Catatan ini kubuat di saat aku telah membuat pernyataan di dinding akun Facebookku bahwa “Tidur sore in progress bla bla bla”. Niat awalnya sih memang mau tidur sore, tapi karena sibuk membalas sejumlah pesan dari seorang lelaki kenalan baru di sebuah pulau bernama Papua (yang lagi – lagi kok etnis, senyum dan pandangan matanya mirip banget dengan mantan pacarku di tempat kerja yang sama .. gubraaaakkkzzz) plus juga karena cuaca yang cocok untuk bermalas – malasan, kebetulan hari ini baru saja usai hujan dan cuacanya sejuk hingga kembali lagi suasana hati yang melankolis membuatku tak bisa tidur sore. Sambil mencari rasa ngantuk yang entah menghilang kemana, mungkin saja ia sedang mencari pisang goreng di ujung jalan ataupun sedang naik ojek entah kemana, eee tiba – tiba kok pikiranku tersangkut pada satu pikiranku sejak lama, yang sudah lama terpendam dan masih ada di sana. Maybe it is so foolish for you, mungkin konyol, mungkin kedengaran macam ‘big – big’ (slang anana Manokwari saat aku masih SMP tahun 1995 – 1998 untuk ‘bingung – bingung’), mungkin juga kedengaran ‘stegi’ ataupun ‘seno’ … but it is the real me. Seorang pemimpi! Nih cuma sebuah pemikiran yang telah lama mengristal di otak sejak remaja. Tentang pernikahan …Gubrrrrrraaaaaakzzzz. Yeap, jelasnya …pesta pernikahanku!!!
Mungkin para teman dekatku apalagi yang satu kelas saat kuliah di UNIPA, saat mata mereka membaca alinea ini akan segera tertawa dan bilang, “Day, su trada topik lain lagi ka?”. Topik ini bagi mereka kedengaran sama dengan frasa, “Carikan sa pacar ka?”. Entahlah, tapi pikiran ini telah lama tersusun sejak remaja dan kadang membuatku senyum – senyum sendiri membayangkan bagaimana pesta pernikahanku. Tentu saja baru kali ini aku berani membuatnya dalam tulisan, toh sudah tak ada yang perlu disembunyikan dari diriku, karena mottoku sejak tahun ini adalah “Everybody has their own story!” (pasti kalimat ini akan diprotes oleh convernor jurusanku karena tak menggunakan ‘one’s story’ ^_^).
Waktu remaja dulu, impianku untuk pesta pernikahanku tuh masih yang standar a la di Papua; sebuah pesta besar di gedung, banyak kursi dan tamu – tamu undangan. Tentu saja dengan makanan – makanan lezat. Namanya juga impian remaja. Walau saat itu aku masih masuk kategori cewek tomboy saat SMA tapi karena melihat pesta nikahnya saudara sepupuku (mbak Is) di Jayapura, sempat berpikir juga tentang ‘pesta nikah’ ^_^
Seiring dengan waktu, apalagi saat bertemu dengan para mantra (manusia sastra) yang ‘gila’, ‘kreatif’ dan juga mendukungku untuk menjadi apa yang kuinginkan, pemikiran ini malah sering jadi topik pembahasan di kelas, malah sudah sampai tahap kalo melahirkan anak tuh kira – kira cara menangis sih bayi pasti kayak apa *_*. Nah saat itu, waktu masih sangat tomboi waktu kuliah, otak masih ‘error – error’ dan masih suka balapan di jalan raya (Oh Tuhan, ampuni gaya balapku jaman dulu yang mungkin membuat ketar – ketir orang yang kubonceng ataupun yang kusambar dengan motor ataupun ‘ojek – ojek’ yang kuajak ‘balapan’, khususnya kalau ke arah Amban), saat ‘ketomboian’ masih kental di darah, waktu itu malah berpikirnya begini, aku ingin acara nikahku tuh di atas motor. Kedengaran gila ya?
Saat itu, aku berpikir, pasti seru kalo pemberkatan nikahku saat aku berada di atas motor. Jadi aku dan KAGA (kaka gantengku; istilah ini kulontarkan saat masih kuliah di Manado pada teman – teman dekatku di sana) akan naik sebuah motor trailer a la belalang tempur, tentu saja gaun nikahku dimodifikasi. Terus, tentu saja meminta jasa polisi lalu lintas sekitar 2 orang sebagai pembuka iringan – iringan pengantin, karena aku mau pemberkatannya harus di jalan raya, terus semua pengiring harus memakai motor, dan tentu saja aku akan menyewa jasa ojek sekitar 20 orang untuk menjadi pengiring di belakang motor pengantin ^_^. Aku suka saja sama warna kuning dan kebetulan komunitas ojek di Manokwari memakai helm kuning dan rompi scotchlight kuning ngenjreng. Jadi saat itu aku sudah membuat ancang – ancang rencana ‘plan A’ dan ‘Plan B’. Plan A sih yang ekstrim alias bahwa aku mau acara pemberkatannya di jalan raya depan gereja EH Fanindi alias di seputaran Makalo, terus pendetanya wajib berdiri di depan ‘CKB’ (Calon Keluarga Baru) dan pemberkatannya di jalan di depan motor jadi kan kalo di fotonya, motor yang sudah diotak – atik itu akan kelihatan. Nah plan B adalah kalau seandainya banyak menuai protes, maka segera saja dipindahkan ke dalam gedung gereja, tapi abis itu ya tetap saja naik lagi di atas motor dan mulai konvoi. Tentu saja aku sudah memikirkan mengurus izin ke kepolisian agar tak perlu memakai helm dan melakukan tindakan akrobatik ^_^. Saat itu aku bahkan sampai memikirkan serunya kalo rombongan ojek yang kusewa juga mengganti ulang suara klakson motor mereka dengan nada dering lagu favoritku. ^_^
Saat menjelang akhir tahun kuliah dan aku lagi senang jadi relawan bagi kegiatan beberapa LSM Lingkungan hidup yang sibuk mengurusi hutan, aku mulai berpikir tentang pesta pernikahanku .. lagi. Kali ini tentu saja dengan tema hutan dan pohon, pokoknya hutan tropis. Aku malah berpikir mau mengganti tema gaun nikahku dengan suasana hutan, dimana acaranya akan kuadakan di sebuah hutan. Saat itu yang kepikiran malah kebun milik keluarga di luar kota Manokwari, khususnya di Mandopi. Aku membayangkan pesta itu tak perlu memakai tenda karena kanopi beberapa pohon di kebun cukup rindang, apalagi dari pinggir jalan tak begitu jauh dan jalan setepak menuju ke kebun bersisian dengan nenas hutan, bambu dan tanaman merambat. Aku bahkan berkhayal bahwa janji ‘sehidup – semati’ apa ‘satu hidup – satu mati’ itu harus diberkati dari sebuah mimbar yang dibuat dari bambu – bambu nasi, dan aku sudah membayangkan kursi pengantinnya yang sederhana saja dibuat seperti para – para kayu buah yang diberi sandaran dan dihias dengan tanaman menjalar yang ada di pinggiran pantai mandopi dan sirih gading dan tentu saja dilengkapi dengar simbar menjangan (paku kuda). Musiknya tentu saja aku mau ada tifa, dan perkusi dan tetabuhan suara alam. Kalau perlu, sejenis ngengat yang berisik dan suka menandakan petang di Manokwari akan ‘kupinjam sementara dan ‘disimpan dalam wadah perangkap tikus’. Santapan pesta itu pastilah hasil kebun dan kalau perlu a la barapen. Tentu saja ‘keladi tumbu wajib hadir di pestaku. Tentu saja, sebelum acara aku sudah memastikan lokasi bebas dari nyamuk ^_^ (dan agas).
Saat mulai memasuki dunia kerja dan mulai berinteraksi dengan banyak hal apalagi mulai rajin snorkeling dan makin jatuh cinta lebih pada pantai. Aku pun memutuskan untuk pesta nikahku tetap wajib berada di pantai, khususnya di pantai di sebuah kampung yang bukan di dekat kota. Sampai saat ini aku masih punya harapan akan pesta nikah seperti ini. Apalagi saat tahun 2008 dan ikut kegiatan kabupaten Supiori, aku jatuh cinta pada dermaga kayunya, dan tentu saja mengingat dermaga Mansinam tercinta. Aku bahkan sampai saat ini telah membuat daftar dermaga ataupun pinggiran pantai dan kampung yang bisa dijadikan tempat pesta nikah. Pertama, halaman gereja GKI di kampung Abassi di Manokwari, aku suka halamannya yang berpasir putih dan berpohon kelapa, dan sejak kecil, aku sudah menganggap tempat itu memesona. Yang kedua tentu saja, dermaga kayu pulau Mansinam. Ketiga, halaman gereja di pulau Lemon, tempat teman – teman di Komunitas Pesisir sering berkemah dan membersihkan sampah bawaan ombak yang nyasar. Ke empat, sebuah kampung atau resor di kep. Raja Ampat, karena aku terpesona melihat pantai dan pemandangan alamnya.
Karena aku pecinta mentari yang terbenam dan laut, aku ingin acara janji ‘sehidup – semati ka satu hidup – satu mati’ dilangsungkan saat senja, saat mentari jingga pulang ke peraduannya. Dan aku ingin di jalan atau dermaga kayu menuju tempat mengikat janji itu diterangi dengan obor – obor bambu, dan di dekat dermaga itu akan diterangi oleh lilin – lilin yang dimasukan dalam sejenis toples tempat bunga (agar tak padam tertiup angin). Aku bahkan membayangkan janji itu akan diikat dibawah sebuah gerbang besi yang dipasang di ujung dermaga dan berhiaskan sulur – suluran dan ikatan – ikatan mawar (bunga plastik juga tak apa – apa yang penting mawar plastik berwarna crimson; merah darah babi), atau kalau berada di pantai, maka akan dihias dengan bunga – bunga Bugenvil. Di ujung dermaga itu tentulah ada pendeta dan mimbar kayu kecil dan juga obor – obor di sudut – sudut dermaga. Tentu saja tak lupa agar kelihatan seperti ‘pesta’. Maka aku ingin lantai dermaga diberi guntingan hati dari kertas perak dan bertabur ‘ujung-pukul-ujung’. Satu hal yang tak boleh dilupakan tentu saja lagu – lagu favoritku.
Bicara tentang musik, aku bahkan sudah pernah membuat daftar lagu – lagu yang akan kupakai di acara pernikahanku, kalau perlu aku akan membayar seorang teman lelaki yang kutahu suaranya bagus dan bisa menyanyi lagu – lagu R & B kesukaanku ^_^. Yang pasti, aku sudah membayangkan aku tak ingin memakai irama khas musik pengantin di Manokwari. Tak mau saja! Satu yang pasti, lagu Black Brothers (Diru Dina & Peirambo) wajib hadir usai pemberkatan karena aku lagi jatuh cinta sama kedua lagi ini dan cocok dipakai berdansa, dan moga- moga saja saat nikah besok kedua lagu ini bisa dinyanyikan oleh ‘anana KOCA = komen Canberra’ hihihi
Tentang fashion, aku bahkan sudah merancang konsep gaun pengantin untukku dan Kaga. Aku tak suka yang berat dan terlalu banyak detail. Karena konsepnya di pinggir pantai, aku ingin rambutku cuma digerai dan diberi gel biar berkesan basah, sedikit kribo pun tak apa, tentu saja aku akan membuat sendiri mahkota kerangku, dalam hal ini, aku ingin semuanya bertema pantai. Kaga pun tak perlu memakai jas, karena aku ingin dia cukup memakai kemeja putih off-white dengan kerah seperti baju koko. I want as simple as possible! Aku ingin pakaiannya sederhana supaya aku bisa bebas bergerak dan bisa berdansa. Yang pasti, aksesoris tetap ada.
