Prolog
Kulangkahkan kakiku secepat mungkin, berusaha menghindari kegelapan di sepanjang lorong CBD kota ini. Ragu – ragu kulihat jam tanganku, “Jam setengah tujuh malam”, batinku. Sambil memikul tas punggungku yang berisi netbook, beberapa catatan resensi buku yang kubaca, beberapa catatan dan buku petunjuk, peta dan juga map berisi resume kerja dan riwayat hidup dan beberapa benda lainnya, aku memicingkan mata mencoba melihat dalam keremangan cahaya lampu jalan. ‘Sa su di mana ni?’, tanyaku pada diri sendiri. “Macam sa tersesat ka”, batinku lagi.
Tergopoh – gopoh kukeluarkan sebuah peta kusut bertuliskan nama sebuah kota di belahan selatan planet ini. Dengan seksama kuperhatikan nama jalan yang kutuju guna menghadiri sebuah presentasi informal klub pencinta buku online di sebuah toko buku kecil di CBD1 kota ini. ‘Spertinya sa masih di blok yang sama, tapi di mana ee?’, batinku lagi. Aku bukan seorang yang pandai membaca peta karena lewat pengalaman sebelumnya, aku berulang kali tersesat di kotaku dan kali ini aku terpaksa harus berangkat sendiri ke kota ini karena permintaan seorang teman. Demi sebuah persahabatan di dunia maya, demi seorang teman. Temanku hendak menerbitkan bukunya tentang catatan harian online, dan aku bersama beberapa teman lainnya diminta membuat resensinya.
Sekali lagi kuperhatikan lorong jalan yang setengah kulalui. ‘Sa su di tempat yang benar ka, di arah yang benar?’, tanyaku pada diri sendiri. Samar – samar lewat lampu lorong yang temaram, kulihat dinding – dinding bata yang menempel di bangunan bergaya Victoria yang menjulang hingga 5 – 6 lantai, tong – tong sampah di pinggir lorong dan sesekali bau tak sedap. Musim dingin ini benar – benar semakin membuatku hampir mengutuki undangan temanku. Satu musim yang paling kubenci adalah musim dingin, membuatku sedikit susah bernafas dan juga sering kedinginan. Untunglah saat ini aku masih sempat memakai pakaian musim dinginku yang memadai, mulai dari sarung tangan, sweater2 hingga coat3 dan beanie4,dan tak lupa sepasang boot5. Tapi tetap saja angin dingin yang bertiup menembus lorong ini membuatku sedikit tersentak. Dingin!
Aku mulai mencari lagi nama jalan dan tempat yang kutuju. Sepertinya aku harus bertanya pada seseorang. Kukeluarkan telepon genggamku dan mulai menekan nomor temanku. ‘Tut … tut .. tut …’. Tak ada bunyi, tak ada reaksi. Kucoba sekali lagi. Masih sama. Tak sabar, kucoba lagi dan tiba – tiba terhubung dengan perangkat perekam suara. Sial!!!
Sambil berusaha untuk tetap berpikir positif, kuberjalan lagi. Kali ini aku berbelok ke sebuah lorong yang sedikit menjauh ke arah luar CBD. Mudah – mudahan aku bisa tiba tepat waktu karena acaranya akan mulai jam 7. Mudah – mudahan aku bisa bertemu dengan seseorang dan memastikan bahwa aku tak salah baca peta. Mudah – mudahan. Sambil terus mencoba untuk tetap hangat dengan sedikit menyesap anggur merah berjenis Pinot Noir yang sengaja kumasukan dalam termos mini, kulangkahkan kaki menuju seseorang yang sedang berdiri di pinggiran lorong. Seorang pria kulit putih berusia 30an tahun. “Excuse me, can you tell me where is the ‘Freedom bookshop’ somewhere around here?”, tanyaku. “Sorry, I Dunno.”, katanya. Aku tak habis akal, mungkin saja ia tahu jalannya, jadi kuberanikan lagi bertanya, “I beg you pardon, but may be you can tell me where is the Duffy St, you know, near the St James Anglican Church?”. Satu jawabnya membuatku langsung terdiam, “I am so sorry, mate6. I’m a newcomer7 here!” Sial!!!
Aku masih tak putus asa, kucoba lagi berjalan dan bertemu beberapa orang tapi hasilnya masih nihil. Tak lama setelah itu, aku mencoba untuk membaca peta lagi. Masih tak menemukan juga tempat yang kuinginkan. Tiba – tiba guruh terdengar dan hujan pun turun dengan sukses dari langit. Sial!!! Padahal setahuku prakiraan cuaca hari ini tak akan turun hujan. Aneh!
Aku kembali lagi berbelok ke sebuah lorong yang diapit beberapa flat. Sedikit nekat bermandi hujan walau hanya bermodal hood8 dari coat yang kupakai. Aku harus tiba apapun resikonya. Harus tiba! Mungkin perlu naik taksi, batinku. Tapi … ah aku masih harus membayar sejumlah tagihan. Pertentangan batinku masih belum selesai hingga tiba tiba di depan mataku, kulihat bahwa lorong ini buntu. Sial!
Sekali lagi kulirik jam tanganku, ‘Yeskol, su jam 7. 30 tuh. Ampun. Su terlambat nih.’, aku mulai panik plus kedinginan. Angin pun masih bertiup. Aku mulai menggigil dan pandanganku sedikit mulai berpendar dan langkahku mulai terasa berat dan lemas. Mabuk? Pusing? Entahlah! Yang aku tahu, ada sebuah tangan yang menarikku dari lorong ini. Sebuah tangan beraroma musk.
***
“Tim. Call me Tim! Welcome to my flat!”, katanya kala aku mulai membuka mataku.Ia pun mulai bicara dengan bahasa yang bagiku tetaplah sebuah bahasa asing. Mulai dari keadaanku yang sedikit lemas beberapa jam lalu. Hingga tiba – tiba ia berujar bahwa ia harus ke mini market terdekat karena tak ada makanan apapun yang bisa disajikannya. Aku hanya bisa tergagap – gagap karena masih tak bisa mencerna perkataannya dengan baik.Hingga ia keluar dari rumah, aku masih sedikit terheran – heran bagaimana mungkin ia mau menolongku, seseorang yang tak dikenalnya dan meninggalkanku di flatnya, di depan perapiannya yang bermodel kuno. Aku masih tak bisa mengerti kejadian ini. Yang aku tahu, aku sedang terbaring hangat ditutupi doona9.
Masih sibuk berpikir dan mencoba menghubungi temanku. Tiba – tiba kudengar sebuah suara yang cukup membuatku terkejut. “Ko pu nama siapa?”. Kucoba memalingkan wajahku, mencoba melihat siapa yang bicara dalam bahasa yang kukenal sejak kecil. Tapi mataku masih sedikit berat.
“Su lama sa tra ketemu orang – orang seperti ko. Su sangat lama. 3 atau 5 tahun atau lebih, entahlah. Sa tra tau. Sa rindu pulang”, katanya lagi.
Aku masih mencoba mencerna kata – katanya. Dia pun mulai berkisah.
Dia bercerita tentang negerinya di utara benua ini. Sebuah tempat bernama Papua. Tentang rumahnya yang hijau, lembab dan asri. Tentang saudara – saudaranya yang kekar, yang kuat dan ceria. Tentang tetangga – tetangga mereka yang suka berkunjung dan bernyanyi bersama. Tentang angin. Tentang udara.
Sambil meringkuk dalam doona yang hangat dan Tim yang tak kunjung datang, aku mendengar ia terus berbicara.
Ia memanggilku dengan sebutan anak dan sibuk bicara, mengenang masa silam yang masih tetap berbekas dan berbau ‘baru’. Kisah indahnya pun berganti tentang penderitaannya. Ia pun sengaja mengganti tuturannya dengan sedikit lebih formal.
“Kau tahu, aku tak lagi muda, anakku. Tak lagi muda. Tapi aku beruntung bisa berakhir di sini, di tempat ini. Tak seperti kerabatku yang lain. Aku ingat kala di hari ulang tahunku, entah yang keberapa, yang pasti sudah sangat lama sejak kuinjak bumi dan menyapa mentari. Mereka datang, anakku. Mereka, orang – orang yang membuatku hingga berada di sini.”
“Kala itu, semua saudara – saudaraku telah pergi, entah naik kapal entah lewat darat. Mereka pergi. Pergi secara paksa. Aku ingat hari itu. Kala mereka memerkosaku di depan anak – anak dan cucu – cucuku, di depan tetangga - tetanggaku. Kala membanting tubuhku yang tua ini ke bumi, menancapkan kuku – kuku mereka yang tajam ke tubuhku, merobek dagingku. Aku berteriak, memaki, menjerit … tapi tak seorangpun yang mendengarku. Serak suaraku! Hilang!”
“Kau tahu, rambutku yang indah dibuat menjadi ibarat bukit gundul. Mereka merantaiku, anakku. Menguliti pakaianku yang indah, menelanjangiku. Para pelindungku di sekitar rumah dibuat tak berdaya dengan sejumlah ancaman. Aku hanya bisa melihat para pelindungku berlinang air mata. Aku masih sempat melihat bekas – bekas kekerasan di tubuh para pelindungku yang berkulit gelap.”
“Mereka membawaku ke beberapa tempat yang tak kutahu, anakku, menawanku. Tubuhku dirusak mereka, tapi aku tak berdaya. Sungguh tak berdaya. Tapi aku beruntung, karena aku bisa dihargai dan dijaga dengan baik hingga saat ini. Tak seperti beberapa kerabat jauh yang pernah kutemui. Kata sang angin yang berhembus, beberapa dari mereka sempat merasakan hidup bahagia beberapa tahun sebelum kemudian dicampakkan.”
“Andai saja kau tahu, apa yang mereka lakukan padaku dan para kerabatku. Mencabut kami dengan paksa dari rumah, memerkosa, merampok keindahan. Menyiksa para pelindung kami. Mereka begitu kuat, anakku. Entahlah … apakah nurani telah mati di hati mereka? Entahlah, apakah lembaran uang yang juga berasal dari kami telah membutakan mereka? Apakah nafsu dan kekuasaan begitu menutup mata mereka? Entahlah!”
“Selama aku ditawan, banyak sekali kusaksikan, kudengar dan kualami perlakuan mereka yang kadang luput dari perhatian banyak orang. Kau tahu, aku mendengar tentang KKN, entah itu seperti apa, tapi yang kutahu, ada saja yang datang dan membawa banyak uang untuk mengakui bahwa rumah kami bukanlah rumah kami. Mereka berbohong, anakku. Kebohongan terbesar! “
Ia masih terus sibuk mengoceh dan aku masih tetap mendengar curahan hatinya.
“Aku telah tua. Sudah sangat tua. Entah kapan aku kan kembali ke rumahku, entah kapan aku akan mencium aroma lembab tanah sehabis hujan. Entah kapan Maleo, kakatua, dan taun – taun akan bermain ke rumahku dan bertengger di jemariku? Aku tak tahu. Tapi yang pasti, aku rindu rumah, anakku.”
“Ah kupikir kau sudah mengantuk. Tidurlah. Jangan khawatir, Tim akan datang membawa makanan untukmu. Ia lelaki yang baik, karena ia mencintaiku dan setia merawatku. Lihatlah tubuhku yang masih tetap indah”
Aku tercenung kala berbalik dan menatapnya dengan seksama. Tercenung dan menjerit sekuat tenaga. Dari bayang perapian kulihat ia tegak di sana dengan kakinya yang berwarna cokelat sebanyak 4 buah. Dan suaranya yang tegas namun lembut meninabobokanku sebelum tak sadarkan diri,
“Jangan takut anakku. Panggil aku, Madam Intsia. Si kayu besi.”
(Canberra, 21 Desember 2009/ Terinspirasi kala menunggu bis dan memandang bangku di bus stop)
Glosarry
1. CBD kepanjangan dari Central Business District, seperti sebuah pusat kegiatan perekonomian sebuah kota.
2. Sweater: Baju hangat, umumnya berupa produk rajut
3. Coat: Sejenis jubah ataupun pakaian panjang kadang dirancang untuk membuat tubuh hangat
4. Beanie: Nama untuk Topi Kupluk di Australia, New Zealand ataupun Inggris. Di Papua umumnya disebut topi borju.
5. Sepatu but
6. Mate: Di Australia merupakan sebutan untuk kawan. Umumnya untuk menyebut pada lawan bicara yang berjenis kelamin lelaki tetapi kadang juga dipakai untuk perempuan. Di Papua seperti kata, “ces; coy, wan/ kawan”.
7. Newcomer: Pendatang baru; orang baru
8. Hood: Sebuah tutup kepala yang umumnya tersambung pada jubah/ jaket. Paling sering ditemukan dalam gaya hip – hop.
9. Doona: Nama Quilt dalam Australian English. Quilt adalah sejenis sprei tebal yang sangat hangat yang umumnya berisikan bulu angsa, streoform ataupun bahan lainnya; sekilas mirip dengan bed cover di Indonesia.
Monday, 21 December 2009
Saturday, 19 December 2009
Catatan tentang guru
Sebuah catatan tentang para guruku!
Malam ini aku sudah hampir saja menutup layar komputer jinjingku tapi masih kusempatkan membaca status – status teman dan kiriman mereka di wall Facebook, dan satu kiriman berita sempat membuatku sedikit terkejut, tentang berita duka berpulangnya seorang guru SDku ke rumah Bapa di Surga, Beliau juga kebetulan adalah ibunda dari dosen waliku kala kuliah S1. Catatan ini mungkin sedikit personal dan lebih kepada siapa saja orang – orang yang masih ku ingat dan sangat berkesan dalam hidupku, tentang para guru – guru sekolahku khususnya sewaktu SD.
Aku pernah membaca sebuah pertanyaan tentang siapa saja yang akan selalu anda ingat dan mungkin sangat berkesan dalam hidup anda, selain keluarga anda sendiri? Dan jawaban yang kubaca di sebuah majalah itu mengatakan bahwa selebritis dan artis umumnya adalah orang – orang yang sangat mudah dilupakan dalam memori kita dibandingkan para guru kita sewaktu kecil, karena merekalah yang mengajarkan banyak hal pada kita sewaktu kita masih kecil. Guru hadir dalam kehidupan tiap orang dalam berbagai bentuk. Mulai dari gurunya si Ikal dalam ‘Laskar Pelangi’, hingga Maleo-nya Denias hingga peran Neytiri bagi Jake Sully dalam film terbaru ‘Avatar’. Mereka adalah sosok – sosok yang kadang tak kita sadari sangat menginspirasi dan membentuk kita saat ini.
Bicara tentang guru, aku percaya semua orang pasti mempunyai guru dalam hidup mereka; seseorang yang menuntun mereka untuk belajar tentang sesuatu, terlepas apakah ia bersekolah di sekolah negeri, swasta, home schooling ataupun sekolah alam. Kadang kita hanya take them for granted tanpa pernah tahu usaha mereka untuk memberikan yang terbaik, khususnya guru – guru SD. Kebetulan mamaku juga seorang guru SD dan saat ini aku pun bekerja paruh waktu sebagai guru bantu di sebuah SD di Canberra dan mengamati para rekan guru yang lain. Aku sadar bahwa menjadi guru SD bukan perkara yang mudah karena merekalah yang menanamkan basis ataupun landasan pendidikan ke depan, berbagi perspektif tentang belajar serta semangat kepada murid untuk bisa maju dan menghargai pendidikan.
Aku ingat dan masih sangat segar di ingatanku guru – guru SD siapa saja yang sangat berkesan di dalam hidupku sebagai anak SD dan yang membuatku terpacu untuk belajar. Ada 3 orang guru SD yang kebetulan semuanya perempuan yang sampai hari ini kala aku mengingat tentang perjalanan pendidikanku, mereka selalu ada dalam ingatanku, dan salah seorang diantaranya adalah ibunda dari dosen waliku kala S1. Aku tak bilang bahwa para guru yang lain tak berperan dan tak punya arti dalam sejarah pendidikanku tapi ketiga guru ini adalah ketiga guru favoritku kala SD yang memberikanku sayap untuk terbang dan semangat untuk belajar; yang memberikanku kepercayaan. Sewaktu di Manokwari, aku masih sering bertemu dua di antara mereka karena rumahku hanya berjarak 7 menit jalan kaki dari SDku plus karena mamaku juga bekerja di Yayasan yang sama dan kadang bertemu kala mengambil jatah beras di kantor yayasan. Ketiga guru itu kerap kupanggil ibu Morare (guru kelas 1), Ibu Moko (guru kelas 2) dan ibu Afdan (guru kelas 4 – 5). Catatan kali ini mungkin sangat personal tentang kenanganku tentang ketiga guru SDku.
Aku ingat betul kala SD dan bertemu ibu Morare pertama kali. Seorang perempuan berkulit hitam dan berambut keriting yang mengajarkanku memegang pensil dengan benar dan belajar menulis A – Z dan menulis indah serta mengeja. Aku ingat betul beliau dan juga ibu Moko adalah guru – guru yang mengijinkanku untuk memukul papan tulis dengan penggaris kayu dan membaca dengan keras – keras. Guru – guru yang memberiku sayap untuk membaca dan mengeja dengan keras tanpa amarah. Sampai hari ini aku masih bisa mengingat bagaimana suara dan nada bicara ibu Morare kala mengajar membaca ataupun menghitung. Begitu terkesan!
Ibu Moko adalah wali kelasku kala duduk di kelas 2. Dari semua guru favoritku kala SD, beliaulah yang paling lembut dan paling keibuan kala mengajar. Aku ingat beliau paling sering memberikan koreksian dalam berbahasa Indonesia khususnya dalam menulis indah dalam huruf bersambung. Tapi satu hal yang paling kuingat dan kadang kala melihat rapor SDku adalah sebuah pelajaran tentang berbagi kemenangan. Satu hal yang sangat kuingat hingga kini lewat keputusan beliau adalah bahwa tujuan belajar adalah bukan untuk menjadi pemenang dan untuk bersaing bahwa ‘sa-lebih-pintar-dari-ko’ tapi bahwa belajar adalah sebuah proses untuk menjadi tahu dari sebuah keadaan dimana sebelumnya tak tahu. Mungkin anda masih bingung apa yang kumaksud, kan? Ceritanya sewaktu SD, dari kelas 1 – 6, catatan raporku cukup baik secara akademis karena selalu ranking 1 kecuali sewaktu kelas 2 ada satu catur wulan(trimester) yang ranking 1nya aku berbagi dengan seorang teman. Iya, jadi wali kelasku memutuskan untuk menulis rankingnya pada raporku dan seorang teman sama – sama ranking 1 karena sama – sama mempunyai nilai yang sama. Kala beranjak dewasa dan mengenang hal ini, apalagi saat ini kala menjadi guru bantu, aku belajar bahwa keputusan wali kelasku adalah sebuah kebijakan yang bijak karena beliau memutuskan bahwa pendidikan bukanlah sebuah ajang berkompetisi dengan nilai dan memutuskan siapa yang menang dan kalah tetapi lebih kepada sebuah pencapaian. Sesuatu yang hingga hari ini masih kuingat.
Guru ketiga yang entah sekarang beliau berada di mana, karena sejak kepindahan beliau sewaktu tahun 1994, aku tak pernah tahu lagi kabar beliau. Kupanggil beliau, ibu Afdan. Beliaulah yang memberikanku semangat untuk tampil di muka umum dan mengikutkanku dalam lomba baca puisi sewaktu SD bersaing dengan siswa – siswa lain dari sekolah – sekolah ternama di kotaku kala itu. Saat aku SD, sekolahku bukan sekolah yang mempunyai nama, hanya sebuah sekolah yayasan Kristen yang siswa – siswanya rata – rata adalah anak – anak petani, nelayan dan peramu serta penjual sayur. Aku ingat benar saat itu tak terlalu banyak dari teman – temanku yang orang tuanya PNS ataupun TNI/Polri. Ibu Afdan, aku mengenangnya sebagai guru yang bilang bahwa kepercayaan diri itu bukan bakat tapi sesuatu yang harus dikembangkan dan dilatih. Aku masih ingat bagaimana kami yang tak mempunyai seragam diberinya ide dan solusi untuk menjahit rok, menemani aku dan 2 teman ke arena lomba baca puisi tingkat SD se- Kabupaten, menyemangati dan mengajak kami ke rumahnya untuk dilatih. Aku tak akan akan sepercaya diri seperti sekarang ini kalo tak ada beliau dalam masa kecilku.
Mereka, para guru SDku, bukan hanya para pahlawan tanpa tanda saja. Bagiku, merekalah para malaikat yang meminjamkan sayap kepadaku untuk bisa terbang, untuk bisa mengeksplorasi dunia lewat ‘pinjaman’ pengetahuan yang diberikan. Aku tak punya banyak kata – kata untuk bisa menggambarkan jasa mereka tapi satu yang pasti, mereka adalah salah satu berkat yang patut kusyukuri dalam hidupku karena mereka membantu menunjukanku jalan untuk menjadi aku yang seperti sekarang ini.
Sebelum catatan ini kututup, ku teringat sebuah kutipan yang pernah kubaca entah di mana, “A good teacher is like a candle – it consumes itself to light the way to others”.
Terima kasih!
(Canberra, 19 December 2009)
Malam ini aku sudah hampir saja menutup layar komputer jinjingku tapi masih kusempatkan membaca status – status teman dan kiriman mereka di wall Facebook, dan satu kiriman berita sempat membuatku sedikit terkejut, tentang berita duka berpulangnya seorang guru SDku ke rumah Bapa di Surga, Beliau juga kebetulan adalah ibunda dari dosen waliku kala kuliah S1. Catatan ini mungkin sedikit personal dan lebih kepada siapa saja orang – orang yang masih ku ingat dan sangat berkesan dalam hidupku, tentang para guru – guru sekolahku khususnya sewaktu SD.
Aku pernah membaca sebuah pertanyaan tentang siapa saja yang akan selalu anda ingat dan mungkin sangat berkesan dalam hidup anda, selain keluarga anda sendiri? Dan jawaban yang kubaca di sebuah majalah itu mengatakan bahwa selebritis dan artis umumnya adalah orang – orang yang sangat mudah dilupakan dalam memori kita dibandingkan para guru kita sewaktu kecil, karena merekalah yang mengajarkan banyak hal pada kita sewaktu kita masih kecil. Guru hadir dalam kehidupan tiap orang dalam berbagai bentuk. Mulai dari gurunya si Ikal dalam ‘Laskar Pelangi’, hingga Maleo-nya Denias hingga peran Neytiri bagi Jake Sully dalam film terbaru ‘Avatar’. Mereka adalah sosok – sosok yang kadang tak kita sadari sangat menginspirasi dan membentuk kita saat ini.
