Search This Blog

Loading...

Thursday, 29 October 2009

Cerita Sore

Sore ini aku belajar banyak hal dalam hidupku. Belajar tentang hidup, tentang alam, dan tentang bagaimana seharusnya mengelola sudut pandangku. Sore ini aku bisa bilang bahwa aku belajar banyak tentang mengenal siapa diriku. Sore ini, dalam perjalanan jalan kaki santai dari kampus ke rumah selama lebih dari 50 menit membuatku merasa bahwa aku begitu diberkati, sesuatu yang kerap kulupakan.

1 minggu terakhir hidupku berada pada titik dimana kejenuhan, amarah, kesedihan dan semua hal yang mencabut rasa sejahteraku bercampur baur dalam kumparan sel – sel otakku, tertumpuk dan membuatku tak sejahtera dan kurang bersyukur. Apalagi dalam 2 minggu terakhir ini, hubunganku dengan pacarku (yang telah kuputuskan minggu lalu) pun kacau balau. Aku mengendus ketidakjujuran dan bagiku itu sangat fatal karena aku tak suka dibohongi lagi, tak ingin didustai. Apalagi tingkat dusta kali ini boleh kukatakan benar – benar fatal dan bagiku aku tak bisa saja berjalan dan melanjutkan hubungan dengan lelaki yang tak bisa menghargai perempuan dan anak kecil dalam hidupnya.

Tapi mungkin aku juga yang salah karena tak stabil dan tak berpikir panjang kala ‘say yes’ untuk jadi kekasihnya. Saat itu aku hanya ingin bisa percaya lagi pada makhluk yang dominan berkromoson X dan selalu diberi simbol ♂, tapi ternyata setelah apa yang kualami baru – baru ini, sudah saatnya sementara ini bilang: NO MAN, NO CRY! Bukan untuk menghibur diri pun membela diri, tapi untuk lebih memahami apa dan siapa yang kuinginkan. Untuk memberi waktu pada diriku sendiri!

Sambil mendengarkan alunan CD bertajuk ‘Sea of Tranquility’, dentingan piano dan harum lilin beraroma kopi membuatku begitu relaks untuk menulis. Sebuah pelampiasan dari tumpukan masalah. Ingin lepas dari tekanan teror dan ancaman mantan pacar di Manokwari, tugas akhir berupa esai 3k words (3 ribu kata) sebanyak 3 buah dengan batas akhir yang sama dan sialnya, aku masih terkandas pada bagian awal esai itu (padahal harus dikumpul minggu depan), rasa rindu rumah, dan juga hubunganku dengan Tuhan yang lagi redup.

Aku belajar banyak hari ini dan aku bersyukur saat berjalan sore tadi, kala merasa begitu lelah dan kuputuskan bercerita dengan Tuhan (suatu hal yang sudah jarang kulakukan selama 1 bulan ini), bercerita tentang semuanya, tentang hidupku, tentang bebanku, tentang impianku, tentang semua yang mengganjal ….. Mmmmh aku belajar banyak hal dan ternyata … Hidup ini lebih dari cukup untuk disyukuri DAN aku memutuskan untuk merevitalisasi hidupku dan tentu saja cara pandangku. Guess what? Hari ini aku mendapat banyak peneguhan lewat cara – cara yang jarang kudapatkan dan aku tahu, jauh di sana, Dia peduli padaku dan aku hanya ingin bilang bahwa ‘Thanx Jesus, untuk anugerah pengampunan ini, karena saat aku datang pagi ini dan mengakui semua dosaku, dan kurasakan pengampunan itu, I feel so brand new. Merasa baru. Merasa merdeka!’. Terima kasih untuk hidupku!

Ada banyak hal yang kudapatkan hari ini, khususnya sore ini. Mungkin anda tak setuju pada beberapa poin, tapi secara pribadi, inilah yang kualami hari ini dan benar – benar menjadi penyejuk jiwa saat merasa tak mampu lagi untuk melanjutkan hidup.

#1. Tuhan peduli (lewat sesamamu)!

Pagi tadi saat tiba di sekolah dan bertemu rekan kerja, ia menanyakan kesehatanku dan berbagi tawa denganku. Saat pulang dari tempat kerja, saat naik bis ke arah rumah untuk berganti pakaian dan makan siang di rumah, pak sopir begitu ramah dan menanyakan kabarku dan bahkan saat hendak turun, bilang padaku untuk jangan lupa tersenyum dan menikmati hariku. Gaya bicaranya tak seperti supir yang lain yang hanya basa – basi tapi aku merasakan ketulusan dari cara ngomongnya yang ramah dan menyapa setiap penumpang dan kadang berhenti agak sedikit lama dan mengobrol dengan penumpang yang turun dan aku melihat ‘virus bahagia’ yang menular padaku.

Saat pulang jalan sore dan tiba di arah jalan masuk suburbku, sebuah gardu telepon di dekat hutan Eucaliptus terkena graffiti, tapi aku bersyukur karena ternyata yang mencoret gardu ini memberikan sebuah pesan yang bagiku menjadi sebuah motivasi: “Don’t Give Up. I won’t!” atau secara literal ‘(Ko) Jangan menyerah. Sa (saja) tra akan (menyerah)!’


#2. Cinta tak (mungkin) lahir dari sebuah keterpaksaan!

Itu hal baru yang kupelajari hal ini saat berjalan kaki tadi dan merefleksikan sikap mantan pacarku yang mengirim sejumlah SMS ancaman. Aku belajar bahwa cinta bagiku bukanlah sebuah anugerah Tuhan yang lahir dari sebuah keterpaksaan. Cinta hanya bisa lahir saat aku menerima siapa diriku, dan diri orang lain tanpa keterpaksaan. Aku belajar bahwa saat terpaksa, yang ada hanyalah sebuah rasa kasihan, terpaksa ataupun terancam dan itu bukan cinta bagiku.

Tapi aku bersyukur karena hari ini khususnya sejak pagi, aku bisa menerima diriku, menerima kenyataan bahwa di luar sana, di sebuah tempat bernama Manokwari, ada lelaki yang tergila – gila padaku dan ingin aku tetap menjadi kekasihku walau dengan memakai cara yang membuatku tak nyaman, dan hal ini harus tetap kusyukuri. Aku harus bersyukur karena di tempat lain, ada banyak orang yang bahkan tak diinginkan, tak dicintai ataupun digilai. Namun, sebagaimana cinta sebagai sebuah kehendak bebas yang diberikan oleh Tuhan dalam hidup manusia, aku memilih untuk tidak mencintai lelaki ini lagi sebagai kekasih tetapi sebatas saudara dan sahabat. Tak boleh lebih dan tak boleh kurang. Karena kalau sampai aku terpaksa dan hanya kasihan dan menerimanya kembali, maka itu bukan cinta tetapi belas kasihan pun keterpaksaan.

Cinta itu membebaskan, bukan?

#3. Mencari Dia!

Sore ini kala menyusuri jejeran rumah – rumah dengan taman yang indah dan cerobong – cerobong asap tua khas rumah – rumah bergaya Inggris, aku terpesona pada Tuhan. Aku benar – benar merasa dekat dengan-Nya dan kalau mau jujur pada diriku, aku merasa damai dalam perjalanan sore ini.

Semuanya mungkin karena pagi ini aku kembali membaca manual hidupku selama di dunia, bercerita pada Tuhan tentang dosa – dosaku, pemberontakanku, amarahku dan semua hal yang kurahu salah di mata-Nya, dan saat berdoa minta ampun dan membaca manualku sebelum pergi ke sekolah, aku merasa begitu tenang. Bisa tertawa lagi. Satu hal yang sangat berbeda bila dibandingkan minggu lalu dimana aku harus menangis selama seharian.

Sore ini aku merasa baikan walau beberapa saat sewaktu di kampus sempat down dengan nilai tugasku yang drop lagi dan sampai – sampai memasang kertas post-it di buku cetak mata kuliah itu berlabel ‘Merasa paling GOBLOK!’. Jadi saat awal jalan sore di dalam kampus, aku masih dalam aliran suasana ‘merasa paling goblok’. Sambil berjalan dan menangis (I’m so melancholic), dan bilang pada diri sendiri, “aduh ini kan ko pu kesalahan sendiri. Merasa paling goblok kan cuma dapat nilai begitu dll”. Berjalan sambil mengutuki diri dan menyesali nasib. Tetapi kemudian, Ada suara dalam hati yang bilang begini, aku bukan ahli spiritual apapun, tapi aku percaya, jauh di sana, Dia (siapapun atau apapun yang anda lebeli dengan ‘Dia’) peduli padaku. Sebagai orang Kristen, aku percaya Tuhan-ku sedang berbicara denganku.

Suara itu bilang begini, “May, itu kan ko pu pendapat too, tapi BUKAN Sapu pendapat. Ko sendiri yang bilang ko goblok tapi itu bukan apa yang sa lihat dalam ko pu diri. Ko tidak perlu menjadi seperti apa yang orang lain inginkan dari ko, ko cukup jadi apa yang Sa inginkan. Sa tra lihat ko pu nilai tinggi atau rendah, May. Sa percaya ko pasti bisa melalui hari ini. Sa percaya ko bisa lanjut ke tingkat Master. Ayolah May, ko masih tra mo percaya tuh, ko ingat waktu urus Visa di Jakarta saja tersendat dan ko putus asa, trus Sa bilang kalo nan dalam beberapa hari ko dapat visa, trus ko waktu itu tra percaya, eee betul to ko dapat , walau ko terlambat ikut kegiatan selama 2 minggu?. Masa sekarang ko ragu tuh. Ayo semangat eee!”

Kembali lagi suara itu bilang begini, “May, hidup itu ko perlu jalani saja eee. Sekarang yang Sa pentingkan tuh apa dengan ko pu nilai tinggi tuh ko berguna dan jadi berkat bagi sesama ka trada? Ko tahu, ko termasuk beruntung, May. Tak semua orang dari ko pu tempat tuh bisa ada seperti ko saat ini. May, seberapa banyak perempuan dari ko tempat apalagi dari ko pu mama pu suku yang pu masa kecil kayak ko, yang pu kehidupan kayak ko, yang lulusan daerah tertimur di negara yang berada di utara benua ini bisa seperti ko? May, buka mata, penduduk asli benua ini saja, yang perempuan seperti ko, berapa banyak yang bisa seperti ko? Berapa banyak yang bisa kuliah di sini? Berapa banyak yang bisa berjalan tegap dan PD seperti ko? May, hidup perlu disyukuri dan diperjuangkan. Kalo ko merasa ko sudah lakukan yang terbaik dan sampai di sana adalah hal yang bisa ko lakukan, terimalah dengan ucap syukur eee.

Dan Suara sejenis ini dalam hatiku mulai mengisi perjalanan soreku tadi. Benar – benar menikmati!

Hari ini aku belajar banyak hal, aku belajar mengenal hidupku. Belajar mengenal Dia. Yang pasti seperti kata coretan graffiti di gardu telepon, “Don’t Give Up. I won’t!”.

(Canberra, 29 Oktober 2009.)

Saturday, 24 October 2009

Pembohong Terbesar!

Hari ini, hatiku masih tetap sedih, masih tak stabil. Aku baru saja pulang dari sebuah acara multicultural di sebuah asrama di universitasku. Menjawab undangan seorang teman. Mulai dari makan gratis di setiap stan mahasiswa yang berbeda kebangsaan hingga menonton sejumlah pertunjukan. Namun tetap saja, hatiku masih tak stabil.

2 hari lalu, tepatnya Kamis 22 Oktober 2009, hatiku merasa percah berkeping – keping, hancur tanpa bisa kupungut lagi, tak bisa direkatkan lagi. Begitu rapuh. Hingga beberapa lembar sapu tangan kain berukuran besar masih saja tak sanggup menampung air mata yang mengalir dari subuh hingga sore hari. Aku benar – benar patah hati. Benar – benar kecewa. Benar – benar tak sanggup.

Sebulan terakhir, benih benih cinta di hatiku, tersiram dengan baik, dan mulai bertumbuh tapi toh, kurang dari 2 hari aku mengenalnya, benih itu terpaksa harus gugur lagi. Tak sekedar gugur, tapi harus dicabut ke akar – akarnya dan harus dibakar. Biar tak ada bekas, tak ada sisa, tak ada jejak.

Aku yang mencabutnya, aku yang membakarnya dan aku yang membinasakannya. Bukannya tak sayang pun tak cinta. Tapi ini demi kebaikan semua orang, demi kebaikan keluarga, demi kebaikan bersama.

Ketika cinta tak lagi jujur, tak lagi sama, mengapa harus dipertahankan.

Ia, lelaki berkulit gelap dan berambut keriting yang sudah kuanggap menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidupku ternyata adalah seorang pembohong terbesar yang kukenal. Lebih dari pada para mantanku yang lain!!!

Monday, 19 October 2009

In the middle of Nowhere

“I am in the middle of nowhere”, itu jawaban yang kerap kuberikan pada rekan serumahku yang bertanya tentang progress tugasku.

Berada di antara mimpi dan terjaga, tepatnya!

Beberapa hari ini aku tiba – tiba memikirkan dia yang telah kukeluarkan dari memori otakku, mengingat sakitnya hati yang diabaikan, mengingat dia yang tak pernah mencoba mengerti, yang selalu berpikir semua akan baik – baik saja. Ingin sekali bertemu dan bertanya, ‘tell me, what’s changed?”.

Aku masih kadang merasa berada di rumahku di sebuah tempat yang kurindukan, seakan ingin berlari dan bertemu lelaki hujan dan bertanya, ‘sebenarnya sa salah apa?’. Ingin bertanya padanya secara langsung, ‘apa yang masih kurang dalam hubungan ini ka?’

Beberapa hari lalu, aku mengingat dia lagi dan hatiku sakit, terlalu berat, terlalu sakit mengingat dia. Apakah memang semua lelaki harus seperti dia yang menjaga pride sebagai lelaki?

Kemudian, sekarang saat aku bertemu seorang lain di dalam hidupku, seseorang yang mulai membuatku berwarna dan jatuh cinta, entahlah … mengapa aku mulai ragu lagi. Takut dikhianati, takut diselingkuhin lagi, takut ditipu. Masih tak bisa memercayai dia 100 %

Lelaki baru ini, entahlah …. Mengapa membuatku sedikit was – was, mungkin karena ia terlalu shining atau karena aku sudah lama tak jatuh cinta. Entahlah … mungkin karena aku tahu ada seorang perempuan lain yang menaruh harap padanya. Mungkin aku sudah bosan berada di sebuah keadaan di mana lelaki yang menaruh hati padaku benar – benar tak bebas penggemar. Aku capek. Capek berada pada keadaan tak netral.

Mungkin tak cocok saja jatuh cinta. Tak cocok saja memilih cinta sebagai nama tengahku. Mungkin harus kembali seperti Gibran dengan cinta platonisnya. Mungkin harus seperti itu.