Aku membayangkan hidangan di pesta ini yang pasti bertemakan laut, walau aku juga menyediakan yang umum, dan tentu saja makanan favoritku seperti ketupat kuning, udang dan gurita (kombrof) wajib ada. Yang pasti aku ingin semuanya bertemakan laut hingga meja makan kalau perlu dihias dengan tatanan kulit kerang dan karang yang telah mati.
Aku bahkan pernah membayangkan tentang konsep pesta pernikahanku tak boleh membosankan karena terus terang saja, saat di Manokwari, kadang aku sampai ‘baku marah’ alias marahan dengan mama karena masalah undangan pesta nikah. Bukannya apa, aku selalu menjadi perutusan keluarga kala ada undangan nikah. Mo temannya mama, ataupun bapa, atau orang kompleks, pastilah namaku yang langsung diabsen. Kadang aku malas saja menghadiri acara nikah karena beberapa alasan klasik yang sering kujumpai. Kalau bukan format acaranya yang hanya duduk manis, diam, tenang, dan makan, pasti bertemu dengan pertanyaan basa – basi, “Baru ko sendiri kapan nikah?, ko pacar siapa sekarang? Ko su umur berapa sekarang? de el el”. Bukannya tak bersyukur diberi perhatian seperti itu oleh kenalan ataupun kerabat. Aku cuma malas saja menjawab pertanyaan mereka saban datang ke acara nikah seorang diri atau kadang mengajak teman cewek.
Bahkan dulu aku sampai membuat heboh di pesta nikahnya seorang teman di sebuah gedung karena datang bersama seorang teman bule; temanku yang fotografer di Melbourne. Mana saat itu kami kompakan berpakaian hitam dan ia sedang suka menggimbalkan rambutnya yang pirang. Tentu saja salah satu poin yang membuat heboh adalah ia benar – benar bertampang bule lengkap dengan mata biru dan rambut pirang. Alhasil, saat duduk di belakang, para tamu yang lain tak fokus ke pengantin dan malah sibuk memerhatikan kami berdua yang asyik cerita. Tentu saja ini belum ditambah saat pulang dan berjabat tangan dan bertemu beberapa kerabat dari pihak pelanya oma. Jangan ditanya lagi bagaimana pertanyaan mereka, “Itu Day ko pu calon ka? De el el …”. ‘Macam mo pingsan saja langsung’, untung temanku tak fasih berbahasa Indonesia.
Tapi satu yang pasti, aku ingin saat acara nikahku adalah acara yang dilengkapi dengan musik, tak harus dengan penyanyi tiap saat, tapi bisa juga dengan musik favorit dan acara dansa singkat. Aku juga ingin membuat sebuah proyek rekaman pra-nikah, programnya tak harus pakai webcam yang baik, cukup dengan kamera digital pun bisa dibuat, dan tak perlu program komputer yang rumit, karena intinya aku mau dibuat seperti ‘film acak’ tentang ‘pernikahan’. Jadi aku dan KAGAku akan bertemu beberapa teman, sahabat, kenalan, keluarga dan kerabat dan juga teman – teman kerja ataupun tetangga kami. Aku mau rekaman itu dibuat sebelum kami mengirimkan undangan pernikahan kami yang resmi, sebelum ada rapat – rapat antar 2 keluarga. Intinya adalah ‘wawancara’ dengan orang – orang yang akrab dengan kami. Dan kami akan memberikan pertanyaan yang ditulis di kertas seperti begini, “E Day or Kaga su mo nikah nih, menurut ko bagaimana? Ko ada pesan – kesan ka trada? De el el”, pokoknya biarkan mereka bicara apa adanya. Aku ingin ada tawa, kejutan, makian, candaan, dan juga pesan – kesan yang ‘kaco, ancur, jorok’ semuanya. Karena niatnya sih, video rekaman yang telah diedit itu akan diputar sebelum iringan pengantin masuk dalam arena pesta usai pemberkatan. I want the real me and my future-hubby on that video.
Tentu saja video itu akan dilengkapi dengan lagu favoritku plus berisikan sejumlah potongan keseharian kami, mulai dari rekaman sembunyi – sembunyi di tempat kerjanya dan rumahnya, kalau perlu aku akan membayar temannya dan juga temanku untuk mengambil gambar ataupun rekaman singkat tentang keseharian kami di tempat kerja, rumah dan saat kumpul dengan teman – teman. Ide video ini sebenarnya dari film Mr. Bean yang liburan di Paris, aku suka sekali pada pencahayaannya plus gaya penuturannya sang sutradara kala filmnya salah. Aku ingin orang – orang yang datang ke acara nikahku benar – benar tahu siapa pasangan yang menikah, mengenal keseharian kami dan tentu saja tak menganggap kami ‘raja dan ratu sehari’ tapi besoknya malah jadi ‘partner in crime atau sparing partner’ kala bertengkar. Yang pasti aku tak mau ini seperti another cinderella’s story. Tentu saja aku tak mau juga membuat para tamu yang datang merasa bahwa mereka datang karena sebuah keharusan ataupun demi menjaga perasaan pengantin tetapi tak dihibur, karena toh mereka telah meluangkan waktu mereka yang berharga untuk bergabung merayakan ikatan komitmenku pada pasangan. So, acaraku wajib pesta dan menghibur.
Aku juga ingin para undangan yang datang, apakah acaranya itu di pinggir pantai ataupun di dekat dermaga, para tamu wajib datang dengan membawa alat tulis karena aku akan menyediakan kertas origami warna – warni yang kupotong berbentuk hati dan para penerima tamu akan memberinya pada para tamu. Aku akan meminta para tamu itu menulis tentang bagaimana mereka mengenal aku atau pasanganku, mangkali saja akan ada tetanggaku yang menulis bahwa aku seorang penakut kelas kakap yang tiap pulang malam dari sebelah rumah harus berlari dan berteriak kencang - kencang saat melewati pohon Jambu air, atau juga bisa tentang kapan mereka mengenal salah satu dari kami dan kalau perlu ada pesan dari kami. Mereka tak perlu menulis nama mereka, aku hanya ingin jawaban mereka. Kertas – kertas itu tentu saja akan kubuat dalam bentuk scrapbook karena toh, aku pecinta scrapbook sejak remaja (saat menulis bagian ini, aku kok malah ingat proyek – proyek anak literature angkatanku. Ma’am Y, thanx su kasi kesempatan sa dan teman – teman mengeksplorasi diri kami.). Selain undangan nikah yang ditempel, tentu saja foto – foto pre-wedding, foto acara nikah, DVD rekaman acara nikah dan video komentar, dan tentu saja, aku akan menempelkan komentar para tamu plus kronologi pesta nikahku. Aku ingin komentar yang masuk tanpa nama agar buku itu saat kubaca, akan mengingatkanku tentang setiap momen dan pendapat orang tentang pesta nikah ini.
Aku juga sempat berpikir begini, kebetulan aku tak terlalu menyukai kue tart ataupun kue sejenis itu, jadi kalau bisa sih, kuenya sederhana saja, kecil dan tak perlu bertingkat, dan kalau perlu cukup pake Black Forest saja, tentu dengan Inisial namaku dan Kaga-ku dengan lilin – lilin kecil dan ditemani acara minum anggur lah, karena aku penyuka anggur, yang pasti harus jenis Pinot Noir ^_^. Tapi yang pasti, intinya aku tak mau acaranya terlalu lama pada acara pemotongan kue pengantin, yang aku inginkan malah aku dan Kaga-ku ada prosesi menanam pohon secara simbolis dalam pot yang disediakan, bisa biji mangga ataupun nangka ataupun anakan pohon dan secara simbolis ditanam dalam pot bersama dan disiram. Tentu saja tuh pohon wajib dirawat ^_^. Aku memilih pohon karena sejak aku lahir, bapaku menghadiahiku beberapa pohon sebagai penanda kelahiranku dan aku ingin di momen spesial ini wajib ada pohon yang kutanam, dan kelak saat aku meninggal, inginnya sih ada pohon yang ditanam di atas kuburku atau di suatu tempat sebagai simbol ^_^. Aku terbiasa melihat pohon sejak kecil dan ingin pepohonan menjadi keseharianku.
Aku juga ingin dalam acara nikah itu aku tak harus duduk pada sebuah kursi yang bagai raja atau ratu, aku malah ingin acara nikah yang di mana aku dan Kaga bisa berbicara dengan para tamu, berkenalan dan memperkenalkan. Aku malah berpikiran kalau kursi pengantinnya wajib dibuat dari para – para kayu buah yang dihias dengan daun kelapa
Sampai di bagian ini, panggil aku pemimpi dan aku bangga menjadi pemimpi. Karena pertanyaannya yang paling penting adalah adakah lelaki di luar sana dan tentu saja keluarga besarnya yang mau pesta nikahnya dibuat seperti ini?
Panggil aku pemimpi, karena aku bisa bilang kapan aku nikah dan bagaimana aku nikah, tapi aku masih tak tahu dengan siapa aku akan menikah. Panggil aku pemimpi!
(Pada bagian ini, percayalah, kalau ini ungkapan orang yang baru ‘patah hati’ ^_^ karena aku malah kepikiran sama SMS lucu yang bilang, datang ya pada acara nikah sang pengirim SMS plus sekalian bawa calon pengantin pria-nya hehehe)
Catatan ini pun kututup sambil mendengar kata – katanya Darren Hayes dari ex. Savage Garden “I knew I loved you” sambil terus bermimpi kalau suatu hari nanti akan ada lagunya Bon Jovi “Thank you for loving me” diputar di sebuah pesta nikah di pinggiran pantai di sebuah kampung pesisir di tanah Papua. Sebuah pesta nikah seorang pemimpi.
“I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life”
(Savage Garden)
“I never knew I had a dream
Until that dream was you
When I look into your eyes
The sky's a different blue
Cross my heart
I wear no disguise
If I tried, you'd make believe
That you believed my lies”
(Bon Jovi)
(Campbell, Canberra/ pada hari ulang tahun ke 25 ade nyongku, how I miss him so much; mopnya, cerewetnya, kejailannya, 4 – 8 p.m.)
Wednesday, 23 September 2009
Monday, 21 September 2009
Lebih kental dari pertalian darah!
Sore ini saat lagi sedang berusaha fokus menyelesaikan esai yang sudah 50 % selesai, kok pikiranku malah mengembara ke masa lalu. Masa di Manokwari. Mungkin karena sedari tadi, sambil mencari mood yang lenyap usai makan siang, aku malah sibuk melihat – lihat kumpulan foto selama di Manokwari .. Dan aku kelimpungan mencari foto bersama sahabat - sahabatku sejak kecil di Fanindi. Tulisanku kali ini tentang M; sahabatku sejak umur 5 tahun dan T; sahabatku sejak SMP. Keduanya anana Fanindi ^_^
Entahlah, tiba – tiba aku merindukan mereka. Sahabatku sejak kecil. Pertalian selalu datang dan pergi, dan mereka tetap ada di sana. Aku mengenal mereka sebagai bagian dari diriku, dari masa laluku, masa kini, dan masa depanku. Orang - orang yang sering mendengar curahan perasaanku kala sedih, senang dan marah.
Aku merindukan mereka sore ini.
BERSAMA M:
^Masa TK – SD^
Mengingat waktu mancing semasa SD dan mengeksplorasi kali di Fanindi, menangkap udang dan ikan, dikejar anjing, memanen buah cengkeh matang untuk dimakan, bermain tek – tek, memantau jeruk Bali di depan rumahnya, pulang sekolah bersama, menggosip tentang para guru yang galak di sekolah, menjawab lemparan kertas gosip dan soal lewat jendela kelas, memaki para cowok yang iseng, bermain ‘tali merdeka’, ‘tali masuk’, dan gici – gici. Pergi bersama ke sekolah minggu.