Bicara tentang guru, aku percaya semua orang pasti mempunyai guru dalam hidup mereka; seseorang yang menuntun mereka untuk belajar tentang sesuatu, terlepas apakah ia bersekolah di sekolah negeri, swasta, home schooling ataupun sekolah alam. Kadang kita hanya take them for granted tanpa pernah tahu usaha mereka untuk memberikan yang terbaik, khususnya guru – guru SD. Kebetulan mamaku juga seorang guru SD dan saat ini aku pun bekerja paruh waktu sebagai guru bantu di sebuah SD di Canberra dan mengamati para rekan guru yang lain. Aku sadar bahwa menjadi guru SD bukan perkara yang mudah karena merekalah yang menanamkan basis ataupun landasan pendidikan ke depan, berbagi perspektif tentang belajar serta semangat kepada murid untuk bisa maju dan menghargai pendidikan.
Aku ingat dan masih sangat segar di ingatanku guru – guru SD siapa saja yang sangat berkesan di dalam hidupku sebagai anak SD dan yang membuatku terpacu untuk belajar. Ada 3 orang guru SD yang kebetulan semuanya perempuan yang sampai hari ini kala aku mengingat tentang perjalanan pendidikanku, mereka selalu ada dalam ingatanku, dan salah seorang diantaranya adalah ibunda dari dosen waliku kala S1. Aku tak bilang bahwa para guru yang lain tak berperan dan tak punya arti dalam sejarah pendidikanku tapi ketiga guru ini adalah ketiga guru favoritku kala SD yang memberikanku sayap untuk terbang dan semangat untuk belajar; yang memberikanku kepercayaan. Sewaktu di Manokwari, aku masih sering bertemu dua di antara mereka karena rumahku hanya berjarak 7 menit jalan kaki dari SDku plus karena mamaku juga bekerja di Yayasan yang sama dan kadang bertemu kala mengambil jatah beras di kantor yayasan. Ketiga guru itu kerap kupanggil ibu Morare (guru kelas 1), Ibu Moko (guru kelas 2) dan ibu Afdan (guru kelas 4 – 5). Catatan kali ini mungkin sangat personal tentang kenanganku tentang ketiga guru SDku.
Aku ingat betul kala SD dan bertemu ibu Morare pertama kali. Seorang perempuan berkulit hitam dan berambut keriting yang mengajarkanku memegang pensil dengan benar dan belajar menulis A – Z dan menulis indah serta mengeja. Aku ingat betul beliau dan juga ibu Moko adalah guru – guru yang mengijinkanku untuk memukul papan tulis dengan penggaris kayu dan membaca dengan keras – keras. Guru – guru yang memberiku sayap untuk membaca dan mengeja dengan keras tanpa amarah. Sampai hari ini aku masih bisa mengingat bagaimana suara dan nada bicara ibu Morare kala mengajar membaca ataupun menghitung. Begitu terkesan!
Ibu Moko adalah wali kelasku kala duduk di kelas 2. Dari semua guru favoritku kala SD, beliaulah yang paling lembut dan paling keibuan kala mengajar. Aku ingat beliau paling sering memberikan koreksian dalam berbahasa Indonesia khususnya dalam menulis indah dalam huruf bersambung. Tapi satu hal yang paling kuingat dan kadang kala melihat rapor SDku adalah sebuah pelajaran tentang berbagi kemenangan. Satu hal yang sangat kuingat hingga kini lewat keputusan beliau adalah bahwa tujuan belajar adalah bukan untuk menjadi pemenang dan untuk bersaing bahwa ‘sa-lebih-pintar-dari-ko’ tapi bahwa belajar adalah sebuah proses untuk menjadi tahu dari sebuah keadaan dimana sebelumnya tak tahu. Mungkin anda masih bingung apa yang kumaksud, kan? Ceritanya sewaktu SD, dari kelas 1 – 6, catatan raporku cukup baik secara akademis karena selalu ranking 1 kecuali sewaktu kelas 2 ada satu catur wulan(trimester) yang ranking 1nya aku berbagi dengan seorang teman. Iya, jadi wali kelasku memutuskan untuk menulis rankingnya pada raporku dan seorang teman sama – sama ranking 1 karena sama – sama mempunyai nilai yang sama. Kala beranjak dewasa dan mengenang hal ini, apalagi saat ini kala menjadi guru bantu, aku belajar bahwa keputusan wali kelasku adalah sebuah kebijakan yang bijak karena beliau memutuskan bahwa pendidikan bukanlah sebuah ajang berkompetisi dengan nilai dan memutuskan siapa yang menang dan kalah tetapi lebih kepada sebuah pencapaian. Sesuatu yang hingga hari ini masih kuingat.
Guru ketiga yang entah sekarang beliau berada di mana, karena sejak kepindahan beliau sewaktu tahun 1994, aku tak pernah tahu lagi kabar beliau. Kupanggil beliau, ibu Afdan. Beliaulah yang memberikanku semangat untuk tampil di muka umum dan mengikutkanku dalam lomba baca puisi sewaktu SD bersaing dengan siswa – siswa lain dari sekolah – sekolah ternama di kotaku kala itu. Saat aku SD, sekolahku bukan sekolah yang mempunyai nama, hanya sebuah sekolah yayasan Kristen yang siswa – siswanya rata – rata adalah anak – anak petani, nelayan dan peramu serta penjual sayur. Aku ingat benar saat itu tak terlalu banyak dari teman – temanku yang orang tuanya PNS ataupun TNI/Polri. Ibu Afdan, aku mengenangnya sebagai guru yang bilang bahwa kepercayaan diri itu bukan bakat tapi sesuatu yang harus dikembangkan dan dilatih. Aku masih ingat bagaimana kami yang tak mempunyai seragam diberinya ide dan solusi untuk menjahit rok, menemani aku dan 2 teman ke arena lomba baca puisi tingkat SD se- Kabupaten, menyemangati dan mengajak kami ke rumahnya untuk dilatih. Aku tak akan akan sepercaya diri seperti sekarang ini kalo tak ada beliau dalam masa kecilku.
Mereka, para guru SDku, bukan hanya para pahlawan tanpa tanda saja. Bagiku, merekalah para malaikat yang meminjamkan sayap kepadaku untuk bisa terbang, untuk bisa mengeksplorasi dunia lewat ‘pinjaman’ pengetahuan yang diberikan. Aku tak punya banyak kata – kata untuk bisa menggambarkan jasa mereka tapi satu yang pasti, mereka adalah salah satu berkat yang patut kusyukuri dalam hidupku karena mereka membantu menunjukanku jalan untuk menjadi aku yang seperti sekarang ini.
Sebelum catatan ini kututup, ku teringat sebuah kutipan yang pernah kubaca entah di mana, “A good teacher is like a candle – it consumes itself to light the way to others”.
Terima kasih!
(Canberra, 19 December 2009)
Friday, 18 December 2009
Dari Avatar, Kelly Kwalik hingga tanah Papua
Malam ini usai nonton Film Avatar dan sambil membuka koran Kompas online dan sibuk membaca berita termasuk berita regional yang salah satunya berasal dari tanah kelahiranku, tanah Papua, aku sedikit tersentak. Aku memang sudah membaca sebuah catatan teman di Facebook tentang kematian Kelly Kwalik, seorang panglima OPM tapi belum membaca beritanya di Koran sejak beberapa hari lalu karena kecapaian kerja. Satu yang membuatku cukup tersentak adalah sebuah benang merah yang sama yang kulihat dengan apa yang kutonton di film Avatar malam ini, karena memang saat tadi pergi membeli tiket film, kulakukan secara impulsif tanpa membaca resensi film. Jadi saat film pun dimulai, yang ada aku seakan merasakan sebuah ‘rendezvous’ dalam bentuk lain, merasakan sebuah pertalian yang entahlah, tak dapat kujelaskan di sini.
Berita koran yang kubaca banyak bercerita tentang prosesi pasca kematian Kelly Kwalik, mulai dari otopsi dan lain – lain serta respon massa. Aku juga masih teringat beberapa bulan lalu saat melihat ‘debat seru’ antara pimpinan TNI dan Polda Papua di tanah Papua yang bersikukuh bahwa mereka tahu siapa Kelly Kwalik dalam kaitannya dengan penembakan di areal sebuah perusahaan tambang terbesar di negara kepulauan ini. Tiba – tiba otakku malah berputar – putar tadi, dan bahkan emosinya masih terasa hingga catatan ini kutulis. Catatan ini mungkin lebih banyak berkisar antara film Avatar dan tema ceritanya yang mirip dengan kejadian saat ini di tanahku Papua, yang ujung – ujungnya sama yaitu perseteruan antara masyarakat asli pemilik hak ulayat dan perusahaan pertambangan.
Dalam film Avatar yang dibesut oleh sutradara James Cameron, diceritakan pada suatu waktu di tahun 2154 tentang eksplorasi tambang di sebuah planet bernama Pandora, sebuah planet yang hijau dan tertutup pohon dan penuh dengan keanekaragaman hayati dan bentuk – bentuk kehidupan yang menakjubkan plus air – air terjun yang sangat indah. Di mana dalam film ini, digambarkan perusahaan ini, yang konon milik orang Amerika, menginvasi dan menambang mineral yang bernilai tinggi. Tetapi sayangnya, dari kacamata orang Amerika pemilik perusahaan ini, kehadiran masyarakat asli, yang secara sarkastik dibilang sebagai ‘the blue monkey (monyet biru)’alias orang Na’vi yang merupakan pribumi planet Pandora dan dikategorikan sebagai alien merusak rencana ekspansi perusahaan. Berulang kali kendaraan operasional pertambangan diganggu dengan senjara tradisional mereka berupa tombak dan panah. Iya, para orang Na’vi di film ini bukanlah alien sejenis yang suka digambarkan oleh Hollywood dengan persenjataan canggih tapi lebih sebagai orang – orang suku terasing (versi manusia modern) di planet ini yang dikategorikan sebagai orang – orang yang terbelakang dan teknologinya kurang berkembang. Mereka juga berasal dari ras yang berbeda dengan manusia karena mempunyai tinggi kurang lebih 10 kaki (hitung saja ke dalam CM berapa meter tuh) plus berkulit biru dengan strip putih dan tentu saja dengan sebuah ekor yang mempunyai serat – serat optis yang bisa terkonek dengan makhluk hidup lainya di planet ini ibarat kabel data.
Demi kelancaran proyek pertambangan dan operasional perusahaan, selain membayar sejumlah tenaga keamanan berupa tentara dengan persenjataan yang super duper canggih binti ajaib, perusahaan pun mempunyai program bernama Avatar. Sebuah proyek rekayasa genetika dimana menciptakan hybrid orang Na’vi yang terkonek dengan ‘sistem transfer jiwa’ dari manusia – manusia yang dijadikan ‘kelinci percobaan’. Jadi intinya sih Avatar itu adalah saat jiwamu ditranser masuk ke tubuh hybrid dan kau hanya tertidur manis dalam sebuah kapsul mirip seperti yang dipakai oleh orang Kaukasia untuk membuat kulit mereka kecoklatan (tanning capsule). Jadi saat jiwamu tertransfer ke hybrid yang dilepas ke habitat orang Na’vi, tubuh manusiamu bisa merasakan apa yang dialami oleh tubuh hibridmu. Tugas utama avatar ini adalah belajar tentang budaya dan kebiasaan dari orang Na’vi supaya dapat dipelajari sebuah cara untuk merelokasi komunitas ini secara damai. Sebuah program mengumpulkan data secara langsung alias model penelitian observasi partisipatif begitu.
Masalah menjadi rumit kala si Jake Sully (Sam Worthington), tokoh utama dalam film ini, seorang marinir yang lumpuh dari pinggang ke bawah, yang ditugaskan sebagai Avatar malah jatuh cinta pada Neytiri (suaranya diisi oleh Zoe Saldana) dan juga tercabik antara kepentingan membela kepentingan perusahaan dan juga komunitas Na’vi. Sully yang lumpuh ini, tapi menjadi sempurna dan tak cacat dalam tubuh Avatarnya, tak urung jatuh cinta pada alam Pandora dan budaya serta kehidupan suku Na’vi. Ia diajarkan banyak tentang alam, bagaimana keterkaitan antar individu, alam, dan semua simbiosis yang terjadi. Lewat tubuh hibridnya, Sully menjadi mediator antara kehidupan dan budaya Na’vi dan manusia. Tapi sayangnya, Sully tetap harus berhadapan dengan kenyataan bahwa deposit mineral terbanyak yang diinginkan perusahaan Amerika ini sayangnya berada tepat di atas tanah keramat komunitas Na’vi, yang disebut mereka sebagai Eiwa, sejenis ibu pertiwi atau mother Earth alias sumber segala kehidupan di planet ini.
Satu hal yang membuat aku begitu takjub menonton film ini adalah bukan hanya karena besutan kamera a la sutradara James Cameron dan teknologi sistem 3-D fusion dan spesial efek dalam film ini tapi bagaimana seorang Sully belajar tentang sebuah kebudayaan baru, tentang sudut pandang. Film ini menurutku lebih kepada sudut pandang kite terhadap kehidupan khususnya kepada mereka yang dikategorikan masyarakat marjinal. Komunitas Na’vi percaya bahwa hutan dan alam adalah bagian dari kehidupan mereka dan pohon – pohon berbagi sebuah keharmonisan hidup bagi mereka dan alam khususnya pohon menjadi ibu. Sully yang notabene orang Amerika yang besar di abad modern, dibawa mengenali kecantikan dalam hutan lebat yang penuh dengan berbagai jenis organisme eksotis, sebuah kecantikan dalam hal – hal sederhana. Sully juga belajar bagaimana membuktikan diri sebagai seseorang yang layak masuk dalam daftar pejuang suku yang tentu saja tantangannya bisa bikin nyawa melayang.
Selain itu, banyak tantangan yang dipelajari Sully yang ternyata malah membuatnya jatuh cinta lebih dalam kepada komunitas ini terlepas dari bentuk ras mereka yang bagi manusia begitu aneh dan tak cantik. Aku sempat terkekeh saat melihat Sully harus belajar bahasa Na’vi, belajar tentang mitos dan adat mereka dalam memerlakukan alam, misalnya saja usai membunuh hewan buruan ada doa khusus. Selain itu, Sully diajarkan bahwa konsep energi dalam planet ini saling berhubungan dan semuanya haya pinjaman. Sangat filosofis menurutku.
Akan tetapi, rupanya bila ketamakan, kekuasaan dan uang bertemu yang ada adalah sebuah sejarah yang berulang kali terjadi dalam sejarah manusia. Toh semulia apapun tujuan awal program Avatar, pada akhirnya para pemegang perusahaan plus kekuatan militer mereka memutuskan bahwa komunitas Na’vi harus dipindahkan terserah resikonya mau seperti apa dan dampaknya mau seperti apa, selama mineral mereka bisa ditambang. Tentu saja yang ada adalah pertempuran besar – besaran yang tak terelakkan. Selama pertempuran yang tak imbang, lah pihak perusahaan dengan kekuatan militernya memborbardir sebuah pohon raksasa yang dikeramatkan suku Na’vi dan tentu saja memakan korban yang cukup banyak di pihak komunitas Na’vi termasuk kepala suku (yang notabene adalah ayah dari Neytiri).
Akhirnya, Sully memutuskan untuk memilih, dibantu dengan sejumlah temannya yang membangkang dari program Avatar, mereka menyusun strategi perlawanan dengan mengadakan kerjasama dengan para pribumi lainnya dari planet ini, dari suku berkuda hingga suku di pesisir untuk mengangkat senjata melawan invasi orang – orang Amerika dari perusahaan. Pertempuran tak imbang pun terjadi yang tentu saja memakan korban cukup banyak termasuk pahlawan – pahlawan terhebat dari komunitas Na’vi. Tapi rupanya Eiwa, sang ibu alamnya Pandora tak tinggal diam. Akhir cerita sih mudah ditebak, kemenangan komunitas Na’vi dan si Sully sukses ditransfer secara utuh dengan kekuatan Eiwa menjadi orang Na’vi dan tentu saja kekalahan besar di pihak perusahaan tambang yang seluruh asetnya dibekukan dan seluruh personelnya mulai dari para petinggi perusahaan hingga tentara dipersona non gratae-kan keluar dari planet ini.
Film ini pada satu sisi mengingatkanku pada kejadian yang terus berlangsung di tanah Papua, sebuah cerita yang hampir sama tapi tak serupa. Cerita tentang perlawanan suku – suku khususnya yang berkenaan dengan kepemilikan hak ulayat dengan kepentingan perusahaan. Aku bukan siapa – siapa yang bisa bilang bahwa siapa benar dan siapa yang salah. Yang aku tahu dan terus bertanya, apakah tak ada cara menghentikan kekerasan dan darah yang mengalir di tanah ini? Menghentikan segala bentuk kekerasan tanpa akhir yang terus saja terjadi? Menghentikan semua jerit tangis yang seakan menjadi sebuah citra tanah ini di negara kepulauan ini?
Aku masih punya banyak pertanyaan dan juga sejumlah tanda tanya, karena toh aku bukan seorang sejarahwan yang bisa mengusut tuntas masalah di tanah ini. Aku bukan siapa – siapa. Tapi aku sempat bertanya, apakah kita, khususnya pihak – pihak yang menggunakan kekerasan sebagai jalan keluar dari segala macam persoalan di tanah ini, apakah kita harus dulu menjadi seperti Jake Sully dalam tubuh Avatarnya untuk bisa menghargai alam dan segala keindahan yang terkandung dalam alam? (Aku suka perkataannya Jake dan Neytiri ‘ I see you’; sangat filosofis). Apakah kita harus dulu menghadapi segala macam tantangan untuk bisa menghargai tiap bentuk kehidupan yang dititipkan di planet ini? Apakah kita tak bisa sedikit saja mengganti persepsi kita tentang standar kebahagiaan dari sudut pandang orang lain? Tentang apa yang kita tahu adalah yang terbaik mungkin bukanlah apa yang dibutuhkan oleh orang lain, bukan apa yang menjadi kebahagiaan mereka (aku ingat percakapan dalam rekaman videonya Jake Sully serta argumentasinya kepada petinggi perusahaan tentang observasinya tentang komunitas Na’vi).
Sudah saatnya melihat yang terbaik untuk masalah di tanah ini, jangan ada lagi kekerasan yang terjadi. Jangan karena ketamakan, kekuasaan dan uang membutakan mata bahwa jauh di sana, ada banyak bentuk kehidupan yang layak dihargai. Bukan karena teknologi yang canggih yang menentukan bahwa kita lebih berhak dan lebih berkuasa mengelola alam ini, bukan karena tingginya kemampuan mengelola dan pendidikan versi kita yang menentukan bahwa kita tahu yang terbaik bagi orang lain.
Selama ketamakan, kekuasaan dan uang masih menjadi orientasi, selama cinta diri sendiri dan kekerasan masih menjadi jalan keluar, selama ego manusia bahwa ‘sa-lebih-baik-dari-ko’ masih dipegang dan tak dicari titik temu, selama itu pula bibit perlawanan akan selalu pecah.
Selama arogansi bahwa ‘sa-yang-berhak’ di tanah ini karena alasan A-Z seperti dikatakan oleh para petinggi program Pandora, selama pemahaman antarbudaya tak dijalin, selama akar permasalahan tak dicari jalan keluarnya, selama itulah akan selalu ada friksi antar dua belah pihak.
Entah apa yang akan terjadi di tanah Papua ke depan, entah seperti Pandora di film Avatar ataupun sebaliknya, aku berharap tak ada lagi darah yang tertumpah di tanah ini, tak ada lagi tangis ratapan yang terdengar alam. Aku bukan siapa – siapa tapi satu yang pasti, aku tahu bahwa ‘kekerasan bukanlah jalan keluar!’
(18 Desember 2009, Campbell, Canberra/ Seseorang yang masih merasakan emosi film ‘Avatar’ dan belajar bahwa cara terbaik memahami orang lain adalah dengan melihat dari sudut pandang mereka.)
Berita koran yang kubaca banyak bercerita tentang prosesi pasca kematian Kelly Kwalik, mulai dari otopsi dan lain – lain serta respon massa. Aku juga masih teringat beberapa bulan lalu saat melihat ‘debat seru’ antara pimpinan TNI dan Polda Papua di tanah Papua yang bersikukuh bahwa mereka tahu siapa Kelly Kwalik dalam kaitannya dengan penembakan di areal sebuah perusahaan tambang terbesar di negara kepulauan ini. Tiba – tiba otakku malah berputar – putar tadi, dan bahkan emosinya masih terasa hingga catatan ini kutulis. Catatan ini mungkin lebih banyak berkisar antara film Avatar dan tema ceritanya yang mirip dengan kejadian saat ini di tanahku Papua, yang ujung – ujungnya sama yaitu perseteruan antara masyarakat asli pemilik hak ulayat dan perusahaan pertambangan.
Dalam film Avatar yang dibesut oleh sutradara James Cameron, diceritakan pada suatu waktu di tahun 2154 tentang eksplorasi tambang di sebuah planet bernama Pandora, sebuah planet yang hijau dan tertutup pohon dan penuh dengan keanekaragaman hayati dan bentuk – bentuk kehidupan yang menakjubkan plus air – air terjun yang sangat indah. Di mana dalam film ini, digambarkan perusahaan ini, yang konon milik orang Amerika, menginvasi dan menambang mineral yang bernilai tinggi. Tetapi sayangnya, dari kacamata orang Amerika pemilik perusahaan ini, kehadiran masyarakat asli, yang secara sarkastik dibilang sebagai ‘the blue monkey (monyet biru)’alias orang Na’vi yang merupakan pribumi planet Pandora dan dikategorikan sebagai alien merusak rencana ekspansi perusahaan. Berulang kali kendaraan operasional pertambangan diganggu dengan senjara tradisional mereka berupa tombak dan panah. Iya, para orang Na’vi di film ini bukanlah alien sejenis yang suka digambarkan oleh Hollywood dengan persenjataan canggih tapi lebih sebagai orang – orang suku terasing (versi manusia modern) di planet ini yang dikategorikan sebagai orang – orang yang terbelakang dan teknologinya kurang berkembang. Mereka juga berasal dari ras yang berbeda dengan manusia karena mempunyai tinggi kurang lebih 10 kaki (hitung saja ke dalam CM berapa meter tuh) plus berkulit biru dengan strip putih dan tentu saja dengan sebuah ekor yang mempunyai serat – serat optis yang bisa terkonek dengan makhluk hidup lainya di planet ini ibarat kabel data.