‘Lelaki yang memanggilku bidadari’, bilang bahwa semuanya akan baik – baik saja. Bilang kalau perempuan itu hanya sahabatnya, tapi entahlah, aku tak merasa baikan. Aku tak mau saja menabur benih kembali di lahan yang salah, capek jatuh cinta, capek dikhianati, capek dipermainkan, capek memercayai orang. Dan juga capek menjadi ‘perebut’ lahan hati orang lain. Capek ‘dituduh’ selalu jadi pihak ketiga di tengah hubungan orang lain.

Entahlah, kenapa rasa jatuh cinta tanpa kebimbangan itu hanya bertahan dalam hitungan hari, dan kembali lagi hariku bertanya pada diri, “apakah sudah siap melepas status single dan berganti ‘punya pacar’?” .. Mungkin tak 100 % siap. Mungkin tak akan pernah siap.

Lelaki yang baru ini, berusaha meyakinkanku lewat pesan – pesan pendeknya, berusaha meyakinkanku untuk percaya padanya, tapi entahlah …. Ada keraguan yang terlanjur hadir. Mungkin tak akan begini kalau saja aku tahu perempuan itu tak pernah menaruh hati padanya. Mungkin tak akan begini kalau saja perempuan itu bukan pula mantannya mantan pacarku dulu. Mungkin tak akan ada keraguan kalau saja mereka yang dulu yang pernah datang tak menggoreskan luka, tapi aku terlanjur terluka. Butuh waktu panjang untuk mengerti, memercayai lagi. Butuh waktu untuk bisa sembuh dari ‘trauma’ dibilang ‘perusak hubungan’, ‘perebut lahan hati’ orang lain dan label lainnya.

Kalau mau jujur, tak pernah ingin dan tak pernah mau berada pada keadaan dimana lelaki yang memilihku, sebenarnya sedang ‘ditargetkan’ oleh perempuan lain. Tak mau saja. Aku bukan pilihan!

Kala jarak dan bentangan samudera masih tetap ada, kala kehadiran fisik menjadi sesuatu yang penting. Mungkin benar kata teman serumahku kalau ‘kehadiran fisik dan sentuhan’ tetap berperan penting. Mungkin itu pula yang membuat teman serumahku hanya menggelengkan kepala kalau aku bilang sedang jenuh dengan hubungan ini. Sebenarnya bukan jenuh, hanya takut dikhianati lagi, takut sakit hati lagi. Takut kecewa lagi. Berada pada titik antara mimpi dan terjaga.

Aku tahu ini pilihan yang kubuat, pilihan yang kujalani.

Entahlah, aku juga tak tahu. Ingin berlari masuk dalam laut yang selalu setia memelukku menenangkan kala galau di hati terasa berat. Ingin berteriak seperti dulu dan membiarkan pias ombak menamparku, untuk menyadarkanku tentang hidup dan kenyataan.

Aku rindu hujan yang turun dulu setahun lalu di sebuah pantai di kotaku. Hujan yang penuh maaf. Hujan yang penuh kata – kata marah di pantai. Hujan yang memelukku dan membasuh luka lama, hujan yang kuisi dengan teriakan marah, “outta my life, please!’

Aku rindu hujan yang sama di pinggiran pantai itu. Aku rindu pantai itu. Rindu tetes pertama hujan yang bagai pecahan mutiara dari lensa mataku yang segaris dengan permukaan air. Aku rindu basah hujan mengecup mata dan tubuhku yang mengapung, menatap langit kelabu. Aku rindu ombak yang berbisik dan nyanyian pasir yang mencoba menenangkanku, seperti dulu.

Semuanya tak pernah sama, tak akan sama. Panggil aku pengecut pun seorang yang tak stabil, tapi aku hanya ingin pantai itu, ingin kembali membenamkan diri dalam laut dan mendengar pasir berbisik di telingaku.

Mengingat kepiting pasir.

Mengingat kelomang yang berkeriap.

Mengingat pasir yang diterbangkan angin,

Daun - daun dan bunga kuning yang jatuh,

Karang mati dan pecahan buah bakau.

Mengingat kenangan – kenangan yang kugali, kusimpan, kusembunyikan, kupendam dalam tarian ombak,

Mengingat luka hati yang kubisikan pada air, pada pasir, pada laut.

Mengingat semua kenangan pahit, manis, asam, asin yang dimandikan laut, dicucihamakan.

Mengingat komitmenku pada hidupku yang disaksikan laut.

Aku rindu pantai itu, karena pantai itu masih tetap di sana, masih tetap basah kala hujan, masih tetap bernyanyi padaku. Masih tetap ada kala kubenamkan tubuhku yang penat dengan hujan emosi yang bernyanyi kencang di dadaku. Pantai yang merekam banyak jejak emosiku, lewat tapak kaki yang berjalan mondar – mandir menghitung kerang mati, lewat jejak telapak kaki yang berjalan pasti ke dalam laut mengukur hempasan ombak, lewat tarian tapak kaki yang berbisik padaku bahwa ‘aku pernah di sana.’

Semuanya tak pernah sama, tak akan pernah sama.

Mungkin sudah saatnya memasang label ‘married’ di akun jejaring sosial ini, pun sekalian memasang status ‘NOT AVAILABLE’, kala hati masih saja meragu dan labil, masih tak bisa percaya.

Ingin segera memasang perangkat apapun di memori otak untuk lelaki hujan, mengusirnya dari alam bawah sadarku, mengusirnya dari pikiranku. Semuanya telah selesai.

Panggil aku pengecut pun tak stabil. Aku masih butuh waktu ternyata, butuh waktu untuk menjadikan orang lain kembali dalam hidupku.

Perlu banyak waktu untuk bisa bilang ‘I love you full. No doubt at all’.

Perlu banyak waktu untuk menendang keraguan ini jauh – jauh, tapi toh akan tetap ada kala jarak tetap masih membentang. 3 kali sudah terlalu cukup dalam kamusku, 3 kali sudah sangat cukup menjadi pelajaran berharga, tak ingin lagi.

Sore ini, aku hanya ingin (sekali) berendam dalam ombak pantai Pasir Putih Manokwari, menenangkan galau di hati, membuang kekalutan perasaan dan emosi. Meng-uninstal semua kenangan yang bernama ‘cinta’, membuang semua perasaan interrelasi antar perempuan – lelaki, dan menjadi Maya yang dulu; Maya yang hanya bisa jatuh cinta pada tarian hujan, pada pohon dan alam.

Tak nyaman jatuh cinta, tak nyaman dengan perasaan ini, tak pernah nyaman.

Sudah saatnya membuang perasaan bernama C-I-N-T-A.

Pada tahap ini, entahlah, aku kembali merindukan masa – masa tak punya seorang yang harus kurindukan dan kupercayai. Apa karena memang aku sedari dulu selalu sendiri dan label ‘pacar’ hanya melekat di ponsel dan alamat e-mailku tapi jarang terlihat dalam keseharianku, karena ‘kekasih’ yang sering kurindukan malahan adalah bunyi laut dan debur ombak pun tarian hujan.

Sore ini, kembali lagi pada sebuah tanda tanya besar di benakku, “apa memang sa su siap pu pacar lagi?”. Entahlah, aku tak memungkiri bahwa aku mulai sayang pada lelaki baru ini tapi entahlah … ada sebagian yang dari diriku yang enggan melepas status ‘tanpa pacar’, sebagian dari diriku yang menolak percaya. Walau SMSnya meyakinkan sampai berkali – kali, tapi entahlah …. Apa karena semua yang pernah terjadi dulu terlanjur terekam di benak, terlanjur tak percaya? Entahlah ..

Mungkin perlu waktu … (yang cukup lama). Entahlah …

Satu yang pasti, Ingin berendam di dalam deburan ombak Pasir Putih.


(Campbell, Canberra/ 19 Januari 2009)

Monday, 12 October 2009

Sesuatu yang relatif

Sore ini, sambil sibuk melihat – lihat pertanyaan tugas yang harus dikumpul minggu depan, kembali lagi perhatianku pecah untuk membrowsing internet dan akhirnya aku mendapatkan sebuah artikel terbitan UNHCR tentang persoalan tekanan di masyarakat khususnya yang berkaitan dengan Islam – Kristen di Papua. Linknya kuberikan di akhir catatan ini. Bicara tentang hal ini, apalagi di Indonesia, mmmmmh … mungkin bukan sebuah topik yang menyenangkan, karena yang kerap kulihat adalah saling menghujat siapa yang lebih baik, siapa yang lebih suci, siapa yang lebih benar. Ini mungkin masalah klasik yang menjadi semacam ‘sterile debate’ di dunia antara 3 agama besar: Yahudi, Kristen, Islam. Kerap aku bertanya, “Untuk apa sih berdebat siapa yang paling benar, siapa yang paling baik, siapa yang paling suci kalau toh kita tak bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi sesama? Kalau hidup kita tak bisa membuat satu perubahan yang lebih baik bagi orang – orang di sekitar kita.

Catatan ini mungkin akan menuai protes dari kalian, dalam hal ini, mungkin kalian tak akan sependapat denganku. Itu hak kalian. Tapi bagiku, aku pikir kita manusialah yang selalu membuat sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit.

Baru kali ini aku membuat catatan tentang perdebatan agama dan perdebatan ini menurutku, kisah klasik yang terus berulang, terus menerus dan aku berada pada satu titik, dan bertanya pada diri sendiri, “kenapa ka tong mau saja taputar pada barang ini saja dan tidak hidup dan mengisi hidup kita dengan sesuatu yang lebih bermanfaat ka?” Dan bukannya, saling tuding, saling hujat dan saling membenarkan diri.

Aku kerap merasa miris saat membaca perdebatan di sebuah milis mahasiswa di sini, dimana ada beberapa pihak yang menganggap mereka ‘paling benar’, ada pihak yang membela bahwa sesuatu seharusnya begini ataupun begitu, ada pihak yang saling menyalahkan tentang etnis dan lain – lain. Dalam hal ini aku kok teringat pada tulisan seorang teman di Melbourne (Victoria Fanggidae) tentang rasisme. Aku teringat pada perkataannya bahwa ego kita sebagai manusia lah yang membuatku kita merasa kita-yang-paling-benar daripada orang lain.

Aku percaya, setiap orang terlahir dalam kesetaraan, dengan setiap pilihan hidup yang dibuatnya. Entah preferensi seksualnya berbeda dengan kita, entah kulitnya berwarna berbeda, entah rambutnya berjenis lain dengan milik kita, dan sejumlah pembedaan yang lain. Itu adalah sesuatu yang dipilih oleh Tuhan, untuk fisiknya dan juga pilihan hidup yang dianutnya. Selama ia bahagia dengan pilihannya, selama ia bisa menjadi manusia yang baik bagi sesamanya, selama ia tak mengganggu kita, mengapa kita harus mengintervensi hidupnya?

Mungkin kalian akan memanggilku seorang sekuler ataupun liberal, entahlah. Seorang teman Katolikku mengatakan bahkan aku terlalu radikal untuk keprotestananku karena saat di kampus ada sebuah acara untuk mengumpulkan petisi tanda tangan bagi pernikahan sejenis, aku dengan cuek bilang bahwa itu adalah hak mereka sebagai manusia tapi toh sebagai manusia, aku tak akan memberikan tanda tanganku karena aku membuat pilihan bagi hidupku. Begitu pula saat menonton debat antara Atheis dan kelompok Kristen pada minggu Ateis di kampus, aku cuma tersenyum simpul saat mereka berdebat dengan keras di bawah awan mendung di Union Court. Aku tertawa karena bagiku, hidup hanya perlu dijalani, tak perlu terlalu dianalisa terlalu lama. Jalanilah dengan apa yang kau percaya selama itu tak menyakiti orang lain, selama itu membawa kebaikan di hatimu dan orang lain.

Sewaktu SMK dulu, saat membaca karya – karya Anthony De Mello (saat kelas 1 SMK hingga kini, Doa sang Katak 1 dan 2, masuk dalam daftar buku favoritku), aku terkesima dengan pembahasan tentang kebenaran yang begitu relatif. Kebenaran yang kuanut adalah kebenaran yang relatif karena bukan harga pasti bagi kebenaran yang dianut oleh orang lain, bahkan oleh orang serumahku di Manokwari. Tapi yang kulakukan adalah berusaha menjadikan kebenaran yang kuanut sebagai sebuah langkah untuk dekat dengan Tuhan, dan aku percaya bahwa Tuhan mengejewantah dalam banyak hal, dalam banyak rupa.

Sebagai orang Kristen, aku mempunyai manualnya; Alkitab. Tapi kalau boleh dikata, aku mungkin bukanlah seorang Kristen yang baik di mata orang lain karena toh, bagiku Kekristenan adalah sebuah gaya hidup dan jalan hidup dan bukannya agama. Bagiku, kekristenan menjadikan aku manusia yang lebih baik bagi sesamaku, menjadikan aku menjadi apa yang aku tahu. Aku tak mengatakan bahwa inilah jalan yang terbaik, yang aku ingin tekankan adalah bahwa aku cocok dengan jalan ini dan aku menemukan apa yang kucari bagi ketenangan jiwaku. Anda sah – sah saja mempunyai pandangan yang lain dan berbeda ataupun mendebatku tentang hal ini, karena toh hidup adalah hasil dari setiap keputusan – keputusan yang kita ambil.

Aku kadang merasa sedih saat melihat kita memutuskan hidup dalam budaya yang menyudutkan budaya orang lain, menganggap diri kita lebih benar lewat ujaran kita, lelucon yang kita ungkapkan ataupun candaan sambil lalu. Bagiku, perbedaan fisik, kepercayaan dan gaya hidup bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan. Setiap kita adalah bagai tetesan air di lautan kasih Tuhan yang terbentang luas. Tuhan sebagai sebuah konsep yang abstrak menjadi sesuatu yang absurd bagi pemahaman kita yang begitu kecil. Tuhan dimaknai berbeda oleh setiap orang, setiap suku, setiap pribadi.

Secara pribadi yang aku lihat, kepercayaan dan ‘Tuhan’ yang dianut oleh penganut agama yang bertikai sebenarnya tak ada hubungannya dengan esensi Tuhan sendiri. Sebenarnya yang dipertentangkan oleh pihak yang bertikai lebih didasari oleh motif – motif lain, mulai dari ekonomi, kekuasaan, hingga sebuah pengakuan. Miris!!!

Miris melihat sebenarnya sebuah hal yang sebenarnya lebih bersifat vertikal antara Tuhan dan ciptaannya lebih ‘dipolitisir’ oleh para penganutnya dan menjadi semacam upaya ‘kontes kecantikan’ antar umat beragama. Aku besar dalam elemen yang berbeda dan belajar dan percaya bahwa mempelajari esensi Tuhan lebih utama dibandingkan memperdebatkan siapa itu ‘Tuhan’ karena toh tak ada seorang pun yang pernah bertemu Tuhan secara langsung.

Aku percaya kalau kita bisa membuang stereotype yang kita beri pada penganut agama tertentu, maka dunia pasti akan jadi tempat yang lebih baik. Ketika kita bisa membuang label agama, suku dan ideologi dalam diri kita dan bahu – membahu menjadi sebuah kekuatan besar untuk mengatasi masalah sosial seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan, pengangguran dan lain – lain.