^Masa SMP^
Bertemu di sekolah, bergosip tentang pelajaran dan teman sekolah. Sibuk membahas tentang anana kompleks. Menikmati masa remaja dengan bertukar kabar kala bertemu di mata jalan kompleks.
^Masa SMA^
Tiap pulang libur dari Jayapura, kami pun bertukar kabar dan menggosip. Tentang hidup, tentang impian, tentang semuanya.
Kala ku jatuh sakit, Dia ada bersamaku. Mengunjungiku, bercerita, bergosip, tertawa. Memberiku semangat.
^Masa kuliah^
Bergosip, bercerita, teman pulang gereja. Bercerita tentang keluarga dan kerabat, toh ia mengenal keluargaku begitupun aku juga mengenal keluarganya.
Berbisnis, bekerja sama. Tertawa. Sepakat ‘musuhan’ dengan para fans yang tak kami sukai. Bekerja sama menjadi penghubung ‘cinta’ yang jauh.
Menjadi teman cerita, teman menggosip apa saja, saudara yang menampung keluh kesahku kala ada masalah dengan keluarga.
^Masa kerja^
Teman pulang gereja dan bertukar kabar, teman bisnis, teman ‘obat nyamuk’ kala harus ‘jumpa fans’. Seseorang yang setia membelaku, memberi pandangan tentang hubunganku dengan para mantan pacar ataupun yang sedang kutaksir ataupun fans yang tak kuinginkan. Seseorang yang membantuku memaki tapi sekaligus serius membahas usaha bisnis.
Teman yang setia menemaniku mencari jenis pakaian yang kuinginkan, yang tak pernah memrotes jenis rambutku malah sibuk membantuku mewarnai rambut sembunyi – sembunyi di rumahnya karena bapaku pasti protes kalau kuwarnai di rumah, membantuku merapikan alis, mengajarkanku trik – trik dandan. Perempuan yang cuek dan kuat plus mandiri.
BERSAMA T:
^Masa SD^
Bertemu kala melintas jalan yang sama pulang sekolah. Hanya tersenyum karena tak tahu namanya, hanya tahu bahwa ia tinggal di kompleks sebelah kali.
^Masa SMP^
Satu kelas dari kelas 1 – 3. Seorang teman yang paling kalem dan susah bilang kata ‘Terserah’ tapi malah jadi ‘seterah’. Suka membantuku kala stuck di pelajaran Matematika, setia menjelaskan tentang pecahan dan aljabar.
Kami kadang pulang bersama, kadang sendiri – sendiri.
Menjadi sahabat kompleks yang kadang kukunjungi kalau ada tugas kelompok.
^Masa SMA^
Seorang teman yang kukunjungi kala liburan pulang ke Manokwari.
Seseorang yang mengenalkanku dengan Andrea Bocelli dan menularkan ‘virus-cinta-mati-Andrea-Bocelli’ dan musiknya.
Kala sakit parah dan lumpuh selama sebulan lebih di rumah sakit, setia datang mengunjungiku, membawa kue kering, bercerita denganku, memberikan warna dan semangat dalam bangsal rumah sakit yang bikin depresi.
^Masa Kuliah^
Menjadi teman cerita dan bergosip; pendengar terbaik.
Teman yang memberikan masukan kala harus ‘jumpa fans’ dengan para fans ^_^ dan kadang jadi ‘obat nyamuk’.
Memberikan masukan tentang banyak hal khususnya tentang lingkungan akademik di Amban.
Menjadi teman terbaik yang suka mengajakku naik motor malam minggu, mengajakku menjadi anggota keluarganya, merasakan kehangatan keluarganya di Fanindi
Teman yang selalu setia menginformasikan tentang info ‘minyak tanah’. Yang setia mengajarkan tentang cara memasak dan bikin kue tapi tooh aku tak bisa juga.
Sahabat terbaik yang mengajarkanku cara ‘naik motor’, yang mengajarkan tentang keberanian dan teknik balap, yang menemaniku ‘mengeksekusi’ motornya. Yang setia menjelaskan tentang cara merawat motor de el el.
Guru terbaik pelajaran renangku, yang mengajarkanku cara mengapung dan dilarung laut.
Teman bercerita kala ku ada masalah dengan keluarga. Seseorang yang mengajarkanku untuk jatuh cinta pada Pasir Putih dan pantai.
Seseorang yang tak takut komputernya diutak – atik kala aku belum punya komputer, yang menemaniku mengetik tugas – tugas kuliahku, yang mengantarkanku memilih komputer PC pertamaku.
Seseorang yang tak pernah melupakan aku dalam momen – momen spesialnya.
^Masa Kerja^
Tetap menjadi teman yang kadang kukunjungi usai pulang gereja walaupun hanya masuk sebentar di rumah dan berteriak ‘selamat siang’ ^_^
Bertukar kabar lewat telpon dan SMS kala aku begitu sibuk.
Seseorang yang setia memberitahukan kebar dirinya kala aku telah begitu sibuk dengan tumpukan tugas dan jalan – jalan; seseorang yang mempercayakan keping momennya bersamaku, kisah cintanya, rasa sedihnya ditinggal bapaknya ke Surga, kala pamit ke Jogja melanjutkan kuliah akta IV.
Seseorang yang berbagi kabar gembira kala ia menjadi ibu dan mau saja kutitipi nama untuk anak lelakinya.
BERSAMA MEREKA:
Aku menjadi utuh, bertumbuh dalam warna – warni.
Sahabat – sahabat yang lebih dekat dari saudara, yang lebih kental dari pertalian darah.
M yang menjadi pembelaku kala aku tak sanggup lagi berkata – kata, T yang memberikan aku pemahaman untuk tenang dan diam.
M yang mengajarkanku semangat mandiri, T yang setia menjadikanku anak muridnya dalam pelajaran bertahan hidup: berenang dan mengendarai motor.
Mereka bukanlah yang terbaik dalam disiplin ilmu ataupun dalam peringkat kelas.
Tapi mereka adalah guru – guru terbaik dalam hidupku, yang mengajarkanku untuk berkawan dengan siapa saja, yang mengajariku untuk memercayai orang lain, yang mengajariku untuk jatuh cinta pada hidup, yang mengajariku untuk bisa speak up my mind ataupun pada saat lain untuk diam dan merenung tentang hidup.
Mereka mungkin bukanlah yang tercantik dan termanis ataupun yang sadar ‘mode’
Tapi mereka adalah role modelku kala berkaca pada hidup, kala kucoba masuk dalam komunitas bersosialisasi. Orang – orang yang tulus yang selalu ada bagiku kala aku tak begitu diterima di lingkungan lain. Orang – orang yang mengenalku ‘luar dalam’.
Mereka mungkin bukanlah yang terbaik dan secara fisik selalu ada bersamaku.
Tapi mereka adalah orang – orang yang selalu berpesan padaku dalam SMS ataupun e-mail mereka, “Jaga kesehatan eee. Ingat istirahat” dan puluhan pesan lainnya yang intinya sih, “I care about You.”
Mereka mungkin bukanlah yang terbaik dalam komunitas dan juga bukanlah pengikut Kristen yang tanpa masalah.
Tapi mereka adalah orang – orang yang menawarkan banyak hal dalam hidupku, orang – orang yang mengajarkanku tentang pemahaman etnik bagiku. M yang memberikan pengaruh budaya Papua dalam diriku, yang menjelaskan banyak hal tentang yospan, menyanyi dan adat istiadat plus makanan tradisional dan juga silsilah. T yang memberikan banyak pemahaman Jawa, tentang sikap nrimo dan masakan plus beberapa petunjuk adat istiadat.
Aku merindukan mereka.
Sahabat, saudara, dan guru terbaikku.
Tunggu aku di Manokwari!
(Canberra, 6.26 p.m./ 21 September 2009)
Entahlah, tiba – tiba aku merindukan mereka. Sahabatku sejak kecil. Pertalian selalu datang dan pergi, dan mereka tetap ada di sana. Aku mengenal mereka sebagai bagian dari diriku, dari masa laluku, masa kini, dan masa depanku. Orang - orang yang sering mendengar curahan perasaanku kala sedih, senang dan marah.
Aku merindukan mereka sore ini.
BERSAMA M:
^Masa TK – SD^
Mengingat waktu mancing semasa SD dan mengeksplorasi kali di Fanindi, menangkap udang dan ikan, dikejar anjing, memanen buah cengkeh matang untuk dimakan, bermain tek – tek, memantau jeruk Bali di depan rumahnya, pulang sekolah bersama, menggosip tentang para guru yang galak di sekolah, menjawab lemparan kertas gosip dan soal lewat jendela kelas, memaki para cowok yang iseng, bermain ‘tali merdeka’, ‘tali masuk’, dan gici – gici. Pergi bersama ke sekolah minggu.
^Masa SMP^
Bertemu di sekolah, bergosip tentang pelajaran dan teman sekolah. Sibuk membahas tentang anana kompleks. Menikmati masa remaja dengan bertukar kabar kala bertemu di mata jalan kompleks.
^Masa SMA^
Tiap pulang libur dari Jayapura, kami pun bertukar kabar dan menggosip. Tentang hidup, tentang impian, tentang semuanya.
Kala ku jatuh sakit, Dia ada bersamaku. Mengunjungiku, bercerita, bergosip, tertawa. Memberiku semangat.
^Masa kuliah^
Bergosip, bercerita, teman pulang gereja. Bercerita tentang keluarga dan kerabat, toh ia mengenal keluargaku begitupun aku juga mengenal keluarganya.
Berbisnis, bekerja sama. Tertawa. Sepakat ‘musuhan’ dengan para fans yang tak kami sukai. Bekerja sama menjadi penghubung ‘cinta’ yang jauh.
Menjadi teman cerita, teman menggosip apa saja, saudara yang menampung keluh kesahku kala ada masalah dengan keluarga.
^Masa kerja^
Teman pulang gereja dan bertukar kabar, teman bisnis, teman ‘obat nyamuk’ kala harus ‘jumpa fans’. Seseorang yang setia membelaku, memberi pandangan tentang hubunganku dengan para mantan pacar ataupun yang sedang kutaksir ataupun fans yang tak kuinginkan. Seseorang yang membantuku memaki tapi sekaligus serius membahas usaha bisnis.
Teman yang setia menemaniku mencari jenis pakaian yang kuinginkan, yang tak pernah memrotes jenis rambutku malah sibuk membantuku mewarnai rambut sembunyi – sembunyi di rumahnya karena bapaku pasti protes kalau kuwarnai di rumah, membantuku merapikan alis, mengajarkanku trik – trik dandan. Perempuan yang cuek dan kuat plus mandiri.
BERSAMA T:
^Masa SD^
Bertemu kala melintas jalan yang sama pulang sekolah. Hanya tersenyum karena tak tahu namanya, hanya tahu bahwa ia tinggal di kompleks sebelah kali.
^Masa SMP^
Satu kelas dari kelas 1 – 3. Seorang teman yang paling kalem dan susah bilang kata ‘Terserah’ tapi malah jadi ‘seterah’. Suka membantuku kala stuck di pelajaran Matematika, setia menjelaskan tentang pecahan dan aljabar.
Kami kadang pulang bersama, kadang sendiri – sendiri.
Menjadi sahabat kompleks yang kadang kukunjungi kalau ada tugas kelompok.
^Masa SMA^
Seorang teman yang kukunjungi kala liburan pulang ke Manokwari.
Seseorang yang mengenalkanku dengan Andrea Bocelli dan menularkan ‘virus-cinta-mati-Andrea-Bocelli’ dan musiknya.
Kala sakit parah dan lumpuh selama sebulan lebih di rumah sakit, setia datang mengunjungiku, membawa kue kering, bercerita denganku, memberikan warna dan semangat dalam bangsal rumah sakit yang bikin depresi.