Demi kelancaran proyek pertambangan dan operasional perusahaan, selain membayar sejumlah tenaga keamanan berupa tentara dengan persenjataan yang super duper canggih binti ajaib, perusahaan pun mempunyai program bernama Avatar. Sebuah proyek rekayasa genetika dimana menciptakan hybrid orang Na’vi yang terkonek dengan ‘sistem transfer jiwa’ dari manusia – manusia yang dijadikan ‘kelinci percobaan’. Jadi intinya sih Avatar itu adalah saat jiwamu ditranser masuk ke tubuh hybrid dan kau hanya tertidur manis dalam sebuah kapsul mirip seperti yang dipakai oleh orang Kaukasia untuk membuat kulit mereka kecoklatan (tanning capsule). Jadi saat jiwamu tertransfer ke hybrid yang dilepas ke habitat orang Na’vi, tubuh manusiamu bisa merasakan apa yang dialami oleh tubuh hibridmu. Tugas utama avatar ini adalah belajar tentang budaya dan kebiasaan dari orang Na’vi supaya dapat dipelajari sebuah cara untuk merelokasi komunitas ini secara damai. Sebuah program mengumpulkan data secara langsung alias model penelitian observasi partisipatif begitu.
Masalah menjadi rumit kala si Jake Sully (Sam Worthington), tokoh utama dalam film ini, seorang marinir yang lumpuh dari pinggang ke bawah, yang ditugaskan sebagai Avatar malah jatuh cinta pada Neytiri (suaranya diisi oleh Zoe Saldana) dan juga tercabik antara kepentingan membela kepentingan perusahaan dan juga komunitas Na’vi. Sully yang lumpuh ini, tapi menjadi sempurna dan tak cacat dalam tubuh Avatarnya, tak urung jatuh cinta pada alam Pandora dan budaya serta kehidupan suku Na’vi. Ia diajarkan banyak tentang alam, bagaimana keterkaitan antar individu, alam, dan semua simbiosis yang terjadi. Lewat tubuh hibridnya, Sully menjadi mediator antara kehidupan dan budaya Na’vi dan manusia. Tapi sayangnya, Sully tetap harus berhadapan dengan kenyataan bahwa deposit mineral terbanyak yang diinginkan perusahaan Amerika ini sayangnya berada tepat di atas tanah keramat komunitas Na’vi, yang disebut mereka sebagai Eiwa, sejenis ibu pertiwi atau mother Earth alias sumber segala kehidupan di planet ini.
Satu hal yang membuat aku begitu takjub menonton film ini adalah bukan hanya karena besutan kamera a la sutradara James Cameron dan teknologi sistem 3-D fusion dan spesial efek dalam film ini tapi bagaimana seorang Sully belajar tentang sebuah kebudayaan baru, tentang sudut pandang. Film ini menurutku lebih kepada sudut pandang kite terhadap kehidupan khususnya kepada mereka yang dikategorikan masyarakat marjinal. Komunitas Na’vi percaya bahwa hutan dan alam adalah bagian dari kehidupan mereka dan pohon – pohon berbagi sebuah keharmonisan hidup bagi mereka dan alam khususnya pohon menjadi ibu. Sully yang notabene orang Amerika yang besar di abad modern, dibawa mengenali kecantikan dalam hutan lebat yang penuh dengan berbagai jenis organisme eksotis, sebuah kecantikan dalam hal – hal sederhana. Sully juga belajar bagaimana membuktikan diri sebagai seseorang yang layak masuk dalam daftar pejuang suku yang tentu saja tantangannya bisa bikin nyawa melayang.
Selain itu, banyak tantangan yang dipelajari Sully yang ternyata malah membuatnya jatuh cinta lebih dalam kepada komunitas ini terlepas dari bentuk ras mereka yang bagi manusia begitu aneh dan tak cantik. Aku sempat terkekeh saat melihat Sully harus belajar bahasa Na’vi, belajar tentang mitos dan adat mereka dalam memerlakukan alam, misalnya saja usai membunuh hewan buruan ada doa khusus. Selain itu, Sully diajarkan bahwa konsep energi dalam planet ini saling berhubungan dan semuanya haya pinjaman. Sangat filosofis menurutku.
Akan tetapi, rupanya bila ketamakan, kekuasaan dan uang bertemu yang ada adalah sebuah sejarah yang berulang kali terjadi dalam sejarah manusia. Toh semulia apapun tujuan awal program Avatar, pada akhirnya para pemegang perusahaan plus kekuatan militer mereka memutuskan bahwa komunitas Na’vi harus dipindahkan terserah resikonya mau seperti apa dan dampaknya mau seperti apa, selama mineral mereka bisa ditambang. Tentu saja yang ada adalah pertempuran besar – besaran yang tak terelakkan. Selama pertempuran yang tak imbang, lah pihak perusahaan dengan kekuatan militernya memborbardir sebuah pohon raksasa yang dikeramatkan suku Na’vi dan tentu saja memakan korban yang cukup banyak di pihak komunitas Na’vi termasuk kepala suku (yang notabene adalah ayah dari Neytiri).
Akhirnya, Sully memutuskan untuk memilih, dibantu dengan sejumlah temannya yang membangkang dari program Avatar, mereka menyusun strategi perlawanan dengan mengadakan kerjasama dengan para pribumi lainnya dari planet ini, dari suku berkuda hingga suku di pesisir untuk mengangkat senjata melawan invasi orang – orang Amerika dari perusahaan. Pertempuran tak imbang pun terjadi yang tentu saja memakan korban cukup banyak termasuk pahlawan – pahlawan terhebat dari komunitas Na’vi. Tapi rupanya Eiwa, sang ibu alamnya Pandora tak tinggal diam. Akhir cerita sih mudah ditebak, kemenangan komunitas Na’vi dan si Sully sukses ditransfer secara utuh dengan kekuatan Eiwa menjadi orang Na’vi dan tentu saja kekalahan besar di pihak perusahaan tambang yang seluruh asetnya dibekukan dan seluruh personelnya mulai dari para petinggi perusahaan hingga tentara dipersona non gratae-kan keluar dari planet ini.
Film ini pada satu sisi mengingatkanku pada kejadian yang terus berlangsung di tanah Papua, sebuah cerita yang hampir sama tapi tak serupa. Cerita tentang perlawanan suku – suku khususnya yang berkenaan dengan kepemilikan hak ulayat dengan kepentingan perusahaan. Aku bukan siapa – siapa yang bisa bilang bahwa siapa benar dan siapa yang salah. Yang aku tahu dan terus bertanya, apakah tak ada cara menghentikan kekerasan dan darah yang mengalir di tanah ini? Menghentikan segala bentuk kekerasan tanpa akhir yang terus saja terjadi? Menghentikan semua jerit tangis yang seakan menjadi sebuah citra tanah ini di negara kepulauan ini?
Aku masih punya banyak pertanyaan dan juga sejumlah tanda tanya, karena toh aku bukan seorang sejarahwan yang bisa mengusut tuntas masalah di tanah ini. Aku bukan siapa – siapa. Tapi aku sempat bertanya, apakah kita, khususnya pihak – pihak yang menggunakan kekerasan sebagai jalan keluar dari segala macam persoalan di tanah ini, apakah kita harus dulu menjadi seperti Jake Sully dalam tubuh Avatarnya untuk bisa menghargai alam dan segala keindahan yang terkandung dalam alam? (Aku suka perkataannya Jake dan Neytiri ‘ I see you’; sangat filosofis). Apakah kita harus dulu menghadapi segala macam tantangan untuk bisa menghargai tiap bentuk kehidupan yang dititipkan di planet ini? Apakah kita tak bisa sedikit saja mengganti persepsi kita tentang standar kebahagiaan dari sudut pandang orang lain? Tentang apa yang kita tahu adalah yang terbaik mungkin bukanlah apa yang dibutuhkan oleh orang lain, bukan apa yang menjadi kebahagiaan mereka (aku ingat percakapan dalam rekaman videonya Jake Sully serta argumentasinya kepada petinggi perusahaan tentang observasinya tentang komunitas Na’vi).
Sudah saatnya melihat yang terbaik untuk masalah di tanah ini, jangan ada lagi kekerasan yang terjadi. Jangan karena ketamakan, kekuasaan dan uang membutakan mata bahwa jauh di sana, ada banyak bentuk kehidupan yang layak dihargai. Bukan karena teknologi yang canggih yang menentukan bahwa kita lebih berhak dan lebih berkuasa mengelola alam ini, bukan karena tingginya kemampuan mengelola dan pendidikan versi kita yang menentukan bahwa kita tahu yang terbaik bagi orang lain.
Selama ketamakan, kekuasaan dan uang masih menjadi orientasi, selama cinta diri sendiri dan kekerasan masih menjadi jalan keluar, selama ego manusia bahwa ‘sa-lebih-baik-dari-ko’ masih dipegang dan tak dicari titik temu, selama itu pula bibit perlawanan akan selalu pecah.
Selama arogansi bahwa ‘sa-yang-berhak’ di tanah ini karena alasan A-Z seperti dikatakan oleh para petinggi program Pandora, selama pemahaman antarbudaya tak dijalin, selama akar permasalahan tak dicari jalan keluarnya, selama itulah akan selalu ada friksi antar dua belah pihak.
Entah apa yang akan terjadi di tanah Papua ke depan, entah seperti Pandora di film Avatar ataupun sebaliknya, aku berharap tak ada lagi darah yang tertumpah di tanah ini, tak ada lagi tangis ratapan yang terdengar alam. Aku bukan siapa – siapa tapi satu yang pasti, aku tahu bahwa ‘kekerasan bukanlah jalan keluar!’
(18 Desember 2009, Campbell, Canberra/ Seseorang yang masih merasakan emosi film ‘Avatar’ dan belajar bahwa cara terbaik memahami orang lain adalah dengan melihat dari sudut pandang mereka.)
Labels:
Lingkungan,
Politik,
Sosial,
Summer story 2009 - 2010
Avatar - the movie
Malam ini sa baru saja selesai satu film arahannya James Cameron (yang sutradara Titanic ka ini), judulnya Avatar. Masih film baru sih di Canberra karena baru rilis minggu ini (dan sa nonton di hari kedua yang orang baku sepak ka ini hehehe). Yang pasti sangat direkomendasikan sih. Berikut ini sa ada terjemahkan satu review film yang sa dapat dari http://www.empiremovies.com/2009/12/18/avatar-movie-review/. Tetapi terjemahan ini sa ada edit akan sedikit dan bukan terjemahan resmi eee.
Secara pribadi, sa bisa bilang kalo film ini layak kam tonton! (dan menurut sa le bih bagus daripada ‘New Moon’ dan 2012 ^_^)
Salam,
D. M.
=================================
Avatar tuh merupakan sebuah langkah antisipasi kembalinya James Cameron sebagai sutradara untuk bikin film besar setelah lama pace istirahat ka ini karena pace su tra jadi sutradara sejak 1997 (Titanic). Selama ini pace lebih fokus ke bikin film dokumenter, beberapa pertunjukan di TV dan juga pace kembangkan sistem kamera 3-D fusion, sebuah teknologi yang de pake di film Avatar.
Di film ini, Sam Worthington bermain sebagai Jake Sully, seorang mariner yang lumpuh dari pinggang ke bawah. Sully dapat rekrut untuk pergi ke planet yang namanya Pandora sebuah bulan yang ditutupi hutan yang lebat dan air terjun yang memesona serta didiami oleh sejumlah bentuk kehidupan yang menakjubkan termasuk populasi pribumi yang dikenal sebagai orang Na’vi. Pace Sully akan ambil bagian dalam sebuah program yang disebut Avatar, dimana de akan dong bikin mendiami sebuah tubuh yang merupakan hasil rekayasa genetik dari orang Ana’vi ka ini yang disebut Avatar.
Waktu Sully ko berubah jadi Avatar, de pu hidup berubah. Pace ko berubah jadi warna biru, tinggi 10 kaki dan dapat jalan dengan gampang di planet ini (manusia tra bisa bernafas di dalam udaranya Pandora). Selama pace ko pu acara jalan – jalan di planet nih, pace ko ketemu perempuan Na’vi satu yang cantik, de pu nama Neytiri (yang suaranya diisi oleh Zoe Saldana) dan untuk alasan tertentu pace ko akhirnya diterima dalam kehidupan suku. Orang Na’vi dong su tahu kalo pace tuh cuma bentuk hybrid jadi tra semua orang di dalam suku suka pace pu kehadiran ka ini. Tapi sebenarnya Sully di sana bukan untuk bikin masalah. De sebenarnya diminta untuk mengamati orang – orang Na’vi dna belajar tentang dong pu budaya dan kebiasaan. Tapi masalahnya tuh orang – orang Na’vi tuh pu kampung utama tuh berada di puncak deposit mineral kaya yang diinginkan oleh manusia. Dengan bantuan Sully, manusia berharap mo pindahkan Na’vi jauh dari dong pu lahan secara damai. Sayangnya, tempat yang ditargetkan oleh perusahaan di film ini tuh ternyata merupakan tempat keramat bagi orang – orang Na’vi dan dong tolak mentah – mentah untuk kerjasama dengan manusia. Akhirnya terjadi sudah barang yang sering terjadi kalo urusannya su mulai kena dengan ketamakan, kekuasaan dan uang. Akhirnya orang – orang perusahaan putuskan untuk pake kekerasan untuk pindahkan orang – orang Na’vi dong. Hal ini bikin pace Sully ko bingung karena terperangkap dalam perang antara manusia yang bikin de ikut program ini dan Neytiri serta orang Na’vi lainnya yang sekarang pace su akrab dan dekat sekali. Akhirnya terjadilah pertempuran besar – besaran dan nasib Pandora dan orang Na’vi dong tergantung di tangan orang – orang Amerika yang menginvasi dong pu planet.
Cerita Avatar nih cukup menarik tapi mungkin juga jadi bagian terlemah dari keseluruhan produksi. Kalo tong lihat kembali dan lihat de pu tema dasar sebuah film, film ini sederhana saja sih. Intinya sih tentang perusahaan yang pake de pu kekuasaan, dengan bantuan tentara, coba untuk ambil sesuatu yang berharga dan dong tra peduli siapa saja takena efek dari dong pu langkah – langkah ka ini. Tong su lihat barang ini banyak kali sebelumnya di film dan lebih banyak lagi dalam kehidupan nyata. Perbedaannya cuma satu, Avatar terjadi di planet lain di luar angkasa, dengan ras yang tra pernah tong dengar dan dengan sejumlah spesial efek terbaik yang pernah tong lihat. Akan tetapi pace yang meninjau film ini bilang kalo emosinya kurang terjaga dalam film ini. Memang pace yang tinjau nih bilang kalau de semangat dengan orang – orang Na’vi pu usaha tapi pace tra rasa emosi yang harusnya de dapatkan di dalam film.
Pace yang tinjau film ini bilang, bagaimanapun de nikmati nonton Avatar. Sebuah film yang memukau dan sangat layak ditonton. Walau ceritanya sederhana (dan mungkin mudah ditebak) tapi tetap layak ditonton. Karakter – karakternya lumayan walau tak ada yang cukup berperan dibandingkan Sully (Sam Worthington). Tapi satu yang paling tra bisa dibandingkan dengan film – film lain tuh de pu spesial efek dan imajinasinya yang bikin akan jadi lengkap ka ini. Pace yang tinjau film ini bilang memang Pace Cameron dan de pu teman – teman dong mantap skali. Film ini benar – benar memukau. Film ini dibeirkan poin 8,5 kalo tong kasi cakupan penilaian 1 – 10.
============================================================
Catatan:
Kalo mo lihat de pu situs resmi termasuk de pu cuplikan (trailer):
http://www.avatarmovie.com/
Secara pribadi, sa bisa bilang kalo film ini layak kam tonton! (dan menurut sa le bih bagus daripada ‘New Moon’ dan 2012 ^_^)
Salam,
D. M.
=================================
Avatar tuh merupakan sebuah langkah antisipasi kembalinya James Cameron sebagai sutradara untuk bikin film besar setelah lama pace istirahat ka ini karena pace su tra jadi sutradara sejak 1997 (Titanic). Selama ini pace lebih fokus ke bikin film dokumenter, beberapa pertunjukan di TV dan juga pace kembangkan sistem kamera 3-D fusion, sebuah teknologi yang de pake di film Avatar.
Di film ini, Sam Worthington bermain sebagai Jake Sully, seorang mariner yang lumpuh dari pinggang ke bawah. Sully dapat rekrut untuk pergi ke planet yang namanya Pandora sebuah bulan yang ditutupi hutan yang lebat dan air terjun yang memesona serta didiami oleh sejumlah bentuk kehidupan yang menakjubkan termasuk populasi pribumi yang dikenal sebagai orang Na’vi. Pace Sully akan ambil bagian dalam sebuah program yang disebut Avatar, dimana de akan dong bikin mendiami sebuah tubuh yang merupakan hasil rekayasa genetik dari orang Ana’vi ka ini yang disebut Avatar.
Waktu Sully ko berubah jadi Avatar, de pu hidup berubah. Pace ko berubah jadi warna biru, tinggi 10 kaki dan dapat jalan dengan gampang di planet ini (manusia tra bisa bernafas di dalam udaranya Pandora). Selama pace ko pu acara jalan – jalan di planet nih, pace ko ketemu perempuan Na’vi satu yang cantik, de pu nama Neytiri (yang suaranya diisi oleh Zoe Saldana) dan untuk alasan tertentu pace ko akhirnya diterima dalam kehidupan suku. Orang Na’vi dong su tahu kalo pace tuh cuma bentuk hybrid jadi tra semua orang di dalam suku suka pace pu kehadiran ka ini. Tapi sebenarnya Sully di sana bukan untuk bikin masalah. De sebenarnya diminta untuk mengamati orang – orang Na’vi dna belajar tentang dong pu budaya dan kebiasaan. Tapi masalahnya tuh orang – orang Na’vi tuh pu kampung utama tuh berada di puncak deposit mineral kaya yang diinginkan oleh manusia. Dengan bantuan Sully, manusia berharap mo pindahkan Na’vi jauh dari dong pu lahan secara damai. Sayangnya, tempat yang ditargetkan oleh perusahaan di film ini tuh ternyata merupakan tempat keramat bagi orang – orang Na’vi dan dong tolak mentah – mentah untuk kerjasama dengan manusia. Akhirnya terjadi sudah barang yang sering terjadi kalo urusannya su mulai kena dengan ketamakan, kekuasaan dan uang. Akhirnya orang – orang perusahaan putuskan untuk pake kekerasan untuk pindahkan orang – orang Na’vi dong. Hal ini bikin pace Sully ko bingung karena terperangkap dalam perang antara manusia yang bikin de ikut program ini dan Neytiri serta orang Na’vi lainnya yang sekarang pace su akrab dan dekat sekali. Akhirnya terjadilah pertempuran besar – besaran dan nasib Pandora dan orang Na’vi dong tergantung di tangan orang – orang Amerika yang menginvasi dong pu planet.
Cerita Avatar nih cukup menarik tapi mungkin juga jadi bagian terlemah dari keseluruhan produksi. Kalo tong lihat kembali dan lihat de pu tema dasar sebuah film, film ini sederhana saja sih. Intinya sih tentang perusahaan yang pake de pu kekuasaan, dengan bantuan tentara, coba untuk ambil sesuatu yang berharga dan dong tra peduli siapa saja takena efek dari dong pu langkah – langkah ka ini. Tong su lihat barang ini banyak kali sebelumnya di film dan lebih banyak lagi dalam kehidupan nyata. Perbedaannya cuma satu, Avatar terjadi di planet lain di luar angkasa, dengan ras yang tra pernah tong dengar dan dengan sejumlah spesial efek terbaik yang pernah tong lihat. Akan tetapi pace yang meninjau film ini bilang kalo emosinya kurang terjaga dalam film ini. Memang pace yang tinjau nih bilang kalau de semangat dengan orang – orang Na’vi pu usaha tapi pace tra rasa emosi yang harusnya de dapatkan di dalam film.
Pace yang tinjau film ini bilang, bagaimanapun de nikmati nonton Avatar. Sebuah film yang memukau dan sangat layak ditonton. Walau ceritanya sederhana (dan mungkin mudah ditebak) tapi tetap layak ditonton. Karakter – karakternya lumayan walau tak ada yang cukup berperan dibandingkan Sully (Sam Worthington). Tapi satu yang paling tra bisa dibandingkan dengan film – film lain tuh de pu spesial efek dan imajinasinya yang bikin akan jadi lengkap ka ini. Pace yang tinjau film ini bilang memang Pace Cameron dan de pu teman – teman dong mantap skali. Film ini benar – benar memukau. Film ini dibeirkan poin 8,5 kalo tong kasi cakupan penilaian 1 – 10.