Kepercayaan adalah sebuah pilihan, sebuah upaya mencari ketenangan diri. Saat kita merasa bahwa kitalah yang terbenar, apa yang kita dapatkan dari hal itu? Kepuasan batin diakui sebagai orang benar? Kepuasan batin dianggap sebagai orang suci? Atau …Mungkin pada bagian ini, kalian akan memanggilku ‘tersesat’ ataupun penyesat, tapi bagiku saat kita mulai memasuki tahap itu, sebenarnya kita telah menjadi ‘seorang hakim’, bukan? Kita menghakimi sesama kita dengan label dan standar yang kita anut, padahal sesungguhnya orang lain menganut standar yang berbeda.

Aku percaya Tuhan menyukai keragaman dalam hidup, itulah sebabnya Ia tak pernah menciptakan satu jenis pohon pun satu jenis bunga pun satu jenis ras. Dalam hal ini, kalian pasti akan mendebatku, tapi aku ingin bertanya, pernahkah kalian bertanya mengapa Tuhan mengijinkan hadirnya kepercayaan yang berbeda di dunia ini? Apakah kalian pernah bertanya, mengapa ia mengijinkan manusia berbeda antar budaya, ras dan lain – lain? Aku pikir pertanyaan seperti ini tak bisa terjawab hanya dengan membuat sebuah pemikiran dari satu sisi, karena walaupun kita menyiapkan banyak teori, akan tetap ada sebuah tanda tanya besar di sana yang tergantung di benak kita dan aku pikir hanya bisa kita tanyakan pada Tuhan secara langsung.

Aku pikir hidup hanya sekali dan bila hidup hanya diisi dengan berpikir bahwa ‘sa yang paling benar, yang paling suci, yang paling baik’ maka sebenarnya kita sedang jatuh dalam lingkaran cinta-diri-sendiri dan lupa bahwa Tuhan menginginkan kita menjalankan hidup to its fullest.

Masalah Timur Tengah masih terjadi, konflik India – Pakistan masih terjadi, ketegangan di Filipina selatan masih saja ada, belum lagi konflik – konflik lainnya yang didasari oleh paham sa-lebih-baik-dari-orang-lain.

Sudah saatnya kita berbuat sesuatu, yang paling gampang adalah mengubah pola pikir kita. Mulailah berpikir bahwa orang lain adalah bagian dari lingkaran hidup, kita akan terus bersinggungan dalam lintasan kehidupan. Mulailah dengan bersyukur untuk hidup anda, mulailah dengan menerima bahwa setiap orang berbeda. Bila ada tindakan yang melukai anda, katakanlah dengan lembut dan bukannya memakai kekerasan. Kadang kita lupa untuk berdiplomasi, lupa bahwa saat kekerasan dibalas dengan kekerasan, maka Tuhan pun sebenarnya lenyap dari pertikaian itu.

Panggil aku sekuler, panggil aku pemberontak, panggil aku tersesat, tapi bagiku, aku percaya Tuhan tak butuh sebuah tempat khusus untuk tinggal, Tuhan tak butuh sebuah label dan orang yang membelanya karena Tuhan hanya ingin kita dekat dengannya dan merefleksikannya dalam hidup kita.

Aku merasakan hadirnya Tuhan dalam tetes hujan yang turun, dalam keriapan burung – burung di pagi hari pun dalam percakapan dengan rekan serumahku. Aku merasakan hadirnya Tuhan dalam udara dingin yang bergerak, dalam tetumbuhan yang gembira menyambut panas mentari, dalam setiap interaksi alam yang kulihat.

Hidup hanya perlu dijalani, tak perlu terlalu dirisaukan siapa yang paling benar, paling suci ataupun paling baik. Saat waktu terlalu banyak dihabiskan demi membela yang paling benar, paling suci dan paling baik, sesungguhnya kita telah memboroskan waktu yang indah di dunia ini, memboroskan kesempatan untuk hidup ini.

Sudah saatnya membuat perubahan dan menghentikan kebencian terselubung yang kita wariskan ke orang lain tentang siapa yang paling benar, suci dan baik. Sudah saatnya melihat esensi dari hidup kita sebagai keping puzzle di tangan Tuhan yang saling melengkapi.

Kelak suatu waktu, di suatu hari, di suatu masa, kita kan tahu jawabannya … Kala kita bertemu Tuhan!!!

Karena toh, kebenaran adalah sesuatu yang sangat relatif!!!

(Canberra/ Sore yang mendung, 12 Oktober 2009)

Link artikel:
http://www.unhcr.org/refworld/pdfid/485656b72.pdf

Bersyukur dan Berbagi (Catatan untuk anti-poverty week)

Sambil mendengarkan koleksi lagu gospelku, ku lihat majalah murah (65 cents) WarCry terbitan The Salvation Army, sebuah denominasi gereja. Majalah ini kerap kuambil kala belanja di The Salvos Store; gerai pakaian bekas layak pakai di Australia. Saat membuka majalah edisi 10 Oktober 2009, aku terhenyak dengan pembahasannya tentang kemiskinan, khususnya tentang minggu Anti-Poverty yang digelar di Australia sebagai Anti-Poverty week sejak tahun 2002 sebagai bagian dari Hari Internasional pemberantasan kemiskinan PBB terhitung sejak tanggal 11 – 17 Oktober dengan puncaknya tanggal 17 Oktober. Jadi selama minggu ini, akan ada banyak kegiatan di komunitas di Australia mulai dari pameran fotografi, seminar dan lain – lain yang intinya sih untuk meningkatkan kesadaran bahwa kemiskinan itu nyata dan ada plus terlepas dari semua jenisnya, harus ada langkah nyata yang diambil guna memutuskan rantai kemiskinan.

Bagiku pribadi, kemiskinan begitu menakutkan, mulai dari secara fisik hingga ke rohani. Banyak buku yang kubaca yang begitu menyentuhku secara pribadi dan menjadi sebuah inspirasi untuk maju, mulai dari upaya Greg Monterson dalam ‘Three Cups of Tea’ yang ingin memutuskan rantai kemiskinan lewat pembuatan sekolah – sekolah yang mengutamakan perempuan dan anak – anak miskin di daerah Himalaya, hingga terharu dengan kisah ‘the City Of Joy’ yang bersetting di Kalkutta India dan juga kisah peraih Nobel Muhammad Yunus di Bangladesh yang menciptakan Garmeen Bank untuk para pengemis dan juga deretan kisah – kisah lainnya yang menyentuh kala kubaca edisi Reader’s Digest. Bagiku, kemiskinan memang nyata dan ada, dan selalu ada orang – orang yang berusaha mematahkan rantai kemiskinan itu lewat berbagai cara.

Bicara tentang kemiskinan, aku kok malah teringat kutipan salah seorang tokoh yang jujur pada beberapa hal sangat memengaruhiku beberapa tahun terakhir ini dalam menilai prioritas kepemilikan suatu benda; Mother Theresa. Mungkin karena sejak SMK kelas 1, aku telah membaca karya – karya Anthony De Mello, SJ dimana beliau sering mengutip perkataan Mother Theresa, yang secara otomatis memengaruhiku juga. Adapun kutipan – kutipan Mother Theresa bisa diperoleh di link yang kucantumkan di akhir catatan ini, aku harap bisa menginspirasikan hidup anda. Salah satu perkataannya yang sangat menginspirasiku adalah perkataanya tentang kemiskinan adalah “Loneliness and the feeling of being unwanted is the most terrible poverty” (Kesendirian dan perasaan bahwa kita tak diinginkan adalah kemiskinan yang paling buruk) dan itu terefleksikan dalam banyak hal yang kulihat dan kusaksikan, dan kadang aku masih berjuang keras untuk melawan musuh terbesarku ini. Karena bagiku, hal yang disebutkan ini kadang membuat kita lumpuh dan berpikir bahwa kita tak bisa berbuat apa – apa bagi hidup kita, apalagi bagi hidup orang lain.

Mungkin catatanku ini terlalu berat bagi kalian yang membacanya, terlalu berbelit – belit, tapi aku ingin melihat dalam hidup kalian dan bersyukur bahwa di saat kalian bisa membaca catatan ini, sebenarnya kalian telah berada beberapa langkah ke depan dari berpuluh atau beratus bahkan beribu orang lainnya di dunia. Karena pertama, anda mempunyai akses ke internet. Anda mempunyai uang untuk membayar sambungan ataupun fasilitas ini. Anda bisa membaca apa yang kutulis, artinya anda mendapatkan pendidikan. Anda bisa mengonsep apa yang kutulis dalam pikiran anda, artinya otak anda bekerja dengan baik dan ‘normal’ dan tak mengalami masalah dengan beberapa orang yang kurang beruntung yang kadang tak bisa mengikuti apa yang kutulis ini. Jadi, anda benar – benar diberkati!

Dari catatan statistik yang kubaca dari laporan PBB, ditengarai sekitar 50% dari 6, 5 Milyar orang yang gajinya itu cuma kurang dari AUD $ 2/ hari (kalo 1 AUD $ sekitar Rp. 8000, kalikan saja berapa?), dan lebih dari 1 Trilyun itu hanya kurang dari AUD $. Miris banget kalo melihatnya. Plus ada juga laporan Bank Dunia kalau kemiskinan itu sebenarnya punya “banyak wajah, yang berganti dari satu tempat ke tempat lain”. Kemiskinan yang kulihat di Afrika adalah juga kemiskinan yang kulihat di Papua. Kemiskinan yang kulihat di Asia adalah juga kemiskinan yang kulihat di Australia. Kemiskinan itu nyata, cuma sayangnya kadang kita pikir, itu bukan urusan kita karena toh, sudah ada Departemen Sosial lah, pihak gereja dan pihak agamawi lainnya, plus LSM sosial lainnya.

Sebenarnya apa sih yang kita harus buat guna memerangi kemiskinan? Kan tak ada gunanya kan mengulang cerita lama terus menerus tanpa berbuat sesuatu. Mungkin ini pertanyaan yang akan anda lontarkan padaku saat membaca catatan ini. Dalam hal ini, aku sangat setuju dengan pertanyaan seperti ini. BUAT PERUBAHAN!!! Itu yang ingin kukatakan. Putuskan rantai kemiskinan ini.

Caranya??? Mulailah dari hal – hal sederhana yang bisa kita lakukan karena aku percaya sebagaimana yang diajarkan oleh seseorang beberapa abad lalu bahwa, “bila kita setia dalam perkara yang kecil, maka kita bisa juga membuat perkara yang besar”. Konsep ini diadopsi oleh Mother Theresa sebagai, “In this life we cannot do great things. We can only do small things with great love.” (dalam hidup ini, kita tak dapat melakukan hal – hal yang hebat, Yang kita lakukan adalah dapat melakukan banyak hal kecil dengan kasih yang besar).

Kita bisa mulai dengan menyadari dan mengakui bahwa kemiskinan itu ada. Kemudian mulailah dengan mengucap syukur dengan apapun yang kita punya saat ini dan bukannya apa yang tak kita punya. Aku juga kadang berada dalam posisi yang menggerutu, tapi saat aku mulai menggerutu, aku tersadar bahwa aku sudah kehilangan momen bahagiaku dan malah membuat keadaanku semakin buruk. Jadi dengan mengucap syukur dan mengubah sudut pandang kita, sebenarnya kita telah membuat suatu pembedaan dalam konsep kemiskinan diri kita.

Setelah itu, mulailah melihat sekeliling kita. Tak langsung harus menolong anak yatim piatu satu kecamatan atau satu kota. Mulailah dari dalam keluarga sendiri. Apakah hari ini Tuhan, saudara, anak, kekasih, istri, suami, orang tua ataupun keponakan kita telah mendapatkan perhatian yang seharusnya mereka dapatkan. Membuat mereka merasa dicintai dan bahwa kita mencintai mereka. Aku mungkin tak begitu bisa memberikan contoh yang baik, karena daftar teman di Facebookku saja hanya kusapa kalau sempat, tapi aku selalu menyempatkan bertukar kabar dengan keluargaku khususnya bapak setiap hari. Kalau sampai jam 7 malam belum ada SMS yang masuk, maka aku yang mengirimkan SMS menanyakan kabar, begitupun sebaliknya. Ini caraku untuk menjaga hubungan komunikasi dan menyatakan bahwa mereka tetap menjadi bagian terbesar dari hidupku.

Aku percaya kunci untuk memberantas kemiskinan adalah saat kita menganggap bahwa orang lain adalah bagian dari diri kita sendiri. BERBAGI mungkin kata yang tepat untuk menyatakan hal ini. Berbagi ilmu lewat pendidikan, berbagi Kemakmuran lewat Zakat, persembahan syukur dan bantuan lainnya. Berbagi senyuman untuk orang – orang yang sedang sedih dan murung. Berbagi tawa dengan mereka yang sedang berbeban berat. Banyak hal yang dapat kita buat.

Hari ini, lihatlah ke dalam hidup anda. Apa yang kita bisa buat, buatlah itu. Jangan menunda. Kalau memang hari ini kita bisa melakukan sesuatu, misalkan saja menyumbang 1 buku ataupun 1 pensil pada anak tetangga kita yang tak bisa membeli buku, lakukan itu. Kalau hari ini kita bisa berbagi semangkok sayur untuk tetangga kita yang sedang tak punya uang untuk membeli lauk pauk, lakukan itu. Kalau hari ini, saat berjalan dan bertemu anak – anak kecil yang mencari tumpangan ke sekolah atau pulang ke rumah, berikanlah itu. Aku percaya, Tuhan mengejewantah dalam banyak rupa, dalam banyak orang.

Akhirnya, hari ini, saat membaca catatan ini, cobalah ambil waktu 5 menit dan berpikir apa yang telah terjadi dalam hidup anda. Seberapa banyak hal yang telah anda punya agar bisa disebut manusia, seberapa banyak fasilitas yang anda miliki saat ini, seberapa banyak hal yang bisa anda nikmati cuma – cuma. Aku akan melampirkan beberapa pertanyaan yang aku pikir perlu kutanyakan pada diri sendiri dan juga anda bisa membantu dengan menanyakan pada diri anda sendiri.

• Apakah aku mempunyai makanan hari ini?
• Apakah aku berpakaian hari ini?
• Apakah aku mempunyai tempat untuk tinggal ataupu tidur mala mini?
• Apakah aku mempunyai seseorang yang peduli padaku hari ini?
• Apakah hari ini aku masih bisa melihat, merasakan sesuatu, mendengar bunyi, merasakan asin makanan ataupun membaui makanan?
• Apakah hari ini aku bisa berjalan dari satu ruang ke ruang lain tanpa rasa sakit dan alat bantu?
• Apakah hari ini aku bisa menulis walau hanya satu kalimat, ataupun mengetik walau hanya satu baris, dan bisa membaca walau satu deret huruf?
• Apakah hari ini apa yang dikatakan oleh orang lain dapat kumengerti walau tak begitu sempurna namun aku dapat menangkap maksudnya?
• Apakah hari ini aku bisa membeli sesuatu walau hanya 1 buah permen?
• Apakah hari ini aku menerima 1 SMS, panggilan telpon, 1 e-mail, 1 sapaan ataupun ada yang mengajakku bicara hari ini?
• Apakah aku mempunyai rencana beberapa hari ke depan, atau ke bulan depan atau tahun depan?