^Masa Kuliah^
Menjadi teman cerita dan bergosip; pendengar terbaik.
Teman yang memberikan masukan kala harus ‘jumpa fans’ dengan para fans ^_^ dan kadang jadi ‘obat nyamuk’.
Memberikan masukan tentang banyak hal khususnya tentang lingkungan akademik di Amban.
Menjadi teman terbaik yang suka mengajakku naik motor malam minggu, mengajakku menjadi anggota keluarganya, merasakan kehangatan keluarganya di Fanindi
Teman yang selalu setia menginformasikan tentang info ‘minyak tanah’. Yang setia mengajarkan tentang cara memasak dan bikin kue tapi tooh aku tak bisa juga.
Sahabat terbaik yang mengajarkanku cara ‘naik motor’, yang mengajarkan tentang keberanian dan teknik balap, yang menemaniku ‘mengeksekusi’ motornya. Yang setia menjelaskan tentang cara merawat motor de el el.
Guru terbaik pelajaran renangku, yang mengajarkanku cara mengapung dan dilarung laut.
Teman bercerita kala ku ada masalah dengan keluarga. Seseorang yang mengajarkanku untuk jatuh cinta pada Pasir Putih dan pantai.
Seseorang yang tak takut komputernya diutak – atik kala aku belum punya komputer, yang menemaniku mengetik tugas – tugas kuliahku, yang mengantarkanku memilih komputer PC pertamaku.
Seseorang yang tak pernah melupakan aku dalam momen – momen spesialnya.
^Masa Kerja^
Tetap menjadi teman yang kadang kukunjungi usai pulang gereja walaupun hanya masuk sebentar di rumah dan berteriak ‘selamat siang’ ^_^
Bertukar kabar lewat telpon dan SMS kala aku begitu sibuk.
Seseorang yang setia memberitahukan kebar dirinya kala aku telah begitu sibuk dengan tumpukan tugas dan jalan – jalan; seseorang yang mempercayakan keping momennya bersamaku, kisah cintanya, rasa sedihnya ditinggal bapaknya ke Surga, kala pamit ke Jogja melanjutkan kuliah akta IV.
Seseorang yang berbagi kabar gembira kala ia menjadi ibu dan mau saja kutitipi nama untuk anak lelakinya.
BERSAMA MEREKA:
Aku menjadi utuh, bertumbuh dalam warna – warni.
Sahabat – sahabat yang lebih dekat dari saudara, yang lebih kental dari pertalian darah.
M yang menjadi pembelaku kala aku tak sanggup lagi berkata – kata, T yang memberikan aku pemahaman untuk tenang dan diam.
M yang mengajarkanku semangat mandiri, T yang setia menjadikanku anak muridnya dalam pelajaran bertahan hidup: berenang dan mengendarai motor.
Mereka bukanlah yang terbaik dalam disiplin ilmu ataupun dalam peringkat kelas.
Tapi mereka adalah guru – guru terbaik dalam hidupku, yang mengajarkanku untuk berkawan dengan siapa saja, yang mengajariku untuk memercayai orang lain, yang mengajariku untuk jatuh cinta pada hidup, yang mengajariku untuk bisa speak up my mind ataupun pada saat lain untuk diam dan merenung tentang hidup.
Mereka mungkin bukanlah yang tercantik dan termanis ataupun yang sadar ‘mode’
Tapi mereka adalah role modelku kala berkaca pada hidup, kala kucoba masuk dalam komunitas bersosialisasi. Orang – orang yang tulus yang selalu ada bagiku kala aku tak begitu diterima di lingkungan lain. Orang – orang yang mengenalku ‘luar dalam’.
Mereka mungkin bukanlah yang terbaik dan secara fisik selalu ada bersamaku.
Tapi mereka adalah orang – orang yang selalu berpesan padaku dalam SMS ataupun e-mail mereka, “Jaga kesehatan eee. Ingat istirahat” dan puluhan pesan lainnya yang intinya sih, “I care about You.”
Mereka mungkin bukanlah yang terbaik dalam komunitas dan juga bukanlah pengikut Kristen yang tanpa masalah.
Tapi mereka adalah orang – orang yang menawarkan banyak hal dalam hidupku, orang – orang yang mengajarkanku tentang pemahaman etnik bagiku. M yang memberikan pengaruh budaya Papua dalam diriku, yang menjelaskan banyak hal tentang yospan, menyanyi dan adat istiadat plus makanan tradisional dan juga silsilah. T yang memberikan banyak pemahaman Jawa, tentang sikap nrimo dan masakan plus beberapa petunjuk adat istiadat.
Aku merindukan mereka.
Sahabat, saudara, dan guru terbaikku.
Tunggu aku di Manokwari!
(Canberra, 6.26 p.m./ 21 September 2009)
Saturday, 19 September 2009
Terima kasih kepada yang mengingatku
Malam ini tanggal 19 Agustus 2009, pukul 1.40 pagi. Radio One Way FM masih menemaniku dengan sederet tembang rohani. Aku baru saja pulang latihan nyanyi untuk ibadah dan benar – benar kecapaian. Bernyanyi benar – benar menguras tenaga, tapi aku menikmatinya. Walaupun sempat terkejut dan sedikit merasa tidak sejahtera pada awalnya karena perubahan jadwal nyanyi yang dikonfirmasikan tiba – tiba. Tapi usai tiba dan mulai menyanyi, semua rasa tidak sejahtera itu lenyap seiring dengan pujian dinaikkan, bahkan aku menemukan semangat baru untuk mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Begitu lega!!!
Hari ini, masuk hari ke tiga, aku resmi berusia 26 tahun, sebuah usia yang sudah layak menikah dan punya anak, membentuk keluarga baru dan lain – lain. Aku bersyukur karena hingga usia ini aku masih bisa menikmati hidupku sebagai lajang muda yang punya kebebasan menjelajah banyak hal, walau jauh di hatiku tetap saja berpikir, “Kapan ya punya anak?”.
Ulang tahun kemarin benar – benar sebuah hari yang melelahkan karena sejak pukul 5 pagi telah bangun dan jam 7 aku telah berada di atas bis menuju tempat kerja. Kemudian ritual rabu pun dimulai dengan bertemu tutor, mencari buku – buku penunjang tulisan dan juga sejumlah kegiatan melelahkan lainnya. Sebenarnya aku ingin merenung di sebuah tempat sunyi seperti ritual tahunanku di Manokwari, biasanya di pantai dan melihat ke belakang apa yang telah Tuhan berikan sepanjang hidupku. Tahun ini kegiatanku terpaksa kuganti dengan merenung di dalam bis sepanjang tempat kerja ke kampus.
Tahun ini aku juga mendapat banyak kejutan di hari ulang tahunku. Aku bukan orang yang suka merayakan ulang tahun dengan pesta, karena seingatku pertama kali aku mengundang teman makan bersama di warung mie ayam terjadi tahun 2005, kemudian pada tahun 2006 bersama beberapa teman di Rumah makan Salam manis, kebetulan aku ingat karena waktu itu aku baru saja beberapa hari berkenalan dengan mantan pacar di Timika dan saat itu kami sedang sibuk ber-SMS membahas potongan rambutnya ^_^. Tahun 2007 kalau tak salah aku tak merayakannya karena beberapa hari setelah itu aku malah naik gunung ke pedalaman (Anggi) dan menjadi pemandu pasangan opa – oma dari Belanda; temannya seorang kerabat. dan terakhir tahun 2008 bersama beberapa sahabat masa kecilku di restoran 89.
Tahun ini kejutannya berupa pesan – pesan lucu di dinding Facebookku dan juga kejutan teman serumah yang benar – benar ‘gila’. Aku pikir mereka tak ada yang tahu, karena aku sengaja menghapus data kelahiranku di Facebook dan berharap aku bisa bersantai dan menikmati hari dengan tenang tanpa kejutan ataupun tanpa ‘dapa main’. Jadi jam 8 malam aku telah tidur dengan nyenyak karena keesokan harinya aku harus naik bis jam 7 ke tempat kerja dan masih ada kuliah sampai jam 6 sore. E ternyata, pukul 10 malam, sedang tidur nyenyak, masuklah R; teman serumahku ke kamar dan membangunkan aku. Di rumah kami, tak ada satupun kamar yang punya kunci. Ia bilang, “Day, bangun. Si El masuk rumah sakit.” Aku yang masih ngantuk dan sedang ‘mengumpul nyawa’ pun spontan bilang, “ah saya nggak ikut antar.”. Tapi saya ditarik lagi dengan satu frasa yang membuatku sontak berpikir keadaan kak El memang buruk karena memang El sedang sakit beberapa hari ini, “Tapi nggak ada yang bisa gotong dia. Ayo bantu, Day”. Dengan malas dan memaksa tubuh terjaga, aku dengan jubah tidur dan rambut acak – acakan keluar kamar menuju ruang tamu. Tapi kok lampu ruang tamu padam, dan I smelt something fishy … dan benar! Baru berada di ujung gang menuju ruang tamu dan saat kepalaku melongok, tiba – tiba kilatan lampu kamera bersama kue penuh lilin dan juga sambutan lagu ulang tahun dengan diiringi gitar dan satu penghuni rumah ditambah kehadiran B dan M (teman yang suka berkunjung) pun membahana. Benar – benar kaget karena kilatan blitz kamera pun menyala terus. Tak bisa berkata – kata karena langsung digiring ke arah kue dan ‘dipaksa’ meniup lilin yang ternyata lilin kembang api, yang kutiup hingga berkali – kali tak mau padam. Tentu saja akhirnya padam usai dibantu 2 teman ^_^.
Yang membuatku salut dan benar – benar terharu adalah usaha teman – teman memberikan kejutan. Mulai dari berburu anggur merah jenis Cabernet Merlot; pemikirannya B dan juga hadiah ulang tahun yang benar – benar ‘the real me’; peralatan berkebun lengkap dengan garpu rumput dan sekop kecil plus juga sebuah kartu. Usai itu kami pun sibuk berbagi cerita dan sibuk bercanda. Hingga pukul 11 lewat aku masih di ruang tamu. Usai itu aku pun kabur melanjutkan tidur.
Aku juga bersyukur untuk semua ucapan ulang tahun yang masuk di telepon genggamku. Mulai dari orang tua, kerabat dan teman. Benar – benar sebuah hadiah yang tak ternilai; perhatian.
Walaupun hari ulang tahun kemarin minus ucapan dari orang yang kuharapkan memberi ucapan, toh aku bersyukur dikelilingi oleh orang – orang yang mengasihiku.
Satu yang pasti, aku bersyukur tahun ini aku masih diberikan kepercayaan oleh Bapa untuk tetap hidup. Ingin berteriak dengan keras, “Thanx Bapa, Yesus, dan Roh Kudus”.
(Canberra, di sebuah subuh)
Hari ini, masuk hari ke tiga, aku resmi berusia 26 tahun, sebuah usia yang sudah layak menikah dan punya anak, membentuk keluarga baru dan lain – lain. Aku bersyukur karena hingga usia ini aku masih bisa menikmati hidupku sebagai lajang muda yang punya kebebasan menjelajah banyak hal, walau jauh di hatiku tetap saja berpikir, “Kapan ya punya anak?”.
Ulang tahun kemarin benar – benar sebuah hari yang melelahkan karena sejak pukul 5 pagi telah bangun dan jam 7 aku telah berada di atas bis menuju tempat kerja. Kemudian ritual rabu pun dimulai dengan bertemu tutor, mencari buku – buku penunjang tulisan dan juga sejumlah kegiatan melelahkan lainnya. Sebenarnya aku ingin merenung di sebuah tempat sunyi seperti ritual tahunanku di Manokwari, biasanya di pantai dan melihat ke belakang apa yang telah Tuhan berikan sepanjang hidupku. Tahun ini kegiatanku terpaksa kuganti dengan merenung di dalam bis sepanjang tempat kerja ke kampus.