============================================================
Catatan:
Kalo mo lihat de pu situs resmi termasuk de pu cuplikan (trailer):
http://www.avatarmovie.com/
Wednesday, 16 December 2009
Anak: dari fashion, makanan hingga hiburan
Usai doa malam, aku teringat bahwa aku masih punya hutang tulisan. Aku dalam dua minggu terakhir ini teringat bahwa aku ingin membuat tulisan tentang anak, dan aku hampir lupa, hingga tadi usai berdoa e ketemu satu ayat di Alkitab tentang anak di Mazmur 127: 3. Karna Alkitab yang kubaca versi Good News, tertulis demikian, “Children are a gift from the Lord; they are a real blessing.” (Anak - anak adalah hadiah dari Tuhan; mereka adalah berkat yang sesungguhnya) Entah kenapa tuh tulisan pake kata sandang ‘a’ dan bukannya ‘the’, don’t ask me lah! (kenapa aku malah ber-Singlish ya ^_^)
Anyway, tulisan kali ini memang tentang anak dan mungkin tak akan terstruktur dengan rapi karena toh aku suka lompat – lompat dengan ideku. Toh, ini hanya uneg – uneg yang perlu ‘kumuntahkan’ keluar, lah aku memang punya morning sickness yang gemar muntah dan mual kalo pagi apalagi kalo pagi dan harus naik bis selama hampir 1 jam ke tempat kerja tiap rabu dan kamis yang bawaannya langsung bukan hanya morning sickness tapi juga motion sickness jadi tiap keluar dari bis dan tiap tiba di tempat kerja, wastafel kamar mandi menjadi tempat wajib mengamati muka. Tapi yang pasti bukan karena mau punya anak ya, lha urusan itu lain lagi
Ngomong – ngomong tentang tempat kerja, aku malah teringat pada percakapanku dengan ibu MD, guru bahasa Indonesia di sekolahku, tentang anak. Kebetulan sih ibu MD juga guru dan pernah tinggal di Indonesia lebih dari 5 tahun ikut suaminya yang atase pertahanan bidang Angkatan Laut plus pernah 2 tahun tinggal dan mengajar di PNG dan juga kerap pindah – pindah negara karena tugas suaminya, serta punya 4 orang anak yang dua di antaranya kembar. Aku ingat bagaimana kami bercakap tentang dunia anak. Banyak sekali hal yang kudapatkan termasuk dalam bidang pendidikan dan buku anak. Tapi dalam tulisanku kali ini aku lebih membuatnya terbagi – bagi sebelum keburu hilang dari otak.
Fashion
Aku ingat benar bagaimana kuutarakan bahwa saat ini banyak sekali produk fashion yang bukan anak – anak, yang menurutku membuat anak kecil menjadi semacam korban fashion orang dewasa. Aku dan ibu MD sepakat bahwa anak – anak harus menjadi anak – anak. Anak – anak harus hidup dalam dunia mereka yang penuh fantasi dan tanpa batas untuk menjadi apa yang mereka pikirkan dan inginkan dan bukan korban fantasi orang dewasa. Aku bukannya tak suka pada dunia mode dan cara-melekatkan-selembar-kain-di-atas-tubuh, karena toh hobiku masih tetap suka membuat sketfsa fashion., yang aku maksudkan, aku tak suka dengan industri pakaian yang menargetkan anak – anak untuk menjadi serupa ataupun menjadi miniatur orang dewasa. Menjadi serupa.
Aku teringat bagaimana terkaget – kaget melihat fashion anak yang menurutku, memaksakan anak – anak menjadi lebih dewasa dari umur mereka. Bagaimana tidak, trend fashion orang dewasa yang lebih ‘berani’ yang mengekspos bagian – bagian tubuh yang sangat menarik secara seksual, dicontek mentah – mentah di fashion anak. Belum lagi dengan bahan pakaiannya.
Sebenarya kalo ditilik dari fungsi, sebenarnya apa sih yang dibutuhkan oleh anak – anak dalam berpakaian. Aku secara pribadi melihat masa anak – anak adakah waktu yang tepat untuk memberi kesempatan mereka megembangkan sensor saraf dan kemampuan motorik mereka. Mulai dari berlari, melompat hingga berenang. Yang aku pikir, anak – anak layak mendapatkan pakaian yang menyerap keringat, yang membuat mereka leluasa bergerak, yang tak menghambat perkembangan mereka.
Tapi coba lihat ke pasar, apa yang ditawarkan oleh industri pakaian? Yang sialnya, kita sebagai pengguna benar – benar termakan rayuan industri pakaian untuk menjadikan anak – anak kita korban fashion tak sehat. Aku sering miris melihat jenis – jenis sepatu masa kini yang kadang terlalu flat shoes alias beralas rata ataupun terlalu berhak tinggi bagi anak – anak. Padahal dari sebuah artikel kesehatan beberapa tahun lalu, bagi anak, fungsi alas kaki yang baik sangat berpengaruh pada kesehatan sendi mereka. Malah lebih baik kalo lebih sering diberi kesempatan kaki telanjang beberapa saat dan berjalan di medan tak rata. Mungkin bagi orang normal masalah sepatu bukan masalah, tapi bagi orang – orang sepertiku, alas kaki dan sepatu ataupun sandal, salah pakai sepatu bisa efek masuk rumah sakit karena masalah di saraf kaki yang ujung – ujungnya bisa efek ke tulang sendi dan pinggul.
Sudah saatnya memberi anak – anak yang terbaik bagi mereka, bukan yang dianjurkan oleh pakar fashion tapi cobalah kembali menilai ke fungsi dan manfaat kesehatan. Fashion sebaik apapun itu tetaplah menjalankan fungsi untuk menutupi tubuh kita., demi alasan kesehatan. Jangan pernah menggadaikan masa kanak – kanak seorang anak demi sebuah tren fashion. Think wise!
Makanan dan minuman
Mungkin untuk hal ini aku sangat keras pada keponakan – keponakanku dan kadang dulu menjadi hal yang sering membuatku berkelahi dengan ibu mereka. Tapi toh ada juga ipar yang keras kepala dan sering kami bertengkar karena hal ini. Bukannya apa, aku berpikir bahwa anak adalah masa emas yang menentukan seseorang ke depannya mo jadi apa, baik secara jasmani dan psikologis. Apa yang tertanam sejak masa kanak – kanak sangat berdampak besar pada perkembangan seorang manusia di masa mendatang.
Tentang makanan, coba tilik sekarang jajanan yang sering ditawarkan di pasaran? Mulai dari minuman tak sehat hingga jajanan yang hanya menang tampilan. Aku tak bilang bahwa kita tak boleh makan sesuatu yang dikemas dan diawetkan tapi bagaimana kita memakannya dan siapa yang layak memakannya.
Dulu aku sangat gemas dan kadang menjadi bahan pertengkaran melihat ipar yang memberikan minuman Frutang dan Soft drink pada keponakanku yang berumur kurang dari 2 tahun. Bagiku itu sebuah cara yang salah karena otak dan sel – sel keponakanku masih begitu baik dan kenapa harus direcoki dengan sejumlah pengawet. Begitu juga dengan es batu dan minuman dingin bagi keponakanku. Bagiku, makanan dan minuman dingin hanyalah sebuah pilihan dan bukannya sebuah kewajiban. Bagiku selagi bisa, semua makanan yang tak berada pada suhu kamar sebaiknya dikurangi konsumsinya bagi anak – anak.
Mungkin aku cukup ekstrem dalam makanan dan minuman karena toh aku sudah merasakan bagaimana pentingnya makanan bagi tubuh dan bagaimana efeknya bila tak dikontrol dengan baik. Aku merasakan era di mana karna asupan makanan yang salah bisa mempengaruhi kesehatan jangka panjang.
Aku cuma ingin bilang, sebelum terlambat, perhatikanlah apa yang masuk ke dalam tubuh anak. Jangan menunggu hingga diagnosa dokter menyatakan bahwa ada yang salah dengan anak karena faktor makanan. Seorang teman bapak pernah bercerita bahwa pangkat keponakan jauhnya harus diet makanan padahal baru berumur kurang dari 10 tahun karena terkena diabetes tipe 2 karena makanan yang tak sehat. Orang tuanya tak memberikan makanan yang tepat dan memberikan makanan cepat saji dan terlalu banyak mengikuti keinginan anak untuk jajan yang tak sehat.
Tentang mengikuti maunya anak, aku tahu bahwa kadang orang tua sulit membuat anak makan dan akhirnya memilih keinginan anak. Aku kok malah teringat bincang – bincang di meja makan kala kak Butet Manurung mengobrol denganku dan teman – teman tentang anak kecil yang harus dikejar – kejar untuk makan dan kadang butuh waktu berjam – jam memaksa mereka makan. Kak Butet dengan cuek bilang, “kalau kita terbiasa mengikuti apa yang mereka inginkan walaupun kita tahu makanan itu tak sehar, selamanya mereka akan begitu. Kenapa juga harus dikejar, biarkan mereka barang sekejap. Pada akhirnya mereka akan lapar juga dan pasti memilih makan. Semakin dikejar dan semakin dimanjakan malah semakin membuat mereka akan makin susah disuruh makan. Perkara makan itu perkara purba karena dilakukan demi bertahan hidup.” Aku setuju dalam perkara ini. Aku pikir peran orang tua ataupun kerabatlah yang menentukan bagaimana seorang anak menentukan nilai suatu makanan.
Tentang peran makanan, aku kok malah teringat pada perkataan pak Aser Rouw, seorang peneliti pertanian di Manokwari di sebuah catatanku ‘invasi lidah’ bahwa perkara makanan bukanlah masalah ‘modern’ atau ‘tradisional’ tapi tentang masalah pemenuhan gizi. Jadi aku pikir kitalah yang sangat berperan besar menentukan mau dibawa kemana ‘lidah’ anak kita. Kitalah yang berperan menentukan sikap pandang anak kita kelak, dan kitalah yang bertanggungjawab untuk kesehatan anak kita. Think wise!
Hiburan
Kalau untuk hal ini, aku jujur sangat tak suka dengan TV Indonesia yang cuma punya sedikit waktu untuk tayangan anak – anak. Apa karena anak – anak tak menguntungkan secara ekonomi? Entahlah ..
Bayangkan? Coba saja hitung dalam sehari ada berapa banyak tayangan sehat yang mendidik untuk anak – anak? Pasti sedikit. Belum lagi berapa banyak lagu yang diciptakan untuk anak – anak? Pasti sedikit.
Lalu apa yang ditawarkan pada anak – anak? Saudara bisa tanya pada keponakan – keponakan atau anak anda, berapa banyak lagu anak yang mereka tahu. Jangan – jangan malah lagu cinta terbaru dari band ternama saat ini, ataupun juga film yang mengumbar kekerasan, seks ataupun hedonisme berlebihan. Belum lagi sinetron cengeng yang tak masuk akal dan membuat anak – anak penuh curiga pada teman – temannya. Benar – benar tayangan dan hiburan yang tak mendidik.
Padahal masa anak – anak adalah masa emas perkembangan otak dan emosi mereka, karena semua respon dari luar disimpan dalam alam bawah sadar tanpa sebuah filter. Beda dengan orang dewasa yang masih punya waktu mempersepsikan dan menyimpan dalam memori jangka pendek sebelum dipilah masuk dalam storage long term memory. Bayangkan bila yang diisi dalam masa tumbuh kembang anak adalah lagu – lagu yang berisi sakit hati, dendam, selingkuh, patah hati, dan cinta tak sehat? Bayangkan bila yang diisi adalah adegan penuh ketakutan, kekerasan, seks, dan penipuan dan kekecewaan. Mau dibawa kemana generasi yang emosi dan memorinya tak disiapkan untuk menghargai hidup dengan lebih baik, yang menikmati hidup dalam kesederhanaan hidup itu sendiri?
Aku percaya masa kanak – kanak adalah masa di mana anak diberikan pemahaman dasar tentang hidup, tentang bagaimana menghargai tiap bentuk kehidupan, tentang menghargai relasi antar sesama, tentang bagaimana mengekspresikan emosi dengan benar dan tepat.
Aku percaya pada bagian ini kalian akan memrotesku tentang hiburan dan lain – lain. Bagiku, lebih baik membuang sedikit waktu dan usaha serta uang demi tumbuh kembang anak dibanding menerima yang ditawarkan arus. Ingat, hidup adalah pilihan. Mulailah dari hal – hal sederhana, ajak anak – anak anda bercerita, mendongenglah bagi mereka sebelum tidur, dengarkan mereka bercerita, ceritakan apa yang anda tahu tentang alam, misalnya tentang terjadinya hujan, ciptakan permainan – permainan rumah. Anda hanya perlu waktu dan sedikit kerja keras.
Ada banyak ide yang bisa dicoba untuk membuat hidup anda berkualitas. Anda tak perlu TV kadang – kadang untuk membuat hidup anak anda berwarna. Banyak ide simpel yang bisa dicoba, misalnya saja membuat film anda sendiri. Bisa memakai kamera digital sederhana dan merekam proses kehidupan rumah anda, dan diedit dengan software sederhana di komputer dan diubah formatnya dalam media yang bisa dipakai di rumah. Anda bisa membuat boneka kertas menjadi semacam drama miniatur yang bisa dipakai meransang imajinasi anak di rumah. Tak punya lagu anak? Mengapa tak mencoba menulis liriknya sendiri dan merekam di HP anda dan kemudian ajarkan anak anda menyanyikannya. Hidup adalah pilihan. Think Wise!
Aku masih punya banyak hal yang ingin kubagi tentang dunia anak karena bagiku anak adalah sebuah anugerah yang perlu disyukuri. Aku melihat bagaimana teman – teman di sekelilingku saat ini yang merindukan kelahiran anak dan berusaha semampu mereka untuk mempunyai anak tapi belum dianugerahi. Sedang di luar sana, banyak orang yang tak menganggap anak adalah anugerah. Betapa mirisnya.
Sudah saatnya anak – anak mendapat perhatian lebih dalam pembangunan di Papua. Sudah saatnya anak – anak Papua menjadi prioritas pembangunan karena mereka lah yang akan meneruskan ke arah mana tanah ini dibawa. Dengan menginvestasikan yang terbaik pada masa kini, maka kelak kita juga lah akan melihat bagaimana mereka menjadi generasi penerus yang mampu menjadi berkat.
Perubahan untuk kehidupan anak Papua bukan ada di masa depan, bukan ada pada abad mendatang, perubahan bukan diberikan oleh orang lain, bukan pula merupakan sebuah hibah. Perubahan bisa dilakukan bila kita, anda dan saya, berani membuat sebuah keputusan untuk memprioritaskan kehidupan anak hari ini. Jangan terlalu berpikir sulit, mulailah bertanya, apakah anak, baik anak anda sendiri, keponakan atau anak siapa saja di sekitar anda saat ini sudah mendapat perhatian dan kebaikan anda hari ini?
Hidup adalah pilihan (dengan memilih kita akan hidup). Think Wise!
(Canberra 18 Desember 2009/ Seseorang yang kelak akan mengajarkan anak lelakinya bahwa menangis itu sehat dan tak salah.)
Anyway, tulisan kali ini memang tentang anak dan mungkin tak akan terstruktur dengan rapi karena toh aku suka lompat – lompat dengan ideku. Toh, ini hanya uneg – uneg yang perlu ‘kumuntahkan’ keluar, lah aku memang punya morning sickness yang gemar muntah dan mual kalo pagi apalagi kalo pagi dan harus naik bis selama hampir 1 jam ke tempat kerja tiap rabu dan kamis yang bawaannya langsung bukan hanya morning sickness tapi juga motion sickness jadi tiap keluar dari bis dan tiap tiba di tempat kerja, wastafel kamar mandi menjadi tempat wajib mengamati muka. Tapi yang pasti bukan karena mau punya anak ya, lha urusan itu lain lagi
Ngomong – ngomong tentang tempat kerja, aku malah teringat pada percakapanku dengan ibu MD, guru bahasa Indonesia di sekolahku, tentang anak. Kebetulan sih ibu MD juga guru dan pernah tinggal di Indonesia lebih dari 5 tahun ikut suaminya yang atase pertahanan bidang Angkatan Laut plus pernah 2 tahun tinggal dan mengajar di PNG dan juga kerap pindah – pindah negara karena tugas suaminya, serta punya 4 orang anak yang dua di antaranya kembar. Aku ingat bagaimana kami bercakap tentang dunia anak. Banyak sekali hal yang kudapatkan termasuk dalam bidang pendidikan dan buku anak. Tapi dalam tulisanku kali ini aku lebih membuatnya terbagi – bagi sebelum keburu hilang dari otak.
Fashion
Aku ingat benar bagaimana kuutarakan bahwa saat ini banyak sekali produk fashion yang bukan anak – anak, yang menurutku membuat anak kecil menjadi semacam korban fashion orang dewasa. Aku dan ibu MD sepakat bahwa anak – anak harus menjadi anak – anak. Anak – anak harus hidup dalam dunia mereka yang penuh fantasi dan tanpa batas untuk menjadi apa yang mereka pikirkan dan inginkan dan bukan korban fantasi orang dewasa. Aku bukannya tak suka pada dunia mode dan cara-melekatkan-selembar-kain-di-atas-tubuh, karena toh hobiku masih tetap suka membuat sketfsa fashion., yang aku maksudkan, aku tak suka dengan industri pakaian yang menargetkan anak – anak untuk menjadi serupa ataupun menjadi miniatur orang dewasa. Menjadi serupa.
Aku teringat bagaimana terkaget – kaget melihat fashion anak yang menurutku, memaksakan anak – anak menjadi lebih dewasa dari umur mereka. Bagaimana tidak, trend fashion orang dewasa yang lebih ‘berani’ yang mengekspos bagian – bagian tubuh yang sangat menarik secara seksual, dicontek mentah – mentah di fashion anak. Belum lagi dengan bahan pakaiannya.
Sebenarya kalo ditilik dari fungsi, sebenarnya apa sih yang dibutuhkan oleh anak – anak dalam berpakaian. Aku secara pribadi melihat masa anak – anak adakah waktu yang tepat untuk memberi kesempatan mereka megembangkan sensor saraf dan kemampuan motorik mereka. Mulai dari berlari, melompat hingga berenang. Yang aku pikir, anak – anak layak mendapatkan pakaian yang menyerap keringat, yang membuat mereka leluasa bergerak, yang tak menghambat perkembangan mereka.
Tapi coba lihat ke pasar, apa yang ditawarkan oleh industri pakaian? Yang sialnya, kita sebagai pengguna benar – benar termakan rayuan industri pakaian untuk menjadikan anak – anak kita korban fashion tak sehat. Aku sering miris melihat jenis – jenis sepatu masa kini yang kadang terlalu flat shoes alias beralas rata ataupun terlalu berhak tinggi bagi anak – anak. Padahal dari sebuah artikel kesehatan beberapa tahun lalu, bagi anak, fungsi alas kaki yang baik sangat berpengaruh pada kesehatan sendi mereka. Malah lebih baik kalo lebih sering diberi kesempatan kaki telanjang beberapa saat dan berjalan di medan tak rata. Mungkin bagi orang normal masalah sepatu bukan masalah, tapi bagi orang – orang sepertiku, alas kaki dan sepatu ataupun sandal, salah pakai sepatu bisa efek masuk rumah sakit karena masalah di saraf kaki yang ujung – ujungnya bisa efek ke tulang sendi dan pinggul.
Sudah saatnya memberi anak – anak yang terbaik bagi mereka, bukan yang dianjurkan oleh pakar fashion tapi cobalah kembali menilai ke fungsi dan manfaat kesehatan. Fashion sebaik apapun itu tetaplah menjalankan fungsi untuk menutupi tubuh kita., demi alasan kesehatan. Jangan pernah menggadaikan masa kanak – kanak seorang anak demi sebuah tren fashion. Think wise!
Makanan dan minuman
Mungkin untuk hal ini aku sangat keras pada keponakan – keponakanku dan kadang dulu menjadi hal yang sering membuatku berkelahi dengan ibu mereka. Tapi toh ada juga ipar yang keras kepala dan sering kami bertengkar karena hal ini. Bukannya apa, aku berpikir bahwa anak adalah masa emas yang menentukan seseorang ke depannya mo jadi apa, baik secara jasmani dan psikologis. Apa yang tertanam sejak masa kanak – kanak sangat berdampak besar pada perkembangan seorang manusia di masa mendatang.
Tentang makanan, coba tilik sekarang jajanan yang sering ditawarkan di pasaran? Mulai dari minuman tak sehat hingga jajanan yang hanya menang tampilan. Aku tak bilang bahwa kita tak boleh makan sesuatu yang dikemas dan diawetkan tapi bagaimana kita memakannya dan siapa yang layak memakannya.
Dulu aku sangat gemas dan kadang menjadi bahan pertengkaran melihat ipar yang memberikan minuman Frutang dan Soft drink pada keponakanku yang berumur kurang dari 2 tahun. Bagiku itu sebuah cara yang salah karena otak dan sel – sel keponakanku masih begitu baik dan kenapa harus direcoki dengan sejumlah pengawet. Begitu juga dengan es batu dan minuman dingin bagi keponakanku. Bagiku, makanan dan minuman dingin hanyalah sebuah pilihan dan bukannya sebuah kewajiban. Bagiku selagi bisa, semua makanan yang tak berada pada suhu kamar sebaiknya dikurangi konsumsinya bagi anak – anak.
Mungkin aku cukup ekstrem dalam makanan dan minuman karena toh aku sudah merasakan bagaimana pentingnya makanan bagi tubuh dan bagaimana efeknya bila tak dikontrol dengan baik. Aku merasakan era di mana karna asupan makanan yang salah bisa mempengaruhi kesehatan jangka panjang.
Aku cuma ingin bilang, sebelum terlambat, perhatikanlah apa yang masuk ke dalam tubuh anak. Jangan menunggu hingga diagnosa dokter menyatakan bahwa ada yang salah dengan anak karena faktor makanan. Seorang teman bapak pernah bercerita bahwa pangkat keponakan jauhnya harus diet makanan padahal baru berumur kurang dari 10 tahun karena terkena diabetes tipe 2 karena makanan yang tak sehat. Orang tuanya tak memberikan makanan yang tepat dan memberikan makanan cepat saji dan terlalu banyak mengikuti keinginan anak untuk jajan yang tak sehat.
Tentang mengikuti maunya anak, aku tahu bahwa kadang orang tua sulit membuat anak makan dan akhirnya memilih keinginan anak. Aku kok malah teringat bincang – bincang di meja makan kala kak Butet Manurung mengobrol denganku dan teman – teman tentang anak kecil yang harus dikejar – kejar untuk makan dan kadang butuh waktu berjam – jam memaksa mereka makan. Kak Butet dengan cuek bilang, “kalau kita terbiasa mengikuti apa yang mereka inginkan walaupun kita tahu makanan itu tak sehar, selamanya mereka akan begitu. Kenapa juga harus dikejar, biarkan mereka barang sekejap. Pada akhirnya mereka akan lapar juga dan pasti memilih makan. Semakin dikejar dan semakin dimanjakan malah semakin membuat mereka akan makin susah disuruh makan. Perkara makan itu perkara purba karena dilakukan demi bertahan hidup.” Aku setuju dalam perkara ini. Aku pikir peran orang tua ataupun kerabatlah yang menentukan bagaimana seorang anak menentukan nilai suatu makanan.