Aku ingin menambah lagi daftar pertanyaanku tapi aku tahu tak akan pernah cukup lembar ini untuk menampung berkat – berkat yang mengalir dalam hidup kita. Bayangkan, untuk hidup saja hari ini tanpa satu pun keluhan sakit ada puluhan berkat di dalam tubuh kita.

Jadi, mulailah berbagi apa yang kita bisa lakukan dan bukannya apa yang tak bisa kita lakukan. Jangan pernah berpikir bahwa uang selalulah yang jadi solusi dari permasalahan kemiskinan, karena jauh di sana, … aku melihat banyak hati yang perlu disentuh dengan kasih Tuhan dan mengatakan bahwa mereka berharga dan layak untuk hidup!!!

Bagikan kasih, patahkan rantai kemiskinan, karena Tuhan tak pernah ingin kita hidup miskin!!! Yang Tuhan inginkan adalah hiduplah secukupnya! Yang Tuhan inginkan, hiduplah dalan kecukupan untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain. Kekayaan diijinkan dalam hidup agar kita menjadi orang – orang yang dapat berbagi dengan orang lain.

Hidup cuma satu kali. Buatlah perubahan!!!

Kita adalah manusia yang hidup dalam lingkaran hidup. Apa yang kau buat bagi sesama, sesungguhnya adalah apa yang kita buat bagi diri kita sendiri.

(Canberra/ Di sebuah malam 12 Oktober 2009)

Link kutipan Mother Theresa:
http://www.brainyquote.com/quotes/authors/m/mother_teresa.html

Sunday, 11 October 2009

Kekristenan dan Lingkungan Hidup

Malam ini sambil mengumpulkan mood untuk kerja tugas, udah 2 jam kuhabiskan untuk browsing dan mendengar lagu – lagu rohani lewat Youtube, mulai dari CeCe Winans hingga Nicole C. Mullen. Aku punya kebiasaan buruk yaitu kalau baru bangun tidur (aku tidur sejak jam 4 sore dan bangun jam 8 malam), aku susah untuk mulai konek pada lingkungan sekitar, jadi masih ‘kumpul nyawa’ apa menunggu loading ke otak 100 persen. Nah tadi dalam proses ‘kumpul nyawa’, aku menemukan klip lagu dari sebuah lagu sewaktu ikut acara West Papuan Praise and Worship di Melbourne, judulnya ‘Redeemer’.

Nah sambil mendengar lirik lagunya, aku kok tiba – tiba tersadar bahwa, siapa sih manusia? Kok mau ya Tuhan yang begitu agung, dalam ajaran Kristen, datang dan menjadi manusia hanya untuk bilang kalau ‘Hei, Sa datang nih, ayo sa tolong kam kasi keselamatan supaya kam jang gabung deng Iblis di Neraka, di sana tra enak ya …. Ayo, ikut sa, jalan yang sa tawarkan memang tra selalu bikin sa senang, malah mungkin susah bagi kam, tapi nan kam selamat. Mau ka trada?”, mungkin seperti itu sih intinya kalo si Yesus lahirnya di Papua. Jadi sambil sibuk mendengar lagu, aku juga sambil mengingat kemarin di Manokwari tuh hujan lebat hingga katanya ada beberapa daerah di Manokwari Selatan yang banjir segala, kurang tahu seberapa parah. Ah kok aku malah ingat lirik baik pertama lagunya si Mullen sih, seperti ini:

Who taught the sun where to stand in the morning
Who told the ocean you can only come this far?
Who showed the moon where to hide 'til evening
Whose words alone can catch a falling star?

Jadi kalau secara harafiah sih mo bilang, siapa sih yang bilang pada seisi alam untuk bekerja dengan pola seperti ini, harus seperti itu, de el el. Aku juga sambil teringat kalau khotbah di gereja minggu lalu itu tentang global warming, climate change dan juga dampaknya pada manusia, jadi minggu lalu ada doa untuk korban gempa di Padang, Tsunami di Samoa dan doa untuk beberapa tempat lainnya di dunia yang ternyata iklimnya banyak yang ekstrem juga tapi manusia masih hidup di sana. Fiuuuuh, ada yang sampe minus berpuluh derajat seperti di Siberia ataupun panas kering kayak di Afghanistan dan Jazirah Arab plus Afrika. Membuatku sedikit malu yang kadang suka mengeluh pada Tuhan tentang cuaca di Canberra, padahal di belahan dunia lain, banyak manusia yang tak punya kesempatan untuk mengeluh dan menerima nasib apa adanya.

Aku juga beberapa hari lalu pas baca Alkitab, versi yang kubaca sih Good News Bible alias Alkitab dalam bahasa sehari – hari, nah ketemu di Mazmur 19: 1- 6. Pasal ini tentang keagungan Tuhan dalam ciptaannya khususnya tentang matahari. Ayat yang paling berkesan sih pada ayat ke 3 – 4, yang intinya sih, para ciptaan Tuhan itu tak perlu ngomong apa bicara atau pake bahasa verbal kayak manusia, tapi toh pesannya tuh nyambung ke manusia kalo “Tong pu pencipta tuh dahsyat, trada yang blok ya”.

Jujur waktu masih di Manokwari, seberapa kekagumanku pada Tuhan tuh masih dalam tahap ya sampai 75 % begitu, mungkin karena aku masih take for granted, menerima cuma – cuma, segala yang dikasi sama Tuhan, hidup di tempat tropis bermandikan matahari tiap hari, bisa melihat pohon – pohon hijau dan lain – lain. Pokoknya ya mengagumi tapi tak terlalu sadar bahwa Tuhan itu benar – benar agung.

Tapi sesampainya di Australia, aku ingat terbangun pagi – pagi di atas pesawat Quantas dan terkaget – kaget melihat hamparan gurun di bawah pesawat yang berwarna kemerahan, yang kupikir adalah lautan. Begitu memesona. Aku sampe bilang dalam hati, “gila … nih gurun luas amat, berwarna – warni lagi”. Begitu juga dengan pergantian musim tiap 4 bulan, apalagi autumn kemarin tuh sungguh udiknya aku yang dari tempat tropis kelihatan banget, terpesona dengan pergantian warna daun dan lain – lain. Apalagi pas masuk musim dinginn, aku langsung jadi tahu kalau tempat tropis tuh memang surga yang terlupakan dan Manokwari benar – benar serasa jadi my sanctuary, dan membuatku makin rindu Manokwari.

Bicara tentang alam, aku kok malah teringat lagi tentang artikel Reader’s Digest Australia edisi Oktober ini tentang kerusakan karang dan proyek penyelamatan karang di Hawaii dan fakta – fakta tentang karang. Membuatku sedikit miris. Aku sampai beprikir, Tuhan kok selama 1 minggu ini mengijinkan aku ketemu sama berbagai hal yang berhubungan dengan alam terus sih, tapi jujur pas baca artikel tentang terumbu karang itu yang dilabel sebagai ‘the rainforest of the sea’, aku kok malah sedih ingat keadaan karang di Manokwari ya … Miris!!!

Aku pikir sebagai orang Kristen, sudah saatnya kita berdiri membela kepercayaan kita dengan bukan hanya bilang kalau ‘sa orang Kristen’ tapi tak bikin apa – apa tentang lingkungan kita. Karena setahu saya, malah tugas pertama Manusia di bumi itu saat penciptaan adalah beranak cucu dan menjaga bumi dalam artian kita menjadi ‘the keeper of the earth’ karena ini kan tugas kita sebagai manusia. Bukannya menjadi serakah dan menghancurkan bumi.

Mungkin ‘menyelamatkan bumi’ terdengar terlalu bombastis ya? Kayak misi – misi pahlawan bertopeng, Power Rangers atau apalah, padahal sebenarnya sih sederhana saja kan? Apa yang kita berikan pada bumi sebenarnya adalah upaya kita melindungi eksistensi kita. Aku dulu on the way untuk jadi mengikuti aliran – aliran New Age gitu, jadi browsing – browsing, baca – baca literature, segala tentang segala macam tentang hubungan alam dengan manusia dan paham ini de el el, mulai belajar esensinya dan lain – lain dan kemudian disadarkan bahwa kalau Kekristenan sendiri sebenarnya adalah gaya hidup yang sudah mencakup semua paham cinta lingkungan, feminisme dan lain – lain, jadi toh tak perlu ‘tertipu’ dengan label yang lain.

Aku tak bilang bahwa untuk jadi pembela lingkungan kita wajib panjat – panjat menara dan demo kayak teman – teman di relawan Greenpeace, atau pada nginap di hutan dan bilang sama para pelaku pembalakan liar, “back off. Nih hutan keramat” atau apalah. Tak perlu juga sibuk pakai kaos yang bilang, “I am a nature lover.”, tak juga harus mulai begitu menceramahi setiap orang yang ketemu dan bilang, “hei kamu tahu, bla bla bla”. Aku pikir cinta lingkungan adalah konsep saat kita percaya bahwa alam dan bumi ini adalah tanggung jawab yang dititip sama Tuhan untuk melihat bisa tidak ya manusia melakukan tugasnya, menjadi sahabat bagi ciptaan yang lain.

Bicara tentang alam dan dampaknya kalau tak diperhatikan dengan baik, ini bukan keluahan sebenarnya sih, cuma berbagi saja perasaan gondokku melihat orang yang tak sadar bahwa lingkungan itu perlu dijaga. Sebelum meninggalkan Manokwari, aku sempat miris melihat di bukit belakang rumahku, ada pangkat saudara jauh yang menjual tanah itu dan udah digusur untuk dibuat kebun. Menjengkelkan juga!!! Terus kemarin saat sibuk berkirim SMS dengan Papa, ada laporan kalau tetanggaku rumahnya kebanjiran karena got depan rumah airnya meluap. Sempat gondok juga kalau ingat pengalaman di Manokwari setiap hujan, aku, mama, papa dan adek lelaki dan perempuan harus memantau got depan rumah karena tetangga – tetangga dan orang kompleks di bagian atas suka seenaknya membuang sampah ke got dan akhirnya berakumulasi pada kami di bagian paling bawah. Sempat merasa tak sejahtera setiap hujan deras karena harus turun ke got bermandikan lumpur dan membersihkan sampah – sampah, mana di dekat situ ada putaran taksi jadi sering jadi bahan tontonan. Cuma jengkel karena kok mereka yang tinggal di bagian ‘kepala air’ sana tak sadar – sadar juga walau sudah diberi pemberitahuan lisan. Heran deh!!! Apa perlu kami memalang jalan kompleks ya? ^_^

Aku pikir untuk mulai melakukan tindakan nyata bagi lingkungan mungkin bisa lewat cara – cara yang sederhana seperti misalnya kalau aku seorang dosen (cie .. Kayaknya aku terlalu ekstrim kalau jadi dosen ^_^), aku tak akan meminta mahasiswa/i bimbinganku untuk berkonsultasi skripsi dengan versi hardcopy, kalau bisa sih pakai versi soft, tapi kalau memang tak memungkinkan dan takut serangan virus, ya aku terima saja yang pake kertas bekas print (aku suka gaya di UPT PB UNIPA yang menyimpan kertas bekas kopian atau apalah untuk dipakai), jadi lebih hemat kertas. Artinya secara langsung aku mengurangi penebangan pohon di hutan dan sekaligus membantu menghemat duit mahasiswa yang harus membeli kertas. Bukankah jarang juga kan koreksian diberi di lembaran belakang lembar konsultasi?

Kita juga bisa mulai mencoba memprint sesuatu menggunakan format duplex alias bolak balik atau kalau untuk dokumen yang bisa disimpan dalam bentuk soft data, mending kan disimpan dalam bentuk itu saja, dibandingkan mencetaknya. Pokoknya, langkah – langkah kecil seperti ini kan akan membawa suatu langkah besar bagi lingkungan hidup di kemudian hari.

Terus bagi kita yang tinggal di daerah tropis, mulai berpikir untuk mengurangi konsumsi pemakaian tissue apa sapu tangan kertas. Memang sih tissue lebih murah dan gampang dipakai, tapi kan kalau pakai sapu tangan kain lebih hemat kan? Aku sudah melepas pemakaian tissue hampir 1,5 tahun ini dan bagiku tak ada bedanya memakai sapu tangan kain, mungkin ya harus punya banyak saja (aku punya lebih dari 20 sapu tangan kain). Terus kita bisa saja gunakan kantong belanja dari kain apa bahan yang kuat jadi tak harus beli – beli tas plastik (kresek) di pasar, kasihan saja kan kalo akhirnya juga tuh kantong mendarat di tempat sampah dan begini malah satu hari nyasar di laut. Padahal plastik butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai di alam.

Aku pikir masing – masing kita mulai bisa menentukan apa sih yang bisa kita lakukan untuk alam ini dan kita punya hak untuk memilih. Karena aku suka belanja, kadang untuk beberapa produk tertentu, aku memilih yang agak mahal tapi aku tahu tahu produk itu menyumbang sekian keuntungannya untuk membantu komunitas masyarakat yang hidup dari alam dan menjaga beberapa kawasan alam misalnya membeli produk mandi dan kosmetik di The Body Shop, atau sibuk belanja cari kado dan kartu hadiah untuk teman di The Oxfam Shop. Kadang juga sibuk mencari beberapa outfit pakaian di toko pakaian bekas misalnya di The Salvos Store. Bukannya aku tak mampu beli yang baru, cuma ada beberapa item yang kupikir, ‘ah kalau aku bisa beli di tempat yang kualitasnya kadang bisa dapat yang kuinginkan dan ternyata uang penjualannya dipakai untuk kemanusiaan, kenapa tidak?’ Toh kalau sudah dicuci, diberi pelembut dan dipakai plus percaya diri, it really does not matter.

Adapun salah satu alasan mengapa aku tak merasa ‘bagaimana – bagaimana’ suka berburu pakaian bekas dan sale – sale pakaian bekas, karena aku pernah bercerita dengan seorang teman yang bagian penjangkauan relawan Greenpeace Asia Tenggara. Kebetulan temanku ini bidang ilmunya sih sosiologi dan sudah puluhan tahun di Greenpeace, nih teman Filipino cerita tentang bagaimana perlakuan pakaian bekas dan industrinya, bagaimana supaya industrinya tuh supaya maju dan ada permintaan, kadang pakaian bekas diekspor ke negara dunia ketiga, kadang dibuang ke laut, kadang dibakar dan dihancurkan agar industri tetap berjalan. Kadang pemilik industri dan fashion designer dan industri mode, sengaja bekerjasama dengan menciptakan ikon, trend dan lain – lain agar manusia tuh merasa tak keren, tak apalah kalau tak bergaya dan mengikuti perkembangan fashion. Pokoknya membuat kita terpesona dan lupa dengan esensi pakaian itu sendiri.

Padahal kalau ditilik, industri pakaian itu tingkat polusinya lumayan tinggi loh. Limbah tekstil itu mulai pewarnanya dan lain – lain bisa bikin sakit kulit apalagi kalau tak diolah dengan baik dan dibuang ke alam, hancur lah alam tersayang. Ini belum yang lain – lain ya. Jadi mungkin ya, lebih bijak lah.

Bicara tentang alam, kok malah jadi ingat banjir di Manokwari ya. Ini sudah saatnya kita belajar bahwa apa yang kita lakukan pada alam, akan dirasakan akibatnya oleh semua orang. Walaupun bukan kita yang mengikis gunung – gunung di Manokwari untuk hunian, bukan kita yang menjual tanah, bukan kita yang menebang pohon – pohon penahan tanah di sana, tapi ujung – ujungnya kita yang kena juga. Jadi supaya tak kena lagi, inilah saatnya untuk mulai mengingatkan dan mulai menanamkan konsep bahwa alam adalah bagian dari hidup kita.

Andai saja aku seorang penemu apa ilmuwan yang pintar banget dan bisa membuat perangkat komunikasi yang bisa menerjemahkan suara pepohonan dan alam, mungkin sudah kupasang alat sejenis panggilan triple 000 seperti di Australia, atau juga versi 911, jadi kalau ada yang terancam mereka bisa ‘say something’ dan manusia yang mau menyakiti itu tahu kalau alam juga terluka. Andai saja!!! ^_^

Anyway, kayaknya aku harus kembali berjibaku dengan tugas practical assignmentku yang tampaknya sangat jauh dari topik keagungan Tuhan dalam alam ciptaannya apalagi berkenaan tentang global warming dan banjir dll karena yang harus kubedah adalah struktur bahasa (ini juga keagungan Tuhan yang merekonstruksi pikiran manusia untuk mengonsep hal- hal abstrak seperti bahasa).

Aku bermimpi suatu hari di Papua, di setiap kota, akan banyak pohon – pohon dan isi alam pun turut serta menyemarakkan dan malah jadi ikon kota seperti Canberra yang dijuluki ‘The bush state’ karena burung – burung liar dan pepohonan bisa ditemui di segala penjuru kota. Itu mimpiku!!!

(Canberra, 11 Oktober 2009)

Friday, 9 October 2009

Saat sakit mendera: Tuturan seorang fislem

Sambil menunggui mie instant rasa Soto Mie yang masih mengepul panas dan melabuhkan telur yang kucemplungkan ke dalamnya, subuh ini aku mulai menulis lagi. Subuh ini jadwalku sudah pasti, usai browsing tak jelas di internet, dan mendengarkan beberapa klip lagu gospel yang kusuka, kumendarat di layar putih program menulis kata buatan Pace Gates; MS Word.

Hari ini karena kesehatanku drop lagi, penyakit musim dinginku kumat, sebenarnya sih bukan penyakit tapi reaksi tubuh pada dingin dan dampak pemakaian pemanas ruangan jadi ya mimisan, plus karna belum fit benar jadi reaksi tubuh kembali bereaksi kala terpapar angin tadi siang plus sejak jaman SD kelas 5 telah ‘mengadopsi’ Rheumatoid Arthritis di dalam tubuhku dan masih tetap ada, dan menjadi salah satu dari penyakit yang menetap di dalamku. Kata dokter sewaktu periksa kesehatan di Jayapura tahun 2001, karena adanya baksil di tenggorokanku waktu bayi yang tak diperhatikan dengan cermat dan kemudian menyebar ke telinga dan ke tempat lain dan berkomplikasi pada hal lain. Mungkin juga benar karena telingaku sering bermasalah.

Tentang rematik, Dari SD – SMA, aku masih belum bisa menerima keadaan ini dan dulu masih dalam kondisi yang ‘Why me, God?’ tapi usai sakit parah dalam serangan terakhir tahun 2000, dan mengubah hidupku 100 %, aku mulai melihat bahwa banyak hal yan Tuhan ijinkan untuk terjadi dalam hidupku, bahwa kadang kita diijinkan sakit untuk melihat bahwa Allah ada beserta kita.

Catatanku kali ini tentang riwayat kesehatanku, yang kok kalau ditulis dulu sempat membuatku keder dan ‘kuwai’ kalau – kalau tak diijinkan lulus persyaratan beasiswa karena kok ‘merah’ semua ya …. Karena aku sempat berpikir bahwa mungkin pemberi beasiswa tak mau membayar mahal untuk seorang yang ‘penyakitan’ sepertiku, tapi Puji Tuhan, aku bisa bilang ini adalah tahun ke 9 pinjaman hidupku.

Catatan ini bukanlah catatan yang menyenangkan sebenarnya. Catatan ini kubuat untuk sekedar berbagi bahwa kesehatan itu sesuatu yang mahal. Catatan ini juga terinspirasi dari artikel Reader’s Digest Australia Oktober 2009 tentang seorang mahasiswi kedokteran yang kehilangan kedua tangan dan kaki kirinya dalam sebuah kecelakaan kereta api, tetapi berjuang dan memutuskan untuk tak menyerah dan melanjutkan hidupnya. Bahkan saat ini menjadi dokter perempuan bertangan ‘kapten Hook’ yang membantu korban kecelakaan dan menjadi the role model untuk mereka. Dia sekarang kumasukkan dalam daftar orang – orang yang menjadi sumber inspirasiku tentang bagaimana bertahan untuk tidak mengeluh untuk sakit yang kupunya, untuk tidak menggerutu tentang kondisi kesehatan yang suka drop. Pagi ini aku membaca tentang kisah Dr Daniela Garcia dari Chili dan aku berharap bisa menjadi berkat dengan apa yang kupunya sekarang dan bukan apa yang tidak kupunya. Aku suka perkataan Dr Esquenazi yang merawat dan memompa semangat Daniela Garcia, “Your life will be what you do with it.” Dan benar, Garcia membuktikannya, “Your life will be what you do with it.”

Aku mungkin bukan orang yang sekuat Garcia dalam menghadapi tantangan kesehatan seperti itu, dan mungkin aku tak sanggup kalau berada dalam tahap itu. Tapi aku melihat hal yang sama, yaitu apapun yang terjadi dalam hidup kita, seburuk apapun itu, dunia tak akan berhenti berputar dan bilang, “E ko kenapa?”. Tetapi aku tahu, percaya dan mengalaminya bahwa Tuhan tak pernah berlalu dan selalu ada, di hati, lewat orang – orang di sekeliling kita bahkan lewat orang asing yang tak dikenal sekalipun. Jadi apapun yang terjadi di dalam hidup, tak boleh berhenti berharap dan harus tetap maju dan melanjutkan hidup karena hidup terlalu indah untuk dilewatkan.
Sambil makan mie yang sudah mulai bisa hangat, sebuah momen yang sudah jarang kulakukan mengingat dampaknya pada tubuh ^_^, aku mulai mengingat kembali, sejak kapan sih aku berhubungan dengan rumah sakit dan yang berbau dengan pengobatan. Mmmh, kalau dirunut ternyata lumayan panjang juga, dan pada titik ini, aku tersadar bahwa aku punya banyak kesempatan untuk mati, untuk cabut dengan tiket ekspress ke dunia lain, tapi toh ternyata Tuhan masih mengijinkan aku menikmati mentari pagi dan jingga di langit sore.

Di rumahku di Manokwari, kalau aku mulai sibuk dan cuek dengan makananku ataupun terlalu beraktifitas ke sana – kemari dan tak beristirahat, apalagi kalau mulai ber-cakadidi berenang dan snorkeling seharian yang dilanjutkan dengan berjalan kaki dengan pakaian lembab hingga ke rumah Fanindi dari Pasir Putih (berapa kilo ya itu?) lengkap dengan ‘kostum perang’: tas punggung berisi air minum, peralatan snorkeling, tongkat besi bermata pisau (karena keseringan diganggu orang mabuk dan cowok – cowok iseng), kantong – kantong plastik berisikan pecahan beling ataupun kulit kerang ataupun benda unik alam yang kupungut di sepanjang perjalanan pulang, dari ilalang kering hingga biji akasia ataupun ranting dan dedaunan kering hingga, uang ojek secukupnya, just in case, kalau pikiranku berubah untuk naik ojek, tentu saja semua peralatan komunikasi kutinggalkan karena saat di pantai adalah saat untuk diri sendiri, orang tuaku pun mulai marah - marah. Tentu saja orang tuaku sering khawatir karena dengan kostum singlet dan celana pendek dan bersendal jepit (kadang malah hanya ‘kaki kosong’ alias nyeker), plus tak membawa telepon genggam, mereka takut aku terkena sesuatu.

Kalau mulai seperti itu, maka daftar riwayat sakitku akan mulai disiarkan ulang bagai putaran kaset jaman baheula yang panjang nian. Tentu saja akhirnya aku jadi sering sadar bahwa aku tak sekuat yang kukira karena ternyata tubuhku merekam banyak kondisi yang tak stabil ^_^. Mulai dari sejak bayi saat berumur 1 atau 3 bulan, saat harus bertamu di UGD RSUD Manokwari karena malaria sehingga harus mendapatkan beberapa suntikan dalam waktu 1 jam, yang kata dokter resiko harus diambil demi menyelamatkan nyawaku. Hingga penyakit malaria yang sering menyerang semasa SD.
Mungkin momen sakit pertama yang cukup membekas dan membuatku mulai sedikit sadar bahwa aku fislem (fisik lemah) adalah saat kelas 4 atau 5 SD. Saat itu masih sistem catur wulan (cawu), tiap 4 bulanan sekali ada ulangan umum. Nah menjelang sebulan ulangan, yang ada aku tiba – tiba diserang penyakit yang membuatku lumpuh. Iya, dalam artian semua sendi – sendi lutut dan kakiku plus pinggang meradang. Lututku membengkak dan memerah, dan ia kompakan dengan kedua mata kakiku. Benar – benar menyiksaku dan membuatku tak bisa bergerak kemana – mana. Untung saat itu aku masih bisa dituntun perlahan ke kamar mandi dan juga mendapatkan penanganan yang cepat. Tentu saja dengan injeksi dan obat – obatan plus ramuan tradisional hingga hanya harus tinggal di rumah selama 3 minggu lebih dan bisa mengikuti ulangan umum. Ya resikonya memang ada beberapa teman yang kupinjam catatannya dan belajar di rumah.

Kelas 5 itu mungkin masa panen sakitku kala kecil, karena usai sembuh 2 minggu dan sehabis ulangan, aku malah terkena sakit mata yang kata dokter sejenis radang. Jadi bukan hanya sekedar mata merah belekan, tapi yang terjadi kata dokter, namanya trakom. Entah itu apa, yang pasti mataku tetap berwarna putih tetapi belekan tetap ada lah. Dan yang tambahan lagi, aku sangat sensitif pada cahaya dan bunyi kala itu. Malam ini kalau diingat – ingat, keluargaku sangat sabar ya merawatku, khususnya papa. Saudara – saudara cowokku bahkan kadang mengomel karena tak bisa menonton TV.
Ceritanya begini, bayangkan, selama 1 bulan sakit dan tinggal di rumah, dan hampir tiap 2 hari dikunjungi kerabat yang tenaga medis, semua anggota keluargaku tak boleh menonton TV karena sekecil apapun suara yang kudengar membuat gendang telingaku terasa sakit dan teriritasi, seakan ditusuk dengan jarum. Yang membuat keadaan menjadi parah adalah mataku sangat sensitif pada cahaya matahari dan lampu kala itu, hingga aku ‘dikarantina’ dalam ‘pertapaanku’ di kamar dengan hanya ditemani sebatang lilin. Semua jendela ditutup rapat dan aku hanya bisa menghabiskan hari dalam gelap. Semua yang mengunjungiku hanya bisa berbisik. Kalau orang rumah menonton TV dan tak sengaja sedikit saja membesarkan volume suara, pasti aku sudah menjerit di dalam kamar karena frekuensi suara mereka terasa benar – benar menusuk telinga. Hingga masa – masa itu kala mengintip ke luar kamar, melihat mereka yang nonton TV, yang ada hanya gambar bisu yang bergerak. Andai saat itu sudah ada headphone ataupun earphone, pasti tak sesulit masa itu. Aku juga bersyukur kala itu, kompleks rumahku masih sangat sunyi seperti tempat Jin buang anak alias in the middle of nowhere sehingga polusi bunyi tak ada, kalau tidak, tak bisa dibayangkan reaksi telingaku.

Puji Tuhan usai sakit SD, tak ada sakit yang berarti kala SMP, palingan hanya Malaria ataupun sakit mata dan juga cacar air yang hanya membuat dikarantina 1 minggu di rumah. Tentu saja ada suka dukanya kala sakit semasa SMP karena kan sudah mulai melepas masa kanak – kanak, dan sempat juga berpikir, “adoohh penampilan rusak suda nih “ dan tentu saja banyak cerita lucu mengakali dokter dan suster di Puskesmas dan RSUD seperti kabur dari ruang tunggu tanpa diketahui ortu, mencari alasan agar tak disuntik dan trik – trik kabur lainnya.Tapi untungnya karena aku selalu sakit bergantian dengan adik cowokku yang hanya beda setahun satu minggu denganku (Ulang tahun kami hanya beda 1 minggu) jadi serasa ada teman sepenanggungan. Selama kami SMP hingga SMA, kami sering kompakan sakit dengan sakit yang sama ataupun yang mirip. Tapi aku berdoa semoga tak terjadi lagi serangan sakit yang besar, walaupun memang hingga saat ini di Canberra, kalau sakit ringan masih sering sama, maksudku dalam artian aku sakit, ia juga sama, atau aku baru habis sakit, gantian ia yang sakit. Sebuah kebetulan yang tak manis ^_^

Tapi sakit terparah adalah tahun 2000, saat kelas 3 SMK, aku lupa bulan yang tepat, tapi sepertinya sekitar Oktoberan atau Novemberan, yang aku ingat pasti baru saja merayakan senangnya berumur 17 tahun, baru saja menikmati momen menerima Kristus sebagai juru selamat pribadi, baru saja usai mengikuti re-treat rohani tentang pemulihan gambar diri, luka batin dan Hati Bapa di GBI Pondok Pemulihan. Menikmati momen sebagai remaja 17 tahun. Saat itu sampai sempat bilang, “Why me, God?”
Waktu itu semuanya terjadi begitu cepat. Hanya karena tinggal di rumah teman dan membantu membuat pudding sehingga berusaha membuka kaleng susu dengan pisau. Seperti biasa, aku terbiasa membuka kaleng dengan menghujamkan pisau ke permukaan kaleng dan dibantu dengan telapak tanganku sebagai pemukulnya, tapi ternyata satu hal enteng yang kupikir tak akan ada apa – apanya, malah mengubah jalan hidupku kala ini. Hari itu, tak ada rasa sakit, tetapi lewat 3 atau 4 hari, saat bangun pagi, tiba – tiba aku merasakan nyeri merayap di tangan kananku hingga ke pangkal lengan. Nyeri seakan ditusuk jarum yang banyak. Aku mulai kesakitan dan demam dan mulai menenggak pereda nyeri.