Tahun ini aku juga mendapat banyak kejutan di hari ulang tahunku. Aku bukan orang yang suka merayakan ulang tahun dengan pesta, karena seingatku pertama kali aku mengundang teman makan bersama di warung mie ayam terjadi tahun 2005, kemudian pada tahun 2006 bersama beberapa teman di Rumah makan Salam manis, kebetulan aku ingat karena waktu itu aku baru saja beberapa hari berkenalan dengan mantan pacar di Timika dan saat itu kami sedang sibuk ber-SMS membahas potongan rambutnya ^_^. Tahun 2007 kalau tak salah aku tak merayakannya karena beberapa hari setelah itu aku malah naik gunung ke pedalaman (Anggi) dan menjadi pemandu pasangan opa – oma dari Belanda; temannya seorang kerabat. dan terakhir tahun 2008 bersama beberapa sahabat masa kecilku di restoran 89.
Tahun ini kejutannya berupa pesan – pesan lucu di dinding Facebookku dan juga kejutan teman serumah yang benar – benar ‘gila’. Aku pikir mereka tak ada yang tahu, karena aku sengaja menghapus data kelahiranku di Facebook dan berharap aku bisa bersantai dan menikmati hari dengan tenang tanpa kejutan ataupun tanpa ‘dapa main’. Jadi jam 8 malam aku telah tidur dengan nyenyak karena keesokan harinya aku harus naik bis jam 7 ke tempat kerja dan masih ada kuliah sampai jam 6 sore. E ternyata, pukul 10 malam, sedang tidur nyenyak, masuklah R; teman serumahku ke kamar dan membangunkan aku. Di rumah kami, tak ada satupun kamar yang punya kunci. Ia bilang, “Day, bangun. Si El masuk rumah sakit.” Aku yang masih ngantuk dan sedang ‘mengumpul nyawa’ pun spontan bilang, “ah saya nggak ikut antar.”. Tapi saya ditarik lagi dengan satu frasa yang membuatku sontak berpikir keadaan kak El memang buruk karena memang El sedang sakit beberapa hari ini, “Tapi nggak ada yang bisa gotong dia. Ayo bantu, Day”. Dengan malas dan memaksa tubuh terjaga, aku dengan jubah tidur dan rambut acak – acakan keluar kamar menuju ruang tamu. Tapi kok lampu ruang tamu padam, dan I smelt something fishy … dan benar! Baru berada di ujung gang menuju ruang tamu dan saat kepalaku melongok, tiba – tiba kilatan lampu kamera bersama kue penuh lilin dan juga sambutan lagu ulang tahun dengan diiringi gitar dan satu penghuni rumah ditambah kehadiran B dan M (teman yang suka berkunjung) pun membahana. Benar – benar kaget karena kilatan blitz kamera pun menyala terus. Tak bisa berkata – kata karena langsung digiring ke arah kue dan ‘dipaksa’ meniup lilin yang ternyata lilin kembang api, yang kutiup hingga berkali – kali tak mau padam. Tentu saja akhirnya padam usai dibantu 2 teman ^_^.
Yang membuatku salut dan benar – benar terharu adalah usaha teman – teman memberikan kejutan. Mulai dari berburu anggur merah jenis Cabernet Merlot; pemikirannya B dan juga hadiah ulang tahun yang benar – benar ‘the real me’; peralatan berkebun lengkap dengan garpu rumput dan sekop kecil plus juga sebuah kartu. Usai itu kami pun sibuk berbagi cerita dan sibuk bercanda. Hingga pukul 11 lewat aku masih di ruang tamu. Usai itu aku pun kabur melanjutkan tidur.
Aku juga bersyukur untuk semua ucapan ulang tahun yang masuk di telepon genggamku. Mulai dari orang tua, kerabat dan teman. Benar – benar sebuah hadiah yang tak ternilai; perhatian.
Walaupun hari ulang tahun kemarin minus ucapan dari orang yang kuharapkan memberi ucapan, toh aku bersyukur dikelilingi oleh orang – orang yang mengasihiku.
Satu yang pasti, aku bersyukur tahun ini aku masih diberikan kepercayaan oleh Bapa untuk tetap hidup. Ingin berteriak dengan keras, “Thanx Bapa, Yesus, dan Roh Kudus”.
(Canberra, di sebuah subuh)
Dia bilang: "No F*** Worries, mate!"
Malam ini tanggal 15 September 2009. Ditemani koleksi lagu gospel. Terkurung dalam sebuah ruang berbentuk kotak yang mempunyai tinggi x panjang x lebar yang kerap disebut kamar tidur alias bedroom, dan tentu saja enggan kusebut bilik. Kembali lagi kubuat sebuah catatan pendek tentang hidupku yang biasa; hidup seorang perempuan yang sedang sibuk menjalani dan ‘menghidupkan’ mimpinya sejak kecil. Panggil aku sang pemimpi, karena itu nama lainku.
Hari ini suasana hatiku sudah baikan. Seperti biasa, aku masih sangat melankolis apalagi minggu – minggu ini terasa berat bagiku. Aliran tugas yang mengalir tanpa henti dan tekanan yang diharapkan dari setiap mata kuliah ingin membuatku berteriak kencang, “Aku tak sanggup. Ingin berhenti!”. Tapi toh, masih kulakukan dan kujalani juga. Tak ada jalan pulang, karena berhenti adalah sebuah pengkhianatan idealisme.
Kemarin, kuakui adalah saat terberat bagiku,; saat harus bisa fokus. Aku memang punya masalah dengan memfokuskan diri pada sesuatu. Mungkin karena bawaanku dulu yang sempat mengalami kecenderungan ‘bipolar’. Dulu disebut ‘manic depression’, dan walau tahun ini aku bisa mengucap syukur untuk mood swingku yang lumayan ‘normal’, tapi toh kadang efek samping dari kecenderungan ini masih ada; masih sangat melankolis tingkat tinggi dan itu bisa terbawa beberapa hari, ya 2 – 3 hari lah. Setidaknya lumayan karena aku sudah tak lagi merasa kosong seperti dulu yang bisa lebih dari 1 minggu dan isinya pikiran yang hampa dan kesia – siaan hidup dan bawaannya hanya memikirkan kematian. When I felt that all fingers pointed at me!
Kemarin malam, kuakui aku benar – benar down. Bukan karena ada kejadian buruk ataupun sedih lainnya, tapi semata karena aku meletakkan sebuah tingkat keberhasilan yang tinggi untuk hari itu dan aku tak bisa menyelesaikan. Aku terlalu perfeksionis kemarin, meletakan harapan terlalu tinggi untuk progress esaiku. Kuakui aku bekerja untuk esai itu dari pukul 10 pagi namun tak bisa banyak menulis karena pikiranku pun bercabang ke mana – mana, apalagi aku masih bimbang harus ke Floriade atau tidak. Jadi karena progressnya tak bagus juga, sore hari usai mandi sore, aku pun nekat dengan bawaan buku dan notebook plus tas punggung menunggu bis jam 4.11 p.m. ke kampus. Tapi toh, dari sekitar jam 5 kurang hingga jam 9.30 p.m., aku tak bisa fokus banyak dan progressku benar – benar ‘merayap’. Soak!!!
Sambil sibuk membaca tumpukan buku teks, aku benar – benar ingin berteriak dalam ruangan perpustakaan Chifley lantai 4 karena merasa menjadi orang paling ‘bodok’ sedunia karena tak bisa memahami bacaan buku grammar bahasa Inggris itu, padahal yang kubahas hanyalah masalah personal pronoun alias kata ganti orang dalam bahasa Inggris yang akan kukaitkan dengan tata bahasa Indonesia. Bolak – balik di halaman buku, eee tak ketemu – ketemu juga yang kuinginkan. E pas dapat tuh halaman, ya ampun, bahasanya kok ditulis dengan konsep yang bikin tambah pening. Mulai dari deixis, anaphoria, sampai masalah case, gender, nominal dan lain – lain. Pusing!!!
Saking stressnya kemarin, aku sampai teringat pada kisah 2 ekor tikus yang terjatuh dalam sebuah wadah besar berisikan susu segar di sebuah lumbung. Katakan saja wadah itu sebuah ‘drum’, di Papua sih pasti kusebut ‘drem’. Nah saking ‘terinspirasi’ sama kisah si Tikus, aku sampai merasa bahwa aku ini dalam posisi si ‘Tikus’, dan status akun Facebookku tuh berisikan: “Adoooooo sa tra mo jadi 'tikus' yang mati tenggelam sia - sia di tengah2 drem susu ya. Minum kasi abis, tra mungkin ya. Berenang putar - putar, mudahan akan jadi keju. Tapi kapan eee. Ae, Farek akan mo jadi keju ka ka mo jadi yoghurt ka, Berenang trus dulu, nan kalo hosa baru nan sa pikir lagi nanti suda. Tugas eee, mama eta!”
Aku merasa saat ini, aku sedang berganti peran menjadi tikus itu. Alkisah saat 2 tikus itu terjatuh dalam sebuah wadah yang dalam, katakan saja sebuah drum atau ember. Si tikus X setelah melihat – lihat keadaan sekitar, bilang pada dirinya sendiri, “Aeeeee, nih ember dalam ya, mo lompat sa pu kaki pendek, mo minum susu semua, tra mungkin ya. Aih sa mati saja suda.” Dan akhirnya ia berhenti bergerak alias berenang dan tewas. Nah kemudian temannya, si tikus Y, juga terjatuh pada saat yang sama, setelah melihat dan mengamati keadaan sekitar, ia bilang begini, “Mmmmh dinding tempat ini lumayan tebal, tempat ini juga bokar. Adoh kalo minum akan, pasti sa poro bangka langsung dan tra mungkin bisa kasi kering tempat ini, kalo kering juga, sa mo bikin apa. Tempat nih akan tinggi, mo lompat tra mungkin ya. Aeh suda, ini kan susu tooo. Daripada sa cuma diam – diam saja dan tra bikin apa – apa, nan sa tenggelam lagi dan dingin. Suda, biar suda sa berenang saja, mangkali nan ada famili – famili tikus dong yang lewat ka. Mangkali nan ada yang bantu sa.” Dan akhirnya de tetap berenang, dan di akhir cerita, ia terus bergerak hingga kecapaian namun tetap bergerak karena ternyata lama – lama, ember berisi susu itu pun berubah menjadi keju. Konon, saat lapisan keju mulai mengeras, si tikus Y akhirnya bisa kabur sebelum ‘digorok lehernya’ oleh pemilik ember susu itu.
Kemarin malam, aku bukan si tikus X pun tikus Y. Aku malah merasa aku berada dalam posisi ‘tikus XY’ yang toh tak mau mati sia – sia, tapi juga semangat berjuang pun dalam keadaan sekarat. Sampai – sampai aku berada dalam keadaan, “Adoooh nih ember susu de mo isi keju ka yoghurt, sa tra epen lagi. Yang penting sa bergerak dulu, nan kalo sa hosa (capek) baru nan sa pikir lagi”. Aku labil dalam posisi sebagai tikus XY ini, dan ternyata keadaan ini pun terbawa hingga pulang ke rumah.
Usai pulang, moodku masih begitu ‘mendung’, “Macam ada awan hitam bokar yang tagantung di atas sana eeeee”, batinku. Jadi usai ber-SMS dengan kak Y di Toad Hall minta didoakan karena kurasakan bahwa aku benar – benar tak sanggup menjalani hari ini. Aku ingat pesan kak Y di SMS dan kotak surat FBku untuk jangan membiarkan perasaan melankolis-sungguh-mati merasuki terlalu lama. Namun malam itu, benar – benar down. Apalagi kucoba menghubungi ‘lelaki hujan’, e tapi malah dicuekin karena lagi nonton TV. Tapi aku tak punya pilihan karena aku bukan siapa – siapa. Tak ada hak untuk menuntut apapun.
Kemarin malam pun saat perasaan begitu labil dan sendu, niatan awal ingin tidur lebih awal malah berakhir dengan menyalakan notebook dan sibuk menonton dan menyanyi lagu – lagu melankolis. Mulai dari lagu patah hati yang bisa menggiring orang masuk kuburan hingga lagu cinta mencoba-menghibur-diri-sendiri. Serasa malam kemarin jadi orang yang termalang sedunia apa sealam semesta, dan aku membiarkan diriku terbawa perasaan itu selama sejam lebih. Bahkan status FBku menyiratkan kegundahanku.
Sambil berbombay ria dengan mata ‘bangka – bangka’ dan menghabiskan beberapa lembar sapu tangan. Kuputuskan berdoa melepaskan emosi yang tertahan, campuran antara berbagai rasa yang pasti bisa dibuat jadi sejenis ‘gado – gado emosi’. Usai itu, setelah agak sedikit tenang, aku memutuskan nonton video – video lucu di YouTube khususnya para bayi dan hewan lucu. Terbahak – bahak. Dan aku pun tidur nyenyak!
Pagi tadi, dengan mata sembab sisa menangis semalam, seperti kebiasaanku tiap pagi melihat di dalam cermin di kamar. Ada satu pikiran di benakku, “Day, wake up. Ko masih hidup tuh, jangan menyerah!”. Kubuka jendela, e langit sedang cerah dengan warna biru yang cantik. Aku merasakan kehidupan mengalir lagi hari ini.
Pagi tadi, kuputuskan untuk mengganti gaya fashionku dengan gaya musim panas, memakai koleksi aksesoris kerangku. Aku pun naik bis ke kampus pagi tadi. Sepanjang jalan, dalam hatiku diingatkan untuk mensyukuri hari yang kupunya, apalagi pagi ini aku diingatkan untuk melihat ke luar jendela dan melihat bebungaan yang mekar di musim semi. Ada satu perkataan di hatiku saat di bis, “Jih Day, ko kenapa harus bersedih terus ka? Ko lihat di luar sana tuh, bunga – bunga ada cantik dan warna – warni tuh macam trada beban, padahal nan sedikit lagi dong juga su mati moo. Tapi ko lihat dong ada cantik – cantik sana tuh. Kenapa ko yang umur panjang dari pada dong baru tra bahagia macam dong yang cantik – cantik tuh. Neh semangat ya!”. Aku pun berpikir.
Saat turun di interchange, aku tak langsung berjalan kaki ke kampus yang biasanya menempuh waktu sekitar 12 – 15 menit, tapi malah sibuk belok ke sebuah gerai kosmetik di kota. Sibuk mencari eyeliner guna memanipulasi mata bengkak, padahal aku punya 3 warna eyeliner di rumah, tak lupa pula memberi kompensasi untuk kejadian tadi malam dengan membeli ikat rambut dan jepitan warna – warni dan tak lupa menikmati perjalanan pagi melihat tiruan tulip warna – warni. Perasaanku pun menghangat dan tak lagi beku seiiring dengan panas mentari yang hangat.
Saat berjalan dari Garema menuju kampus, seorang lelaki kulit putih tiba – tiba berteriak tak keruan, ia mengabsen penghuni kebun binatang dan juga anggota – anggota tubuh. ‘Kicauan’nya rupanya cukup memekakkan telinga dan mengganggu ketenangan publik apalagi ia berjalan dengan langkah gontai. Hingga di Nortbourne Avenue, aku berusaha menjaga jarak dengan si orang mabuk ini. Tingkat emosionalku seakan kembali menggelegak dan menyelipkan satu pikiran yang tak baik, “Berani pace mabuk ini de bikin gerakan tambahan ke sa atau pukul sa, sa lipat de nanti”. Tapi kemudian aku tiba – tiba tersadar bahwa itu bukan urusan dan tugasku sebagai hakim untuk menghakimi lelaki ini karena mungkin saja ia punya masalah yang lebih berat dariku dan ia tak tahu bagaimana caranya mencari jalan keluar. Dan mungkin ia juga tak punya siapa – siapa untuk berbagi kisahnya.
Sambil menunggu lampu merah yang enggan berganti hijau, dan tentu saja menjaga jarak sekitar 2 meter dari lelaki mabuk yang terus menerus memaki dan mengancam orang. Datanglah 2 lelaki petugas perusahaan bis pemerintah ACT ‘Action’. Mereka menanyakan apa yang mereka bisa lakukan untuk lelaki mabuk ini, tapi dibalas dengan teriakan yang bisa bikin iritasi di pagi hari, “No F*** worries, mate!” dan ia pun terus memaki tentang derita hidupnya dan ketidakadilan. Dan aku hanya bisa merasa kasihan pada lelaki ini dan berharap ia menemukan kedamaian dalam hidup.
Bertemu lelaki ini, sambil berjalan ke kampus, aku masih sempat memesan kopi di sebuah café di bawah Street Theater. Sambil menyesap kopi dan berjalan ke area Copland, tempat kuliah. Duduk di bawah pohon Eucalyptus sambil menyesap kopi dan membuat sketsa, tiba – tiba diriku tersadar bahwa setiap orang punya masalah, baik besar maupun kecil. Yang jadi pertanyaan, apakah kita mengenali diri kita dan masalah kita? Apakah kita tahu apa masalah kita dan kalau kita sudah mengenalinya, apa yang hendak kita buat? Membiarkannya atau menyelesaikannya atau berada di antara ‘ada dan tiada’? Hingga pada titik ini, aku bisa mengategorikan diriku berada pada titik ‘ada dan tiada’ untuk semua masalahku karena ada yang bisa kuselesaikan saat ini, tetapi ada yang harus kutunda hingga kelak berada pada waktu dan tempat yang tepat. Terlalu riskan.
Satu yang pasti, aku percaya bahwa aku tak berhak merusak hidup orang lain khususnya pagi yang hangat dengan menumpahkan amarahku atas keadaanku yang terjadi atas pilihan yang kubuat sendiri. Sangat tak adil! Pagi ini, aku diingatkan bahwa aku tak boleh ‘membuang sampah emosiku’ ke orang lain dan mencuri kebahagiaan mereka.
Aku percaya Bapa di surga saat menciptakan manusia telah memikirkan jutaan langkah ke depan dibanding pemikiran manusia yang macam ‘tai kuku’. Aku percaya Allah merancang tubuh manusia dengan berbagai fungsi. Aku percaya bahwa Allah menciptakan emosi manusia sebagai akibat dari Free willing yang ia berikan; kehendak bebas untuk memilih, dalam hal ini reaksi. Aku percaya, tangisan dan tawa adalah langkah terbaik bagi memperbaiki sistem emosi diri. Yang tentu saja dibarengi dengan bercerita dan berbagi dengan cara yang tak seperti ‘buang sampah’ ke orang lain dan malah membuat orang lain tak sejahtera. Dalam hal ini aku tak mau jadi hakim untuk lelaki mabuk yang kutemui tadi pagi tapi jujur aku kasihan padanya karena ia benar – benar tak dalam posisi ‘No f*** worries’. Dan aku sedih karena ia tak mau menerima pertolongan dari kedua petugas Action tadi pagi dan memilih berteriak – teriak memaki dan menyeberang tanpa menunggu lampu hijau.
Setiap orang punya pilihan dalam menggunakan bentuk – bentuk emosi yang dimilikinya, karena toh emosi adalah salah satu kekayaan jiwa yang kadang tak disadari oleh manusia. Bahkan Allah memilih tak mengutak – atik satu sisi ini dan tak menciptakan manusia seperti robot yang diprogram untuk mencintai Dia, karena ia ingin manusia untuk lebih bijak mengenali diri mereka sendiri dan datang pada-Nya dengan kesadaran kita sendiri bahwa ‘Kita butuh Tuhan’.
Akhirnya, aku menyadari bahwa semua masalah ada jalan keluar. Hari ini sekali lagi di kelas jam 11, ada kejutan dari Ibu Jo tentang batas waktu tugas lapangannya karena sedianya batas waktu pengumpulan tanggal 24 diundurkan ke tanggal 28 September 2009 jam 5 sore. Sebuah kejutan manis di pagi hari!
Aku bersyukur untuk hari ini. Aku bersyukur untuk semua yang kualami, untuk teman, kenalan, sahabat jauh dan dekat yang kadang cuma kuingat di dalam doa, yang kadang jarang bertukar kabar, yang kadang ulang tahun mereka kulupakan, kadang aku tak menyapa mereka saat chatting, yang kadang tak kupikirkan. Aku mengucap syukur untuk mereka! Aku mengucap syukur untuk keluargaku di Manokwari khususnya keponakan – keponakan yang sedang bertumbuh dan sedang suka memantau ikan mujair dan lele di kolam semen belakang rumah walau beberapa kali tercebur. Aku bersyukur untuk teman – teman penghuni rumah yang kadang mengganggu dinding wall FBku dengan komentar – komentar lucu. Aku bersyukur untuk setiap pertalian yang kumiliki di dalam hidup, yang berstatus maupun tanpa status.
Aku bersyukur untuk setiap milidetik nafas yang mengisi paruku dan setiap tetes darah yang mengalir di nadiku. Untuk setiap masalah, tekanan, dan tantangan. Untuk setiap kelelahan, sakit dan nyeri. Untuk setiap warna – warni yang kulihat dan isi alam.
Semuanya …. !!!
“I am Alive!”,
Denias bilang, “Itu suda ..!”
(Canberra; dalam perjalanan meniti detik ke 160909)
Hari ini suasana hatiku sudah baikan. Seperti biasa, aku masih sangat melankolis apalagi minggu – minggu ini terasa berat bagiku. Aliran tugas yang mengalir tanpa henti dan tekanan yang diharapkan dari setiap mata kuliah ingin membuatku berteriak kencang, “Aku tak sanggup. Ingin berhenti!”. Tapi toh, masih kulakukan dan kujalani juga. Tak ada jalan pulang, karena berhenti adalah sebuah pengkhianatan idealisme.
Kemarin, kuakui adalah saat terberat bagiku,; saat harus bisa fokus. Aku memang punya masalah dengan memfokuskan diri pada sesuatu. Mungkin karena bawaanku dulu yang sempat mengalami kecenderungan ‘bipolar’. Dulu disebut ‘manic depression’, dan walau tahun ini aku bisa mengucap syukur untuk mood swingku yang lumayan ‘normal’, tapi toh kadang efek samping dari kecenderungan ini masih ada; masih sangat melankolis tingkat tinggi dan itu bisa terbawa beberapa hari, ya 2 – 3 hari lah. Setidaknya lumayan karena aku sudah tak lagi merasa kosong seperti dulu yang bisa lebih dari 1 minggu dan isinya pikiran yang hampa dan kesia – siaan hidup dan bawaannya hanya memikirkan kematian. When I felt that all fingers pointed at me!
Kemarin malam, kuakui aku benar – benar down. Bukan karena ada kejadian buruk ataupun sedih lainnya, tapi semata karena aku meletakkan sebuah tingkat keberhasilan yang tinggi untuk hari itu dan aku tak bisa menyelesaikan. Aku terlalu perfeksionis kemarin, meletakan harapan terlalu tinggi untuk progress esaiku. Kuakui aku bekerja untuk esai itu dari pukul 10 pagi namun tak bisa banyak menulis karena pikiranku pun bercabang ke mana – mana, apalagi aku masih bimbang harus ke Floriade atau tidak. Jadi karena progressnya tak bagus juga, sore hari usai mandi sore, aku pun nekat dengan bawaan buku dan notebook plus tas punggung menunggu bis jam 4.11 p.m. ke kampus. Tapi toh, dari sekitar jam 5 kurang hingga jam 9.30 p.m., aku tak bisa fokus banyak dan progressku benar – benar ‘merayap’. Soak!!!