Tentang peran makanan, aku kok malah teringat pada perkataan pak Aser Rouw, seorang peneliti pertanian di Manokwari di sebuah catatanku ‘invasi lidah’ bahwa perkara makanan bukanlah masalah ‘modern’ atau ‘tradisional’ tapi tentang masalah pemenuhan gizi. Jadi aku pikir kitalah yang sangat berperan besar menentukan mau dibawa kemana ‘lidah’ anak kita. Kitalah yang berperan menentukan sikap pandang anak kita kelak, dan kitalah yang bertanggungjawab untuk kesehatan anak kita. Think wise!
Hiburan
Kalau untuk hal ini, aku jujur sangat tak suka dengan TV Indonesia yang cuma punya sedikit waktu untuk tayangan anak – anak. Apa karena anak – anak tak menguntungkan secara ekonomi? Entahlah ..
Bayangkan? Coba saja hitung dalam sehari ada berapa banyak tayangan sehat yang mendidik untuk anak – anak? Pasti sedikit. Belum lagi berapa banyak lagu yang diciptakan untuk anak – anak? Pasti sedikit.
Lalu apa yang ditawarkan pada anak – anak? Saudara bisa tanya pada keponakan – keponakan atau anak anda, berapa banyak lagu anak yang mereka tahu. Jangan – jangan malah lagu cinta terbaru dari band ternama saat ini, ataupun juga film yang mengumbar kekerasan, seks ataupun hedonisme berlebihan. Belum lagi sinetron cengeng yang tak masuk akal dan membuat anak – anak penuh curiga pada teman – temannya. Benar – benar tayangan dan hiburan yang tak mendidik.
Padahal masa anak – anak adalah masa emas perkembangan otak dan emosi mereka, karena semua respon dari luar disimpan dalam alam bawah sadar tanpa sebuah filter. Beda dengan orang dewasa yang masih punya waktu mempersepsikan dan menyimpan dalam memori jangka pendek sebelum dipilah masuk dalam storage long term memory. Bayangkan bila yang diisi dalam masa tumbuh kembang anak adalah lagu – lagu yang berisi sakit hati, dendam, selingkuh, patah hati, dan cinta tak sehat? Bayangkan bila yang diisi adalah adegan penuh ketakutan, kekerasan, seks, dan penipuan dan kekecewaan. Mau dibawa kemana generasi yang emosi dan memorinya tak disiapkan untuk menghargai hidup dengan lebih baik, yang menikmati hidup dalam kesederhanaan hidup itu sendiri?
Aku percaya masa kanak – kanak adalah masa di mana anak diberikan pemahaman dasar tentang hidup, tentang bagaimana menghargai tiap bentuk kehidupan, tentang menghargai relasi antar sesama, tentang bagaimana mengekspresikan emosi dengan benar dan tepat.
Aku percaya pada bagian ini kalian akan memrotesku tentang hiburan dan lain – lain. Bagiku, lebih baik membuang sedikit waktu dan usaha serta uang demi tumbuh kembang anak dibanding menerima yang ditawarkan arus. Ingat, hidup adalah pilihan. Mulailah dari hal – hal sederhana, ajak anak – anak anda bercerita, mendongenglah bagi mereka sebelum tidur, dengarkan mereka bercerita, ceritakan apa yang anda tahu tentang alam, misalnya tentang terjadinya hujan, ciptakan permainan – permainan rumah. Anda hanya perlu waktu dan sedikit kerja keras.
Ada banyak ide yang bisa dicoba untuk membuat hidup anda berkualitas. Anda tak perlu TV kadang – kadang untuk membuat hidup anak anda berwarna. Banyak ide simpel yang bisa dicoba, misalnya saja membuat film anda sendiri. Bisa memakai kamera digital sederhana dan merekam proses kehidupan rumah anda, dan diedit dengan software sederhana di komputer dan diubah formatnya dalam media yang bisa dipakai di rumah. Anda bisa membuat boneka kertas menjadi semacam drama miniatur yang bisa dipakai meransang imajinasi anak di rumah. Tak punya lagu anak? Mengapa tak mencoba menulis liriknya sendiri dan merekam di HP anda dan kemudian ajarkan anak anda menyanyikannya. Hidup adalah pilihan. Think Wise!
Aku masih punya banyak hal yang ingin kubagi tentang dunia anak karena bagiku anak adalah sebuah anugerah yang perlu disyukuri. Aku melihat bagaimana teman – teman di sekelilingku saat ini yang merindukan kelahiran anak dan berusaha semampu mereka untuk mempunyai anak tapi belum dianugerahi. Sedang di luar sana, banyak orang yang tak menganggap anak adalah anugerah. Betapa mirisnya.
Sudah saatnya anak – anak mendapat perhatian lebih dalam pembangunan di Papua. Sudah saatnya anak – anak Papua menjadi prioritas pembangunan karena mereka lah yang akan meneruskan ke arah mana tanah ini dibawa. Dengan menginvestasikan yang terbaik pada masa kini, maka kelak kita juga lah akan melihat bagaimana mereka menjadi generasi penerus yang mampu menjadi berkat.
Perubahan untuk kehidupan anak Papua bukan ada di masa depan, bukan ada pada abad mendatang, perubahan bukan diberikan oleh orang lain, bukan pula merupakan sebuah hibah. Perubahan bisa dilakukan bila kita, anda dan saya, berani membuat sebuah keputusan untuk memprioritaskan kehidupan anak hari ini. Jangan terlalu berpikir sulit, mulailah bertanya, apakah anak, baik anak anda sendiri, keponakan atau anak siapa saja di sekitar anda saat ini sudah mendapat perhatian dan kebaikan anda hari ini?
Hidup adalah pilihan (dengan memilih kita akan hidup). Think Wise!
(Canberra 18 Desember 2009/ Seseorang yang kelak akan mengajarkan anak lelakinya bahwa menangis itu sehat dan tak salah.)
Tuesday, 15 December 2009
Percaya!
Malam ini setelah merasa sedikit baikan usai beberapa hari lalu sempat drop (sempat pusing dan hampir jatuh usai perayaan natal masyarakat Papua; thanx kaka Yana untuk gerakan sigapnya menangkapku), setelah menghabiskan hari Minggu dengan tidur selama 17 jam lebih, usai menghabiskan hari memulihkan keadaan usai mimisan yang tak kunjung henti kemarin, usai bermalas – malasan dengan menonton film seharian, akhirnya hari ini merasa menemukan diriku kembali.
Beberapa hari ini aku bersyukur memperoleh pemahaman tentang hidupku lebih baik, tentang hubungan dengan sesama dan lawan jenis, tentang kesehatan dan diriku sendiri. Aku benar – benar bersyukur untuk hidupku karena pada akhirnya, Allah begitu baik dalam hidupku dan hidup adalah sebuah hal yang layak disyukuri.
Segala sesuatu yang dirancangkan Tuhan, baik adanya. Mungkin ungkapan ini tepat untuk hidupku saat ini. Usai stress dan gugup beberapa minggu lalu, akhirnya semua yang kuterima adalah yang terbaik. Pihak donor beasiswaku setuju aku transfer ke jurusan lain dan puji Tuhan, ternyata aku hanya butuh waktu 1 semester untuk bisa memperoleh gelar Master of Studies dan aku bersyukur karena ada mata kuliah yang kuambil yang berhubungan dengan rencana kerjaku di masa depan yang lebih berhubungan dengan pembangunan dan setidaknya mata kuliah lama juga tercakup dalam jurusan baru sehingga tak perlu dibuang. Jadi bidang ilmuku nanti lebih melihat studi terjemahan dari sisi makronya dan bagaimana relasinya dengan bahasa dalam konteks di Indonesia, dan Asia serta pembangunan dan masyarakat. Tak terlalu ke unsur intrinsik bahasa sendiri, lebih ke hubungan masyarakat dan peran bahasa. Aku bisa bilang bahwa aku menyukai jalan Tuhan seperti ini. Benar – benar sebuah keajaiban bagiku.
Aku juga bersyukur karena tentang bagaimana relasi antar sesama dan lawan jenis, aku dibukakan sekali lagi tentang sebuah kebenaran. Aku memang agak keras kepala dalam hal ini. Aku bukannya seorang ‘Thomas’ yang enggan percaya, tapi aku memang tipe orang yang ‘learning by doing’ jadi ya walau di jawaban doaku tiap kali yang kudengar adalah rasa tidak sejahtera untuk pergumulanku tentang seseorang ini tapi toh, aku tetap bilang, “tapi .. ini sa pu free will kan, Tuhan. Kali ini saja ya.” Aku berusaha mencoba membuat sebuah penawaran, sebuah bargaining. Tapi akhirnya kejadian kemarin membukakan mataku bahwa ‘He’s not the right man for me!’. Dia bukan yang tepat untukku. Pada titik ini, aku ingin bilang, “Terima kasih Bapa, Kau sungguh baik.”
Aku bersyukur diberi pemahaman bahwa tidur adalah sebuah terapi sejak jaman purba untuk memulihkan kesehatan. Aku bersyukur untuk 3 hari yang penuh acara tidur dan ternyata, energiku benar – benar diisi penuh. Terima kasih Tuhan telah menciptakan mekanisme alami dalam tubuh untuk mendinginkan mesin – mesin tubuh yang bekerja keras untuk menjalankan proses ‘produksi’ yang bernama hidup. Terima kasih karena semua ‘mesin hidup’ masih bekerja dengan baik, mulai dari jantung, paru – paru, hati hingga otak dan juga sensor kulit.
Akhirnya aku ingin bilang bahwa apapun yang terjadi pada anda hari ini, seburuk apapun itu, percayalah (bahwa akan ada jalan keluar terbaik). Saat ini anda hanya sedang berjalan dalam sebuah lorong gelap yang pada akhirnya tetap di ujung sana ada jalan keluarnya, dan percayalah … saat ini ada Tuhan yang sedang memegang tangan anda. Satu kata saja: Percaya!
(Campbell, Canberra/ 17 Desember 2009; dari yang merasa diberkati)
Beberapa hari ini aku bersyukur memperoleh pemahaman tentang hidupku lebih baik, tentang hubungan dengan sesama dan lawan jenis, tentang kesehatan dan diriku sendiri. Aku benar – benar bersyukur untuk hidupku karena pada akhirnya, Allah begitu baik dalam hidupku dan hidup adalah sebuah hal yang layak disyukuri.
Segala sesuatu yang dirancangkan Tuhan, baik adanya. Mungkin ungkapan ini tepat untuk hidupku saat ini. Usai stress dan gugup beberapa minggu lalu, akhirnya semua yang kuterima adalah yang terbaik. Pihak donor beasiswaku setuju aku transfer ke jurusan lain dan puji Tuhan, ternyata aku hanya butuh waktu 1 semester untuk bisa memperoleh gelar Master of Studies dan aku bersyukur karena ada mata kuliah yang kuambil yang berhubungan dengan rencana kerjaku di masa depan yang lebih berhubungan dengan pembangunan dan setidaknya mata kuliah lama juga tercakup dalam jurusan baru sehingga tak perlu dibuang. Jadi bidang ilmuku nanti lebih melihat studi terjemahan dari sisi makronya dan bagaimana relasinya dengan bahasa dalam konteks di Indonesia, dan Asia serta pembangunan dan masyarakat. Tak terlalu ke unsur intrinsik bahasa sendiri, lebih ke hubungan masyarakat dan peran bahasa. Aku bisa bilang bahwa aku menyukai jalan Tuhan seperti ini. Benar – benar sebuah keajaiban bagiku.
Aku juga bersyukur karena tentang bagaimana relasi antar sesama dan lawan jenis, aku dibukakan sekali lagi tentang sebuah kebenaran. Aku memang agak keras kepala dalam hal ini. Aku bukannya seorang ‘Thomas’ yang enggan percaya, tapi aku memang tipe orang yang ‘learning by doing’ jadi ya walau di jawaban doaku tiap kali yang kudengar adalah rasa tidak sejahtera untuk pergumulanku tentang seseorang ini tapi toh, aku tetap bilang, “tapi .. ini sa pu free will kan, Tuhan. Kali ini saja ya.” Aku berusaha mencoba membuat sebuah penawaran, sebuah bargaining. Tapi akhirnya kejadian kemarin membukakan mataku bahwa ‘He’s not the right man for me!’. Dia bukan yang tepat untukku. Pada titik ini, aku ingin bilang, “Terima kasih Bapa, Kau sungguh baik.”
Aku bersyukur diberi pemahaman bahwa tidur adalah sebuah terapi sejak jaman purba untuk memulihkan kesehatan. Aku bersyukur untuk 3 hari yang penuh acara tidur dan ternyata, energiku benar – benar diisi penuh. Terima kasih Tuhan telah menciptakan mekanisme alami dalam tubuh untuk mendinginkan mesin – mesin tubuh yang bekerja keras untuk menjalankan proses ‘produksi’ yang bernama hidup. Terima kasih karena semua ‘mesin hidup’ masih bekerja dengan baik, mulai dari jantung, paru – paru, hati hingga otak dan juga sensor kulit.
Akhirnya aku ingin bilang bahwa apapun yang terjadi pada anda hari ini, seburuk apapun itu, percayalah (bahwa akan ada jalan keluar terbaik). Saat ini anda hanya sedang berjalan dalam sebuah lorong gelap yang pada akhirnya tetap di ujung sana ada jalan keluarnya, dan percayalah … saat ini ada Tuhan yang sedang memegang tangan anda. Satu kata saja: Percaya!
(Campbell, Canberra/ 17 Desember 2009; dari yang merasa diberkati)
Tuesday, 8 December 2009
Berharap kepada Tuhan
Menarik sekali! Itu komentar saya untuk catatan yang saya ambil dari http://renungan-harian-kita.blogspot.com/ hari ini saat merasa begitu berat menunggu untuk seminggu ini tanpa kepastian.
Sa berharap, apapun yang terjadi, keputusan apapun yang diberikan tanggal 14 besok, sa masih kuat dan tetap semangat.
Saat ini sa benar – benar ingin berteriak kencang, “Yesus, sa butuh Ko. Sa butuh ko pu pertolongan. Butuh dukungan.”
Hari ini sa merasa bahwa sa berada di titik di mana sa benar – benar lemah sekali, benar – benar merasa … “ooowww, macam su mo selesai semua ka ini.” Benar – benar merasa lemah sekali, benar – benar merasa tra sanggup ka ini. Mulai dari pikir harus selesaikan kontrak komunikasi untuk internet dan telpon, masih harus urus tiket domestik kalo seandainya jadi pulang, masih harus urus surat keterangan surat kuasa untuk pembayaran kerja dan lain – lain, belum lagi pikir harus menyortir barang – barang hingga 23 KG saja, pokoknya pusing pikir ini – itu. Berada pada titik kulminasi dan siap untuk melompat dan jungkir balik rasanya.
Hari ini dari pagi, sa berusaha untuk bisa atasi stress yang mulai masuk dalam mimpi dan jadi sa mimpi buruk berapa malam ini, bangun dan bersantai. Saat siang sedikit dan rencana pi ke gereja untuk kumpul kado untuk program kado natal untuk anak – anak yang kurang beruntung, eee di atas bis, ada telpon dari kantor Liaison Officer untuk konfirmasi tiket kepulangan karena harus jaga – jaga ka ini. Langsung emosi kaco setengah mati.
Akhirnya usai dari pi konfirmasi dengan liaison officer, sa pun putuskan untuk nonton film dulu, untuk tenangkan hati. Tapi sekali lagi selama acara nonton film terbaru tuh, eee malah sa yang tra relaks, tra bisa tenang. Macam ada beban bokar yang tergantung besar – besar di sapu depan kepala ka, macam rasa tra sejahtera sekali. Macam rasa gagal tuh coba konsumsi sapu akal sehat dan bikin sa macam pikiran langsung tadi pas pulang dari bioskop.
Akhirnya, pulang dari acara nonton, yang ada sa menangis Bombay beberapa saat di kamar. Saat menangis, sa ingat kalau sa belum berdoa, belum baca Alkitab. Mana macam ada suara di kepala yang tinggal bilang, “ayo baca Firman Tuhan dulu eee. Ayo!” Akhirnya, sa give up sapu otak- bikin- diri- keras dan berdoa tadi dan baca Alkitab dan ketemu beberapa ayat yang sangat menguatkan sa hari ini, usai sejam lalu berdoa. Hari ini sa ketemu banyak pembacaan di pasal – pasal Mazmur. Ayat – ayatnya antara lain yang macam benar – benar menggambarkan sa pu mood dan situasi hari ini tuh,
#Mazmur 40: 12
#Mazmur 37: 34
Tapi yang benar – benar menguatkan sa tuh yang tentang taruh harapan pada Tuhan dan patuhi perintah-Nya ka ini.
Jadi pas selesai baca Alkitab dan berdoa sa merasa nyaman dan sejahtera, jadi sa putuskan untuk browsing renungan – renungan harian dan kesaksian. E ketemu yang menguatkan sa dan membuat sa berpikir sendiri tentang sapu hidup dan untuk memandang kegagalan ini dan juga melihat ke dalam sapu hidup sendiri, apa yang sa cari dalam hidup ka ini. Tentu saja browsing dan baca sambil menulis catatan ini, sambil ditemani lagu rohani yang benar – benar membuat sa mood penuh kedamaian, sa bisa bilang lagi dalam tahap sukacita 100% karena Yesus, merasa sukacita usai diberikan sukacita dan pengharapan.
Saat ini sa ingin bilang sama Yesus, “Terima kasih karena mengijinkan sa berada pada situasi seperti ini. Terima kasih untuk semua berkat yang mengalir dalam sa hidup yang kadang sa lupa untuk hitung dan ucap syukur karena terlena dengan apa yang ditawarkan dunia. Sa terima kasih karena Ko masih kase sa kesempatan untuk hidup, untuk bernafas dan melihat hidup dari kacamata yang berbeda. Terima kasih Yesus. Satu yang pasti, sa tetap tra bisa hidup tanpa Ko, karena sa tahu tanpa Ko dalam sa hidup, sa su mati secara spiritual.”
Jadi, hari ini apapun masalah saudara/i, jangan sampe lupa untuk melihat ke atas, maksudnya ke Yesus. Semua masalah pasti ada karena toh tong masih hidup di dunia kecuali tong su ganti warga negara jadi warga negara di surga ka boleh ^_^ Sekarang ini masalah pilihan saja. Mo pilih bersukacita atau pilih stress dan larut dalam kesedihan. Hari ini sa mo bilang sama sa masalah – masalah, “sa memilih untuk bersukacita. Jadi, maaf, sa trada tempat untuk kam di dalam sapu otak eee. Sa tahu kam ada dan eksis tapi sa percaya sapu Yesus yang akan kase sa jalan keluar.”
Btw, sa mo bagikan catatan yang cukup membuat sa berpikir tadi, untuk merenung tentang sa pu arti hidup ka ini.
http://renungan-harian-kita.blogspot.com/
SABTU, 05 DESEMBER 2009
Filsafat Bolak Balik
Mari kita renungkan....
Masih muda, korbankan kesehatan cari harta.
Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan
Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara
Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing
Orang kaya mampu beli ranjang enak,
tapi gak bisa tidur enak (stress...euiii)
Orang miskin gak mampu beli ranjang enak,
tapi bisa tidur enak (karena capek jadi kuli…)
Orang kaya punya duit buat foya-foya,
tapi gak punya waktu
Orang miskin punya waktu buat foya-foya,
tapi gak punya duit
Masih muda pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan
Udah kaya gak punya waktu buat nikmatin kekayaan
Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan
udah keburu tua gak ada tenaga
Mau.. jalanin hidup seperti itu???
(Campbell, Canberra/ 8 Desember 2009)
Sa berharap, apapun yang terjadi, keputusan apapun yang diberikan tanggal 14 besok, sa masih kuat dan tetap semangat.
Saat ini sa benar – benar ingin berteriak kencang, “Yesus, sa butuh Ko. Sa butuh ko pu pertolongan. Butuh dukungan.”
Hari ini sa merasa bahwa sa berada di titik di mana sa benar – benar lemah sekali, benar – benar merasa … “ooowww, macam su mo selesai semua ka ini.” Benar – benar merasa lemah sekali, benar – benar merasa tra sanggup ka ini. Mulai dari pikir harus selesaikan kontrak komunikasi untuk internet dan telpon, masih harus urus tiket domestik kalo seandainya jadi pulang, masih harus urus surat keterangan surat kuasa untuk pembayaran kerja dan lain – lain, belum lagi pikir harus menyortir barang – barang hingga 23 KG saja, pokoknya pusing pikir ini – itu. Berada pada titik kulminasi dan siap untuk melompat dan jungkir balik rasanya.
Hari ini dari pagi, sa berusaha untuk bisa atasi stress yang mulai masuk dalam mimpi dan jadi sa mimpi buruk berapa malam ini, bangun dan bersantai. Saat siang sedikit dan rencana pi ke gereja untuk kumpul kado untuk program kado natal untuk anak – anak yang kurang beruntung, eee di atas bis, ada telpon dari kantor Liaison Officer untuk konfirmasi tiket kepulangan karena harus jaga – jaga ka ini. Langsung emosi kaco setengah mati.
Akhirnya usai dari pi konfirmasi dengan liaison officer, sa pun putuskan untuk nonton film dulu, untuk tenangkan hati. Tapi sekali lagi selama acara nonton film terbaru tuh, eee malah sa yang tra relaks, tra bisa tenang. Macam ada beban bokar yang tergantung besar – besar di sapu depan kepala ka, macam rasa tra sejahtera sekali. Macam rasa gagal tuh coba konsumsi sapu akal sehat dan bikin sa macam pikiran langsung tadi pas pulang dari bioskop.
Akhirnya, pulang dari acara nonton, yang ada sa menangis Bombay beberapa saat di kamar. Saat menangis, sa ingat kalau sa belum berdoa, belum baca Alkitab. Mana macam ada suara di kepala yang tinggal bilang, “ayo baca Firman Tuhan dulu eee. Ayo!” Akhirnya, sa give up sapu otak- bikin- diri- keras dan berdoa tadi dan baca Alkitab dan ketemu beberapa ayat yang sangat menguatkan sa hari ini, usai sejam lalu berdoa. Hari ini sa ketemu banyak pembacaan di pasal – pasal Mazmur. Ayat – ayatnya antara lain yang macam benar – benar menggambarkan sa pu mood dan situasi hari ini tuh,
#Mazmur 40: 12
#Mazmur 37: 34
Tapi yang benar – benar menguatkan sa tuh yang tentang taruh harapan pada Tuhan dan patuhi perintah-Nya ka ini.