Selama beberapa bulan karena tinggal di rumah teman yang dekat dengan tempat praktek kala PSG sewaktu SMK, karena sakit aku memutuskan untuk pulang ke rumah pakde di Abe. Kebetulan PSG baru saja berakhir. Kali ini nyerinya mulai menyebar ke tangan kanan, sedang tangan kiri mulai meradang merah. Baru dua hari pulang, saat bangun pagi, aku merasakan kakiku sakit dan saat bangun, aku terperanjat karena lutut kananku mulai merah dan meradang sebesar bola kasti, malam harinya menyebar ke lutut kiri. Keesokan harinya kedua lutut sudah sebesar bola plastik untuk main bola dan sudah tak bisa lagi dibilang lagi lutut yang mempunyai ‘tempurung’ karena yang ada hanyalah onggokan daging berwarna merah dan nyeri. Esok harinya malah menyebar ke kedua mata kakiku dan telapak kaki. Otomatis aku merasa mati langkah.

Kebetulan pakdeku seorang mantri polisi dan ia pun berkonsultasi dengan dokter di klinik, jadi aku mendapatkan beberapa obat untuk meredakan nyeri walau tak banyak membantu. Kakak lelakiku yang tinggal di asrama terpaksa menemaniku tinggal di rumah pakde dan usai berkoordinasi dengan orang tuaku, membawaku pulang ke rumah Manokwari karena toh tak ada yang akan merawatku di Jayapura. Walau artinya ia hrus ijin saat ujian mata kuliahnya. Saat itu, aku sempat bingung karena ujian akan dilaksanakan bulan Januari, belum lagi ditambah aku telah dipersiapkan sejak kelas 2 SMK untuk mengikuti kejuaraan jurusanku untuk tingkat provinsi dan kalau lolos, harus siap pergi ke Malang mengikuti LKS pelajar SMK. Sempat bingung memikirkan tawaran beasiswa ke akademi pariwisata.

Di Manokwari, aku hanya bisa bertahan 2 hari tanpa obat, karena dokter di Jayapura menganjurkanku untuk melanjutkan pengobatan di Manokwari. Sampai di Manokwari, saat ke dokter praktek, masih tak ada kejelasan berarti, saat itu aku masih bisa berjalan dituntun walau nyeri sekali. Tapi lewat 3 atau 4 hari, kondisiku drop sekali, karena saat hendak diantar mandi, aku drop dan tak sadarkan diri. Aku masih bisa mendengar suara – suara berkumandang di telingaku tetapi jauh, dan entahlah, apa itu pingsan atau karena nyeri yang tak tertahankan. Yang aku tahu, saat sadar dan melihat banyak orang di kamarku, aku tahu ada yang tak beres denganku. Sore itu, aku langsung masuk UGD RSUD.

Aku ingat benar, tanggal masuk UGD itu sekitar tanggal 21 November 2000. Sejak hari itu hingga tanggal 6 Januari 2001 keluar dari bangsal rumah sakit, aku tahu bahwa hidupku tak akan pernah lagi sama, tak akan sama. Dan sejak saat itu serangan depresi dan kekosonganku mulai terasa kencang usai keluar dari sana. Selama di rumah sakit, aku sampai benci dengan perkataan dokter tiap pagi, “Day, su bisa jalan ka belum?”. Ingin berteriak marah karena toh, hingga aku ditangani oleh 3 orang dokter, tak ada reaksi apapun, yang semakin membuatku kecewa saat itu adalah hingga beberapa kali memeriksakan darah lengkap, x-ray dan tes medis lainnya, tak ada satupun sakit yang ditemukan. Bahkan dari yang awalnya tak ada malaria tertiana, yang ada malah mengontraknya di bangsal. Saat itu, aku cuma ingin tahu, sebenarnya aku sakit apa.
Yang membuat keadaanku menjadi buruk adalah aku tak bisa disentuh, apalagi kakiku. Sebuah sentuhan kecil di tubuhku, yang walau hanya berupa usapan, membuatku menjerit kesakitan. Sarafku tak bisa bekerja dengan baik dan mengirimkan respon sakit. Aku merasa hidupku seperti di neraka kala itu. Bila mengingat masa – masa itu, aku bisa melihat bagaimana Tuhan masih menyayangiku dan mengijinkanku untuk hidup dan melanjutkan lagi langkah yang sempat tertunda. Saat itu, aku bisa menyebutku sebagai ‘beban’ bagi keluargaku. Kesakitanku mengubah hidup keluargaku, mencuri masa – masa remaja adik lelaki dan juga hidup adik perempuanku yang masih SD. Mencuri waktu orang tuaku, membuat hidup mereka hanya berkisar dari tempat kerja – rumah (hanya untuk mengambil pakaian dan makanan) – rumah sakit. Karena mereka bergantian menjagaku di rumah sakit dan menjaga rumah.

Kala 1 bulan lebih menjadi penghuni bangsal, orang tuaku khususnya bapak selalu menjaga, memberikan semangat, dan kadang ‘mengancamku’ agar mau makan. Aku tak tahu apa yang di benak mereka hingga bertahan menjagaku. Aku hanya bisa menggerakkan kepalaku untuk menengok ke kanan ataupun ke kiri, semua organ tubuhku lumpuh. Aku tak bisa mengangkat tanganku sendiri, jari - jemariku melengkung seakan sedang menggenggam bola. Apalagi serangan nyeri yang membuatku menjerit – jerit setiap petang membuatku ingin mati kala itu. Semua obat – obatan tak mempan. Aku ingat saat sakit, banyak sekali orang yang mendoakanku, begitu pula orang tuaku yang setiap 3 jam sekali berdoa bersamaku. Aku menyaksikan teman sebangsalku berganti dan aku masih tetap di sana.

Jangan ditanya lagi bentukku kala itu, aku memang tak kurus, karena ada beberapa obat steroid yang diberikan plus juga campuran obatku ada yang membuat massa cairan tubuh bertambah, tapi yang membuatku menderita adalah aku tak mandi selama di rumah sakit sebelum sebuah keajaiban yang kualami bulan Desember 2000. Rambutku rusak, kulit punggungku seperti orang ‘kaskado’ karena panas. Jangan ditanya lagi tentang bowel movementku yang kacau karena aku merasa esensiku sebagai makhluk yang mandiri tercerabut dari diriku karena bahkan sebuah hal yang pribadi harus dibantu oleh orang tua dan saudara lelakiku. Belum lagi ditambah waktu itu selama 3 minggu di rumah sakit, aku tak bisa BAB. Perutku kembung dan hidup terasa bagai di neraka. Bahkan obat pencahar baru bisa bekerja setelah 3 hari pemakaian. Selain itu aku mulai terganggu dengan mimpi – mimpi buruk yang selalu datang dan penampakan – penampakan aneh yang kulihat di bangsalku. Benar – benar menakutkan. Aku takut sendiri kala itu.

Setiap hari aku berdoa pada Tuhan untuk mengambil nyawaku, aku merasa bahwa aku sudah tak layak hidup, tak layak lagi untuk bertahan. Karena tiap pagi aku benci membuka mata dan hanya melihat tempat yang sama. Kalau mengingat kembali, aku tahu aku salah karena sampai merayu adik perempuanku yang SD untuk mengambilkanku sekaleng soft drink dan obat- obat malaria. Berpikir untuk bunuh diri. Aku berada pada titik dimana aku benar – benar menyerah dengan hidup; melepaskan semua arogansiku semasa remaja.

Pada titik terendahku, aku juga sempat membuat sebuah ‘penawaran’ dengan Tuhan, sebuah Nazar yang sampai saat ini aku tahu aku belum bisa melakukannya dengan baik. Entah ini benar atau tidak, entahlah. Aku tak tahu. Karena aku benar – benar tak tahu lagi apa yang harus kulakukan saat itu. Saat sakit, aku bilang pada Tuhan, “Tuhan, kalo Ko kasi sembuh sa, sa janji akan pake sa hidup untuk ko, untuk jadi apa yang Ko mau dalam sa hidup. Sa cuma minta kasi sa kesempatan untuk hidup saja, untuk normal kembali.”

Dari kesakitan ini rupanya Tuhan punya rencana lain untukku, tentang mujizat yang hendak ia lakukan, yang kok baru aku sadari saat aku di Australia (kala aku kembali sakit yang mirip dengan kejadian tahun 2000 dan diingatkan) bahwa itu adalah sebuah bentuk mujizat dalam hidupku tapi I just took it for granted dan tak berpikir bahwa itu adalah bukti bahwa Allah tak pernah meninggalkanku.

Menjelang Natal, oomku yang kebetulan dulu bekerja di Serui bilang bahwa orang tua angkatnya di sana ingin mendoakanku tapi lewat telpon. Tradisi di rumah kami adalah kala sakit, kami harus berdoa dengan air dan obat yang hendak diminum ataupun makanan pun herbal yang digunakan. Meminta campur tangan Tuhan. Kala itu, karna aku masih di rumah sakit, maka aku didoakan lewat telepon dan airnya di Manokwari sambil bersama – sama berdoa. Puji Tuhan, aku meminum airnya sore hari dan keesokan paginya, aku mulai bisa duduk, padahal seumur – umur di rumah sakit, semua sendiku, kecuali leher, tak bisa digerakkan. Sejak saat itu aku mulai berasa pulih karena nyeriku mulai berkurang. Dan lucunya, hingga Januari 2001, para dokter baru memutuskan bahwa sakitku adalah komplikasi ‘saraf kejepit’ dengan sejenis ‘Juvenille Artritis’, penyakit yang menyerang anak – anak, yang terjadi pada sebuah siklus waktu di bawah umur 20 tahun, kata mereka waktu itu. Karena melihat rujukan medis mereka, dan juga riwayat kesehatanku, siklus alaminya adalah setiap 5 tahun terjadi serangan. Tetapi dari tahun 1993/94 hingga 2000 lebih dari 5 tahun (dan bila sekarang dihitung yang terjadi di Canberra 2009, maka sangat lama dibandingkan prediksi mereka).

Tentu saja usai sembuh masih ada banyak masalah yang kuhadapi, mulai dari berurusan dengan fisioterapi untuk belajar berdiri, berjalan, dan sedikit berlari, belajar menggenggam bola, belajar menulis (that’s why, aku lebih suka mengetik karena aku tak bisa lagi menulis tangan yang rapi karena jemariku cepat sekali kram), dan tentu saja yang paling berat dan membutuhkan waktu bertahun – tahun adalah belajar menerima keadaanku dan melanjutkan hidup. Aku belajar untuk mengembalikan kepercayaan diriku; menjadi realistis untuk tidak lagi melakukan olahraga berat seperti berlari dan bersepeda; belajar kuat dan mengangkat wajahku menghadapi pandangan orang dan cemoohan yang kudengar kala ada yang memanggilku ‘pincang dan timpang’ atau ‘cewek bertongkat’ (aku pakai kruk selama hampir 6 bulan). Belajar menjadi kuat!

Aku bersyukur untuk hidupku yang sekarang, merasa diberkati dengan hidup yang kupunya seburuk pun yang pernah kualami, dan aku berjanji dalam hidupku agar para orang – orang yang kukasihi khususnya para keponakanku tak boleh sepertiku.

Hidup cuma satu kali, dan begitu sayang kalau hanya dipakai untuk menyesali apa yang tak bisa didapatkan. Bukankah kebahagiaan dalam hidup adalah dengan apa yang ada pada kita dan dioptimalkan dan bukannya apa yang tak ada. Dulu sebelum mendapat pencerahan lewat berbagai hal yang kualami dan sebelum balik pada Tuhan, aku masih menyesali semua kemampuan yang hilang sebelum sakit, kecacatan yang melekat pada tubuh (sendi - sendi yang berubah bentuk), masih memimpikan jalan hidup yang kuinginkan, tapi sekarang, aku cuma bisa bilang pada Tuhan bahwa Terima kasih karena mengijinkan semua kesakitan ini terjadi, mulai dari masalah sendi, pernapasan dan jantung. Terima kasih karena membuatku sadar untuk lebih menikmati setiap detik di dalam hidupku melihat kasih Tuhan yang terpancar lewat ciptaan-Nya, dan semoga aku bisa merefleksikan Kristus pada sesamaku.

Jalan masih panjang, tapi aku mau tetap berusaha menjadikan Yesus sebagai Role Modelku. Aku masih banyak kekurangan, tapi aku janji pada diriku sendiri bahwa aku tak boleh menyerah. Itu saja!!!

Akhirnya segala hormat, kemuliaan, dan pujian hanya bagi Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Amen

(Sebuah subuh di Campbell, Canberra/ 9 Oktober 2009)

Wednesday, 7 October 2009

Dari The Body Shop hingga Nyanyian Pisang Goreng

Sambil mendengarkan album The True Worshipper entah yang ke berapa, aku mengingat perjalananku hari ini. Kata teman – teman serumah, orang jatuh cinta pasti tampak dalam tingkah lakunya dan semuanya terasa indah. Mungkin mereka benar, tapi tak 100 % ^_^

Hari ini, entahlah, moodku baik dan berada pada suasana yang menyenangkan. Aku menghabiskan waktu bangun dengan berkirim SMS dengan lelaki yang memanggilku bidadari, kemudian menghabiskan waktu hampir sejam mencuci piring, membersihkan dapur dan tentu saja ditambah dengan memasak makan siangku yang hari ini berupa tumisan snow peas (sejenis buncis – buncisan) yang kucampur dengan ebi dna tak lupa membuat tumisan ayam panggang bumbu tomat. Betapa hidup menyenangkan, apalagi sambil (masih) berkirim SMS dengan dia yang berada di sebuah pulau di bagian utara benua ini. Lagu cinta pun menemaniku saat masak, mulai dari Craig David hingga versi klasik dari UB 40 ‘Can’t help falling in love’.

Sudah dua hari ini, aku kembali ke kebiasaanku kala masih di Manokwari; berdandan. Selama di Canberra, aku sudah hampir lupa bagaimana berdandan; sudah lama sekali. Terlalu sibuk dengan tugas dan pikiran – pikiran tentang lelaki hujan. Usai menghapus jejaknya di dalam hati dan juga telepon selularku, aku merasa seakan ada beban yang telah pergi, telah terlepas. Semua ikatan, rantai – rantai kasat mata yang mengikatku seakan patah dan terserakjauh dariku. Bebas!!!

Aku berdandan bukan karena ada seseorang lelaki yang memanggilku bidadari. Aku berdandan dan mulai kembali pada kecintaanku pada kosmetik dan fashion karena aku merasa menemukan diriku kembali. Menemukan aku yang suka mengutak – atik wajahku dengan permainan warna dan saputan kuas. Menikmati melukis wajahku, mulai dari yang smokey eyes hingga ala pemain kabuki. Aku menikmatinya.