Sambil sibuk membaca tumpukan buku teks, aku benar – benar ingin berteriak dalam ruangan perpustakaan Chifley lantai 4 karena merasa menjadi orang paling ‘bodok’ sedunia karena tak bisa memahami bacaan buku grammar bahasa Inggris itu, padahal yang kubahas hanyalah masalah personal pronoun alias kata ganti orang dalam bahasa Inggris yang akan kukaitkan dengan tata bahasa Indonesia. Bolak – balik di halaman buku, eee tak ketemu – ketemu juga yang kuinginkan. E pas dapat tuh halaman, ya ampun, bahasanya kok ditulis dengan konsep yang bikin tambah pening. Mulai dari deixis, anaphoria, sampai masalah case, gender, nominal dan lain – lain. Pusing!!!
Saking stressnya kemarin, aku sampai teringat pada kisah 2 ekor tikus yang terjatuh dalam sebuah wadah besar berisikan susu segar di sebuah lumbung. Katakan saja wadah itu sebuah ‘drum’, di Papua sih pasti kusebut ‘drem’. Nah saking ‘terinspirasi’ sama kisah si Tikus, aku sampai merasa bahwa aku ini dalam posisi si ‘Tikus’, dan status akun Facebookku tuh berisikan: “Adoooooo sa tra mo jadi 'tikus' yang mati tenggelam sia - sia di tengah2 drem susu ya. Minum kasi abis, tra mungkin ya. Berenang putar - putar, mudahan akan jadi keju. Tapi kapan eee. Ae, Farek akan mo jadi keju ka ka mo jadi yoghurt ka, Berenang trus dulu, nan kalo hosa baru nan sa pikir lagi nanti suda. Tugas eee, mama eta!”
Aku merasa saat ini, aku sedang berganti peran menjadi tikus itu. Alkisah saat 2 tikus itu terjatuh dalam sebuah wadah yang dalam, katakan saja sebuah drum atau ember. Si tikus X setelah melihat – lihat keadaan sekitar, bilang pada dirinya sendiri, “Aeeeee, nih ember dalam ya, mo lompat sa pu kaki pendek, mo minum susu semua, tra mungkin ya. Aih sa mati saja suda.” Dan akhirnya ia berhenti bergerak alias berenang dan tewas. Nah kemudian temannya, si tikus Y, juga terjatuh pada saat yang sama, setelah melihat dan mengamati keadaan sekitar, ia bilang begini, “Mmmmh dinding tempat ini lumayan tebal, tempat ini juga bokar. Adoh kalo minum akan, pasti sa poro bangka langsung dan tra mungkin bisa kasi kering tempat ini, kalo kering juga, sa mo bikin apa. Tempat nih akan tinggi, mo lompat tra mungkin ya. Aeh suda, ini kan susu tooo. Daripada sa cuma diam – diam saja dan tra bikin apa – apa, nan sa tenggelam lagi dan dingin. Suda, biar suda sa berenang saja, mangkali nan ada famili – famili tikus dong yang lewat ka. Mangkali nan ada yang bantu sa.” Dan akhirnya de tetap berenang, dan di akhir cerita, ia terus bergerak hingga kecapaian namun tetap bergerak karena ternyata lama – lama, ember berisi susu itu pun berubah menjadi keju. Konon, saat lapisan keju mulai mengeras, si tikus Y akhirnya bisa kabur sebelum ‘digorok lehernya’ oleh pemilik ember susu itu.
Kemarin malam, aku bukan si tikus X pun tikus Y. Aku malah merasa aku berada dalam posisi ‘tikus XY’ yang toh tak mau mati sia – sia, tapi juga semangat berjuang pun dalam keadaan sekarat. Sampai – sampai aku berada dalam keadaan, “Adoooh nih ember susu de mo isi keju ka yoghurt, sa tra epen lagi. Yang penting sa bergerak dulu, nan kalo sa hosa (capek) baru nan sa pikir lagi”. Aku labil dalam posisi sebagai tikus XY ini, dan ternyata keadaan ini pun terbawa hingga pulang ke rumah.
Usai pulang, moodku masih begitu ‘mendung’, “Macam ada awan hitam bokar yang tagantung di atas sana eeeee”, batinku. Jadi usai ber-SMS dengan kak Y di Toad Hall minta didoakan karena kurasakan bahwa aku benar – benar tak sanggup menjalani hari ini. Aku ingat pesan kak Y di SMS dan kotak surat FBku untuk jangan membiarkan perasaan melankolis-sungguh-mati merasuki terlalu lama. Namun malam itu, benar – benar down. Apalagi kucoba menghubungi ‘lelaki hujan’, e tapi malah dicuekin karena lagi nonton TV. Tapi aku tak punya pilihan karena aku bukan siapa – siapa. Tak ada hak untuk menuntut apapun.
Kemarin malam pun saat perasaan begitu labil dan sendu, niatan awal ingin tidur lebih awal malah berakhir dengan menyalakan notebook dan sibuk menonton dan menyanyi lagu – lagu melankolis. Mulai dari lagu patah hati yang bisa menggiring orang masuk kuburan hingga lagu cinta mencoba-menghibur-diri-sendiri. Serasa malam kemarin jadi orang yang termalang sedunia apa sealam semesta, dan aku membiarkan diriku terbawa perasaan itu selama sejam lebih. Bahkan status FBku menyiratkan kegundahanku.
Sambil berbombay ria dengan mata ‘bangka – bangka’ dan menghabiskan beberapa lembar sapu tangan. Kuputuskan berdoa melepaskan emosi yang tertahan, campuran antara berbagai rasa yang pasti bisa dibuat jadi sejenis ‘gado – gado emosi’. Usai itu, setelah agak sedikit tenang, aku memutuskan nonton video – video lucu di YouTube khususnya para bayi dan hewan lucu. Terbahak – bahak. Dan aku pun tidur nyenyak!
Pagi tadi, dengan mata sembab sisa menangis semalam, seperti kebiasaanku tiap pagi melihat di dalam cermin di kamar. Ada satu pikiran di benakku, “Day, wake up. Ko masih hidup tuh, jangan menyerah!”. Kubuka jendela, e langit sedang cerah dengan warna biru yang cantik. Aku merasakan kehidupan mengalir lagi hari ini.
Pagi tadi, kuputuskan untuk mengganti gaya fashionku dengan gaya musim panas, memakai koleksi aksesoris kerangku. Aku pun naik bis ke kampus pagi tadi. Sepanjang jalan, dalam hatiku diingatkan untuk mensyukuri hari yang kupunya, apalagi pagi ini aku diingatkan untuk melihat ke luar jendela dan melihat bebungaan yang mekar di musim semi. Ada satu perkataan di hatiku saat di bis, “Jih Day, ko kenapa harus bersedih terus ka? Ko lihat di luar sana tuh, bunga – bunga ada cantik dan warna – warni tuh macam trada beban, padahal nan sedikit lagi dong juga su mati moo. Tapi ko lihat dong ada cantik – cantik sana tuh. Kenapa ko yang umur panjang dari pada dong baru tra bahagia macam dong yang cantik – cantik tuh. Neh semangat ya!”. Aku pun berpikir.
Saat turun di interchange, aku tak langsung berjalan kaki ke kampus yang biasanya menempuh waktu sekitar 12 – 15 menit, tapi malah sibuk belok ke sebuah gerai kosmetik di kota. Sibuk mencari eyeliner guna memanipulasi mata bengkak, padahal aku punya 3 warna eyeliner di rumah, tak lupa pula memberi kompensasi untuk kejadian tadi malam dengan membeli ikat rambut dan jepitan warna – warni dan tak lupa menikmati perjalanan pagi melihat tiruan tulip warna – warni. Perasaanku pun menghangat dan tak lagi beku seiiring dengan panas mentari yang hangat.
Saat berjalan dari Garema menuju kampus, seorang lelaki kulit putih tiba – tiba berteriak tak keruan, ia mengabsen penghuni kebun binatang dan juga anggota – anggota tubuh. ‘Kicauan’nya rupanya cukup memekakkan telinga dan mengganggu ketenangan publik apalagi ia berjalan dengan langkah gontai. Hingga di Nortbourne Avenue, aku berusaha menjaga jarak dengan si orang mabuk ini. Tingkat emosionalku seakan kembali menggelegak dan menyelipkan satu pikiran yang tak baik, “Berani pace mabuk ini de bikin gerakan tambahan ke sa atau pukul sa, sa lipat de nanti”. Tapi kemudian aku tiba – tiba tersadar bahwa itu bukan urusan dan tugasku sebagai hakim untuk menghakimi lelaki ini karena mungkin saja ia punya masalah yang lebih berat dariku dan ia tak tahu bagaimana caranya mencari jalan keluar. Dan mungkin ia juga tak punya siapa – siapa untuk berbagi kisahnya.
Sambil menunggu lampu merah yang enggan berganti hijau, dan tentu saja menjaga jarak sekitar 2 meter dari lelaki mabuk yang terus menerus memaki dan mengancam orang. Datanglah 2 lelaki petugas perusahaan bis pemerintah ACT ‘Action’. Mereka menanyakan apa yang mereka bisa lakukan untuk lelaki mabuk ini, tapi dibalas dengan teriakan yang bisa bikin iritasi di pagi hari, “No F*** worries, mate!” dan ia pun terus memaki tentang derita hidupnya dan ketidakadilan. Dan aku hanya bisa merasa kasihan pada lelaki ini dan berharap ia menemukan kedamaian dalam hidup.
Bertemu lelaki ini, sambil berjalan ke kampus, aku masih sempat memesan kopi di sebuah café di bawah Street Theater. Sambil menyesap kopi dan berjalan ke area Copland, tempat kuliah. Duduk di bawah pohon Eucalyptus sambil menyesap kopi dan membuat sketsa, tiba – tiba diriku tersadar bahwa setiap orang punya masalah, baik besar maupun kecil. Yang jadi pertanyaan, apakah kita mengenali diri kita dan masalah kita? Apakah kita tahu apa masalah kita dan kalau kita sudah mengenalinya, apa yang hendak kita buat? Membiarkannya atau menyelesaikannya atau berada di antara ‘ada dan tiada’? Hingga pada titik ini, aku bisa mengategorikan diriku berada pada titik ‘ada dan tiada’ untuk semua masalahku karena ada yang bisa kuselesaikan saat ini, tetapi ada yang harus kutunda hingga kelak berada pada waktu dan tempat yang tepat. Terlalu riskan.
Satu yang pasti, aku percaya bahwa aku tak berhak merusak hidup orang lain khususnya pagi yang hangat dengan menumpahkan amarahku atas keadaanku yang terjadi atas pilihan yang kubuat sendiri. Sangat tak adil! Pagi ini, aku diingatkan bahwa aku tak boleh ‘membuang sampah emosiku’ ke orang lain dan mencuri kebahagiaan mereka.
Aku percaya Bapa di surga saat menciptakan manusia telah memikirkan jutaan langkah ke depan dibanding pemikiran manusia yang macam ‘tai kuku’. Aku percaya Allah merancang tubuh manusia dengan berbagai fungsi. Aku percaya bahwa Allah menciptakan emosi manusia sebagai akibat dari Free willing yang ia berikan; kehendak bebas untuk memilih, dalam hal ini reaksi. Aku percaya, tangisan dan tawa adalah langkah terbaik bagi memperbaiki sistem emosi diri. Yang tentu saja dibarengi dengan bercerita dan berbagi dengan cara yang tak seperti ‘buang sampah’ ke orang lain dan malah membuat orang lain tak sejahtera. Dalam hal ini aku tak mau jadi hakim untuk lelaki mabuk yang kutemui tadi pagi tapi jujur aku kasihan padanya karena ia benar – benar tak dalam posisi ‘No f*** worries’. Dan aku sedih karena ia tak mau menerima pertolongan dari kedua petugas Action tadi pagi dan memilih berteriak – teriak memaki dan menyeberang tanpa menunggu lampu hijau.