Jadi pas selesai baca Alkitab dan berdoa sa merasa nyaman dan sejahtera, jadi sa putuskan untuk browsing renungan – renungan harian dan kesaksian. E ketemu yang menguatkan sa dan membuat sa berpikir sendiri tentang sapu hidup dan untuk memandang kegagalan ini dan juga melihat ke dalam sapu hidup sendiri, apa yang sa cari dalam hidup ka ini. Tentu saja browsing dan baca sambil menulis catatan ini, sambil ditemani lagu rohani yang benar – benar membuat sa mood penuh kedamaian, sa bisa bilang lagi dalam tahap sukacita 100% karena Yesus, merasa sukacita usai diberikan sukacita dan pengharapan.
Saat ini sa ingin bilang sama Yesus, “Terima kasih karena mengijinkan sa berada pada situasi seperti ini. Terima kasih untuk semua berkat yang mengalir dalam sa hidup yang kadang sa lupa untuk hitung dan ucap syukur karena terlena dengan apa yang ditawarkan dunia. Sa terima kasih karena Ko masih kase sa kesempatan untuk hidup, untuk bernafas dan melihat hidup dari kacamata yang berbeda. Terima kasih Yesus. Satu yang pasti, sa tetap tra bisa hidup tanpa Ko, karena sa tahu tanpa Ko dalam sa hidup, sa su mati secara spiritual.”
Jadi, hari ini apapun masalah saudara/i, jangan sampe lupa untuk melihat ke atas, maksudnya ke Yesus. Semua masalah pasti ada karena toh tong masih hidup di dunia kecuali tong su ganti warga negara jadi warga negara di surga ka boleh ^_^ Sekarang ini masalah pilihan saja. Mo pilih bersukacita atau pilih stress dan larut dalam kesedihan. Hari ini sa mo bilang sama sa masalah – masalah, “sa memilih untuk bersukacita. Jadi, maaf, sa trada tempat untuk kam di dalam sapu otak eee. Sa tahu kam ada dan eksis tapi sa percaya sapu Yesus yang akan kase sa jalan keluar.”
Btw, sa mo bagikan catatan yang cukup membuat sa berpikir tadi, untuk merenung tentang sa pu arti hidup ka ini.
http://renungan-harian-kita.blogspot.com/
SABTU, 05 DESEMBER 2009
Filsafat Bolak Balik
Mari kita renungkan....
Masih muda, korbankan kesehatan cari harta.
Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan
Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara
Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing
Orang kaya mampu beli ranjang enak,
tapi gak bisa tidur enak (stress...euiii)
Orang miskin gak mampu beli ranjang enak,
tapi bisa tidur enak (karena capek jadi kuli…)
Orang kaya punya duit buat foya-foya,
tapi gak punya waktu
Orang miskin punya waktu buat foya-foya,
tapi gak punya duit
Masih muda pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan
Udah kaya gak punya waktu buat nikmatin kekayaan
Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan
udah keburu tua gak ada tenaga
Mau.. jalanin hidup seperti itu???
(Campbell, Canberra/ 8 Desember 2009)
Labels:
self - reflection,
Summer story 2009 - 2010,
X story
Sunday, 6 December 2009
Invasi Lidah
Hari ini karena pola tidur yang berubah sejak beberapa hari lalu karena kurang tidur, aku benar – benar berada pada fase mencari-bentuk-tidur-yang-lama dan akhirnya begadang kembali. Kemarin pagi baru bisa tidur pukul 6 pagi, akhirnya jam tidur berubah dan terpaksa baru bangun jam 7 malam, itupun dengan badan malas – malasan. Tapi karena musim panas dan matahari masih menggantung dengan riang di luar rumah dan baru terbenam pukul 9 malam, maka aku pun dengan cuek sibuk ke dapur dan berburu makanan.
Ritualku hari ini masih seperti biasa, setiap tanggal ganjil, aku harus menyiram tanaman. Aku tinggal di rumah bernomor ganjil sehingga jadwal penyiraman tanaman baru bisa dilakukan tiap dua hari sekali tiap hari bertanggal ganjil disesuaikan dengan nomor rumah. Untunglah saat ini, persediaan air di Canberra masih banyak sehingga water restriction (batas penggunaan air) masih di level 3, sehingga masih boleh mandi lebih dari 4 menit dan masih boleh menyiram tanaman tiap 2 hari dan untungnya belum mencapai level 5 yang artinya bila pada tahap ini, larangan mandi hanya boleh 2 menit tiap hari ^_^. Benar – benar sebuah perbedaan besar kala dibandingkan masih tinggal di Manokwari yang airnya bisa kuakses 24 jam lancar karena punya sumur sendiri.
Karena perutku kelaparan karena kebanyakan tidur, aku pun mulai sibuk memasukan jagung mentah ke dalam microwave dan untunglah hasilnya sama persis dengan jagung rebus hanya lebih gurih. Iseng – iseng sambil makan jagung rebus ala microwave, aku pun teringat pembicaraan dengan sahabat lamaku pada acara rapat panitia natal komunitas Papua tadi malam; tentang krisis pangan, kebijakan pertanian di Papua dan perubahan iklim, pangan dan bahasa, hingga pada hegemoni konsep berpikir tentang makanan. Aku pun sampai pada pertanyaan yang sempat kuutarakan tadi malam, “Kenapa tong orang Papua harus bergantung pada beras ka nasi sebagai tong pu makanan pokok ka? Kenapa tong tra bisa macam tong pu moyang – moyang dong ka? Bukannya ini sebuah perubahan yang mengubah segalanya hingga budaya kan?”
Bicara tentang makanan apalagi tentang peran nasi atau beras saat ini yang menjadi makanan pokok di Papua, aku sempat nelangsa saat membaca laporan dan prediksi badan – badan sosial yang mengurusi masalah pangan, bahkan kalau tak salah ada indikasi hubungan rawan pangan alias krisis pangan dunia di masa mendatang karena perubahan iklim akhir – akhir ini. Aku ingin memberikan pendapat pribadiku tentang hal ini yang kubagi dalam tiap sesi pemikiran, tak harus diterima mentah – mentah bahkan aku mengharapkan ada yang mengkritikku dan mengatakan bahwa ini tak benar karena jujur aku benar – benar takut kalau suatu hari kelaparan besar itu akan terjadi lagi, seperti di masa kehidupan Yusuf di tanah Mesir. Benar – benar miris.
Perubahan iklim dan krisis pangan
Saat ini banyak orang sibuk berbicara tentang perubahan iklim, pemanasan global dan lain – lain, dan aku percaya tiap orang punya alasan untuk mengampanyekan mengapa kita harus peduli. Bagiku pribadi dan juga salah satu alasan mengapa sebelum datang berkuliah di benua terselatan ini aku pun dengan teman – temanku sibuk bicara tentang perubahan iklim dan lain – lain karena alasan ketahanan pangan, “masalah urusan perut ya!”.
Pernah tidak kalian berpikir, dengan adanya perubahan iklim yang berubah – ubah, manusia memang merasakannya, tapi manusia masih bisa melarikan diri kadang – kadang, dan mengakalinya tapi tidak dengan tanaman, apalagi lahan pertanian. Di Indonesia, apalagi di Papua, nasi hingga saat ini masih jadi makanan pokok dan nasi diperoleh dari padi. Untuk menanam padi, dibutuhkan musim yang tepat dan bukan asal tanam saja, harus dipikirkan pengairannya, dibutuhkan pencegahan hamanya dan lain – lain, pokoknya rumit sekali.
Padi yang begitu rumit penanamannya ini toh ternyata masih diimpor dari negara lain karena toh kebijakan pertanian di Indonesia yang ternyata lebih memilih membangun banyak pertokoan dan mall dibanding lahan pertanian ^_^. Padahal, kalau dilihat lahan pertanian sebenarnya bisa diusahakan lebih banyak guna pemanfaatan dan swasembada pangan. Bukannya apa, indikasi yang kubaca dari beberapa artikel mengatakan apabila perubahan iklim dan pemanasan global berlangsung semakin lama, maka ketahanan pangan akan terjadi di seluruh dunia dan dampak paling keras adalah pada tanaman – tanaman pemberi bahan makanan pokok, mulai dari gandum, padi hingga sorghum dan jagung. Akan tetapi, padi menjadi pokok pembicaraan karena membutuhkan air dan lahan tertentu.
Dikhawatirkan, apabila terjadi krisis pangan, maka negara – negara yang selama ini menjadi pengekspor beras malah akan berusaha mencukupi kebutuhan dalam negerinya sendiri. Kalau hal ini sampai terjadi, maka yang akan terjadi pada negara pengimpor beras seperti Indonesia dapat diprediksi, bukan? Aku pikir pada pertanyaan ini, kalian bisa mengasumsikan sendiri keadaan di mana jutaan orang di negara ini memandang kelangkaan makanan pokok ini.
Pangan dan bahasa
Pernahkan kalian berpikir, barapa banyak kata dalam bahasa di dalam bahasa Papua yang mengandung unsur makanan, ataupun tanaman dan hewan yang bisa dimakan? Semester lalu dalam mata kuliah semantic tentang studi makna kata, aku diperkenalkan dengan istilah ‘folk biology’ yang belajar tentang bagaimana masyarakat lokal menyebutkan tentang tumbuhan maupun hewan dalam bahasa mereka sendiri. Nah aku semakin tertarik karena dari buku yang kupinjam dan kubaca beberapa minggu lalu berjudul “A short grammar of Inanwatan” tulisan seorang ahli bahasa dari Belanda yang diterbitkan oleh universitasku, kudapatkan satu bab tentang kata – kata yang berhubungan dengan bahan makanan dalam hal ini tentang sagu.
Aku semakin berpikir bahwa dalam setiap suku, selalu saja ada daftar kosa kata yang lumayan banyak tentang makanan karena toh salah satu kebutuhan dasar manusia adalah makanan. Maka terlepas dari seberapa ‘tinggi’ peradaban suatu suku bangsa, makanan tetap menjadi topik mendasar yang ada dalam tiap bahasa. Kata – kata yang berkenaan tentang makanan bervariasi tergantung pada pola hidup masyarakat suku tersebut. Pada bagian ini, aku pikir bahwa setiap suku begitu bijak menciptakan kata- kata untuk mengasosiasikan makanan. Salut!
Papua: Makanan, gengsi dan gaya hidup
Bicara tentang makanan, aku teringat pembicaraan mama Ipa Betay - Ayamiseba (istri seorang personel band Black Brother) denganku kemarin malam, beliau mengatakan bahwa sewaktu ia liburan ke Jayapura, ia ingin sekali makan ‘sinole’ (sejenis makanan olahan dari sagu) tetapi tak bisa mendapatkannya. Hingga ia diberitahukan saudaranya kalau sudah sangat jarang orang membuat sinole dan dijual. Beliau yang menghabiskan hidupnya lebih banyak di luar negeri mengatakan bahwa ia merindukan makanan Papua yang dulu sering ia makan.
Aku kemudian berpikir bahwa saat ini, kita generasi Papua lebih merasa ‘bergengsi’ dan ‘gaul’ kalau bisa makan di KFC, makan Pizza, makan steak dan lain – lain dibandingkan makanan asli Papua. Saat ini di tanah Papua, tak hanya gerai – gerai makanan franchise luar negeri seperti KFC tapi mulai dari makanan ala Jepang dan lain – lain hingga makanan yang dibawa dari kebudayaan lain. Sebuah ‘invasi lidah’!!!
Mungkin kita tak pernah menyadari bahwa kita sedang terkena sebuah hegemoni: hegemoni makanan. Dalam mata kuliahku semester lalu tentang hubungan antara ideology, peran kekuasaan (power) dan bahasa dalam kehidupan masyarakat, dikatakan dalam hubungan power dalam masyarakat, ada yang namanya ‘rule’ dan ‘hegemony’. Intinya, ‘rule’ adalah saat kekuasaan kelihatan dengan jelas, sedangkan ‘hegemony’ secara halus dan kemudian pihak yang terkena efek hegemoni-lah yang menerimanya walau tak sadar bahwa ia sedang menerima dikuasai oleh sesuatu secara tak langsung.
Dalam hal makanan, kita lebih condong menerima makanan dari luar dibanding makanan khas kita sendiri. Aku sering miris membaca tulisan teman yang bekerja dengan masyarakat marjinal yang mengatakan bahwa para mama Papua di tempat kerjanya harus bekerja keras menjual hasil kebun mereka untuk membeli beras karena anak – anaknya tak mau makan hasil kebun. Para mama ini terpaksa menahan panas demi menjual hasil kebun mereka di lantai – lantai tanah di pasar tradisional. Uang yang mereka dapatkan selain membeli beras juga untuk membeli jajanan bakso dan lain – lain.
Pada bagian ini aku bisa bilang bahwa “tong dijajah lewat makanan!”.
Aku tak ingin memprovokasi kalian, aku hanya ingin bilang bahwa sudah saatnya kita sebagai generasi muda Papua membuka mata tentang hegemoni ini. Kalau sampai krisis pangan terjadi, maka kita akan siap menuai hasilnya.
Aku percaya Papua adalah tanah yang diberkati. Tuhan tak membiarkan moyang – moyang kita tinggal di tanah ini tanpa menyediakan makanan. Lihat, dusun – dusun sagu tumbuh dengan alami dan melimpah sejak jaman purba, keladi, petatas, pisang, dan kasbi ditumbuhkan dengan subur, tapi lihat fenomena yang terjadi sekarang. Keserakahan manusia mengubah segalanya. Sudah berapa banyak lahan sagu, lahan keladi dan petatas, pisang plus kasbi dikonversi demi tambang dan eksplorasi alam lainnya? Sudah berapa banyak kita menjual ‘hak kesulungan’ pada dusun – dusun sagu dan lahan pertanian itu demi segepok uang yang akan habis dalam hitungan hari? Entahlah, yang pasti aku tahu bahwa bumi kita kaya.
Aku percaya bahwa kita masih punya waktu untuk membuat perubahan. Pada bagian ini aku tiba – tiba teringat salah seorang tokoh yang kukagumi: Mahatma Gandhi. Pernahkan kalian mendengar tentang revolusi garam di India? Aku suka saat Gandhi menyerukan bahwa sudah saatnya rakyatnya mengolah apa yang bisa mereka olah dan memakai produk dalam negeri mereka melawan penjajahan Inggris, dan lihat sekarang, industri India cukup berderak lancar.
Aku bukan Gandhi, tapi aku ingin bilang bahwa masih banyak cara untuk membuat perubahan bagi kehidupan dan ketahanan pangan di masa mendatang bagi tanah Papua, hingga tak perlu lagi mendengar ada rawan pangan di suatu daerah di tanah ini. Aku tahu pemikiranku ini tak begitu canggih tapi aku percaya, sesuatu yang kecil yang dilaksanakan dengan baik, akan bisa membawa sesuatu yang baik di masa mendatang dibandingkan sesuatu yang besar yang dilaksanakan secara instant.
#1. Ubah sikap dan cara pandang akan makanan lokal
Mulai sekarang mulailah lebih menghargai makanan lokal di Papua, mulai dari Papeda, ikan kuah kuning hingga keladi tumbu. Sikap kita akan sangat memengaruhi pengambilan kebijakan.
Bayangkan bila kita lebih menganggap bahwa bakso, ayam goreng KFC dan lain – lain lebih bergengsi, maka pola konsumsi dan pengeluaran kita akan lebih banyak menguntungkan siapa? Aku pikir kalian bisa lebih jeli melihat hal ini.
Aku makin cinta makanan lokal Papua saat berada di Jakarta dan di Australia karena aku benar – benar rindu makan daun papaya, daun petatas, apalagi gedi saat di sini, begitu eksotis. Bahkan kadang rela membeli jantung pisang kecil walau seharga AUD $9.95 ($ 1 = Rp. 8. 300,-) kalau benar – benar rindu makanan yang kukenal sejak kecil. Kadang juga bersama teman – teman sibuk membuat papeda dari tepung kentang karena ‘mati makan papeda’ dan mengganti ikan kuah kuning dengan potongan kepala ikan Salmon. Bagiku dan teman – teman di sini, ‘makanan Papua trada yang blok. Iris!’
#2. Revolusi pangan
Aku pikir sudah saatnya teman – teman yang bekerja di departemen pertanian ataupun berafiliasi dengan kebijakan dapat merancang peraturan ataupun membuat program ketahanan pangan yang lebih berbasis budaya lokal.
Aku pernah membaca bahwa padi hanya salah satu alternatif, karena Papua toh sudah kaya dengan makanan pokok sejak jaman dahulu. Kalian mungkin tak bisa melihat ekspresi iri-ku melihat produk – produk Fiji dan Vanuatu yang membanjiri pasar Australia, mulai dari ‘cassava, product of Fiji” alias kasbi produk Fiji hingga keladi produk Samoa dan lain – lain. Aku sempat heran, kapan ya kita bisa mengekspor produk kita sendiri. Bukan hanya kripik keladi tapi juga produk lainnya.
Aku pernah membaca bahwa sukun alias bread fruit, salah satu tanaman asli Pasifik adalah alternatif yang pernah ditawarkan cuma saat ini aku tak pernah mendengar gebrakan pemerintah lokal di Papua untuk tanaman ini. Dari penelitian yang kubaca, sukun tak hanya bisa digoreng atau direbus, tapi bisa dibuat tepung. Bayangkan apabila sukun, keladi, petatas, sagu dan pisang dan lainnya dibudidayakan dan dimaksimalkan dengan baik, maka kita tak perlu lagi menjadi masyarakat yang bergantung pada beras.
Mungkin saat ini kalian masih merasa susah untuk mengganti pola makan kalian, aku sudah membuat pola makan ini sejak di Australia dengan menyisakan 2 hari dari seminggu untuk makanan pokok non nasi, roti ataupun kentang yaitu dengan mengonsumsi petatas, keladi, ataupun jagung. Aku berharap dengan begini maka perutku akan terbiasa memakan ‘hasil kebun’.
Aku cukup bangga dengan moyangku yang tidak menyantap nasi karena mereka toh tak pernah punya masalah dengan gula darah mereka dan tak pernah terserang diabetes dan lain – lain dan juga penyakit – penyakit aneh lainnnya yang timbul karena pola dan jenis makanan yang salah.
Satu yang pasti, aku ingin segera pulang dan mengajarkan keponakan – keponakan kecilku untuk pola makan non-nasi secepat mungkin agar tak harus memanen sakit yang salah karena pola makan.
Aku bermimpi suatu hari nanti, kita dapat dikenal bukan karena hal – hal negatif yang dilabel orang tetapi karena produk makanan lokal kita. Aku bermimpi suatu hari nanti, kala aku berada di sebuah tempat di belahan lain planet ini, kala berkunjung ke sebuah grocery, aku membaca tulisan label makanan berlabel, “Kasbi: A product of West Papua”.
(Sebuah subuh di Canberra/ 6 December 2009)
Ritualku hari ini masih seperti biasa, setiap tanggal ganjil, aku harus menyiram tanaman. Aku tinggal di rumah bernomor ganjil sehingga jadwal penyiraman tanaman baru bisa dilakukan tiap dua hari sekali tiap hari bertanggal ganjil disesuaikan dengan nomor rumah. Untunglah saat ini, persediaan air di Canberra masih banyak sehingga water restriction (batas penggunaan air) masih di level 3, sehingga masih boleh mandi lebih dari 4 menit dan masih boleh menyiram tanaman tiap 2 hari dan untungnya belum mencapai level 5 yang artinya bila pada tahap ini, larangan mandi hanya boleh 2 menit tiap hari ^_^. Benar – benar sebuah perbedaan besar kala dibandingkan masih tinggal di Manokwari yang airnya bisa kuakses 24 jam lancar karena punya sumur sendiri.
Karena perutku kelaparan karena kebanyakan tidur, aku pun mulai sibuk memasukan jagung mentah ke dalam microwave dan untunglah hasilnya sama persis dengan jagung rebus hanya lebih gurih. Iseng – iseng sambil makan jagung rebus ala microwave, aku pun teringat pembicaraan dengan sahabat lamaku pada acara rapat panitia natal komunitas Papua tadi malam; tentang krisis pangan, kebijakan pertanian di Papua dan perubahan iklim, pangan dan bahasa, hingga pada hegemoni konsep berpikir tentang makanan. Aku pun sampai pada pertanyaan yang sempat kuutarakan tadi malam, “Kenapa tong orang Papua harus bergantung pada beras ka nasi sebagai tong pu makanan pokok ka? Kenapa tong tra bisa macam tong pu moyang – moyang dong ka? Bukannya ini sebuah perubahan yang mengubah segalanya hingga budaya kan?”
Bicara tentang makanan apalagi tentang peran nasi atau beras saat ini yang menjadi makanan pokok di Papua, aku sempat nelangsa saat membaca laporan dan prediksi badan – badan sosial yang mengurusi masalah pangan, bahkan kalau tak salah ada indikasi hubungan rawan pangan alias krisis pangan dunia di masa mendatang karena perubahan iklim akhir – akhir ini. Aku ingin memberikan pendapat pribadiku tentang hal ini yang kubagi dalam tiap sesi pemikiran, tak harus diterima mentah – mentah bahkan aku mengharapkan ada yang mengkritikku dan mengatakan bahwa ini tak benar karena jujur aku benar – benar takut kalau suatu hari kelaparan besar itu akan terjadi lagi, seperti di masa kehidupan Yusuf di tanah Mesir. Benar – benar miris.
Perubahan iklim dan krisis pangan
Saat ini banyak orang sibuk berbicara tentang perubahan iklim, pemanasan global dan lain – lain, dan aku percaya tiap orang punya alasan untuk mengampanyekan mengapa kita harus peduli. Bagiku pribadi dan juga salah satu alasan mengapa sebelum datang berkuliah di benua terselatan ini aku pun dengan teman – temanku sibuk bicara tentang perubahan iklim dan lain – lain karena alasan ketahanan pangan, “masalah urusan perut ya!”.
Pernah tidak kalian berpikir, dengan adanya perubahan iklim yang berubah – ubah, manusia memang merasakannya, tapi manusia masih bisa melarikan diri kadang – kadang, dan mengakalinya tapi tidak dengan tanaman, apalagi lahan pertanian. Di Indonesia, apalagi di Papua, nasi hingga saat ini masih jadi makanan pokok dan nasi diperoleh dari padi. Untuk menanam padi, dibutuhkan musim yang tepat dan bukan asal tanam saja, harus dipikirkan pengairannya, dibutuhkan pencegahan hamanya dan lain – lain, pokoknya rumit sekali.
