Search This Blog

Loading...

Saturday, 16 January 2010

Cerpen: Pelangi 5 Tahun

Prolog

Canberra, 16 Januari 2010

4.30 a.m. *waktu benua Kangguru

Aku mungkin bukan pencerita yang baik, bukan yang pandai merangkai kata – kata bersayap. Pun tak pernah bisa menyusun dan memainkan lema kata menjadi pisau bermata tajam membelah jiwa. Tapi aku memutuskan menuliskan kisahku ini. Tentang pelangi yang muncul tiap 5 tahun sekali.

Panggil saja aku ‘Rhe’, perempuan pengejar pelangi dan pecinta hujan. Tak perlu mengkaitkan aku dengan perempuan lain yang kau kenal, aku hanya seorang ‘invisible gal’ yang sering muncul tanpa kau sadari, yang sering kau lihat. Panggil saja aku ‘Rhe’. ‘Rhea’ lengkapnya.


***

Canberra, medio November 2009

12 p.m. *Saat mentari bersinar terik di langit Australia

Sambil menyesap secangkir cappuccino di pelataran toko buku, mataku tiba – tiba menangkap sebuah buku di ujung meja. “Mitologi Yunani”, batinku. Kuatur posisi notebookku dengan cermat dan kembali lagi menyesap endapan nikmat surgawi berwarna hitam ini. Hilir mudik perempuan berbaju minim warna – warni berkelebat di belakangku tak kupedulikan, walau bayang mereka terpantul ceria di kaca jendela. “Musim panas”, batinku lagi.

Kuaktifkan sambungan dunia maya dan terhubung dengan sebuah jejaring sosial bernama ‘Buku Wajah 2.0’. Tak sadar, sebuah bunyi ‘bip’ masuk dan ajakan mengobrol pun muncul dari seorang sahabat di benua lain. Tepat di saat lagu Michael Buble diputar lembut lewat kisi – kisi jendela, “Haven’t meet you yet’.

Kuacuhkan ajakan obrolan itu dan terpesona dalam alunan suara lelaki seksi ini. Saat mataku kembali lagi pada buku di ujung meja itu, “Mitologi Yunani”.

Dan ingatanku terbang dengan sukses padanya. Pada dia yang telah kukubur lama. Dia yang mencuri hatiku (di masa remaja).

***

Manokwari, Juli 1998

9.00 a.m *Waktu Papua

“Booo kam jang baku dorong ka. Neh tong su mo sarden ka dendeng di depan nih. Stop dorong suda!”, suaraku tiba – tiba menggema besar di depan meja pendaftaran siswa/i baru di sebuah SMA negeri di kotaku. Bukannya tanpa alasan aku menaikan volume suara secara tubuhku hampir sukses mencium berkas – berkas map berwarna merah di atas meja. Apa boleh buat, antrian menuju ruang pendaftaran begitu panjang dan aku cukup beruntung mengantri sejak pagi. Tapi efeknya ya, terpaksa menjadi korban ‘dorong’ dari belakang.

Sambil menahan emosi bercampur keringat yang mengucur deras dari dahi, kucoba menatap ke antrian di meja lain. Dan ‘Buk’, seakan hatiku bisa berbicara dan berjatuhan dengan keras dari rongga dada. “Damainya … kaka ini manis sekali ooooo”, batinku. Tak jauh dari tempatku berdiri menunggu antrian, seorang lelaki berseragam putih – abu abu dengan senyum manis dan suara berat memberi petunjuk pada beberapa calon siswa baru. Tak bisa lupa pandangan matanya!
***

Mei 1999
1 p.m. *waktu Manokwari

Dia sedang berdiri di sana, tertawa bersama teman – temannya. Pandangannya masih tetap sama seperti tahun lalu. Masih tetap sama. Rahangnya, matanya dan garis wajahnya selalu sukses membuat hatiku kebat – kebit bagai ikan poro bibi yang gelagapan mencari oksigen.

Hari ini hari terakhir pengayaan. Tak terasa 1 tahun berlalu sejak melihatnya. Tak terasa telah 1 tahun hatiku terjerat dalam senyuman dan suaranya. Gila! Lau – lau, nau – nau, entahlah. Tak tahu. Rasa ini aneh!!!

Tak lama lagi ia akan pergi dari sekolah ini. Tak lama lagi. Hanya perlu menghitung hari saja.

Ah, aku teringat sering menatapnya dari jendela kelas kala ia dan rombongan teman – temannya yang berbadan atletis melewati jendela kelas dengan kostum sepakbola mereka. Mereka pasti tertawa bokar – bokar saat melewati kelas kami. Dan aku rela diberi hukuman saat jam fisika karena tak melihat ke papan tulis walau ibu Sin sedang sibuk menulis rumus. Aku tak bisa saja melewatkan pandangan ‘makhluk Tuhan yang paling seksi’ itu lewat di depan mataku, turun dari arah tangga yang dinaungi pohon Mangga. Ia benar – benar seperti patung Yunani. “Nangka Belanda, kenapa sa pu hati rasa begini ka?”, batinku lagi.

Sambil mengerjakan soal – soal fisika yang membuatku sakit kepala, aku teringat bagaimana aku sibuk mencari informasi tentang dia. Apa yang disukainya, kapan ulang tahunnya, siapa pacarnya, alamat rumahnya dan segala macam informasi berbau ‘dia’. Lega rasanya bila mendapatkan satu informasi kecil tentangnya.
Aku kerap melihatnya duduk sendiri kala tak ada pelajaran di bawah pohon mangga dekat kelasku. Kala pandangannya terasa hampa menatap rerumputan di depan kelasku. Entah apa yang dia pikirkan. Entah apa yang membebaninya. Aku tak tahu.