Hari ini aku putuskan sebagai hari belanjaku, pergi ke Canberra Centre, mengeksplorasi fashion, membeli beberapa potong pakaian, mulai dari outfit untuk clubbing yang penuh payet perak; sekedar jaga – jaga kalau berpikiran untuk pergi clubbing, hingga beberapa kaos singlet, dan aku menghadiahi diriku sepasang sepatu sport yang bisa dipakai jalan sore. Tak lupa, aku juga memanjakan diriku dengan membeli lagi koleksi kosmetikku, mulai dari bedak, sabun mandi dan masker di The Body Shop. (Aku sudah mengeksplorasi Maybelline, Revlon, dan L’oreal, tapi tak ketemu bedak yang kuinginkan dan malah ketemu di gerai ini), kemudian tak lupa jatuh cinta pada sebotol foundation yang membuat efek wajahku bersinar, tentu saja yang cocok dengan kulitku yang gelap.

Pulangnya, sambil kumpul dengan teman – teman satu rumah yang setia menggangguku, mereka menggubah banyak lagu cinta khusus untukku. Aku terharu dengan teman serumah yang lucu, jail tapi kreatif. Bayangkan, selama 1,5 jam, mereka menyanyi untukku. Mereka bilang, tentang perempuan yang sedang jatuh cinta pada lelaki yang memanggilnya bidadari. Sambil menunggui aku yang sedang menggoreng pisang, mereka menjailiku dengan menyanyikan kegiatanku yang sedang mencampur tepung, telur, pisang dan bahan – bahan hingga membentuk adonan, bahkan hingga tentang rasa pisangnya. Kegiatan nyanyi sore yang ‘gila’ ini diakhiri dengan makan pisang goreng yang ditabur susu kental manis sambil minum teh panas. Di luar sana, hujan sedang turun dengan deras!

Aku bersyukur untuk teman serumahku, yang membuatku tertawa beberapa hari ini. Yang menyemangatiku, menjailiku, menjadi teman cerita dan tim sorak untuk diriku yang sedang jatuh cinta. The best housemates in Canberra ^_^

Aku sedang bahagia, itu yang kutahu. Aku mungkin konyol,naïf, sedang jatuh cinta berat pada seorang lelaki. Tapi aku suka.

Entah nanti bagaimana, entah nanti menjadi apa. Aku tak tahu (dan sedang tak peduli).

Aku hanya ingin menikmati momen – momen ini. Momen jatuh cinta. Saat hujan yang jatuh berwarna – warni.

Kepada dia yang ada di ujung sana, terima kasih karena membuat hatiku berwarna – warni. Wish You all the best!

(Canberra, 7 Oktober 2009)

Catatan untuk Lelaki yang Memanggilku Bidadari

Sebuah catatan untuk lelaki yang memanggilku bidadari

Mungkin aku bukanlah yang terbaik, terhebat dan terindah yang kau lihat
Pun kau temui di sana.
Bukanlah yang kan tawarkan keramahan dan keanggunan
Layaknya seorang puteri.

Mungkin aku bukanlah perempuan yang kan menyambutmu
Bagaikan para siren menantikan purnama dan berdendang
Bukanlah perempuan yang kan siapkan kopi dan tehmu
Ataupun menemanimu makan malam.

Mungkin aku bukanlah perempuan yang sigap
Bila tanganmu terluka dan berdarah
Bukanlah perempuan yang sibuk membuat hidangan
Ataupun menjamu teman – temanmu.

Mungkin aku bukanlah perempuan yang kan menghiburmu
Kala sedih dan terluka
Bukanlah perempuan yang akan mengirimimu
Masakan yang kumasak dengan tanganku sendiri.

Mungkin aku bukanlah perempuan yang kan menjawab
Keluh kesahmu dengan jawaban lembut
Bukanlah yang kan bilang padamu bahwa
‘everything is gonna be alright’

Mungkin aku bukanlah perempuan yang kan tertawa
Ataupun selalu tersenyum kala bertemu kau
Bukan pula yang kan selalu bilang
‘Sa sayang ko’ tiap hari.

Tapi …

Aku cuma ingin bilang ..

Aku bersyukur bertemu kau di kala hatiku mulai kuncup
Aku bersyukur bertemu kau kala aku hampir berhenti percaya
bahwa ada cinta di luar sana.
Aku bersyukur bertemu kau yang menawarkan sebuah tantangan;
Menawarkan sebuah kesempatan untuk belajar mencintai lagi

Aku cuma bisa bilang …
Aku akan berusaha menjadi yang terbaik yang kubisa
Berusaha mencintai dengan cara yang kutahu, yang kupunya;
Berusaha mencintai hingga terluka

Aku cuma bisa bilang …
Aku akan mencintaimu dengan cara yang kutahu
Seperti kala aku belajar mencintai pepohonan yang tersenyum ditimpa hujan,
Seperti kala aku belajar menyambut fajar pagi dengan senyuman,
Seperti kala aku terpesona melihat bebungaan muncul malu – malu di sela – sela rumput.

Aku cuma bisa bilang …
Aku akan mencintaimu seperti aku mencintai laut
Kala terpesona bermain bersama karang, pasir dan kelomang
Kala terpesona melihat tawa kanak – kanak yang berlarian di pantai

Aku cuma bilang …
Aku kan berusaha menjadi dan terus mencoba
Memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan
Mungkin tak pernah sempurna tapi akan kucoba

Aku cuma bisa bilang …
Aku kan berusaha menerimamu apa adanya
Berusaha menerima setiap perbedaan yang kita punya
Berusaha menjadi manusia yang lebih baik bagimu.

Akhirnya, aku cuma bisa bilang, seperti yang pernah diucapkan Pablo Nerruda,
“Aku mencintaimu dengan sederhana. Tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Aku mencintaimu seperti ini karena bagiku tak ada cara lain untuk mencintai. Di sini, di mana ‘aku’ dan ‘kau; tiada. Begitu erat, hingga tanganmu di atas dadaku adalah tanganku. Begitu erat, hingga ketika kau tidur, pelupuk matakulah yang tertutup”

(Canberra, 6 Oktober 2009)

Catatan untuk Eudaimonia

Apakah ia baik – baik malam ini?
Apakah ia sedang bertanya tentang waktunya?
Bertanya tentang jantungnya yang makin kencang berdegup?
Tentang jemarinya yang mulai merasakan cinta?
Entahlah …

Ia mulai mendengar suara, menerka maknanya,
Menangkap emosi yang berderak dalam udara.
Mendengar degupan.
Mendengar tawa dan cerita.

Ada musik di luar sana.
Ada tarian dan celoteh.
Ada lengkingan dan jeritan
Ada cinta yang bertebaran.

Aku memikirkannya malam ini.
Menerka apa yang dibuatnya.
Aku memikirkanya malam ini.
Memimpikannya di dalam tidurku.

Berharap yang terbaik baginya,
Mendoakannya selalu.
Berharap dapat menggenggam jemarinya,
Dan berbisik, “sa sayang ko”

Mungkin aku bukan yang terbaik
Yang terhebat di antara semuanya.
Pun yang selalu ada untukmu,
Tapi aku akan selalu menunggu dan memimpikanmu.

Semoga perjalananmu berakhir indah,
Tanpa luka dan derita.
Semoga aku bisa menyapamu dengan kecupan hangat
Tahun depan.

Eudaimonia, perempuan kecilku!
Eudaimonia, yang kumimpikan terus.
Eudaimonia, semangatku tuk pulang.

Jangan nakal ya, Tanta is gonna see you this January!

Kala sebuah bentuk kehidupan kan datang,
Aku pun bahagia!

(Untuk keponakan perempuanku yang selalu kumimpikan beberapa bulan belakangan ini, Wish you all the best. Kaulah alasanku untuk liburan esok!)

(Canberra, 6 Oktober 2009)

Monday, 5 October 2009

Catatan terakhir untuk Lelaki Hujan

Hujan sedang menetes deras di luar kamar, sayup – sayup suara Josh Groban menyanyi sendu untukku dari liang speaker berjari kecil komputer jinjingku. Bersaing dengan tarian hujan di luar.

Hari ini hari ke lima di bulan ke sepuluh tahun ke 2009. Sebuah sore dimana aku telah berada pada satu titik baru dalam hidupku. Hari dimana aku memutuskan untuk menangis terakhir kalinya untuk lelaki hujanku. Subuh ini!

Kemarin malam, semua pesannya yang berjumlah ratusan telah kuhapus dari kedua telepon selularku, semua rekaman percakapan kami via HP pun kubinasakan dari memori telepon dan komputer. Tak ingin dan tak mau lagi.

Selamat tinggal keping kisah lama.

Biarkan hari ini hujan turun dengan deras dan menghibur duka yang larut bersama air ke dalam pori bumi. Biarkan hujan hari ini menari lincah lagi tanpa beban, tanpa masalah, tanpa cerita.

I am on the road of reconciliation.

Itu yang kutahu. Berdamai dengan diriku, dengan masa laluku, dengan sesamaku.

Aku tak mau lagi menyalahkan hujan untuk semua kegalauanku. Tak mau lagi.

Selamat tinggal, lelaki hujan.


(Canberra, 5 Oktober 2009)

Kebingungan Dayanara tentang tradisi dan budaya

Hari ini awan mendung masih menggantung berat di langit di Canberra, dari jendela kamarku, kulihat warna kelabu masih ada di sana. Membuatku sedikit menarik napas karena cucianku harus kuangkat cepat. Tak mau saja cairan pelembut pakaian menghilang tersapu hujan.

Hari ini termasuk hari libur nasional di Canberra, katanya sih Labour Day; hari tenaga kerja. Sambil mengetikkan catatan ini, aku teringat beberapa kejadian di hari – hari kemarin dan yang beberapa darinya sempat membuatku sedikit sedih, bukannya apa, aku hanya merasa sedikit sensitif saja saat ada teman yang mengatakan bahwa aku tak bisa menyesuaikan diri dengan budaya di sini khususnya yang berhubungan dengan salaman dan pelukan. Demi menjaga perasaan dan demi rekonsiliasi, aku toh sudah mengirimkan e-mail permintaan maaf bagi seseorang yang mungkin tersinggung dengan penolakanku. Mungkin dalam hal ini aku salah, tapi entahlah, aku tak bisa saja melakukan satu hal yang tak membuatku nyaman. Aku tak nyaman saja dipeluk oleh lawan jenis yang bukan anggota keluarga dekatku (papa dan saudara lelaki) pun kekasihku. Tak mau saja. Panggil aku konservatif dan tak gaul tapi ini pilihan yang kubuat untuk hidupku ^_^

Bicara tentang budaya dan tradisi, aku kok malah tiba – tiba ingat dengan komentarku di dinding seorang adik tingkatku sewaktu di Manokwari tentang kejengkelan dan makiannya di dinding FBnya karena lilin kuburan seorang kerabatnya raib dicuri orang. Saat itu aku sempat berkomentar bahwa kayaknya tak ada hubungan antara hilangnya lilin kuburan dengan ideologi beberapa orang Papua yang ingin merdeka dan kesangsiannya kalau mereka tak mungkin merdeka karena kok kelakuan mencuri lilin masih saja ada. Aku sempat tersentil sedikit dan memberikan tanggapan bahwa ideologi merdeka tak ada hubungannya dengan hilangnya lilin tapi kemiskinan tentu saja punya relevansi yang nyata. Pembicaraan pun mengalir lewat diskusi di statusnya itu hingga berakhir saat aku bilang bahwa terlalu riskan untuk menuduh orang menjadi miskin sebagai akibat dari kemalasan karena ada banyak faktor mengapa orang menjadi miskin dan salah satunya sistem dan pola pikir. Dan lagi – lagi, aku kok malah berpikir tentang tradisi. Iya, tradisi membakar lilin di kuburan.

Kemarin pun saat pergi makan siang di rumah keluarga seorang kerabat Papua di Canberra, aku sempat terkaget saat tahu namaku menjadi seorang anggota panitia di seksi publikasi dan dokumentasi. Dan tentu saja ini tentang natal, lagi – lagi aku kok malah diingatkan tentang tradisi dan budaya. Dan aku punya banyak cerita tentang tradisi dan budaya yang mungkin kalian tak akan setuju atau mungkin mengatakan bahwa aku bukanlah orang yang paham tentang budaya, entahlah. Aku mungkin hanya seorang pemimpi yang tak tahu tentang batasan antara mimpi dan terjaga karena begitu tipis, begitu kecil. Panggil aku pemimpi kala berbicara tentang tradisi dan budaya, tapi toh aku hanya ingin mengemukakan pendapatku tentang tradisi dan budaya.

Aku sering merasa bahwa aku sebagai seorang perempuan pernakan Papua hidup dalam budaya yang lebih kompleks dibanding tetangga – tetanggaku yang hanya berasal dari satu daerah, karena aku terbiasa hidup dengan tiga elemen budaya yang mengikatku dan membuatku menjadi aku yang seperti ini. Aku terbiasa memandang semua budaya adalah hal yang setara dan tak ada yang lebih kuat pun lebih lemah, lebih baik pun lebih jelek, bagiku budaya adalah bagian dari hidup manusia namun merupakan sebuah pilihan dan bukan harga mati 100 % dalam hidup manusia. Maksudku, janganlah sampai tradisi dan budaya hanya menjadi batasan bagi manusia untuk tidak hidup dan menjadi individu yang sesungguhnya.

Bagiku budaya dan tradisi adalah ibarat pakaian yang kita pakai, yang warna dan potongannya adalah sebuah pilihan yang kita pilih dan tetap merupakan sebuah pilihan dan bukan sebuah keharusan. Budaya dan tradisi bukanlah sebuah ideologi yang wajib 100 % diikuti apalagi menjadi ‘agama’ yang harus 100 % diamini kebenarannya tanpa dikaji dengan seksama. Dalam hal ini panggil aku pemberontak!

Aku sering trenyuh saat di Papua dan menyaksikan (beberapa) lelaki menganggap bahwa minuman keras dan mabok – mabokan serta melakukan kekerasan saat mabuk adalah budaya Papua. Bagiku pribadi, itu bukan budaya Papua. Aku tahu bahwa nenek moyang dari pihak mamaku adalah orang – orang terekspresif yang kukenal yang tak suka menyembunyikan perasaan mereka, yang suka mengekspresikannya secara langsung dan kadang memakai kiasan tapi tak pernah disembunyikan. Dan mereka suka menyanyi dan menari bersyukur atas keindahan alam dan hidup mereka. Tapi toh, mereka bukan pemabuk. Aku heran ada yang menganggap itu adalah label dan budaya dari orang – orang berkulit gelap di bagian timur.

Aku tak menampik bahwa pada beberapa suku di Papua ada juga yang mempunyai kemampuan meramu minuman tapi toh, itu dipakai pada momen tertentu untuk tujuan tertentu dan bukan yang terjadi seperti belakangan ini. Padahal seberapa banyak dari generasi Papua sekarang yang sadar bahwa minuman keras dalam jumlah besar malah dibawa oleh tentara sekutu saat pendudukan MacArthur? Seberapa banyak dari mereka yang tahu bahwa orang – orang asinglah yang merecoki dan mengubah pola hidup pesta syukur orang Papua menjadi pesta minuman keras. Aku sedih saat kita tak bisa melihat esensi dari budaya kita sendiri. Budaya syukur yang membumi dan mengakar dan begitu dekat dengan alam.

