Search This Blog

Loading...

Saturday, 30 January 2010

Pernahkah ...?

Malam ini rasa itu kembali lagi, kembali membuatku sedikit sedih dan menangis. Sebuah rasa yang hingga kini masih sulit untuk kuhapus secara utuh, sebuah rasa yang begitu purba dalam detak jantungku, sebuah rasa yang selalu membuatku pernah beberapa kali berpikir dan mencoba menghentikan laju napas dari tubuhku. Aku benci rasa ini, sebuah musuh lama telah kembali lagi, mencoba menghantuiku, membuatku terjerembab lagi.

Tapi maaf, aku tak akan pernah jatuh lagi, tak akan pernah kalah lagi, tak akan pernah lagi mau menerimanya lagi masuk dan menguasai diriku.
Maaf, aku sudah punya seseorang yang mengasihiku dan menerimaku apa adanya. Seseorang yang menawarkan kasih dan membuatku bertahan hingga saat ini.
Maaf, aku sudah punya Yesus, jadi ‘rasa tertolak’ outta my life!

Tulisan ini mungkin sebuah ekstrasi rasa yang pernah sukses menguasai hidupku. Sebuah cerita yang tak akan pernah bisa kulupakan selama aku hidup. Merasa tertolak!!!

Aku lupa bagaimana rasanya dipeluk seseorang yang pernah berbagi napas denganku. Aku lupa bagaimana rasanya berjalan kala kaki – kaki mungilku dan tangannya bertemu.
Aku lupa bagaimana rasanya dininabobokan dengan nyanyian.
Aku bahkan tak punya banyak kenangan manis yang kusimpan tentang dia.
Entah memang pernah ada ataukah memang sangat sedikit.

Dia, salah satu alasan mengapa aku belajar dengan giat sewaktu SD – SMK.
Dia salah satu alasan mengapa aku berjuang dan diam menahan kata – kata kerabat.
Dia, salah satu alasan mengapa aku bersikap baik dan selalu menuruti perkataannya.
Hanya agar bisa diakui, dan diterima apa adanya, dicintai. Just to be loved.
It’s hard you know … mengais kasih sayang!!!

Dia,
Tak pernah tahu rasanya dibandingkan dengan siapa saja yang kukenal.
Mulai dari sepupu yang jago masak sayur kangkung di kelas 5 SD,
Mulai dari sepupu yang sudah bisa menjaga adiknya,
Mulai dari tetangga yang bisa bangun pagi dan mencuci piring satu keluarga
Mulai dari anak perempuan lainnya di kompleks yang bisa merias diri

Capek rasanya dibandingkan.
Mulai dari tampilan fisik, yang tak sebagus saudara perempuanku.
Capek rasanya dibandingkan,
Karena pekerjaanku yang tak feminim
Capek rasanya dibandingkan
Karena sikap dan pemikiranku yang tak seperti cewek kebanyakan

Orang bilang, keluarga adalah mereka yang terhubung dengan ikatan darah denganmu.
Bagiku, keluarga adalah siapa saja yang menerimaku apa adanya, mengerti dan memahamiku, dan tak sekalipun mencoba membandingkan aku dengan siapapun.

Keluarga bagiku adalah …
Orang – orang yang akan membantuku kala terjatuh
Yang membelaku kala kehormatanku berada dalam bahaya
Yang menerima pandanganku sekonyol apapun itu
Yang percaya padaku kala aku berkata benar
Yang tak menghakimiku

Pernahkah kau diragukan orientasi seksualmu oleh orang yang pernah berbagi nafas denganmu?

Pernahkah kau dibiarkan menahan kemarahan, kesedihan, dan ketakutanmu bertahun – tahun tanpa dibela?

Pernahkan kau dibiarkan menahan sakitmu sendiri yang tak tertahankan demi ego, harga diri seseorang yang pernah berbagi nafas denganmu?

Pernahkah kau dihakimi dengan kata – kata yang lebih tajam daripada pisau yang dilumuri cuka kala secara fisik kau berada dalam fase daya O?

Pernahkah kau, begitu muda dan yang sedang mencoba mengenal dunia ‘diterbangkan secara paksa’ di udara usai perang aliran kata – kata?

Pernahkan kau merasakan pipimu berubah warna dan rasa usai menyampaikan sebuah pendapat dan kebenaran berdasarkan Kitab Suci?

Pernahkah kau merasakan bahwa duniamu yang nyaman dan menerima dirimu adalah sebuah kamar dengan sisi segi empatnya dan kau serta bayangan dirimu adalah penghuninya?

Pernahkah kau selalu dianggap tak tahu apa – apa, selalu jadi sumber masalah dan kesialan dan lain – lain?

Pernahkah kau merasakan bahwa suara yang kau punya salah dan tak layak untuk menyanyi walau hanya 1 lagu?

Pernahkah kau merasakan sedih saat yang kau katakan adalah apa yang kau rasakan, apa yang kau amati, hanya dianggap angin lalu?

Pernahkah kau merasakan bahwa kau tak cukup berharga untuk dibela oleh dia yang pernah berbagi napas denganmu?

Pernahkah kau menyimpan semua yang kau rasakan dalam diam, dalam wajah yang tenang dan diam karena air mata ataupun amarah terasa begitu haram dan mengkhianatimu?

Pernahkah kau merasakan bagaimana hubunganmu dengan Tuhan dalam sebuah wacana bernama doa begitu dibatasi dan kau bahkan tak boleh mempunyai saat teduh, hingga kau dan Penciptamu hanya boleh bertemu dalam tutur diam kata dalam hati penuh bisik – bisik?

Pernahkah kau dicap “Tersesat, terhilang” kala kau mencoba mencari kebenaran tentang kekristenan dan mengenal siapa Yesus?

Satu yang pasti, aku pernah.

Never ever let anyone else hurt me!

It’s my life and I (do) respect it!!!

As long as my Jesus is with me, I can face the world.

(Canberra, 30 Januari 2010)

0 comments: