Cacatan ini sa terjemahkan ke dalam Melayu Papua dari catatannya Anthony de Mello SJ, seorang Pastor Yesuit dan ahli psikoterapi India yang hidup antara 1931 – 1987 dari judul aslinya “On Waking Up”. Beliau dikenal sebagai seorang motivator yang menekankan pada makna ‘terjaga dan tersadar secara spiritual’. Sa su baca buku – bukunya sejak SMP dan menjadi buku wajib sa saat SMA.
Semoga bermanfaat!
Salam hangat,
D. Meimosaki
=====================
TERJAGA
Oleh Anthony de Mello, SJ
Spiritualitas artinya terbangun ka terjaga. Banyak orang walau dong tra tau akan, dong tuh sebenarnya sedang tidur. Dong dilahirkan sedang tidur, dong hidup sambil tidur, dong nikah sambil tidur, pu anak tapi masih tetap tidur, bahkan mati juga tetap tidur tanpa pernah bangun ka ini. Dong tra pernah mengerti arti kesukaan dan kecantikan dari apa yang tong sebut kehadiran manusia (human existence).
Ko tahu, semua orang yang percaya pada sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia, mo Katolik ka bukan orang Kristen, terlepas dong pu teologi tuh apa – semuanya tuh tra anonim pada satu hal: kalo semuanya itu baik, segalanya baik. Walau segala sesuatu tuh berantakan dan takaruan, segalanya baik adanya. Paradoks yang aneh. Tapi tragisnya, banyak orang tra pernah bisa lihat bahwa segala sesuatu tuh baik karna dong sebenarnya sedang tidur. Dong sedang mimpi buruk.
Tahun lalu di televisi Spanyol sa dengar satu cerita kalo pace satu de toki depu anak laki – laki pu kamar. “Jaime”, katanya, “neh bangun!”. Jamie ko bilang, “sa tra mo bangun, Papa.”. De pu bapa batariak, “Bangun, ko harus pi skolah.” Jamie ko angkat, “sa tra mo pi skolah. “Kenapa?”, de pu bapa tanya. “Ada tiga alasan”, kata Jaime. “Pertama, karna akan membosankan; kedua, karena anana kapala ganggu sa; ketiga, sa benci sekolah.”. De pu pace langsung bilang, “Ok, sa akan kasi ko 3 alasan kenapa ko harus pi skolah hari ini. pertama, ini ko pu kewajiban; kedua, ko su umur 45 tahun dan ketiga, ko itu kepala sekolah.” Jadi, bangun … bangun! Ko su dewasa. Ko su terlalu bokar untuk tertidur. Bangun. Stop main deng ko pu mainan2 ka ini.
Banyak orang akan kas tau ko kalo dong mau keluar dari TK tapi jang percaya dong. Jang pernah percaya. Yang dong mo sebenarnya tuh supaya dong bisa perbaiki dong pu mainan yang rusak ka ini, “Kasi kembali sapu istri. Kasi kembali sapu pekerjaan. Kasi kembali sapu uang. Kasi kembali sapu reputasi. Kasi kembali sapu kesuksesan.” Ini yang dong mau ka, dong mau dong pu mainan diganti ka ini. Hanya itu. Bahkan kalo pi ke psikolog yang paling mantap juga akan bilang kalo orang – orang ini tra mau disembuhkan. Yang dong mau tuh cuma rasa lega (yang menyenangkan) karena kalo dikasi sembuh terlalu sakit jadi.
Terjaga benar – benar tra enak eee, ko tahu. Karna ko su nyaman dan rasa tenang di tempat tidur jadi. Macam badan malas eee kalo dibangunkan. Itu alasan kenapa para guru spiritual yang bijak tra akan coba untuk kasi bangun orang. Sa harap sa akan lebih bijak di sini dan tra coba untuk pake alasan apapun untuk kasi bangun ko kalo ko su tertidur. Ini bukan sapu urusan walau sa tadi ada bilang untuk ko, “bangun!”. Sa pu urusan tuh untuk bikin barang – barang yang memang harus sa bikin; untuk menari sapu tarian. Kalo ko rasa ada manfaat, baguslah, kalo trada juga, terlalu buruk! Sa cuma ingat pepatah Arab, “Sifat dasar hujan tuh sebenarnya sama, tapi akan bikin semak duri tambah tumbuh subur begitu juga bunga – bunga di taman.”
Monday, 30 November 2009
Being Me!
Hari ini 30 November 2009, hari dimana nilai – nilai ujian dipampang di layar website kampus, hari di mana sebuah konsekuensi akan ditebar dari hasil yang terpampang berkaitan dengan kesinambungan kuliah plus hari di mana aku kembali lagi menikmati tarian hujan. Indah.
Ditemani suara Josh Groban, aku kembali lagi mengetik dan menanyakan pada diriku, “Jadi bagaimana, Day?”. Sebuah pertanyaan yang diberikan pada diriku sendiri. Sebuah pertanyaan tentang bagaimana ke depan, sebuah pertanyaan melihat sebuah ‘kegagalan’ masuk ke jenjang tesis yang notabene adalah Part B dari studi pascasarjana ini. Walaupun hasil dan keputusan resmi belum keluar dari pihak jurusanku tentang kelanjutan studi karena bagaimanapun penanggungjawab kuliah masih mengirimkan e-mail tentang pertemuan dari tanggal 1 – 6 Desember 2009 guna membahas studi, tapi toh aku tetap harus selalu realistis dengan hidupku. Tetap realistis. Tak ingin menyalahkan siapa pun karena masuk jurusan ini tentu saja telah kutahu segala konsekuensinya kala memilih universitas ini, kala memilih jurusan ini pada tahun 2008. Tak ada penyesalan walaupun tahu bahwa nilai rata – rataku selam kuliah merupakan batas standar di jurusan lain tetapi bukan di jurusanku.
Walau saat ini hingga esok adalah masa – masa negosiasi dan penentuan terakhir karena tiket kepulangan harus dipesan secepat mungkin, plus semua pengaturan kepulangan, namun aku sudah pada titik di mana, “I accept all the consequences. No turning point. No regret for life only lasts once.”
Sambil mencuci piring sore di dapur, tiba – tiba pikiranku kembali diingatkan sebuah perbincangan dengan seorang kenalan dari Afrika bulan lalu, di depan sebuah perpustakaan kala membahas tentang tiket pulang-gratis-liburan. Aku ingat benar kala aku bilang bahwa tiket domestik ditanggung mahasiswa/I yang hendak pulang, ia pun dengan percaya diri bilang bahwa, “That’s the consequence, Day. You just take it for granted, don’t you?”. Hari ini perkataannya bulan lalu kembali bergema lagi bahwa inilah saatnya yang tepat untuk bilang pada diri sendiri dan tak boleh ada kata penyesalan untuk semua hasil ujian kemarin, “You just take it for granted, don’t you? No consequence at all.” Kalau diterjemahkan secara harafiah sih, aku menerima semua kesempatan kuliah dan dibayari tinggal di Australia selama hampir setahun secara cuma – cuma, tanpa beban, merasakan menikmati memegang dan membelanjakan uang dalam jumlah cukup besar dengan cuma – cuma. Jadi tak perlu ada yang disesali.
Minggu lalu saat pulang dari psikolog kampus dan mendiskusikan tentang perubahan dan juga pertanyaannya tentang apa rencanaku ke depan, tentang mimpi – mimpiku dan juga kemungkinan tak akan bisa melanjutkan kuliah, aku dengan mantap bilang bahwa, “I just live once, whatever happen, my life won’t stop. This is just a phase in my life and not the goal of my life.” Intinya sih, “sa hanya hidup satu kali, apapun yang terjadi sa pu hidup tra akan berhenti. Kuliah ini hanya satu tahap dalam sapu hidup dan bukan tujuan dari sapu hidup. Saat itu aku juga bilang aku telah dalam tahap ‘menerima’ karena toh tak ada yang perlu disesali, karena kuliah ini toh sebuah bentuk hibah alias education grant jadi tak ada yang perlu disesali.
Aku bukan sedang ingin membenarkan diriku tapi aku sebagai manusia berkepribadian ENFJ (berdasarkan tes MBTI), aku tahu apa yang kuinginkan dalam hidup. Aku bahkan sembari cuci piring tadi, otakku malah mengakses ide – ide segar tentang rencana tahun depan kalau memang harus pulang akhir tahun ini dan menurutku secara pribadi, aku suka dengan ide – ide usaha itu karena memang sejak kecil aku terbiasa mencari uang sendiri dan usaha ini tak akan membutuhkan banyak modal, palingan < Rp10 juta rupiah, dan aku percaya kalau usaha ini bisa kudirikan maka aku hanya butuh 1 – 3 langkah untuk sekaligus merealisasikan mimpi – mimpiku. Saat mencuci piring tadi, ide – ide usaha pun terbang dengan sukses lengkap dengan rincian apa yang hendak kulakukan sebagai langkah dasar dan semuanya ini belum termasuk pada proyek – proyek pribadiku.
Bagiku, kuliah ini adalah sebuah upaya membuktikan pada orang – orang tertentu bahwa aku bisa berkuliah di luar negeri dengan biaya gratis, aku bisa bekerja di luar negeri dengan sebuah pekerjaan yang bisa memberikanku keterangan yang kuat dan valid tentang riwayat kerja yang bisa dimasukkan dalam CV, dan lebih dari itu, aku bisa mewujudkan salah satu mimpiku sewaktu kecil untuk hidup di luar negeri dan merasakan 4 musim plus merasakan kehidupan yang multibudaya dan membuatku mandiri. Aku puas dalam tahap ini!
Aku teringat pada sebuah perkataan seorang filsuf, entah siapa karena aku lupa, bahwa kadang kita menyesali sesuatu dan merasakan kesedihan yang berkepanjangan karena kita tak mau menerima kenyataan dan karena berharap terlalu banyak padahal kenyataan yang terjadi ternyata tak seperti yang diharapkan. Aku cuma ingin bilang pada diriku sendiri, mengafirmasi perkataan seorang Anthony de Mello SJ tentang hidup, aku suka sekali kutipan kata – katanya ini: “As you identify less and less with the "me", you will be more at ease with everybody and with everything. Do you know why? Because you are no longer afraid of being hurt or not liked. You no longer desire to impress anyone. Can you imagine the relief when you don't have to impress anybody anymore? Oh, what a relief.” (sewaktu ko mulai semakin tak terikat dengan ko pu diri, ko akan semakin mudah menjalani hidup dengan sesama dan dengan segala sesuatu. Ko tahu kenapa? Karna ko su tra lagi khawatir untuk terluka ataupun tidak disukai. Ko tak lagi ingin untuk membuat siapapun terkesan akan ko pu diri. Ko bisa bayangkan sebuah kelegaan saat ko tra harus hidup hanya untuk bikin orang lain terkesan? Betapa leganya.)
Aku juga malah teringat sebuah komentar teman di sebuah situs anak muda Papua yang dikutipnya dari sebuah film, tentang catatanku tempo hari “How do measure your success? How do you measure your happiness?”. Sebuah komentar yang mengindikasikan sebuah prioritas dalam hidup. Setiap orang mempunyai prioritas hidup yang berbeda dan semua orang mempunyai definisi bahagia yang berbeda.
Akhirnya, aku hanya ingin bilang bahwa aku puas dengan hidupku selama ini, aku puas dengan suka duka kuliah di Australia, aku menikmati semuanya, menikmati pergantian musim dan tentu saja aku bersyukur diberi kesempatan yang tak akan pernah terganti dengan uang. Bukan tentang kuliah sih sebenarnya, tetapi tentang bagaimana aku menemukan diriku lewat hidup di sini, menemukan kesadaran tentang diriku sendiri, menemukan bahwa aku benar – benar diberkati.
Akhirnya, aku pun sampai pada sebuah kesimpulan dan meng-amininya bahwa aku punya cukup alasan untuk mengatakan bahwa aku bahagia pada hari ini setelah melihat hasilku apapun konsekuensi esok hari karena aku masih hidup, telah mengecap kesempatan berupa satu fase dalam hidupku.
Yang pasti aku hanya ingin bilang bahwa, “Terima kasih Yesus untuk sapu hidup.”
(Canberra yang hujan di musim panas dan suhu yang drop 11 derajat Celsius/ 30 November 2009)
Ditemani suara Josh Groban, aku kembali lagi mengetik dan menanyakan pada diriku, “Jadi bagaimana, Day?”. Sebuah pertanyaan yang diberikan pada diriku sendiri. Sebuah pertanyaan tentang bagaimana ke depan, sebuah pertanyaan melihat sebuah ‘kegagalan’ masuk ke jenjang tesis yang notabene adalah Part B dari studi pascasarjana ini. Walaupun hasil dan keputusan resmi belum keluar dari pihak jurusanku tentang kelanjutan studi karena bagaimanapun penanggungjawab kuliah masih mengirimkan e-mail tentang pertemuan dari tanggal 1 – 6 Desember 2009 guna membahas studi, tapi toh aku tetap harus selalu realistis dengan hidupku. Tetap realistis. Tak ingin menyalahkan siapa pun karena masuk jurusan ini tentu saja telah kutahu segala konsekuensinya kala memilih universitas ini, kala memilih jurusan ini pada tahun 2008. Tak ada penyesalan walaupun tahu bahwa nilai rata – rataku selam kuliah merupakan batas standar di jurusan lain tetapi bukan di jurusanku.
Walau saat ini hingga esok adalah masa – masa negosiasi dan penentuan terakhir karena tiket kepulangan harus dipesan secepat mungkin, plus semua pengaturan kepulangan, namun aku sudah pada titik di mana, “I accept all the consequences. No turning point. No regret for life only lasts once.”
Sambil mencuci piring sore di dapur, tiba – tiba pikiranku kembali diingatkan sebuah perbincangan dengan seorang kenalan dari Afrika bulan lalu, di depan sebuah perpustakaan kala membahas tentang tiket pulang-gratis-liburan. Aku ingat benar kala aku bilang bahwa tiket domestik ditanggung mahasiswa/I yang hendak pulang, ia pun dengan percaya diri bilang bahwa, “That’s the consequence, Day. You just take it for granted, don’t you?”. Hari ini perkataannya bulan lalu kembali bergema lagi bahwa inilah saatnya yang tepat untuk bilang pada diri sendiri dan tak boleh ada kata penyesalan untuk semua hasil ujian kemarin, “You just take it for granted, don’t you? No consequence at all.” Kalau diterjemahkan secara harafiah sih, aku menerima semua kesempatan kuliah dan dibayari tinggal di Australia selama hampir setahun secara cuma – cuma, tanpa beban, merasakan menikmati memegang dan membelanjakan uang dalam jumlah cukup besar dengan cuma – cuma. Jadi tak perlu ada yang disesali.
Minggu lalu saat pulang dari psikolog kampus dan mendiskusikan tentang perubahan dan juga pertanyaannya tentang apa rencanaku ke depan, tentang mimpi – mimpiku dan juga kemungkinan tak akan bisa melanjutkan kuliah, aku dengan mantap bilang bahwa, “I just live once, whatever happen, my life won’t stop. This is just a phase in my life and not the goal of my life.” Intinya sih, “sa hanya hidup satu kali, apapun yang terjadi sa pu hidup tra akan berhenti. Kuliah ini hanya satu tahap dalam sapu hidup dan bukan tujuan dari sapu hidup. Saat itu aku juga bilang aku telah dalam tahap ‘menerima’ karena toh tak ada yang perlu disesali, karena kuliah ini toh sebuah bentuk hibah alias education grant jadi tak ada yang perlu disesali.
Aku bukan sedang ingin membenarkan diriku tapi aku sebagai manusia berkepribadian ENFJ (berdasarkan tes MBTI), aku tahu apa yang kuinginkan dalam hidup. Aku bahkan sembari cuci piring tadi, otakku malah mengakses ide – ide segar tentang rencana tahun depan kalau memang harus pulang akhir tahun ini dan menurutku secara pribadi, aku suka dengan ide – ide usaha itu karena memang sejak kecil aku terbiasa mencari uang sendiri dan usaha ini tak akan membutuhkan banyak modal, palingan < Rp10 juta rupiah, dan aku percaya kalau usaha ini bisa kudirikan maka aku hanya butuh 1 – 3 langkah untuk sekaligus merealisasikan mimpi – mimpiku. Saat mencuci piring tadi, ide – ide usaha pun terbang dengan sukses lengkap dengan rincian apa yang hendak kulakukan sebagai langkah dasar dan semuanya ini belum termasuk pada proyek – proyek pribadiku.
Bagiku, kuliah ini adalah sebuah upaya membuktikan pada orang – orang tertentu bahwa aku bisa berkuliah di luar negeri dengan biaya gratis, aku bisa bekerja di luar negeri dengan sebuah pekerjaan yang bisa memberikanku keterangan yang kuat dan valid tentang riwayat kerja yang bisa dimasukkan dalam CV, dan lebih dari itu, aku bisa mewujudkan salah satu mimpiku sewaktu kecil untuk hidup di luar negeri dan merasakan 4 musim plus merasakan kehidupan yang multibudaya dan membuatku mandiri. Aku puas dalam tahap ini!
Aku teringat pada sebuah perkataan seorang filsuf, entah siapa karena aku lupa, bahwa kadang kita menyesali sesuatu dan merasakan kesedihan yang berkepanjangan karena kita tak mau menerima kenyataan dan karena berharap terlalu banyak padahal kenyataan yang terjadi ternyata tak seperti yang diharapkan. Aku cuma ingin bilang pada diriku sendiri, mengafirmasi perkataan seorang Anthony de Mello SJ tentang hidup, aku suka sekali kutipan kata – katanya ini: “As you identify less and less with the "me", you will be more at ease with everybody and with everything. Do you know why? Because you are no longer afraid of being hurt or not liked. You no longer desire to impress anyone. Can you imagine the relief when you don't have to impress anybody anymore? Oh, what a relief.” (sewaktu ko mulai semakin tak terikat dengan ko pu diri, ko akan semakin mudah menjalani hidup dengan sesama dan dengan segala sesuatu. Ko tahu kenapa? Karna ko su tra lagi khawatir untuk terluka ataupun tidak disukai. Ko tak lagi ingin untuk membuat siapapun terkesan akan ko pu diri. Ko bisa bayangkan sebuah kelegaan saat ko tra harus hidup hanya untuk bikin orang lain terkesan? Betapa leganya.)
Aku juga malah teringat sebuah komentar teman di sebuah situs anak muda Papua yang dikutipnya dari sebuah film, tentang catatanku tempo hari “How do measure your success? How do you measure your happiness?”. Sebuah komentar yang mengindikasikan sebuah prioritas dalam hidup. Setiap orang mempunyai prioritas hidup yang berbeda dan semua orang mempunyai definisi bahagia yang berbeda.
Akhirnya, aku hanya ingin bilang bahwa aku puas dengan hidupku selama ini, aku puas dengan suka duka kuliah di Australia, aku menikmati semuanya, menikmati pergantian musim dan tentu saja aku bersyukur diberi kesempatan yang tak akan pernah terganti dengan uang. Bukan tentang kuliah sih sebenarnya, tetapi tentang bagaimana aku menemukan diriku lewat hidup di sini, menemukan kesadaran tentang diriku sendiri, menemukan bahwa aku benar – benar diberkati.
Akhirnya, aku pun sampai pada sebuah kesimpulan dan meng-amininya bahwa aku punya cukup alasan untuk mengatakan bahwa aku bahagia pada hari ini setelah melihat hasilku apapun konsekuensi esok hari karena aku masih hidup, telah mengecap kesempatan berupa satu fase dalam hidupku.
Yang pasti aku hanya ingin bilang bahwa, “Terima kasih Yesus untuk sapu hidup.”
(Canberra yang hujan di musim panas dan suhu yang drop 11 derajat Celsius/ 30 November 2009)
Sunday, 15 November 2009
Percakapan dapur
Sore ini sambil mencoba menetralkan moodku yang masih berlompatan kesana kemari, aku mencoba untuk membuat sebuah pelarian, kata psikologku, dengan membuat catatan di blogku. Sebuah pelarian dari tekanan esai terakhir 2,500 kata yang entah, kok masih terbang mengawang – awang di sebuah tempat di otakku. Padahal sedari tadi sudah kupanggil dengan lembut, “ayo otak sayang, ayo mood belajar, ko di mana ka? Sayang itu ko ka? Jang lari – lari ka!” . Aku hampir saja memakai cara lama yang tak gentle dan dilarang oleh psikologku seperti “e nene, ko dimana? Awas ko eee, berani sa ketemu ko ni, ko harus bikin akan tempo dan selesai dalam waktu lama eee. Nan sa kasi ko tobat belajar eeee. Sampe ko step – step …”
Ditemani Josh Groban dan suaranya yang versi bajakan, aku pun mulai mencoba merangkai kata – kata di blog ini yang berlarian dengan cepat bagaikan saputan kilat di ujung – ujung pohon, bagaikan kerjapan mata, begitu cepat, begitu tak peduli.
Hari ini, Minggu 15 November 2009, satu hari terlewat dari ekstensi tugasku dan aku bahkan belum selesai menulis esai ini. Mulai dari serangan sakit kepala yang entahlah beberapa hari ini membuatku terhuyung – huyung kala berdiri, tapi toh tetap nekat saja berjalan kaki bersama teman serumah (yang juga sedang sakit) dan belanja dan mengejar sale-1- hari di mall ^_^, mulai dari mood yang sedikit terganggu saat mendengar keponakan kecil yang kutunggu sejak lama dan lahir dengan air ketuban berwarna keruh sekali dan harus mengunjungi dokter anak dalam beberapa hari ini plus sedikit tidak sejahtera mendengar bayi kecilku harus disuntik selama 3 kali/ hari selama 3 hari demi kekuatannya (aku sedikit cemas tadi tapi usai berdoa merasa sedikit lega). Selain itu aku juga tak ikut ibadah hari ini dan melewatkan siang multicultural di gereja walaupun komunitas West Papua sudah mendapat jatah menyanyi di gereja.
Tapi hari ini aku belajar sesuatu, belajar berkomunikasi dengan teman serumah yang 1 jurusan denganku. Belajar tentang bagaimana mengonsep diri kita, belajar menerima diri kita dan aku bahagia ia sudah sedikit lebih tenang, lebih bisa menerima bahwa segala sesuatu tak harus berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan apa yang kita harapkan. Bahwa kita hanya bisa menjalani semampu kita apa yang bisa lakukan, selebihnya biarkan menjadi sebuah bagian dari hidup kita walaupun adalah sebuah kegagalan.
Ada beberapa poin yang kami bahas dan menurutku sangat menarik untuk dibagikan dalam ‘percakapan dapur’ kami hari ini.
#1. Bagian (kecil) dari hidup
Hari ini kami membahas tentang tekanan tugas dan bagaimana melihat semuanya itu. sambil tertawa dan membahas tentang dinamika hidup kami yang kok malah ‘taputar’ hanya pada kampus dan mencari nilai bagus di kampus dan lain – lain plus ekspektasi diri pribadi dan lain – lain, kami pun mencapai sebuah resolusi diri pribadi bahwa beasiswa ini ataupun kuliah ini adalah salah satu bagian dari hidup kami tapi bukan yang terpenting dan bukan pula yang harus didewakan dan kalau memang tak masuk tingkat Master, that’s life.
Kegagalan pastilah tetap ada di dalam hidup dan tak harus ditolak. Tapi setidaknya yang bisa aku lihat dan tadi kuungkapkan adalah bagaimana bisa mensyukuri keadaan ini, dibayarkan beasiswa gratis dan bergengsi di universitas #1 di Asia Pasifik dan dibayari masuk dan mendapatkan pelajaran berharga di universitas #16 dunia yang tentu saja bergerak dengan ekspektasi yang berbeda. Apalagi jurusan kami adalah salah satu jurusan langka yang di Australia pun hanya ada di 5 universitas dan yang mempunyai program hingga 2 tahun hanya ada di Universitas ini. Selain itu, satu – satunya yang membahas tentang terjemahan tulisan (translation) untuk bahasa Indonesia secara mendetail hanya ada di universitas ini, walaupun yang menawarkan terjemahan bahasa Indonesia – Inggris ada juga di 2 universitas lainnya tapi sayangnya mereka tak fokus pada terjemahan tulisan dan digabung dengan interpreting (penerjemahan lisan) dan dengan durasi yang sangat singkat (1 – 1,5 tahun). Sehingga kesempatan merasakan atmosfer akademik di satu – satunya universitas riset terbesar di Australia merupakan satu hal yang patut disyukuri.
Kami juga wajib bersyukur diberikan satu pelajaran berharga untuk bisa merasakan tekanan akademik tugas yang membuat mimpi – mimpi buruk sering hadir dalam alam bawah sadar saat tidur. Setidaknya kami bersyukur masuk di sebuah universitas yang menerapkan sistem ketat dan belajar bagaimana belajar ‘kaki-kepala’ karena demi menjaga mutu universitas, maka semua mahasiswa/i yang lulusan S1 dari negara – negara non Anglo-Saxon wajib mengikuti program bridging course (Graduate Diploma) selama 1 tahun dan baru bisa masuk dalam tingkat Master selama 1 tahun berikut dengan syarat nilai IPK minimal 7.00, dan jurusanku termasuk berat karena setara dengan hukum yang mensyaratkan masuk ke tingkat Master dengan IPK 7.00 dan bukannya 6.5 seperti fakultas dan jurusan lain ^_^. Tapi aku bersukur karena semua teori dan praktek singkat jurusanku telah kudapatkan selama 1 tahun kuliah ini, hanya belum tahu apakah akan masuk ke tingkat Master tahun depan untuk melakukan thesis.
Kadang salah satu poin tak enaknya masuk universitas riset adalah jangan pernah berharap bisa lulus tanpa menulis. Walau judulnya aku mengambil Master by Course Work tapi intinya selama kuliah 1 tahun ini adalah tetap menulis ^_^. Walau ada ujian semester lalu untuk 1 mata kuliah tapi toh aku tetap membuat esai beberapa ribu kata untuk mata kuliah itu dan untungnya semester ini hanya berupa esai beberapa ribu kata untuk semua mata kuliah. Tapi tetap saja di tahun ke dua, mau ambil thesis ataupun minor thesis, tetap saja akan menulis. Kalau Tuhan mengijinkan, aku ingin mengambil thesis selama 1 tahun (untung cuma 15, 000 kata saja) dibandingkan harus mengambil mini-thesis + translation project setara 7, 500 kata yang cuma 1 semester.
Aku belajar bahwa ini hidupku, ini keputusan yang kuambil, apapun yang terjadi, ini bagian dari hidupku. Tak boleh kecewa berkepanjangan kalau apa yang kuharapkan tak menjadi kenyataan, karena toh, aku hidup bukan untuk kuliah ini tapi aku berkuliah ini untuk membantuku dalam mengejar mimpi – mimpiku.
Para dosen boleh saja mengritik terjemahanku, mengritik tata bahasaku yang kadang salah memakai kata dan sensenya, ataupun salah mengaplikasikan teori dalam ajang ‘sterile debata’ dunia teori terjemahan. Tutor boleh saja mengritik caraku membuat kalimat yang kadang salah memakai artikel ‘the’ dan kata hubung yang sense-nya tak sesuai, para teman boleh mengkritikku dengan caraku mengendalikan moodku dan caraku mengisi hariku dan nilaiku yang Credit dan cuma 1 Distinction semester lalu. Tapi satu yang pasti, aku tak akan pernah mau membiarkan semua kritikan, dan pandangan orang menentukan kebahagiaanku dalam menjalani hidupku. Aku pasti akan tak sejahtera beberapa saat, itu proses alamiah, tapi kemudian, aku harus tetap bilang pada diriku, : “Ini sapu hidup. Terima saja dan nikmati. Karena sa cuma hidup 1 kali. Tra perlu membuat orang lain terkesan, tra perlu merasa apa – apa, karena sa hidup toh bukan untuk membuat orang lain terkesan deng sa. Setidaknya sa su berbuat yang terbaik yang sa bisa, jadi sa harus tetap bersyukur untuk apapun yang terjadi kelak. Perkara mo masuk ke tingkat Master atau tidak, itu perkara akademik tapi bukan suatu hal yang menentukan sapu kebahagiaan, bukan perkara penting yang harus menyita sapu emosi dan perhatian karena ini hanyalah sebuah momen dalam sapu hidup.”
#2. Nikmati hidup dan bersyukur
Usai percakapan dapur tadi, aku menemukan sebuah pemikiran dalam skema yang lebih luas dari hidupku, dari hidup orang – orang di sekitar yang kulihat, kudengar dan kusaksikan.
Rentetan pertanyaanku adalah , “Sebenarnya apa yang tong cari dalam hidup? Di mana tong bisa cari akan? Bagaimana tong bisa cari akan? Kalau tong su dapat akan, apa yang tong mo buat?”
Mungkin pertanyaanku terdengar bodoh, terdengar naïf, tapi aku percaya hingga saat ini jurusan dan Fakultas Filsafat dan begitu banyak agama dan kepercayaan muncul hanya karena pertanyaan – pertanyaan sejenis ini.
Sebenarnya esensi hidup dan kebahagiaan itu seperti apa?
Bagiku pribadi, kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Kebahagiaan adalah saat yang kumiliki saat ini kala aku bisa menulis catatan ini, kala aku bisa bangun pagi dan bernafas, kala aku masih bisa menggunakan panca inderaku untuk menganalisa dan melihat dunia ini. Aku hidup dan akan tetap hidup untuk menjadi apa yang Tuhan inginkan dalam hidupku. Sebagai seseorang yang percaya pada Kristus, aku percaya bahwa hidupku adalah agar aku bisa merefleksikan Kristus dalam hidupku dan menggenapi cetak-biru desainku sebagai manusia. Semua orang diberi cetak-biru desain yang berbeda dan semua orang begitu unik.
Mulai saat ini, tak usah terlalu stress dan berpikir bahwa anda bukanlah orang yang bahagia karena tak mempunyai mobil atau motor ataupun rumah pribadi yang bagus, tak punya tabungan ratusan juta di bank, tak punya tubuh seksi ibarat Jeniffer Lopez, tak punya anak, tak punya pacar, tak punya seseorang yang mengasihi anda saat ini dan rentetan ‘TAK PUNYA … lainnya”. Aku ingin bilang bahwa hidup lebih dari cukup untuk bisa dinikmati dan disyukuri. Jadi mari melihat ke dalam diri anda dan bilang, “sa tra punya ini – itu, tapi SA PUNYA …(sebutkan apa yang ada dalam diri anda). Mengafirmasi diri anda sendiri adalah cara terbaik menerima diri anda ^-^
Mungkin untuk mengubah pola pikir ini sangat sulit tapi aku percaya, khususnya bagi orang – orang Kristen, silahkan mengoptimalkan ‘DNA Surga’ kalian untuk bisa melihat dunia ini dengan kacamata yang berbeda.
Akhirnya, aku bersyukur karena diajarkan beberapa hal baru hari ini, dalam kelas pelajaran dan pelatihan pembentukan karakter yang disediakan Tuhan yang bernama H-I-D-U-P!!!
Apakah anda bersedia mendaftar dan belajar bersama-Nya dalam ‘pelatihan’ ini?
(Canberra, 15 November 2009/ Dari seseorang yang tiba-tiba otaknya bergerak untuk menulis esai segera)
Ditemani Josh Groban dan suaranya yang versi bajakan, aku pun mulai mencoba merangkai kata – kata di blog ini yang berlarian dengan cepat bagaikan saputan kilat di ujung – ujung pohon, bagaikan kerjapan mata, begitu cepat, begitu tak peduli.
Hari ini, Minggu 15 November 2009, satu hari terlewat dari ekstensi tugasku dan aku bahkan belum selesai menulis esai ini. Mulai dari serangan sakit kepala yang entahlah beberapa hari ini membuatku terhuyung – huyung kala berdiri, tapi toh tetap nekat saja berjalan kaki bersama teman serumah (yang juga sedang sakit) dan belanja dan mengejar sale-1- hari di mall ^_^, mulai dari mood yang sedikit terganggu saat mendengar keponakan kecil yang kutunggu sejak lama dan lahir dengan air ketuban berwarna keruh sekali dan harus mengunjungi dokter anak dalam beberapa hari ini plus sedikit tidak sejahtera mendengar bayi kecilku harus disuntik selama 3 kali/ hari selama 3 hari demi kekuatannya (aku sedikit cemas tadi tapi usai berdoa merasa sedikit lega). Selain itu aku juga tak ikut ibadah hari ini dan melewatkan siang multicultural di gereja walaupun komunitas West Papua sudah mendapat jatah menyanyi di gereja.
Tapi hari ini aku belajar sesuatu, belajar berkomunikasi dengan teman serumah yang 1 jurusan denganku. Belajar tentang bagaimana mengonsep diri kita, belajar menerima diri kita dan aku bahagia ia sudah sedikit lebih tenang, lebih bisa menerima bahwa segala sesuatu tak harus berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan apa yang kita harapkan. Bahwa kita hanya bisa menjalani semampu kita apa yang bisa lakukan, selebihnya biarkan menjadi sebuah bagian dari hidup kita walaupun adalah sebuah kegagalan.
Ada beberapa poin yang kami bahas dan menurutku sangat menarik untuk dibagikan dalam ‘percakapan dapur’ kami hari ini.
#1. Bagian (kecil) dari hidup
Hari ini kami membahas tentang tekanan tugas dan bagaimana melihat semuanya itu. sambil tertawa dan membahas tentang dinamika hidup kami yang kok malah ‘taputar’ hanya pada kampus dan mencari nilai bagus di kampus dan lain – lain plus ekspektasi diri pribadi dan lain – lain, kami pun mencapai sebuah resolusi diri pribadi bahwa beasiswa ini ataupun kuliah ini adalah salah satu bagian dari hidup kami tapi bukan yang terpenting dan bukan pula yang harus didewakan dan kalau memang tak masuk tingkat Master, that’s life.
Kegagalan pastilah tetap ada di dalam hidup dan tak harus ditolak. Tapi setidaknya yang bisa aku lihat dan tadi kuungkapkan adalah bagaimana bisa mensyukuri keadaan ini, dibayarkan beasiswa gratis dan bergengsi di universitas #1 di Asia Pasifik dan dibayari masuk dan mendapatkan pelajaran berharga di universitas #16 dunia yang tentu saja bergerak dengan ekspektasi yang berbeda. Apalagi jurusan kami adalah salah satu jurusan langka yang di Australia pun hanya ada di 5 universitas dan yang mempunyai program hingga 2 tahun hanya ada di Universitas ini. Selain itu, satu – satunya yang membahas tentang terjemahan tulisan (translation) untuk bahasa Indonesia secara mendetail hanya ada di universitas ini, walaupun yang menawarkan terjemahan bahasa Indonesia – Inggris ada juga di 2 universitas lainnya tapi sayangnya mereka tak fokus pada terjemahan tulisan dan digabung dengan interpreting (penerjemahan lisan) dan dengan durasi yang sangat singkat (1 – 1,5 tahun). Sehingga kesempatan merasakan atmosfer akademik di satu – satunya universitas riset terbesar di Australia merupakan satu hal yang patut disyukuri.
Kami juga wajib bersyukur diberikan satu pelajaran berharga untuk bisa merasakan tekanan akademik tugas yang membuat mimpi – mimpi buruk sering hadir dalam alam bawah sadar saat tidur. Setidaknya kami bersyukur masuk di sebuah universitas yang menerapkan sistem ketat dan belajar bagaimana belajar ‘kaki-kepala’ karena demi menjaga mutu universitas, maka semua mahasiswa/i yang lulusan S1 dari negara – negara non Anglo-Saxon wajib mengikuti program bridging course (Graduate Diploma) selama 1 tahun dan baru bisa masuk dalam tingkat Master selama 1 tahun berikut dengan syarat nilai IPK minimal 7.00, dan jurusanku termasuk berat karena setara dengan hukum yang mensyaratkan masuk ke tingkat Master dengan IPK 7.00 dan bukannya 6.5 seperti fakultas dan jurusan lain ^_^. Tapi aku bersukur karena semua teori dan praktek singkat jurusanku telah kudapatkan selama 1 tahun kuliah ini, hanya belum tahu apakah akan masuk ke tingkat Master tahun depan untuk melakukan thesis.
Kadang salah satu poin tak enaknya masuk universitas riset adalah jangan pernah berharap bisa lulus tanpa menulis. Walau judulnya aku mengambil Master by Course Work tapi intinya selama kuliah 1 tahun ini adalah tetap menulis ^_^. Walau ada ujian semester lalu untuk 1 mata kuliah tapi toh aku tetap membuat esai beberapa ribu kata untuk mata kuliah itu dan untungnya semester ini hanya berupa esai beberapa ribu kata untuk semua mata kuliah. Tapi tetap saja di tahun ke dua, mau ambil thesis ataupun minor thesis, tetap saja akan menulis. Kalau Tuhan mengijinkan, aku ingin mengambil thesis selama 1 tahun (untung cuma 15, 000 kata saja) dibandingkan harus mengambil mini-thesis + translation project setara 7, 500 kata yang cuma 1 semester.
Aku belajar bahwa ini hidupku, ini keputusan yang kuambil, apapun yang terjadi, ini bagian dari hidupku. Tak boleh kecewa berkepanjangan kalau apa yang kuharapkan tak menjadi kenyataan, karena toh, aku hidup bukan untuk kuliah ini tapi aku berkuliah ini untuk membantuku dalam mengejar mimpi – mimpiku.
Para dosen boleh saja mengritik terjemahanku, mengritik tata bahasaku yang kadang salah memakai kata dan sensenya, ataupun salah mengaplikasikan teori dalam ajang ‘sterile debata’ dunia teori terjemahan. Tutor boleh saja mengritik caraku membuat kalimat yang kadang salah memakai artikel ‘the’ dan kata hubung yang sense-nya tak sesuai, para teman boleh mengkritikku dengan caraku mengendalikan moodku dan caraku mengisi hariku dan nilaiku yang Credit dan cuma 1 Distinction semester lalu. Tapi satu yang pasti, aku tak akan pernah mau membiarkan semua kritikan, dan pandangan orang menentukan kebahagiaanku dalam menjalani hidupku. Aku pasti akan tak sejahtera beberapa saat, itu proses alamiah, tapi kemudian, aku harus tetap bilang pada diriku, : “Ini sapu hidup. Terima saja dan nikmati. Karena sa cuma hidup 1 kali. Tra perlu membuat orang lain terkesan, tra perlu merasa apa – apa, karena sa hidup toh bukan untuk membuat orang lain terkesan deng sa. Setidaknya sa su berbuat yang terbaik yang sa bisa, jadi sa harus tetap bersyukur untuk apapun yang terjadi kelak. Perkara mo masuk ke tingkat Master atau tidak, itu perkara akademik tapi bukan suatu hal yang menentukan sapu kebahagiaan, bukan perkara penting yang harus menyita sapu emosi dan perhatian karena ini hanyalah sebuah momen dalam sapu hidup.”
#2. Nikmati hidup dan bersyukur
Usai percakapan dapur tadi, aku menemukan sebuah pemikiran dalam skema yang lebih luas dari hidupku, dari hidup orang – orang di sekitar yang kulihat, kudengar dan kusaksikan.
Rentetan pertanyaanku adalah , “Sebenarnya apa yang tong cari dalam hidup? Di mana tong bisa cari akan? Bagaimana tong bisa cari akan? Kalau tong su dapat akan, apa yang tong mo buat?”
Mungkin pertanyaanku terdengar bodoh, terdengar naïf, tapi aku percaya hingga saat ini jurusan dan Fakultas Filsafat dan begitu banyak agama dan kepercayaan muncul hanya karena pertanyaan – pertanyaan sejenis ini.
Sebenarnya esensi hidup dan kebahagiaan itu seperti apa?
Bagiku pribadi, kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Kebahagiaan adalah saat yang kumiliki saat ini kala aku bisa menulis catatan ini, kala aku bisa bangun pagi dan bernafas, kala aku masih bisa menggunakan panca inderaku untuk menganalisa dan melihat dunia ini. Aku hidup dan akan tetap hidup untuk menjadi apa yang Tuhan inginkan dalam hidupku. Sebagai seseorang yang percaya pada Kristus, aku percaya bahwa hidupku adalah agar aku bisa merefleksikan Kristus dalam hidupku dan menggenapi cetak-biru desainku sebagai manusia. Semua orang diberi cetak-biru desain yang berbeda dan semua orang begitu unik.
Mulai saat ini, tak usah terlalu stress dan berpikir bahwa anda bukanlah orang yang bahagia karena tak mempunyai mobil atau motor ataupun rumah pribadi yang bagus, tak punya tabungan ratusan juta di bank, tak punya tubuh seksi ibarat Jeniffer Lopez, tak punya anak, tak punya pacar, tak punya seseorang yang mengasihi anda saat ini dan rentetan ‘TAK PUNYA … lainnya”. Aku ingin bilang bahwa hidup lebih dari cukup untuk bisa dinikmati dan disyukuri. Jadi mari melihat ke dalam diri anda dan bilang, “sa tra punya ini – itu, tapi SA PUNYA …(sebutkan apa yang ada dalam diri anda). Mengafirmasi diri anda sendiri adalah cara terbaik menerima diri anda ^-^
Mungkin untuk mengubah pola pikir ini sangat sulit tapi aku percaya, khususnya bagi orang – orang Kristen, silahkan mengoptimalkan ‘DNA Surga’ kalian untuk bisa melihat dunia ini dengan kacamata yang berbeda.
Akhirnya, aku bersyukur karena diajarkan beberapa hal baru hari ini, dalam kelas pelajaran dan pelatihan pembentukan karakter yang disediakan Tuhan yang bernama H-I-D-U-P!!!
Apakah anda bersedia mendaftar dan belajar bersama-Nya dalam ‘pelatihan’ ini?
(Canberra, 15 November 2009/ Dari seseorang yang tiba-tiba otaknya bergerak untuk menulis esai segera)
Monday, 9 November 2009
Memilih untuk B-A-H-A-G-I-A
Hari ini seperti biasa, aku kembali lagi di depan layar komputerku dan mencoba merangkai kata dari pikiranku yang tercerai berai entah kemana. Usai bertemu tutor pukul 9. 30 pagi, aku segera membereskan bawaanku yang banyak, mulai dari menarik troli belanja merah berisikan tumpukan buku guna menulis esai 3. 500 kata hari ini, hingga memanggul tas ransel berwarna kuning bermerk Exsport yang kubeli Agustus 2002 dan masih tetap kupakai hingga sekarang ( I really love this backpack!) dan tentu saja tas laptop jinjingku bermerk Billabong hasil berburu sale di outlet Billabong DFO Brisbane Juni kemarin. Lelah dan capek tapi aku sedang bahagia menikmati minggu ini dan menepis semua ‘Benci-Monday’ feeling dari otakku. Apalagi aku bahagia karena cuaca yang begitu cerah pagi ini sehingga “hari sandal jepit sedunia” bisa diaplikasikan dengan sandal jepit kuningku ^_^
Sambil menatap pohon Beerch yang menantang langit biru dari jendela Chiefley lantai 4 tempatku mojok hari ini, aku merasa bahagia. Bukan karena tugas telah selesai karena toh aku masih punya utang 2 esai beberapa ribu kata yang harus kuselesaikan minggu ini. Bukan pula karena jumlah digit tabunganku yang sedang banyak di rekening Commonwealth Bank karena toh aku harus membayar tagihan telpon yang cukup tinggi bulan ini. Bukan pula karena aku sedang jatuh cinta ataupun dicintai seseorang di luar sana, karena toh saat ini aku sedang lajang.
Tapi aku bahagia karena hari ini dan beberapa hari ini aku merasa dekat dengan Tuhan, bisa bercakap – cakap tanpa beban saat berdoa dan melakukan aktivitas. Aku belajar banyak tentang apa yang diinginkan Tuhan lewat percakapan dengan senior, lewat peneguhan – peneguhan yang kubaca lewat Firman dan doa banyak orang, lewat percakapan dan suntikan semangat yang diberikan oleh orang lain. Aku merasa bahagia sekali dan aku bisa bilang bahwa aku percaya kebahagiaan adalah sebuah pilihan dan aku memilih untuk bahagia. Bahagia bagiku bukan nanti saat semua yang kuinginkan tercapai tapi saat ini, dalam setiap hembusan nafasku: aku memilih bahagia sekarang.
Sejak beberapa hari lalu, aku bahagia. Bahagia karena aku merasa begitu lega tak harus memikirkan tentang kuliahku. Bukan karena telah selesai tugas, tapi karena aku merasa lega dan bebas saat sadar bahwa di atas sana, ada Yesus yang akan selalu bersamaku dalam setiap titik tertinggi dan terendahku. Aku tak lagi berpikir yang aneh – aneh tentang kekhawatiran dan aku merasa bahagia 2 hari ini bisa bangun pagi dengan satu perasaan yang tak dapat kuungkapkan, entahlah bagaimana mendeskripsikan perasaan ini, yang pasti aku merasa tenang. Kalo meminjam kata yang mirip maknanya, aku ingin bilang kalau aku sedang merasakan yang namanya D-A-M-A-I S-E-J-A-H-T-E-R-A!
Satu yang pasti, aku percaya masalah akan tetap ada dalam hidupku, akan tetap ada. hal – hal yang membuatku marah pasti akan tetap ada , yang mau menyakitiku masih akan tetap ada, tapi aku belajar dalam minggu ini bahwa semuanya akan terjadi kalau aku mengijinkannya untuk mencuri rasa damai sejahteraku. Ini pilihan yang kubuat. Kalau aku tak memilih untuk seperti itu, maka aku juga tak akan apa – apa.
Aku bersyukur banyak karena beberapa hari lalu usai membaca beberapa artikel rohani rujukan seorang dosen senior di Unipa, aku belajar banyak dan mulai merasa menemukan arahku kembali ke pada Tuhan. Mulai untuk belajar berserah lagi. Belajar banyak!
Hidup cuma 1 kali dan aku percaya dan beberapa hari ini mulai gencar mengafirmasi diriku bahwa ‘Day bisa melakukan pekerjaan ini hingga selesai’, ‘Day datang ke Canberra bukan sebuah kebetulan tetapi ada rencana Tuhan.’, ‘Day percaya Tuhan sedang membentuk karakter Day saat ini’. Mungkin kedengarannya lucu, tapi bagiku dengan mengafirmasi diriku sendiri tiap pagi saat bangun pagi dan berkaca plus bilang pada diriku sendiri ‘Ko cantik dan diberkati. Jadi berkat e hari ini’, aku merasa tenang karena aku memercayai diriku, memberi kepercayaan pada diri sendiri.
Aku bahagia hari ini karena aku bisa makan pagi, bercanda pagi – pagi dengan teman – teman serumah, ketawa bokar – bokar, mandi dan menyegarkan diri, menikmati sejumlah fasilitas belajar yang memadai, tapi satu yang pasti aku bersyukur karena aku masih bisa hidup dan bernafas serta berjalan dan bergerak tanpa alat bantu.
Sebagai orang Kristen, aku bersyukur karena hari ini Yesus masih ada untukku dan masih memberi pinjaman hidup untuk tanggal 9 November 2009, itu yang paling penting bagiku.
Aku tak tahu kapan aku akan bertemu Yesus tapi kuingin memerlakukan hari ini ibarat hari terakhirku, aku akan menikmatinya dengan sebaik mungkin dengan melakukan apa yang harus kulakukan. Menikmatinya dengan cara yang kutahu.
Aku bahagia hari ini. Bahagia dikelilingi oleh alam yang tenang. Dikelilingi oleh keluarga dan para sahabat yang jauh, dekat dan di mana saja. Aku bersyukur untuk hidupku.
Satu yang pasti, aku ingin bilang: I love my life!
Bagaimana dengan anda?
(9 November 2009/ Chifley Library level 4)
Sambil menatap pohon Beerch yang menantang langit biru dari jendela Chiefley lantai 4 tempatku mojok hari ini, aku merasa bahagia. Bukan karena tugas telah selesai karena toh aku masih punya utang 2 esai beberapa ribu kata yang harus kuselesaikan minggu ini. Bukan pula karena jumlah digit tabunganku yang sedang banyak di rekening Commonwealth Bank karena toh aku harus membayar tagihan telpon yang cukup tinggi bulan ini. Bukan pula karena aku sedang jatuh cinta ataupun dicintai seseorang di luar sana, karena toh saat ini aku sedang lajang.
Tapi aku bahagia karena hari ini dan beberapa hari ini aku merasa dekat dengan Tuhan, bisa bercakap – cakap tanpa beban saat berdoa dan melakukan aktivitas. Aku belajar banyak tentang apa yang diinginkan Tuhan lewat percakapan dengan senior, lewat peneguhan – peneguhan yang kubaca lewat Firman dan doa banyak orang, lewat percakapan dan suntikan semangat yang diberikan oleh orang lain. Aku merasa bahagia sekali dan aku bisa bilang bahwa aku percaya kebahagiaan adalah sebuah pilihan dan aku memilih untuk bahagia. Bahagia bagiku bukan nanti saat semua yang kuinginkan tercapai tapi saat ini, dalam setiap hembusan nafasku: aku memilih bahagia sekarang.
Sejak beberapa hari lalu, aku bahagia. Bahagia karena aku merasa begitu lega tak harus memikirkan tentang kuliahku. Bukan karena telah selesai tugas, tapi karena aku merasa lega dan bebas saat sadar bahwa di atas sana, ada Yesus yang akan selalu bersamaku dalam setiap titik tertinggi dan terendahku. Aku tak lagi berpikir yang aneh – aneh tentang kekhawatiran dan aku merasa bahagia 2 hari ini bisa bangun pagi dengan satu perasaan yang tak dapat kuungkapkan, entahlah bagaimana mendeskripsikan perasaan ini, yang pasti aku merasa tenang. Kalo meminjam kata yang mirip maknanya, aku ingin bilang kalau aku sedang merasakan yang namanya D-A-M-A-I S-E-J-A-H-T-E-R-A!
Satu yang pasti, aku percaya masalah akan tetap ada dalam hidupku, akan tetap ada. hal – hal yang membuatku marah pasti akan tetap ada , yang mau menyakitiku masih akan tetap ada, tapi aku belajar dalam minggu ini bahwa semuanya akan terjadi kalau aku mengijinkannya untuk mencuri rasa damai sejahteraku. Ini pilihan yang kubuat. Kalau aku tak memilih untuk seperti itu, maka aku juga tak akan apa – apa.
Aku bersyukur banyak karena beberapa hari lalu usai membaca beberapa artikel rohani rujukan seorang dosen senior di Unipa, aku belajar banyak dan mulai merasa menemukan arahku kembali ke pada Tuhan. Mulai untuk belajar berserah lagi. Belajar banyak!
Hidup cuma 1 kali dan aku percaya dan beberapa hari ini mulai gencar mengafirmasi diriku bahwa ‘Day bisa melakukan pekerjaan ini hingga selesai’, ‘Day datang ke Canberra bukan sebuah kebetulan tetapi ada rencana Tuhan.’, ‘Day percaya Tuhan sedang membentuk karakter Day saat ini’. Mungkin kedengarannya lucu, tapi bagiku dengan mengafirmasi diriku sendiri tiap pagi saat bangun pagi dan berkaca plus bilang pada diriku sendiri ‘Ko cantik dan diberkati. Jadi berkat e hari ini’, aku merasa tenang karena aku memercayai diriku, memberi kepercayaan pada diri sendiri.
Aku bahagia hari ini karena aku bisa makan pagi, bercanda pagi – pagi dengan teman – teman serumah, ketawa bokar – bokar, mandi dan menyegarkan diri, menikmati sejumlah fasilitas belajar yang memadai, tapi satu yang pasti aku bersyukur karena aku masih bisa hidup dan bernafas serta berjalan dan bergerak tanpa alat bantu.
Sebagai orang Kristen, aku bersyukur karena hari ini Yesus masih ada untukku dan masih memberi pinjaman hidup untuk tanggal 9 November 2009, itu yang paling penting bagiku.
Aku tak tahu kapan aku akan bertemu Yesus tapi kuingin memerlakukan hari ini ibarat hari terakhirku, aku akan menikmatinya dengan sebaik mungkin dengan melakukan apa yang harus kulakukan. Menikmatinya dengan cara yang kutahu.
Aku bahagia hari ini. Bahagia dikelilingi oleh alam yang tenang. Dikelilingi oleh keluarga dan para sahabat yang jauh, dekat dan di mana saja. Aku bersyukur untuk hidupku.
Satu yang pasti, aku ingin bilang: I love my life!
Bagaimana dengan anda?
(9 November 2009/ Chifley Library level 4)
Labels:
self - reflection,
Spring 2009,
X story
Info game linguistik
Tadi kan sa cek sapu blog kelas, trus sa pu tutor ada kasi link ke permainan spekulasi lulusan linguistik tuh mo jadi apa ke depan? Jadi kalo tamat jadinya apa, cuma nih konteksnya di negara2 Anglo-saxon cuma lucu saja sih hasilnya hehehe
Setiap pilihan yang diambil akan tuntun tong ke satu tujuan.
Alamatnya di (http://specgram.com/ )
trus pilih di sebelah kiri halaman utama di toolbarnya, ada tulisan 'choose your own career in lingustics' oleh Trey Jones.
(http://specgram.com/choose/)
Selamat mencoba ^_^. Ini bagus untuk anak2 Fastra di bawah semester 4, supaya dong tahu memang apa ada bakat di sana atau cuma ikut2an, at least jadi punya bayangan ke depannya bagaimana. Cuma ini tetap spekulasi kok ^_^
Setiap pilihan yang diambil akan tuntun tong ke satu tujuan.
Alamatnya di (http://specgram.com/ )
trus pilih di sebelah kiri halaman utama di toolbarnya, ada tulisan 'choose your own career in lingustics' oleh Trey Jones.
(http://specgram.com/choose/)
Selamat mencoba ^_^. Ini bagus untuk anak2 Fastra di bawah semester 4, supaya dong tahu memang apa ada bakat di sana atau cuma ikut2an, at least jadi punya bayangan ke depannya bagaimana. Cuma ini tetap spekulasi kok ^_^
MBTI (personality questionairre)
Karena tak bisa tidur sejak tadi padahal harus lembur malam ini kerja tugas, akhirnya sa sibuk utak – atik tes MBTI yang dikasi sama sapu psikolog kampus (skarang sa lagi rajin konsultasi sama beliau hehehe. Gratis sih!!!) gara – gara tong membahas tentang personality dan hubungannya dengan mood dan belajar + konsentrasi
Sa dikasi tau tentang MBTI (http://en.wikipedia.org/wiki/Myers-Briggs_Type_Indicator) dan beberapa situs lainnya dan sa ada ketemu 1 nih yang menurut sa, sangat merefleksikan sa pu kepribadian.
Ternyata lewat situs ini sa malah dirujuk ke penjelasan lainnya yang lebih terperinci dan gratis tentunya.
Ini alamatnya: http://www.humanmetrics.com/cgi-win/JTypes3.asp
Moga saja berguna ^_^
Salam hangat,
D. Meimosaki
Sa dikasi tau tentang MBTI (http://en.wikipedia.org/wiki/Myers-Briggs_Type_Indicator) dan beberapa situs lainnya dan sa ada ketemu 1 nih yang menurut sa, sangat merefleksikan sa pu kepribadian.
Ternyata lewat situs ini sa malah dirujuk ke penjelasan lainnya yang lebih terperinci dan gratis tentunya.
Ini alamatnya: http://www.humanmetrics.com/cgi-win/JTypes3.asp
Moga saja berguna ^_^
Salam hangat,
D. Meimosaki
Menikmati hidup dan bahagia
Hari ini akhir pekan yang menyenangkan. Aku masih bisa menikmati mentari yang hangat dan tentu saja aku bersyukur dikelilingi oleh para housemates yang jail, lucu dan kadang juga membuatku kikuk tapi mereka membuatku menjadi hidup.
Hari ini sambil bermalas – malasan dan menikmati aroma rumput yang dipotong dari halaman belakang (thanx kak Remi dan Chef Riza), aku menikmati kamarku yang benar – benar the real me, dan pada satu sisi membuatku merasa B-A-H-A-G-I-A.
Aku bahagia karena semua pernak – pernik ‘peliharaan’ku di meja masih baik – baik, dan aku merasa bahagia memandangi mereka, apalagi minggu ini aku telah menggantikan ‘bunga kamar’ dengan mawar Rugosa berwarna merah darah-babi. Aku merasa jatuh cinta pada kamarku, pada hidupku, dan sekali lagi aku merasa bahagia.
Aku juga merasa nyaman ditemani dengan musik favoritku dan tentu saja aroma lilin bakar beraroma green tea. Tiba – tiba aku teringat sebuah catatan di blogku sekitar Januari 2009 tentang menikmati hidup.
Aku bisa bilang sekarang bahwa hari ini aku sedang menikmati hidupku dan aku bahagia.
Bagaimana dengan anda?
http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2009/01/menikmati-hidup.html
Hari ini sambil bermalas – malasan dan menikmati aroma rumput yang dipotong dari halaman belakang (thanx kak Remi dan Chef Riza), aku menikmati kamarku yang benar – benar the real me, dan pada satu sisi membuatku merasa B-A-H-A-G-I-A.
Aku bahagia karena semua pernak – pernik ‘peliharaan’ku di meja masih baik – baik, dan aku merasa bahagia memandangi mereka, apalagi minggu ini aku telah menggantikan ‘bunga kamar’ dengan mawar Rugosa berwarna merah darah-babi. Aku merasa jatuh cinta pada kamarku, pada hidupku, dan sekali lagi aku merasa bahagia.
Aku juga merasa nyaman ditemani dengan musik favoritku dan tentu saja aroma lilin bakar beraroma green tea. Tiba – tiba aku teringat sebuah catatan di blogku sekitar Januari 2009 tentang menikmati hidup.
Aku bisa bilang sekarang bahwa hari ini aku sedang menikmati hidupku dan aku bahagia.
Bagaimana dengan anda?
http://kisahhujanpagi.blogspot.com/2009/01/menikmati-hidup.html
Labels:
self - reflection,
Spring 2009
Sunday, 1 November 2009
Dari rambut, kulit hingga gaya (Meimosaki bertutur)
Sambil memandang layar komputer jinjingku dan ditemani kumpulan koleksi lagu daerah Papua, pikiranku melayang ke sebuah ajakan brosur untuk memakai pita putih tanggal 25 November esok sebagai tanda simpati kepada para perempuan yang menjadi korban kekerasan baik dalam rumah tangga maupun di mana saja. Kembali lagi pikiranku melayang pada perempuan – perempuan di tempatku, di sebuah tempat bernama Tanah Papua. Para perempuan berkulit gelap dan berambut keriting. Para perempuan yang membuatku bertanya, “Kenapa dong masih saja pu nasib begitu – begitu saja? Kenapa sampe sebelum sa tinggalkan sapu kota tepat setahun lalu, sa masih sering lihat dong dapa pukul, dapa sepak. Masih dapat b’la dalam rumah tangga dll?”. Apakah mereka kurang berharga? Pertanyaan – pertanyaan ini masih sering menggantung di benakku. Tulisan kali ini lebih kepada perempuan tanah dan bagaimana mengonsep diri.
Tulisan ini tidak ingin mendiskreditkan siapapun. Tak juga mau jadi hakim. Aku hanya ingin berbagi tentang apa yang kulihat, apa yang kurasakan. Aku bukan siapa – siapa.
Aku ingin berbagi tentang apa yang kupercaya. Yang pasti bagi yang membaca tulisan ini, aku hanya ingin bilang, “Ko tetap pu hak untuk kritik tulisan ini, ko pu hak untuk tetap tolak hegemoni untuk percaya kalo ini tulisan yang paling mantap de el el.”
Satu yang pasti, sudah saatnya berbicara tentang perempuan, karena ‘perem komin, ko berharga!’
# Rambut
“Aih salon di sana bole mantap! Neh nan ko pu rambut akan jatuh betul! Ko bilang dong bonding ka smoothing akan bole”.
“Neh obat ini bole, ko pake akan nan ko pu rambut akan lurus ka ini.”
“Aeh neh, ko pu rambut tuh asar sampe bikin tampang acak skali. Ko pi kasi lurus akan ka bagaimana.”
Pernah tidak kita dihadapkan pada ujaran – ujaran di atas? Atau pernah tidak kita sendiri mengucapkan kata – kata itu pada orang – orang di sekitar kita, entah pada saudari, anak, keponakan atau entah siapa. Aku percaya apa yang kita ujarkan bahkan pada hal sekecil ini sebenarnye merefleksikan bagaimana ideologi kita tentang konsep diri kita sendiri, bagaimana merefleksikan pemahaman dan apa yang kita percaya atas sesuatu.
Aku tak menyalahkan para perempuan tanah dalam mengonsep diri mereka khususnya tentang rambut, karena aku pernah juga beberapa kali meluruskan rambutku yang keriting. Aku pada dasarnya memang sewaktu masa SMA – kuliah S1 suka sekali mengutak – atik rambutku, jadi ya tak juga karena alasan – alasan yang dikemukakan di atas, tapi lebih pada tahap eksplorasi. Semua gaya rambut pernah kucoba begitu juga mewarnai rambut. Rambutku selalu berkisar dari dicepakin kayak cowok, kemudian dibiarkan kribo dan besar banget, digimbal, disambung benang, lalu dilurusin, dan kalau mulai bosan lagi apalagi kalau aku makin rajin berenang dan bermain di pantai, maka rambutku kembali lagi pada siklus yang sama; dicepakin.
Tetapi seiring dengan waktu, aku rindu rambutku yang keriting dan halus. Apalagi aku suka saat rambutku terasa ringan dan mengembang. Saat SMA dan kuliah S1 dulu, aku kadang merasa iri dengan rambut adik perempuanku yang lurus dan persis seperti rambut bapakku yang non- Papua. Tetapi setelah beberapa tahun ini, aku malah merasa bahwa aku sudah bisa menerima rambut dan diriku bahwa pilihan yang dibuat Tuhan dalam struktur dan jenis rambutku adalah yang terbaik. Yang harus kulakukan adalah mengubah cara pandangku tentang rambutku.
Apalagi sejak berada di Australia, aku merasa benar – benar jatuh cinta pada rambut keritingku. Beberapa hari ini aku sempat memandangi kumpulan fotoku selama hampir setahun dan menyadari bahwa rambut keritingku begitu indah, bahkan menjadi sebuah pembeda yang cukup signifikan bila berkumpul bersama teman – teman.
Aku juga mulai rajin membaca tentang bagaimana memperlakukan rambut keritingku dan ternyata dengan mengaplikasikan produk perawatan rambut yang tepat, rambut keritingku masih tetap bisa diatur rapi dalam suasana tertentu yang mengharuskan berambut rapi. Tapi di saat berbeda, rambut keritingku bisa juga menjadi sebuah fashion statement yang jelas lengkap dengan aksesorisnya.
Aku pikir keriting ataupun tidak bukanlah hal yang terpenting dalam hubungannya dengan rasa percaya diri. Bagiku yang terpenting adalah apakah rambut kita sehat, tidak berkutu, tidak berketombe, tidak rusak, itu yang penting.
