali bermain ke dalam air. Saat kembali, kudapati J sedang sibuk menarik mata kail berikan umpan udang dan pemberat serta nelon yang putus yang tertanam di pasir, matanya cukup jeli. Katanya sangat bahaya bila ada yang berjalan di pantai dan terkena mata kail itu. Bukannya apa, tak banyak rumah – rumah di seputaran areal ini, bila ada yang terkena di pantai ini, sangat fatal. J memutuskan membawanya untuk dibuang di tempat sampah terdekat. Tak lupa ia tunjukan seekor penguin mini yang mati di pantai terbawa ombak dan juga tengkorak albatross; burung camar laut.
Perjalanan kembali kami lakukan. Kali ini tak ada lagi musik dari CD. Yang ada bunyi laut dan cerita J tentang sejarah jalan di Great Ocean Road yang katanya J diperlebar kala banyak veteran PD II pulang ke Eropa dan tak punya pekerjaan sehingga pemerintah mencoba menciptakan lapangan kerja untuk mereka. Katanya di beberapa titik jalan dibuat dengan tenaga manual manusia, memahat karang. Kami juga tak lupa berhenti di beberapa tempat lookout dan memandang ke laut ataupun sekedar duduk dan berdiri menantang angin dari tembok talut yang tingginya 1 meter lebih. Aku yang sedikit ketakutan awalnya karena menatap tebing 40 – 70 meter dengan debur ombak memecah karang di bawah sana awalnya ragu, tapi karena J sudah sibuk memanjat dan nongkrong di atas dan sekali lagi menantangku, yang ada nyali pun timbul dan ternyata memang menyenangkan di atas sana dan melihat laut lepas. Kami masih sempat berfoto di beberapa titik dan di sebuah titik, kebetulan ada pasangan suami – istri yang singgah dan menjadi juru foto J dan aku.
Great Ocean Road mungkin perjalanan terseruku selama di Australia. Kala melanjutkan perjalanan dan mengagumi kelak kelok jalan sepanjang 243 KM ini (yang hanya kami lalui ½ atau 2/3nya), aku menikmati kegilaan J yang memberiku kejutan kala aku bilang bahwa jalan ini mengingatkanku untuk roller coaster, dan belum sempat aku menutup pembicaraan, yang ada mobil segera dipacu kencang dan dibuat seperti roller coaster, yang ada aku benar – benar teringat sensasi balap kala mahasiswa S1 dulu, menikmati lekuk jalan. Tiba – tiba teringat bagaimana J sempat diam kala di awal kami hendak berangkat dan ia bertanya apakah aku mau menyupiri mobil ini, yang kujawab dengan sebuah gelengan kepala bahwa aku tak bisa, dan dipatahkannya dengan sebuah argumentasi bahwa “Come on May, you have to. How can a strong opinion woman dan full of vision like you can’t do it? You have to and I know you can do it.” Tiba– tiba teringat motivasi yang sering diberikannya apalagi dulu saat sedikit hopeless kala visaku tak bisa diproses karena alasan kesehatan.
Menikmati mobil yang dipacu ibarat roller coaster, aku merasa bebas. Sensasi bebas. Begitu dekat dengan maut. Begitu riskan tapi menyenangkan. J sukses membawa kembali sensasi itu lewat ‘permainan roller coasternya’. Toh permainan kami ini dihentikan kala ia bertanya apa aku ingin makan es krim, yang tentu saja kuiyakan. Dalam perjalanan menuju Lorne, sebuah kota wisata di sepanjang GOR (Great Ocean Road), tiba – tiba pembicaraan kami merujuk kepada visi mimpi ke depan. J yang suka bercerita akhirnya bertanya juga tentang hal itu, dan aku kebetulan yang suka sekali bila diminta bercerita tentang visi dan misiku di depan, sangat terbuka berbagi ‘kekonyolan ideku’ dan J, salah seorang teman yang sejak bertemu 3 tahun lalu adalah salah satu pemberi inspirasi dan motivatorku, yang bilang bahwa aku pasti bisa.
Pembicaraan visi akhirnya nyangkut juga ke pembicaraan dan pertanyaan darinya tentang “So, when you will marry?”. Yang kujawab dengan mengangkat bahu, gelengan kepala dan jawaban yang kupikir sangat jujur, “I don’t know. Have no idea. Haven’t planned it yet. Still stick on my vision. I’m just afraid when I marry then I can’t fulfil my dreams. You know, it’s hard in my culture. You visited West Papua and you know, it’s hard when I marry and have to travel to the interior land or to the remote area, I’m afraid that my future husband may not agree with that idea. So, I still have no idea, anyway, I’ m single now so don’t wanna bother with this stuff for a while.” Dan mobilpun masih melaju dengan pemandangan laut dan tebing – tebing di bawah sana.
