Prolog
Aku melihatnya di depan gedung ini, seakan menunggu seseorang. Ia orang pertama yang kulihat pagi ini. Terlalu pagi untuk ukuran mahasiswa ANU di musim panas. Kulitnya yang kecoklatan dan rambutnya yang keriting mengingatkanku untuk seseorang; entah siapa. Entahlah, aku merasa pernah bertemu dengannya. Entah di mana …
****
Thursday Morning, Hudley Bull Centre ANU
8. 30 a.m.
Kusesap kopi panas perlahan – lahan dari gelas kertas. Uapnya yang harum seakan mengisi ruang paruku dengan sukses hingga ke jaringan terkecil dalam rongga dada. Sambil sibuk duduk mencangkung di depan pelataran gedung kuliah ini, kuedarkan pandangan mataku ke arah depan. Tak ada siapa – siapa. Hanya aku.
Tak sabar menunggu, kukeluarkan iPod seri terbaru dan menyetel lagu –lagu Michael Buble dari álbum bertajuk ‘Crazy love’. Masih dengan cuek menyesap kopi hitamku, kucoba untuk berdiri dan melihat kiri – kanan. “Ah….. blom – blom muncul juga ka?”, kataku lagi.
Panggil saja aku, ‘Rhe’, Rhe-tanpa-fam. Rhe tanpa banyak kata.
***
gods’ café, Hudley Bull centre, ANU
8.30 a.m.
Tergesa – gesa kumatikan ujung rokokku di pot bunga parkiran. Mobil Subaru keluaran 97 sukses kutempatkan dalam bingkai garis putih – putih di areal University House dan secepat mungkin berlari ke tempat kerja. Untung belum terlambat. Hari ini aku menggantikan shift Jane. Apa boleh buat, sebagai casual staff, aku tak punya banyak pilihan jam kerja.
Hari ini telah kutetapkan sebagai my brand new day, karena ini hari ulang tahunku. Tepat di pukul 12 siang nanti, aku genap 25 tahun. I’m the luckiest man in the world. Sambil berjalan ke cafe tempatku bekerja, kulihat dia, seorang perempuan duduk sendirian di depan gedung ini. Tak ada rokok di tangannya, hanya segelas kopi di genggamannya dan matanya yang terpejam mengikuti hentakan musik. Kuacuhkan dia!
Tak banyak buang waktu, aku mulai bergegas ke tempat kerja. Menghitung persediaan kopi hari ini, croissant hingga pastries yang ada. Termasuk menghitung persediaan untuk esok hari. Jim; managerku pasti akan sibuk bertanya ini – itu. Lebih baik bersiap – siap.
***
Depan Hudley Bull centre, ANU
11 am
“Bah ... belum – belum muncul juga ka? Su jam berapa ka ini?“, batinku lagi. “Nan baru bilang sulap lagi ka ini“, rutukku. Bolak – balik kuperhatikan orang – orang yang mulai lalu lalang di jalan kecil ini. Tak sabar, ku bergegas ke arah jalan jalur bus. “Apa terlewat tadi ya? Knp trada?”.
Kucoba mengeceknya lewat FB, sial ... namaku sudah di-remove.
HPnya kutelpon berkali – kali tapi tanpa hasil, “nene moyang nih. Macam artis saja ka, artis saja gampang baru ....”
Biarlah .. aku masih punya banyak waktu kok.
Lagipula pekerjaanku memang menunggu. Aku dibayar untuk menunggu.
***
gods' cafe, Hudley Bull centre, ANU
1. 05 pm
Para staff gedung – gedung di sekitar tempat kerjaku mulai sibuk berdatangan. Termasuk Mary Ann, mahasiswi postdoctoral itu. Kami dulu 1 sekolah di Melbourne sewaktu di High School. Ia tak banyak berubah hanya kacamatanya telah berganti lensa kontak, membuat matanya semakin indah dipandang. Walau ia geek, kutu buku atau apalah, tapi ia jago berdiplomasi. Tak heran kalau ia bisa dengan gampang meraih apa yang ia inginkan.
“One mochacinno, one seafood basket and one fruit salad with yoghurt, please“. Seperti biasa, pesanannya tiap Kamis.
Sambil sibuk mengantar pesanan ke tiap meja, mengangkat piring – piring kotor dan sibuk menebar pandangan ke Mary Ann. Aku merasakan seseorang memanggilku dengan kencang, bagai bunyi guruh di langit.
“Praaaaannngggg!”, hanya itu yang sempat kudengar dan selanjutnya kulihat dia begitu cepat, begitu dekat. Aku mengingatnya!
***
Epilog
Sayup – sayup kubuka mataku dan melihat orang – orang berlarian panik. Satu mobil ambulans berlampu merah sigap berada di dekat tempat kerjaku.
Mary Ann menangis hingga maskaranya luntur di wajah. Entah bagaimana nasib kontak lensanya sekarang.
“Danny, it’s time to go! We don’t have much time”, kata dia; Perempuan berambut keriting itu. Malaikat berbaju merah!
(Terinspirasi dari acara menunggu-seminar-tak pasti di Hudley Bull Centre saat aku berbaju merah dan terkaget melihat pengumuman pekerja Kafe gedung ini yang meninggal secara tragis; life is so mysterious/ Menzies Library, 28 Januari 2010)
0 comments:
Post a Comment