Beberapa bulan lalu, aku sempat terkesima dengan pernyataan beberapa teman yang merasa tidak PD dengan rambut keriting mereka dan segera mencari upaya meluruskannya. Bagiku secara pribadi, jangan menjadikan rambut keriting kita sebagai alasan untuk tidak PD. Karena PD alias self confident itu dari dalam diri kita. Bagaimana kita memandang diri kita sendiri.
Percaya diri itu bukan bakat alami tapi bisa dikembangkan dan dipelajari. Itu bukan harga mati bahwa hanya orang tertentu yang memilikinya. PD apalagi yang berkenaan dengan rambut adalah milik dan hak kita semua.
Aku pernah mendengar bahwa seorang teman bilang padaku, “Day, ko tahu, sa tuh bukannya tra suka rambut keriting, tapi kalo sa rambut akan de tumbuh dan keriting – keriting begini, sa rasa macam kapala brat.”. Ada juga seorang temanku yang bilang, “Day, aeh yang penting kan sa pu hati masih keriting toooo. Biar rambut bonding, yang penting hati keriting mo.” Dalam hal ini aku bukan hakim yang berhak menghakimi pendapat teman – temanku.
Yang aku tahu, apapun alasan yang kita kemukan guna memberikan alasan mengapa kita tak mau berambut keriting adalah kembali pada bagaimana kita mengonsep diri kita sendiri. Bagaimana kita membentuk zona nyaman dan rasa aman dalam hidup kita.
Pertanyaan yang ingin sekali kutanyakan pada para perempuan tanah yang meluruskan rambut dan selalu meluruskan rambut mereka kala folikel – folikel itu menumbuhkan rambut yang menggelung dapat kusimpulkan di bawah ini.
“Apa deng kasi lurus kam pu rambut, kam merasa lebih aman dan lebih diterima dalam kam pu lingkungan pergaulan?”, “Apakah deng kasi lurus rambut, kam pu paitua ka cinta dong akan lebih sayang kam?”
Kalau jawabannya masih berkisar pada kata “Ya”. Maka aku hanya bisa bilang, “SELAMAT! Anda telah menerima hegemoni konsep jati diri orang lain di dalam diri anda”
‘Perem komen, ini kam pu hidup’. Hidup cuma 1 kali. Kalau perubahan sekecil ini masih tak bisa kita lakukan, bagaimana kita bisa lebih menghargai diri sendiri dalam hal lain?
Kita tak perlu menjadi bagian dari homogenitas yang membunuh siapa diri kita sebenarnya.
Cenderawasih tetap saja cantik walau ia tak berwarna hijau seperti Merak ataupun berwarna putih bersih seperti Kakatua. Karena ia Cenderawasih!
# Warna kulit
Sewaktu remaja bahkan hingga saat kuliah, aku sering sekali dibandingkan dengan adik perempuanku yang berkulit terang seperti bapakku yang non- Papua, apalagi saat para teman – temanku berkunjung ke rumah ataupun aku dan adik perempuanku jalan sore, ditambah lagi tampilan fisik kami yang berbeda jauh. Banyak komentar yang kudapatkan berkisar pada warna kulitku yang gelap.
Tapi sejak kecil aku tak pernah peduli tentang warna kulitku. Saat kuliah pun saat teman – teman yang lain sibuk memakai payung ke kampus, aku palingan hanya ber-topi. Bagiku selama kulitku masih sehat dan tak ada kanker kulit, I’ll be fine!
Aku kerap mendengar orang – orang yang kutemui sewaktu di kotaku berbicara tentang warna kulit. Saat beberapa dari mereka sibuk berbicara tentang persamaan hak dan ketidakadilan sosial bagi rakyat Papua, di sela – sela pembicaraan mereka malah terselip satu – dua ujaran yang membuatku sedikit mengernyitkan alis saat membahas ingin mendapatkan pasangan hidup yang tak berkulit gelap, dengan alasan ‘ingin memperbaiki keturunan.’. Perkataan ini pun yang sering dilontarkan para saudara sepupu ataupun kerabat jauh plus beberapa teman saat bertanya apa aku telah mendapat kekasih beras Kaukasia (baca: bule), demi ‘perbaikan keturunan’. Bagiku, pertanyaan dan ujaran seperti ini adalah sebuah refleksi bagaimana kita memandang diri kita sendiri, bagaimana menghargai diri kita sendiri. Aku bukan hakim dalam hal ini, tapi bagiku, pertanyaan dan ujaran seperti ini seakan menyatakan bahwa kita tak bangga dengan diri kita sendiri!
Jujur, aku benci pada iklan produk pemutih wajah di TV Indonesia. Mulai dari produk A yang bisa memutihkan dalam waktu 7 hari hingga produk – produk B yang bisa diminum untuk menerangkan warna kulit dari dalam.
Jujur, aku ingin bilang pada pembuat produk – produk itu, “Tra baca artikel kesehatan ka? Su tahu orang pu ras Melanesia begitu, apalagi pigmen melanin tinggi dan matahari juga pica tiap hari begitu, biar mo pake sampe 1 drem juga, kulit tra akan putih ya. Kecuali kam klonning tong pu pigmen nih hilang ka bagaimana ka bole”. Tapi aku miris karena banyak yang terkena rayuan produk – produk ini.
Bagiku dan juga karena keseringan membaca artikel kesehatan, yang terpenting bukanlah warna kulit. Tapi apakah kulit kita sehat atau tidak. Yang terpenting, kulit kita tak berjamur yang bisa memicu ‘kaskado’ dan saudara – saudaranya, Tak ada luka iris pun luka terbuka yang dapat mengundang masuknya bibit penyakit dalam jaringan kulit dan darah, tak ada indikasi kanker kulit., tak ada ‘wepambok dan infeksi kulit lainnya’. Itu yang penting, dibanding harus sibuk berburu produk pemutih kulit, mem-bleaching kulit di salon dll.
Satu yang pasti, jangan pernah sampai menjadi seperti Tina Turner, seorang penyanyi kulit hitam di Amerika yang pernah berkata bahwa ia seorang wanita kulit putih yang terperangkap dalam tubuh berkulit hitam ataupun seperti almarhum Michael Jackson yang melakukan operasi plastik berulang kali demi mengganti warna kulit.
Kau tahu, kau berharga. Ibarat Mutiara hitam yang sangat mahal dan langka, demikianlah dirimu.
# Tentang Gaya
Aku bukan fashionista (pecinta mode). Walau kuakui aku sejak kecil hingga sekarang sangat menyukai hobiku membuat skesta busana, lebih pada perancangan, tapi tak pernah mau aku menjadi korban tren mode. Bagiku, aku tahu apa yang kuinginkan, aku tahu bagaimana busana yang tepat bagi bentuk tubuhku dan aku tahu apa yang ingin kusampaikan pada orang lain lewat busana yang kupakai.
Aku tak akan menghakimi para pecinta mode karena itu adalah hak mereka. Tapi satu yang pasti, jangan pernah mau dikendalikan oleh tren pasar. Jangan pernah mau menghambakan diri pada perkembangan fashion dan jangan pernah mau membeo apa yang digariskan orang lain.
Buatlah gayamu. Kenali bentuk tubuhmu! Ketahuilah apa yang kau inginkan dalam berbusana. Jangan pernah peduli pada kata orang lain yang bilang bahwa ‘neh ko gaya kampung sampe. Neh ko pake gaya ini bole de el el.”
Aku hanya ingin bilang, “Ini ko pu hidup. Ko tidak harus ikut kata orang lain supaya dong bisa hargai ko, ko tra harus berubah demi dong pu penerimaan.” Hidup cuma satu kali, orang Australia bilang, “Live your life to its fullest”. Secara literal sih artinya “ko manfaatkan ko pu hidup betul – betul. Ko bikin!”
Aku rindu suatu hari nanti, di tanah Papua, saat wisuda di Universitasku dulu, kita tak harus berkebaya dan sanggulan dan sibuk berdandan yang aneh – aneh (aku bersyukur tak memakai sanggul saat wisuda). Aku rindu suatu saat nanti para ibu pejabat ataupun petinggi pemerintah lainnya bisa bangga dengan rambut keriting mereka. Aku rindu suatu saat nanti, para perempuan tanah ke salon hanya untuk merawat rambut dan kulit mereka tetapi tak mengubah esensinya.
Cenderawasih akan tetap cantik walau ia hanya tinggal di pepohonan. Mutiara hitam akan tetap ada dan kemilau di dasar lautan. Emas yang tersimpan di perut bumi Grassberg akan tetap cantik walau awalnya hanya bercampur tanah.
Manusialah yang memberi nilai pada sesuatu.
Sudahkah anda memberi ‘nilai’ pada diri anda?
(Canberra, 1 November 2009)
Tulisan ini tidak ingin mendiskreditkan siapapun. Tak juga mau jadi hakim. Aku hanya ingin berbagi tentang apa yang kulihat, apa yang kurasakan. Aku bukan siapa – siapa.
Aku ingin berbagi tentang apa yang kupercaya. Yang pasti bagi yang membaca tulisan ini, aku hanya ingin bilang, “Ko tetap pu hak untuk kritik tulisan ini, ko pu hak untuk tetap tolak hegemoni untuk percaya kalo ini tulisan yang paling mantap de el el.”
Satu yang pasti, sudah saatnya berbicara tentang perempuan, karena ‘perem komin, ko berharga!’
# Rambut
“Aih salon di sana bole mantap! Neh nan ko pu rambut akan jatuh betul! Ko bilang dong bonding ka smoothing akan bole”.
“Neh obat ini bole, ko pake akan nan ko pu rambut akan lurus ka ini.”
“Aeh neh, ko pu rambut tuh asar sampe bikin tampang acak skali. Ko pi kasi lurus akan ka bagaimana.”
Pernah tidak kita dihadapkan pada ujaran – ujaran di atas? Atau pernah tidak kita sendiri mengucapkan kata – kata itu pada orang – orang di sekitar kita, entah pada saudari, anak, keponakan atau entah siapa. Aku percaya apa yang kita ujarkan bahkan pada hal sekecil ini sebenarnye merefleksikan bagaimana ideologi kita tentang konsep diri kita sendiri, bagaimana merefleksikan pemahaman dan apa yang kita percaya atas sesuatu.
Aku tak menyalahkan para perempuan tanah dalam mengonsep diri mereka khususnya tentang rambut, karena aku pernah juga beberapa kali meluruskan rambutku yang keriting. Aku pada dasarnya memang sewaktu masa SMA – kuliah S1 suka sekali mengutak – atik rambutku, jadi ya tak juga karena alasan – alasan yang dikemukakan di atas, tapi lebih pada tahap eksplorasi. Semua gaya rambut pernah kucoba begitu juga mewarnai rambut. Rambutku selalu berkisar dari dicepakin kayak cowok, kemudian dibiarkan kribo dan besar banget, digimbal, disambung benang, lalu dilurusin, dan kalau mulai bosan lagi apalagi kalau aku makin rajin berenang dan bermain di pantai, maka rambutku kembali lagi pada siklus yang sama; dicepakin.