Kami pun sempat singgah di Lorne, yang benar – benar suasanya kota turis deh, bangunan – bangunan kayu bertingkat, para cewek berpakaian minim, pakaian warna - warni. J dan aku singgah di sebuah toko es krim. Aku ditraktir sebuah cone es krim besar. Kupilih rasa coklat dan mangga. Menikmati es krim, J mengajakku ke sebuah dermaga kayu di pinggir pantai, menikmati lelehan es krim di kerongkongan, memandangi laut lepas bertaburan manusia berbikini dan lelaki bertelanjang dada. Menyusuri dermaga kayu, tertawa lepas melihat tingkah burung – burung laut. Beberapa saat dalam hati sempat ada pikiran usil, “Boooo coba sa pu mantan – mantan pacar dulu tuh seromantis dan sebaik ini ka?” You know, Bro J makes me feel so special with such little things ^_^
Es krim pun selesai seiring acara foto – foto dan kami pun melanjutkan perjalanan. Saat berada di sebuah tempat bernama Kenneth River, sebuah kota wisata lainnya, J membelokkan mobilnya, aku bingung. “There’s something I have to do”, ujarnya. Aku yang masih kebingungan melihat kami masuk ke sebuah tempat dekat lapangan rumput, hanya bisa diam kala J menghentikan mobil dan memintaku keluar dan bilang kalau ia mau memutar mobil dan ia cuma memberikan sebuah pernyataan yang membuatku mengernyitkan dahi, “The reason we are here is on the tree.” Jadi lihatlah ke atas pohon. Pernyataan yang aneh, pikirku.
Sibuk memperhatikan pohon Eucaliptus yang menurutku sama dengan yang kulihat di Canbee, J sudah tiba dengan mobil. Sambil tertawa, ia kembali bertanya apa memang jawabannya sudah kutemukan. Aku yang sedari tadi hanya mendengar kaok burung Kakatua pun mengangkat bahu kebingungan. Masih tertawa, diajaknya aku ke bawah pohon dan membalikan badaku menuju sebuah sisi pohon, tangannya sibuk menunjuk ke atas dahan tertentu. Momen itu mungkin aku benar – benar mirip anak TK. Ketawa dan tesenyum lebar. Guess what, ternyata di Kenneth River ini, para koala pemalas itu tinggal happily ever after di pepohonan Gum tree (Eukaliptus). Yang ada aku sibuk mengabadikan momen ini.
Tak hanya sampai di situ, J mengajakku mengeksplorasi daerah lain. Berjalan kaki sekitar 5 – 7 menit, kami mulai dengan acara spotting Koala on the spot. Sambil berjalan ketawa melihat beberapa pohon dibungkus plastik bening tebal agar tak dipanjat koala, kami menemukan beberapa koala lainnya. Tapi yang terlucu adalah di sebuah pohon yang tingginya sekitar 3 – 4 meter. Ternyata ada 2 ekor koala yang tidur manis (padahal koala adalah hewan solitude yang suka menyendiri, biasanya 1 pohon hanya 1 ekor). Aku tak melewatkan kesempatan mengabadikan hewan pemalas ini; tapi karena koalanya masih saja tidur khususnya seekor yang ketinggiannya hanya 2 meter di atasku, iseng kubilang pada J, “aih pamalas skali ooo, barang ini ko tidur trus sampe. Tra laku sekali di foto,”. Otak jailnya J langsung kumat, sebuah cabang pohon yang rendah spontan ditarik dan digoyang - goyangnya agar si pemalas ini bangun, dan memang berhasil, walau sebentar dan tak kusia – siakan. Aku sampai ketakutan usai itu, takutnya ada yang melaporkan kami berdua ke pihak berwajib. Di sini kan perlindungan hewan lumayan kuat ^_^ dan ternyata kejailan J tak sampai di situ saja, tapi juga mengerjainku untuk mencium urine koala di dedaunan *lagi – lagi terjebak karena walaupun aromanya sangat khas minyak pohon ini tapi toh J sukses menyosorkannya ke wajahku … jiah :D
Kami sukses meninggalkan Kenneth River dan jujur aku bahagia bisa menikmati alam dan pantai begini rupa. Benar – benar Road trip. Di sebuah perhentian lookout, jauh di sana Apollo Bay membentang.
Ternyata masih ada kejutan lainnya yang di Apollo Bay, something beyond my imagination but really, this travel is really a walk to remember.
***
0 comments:
Post a Comment