“Rhe, maju kerjakan nomor 5 -7. Segera”, lengking suara ibu Sin pun mengobrak – abrik lamunanku tentang ‘dia’.

***
Agustus 2004

3 p.m *waktu Jayapura

Aku hampir tercekat melihatnya di kota ini. “Bukannya de su tra ada di tanah Papua. Bukannya de memilih merantau ke tanah lain di gugusan kepulauan ini? Mungkin salah orang”, batinku berkali – kali.

Sekelebat bayang lelaki berbadan tegap bergerak di depan tubuhku kala berbelanja di sebuah supermarket. Aku kenal siluet yang telah bergerak ke sudut lain toko, entah di mana. Entah bagaimana. Aku teringat dia.

Masih termangu tanpa kata, mencerna apa yang terjadi, sebuah suara berat menyapaku, “E ko anak Manokwari tooo. Dulu anak SMA 1 to, yang tinggal di dekat jembatan ST situ.”. Jantungku hampir copot! Dia berdiri di depanku, bertanya padaku.

“Iyo”, jawabku pelan. Dan aku hanya bisa tersihir dan diam dibuai pesonanya, kala ia cepat – cepat pamitan kala seorang lelaki berbadan tegap lainnya memberi kode bahwa mereka harus pergi.

***

September 2009
5 p.m. *Waktu Jakarta

Kutapaki tangga – tangga halte Busway di depan apartemen Mewah ini; ‘Da Vinci’. Hujan baru saja turun dan aku tergopoh – gopoh berlari bersisian dengan para pedagang asongan yang menempelkan jualan mereka bersaing dengan rimbun Bougenville yang menempel di dinding halte. Sambil mengebaskan air yang menempel di rambut, kucoba mengeluarkan recehan 5 ribu Rupiah dari sakuku, dan menggulung sigap jins ketatku. Mudah – mudahan ada bocah – bocah penjaja ojek payung di ujung lain halte ini.

Para manusia berjas dan berdasi bersisian dengan para perempuan berbaju rapi dan berrok ketat bersaing menapaki jembatan penyebrangan yang bergandeng mesra dengan halte bus di atas ruas jalan depan Chase Plaza. Aku tak mau kalah, kusisipkan badanku dan tas punggungku di aliran manusia yang tergopoh mengejar transportasi sejuta umat di bawahku yang tersendat bersaing dengan laju kemacetan Sudirman kala sore.

Di pertengahan jembatan, kala hendak mendahului seorang eksekutif muda yang hendak menerobos hujan yang terpercik di sisi bawah lantai besi penopang jembatan menuju halte busway, tak sengaja tubuhku menabrak seorang lelaki. Seorang lelaki berbadan tegap.

“Hei, ko bikin apa di sini?”, serunya kaget. “Ya ampun, orang Manokwari tooo”, serunya lagi.

Aku bisa bilang sore itu mungkin the best time of my life. Aku tak jadi bergeser dari jembatan itu dan ia tak jadi mengejar buswaynya. Ditemani kopi panas yang dijajakan pedagang asongan, kami berdua terperangkap dalam cerita tentang masa lalu. Masa lalu yang dibalut dengan manis kala menatap Halte Dukuh Atas dan patung Sudirman di kejauhan. Mulai dari guru – guru kami hingga kondisi terakhir Manokwari. Mulai dari musim durian hingga tim sepakbola kota.

Sore itu, hujan masih turun dengan deras kala sesapan terakhir kopi di cangkir Styrofoam kami sukses berenang ke lambung. Kala tawa dan cerita bersaing kencang menatap butir hujan yang jatuh.

Akui tak peduli kaus hitamku basah kuyup dan rambut keritingku mengulir lemas di dahiku. Dia tak peduli pakaian kerjanya sedikit basah. Yang aku tahu, sebuah simfoni alam sedang bermain di hatiku.

Tak terasa sejam telah berlalu dan usai bertukar nomor kontak plus berjabat tangan menyebutkan nama. Kala pelangi muncul di langit Jakarta yang kelam, kami pun berpisah.

“Ray. Ray-tanpa- fam”, katanya. *ia pikir aku tak tahu nama lengkapnya ^_^

***

Epilog

Aku menemukannya kembali di jejaring sosial ini. Usai malam – malam tanpa status. Malam – malam yang mengiris hati.

‘Bip’, bunyi ajakan mengobrol itu muncul lagi di layar notebookku dan lamunanku pecah.

‘Ray’, batinku lagi. ‘Lelaki pelangi’, labelku padanya.

Entahlah, apakah aku bisa bilang padanya satu hari nanti bahwa aku pernah jatuh cinta padanya. Pernah suka padanya!

Entahlah, tak tahu. Tapi yang pasti, aku tahu hatiku tak akan pernah sama lagi sejak pertama kali menatapnya di sekolah itu. Tak pernah sama!

Yang pasti, tiap 5 tahun, pelangi warna – warni itu muncul kembali di hatiku.

(Canberra, 16 Januari 2010; pada sebuah subuh dan merindukan ‘seseorang’ dari masa lalu/ Thanx Olive untuk judul cerpennya ya ^_^)

1 comments:

Kacamata Pelangi eL said...

kereeeeennnn banget nih cerpen ^^