Tetapi seiring dengan waktu, aku rindu rambutku yang keriting dan halus. Apalagi aku suka saat rambutku terasa ringan dan mengembang. Saat SMA dan kuliah S1 dulu, aku kadang merasa iri dengan rambut adik perempuanku yang lurus dan persis seperti rambut bapakku yang non- Papua. Tetapi setelah beberapa tahun ini, aku malah merasa bahwa aku sudah bisa menerima rambut dan diriku bahwa pilihan yang dibuat Tuhan dalam struktur dan jenis rambutku adalah yang terbaik. Yang harus kulakukan adalah mengubah cara pandangku tentang rambutku.
Apalagi sejak berada di Australia, aku merasa benar – benar jatuh cinta pada rambut keritingku. Beberapa hari ini aku sempat memandangi kumpulan fotoku selama hampir setahun dan menyadari bahwa rambut keritingku begitu indah, bahkan menjadi sebuah pembeda yang cukup signifikan bila berkumpul bersama teman – teman.
Aku juga mulai rajin membaca tentang bagaimana memperlakukan rambut keritingku dan ternyata dengan mengaplikasikan produk perawatan rambut yang tepat, rambut keritingku masih tetap bisa diatur rapi dalam suasana tertentu yang mengharuskan berambut rapi. Tapi di saat berbeda, rambut keritingku bisa juga menjadi sebuah fashion statement yang jelas lengkap dengan aksesorisnya.
Aku pikir keriting ataupun tidak bukanlah hal yang terpenting dalam hubungannya dengan rasa percaya diri. Bagiku yang terpenting adalah apakah rambut kita sehat, tidak berkutu, tidak berketombe, tidak rusak, itu yang penting.
Beberapa bulan lalu, aku sempat terkesima dengan pernyataan beberapa teman yang merasa tidak PD dengan rambut keriting mereka dan segera mencari upaya meluruskannya. Bagiku secara pribadi, jangan menjadikan rambut keriting kita sebagai alasan untuk tidak PD. Karena PD alias self confident itu dari dalam diri kita. Bagaimana kita memandang diri kita sendiri.
Percaya diri itu bukan bakat alami tapi bisa dikembangkan dan dipelajari. Itu bukan harga mati bahwa hanya orang tertentu yang memilikinya. PD apalagi yang berkenaan dengan rambut adalah milik dan hak kita semua.
Aku pernah mendengar bahwa seorang teman bilang padaku, “Day, ko tahu, sa tuh bukannya tra suka rambut keriting, tapi kalo sa rambut akan de tumbuh dan keriting – keriting begini, sa rasa macam kapala brat.”. Ada juga seorang temanku yang bilang, “Day, aeh yang penting kan sa pu hati masih keriting toooo. Biar rambut bonding, yang penting hati keriting mo.” Dalam hal ini aku bukan hakim yang berhak menghakimi pendapat teman – temanku.
Yang aku tahu, apapun alasan yang kita kemukan guna memberikan alasan mengapa kita tak mau berambut keriting adalah kembali pada bagaimana kita mengonsep diri kita sendiri. Bagaimana kita membentuk zona nyaman dan rasa aman dalam hidup kita.
Pertanyaan yang ingin sekali kutanyakan pada para perempuan tanah yang meluruskan rambut dan selalu meluruskan rambut mereka kala folikel – folikel itu menumbuhkan rambut yang menggelung dapat kusimpulkan di bawah ini.
“Apa deng kasi lurus kam pu rambut, kam merasa lebih aman dan lebih diterima dalam kam pu lingkungan pergaulan?”, “Apakah deng kasi lurus rambut, kam pu paitua ka cinta dong akan lebih sayang kam?”
Kalau jawabannya masih berkisar pada kata “Ya”. Maka aku hanya bisa bilang, “SELAMAT! Anda telah menerima hegemoni konsep jati diri orang lain di dalam diri anda”
‘Perem komen, ini kam pu hidup’. Hidup cuma 1 kali. Kalau perubahan sekecil ini masih tak bisa kita lakukan, bagaimana kita bisa lebih menghargai diri sendiri dalam hal lain?
Kita tak perlu menjadi bagian dari homogenitas yang membunuh siapa diri kita sebenarnya.
Cenderawasih tetap saja cantik walau ia tak berwarna hijau seperti Merak ataupun berwarna putih bersih seperti Kakatua. Karena ia Cenderawasih!
# Warna kulit
Sewaktu remaja bahkan hingga saat kuliah, aku sering sekali dibandingkan dengan adik perempuanku yang berkulit terang seperti bapakku yang non- Papua, apalagi saat para teman – temanku berkunjung ke rumah ataupun aku dan adik perempuanku jalan sore, ditambah lagi tampilan fisik kami yang berbeda jauh. Banyak komentar yang kudapatkan berkisar pada warna kulitku yang gelap.
Tapi sejak kecil aku tak pernah peduli tentang warna kulitku. Saat kuliah pun saat teman – teman yang lain sibuk memakai payung ke kampus, aku palingan hanya ber-topi. Bagiku selama kulitku masih sehat dan tak ada kanker kulit, I’ll be fine!
Aku kerap mendengar orang – orang yang kutemui sewaktu di kotaku berbicara tentang warna kulit. Saat beberapa dari mereka sibuk berbicara tentang persamaan hak dan ketidakadilan sosial bagi rakyat Papua, di sela – sela pembicaraan mereka malah terselip satu – dua ujaran yang membuatku sedikit mengernyitkan alis saat membahas ingin mendapatkan pasangan hidup yang tak berkulit gelap, dengan alasan ‘ingin memperbaiki keturunan.’. Perkataan ini pun yang sering dilontarkan para saudara sepupu ataupun kerabat jauh plus beberapa teman saat bertanya apa aku telah mendapat kekasih beras Kaukasia (baca: bule), demi ‘perbaikan keturunan’. Bagiku, pertanyaan dan ujaran seperti ini adalah sebuah refleksi bagaimana kita memandang diri kita sendiri, bagaimana menghargai diri kita sendiri. Aku bukan hakim dalam hal ini, tapi bagiku, pertanyaan dan ujaran seperti ini seakan menyatakan bahwa kita tak bangga dengan diri kita sendiri!
Jujur, aku benci pada iklan produk pemutih wajah di TV Indonesia. Mulai dari produk A yang bisa memutihkan dalam waktu 7 hari hingga produk – produk B yang bisa diminum untuk menerangkan warna kulit dari dalam.
Jujur, aku ingin bilang pada pembuat produk – produk itu, “Tra baca artikel kesehatan ka? Su tahu orang pu ras Melanesia begitu, apalagi pigmen melanin tinggi dan matahari juga pica tiap hari begitu, biar mo pake sampe 1 drem juga, kulit tra akan putih ya. Kecuali kam klonning tong pu pigmen nih hilang ka bagaimana ka bole”. Tapi aku miris karena banyak yang terkena rayuan produk – produk ini.
Bagiku dan juga karena keseringan membaca artikel kesehatan, yang terpenting bukanlah warna kulit. Tapi apakah kulit kita sehat atau tidak. Yang terpenting, kulit kita tak berjamur yang bisa memicu ‘kaskado’ dan saudara – saudaranya, Tak ada luka iris pun luka terbuka yang dapat mengundang masuknya bibit penyakit dalam jaringan kulit dan darah, tak ada indikasi kanker kulit., tak ada ‘wepambok dan infeksi kulit lainnya’. Itu yang penting, dibanding harus sibuk berburu produk pemutih kulit, mem-bleaching kulit di salon dll.
Satu yang pasti, jangan pernah sampai menjadi seperti Tina Turner, seorang penyanyi kulit hitam di Amerika yang pernah berkata bahwa ia seorang wanita kulit putih yang terperangkap dalam tubuh berkulit hitam ataupun seperti almarhum Michael Jackson yang melakukan operasi plastik berulang kali demi mengganti warna kulit.
Kau tahu, kau berharga. Ibarat Mutiara hitam yang sangat mahal dan langka, demikianlah dirimu.
# Tentang Gaya
Aku bukan fashionista (pecinta mode). Walau kuakui aku sejak kecil hingga sekarang sangat menyukai hobiku membuat skesta busana, lebih pada perancangan, tapi tak pernah mau aku menjadi korban tren mode. Bagiku, aku tahu apa yang kuinginkan, aku tahu bagaimana busana yang tepat bagi bentuk tubuhku dan aku tahu apa yang ingin kusampaikan pada orang lain lewat busana yang kupakai.
Aku tak akan menghakimi para pecinta mode karena itu adalah hak mereka. Tapi satu yang pasti, jangan pernah mau dikendalikan oleh tren pasar. Jangan pernah mau menghambakan diri pada perkembangan fashion dan jangan pernah mau membeo apa yang digariskan orang lain.
Buatlah gayamu. Kenali bentuk tubuhmu! Ketahuilah apa yang kau inginkan dalam berbusana. Jangan pernah peduli pada kata orang lain yang bilang bahwa ‘neh ko gaya kampung sampe. Neh ko pake gaya ini bole de el el.”
Aku hanya ingin bilang, “Ini ko pu hidup. Ko tidak harus ikut kata orang lain supaya dong bisa hargai ko, ko tra harus berubah demi dong pu penerimaan.” Hidup cuma satu kali, orang Australia bilang, “Live your life to its fullest”. Secara literal sih artinya “ko manfaatkan ko pu hidup betul – betul. Ko bikin!”
Aku rindu suatu hari nanti, di tanah Papua, saat wisuda di Universitasku dulu, kita tak harus berkebaya dan sanggulan dan sibuk berdandan yang aneh – aneh (aku bersyukur tak memakai sanggul saat wisuda). Aku rindu suatu saat nanti para ibu pejabat ataupun petinggi pemerintah lainnya bisa bangga dengan rambut keriting mereka. Aku rindu suatu saat nanti, para perempuan tanah ke salon hanya untuk merawat rambut dan kulit mereka tetapi tak mengubah esensinya.
Cenderawasih akan tetap cantik walau ia hanya tinggal di pepohonan. Mutiara hitam akan tetap ada dan kemilau di dasar lautan. Emas yang tersimpan di perut bumi Grassberg akan tetap cantik walau awalnya hanya bercampur tanah.
Manusialah yang memberi nilai pada sesuatu.
Sudahkah anda memberi ‘nilai’ pada diri anda?
(Canberra, 1 November 2009)
Subscribe to:
Posts (Atom)