Aku juga sering heran dengan pandangan kakak laki – lakiku dan juga beberapa saudara sepupu, dan aku sering sekali berdebat dengan mereka. Berdebat sengit tentang peran perempuan dalam keluarga, tentang mas kawin dan lain – lain. Panggil aku pemberontak dalam hal ini. Bagiku, perempuan tetap mempunyai hak yang setara dengan lelaki dalam mengekspresikan diri terlepas dari budayanya. Aku bangga dengan tete-ku (kakek) dari pihak mama, yang walaupun seorang kepala suku besar di sebuah kabupaten di daerah kepala burung tapi adalah seorang lelaki yang bertanggung jawab dengan keluarganya dan memandang bahwa perempuan tetap mempunyai hak yang sama dengan lelaki. Ia seorang revolusioner yang kukenal tapi sayangnya tak bisa dicontoh oleh beberapa cucu laki – lakinya nya yang salah mempersepsikan pandangan beliau. Kuakui, beliau adalah seorang penganut poligami dengan 12 istri dan puluhan anak tapi beliau adalah seorang yang bisa melihat dengan jeli bagaimana menghargai perempuan dan mempunyai visi ke depan. Aku berharap bisa bertemu dia karena toh, aku hanya bisa mendengar cerita tentang dia.

Kaum feminis garis keras mungkin akan mencelaku saat ini, tapi aku bangga dengan tete-ku. Aku paham bahwa saat itu keputusan poligami adalah upayanya untuk menjalin kerjasama dan persatuan beberapa klan di sukunya dan juga guna menjaga ketahanan pangan. Apalagi ia hidup di kala perang suku di daerah pegunungan masih sering terjadi. Ia seorang yang tahu arti berbagi. Para nene-ku masing – masing dibuatkan rumah tempat mereka tinggal bersama anak – anak mereka. Nene-ku adalah perempuan ke lima dalam daftar istrinya. Aku bangga karena tete-ku seorang yang bijak dan memberikan warisan tanah adat bagi para anak lelaki setara dengan anak perempuan dan semuanya mempunyai hak yang sama. Ia juga lelaki bervisi yang mementingkan kepentingan orang banyak.

Aku salut akan tradisi dan karakternya yang mengutamakan orang lain. Mama sering bercerita kala masih kecil, tete sehabis membuat political bargaining, tawar menawar politik, ia akan ‘disogok’ dengan makanan yang banyak. Namun sebagai pemimpin, ia tak menyimpannya sebagai kekayaan pribadi karena ia sadar bahwa ia adalah bagian dari masyarakat yang memilihnya. Kata mama, para nenekku dan dan kaum perempuan akan sigap memasak makanan pemberian, dan tete akan memanggil semua orang sesuku untuk duduk dan makan bersama sebagai sebuah kesatuan. Tak ada pembedaan untuk berkat yang diperoleh.

Aku juga salut mendengar bahwa ia adalah seorang yang memegang tradisi untuk menghargai perempuan. Kala ada anak – anaknya yang meninggal saat kecil atau saat lahir, ia akan mengadopsi anak dari klan lain yang dia beli dan diadopsi sebagai anaknya sebagai pelipur lara nenekku yang kehilangan anak. Oleh sebab itu, dalam keluarga besar mamaku, aku mempunyai kerabat kandung dan kerabat angkat, tetapi para kerabat angkat diberikan hak dan warisan yang sama setara dengan kerabat kandung. Aku bersyukur dibesarkan dalam tradisi keluarga besar. Aku hanya heran saja, karena para sepupu lelakiku tak bisa melihat esensi dari tradisi dan sikap yang dianut teteku = tanggung jawab dan pengorbanan. Mereka malah menyalahpersepsikan tradisi teteku demi kepuasan nafsu dan tak menghargai perempuan. Tetapi bukan berarti, aku mau dipoligami, dalam hal ini pandanganku tentu saja sedikit berbeda ^_^ dan itu pilihan pribadiku.

Aku juga sempat trenyuh mendengar makian adik tingkatku di dinding Facebook kemarin. Aku tak mau jadi hakim sih, cuma kok ada sisi hatiku yang bilang begini, “Sudahlah. It’s not a big deal. Tenanglah, relakan saja lilin yang hilang. Mungkin saja yang mengambilnya sedang perlu dan tak punya uang untuk membeli lilin, kan PLN Manokwari gemar memadamkan listrik.” Aku tiba – tiba diingatkan dengan tradisi pergi ke kuburan.

Aku mungkin bukan orang yang suka berziarah dan ‘bicara macam – macam’ di kuburan. Aku teringat kala pergi ziarah di makam nenek di Jawa dan kemudian pak lik (adiknya bapak) bilang kalau aku mau ngomong, ngomong saja di makam nenek. Seperti ‘say hallo’ getho. Saat itu, aku memilih tak bicara apapun. Bagiku, aku mengenang nenekku sebagai seorang perempuan ulet dan mengambil falsafah hidupnya yang sabar menghadapi kakekku yang berpoligami (mmmmmh, keluargaku memang berlatar belakang poligami karena dari pihak bapak, aku punya 5 nenek dan dari mama, aku punya 12 nenek, belum lagi ditambah dengan seorang oma angkat dari mama). Dan bagiku, ia telah meninggal dan pergi ke Surga, jadi aku tak perlu bicara apapun padanya di depan nisannya. Bagiku, yang telah kembali ke tanah, ya telah pergi. Mereka telah berada di tempat lain dan tak perlu lagi diajak komunikasi segala. Tak perlu lagi diganggu. Yang perlu kulakukan adalah melanjutkan hidup dan menyimpan mereka sebagai kenangan indah yang menjadi dasar untuk melangkah ke depan menjadi semacam inspirasi untuk maju. Itu yang perlu bagiku.

Aku dulu kadang berkelahi dengan mamaku, sampai kini pun kami masih tak sepaham dengan tradisi natal. Aku dan adik laki – lakiku bahkan sangat antipati dengan tradisi sinterklas karena ada satu pengalaman buruk yang membuat aku dan adikku dimarahi beberapa hari oleh mama karena tradisi sinterklas. Hanya karena kami tak menyiapkan adik perempuan kami didandani untuk kunjungan sinterklas dan ternyata kunjungannya datang di waktu yang tak sesuai dengan pemberitahuan dan adik cewekku yang masih TK sedang bermain di halaman, yang ada kami pun celingukan menjemput paksa dia dari rerumputan dan ia pun difoto bersama dengan sinterklas dengan tampang berantakan keringatan. Saat itu ‘ceramah online’ pun kami dapatkan, padahal adikku perempuanku cuek abis. Adik lelakiku sampai marah besar dan bilang kalau ia akan meng-kartafel mobil sinterklas kalau lewat depan rumah lagi. Dan kami bahkan sampai memutuskan tak mengambil foto ‘sial’ itu dari penyelenggaranya Aku tak suka sebuah ritual yang bukanlah sebuah esensi, diperdebatkan.

Aku bukan penganut paham ‘natal adalah pesta’. Bagiku, natal adalah upaya reflektif tentang keserhanaan, pengorbanan, dan berbagi kasih dengan sesama. Aku dan keluarga kerap bertengkar menjelang natal karena bagiku, kue kering dan makanan plus dekorasi hanyalah sebuah pilihan, toh cukup 1 – 2 jenis kue dan 1- 2 jenis minuman. Tak perlu sibuk dengan dekorasi rumah yang mentereng, baju baru dan lain – lain. Aku bahkan selalu berkelahi dan bilang kenapa tak sumbang saja dana pestanya buat beli buku tulis dan alat tulis atau apa lah ke keluarga tak mampu, toh hidup tak hanya berhenti saat natal. Aku benci Natal yang identik dengan pesta pora sedang di luar sana, banyak orang yang bahkan tak punya sesuatu untuk dimakan dan dipakai. Kami bahkan bisa berkelahi hanya karena hal sepele seperti hiasan pohon natal, selempang warna – warni dan lain – lain. Aku benar – benar bukan orang yang terlalu sibuk dengan hal seperti ini. Bagiku ini hanyalah simbol kelahiran Yesus. That’s all, yang terpenting bagiku jangan sampai karena pesta dan persiapan pesta yang meriah kita malah lupa siapa yang punya HUT. Aku tak suka saja tradisi yang mengaburkan esensi seperti ini. Panggil aku pemberontak!

Aku juga sempat ingat satu kejadian saat jadi relawan Greenpeace, kebetulan saat itu aku jadi koordinator relawan di Manokwari untuk kunjungan kapal Esperanza di pelabuhan Manokwari. Nah saat lauching kegiatan di pelabuhan, usai pembukaan kan ada banyak sampah bekas makanan berisi dus dan gelas plastik air mineral. Karena Greenpeace adalah sebuah LSM lingkungan hidup, ada kode etik dimana setiap habis kegiatan semua sampah wajib dibersihkan dan bila tak ada fasilitas daur ulang, maka setidaknya dikumpulkan dan dieksekusi ke tempat sampah dan tak dibiarkan sembarangan. Saat itu, aku dan teman – teman relawan pun mengumpulkan sampah dan dimasukan dalam kantong – kantong plastik. Tapi kemudian ada beberapa anak kecil yang membuang sampah itu ke dalam laut dan ditegur secara halus oleh seorang adik cowok relawan. E rupanya ada seorang anggota PNS yang kebetulan bekerja di gubernuran dan kebetulan ia tinggal satu kompleks denganku dengan lantang berteriak kepada kami, “e stop kam pu budaya – budaya temporer ini suda., kam pikir macam kam tahu saja.”. Saat itu aku hanya menatapnya dan benar – benar kecewa. Toh adik yang menegur anak – anak kecil ini adalah anggota dari komunitas independen di kampus UNIPA yang suka pergi ke pantai pulau Lemon dan membersihkan sampah plastik bawaan ombak hasil buangan sampah penduduk Manokwari, dan ia, aku dan teman – teman lain sadar betul bagaimana sampah plastik yang dibuang ke laut menghancurkan keindahan karang dan membuat populasi ikan karang terancam.

Aku benar – benar kecewa melihat seorang pegawai yang kerap pergi ke luar negeri (kalau tak salah si lelaki pegawai ini kerap pergi ke luar negeri) tak bisa menyadari bahwa menjaga lingkungan bukanlah budaya temporer dari orang Papua. Mungkin ia lupa bahwa ada banyak kearifan lokal Papua yang mengandung unsur pelestarian lingkungan. Ia mungkin tak mempelajari budaya Papua dengan baik dan benar. Ia lupa bahwa dalam setiap budaya suku, adanya pemberlakuan larangan mengotori tempat tertentu karena jadi sumber mata air, tak boleh ribut di hutan (yang mungkin saja adalah masa menetasnya burung – burung), adanya pembagian hutan sesuai fungsi, seperti konsep Igya Ser Hanjop bagi suku Hatam, di daerah pegunungan Arfak dimana hutan tak boleh ditebang sembarangan dan hanya boleh berada pada areal yang ditentukan. Aku sedih karena ia sebagai seorang lelaki berkulit gelap dan berambut keriting dan lebih senior dari kami tak menyadari bahwa bumi ini hanyalah pinjaman dari generasi lanjutan dan kami, para junior berambut keriting dan berkulit gelap, hanya ingin melestarikan esensi tradisi kami dalam bentuk yang berbeda tapi toh, demi kebaikan alam kami ke depan.

Bagiku, budaya tetap menjadi sebuah pilihan dan harus dipilah dengan bijak, mana yang bisa diambil dan diterima mentah – mentah, mana yang bisa diadaptasikan, dan mana yang bisa ditolak mentah – mentah, toh ini adalah sebuah pilihan. Sebuah konsep yang dinamis.

Beberapa tahun terakhir aku sedang jatuh cinta pada tradisi budayaku. Mulai belajar jatuh cinta pada musik Papua, mungkin memang terlalu terlambat karena aku baru kenal musik Papua sekitar tahun 2004 kala pacaran dengan mantan pacar yang mengenalkanku dengan beberapa musik Papua. Jatuh cinta pada Keladi tumbu tahun 2006 karena dekat dengan seorang teman cewek yang mamanya suka membuatkanku keladi tumbu ^_^. Jatuh cinta dan memandang bangga pada Kreol-ku ‘Melayu Papua’ tahun 2006 dan tak memandangnya sebagai bahasa yang aneh dan tak sopan tapi sebagai identitasku, hanya karena konsep diglossia bahasa, aku masih belum terbiasa menulis dalam Melayu Papua kecuali untuk sesuatu yang pribadi dan sangat ekspresif karena bagiku Melayu Papua adalah caraku berbicara secara lisan, ataupun bahasa SMSku, tapi aku berharap ke depan, aku dapat membuat lebih banyak tulisan dalam Melayu Papua.

Bagiku, budaya adalah sebuah pilihan tapi toh jangan pernah melupakan budaya dimana kita dibesarkan. Bagiku, walaupun aku bersekolah dan pergi kemana saja, aku tetap perempuan yang dibesarkan di Papua dengan nilai – nilai yang dianut keluargaku, paham yang membuatku nyaman sejak kecil. Sampai kapanpun, aku tak ingin identitasku yang kuanut harus kutukar demi diterima dalam pergaulan. Aku ada karena aku ada.

Aku memilih untuk mengambil yang terbaik dari budaya lain yang bisa kuaplikasikan dalam hidupku dan kelak semoga berguna bagi hidup orang lain. Aku memilih mengambil dari budaya di Australia adalah sikap mereka yang terbuka mengemukakan pendapat mereka tetapi dengan tetap bersikap mendengarkan pendapat orang lain, dilakukan dengan cara terbuka dan elegan. Aku mengambil sikap mereka menghargai waktu, sumberdaya alam, melindungi dan menghargai hewan liar dan tetumbuhan. Aku ingin mengambil sikap mereka yang peduli pada kemalangan sesama dan solidaritas mereka. Mengambil dan mengadaptasi sikap kerelawanan mereka tanpa pamrih dalam bencana dan menghadapi masalah sosial. Mengadaptasi sikap independen mereka dan self-determination mengejar impian. Mengadaptasi penghargaan mereka pada anak – anak atas undang – undang yang ketat dalam mempelakukan anak.

Setiap budaya pasti punya budaya dan tradisi yang bagai 2 sisi mata uang. Aku memilih mengambil yang bisa kuambil dan kuaplikasikan dan yang membuatku merasa nyaman dan menjadi diriku sendiri. Aku tak ingin mengambil sesuatu yang membuatku memakai topeng dan merasa tak nyaman atas diriku. Aku mau aku tetap dikenal sebagai Dayanara, seorang perempuan yang besar di Manokwari. Aku cuma ingin bilang bahwa ‘Sa Dayanara tapi sa siap lawan arus untuk jadi apa yang sa percaya’. I just wanna live the life I love to its fullest. Bagaimana dengan anda?

(Campbell, Canberra/ 5 Oktober 2009; sebuah pemikiran kala Dayanara sedang sakit)