Padi yang begitu rumit penanamannya ini toh ternyata masih diimpor dari negara lain karena toh kebijakan pertanian di Indonesia yang ternyata lebih memilih membangun banyak pertokoan dan mall dibanding lahan pertanian ^_^. Padahal, kalau dilihat lahan pertanian sebenarnya bisa diusahakan lebih banyak guna pemanfaatan dan swasembada pangan. Bukannya apa, indikasi yang kubaca dari beberapa artikel mengatakan apabila perubahan iklim dan pemanasan global berlangsung semakin lama, maka ketahanan pangan akan terjadi di seluruh dunia dan dampak paling keras adalah pada tanaman – tanaman pemberi bahan makanan pokok, mulai dari gandum, padi hingga sorghum dan jagung. Akan tetapi, padi menjadi pokok pembicaraan karena membutuhkan air dan lahan tertentu.
Dikhawatirkan, apabila terjadi krisis pangan, maka negara – negara yang selama ini menjadi pengekspor beras malah akan berusaha mencukupi kebutuhan dalam negerinya sendiri. Kalau hal ini sampai terjadi, maka yang akan terjadi pada negara pengimpor beras seperti Indonesia dapat diprediksi, bukan? Aku pikir pada pertanyaan ini, kalian bisa mengasumsikan sendiri keadaan di mana jutaan orang di negara ini memandang kelangkaan makanan pokok ini.
Pangan dan bahasa
Pernahkan kalian berpikir, barapa banyak kata dalam bahasa di dalam bahasa Papua yang mengandung unsur makanan, ataupun tanaman dan hewan yang bisa dimakan? Semester lalu dalam mata kuliah semantic tentang studi makna kata, aku diperkenalkan dengan istilah ‘folk biology’ yang belajar tentang bagaimana masyarakat lokal menyebutkan tentang tumbuhan maupun hewan dalam bahasa mereka sendiri. Nah aku semakin tertarik karena dari buku yang kupinjam dan kubaca beberapa minggu lalu berjudul “A short grammar of Inanwatan” tulisan seorang ahli bahasa dari Belanda yang diterbitkan oleh universitasku, kudapatkan satu bab tentang kata – kata yang berhubungan dengan bahan makanan dalam hal ini tentang sagu.
Aku semakin berpikir bahwa dalam setiap suku, selalu saja ada daftar kosa kata yang lumayan banyak tentang makanan karena toh salah satu kebutuhan dasar manusia adalah makanan. Maka terlepas dari seberapa ‘tinggi’ peradaban suatu suku bangsa, makanan tetap menjadi topik mendasar yang ada dalam tiap bahasa. Kata – kata yang berkenaan tentang makanan bervariasi tergantung pada pola hidup masyarakat suku tersebut. Pada bagian ini, aku pikir bahwa setiap suku begitu bijak menciptakan kata- kata untuk mengasosiasikan makanan. Salut!
Papua: Makanan, gengsi dan gaya hidup
Bicara tentang makanan, aku teringat pembicaraan mama Ipa Betay - Ayamiseba (istri seorang personel band Black Brother) denganku kemarin malam, beliau mengatakan bahwa sewaktu ia liburan ke Jayapura, ia ingin sekali makan ‘sinole’ (sejenis makanan olahan dari sagu) tetapi tak bisa mendapatkannya. Hingga ia diberitahukan saudaranya kalau sudah sangat jarang orang membuat sinole dan dijual. Beliau yang menghabiskan hidupnya lebih banyak di luar negeri mengatakan bahwa ia merindukan makanan Papua yang dulu sering ia makan.
Aku kemudian berpikir bahwa saat ini, kita generasi Papua lebih merasa ‘bergengsi’ dan ‘gaul’ kalau bisa makan di KFC, makan Pizza, makan steak dan lain – lain dibandingkan makanan asli Papua. Saat ini di tanah Papua, tak hanya gerai – gerai makanan franchise luar negeri seperti KFC tapi mulai dari makanan ala Jepang dan lain – lain hingga makanan yang dibawa dari kebudayaan lain. Sebuah ‘invasi lidah’!!!
Mungkin kita tak pernah menyadari bahwa kita sedang terkena sebuah hegemoni: hegemoni makanan. Dalam mata kuliahku semester lalu tentang hubungan antara ideology, peran kekuasaan (power) dan bahasa dalam kehidupan masyarakat, dikatakan dalam hubungan power dalam masyarakat, ada yang namanya ‘rule’ dan ‘hegemony’. Intinya, ‘rule’ adalah saat kekuasaan kelihatan dengan jelas, sedangkan ‘hegemony’ secara halus dan kemudian pihak yang terkena efek hegemoni-lah yang menerimanya walau tak sadar bahwa ia sedang menerima dikuasai oleh sesuatu secara tak langsung.
Dalam hal makanan, kita lebih condong menerima makanan dari luar dibanding makanan khas kita sendiri. Aku sering miris membaca tulisan teman yang bekerja dengan masyarakat marjinal yang mengatakan bahwa para mama Papua di tempat kerjanya harus bekerja keras menjual hasil kebun mereka untuk membeli beras karena anak – anaknya tak mau makan hasil kebun. Para mama ini terpaksa menahan panas demi menjual hasil kebun mereka di lantai – lantai tanah di pasar tradisional. Uang yang mereka dapatkan selain membeli beras juga untuk membeli jajanan bakso dan lain – lain.
Pada bagian ini aku bisa bilang bahwa “tong dijajah lewat makanan!”.
Aku tak ingin memprovokasi kalian, aku hanya ingin bilang bahwa sudah saatnya kita sebagai generasi muda Papua membuka mata tentang hegemoni ini. Kalau sampai krisis pangan terjadi, maka kita akan siap menuai hasilnya.
Aku percaya Papua adalah tanah yang diberkati. Tuhan tak membiarkan moyang – moyang kita tinggal di tanah ini tanpa menyediakan makanan. Lihat, dusun – dusun sagu tumbuh dengan alami dan melimpah sejak jaman purba, keladi, petatas, pisang, dan kasbi ditumbuhkan dengan subur, tapi lihat fenomena yang terjadi sekarang. Keserakahan manusia mengubah segalanya. Sudah berapa banyak lahan sagu, lahan keladi dan petatas, pisang plus kasbi dikonversi demi tambang dan eksplorasi alam lainnya? Sudah berapa banyak kita menjual ‘hak kesulungan’ pada dusun – dusun sagu dan lahan pertanian itu demi segepok uang yang akan habis dalam hitungan hari? Entahlah, yang pasti aku tahu bahwa bumi kita kaya.
Aku percaya bahwa kita masih punya waktu untuk membuat perubahan. Pada bagian ini aku tiba – tiba teringat salah seorang tokoh yang kukagumi: Mahatma Gandhi. Pernahkan kalian mendengar tentang revolusi garam di India? Aku suka saat Gandhi menyerukan bahwa sudah saatnya rakyatnya mengolah apa yang bisa mereka olah dan memakai produk dalam negeri mereka melawan penjajahan Inggris, dan lihat sekarang, industri India cukup berderak lancar.
Aku bukan Gandhi, tapi aku ingin bilang bahwa masih banyak cara untuk membuat perubahan bagi kehidupan dan ketahanan pangan di masa mendatang bagi tanah Papua, hingga tak perlu lagi mendengar ada rawan pangan di suatu daerah di tanah ini. Aku tahu pemikiranku ini tak begitu canggih tapi aku percaya, sesuatu yang kecil yang dilaksanakan dengan baik, akan bisa membawa sesuatu yang baik di masa mendatang dibandingkan sesuatu yang besar yang dilaksanakan secara instant.
#1. Ubah sikap dan cara pandang akan makanan lokal
Mulai sekarang mulailah lebih menghargai makanan lokal di Papua, mulai dari Papeda, ikan kuah kuning hingga keladi tumbu. Sikap kita akan sangat memengaruhi pengambilan kebijakan.
Bayangkan bila kita lebih menganggap bahwa bakso, ayam goreng KFC dan lain – lain lebih bergengsi, maka pola konsumsi dan pengeluaran kita akan lebih banyak menguntungkan siapa? Aku pikir kalian bisa lebih jeli melihat hal ini.
Aku makin cinta makanan lokal Papua saat berada di Jakarta dan di Australia karena aku benar – benar rindu makan daun papaya, daun petatas, apalagi gedi saat di sini, begitu eksotis. Bahkan kadang rela membeli jantung pisang kecil walau seharga AUD $9.95 ($ 1 = Rp. 8. 300,-) kalau benar – benar rindu makanan yang kukenal sejak kecil. Kadang juga bersama teman – teman sibuk membuat papeda dari tepung kentang karena ‘mati makan papeda’ dan mengganti ikan kuah kuning dengan potongan kepala ikan Salmon. Bagiku dan teman – teman di sini, ‘makanan Papua trada yang blok. Iris!’
#2. Revolusi pangan
Aku pikir sudah saatnya teman – teman yang bekerja di departemen pertanian ataupun berafiliasi dengan kebijakan dapat merancang peraturan ataupun membuat program ketahanan pangan yang lebih berbasis budaya lokal.
Aku pernah membaca bahwa padi hanya salah satu alternatif, karena Papua toh sudah kaya dengan makanan pokok sejak jaman dahulu. Kalian mungkin tak bisa melihat ekspresi iri-ku melihat produk – produk Fiji dan Vanuatu yang membanjiri pasar Australia, mulai dari ‘cassava, product of Fiji” alias kasbi produk Fiji hingga keladi produk Samoa dan lain – lain. Aku sempat heran, kapan ya kita bisa mengekspor produk kita sendiri. Bukan hanya kripik keladi tapi juga produk lainnya.
Aku pernah membaca bahwa sukun alias bread fruit, salah satu tanaman asli Pasifik adalah alternatif yang pernah ditawarkan cuma saat ini aku tak pernah mendengar gebrakan pemerintah lokal di Papua untuk tanaman ini. Dari penelitian yang kubaca, sukun tak hanya bisa digoreng atau direbus, tapi bisa dibuat tepung. Bayangkan apabila sukun, keladi, petatas, sagu dan pisang dan lainnya dibudidayakan dan dimaksimalkan dengan baik, maka kita tak perlu lagi menjadi masyarakat yang bergantung pada beras.
Mungkin saat ini kalian masih merasa susah untuk mengganti pola makan kalian, aku sudah membuat pola makan ini sejak di Australia dengan menyisakan 2 hari dari seminggu untuk makanan pokok non nasi, roti ataupun kentang yaitu dengan mengonsumsi petatas, keladi, ataupun jagung. Aku berharap dengan begini maka perutku akan terbiasa memakan ‘hasil kebun’.
Aku cukup bangga dengan moyangku yang tidak menyantap nasi karena mereka toh tak pernah punya masalah dengan gula darah mereka dan tak pernah terserang diabetes dan lain – lain dan juga penyakit – penyakit aneh lainnnya yang timbul karena pola dan jenis makanan yang salah.
Satu yang pasti, aku ingin segera pulang dan mengajarkan keponakan – keponakan kecilku untuk pola makan non-nasi secepat mungkin agar tak harus memanen sakit yang salah karena pola makan.
Aku bermimpi suatu hari nanti, kita dapat dikenal bukan karena hal – hal negatif yang dilabel orang tetapi karena produk makanan lokal kita. Aku bermimpi suatu hari nanti, kala aku berada di sebuah tempat di belahan lain planet ini, kala berkunjung ke sebuah grocery, aku membaca tulisan label makanan berlabel, “Kasbi: A product of West Papua”.
(Sebuah subuh di Canberra/ 6 December 2009)
Wednesday, 2 December 2009
Blessing in Disguise 2
Mungkin selama beberapa hari ini dan juga ke depan, aku mungkin memang tak banyak berkeliaran di FB untuk menyapa kalian karena lagi menikmati masa – masa terakhir di OZ (kalo memang harus pulang), itu pilihan A, dengan membawa gelar Graduate Diploma of Translation Studies atau tetap berjalan berkuliah dengan pilihan B (transfer ke jurusan lain) tapi akan pulang dengan sebuah gelar yang sangat ‘ajaib’ tapi ternyata … lebih dari yang saya bayangkan dan cuma bisa bilang “Thanx Jesus, You’ve been so good!”. Tapi untuk pilihan B ini tetap membutuhkan persetujuan penyandang dana dari pemerintah Australia karena sedianya beasiswaku dirancang untuk 2 tahun mata kuliah, jadi pilihan B masih perlu digodok dalam waktu 2 minggu ini. Tapi apapun yang terjadi, aku bersyukur untuk hidupku.
Sejak menerima hasil semester ini dan mengonfirmasi dengan ketua jurusan pada hari selasa pagi yang menyatakan bahwa aku tak bisa lanjut ke tingkat Master yaitu menyusun tesis ataupun mini tesis dalam bidang terjemahan karena kemampuan bahasa Inggrisku yang tidak memadai (itu alasan dari ketua jurusanku), kuakui aku sempat ‘have a little cry for 10 minutes’ dalam toilet fakultas usai bertemu ketua jurusan, tapi kemudian saat keluar dan menatap kaca, aku terpesona pada bayanganku sendiri dan menyadari bahwa “I am so much blessed”. Buktinya saja, lemak – lemak di perutku kelihatan mulai liar ke mana – mana ^_^. Sebuah indikasi aku punya kemampuan membeli makanan dan menimbun lemak. Begitu beruntung!
Terhitung senin – rabu ini, aku seakan dibukakan mataku oleh sebuah ‘intervensi’ yang tak kelihatan, leading by the divine hands into something that is so spectacular. Apa ini berkaitan dengan mimpiku malam senin kemarin saat kembali lagi dititipi bayi untuk dijaga yang biasanya selalu berhubungan dengan berkat, karena sejak 2008, setiap kali hendak mendapat rejeki, ada saja mimpi seperti ini.
Saat bertemu dengan Liaison Officerku dari penyandang dana selasa kemarin, si ibu GA begitu paham keadaanku dan langsung bertanya tentang apa yang kuinginkan. Bahkan sebelum aku bertanya tentang “is there any alternatives or option for me?”. Si ibu sudah spontan bertanya tentang jurusan kemarin yang kuambil, relevansinya dengan kerjaanku plus langsung menanyakan aku mau lanjut ke mana selain di Fakultas dan Jurusan kemarin. Semuanya mengalir tanpa pernah ku memikirkan atau berharap bahwa ia akan bereaksi seperti itu. Bahkan ia terus terang bilang padaku bahwa ia secara pribadi merasa sayang kalau aku harus pulang tahun ini dan berkata bahwa pasti masih ada banyak pilihan untukku mencari ilmu yang lebih bermanfaat bagi pembangunan di daerahku. Tanpa pikir panjang, aku langsung bilang saja ingin masuk ke Program Graduation Select (GSS), sebuah program yang baru berjalan selama 8 tahun dengan mahasiswa yang mencapai (gosipnya …) 2000 orang cuma sengaja tak dipromosikan. Sebuah alternatif yang ‘dibocorkan’ oleh kaka Yana. Thanx heaps, kak.
Ibu GA tanpa menunggu lama langsung mengatur janji untuk bertemu dengan penanggung jawab akademik program GSS dan hari ini saat bertemu dengan ibu AR, aku berusaha menutup mulutku erat – erat karena hampir tak percaya bahwa ada jurusan seperti ini yang benar – benar the Real Me! Yang benar – benar kuinginkan, yang benar – benar menjawab apa yang kuinginkan selama ini lapangan, saat bekerja. Aku hampir tak percaya. Dalam hal ini aku bisa bilang bahwa ini benar – benar a blessing in disguise. Walaupun masih menunggu persetujuan dari penyandang dana, aku cuma bisa bilang pada Yesus, “Yesus, ko saja. Trada yang blok.”
Mungkin bagi kalian, ini kelihatan seperti sebuah pelarian dan mungkin hanya ungkapan terpaksa dari seseorang yang gagal masuk tingkat master, tapi kalau kalian melihat apa yang tadi kudapatkan dan dijabarkan oleh ibu AR, mungkin kalian akan mengalami euforia seperti yang kualami sejak tadi malam saat berdiskusi dengan kak Saur Marlina Manurung alias Butet Manurung (aktivis pendidikan di suku Anak Dalam) saat ia berkunjung ke rumahku, kami tetanggaan satu suburb dan sering main ke rumah. Kebetulan kak Butet mengambil jurusan yang sama (GSS) dan saat berdiskusi, ya ampun, aku benar – benar melihat sebuah rencana Tuhan dalam kegagalan ini.
Program baru ini sebuah program interdisiplin yang dibuat berdasarkan kebutuhan setiap orang, ekspektasi tempat kerja, kendala di lapangan saat bekerja dan juga ketertarikan seseorang. Jadi walaupun si A dan B masuk program yang sama, tetap saja akan berbeda pada apa yang dipilih. Intinya adalah aku punya kesempatan untuk memilih mata kuliah yang kusuka, kuinginkan dan benar – benar the real me dari antara ribuan mata kuliah yang ditawarkan di program pascasarjana ANU. Tentu saja sebelum memilih, ada semacam wawancara singkat dimana penanggungjawab akademik membuat semacam kajian kepribadian, ketertarikan dan juga kira – kira mendapatkan apa yang kuharapkan dari sebuah mata kuliah. Walau mata kuliahnya hampir sama, tergantung lagi arahnya kita ke mana, apa mau ke riset atau cuma coursework, bagaimana komposisi teori dan lain – lain. Aku sampai merasa terharu menemukan program ini. Jadi untuk memilih mata kuliah dan semua diskusi, aku menghabiskan waktu 2 jam di ruangan itu, bertanya pada ibu AR, berdebat, berargumentasi, diberi penjelasan, benar – benar menikmati. Benar – benar berbeda saat di fakultasku dulu yang hanya terima jadi dan tak terlalu punya banyak mata kuliah pilihan (<3 courses).
Aku juga baru sadar bahwa hampir semua mata kuliah di fakultasku khususnya semua mata kuliahku selama 1 tahun ini termasuk di dalam program ini, hanya karena diharapkan aku lebih mengambil mata kuliah advanced dan specialist in tahun ke 2, maka aku tak mau mengikutsertakan 6 mata kuliah itu dalam program ini agar bergelar Master of Advances Studies, tetapi lebih memilih mempertahankan gelar Diploma Graduate of Translation Studies dari Faculty od Arts, dan memilih 48 unit (8 mata kuliah) lainnya dari program ini dan akan bergelar Master of Studies.
Sejak tadi malam, aku begitu mengucap syukur untuk rencana Tuhan yang menunjukan jalan ini. Aku akan membagikan apa yang kudapat dalam program ini tapi aku ingin merefleksikan pengalaman yang selalu berhubungan dengan pendidikan. Sepertinya my great academic adviser tetap big professor di surga deh. Jujur ini bukan satu kali kasus begini terjadi dalam hidupku, tetapi sudah sejak tamat SMP.
Sewaktu SMP, nilaiku lebih dominan di Biologi sedang bahasa Inggris memang termasuk tinggi tapi tetap saja kalah dari nilai Biologi. Aku pernah bermimpi akan masuk fakultas pertanian dan menjadi seorang ahli botani hebat ataupun masuk Fakultas Kehutanan dan belajar tentang pohon ataupun masuk Biologi dan belajar tentang makhluk hidup, ataupun masuk Fakultas Kedokteran. Tapi jalan Tuhan selalu tak mudah diduga. Menyamar sekali!
Tamat SMP dengan NEM yang lumayan tinggi di kabupatenku, aku malah pindah ke Jayapura dan bukannya masuk SMA terbaik di sana tapi malah memilih masuk ke SMK Bisnis dan Manajemen jurusan Usaha Perjalanan Wisata yang kerjaannya merancang program wisata, tur, biaya perjalanan dan menjadi pemandu wisata plus belajar tentang manajemen dan akuntansi dan Bahasa Jepang dan Inggris. Lebih ke kegiatan praktikal dan malah sampai praktek kerja segala ^_^. Awalnya aku ingin masuk ke SMK yang berurusan dengan busana dan menjadi penjahit dan perancang busana karena kesukaanku pada fashion, tetapi selain faktor jarak dari rumah pakdeku yang lumayan jauh + bapakku tak terlalu suka jurusan ini, maka aku memilih masuk kesukaanku yang lain; wisata, traveling dan bahasa Inggris.
Lulus SMK dengan NEM yang sekali lagi cukup tinggi, aku bukannya melanjutkan ke akademi pariwisata (ada tawaran dari sekolah tentang beasiswa di sana), aku malah banting stir ke Sastra Inggris dan kebetulan lulus di Unsrat Manado. Alasannya simpel, aku suka baca novel dan membaca puisi dan nonton teater, jadi aku ingin belajar sesuatu yang kusukai, terlepas apa kata orang tentang jurusan ini. Memasuki tahun ke 2, walau IPKku di atas rata- rata, papaku memintaku kembali ke Manokwari untuk pindah ke UNIPA karena alasan kesehatanku, karena aku baru saja pulih dari sakit keras. As the story goes, aku lulus dari sastra Inggris Unipa dengan minat pada kesusasteraan dengan IPK yang cukup tinggi (tapi tak bisa Cum Laude karena ada 1 C hehehe).
Selama kuliah S1 hingga nyambi ngajar di UPT Pelayanan Bahasa UNIPA, aku malah bekerja pada banyak bidang yang bukan disiplinku, mulai dari menjadi mitra statistik untuk program menyurvei rumah tangga miskin, hingga program 1 tahun kontrak untuk menjadi petugas lapangan survey biaya hidup masyarakat perkotaan yang kerjaannya tiap minggu mengecek pengeluaran masyarakat, menghitung apa yang mereka makan dan pakai, menghitungnya, mengonversinya memakai rumus – rumus statistik dan diberikan dalam tabel – tabel laporan yang buku – bukunya setebal jempol kaki, menjadi relawan lingkungan hidup bidang penerjemahan yang kerjanya turun menemani fasilitator dari luar negeri ke tempat – tempat eksotis di daerah kepala burung berbicara tentang pengorganisasian masyarakat (belajar tentang bagaimana mengumpulkan masyarakat, menuntun masyarakat lokal berdiskusi, berargumen, public speaking, dan lain – lain), pelatihan dasar kehutanan (aku jadi tahu bagaimana caranya menginventarisasi hutan, membuat pemetaan hutan adat, bekerja dengan GPS demi tugas – tugas berbasis GIS, bertemu masyarakat lokal dan menemani mereka belajar sesuatu yang baru: mengajarkan menghitung titik koordinat dengan rumus – rumus ‘aneh’ itu, menggunakan cara memakai GPS.
Selain itu tentu saja sambil kucing – kucingan dengan dosen pembimbing skripsi saat S1, aku malah sibuk ikut pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh LSM lokal dan dituntun oleh direktur Gagas Media (mas FX Rudi Gunawan) mempelajari membuat artikel, feature, laporan, tajuk dan lain – lain. Ini belum termasuk menjadi petugas survey untuk Rapid mapping berbasis GIS bagi departemen Perdagangan di Jakarta dan juga menjadi sales produk sprei ‘My Love’ dan produk Tupperware dari rumah ke rumah (pada satu sisi, aku benar – benar tipikal sales banget hehehe). Aku juga sempat menjadi guru privat mengajar membaca, bahasa dan ilmu sosial bagi anak – anak SD dan SMP selama 2 bulan yang sayangnya harus kutinggalkan karena kesibukan yang padat di UPT menjelang teaching-project di sebuah kabupaten pemekaran.
Walaupun sejak kuliah sempat menjadi asisten dosen dan juga sejak rentang 2004 – 2006 ikut pelatihan penulisan bahasa Inggris akademik dan juga tentang pengajaran, sewaktu tamat awal tahun 2007, aku malah memilih kerja freelance sebagai pengajar bahasa Inggris di UPT Bahasa UNIPA. Bukan karena aku tak mencintai mata kuliah sastra tapi karena aku mengenal karakterku yang impulsif dan juga tipe belajarku yang kinastetik alias tipe orang yang ‘learning by doing’ plus aku tak betah dan mudah kehilangan konsentrasi bekerja di-belakang-meja alias indoor work. Aku tak ingin membuat output kerjaanku nanti malah berantakan karena moodku yang suka nakal ‘kabur’ traveling.
Aku mengenali diriku yang menyukai bahasa Inggris dan bahasa pada umumnya, menyukai menulis, menyukai mengajar khususnya anak – anak tapi juga suka memantau berita politik dan masalah sosial, aku juga suka pada isu lingkungan dan relevansinya dalam kehidupan masyarakat, tetapi sekaligus menyukai belajar tentang riwayat keluarga, sejarah dan hubungan antara budaya, manusia dan alam. Aku juga suka merancang suatu program khususnya tentang mengajar dan yang berhubungan dengan program yang bersentuhan langsung dengan hubungan interpersonal manusia. Aku mengenal pribadiku suka juga berdagang dan mempromosikan sesuatu (yang kadang salah digunakan dulu dan malah jadi ‘provokator’ hehehehe) apalagi ditambah mottoku yang sering membuat teman – teman kesal: teman .. ya teman. Bisnis .. ya bisnis! Biar bodok yang penting sombong ^_^ Tapi satu yang pasti, aku menyukai mengerjakan sesuatu apalagi yang berhubungan dengan upaya mencari uang berdasarkan waktu yang fleksibel, dengan banyak mobilitas tetapi bisa dioperasikan dari rumah dan mana saja, bertemu banyak orang, ada acara debat dan analisa studi kasus tetapi sekaligus mendatangkan uang yang banyak hehehehe
Sore ini saat bertemu dengan ibu AR, mataku seakan dibuka bahwa inilah yang kuinginkan selama ini. Mengambil gelar yang bisa menampung apa yang kuinginkan tapi sekaligus punya protensi mendatangkan penghasilan dan membayar ongkos hobiku jalan – jalan. Mungkin saat kupaparkan, kalian akan benar – benar shock dan kaget karena kok tidak menjurus pada sesuatu yang khusus, tapi aku punya banyak alasan mengapa mengambil mata kuliah ini karena inilah yang kuinginkan. Karena aku bukanlah tipe yang ingin melakukan apa yang orang lain inginkan tapi tak membuatku bahagia, misalnya saja berkutat pada satu judul tesis (mengerjakan terjemahan buku dan kritikannya selama 1 tahun) karena benar – benar membuatku kecapaian mengontrol konsentrasi. Aku percaya bertemu psikolog kampus selama beberapa minggu ini memberikan banyak bantuan bagiku mengenali diri. Sebagai seorang berkepribadian ENFJ, aku percaya program baru ini benar – benar seakan sebuah berkat tak terduga.
Kalau Tuhan mengijinkan, aku akan mengambil beberapa mata kuliah dalam beberapa area bidang ilmu seperti ini:
Linguistics and applied linguistics
- Language Planning and Language Politics (LING6022)
Asian Languages
- Linguistic Aspects of Indonesian (INDN6104)
Anthropology
- Anthropology of New Guinea and Melanesia (ANTH6006)
Education
- Curriculum Design and innovation (EDUC8003)
- Action Learning Project (EDUC8006)
Marketing and Commerce
- Marketing communication (MKTG7028)
Psychology
- Assessment and Employee Selection in Human Resource Management (PSYC8003)
Environment
- Environmental Communications (EMDV8007)
Optional (kalo ada yang jadwalnya tabrakan)
International Relations
- Ethnicity and Conflict in Asia and the Pacific (INTR8040)
Asian Studies
- Languages in Asia (ASIA6001)
Linguistics and Applied Linguistics
- Teaching languages (Ling 6013)/ TESOL in Practice (a collaborative program with Charles Darwin University)
Aku percaya karena kepribadianku yang memang lebih suka sesuatu yang broad dan flexible dan lebih suka sesuatu yang makro, bidang ilmu ini akan membantu pekerjaanku yang suka kompleks, karena toh setidaknya teori – teori dan praktek singkat terjemahan telah kudapat semua.
Akhirnya aku hanya bisa bilang bahwa aku merasa bahwa ini program ini adalah ‘blessing in disguise’.
Aku masih tetap berada dalam pertempuran terakhirku karena keputusan tetap di tangan pemberi dana dan waktu prosesnya selama 2 minggu. Aku butuh dukungan doa ^_^
Segala hormat, kemuliaan hanya bagi Bapa, Anak dan Roh Kudus. Amen
(Canberra/ 2 Agustus 2009)
N.B. Kalo ada yang berminat mengambil jurusan ini saat melamar beasiswa ADS/FORD, bisa cari infonya di http://studyat.anu.edu.au/graduate_studies.html
Sejak menerima hasil semester ini dan mengonfirmasi dengan ketua jurusan pada hari selasa pagi yang menyatakan bahwa aku tak bisa lanjut ke tingkat Master yaitu menyusun tesis ataupun mini tesis dalam bidang terjemahan karena kemampuan bahasa Inggrisku yang tidak memadai (itu alasan dari ketua jurusanku), kuakui aku sempat ‘have a little cry for 10 minutes’ dalam toilet fakultas usai bertemu ketua jurusan, tapi kemudian saat keluar dan menatap kaca, aku terpesona pada bayanganku sendiri dan menyadari bahwa “I am so much blessed”. Buktinya saja, lemak – lemak di perutku kelihatan mulai liar ke mana – mana ^_^. Sebuah indikasi aku punya kemampuan membeli makanan dan menimbun lemak. Begitu beruntung!
Terhitung senin – rabu ini, aku seakan dibukakan mataku oleh sebuah ‘intervensi’ yang tak kelihatan, leading by the divine hands into something that is so spectacular. Apa ini berkaitan dengan mimpiku malam senin kemarin saat kembali lagi dititipi bayi untuk dijaga yang biasanya selalu berhubungan dengan berkat, karena sejak 2008, setiap kali hendak mendapat rejeki, ada saja mimpi seperti ini.
Saat bertemu dengan Liaison Officerku dari penyandang dana selasa kemarin, si ibu GA begitu paham keadaanku dan langsung bertanya tentang apa yang kuinginkan. Bahkan sebelum aku bertanya tentang “is there any alternatives or option for me?”. Si ibu sudah spontan bertanya tentang jurusan kemarin yang kuambil, relevansinya dengan kerjaanku plus langsung menanyakan aku mau lanjut ke mana selain di Fakultas dan Jurusan kemarin. Semuanya mengalir tanpa pernah ku memikirkan atau berharap bahwa ia akan bereaksi seperti itu. Bahkan ia terus terang bilang padaku bahwa ia secara pribadi merasa sayang kalau aku harus pulang tahun ini dan berkata bahwa pasti masih ada banyak pilihan untukku mencari ilmu yang lebih bermanfaat bagi pembangunan di daerahku. Tanpa pikir panjang, aku langsung bilang saja ingin masuk ke Program Graduation Select (GSS), sebuah program yang baru berjalan selama 8 tahun dengan mahasiswa yang mencapai (gosipnya …) 2000 orang cuma sengaja tak dipromosikan. Sebuah alternatif yang ‘dibocorkan’ oleh kaka Yana. Thanx heaps, kak.
Ibu GA tanpa menunggu lama langsung mengatur janji untuk bertemu dengan penanggung jawab akademik program GSS dan hari ini saat bertemu dengan ibu AR, aku berusaha menutup mulutku erat – erat karena hampir tak percaya bahwa ada jurusan seperti ini yang benar – benar the Real Me! Yang benar – benar kuinginkan, yang benar – benar menjawab apa yang kuinginkan selama ini lapangan, saat bekerja. Aku hampir tak percaya. Dalam hal ini aku bisa bilang bahwa ini benar – benar a blessing in disguise. Walaupun masih menunggu persetujuan dari penyandang dana, aku cuma bisa bilang pada Yesus, “Yesus, ko saja. Trada yang blok.”
Mungkin bagi kalian, ini kelihatan seperti sebuah pelarian dan mungkin hanya ungkapan terpaksa dari seseorang yang gagal masuk tingkat master, tapi kalau kalian melihat apa yang tadi kudapatkan dan dijabarkan oleh ibu AR, mungkin kalian akan mengalami euforia seperti yang kualami sejak tadi malam saat berdiskusi dengan kak Saur Marlina Manurung alias Butet Manurung (aktivis pendidikan di suku Anak Dalam) saat ia berkunjung ke rumahku, kami tetanggaan satu suburb dan sering main ke rumah. Kebetulan kak Butet mengambil jurusan yang sama (GSS) dan saat berdiskusi, ya ampun, aku benar – benar melihat sebuah rencana Tuhan dalam kegagalan ini.
Program baru ini sebuah program interdisiplin yang dibuat berdasarkan kebutuhan setiap orang, ekspektasi tempat kerja, kendala di lapangan saat bekerja dan juga ketertarikan seseorang. Jadi walaupun si A dan B masuk program yang sama, tetap saja akan berbeda pada apa yang dipilih. Intinya adalah aku punya kesempatan untuk memilih mata kuliah yang kusuka, kuinginkan dan benar – benar the real me dari antara ribuan mata kuliah yang ditawarkan di program pascasarjana ANU. Tentu saja sebelum memilih, ada semacam wawancara singkat dimana penanggungjawab akademik membuat semacam kajian kepribadian, ketertarikan dan juga kira – kira mendapatkan apa yang kuharapkan dari sebuah mata kuliah. Walau mata kuliahnya hampir sama, tergantung lagi arahnya kita ke mana, apa mau ke riset atau cuma coursework, bagaimana komposisi teori dan lain – lain. Aku sampai merasa terharu menemukan program ini. Jadi untuk memilih mata kuliah dan semua diskusi, aku menghabiskan waktu 2 jam di ruangan itu, bertanya pada ibu AR, berdebat, berargumentasi, diberi penjelasan, benar – benar menikmati. Benar – benar berbeda saat di fakultasku dulu yang hanya terima jadi dan tak terlalu punya banyak mata kuliah pilihan (<3 courses).
Aku juga baru sadar bahwa hampir semua mata kuliah di fakultasku khususnya semua mata kuliahku selama 1 tahun ini termasuk di dalam program ini, hanya karena diharapkan aku lebih mengambil mata kuliah advanced dan specialist in tahun ke 2, maka aku tak mau mengikutsertakan 6 mata kuliah itu dalam program ini agar bergelar Master of Advances Studies, tetapi lebih memilih mempertahankan gelar Diploma Graduate of Translation Studies dari Faculty od Arts, dan memilih 48 unit (8 mata kuliah) lainnya dari program ini dan akan bergelar Master of Studies.
Sejak tadi malam, aku begitu mengucap syukur untuk rencana Tuhan yang menunjukan jalan ini. Aku akan membagikan apa yang kudapat dalam program ini tapi aku ingin merefleksikan pengalaman yang selalu berhubungan dengan pendidikan. Sepertinya my great academic adviser tetap big professor di surga deh. Jujur ini bukan satu kali kasus begini terjadi dalam hidupku, tetapi sudah sejak tamat SMP.
Sewaktu SMP, nilaiku lebih dominan di Biologi sedang bahasa Inggris memang termasuk tinggi tapi tetap saja kalah dari nilai Biologi. Aku pernah bermimpi akan masuk fakultas pertanian dan menjadi seorang ahli botani hebat ataupun masuk Fakultas Kehutanan dan belajar tentang pohon ataupun masuk Biologi dan belajar tentang makhluk hidup, ataupun masuk Fakultas Kedokteran. Tapi jalan Tuhan selalu tak mudah diduga. Menyamar sekali!
Tamat SMP dengan NEM yang lumayan tinggi di kabupatenku, aku malah pindah ke Jayapura dan bukannya masuk SMA terbaik di sana tapi malah memilih masuk ke SMK Bisnis dan Manajemen jurusan Usaha Perjalanan Wisata yang kerjaannya merancang program wisata, tur, biaya perjalanan dan menjadi pemandu wisata plus belajar tentang manajemen dan akuntansi dan Bahasa Jepang dan Inggris. Lebih ke kegiatan praktikal dan malah sampai praktek kerja segala ^_^. Awalnya aku ingin masuk ke SMK yang berurusan dengan busana dan menjadi penjahit dan perancang busana karena kesukaanku pada fashion, tetapi selain faktor jarak dari rumah pakdeku yang lumayan jauh + bapakku tak terlalu suka jurusan ini, maka aku memilih masuk kesukaanku yang lain; wisata, traveling dan bahasa Inggris.
Lulus SMK dengan NEM yang sekali lagi cukup tinggi, aku bukannya melanjutkan ke akademi pariwisata (ada tawaran dari sekolah tentang beasiswa di sana), aku malah banting stir ke Sastra Inggris dan kebetulan lulus di Unsrat Manado. Alasannya simpel, aku suka baca novel dan membaca puisi dan nonton teater, jadi aku ingin belajar sesuatu yang kusukai, terlepas apa kata orang tentang jurusan ini. Memasuki tahun ke 2, walau IPKku di atas rata- rata, papaku memintaku kembali ke Manokwari untuk pindah ke UNIPA karena alasan kesehatanku, karena aku baru saja pulih dari sakit keras. As the story goes, aku lulus dari sastra Inggris Unipa dengan minat pada kesusasteraan dengan IPK yang cukup tinggi (tapi tak bisa Cum Laude karena ada 1 C hehehe).
Selama kuliah S1 hingga nyambi ngajar di UPT Pelayanan Bahasa UNIPA, aku malah bekerja pada banyak bidang yang bukan disiplinku, mulai dari menjadi mitra statistik untuk program menyurvei rumah tangga miskin, hingga program 1 tahun kontrak untuk menjadi petugas lapangan survey biaya hidup masyarakat perkotaan yang kerjaannya tiap minggu mengecek pengeluaran masyarakat, menghitung apa yang mereka makan dan pakai, menghitungnya, mengonversinya memakai rumus – rumus statistik dan diberikan dalam tabel – tabel laporan yang buku – bukunya setebal jempol kaki, menjadi relawan lingkungan hidup bidang penerjemahan yang kerjanya turun menemani fasilitator dari luar negeri ke tempat – tempat eksotis di daerah kepala burung berbicara tentang pengorganisasian masyarakat (belajar tentang bagaimana mengumpulkan masyarakat, menuntun masyarakat lokal berdiskusi, berargumen, public speaking, dan lain – lain), pelatihan dasar kehutanan (aku jadi tahu bagaimana caranya menginventarisasi hutan, membuat pemetaan hutan adat, bekerja dengan GPS demi tugas – tugas berbasis GIS, bertemu masyarakat lokal dan menemani mereka belajar sesuatu yang baru: mengajarkan menghitung titik koordinat dengan rumus – rumus ‘aneh’ itu, menggunakan cara memakai GPS.
Selain itu tentu saja sambil kucing – kucingan dengan dosen pembimbing skripsi saat S1, aku malah sibuk ikut pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh LSM lokal dan dituntun oleh direktur Gagas Media (mas FX Rudi Gunawan) mempelajari membuat artikel, feature, laporan, tajuk dan lain – lain. Ini belum termasuk menjadi petugas survey untuk Rapid mapping berbasis GIS bagi departemen Perdagangan di Jakarta dan juga menjadi sales produk sprei ‘My Love’ dan produk Tupperware dari rumah ke rumah (pada satu sisi, aku benar – benar tipikal sales banget hehehe). Aku juga sempat menjadi guru privat mengajar membaca, bahasa dan ilmu sosial bagi anak – anak SD dan SMP selama 2 bulan yang sayangnya harus kutinggalkan karena kesibukan yang padat di UPT menjelang teaching-project di sebuah kabupaten pemekaran.
Walaupun sejak kuliah sempat menjadi asisten dosen dan juga sejak rentang 2004 – 2006 ikut pelatihan penulisan bahasa Inggris akademik dan juga tentang pengajaran, sewaktu tamat awal tahun 2007, aku malah memilih kerja freelance sebagai pengajar bahasa Inggris di UPT Bahasa UNIPA. Bukan karena aku tak mencintai mata kuliah sastra tapi karena aku mengenal karakterku yang impulsif dan juga tipe belajarku yang kinastetik alias tipe orang yang ‘learning by doing’ plus aku tak betah dan mudah kehilangan konsentrasi bekerja di-belakang-meja alias indoor work. Aku tak ingin membuat output kerjaanku nanti malah berantakan karena moodku yang suka nakal ‘kabur’ traveling.
Aku mengenali diriku yang menyukai bahasa Inggris dan bahasa pada umumnya, menyukai menulis, menyukai mengajar khususnya anak – anak tapi juga suka memantau berita politik dan masalah sosial, aku juga suka pada isu lingkungan dan relevansinya dalam kehidupan masyarakat, tetapi sekaligus menyukai belajar tentang riwayat keluarga, sejarah dan hubungan antara budaya, manusia dan alam. Aku juga suka merancang suatu program khususnya tentang mengajar dan yang berhubungan dengan program yang bersentuhan langsung dengan hubungan interpersonal manusia. Aku mengenal pribadiku suka juga berdagang dan mempromosikan sesuatu (yang kadang salah digunakan dulu dan malah jadi ‘provokator’ hehehehe) apalagi ditambah mottoku yang sering membuat teman – teman kesal: teman .. ya teman. Bisnis .. ya bisnis! Biar bodok yang penting sombong ^_^ Tapi satu yang pasti, aku menyukai mengerjakan sesuatu apalagi yang berhubungan dengan upaya mencari uang berdasarkan waktu yang fleksibel, dengan banyak mobilitas tetapi bisa dioperasikan dari rumah dan mana saja, bertemu banyak orang, ada acara debat dan analisa studi kasus tetapi sekaligus mendatangkan uang yang banyak hehehehe
Sore ini saat bertemu dengan ibu AR, mataku seakan dibuka bahwa inilah yang kuinginkan selama ini. Mengambil gelar yang bisa menampung apa yang kuinginkan tapi sekaligus punya protensi mendatangkan penghasilan dan membayar ongkos hobiku jalan – jalan. Mungkin saat kupaparkan, kalian akan benar – benar shock dan kaget karena kok tidak menjurus pada sesuatu yang khusus, tapi aku punya banyak alasan mengapa mengambil mata kuliah ini karena inilah yang kuinginkan. Karena aku bukanlah tipe yang ingin melakukan apa yang orang lain inginkan tapi tak membuatku bahagia, misalnya saja berkutat pada satu judul tesis (mengerjakan terjemahan buku dan kritikannya selama 1 tahun) karena benar – benar membuatku kecapaian mengontrol konsentrasi. Aku percaya bertemu psikolog kampus selama beberapa minggu ini memberikan banyak bantuan bagiku mengenali diri. Sebagai seorang berkepribadian ENFJ, aku percaya program baru ini benar – benar seakan sebuah berkat tak terduga.
Kalau Tuhan mengijinkan, aku akan mengambil beberapa mata kuliah dalam beberapa area bidang ilmu seperti ini:
Linguistics and applied linguistics
- Language Planning and Language Politics (LING6022)
Asian Languages
- Linguistic Aspects of Indonesian (INDN6104)
Anthropology
- Anthropology of New Guinea and Melanesia (ANTH6006)
Education
- Curriculum Design and innovation (EDUC8003)
- Action Learning Project (EDUC8006)
Marketing and Commerce
- Marketing communication (MKTG7028)
Psychology
- Assessment and Employee Selection in Human Resource Management (PSYC8003)
Environment
- Environmental Communications (EMDV8007)
Optional (kalo ada yang jadwalnya tabrakan)
International Relations
- Ethnicity and Conflict in Asia and the Pacific (INTR8040)
Asian Studies
- Languages in Asia (ASIA6001)
Linguistics and Applied Linguistics
- Teaching languages (Ling 6013)/ TESOL in Practice (a collaborative program with Charles Darwin University)
Aku percaya karena kepribadianku yang memang lebih suka sesuatu yang broad dan flexible dan lebih suka sesuatu yang makro, bidang ilmu ini akan membantu pekerjaanku yang suka kompleks, karena toh setidaknya teori – teori dan praktek singkat terjemahan telah kudapat semua.
Akhirnya aku hanya bisa bilang bahwa aku merasa bahwa ini program ini adalah ‘blessing in disguise’.
Aku masih tetap berada dalam pertempuran terakhirku karena keputusan tetap di tangan pemberi dana dan waktu prosesnya selama 2 minggu. Aku butuh dukungan doa ^_^
Segala hormat, kemuliaan hanya bagi Bapa, Anak dan Roh Kudus. Amen
(Canberra/ 2 Agustus 2009)
N.B. Kalo ada yang berminat mengambil jurusan ini saat melamar beasiswa ADS/FORD, bisa cari infonya di http://studyat.anu.edu.au/graduate_studies.html
Subscribe to:
Posts (Atom)