Setiap orang punya pilihan dalam menggunakan bentuk – bentuk emosi yang dimilikinya, karena toh emosi adalah salah satu kekayaan jiwa yang kadang tak disadari oleh manusia. Bahkan Allah memilih tak mengutak – atik satu sisi ini dan tak menciptakan manusia seperti robot yang diprogram untuk mencintai Dia, karena ia ingin manusia untuk lebih bijak mengenali diri mereka sendiri dan datang pada-Nya dengan kesadaran kita sendiri bahwa ‘Kita butuh Tuhan’.
Akhirnya, aku menyadari bahwa semua masalah ada jalan keluar. Hari ini sekali lagi di kelas jam 11, ada kejutan dari Ibu Jo tentang batas waktu tugas lapangannya karena sedianya batas waktu pengumpulan tanggal 24 diundurkan ke tanggal 28 September 2009 jam 5 sore. Sebuah kejutan manis di pagi hari!
Aku bersyukur untuk hari ini. Aku bersyukur untuk semua yang kualami, untuk teman, kenalan, sahabat jauh dan dekat yang kadang cuma kuingat di dalam doa, yang kadang jarang bertukar kabar, yang kadang ulang tahun mereka kulupakan, kadang aku tak menyapa mereka saat chatting, yang kadang tak kupikirkan. Aku mengucap syukur untuk mereka! Aku mengucap syukur untuk keluargaku di Manokwari khususnya keponakan – keponakan yang sedang bertumbuh dan sedang suka memantau ikan mujair dan lele di kolam semen belakang rumah walau beberapa kali tercebur. Aku bersyukur untuk teman – teman penghuni rumah yang kadang mengganggu dinding wall FBku dengan komentar – komentar lucu. Aku bersyukur untuk setiap pertalian yang kumiliki di dalam hidup, yang berstatus maupun tanpa status.
Aku bersyukur untuk setiap milidetik nafas yang mengisi paruku dan setiap tetes darah yang mengalir di nadiku. Untuk setiap masalah, tekanan, dan tantangan. Untuk setiap kelelahan, sakit dan nyeri. Untuk setiap warna – warni yang kulihat dan isi alam.
Semuanya …. !!!
“I am Alive!”,
Denias bilang, “Itu suda ..!”
(Canberra; dalam perjalanan meniti detik ke 160909)
Monday, 14 September 2009
Tukang Mimpi: Kalau Dayanara bikin perusahaan
Saat mengetik esai sebuah mata kuliah siang ini, pukul 12. 38 siang waktu Canberra, tiba- tiba pikiranku melayang pada satu pertanyaan yang tiba – tiba muncul di benakku, “Day, kalo ko dikasi uang yang tak terbatas dan diminta membuat perusahaan di Papua, ko mo bikin perusahaan apa di sana?”. Pertanyaan ini kontan membuatku berhenti memikirkan esaiku dan sibuk menimbang – nimbang apa yang bisa dibuat kalau aku diberi hadiah uang sebanyak itu. Dan tentu saja pemikiranku ini hanyalah pikiranku semata tapi (mungkin) kalau suatu hari aku bisa mempunyai uang sebanyak itu, pasti akan kubuat.
Beberapa tahun lalu, saat masih menjadi mahasiswi di sebuah perguruan tinggi negeri di Manokwari, aku sering menyaksikan sehabis ujian atau di penghujung tahun, banyak tumpukan makalah mahasiswa, soal ujian, dan berkas ujian plus lembaran – lembaran kertas yang dibuang ataupun termakan api dengan percuma. Saat itu aku sudah paham betul bahwa kertas dibuat dari bubur kayu yang namanya ‘Pulp’ yang berasal dari ‘cincangan halus’ batang pohon dan kayu. Jadi intinya, kertas berasal dari kayu dan kayu berasal dari pohon dan pohon berasal dari hutan. Jadi, semakin banyak pemakaian kertas yang tak ramah lingkungan, maka akan banyak pohon yang ditebang.
Waktu masih di Manokwari, aku juga gemar berenang dan melihat – lihat ikan di terumbu karang. Tapi beberapa kali, aku harus menahan kesal melihat surga kecil dalam air itu terhalangi dengan sampah plastik yang menutup tutupan karang, kadang juga harus menarik nafas kesal melihat kaleng – kaleng, botol – botol, dan botol plastik yang beristirahat dengan tenang di dasar laut. Benar – benar merusak pemandangan. Tapi yang paling menjengkelkan adalah saat berenang di pantai Pasir Putih tiap akhir pekan dan kadang harus menahan kesal melihat seisi pantai ditutupi sampah, apalagi sehabis hujan. Betapa kesalnya hatiku!
Jadi tadi saat memikirkan pertanyaan yang seenaknya muncul di tengah waktu membuat esai, e refleks saja aku berpikir bahwa kalau aku diberi modal usaha tanpa batas, aku ingin mendirikan perusahaan daur ulang untuk daerah kepala Burung. Perusahaanku tentu saja mempunyai 2 program kerja yaitu di bidang recycle (daur ulang) dan juga bidang pemberdayaan yang lebih menekankan pada re-use (penggunaan ulang) dan meningkatkan kesadaran masyarakat plus juga memberdayakan sikap reduce (mengurangi sampah).
Mungkin aku pemimpi, tapi kan sah – sah saja kalau aku berpikir demikian, kan ini cuma impian, dan lagipula mungkin karena pengaruh namaku yang artinya ‘ilusi’ dll dan konon dalam mitologi India Kuno, namaku selalu dihubungkan dengan mimpi dan kadang aku dilabel sebagai ‘dewi mimpi’. ^_^ (Apa hubungannya coba dengan tulisan ini hehehe)
Kembali lagi ke rencana perusahaanku, di program kerjaku yang tahap 1, maksudnya yang berhubungan dengan recycle. Perusahaanku akan membuka beberapa pos di kota – kota di kepala burung. Katakan saja Manokwari sebagai pilot project perusahaan ini. Nah aku akan memasang pengumuman dan juga menjalin kerjasama dengan dinas kebersihan kota, semoga saja ada yang membantu menyetorkan sampah – sampah plastik, botol, dan kertas mereka. Nah kemudian semuanya didaur ulang dengan mesin yang canggih, menjadi bahan baku seperti bijih plastik, kaca dan tentu saja kertas daur ulang. Yang termudah sih sebenarnya sampah kertas. Karena prosesnya tak seribet sampah yang lain. Kalau semuanya bisa berjalan dengan baik, aku sudah harus bisa menjalin kerjasama dengan para industri penadah yang mau menggunakan bahan baku tersebut. Tentu saja dengan harga bersaing hihihi.
Nah kalau untuk program yang kedua, tentu saja membutuhkan banyak sekali tim kerja yang terpadu. Aku ingin punya program penyadaran lingkungan tentang sampah dengan membuat program in-house training bagi anak SD – SMA yang tertarik dengan kegiatan daur ulang. Jadi setiap akhir pekan, ada kegiatan di bengkel kerja daur ulang perusahaanku. Kegiatannya bukan tentang teori apa itu daur ulang, tapi aku ingin kegiatannya sih seperti nonton film lingkungan. Trus ada pelatihan bagaimana cara membuat tempat pensil lucu dari botol bekas minuman. Ya tempat pensilnya bisa beraneka ragam dan bisa dihias dengan kain perca, kertas kado, digambar dengan cat minyak, ataupun sekedar ditempel dengan bubur kertas yang dikeringkan dan kemudian dicat, bisa juga dipasang rangkaian manik – manik. Pokoknya terserah para peserta mau menghias botol plastik itu seperti apa. Pelajaran membuat pot bunga cantik untuk ibu mereka dari campuran semen dan pecahan beling botol ataupun pecahan piring.
Ada banyak ide tentang program pelatihan ini, tapi yang pasti aku juga mau menyempatkat mengajarkan mereka bagaimana membuat kompos dan mudah – mudahan ada punya satu kebun sayur organik di daerah perusahaan yang isinya cuma tanaman bumbu dan pohon pepaya hihihi. Jadi pelatihan ini mengajarkan membuat kompos dan hasilnya bisa diaplikasikan dalam lahan kebun sayur kecil ini. Jadi bisa jadi pelajaran mengenal alam bagi anak – anak.
Selain itu, aku ingin anak – anak dan remaja punya kegiatan mencintai dan menghargai kertas, jadi diajarkan bagaimana membuat kertas daur ulang sederhana, mulai dari merendamnya hingga hancur, diblender dan kemudian dimasak dengan tepung kanji, dan dicetak. Tentu saja mereka bebas menambahkan warna, bahan – bahan tambahan dalam bubur kertas itu, mulai dari bebijian ilalang, hingga bunga bayam yang kering. Tentu saja ini membutuhkan waktu beberapa minggu. Kalau semuanya sudah jadi, aku ingin mengajak beberapa pembuat kartu buatan tangan yang kukenal di Manokwari untuk mengajarkan cara – cara sederhana membuat kartu ucapan. Mulai dari memakai isi dalam karton hingga meminjam daun pisang kering yang ada di dekat rumah. Pasti seru melihat anak – anak dan remaja sibuk menuangkan kreativitas. Tentu saja perusahaanku akan menyediakan makanan kecil dan juga hadiah bagi kartu terbaik yang dipilih oleh para peserta pelatihan.
Dalam kegiatan pelatihan ini, aku juga akan meminta para peserta datang dengan membawa pecahan beling kaca dari pantai Pasir Putih, karena akan ada pelatihan membuat lukisan beling. Tentu saja tiap peserta akan dibagi perkelompok yang terdiri atas 3 – 4 orang yang dilengkapi dengan papan dan lem super kuat dan kuas plus beberapa peralatan yang mereka butuhkan. Aku percaya bahwa pecahan botol yang sering dibuang oleh orang – orang yang suka mabuk di pantai dapat digunakan menjadi sesuatu yang cantik, asalkan diolah dengan tepat.
Kayaknya aku terlalu bermimpi saat ini, tapi kalau aku diberi kesempatan untuk bisa melakukan hal – hal yang kusukai sejak kecil seperti ini, aku akan memberikan yang terbaik dariku bagi usaha ini. Aku juga akan membuat suatu lomba penelitian bagi siswa – siswa SMA di kotaku, idenya sih sederhana, mereka harus menulis sebuah laporan penelitian sederhana tentang berapa banyak kaleng ataupun botol plastik yang dikonsumsi teman – teman sekelas mereka dalam sebulan dan juga mengaitkannya dengan berapa biaya yang dikeluarkan teman sekelas mereka. Pokoknya sejenis penelitian kecil – kecilan yang intinya sih agar mereka tahu berapa banyak botol plastik yang berakhir di tempat sampah dalam 1 bulan.
Aku juga ingin perusahaanku punya kegiatan bulanan bagi siswa taman kanak – kanak dan acaranya namanya “Sunday in Color”. Jadi isinya menonton film kartun tentang lingkungan, mendengar dan bercerita tentang lingkungan dan juga mewarnai. Tentu saja akan ada permainan bagi kanak – kanak. Tapi yang pasti, mereka juga akan punya pelajaran bermain cat dimana perusahaanku akan menyediakan sebuah papan tripleks panjang yang diberi cat latar putih, dan para peserta kanak – kanak ini boleh bermain warna dengan menggambar apapun di papan itu. Yang pasti isinya tentang lingkungan. Mereka boleh menggambar bunga berbentuk kotak berwarna hitam hingga kupu – kupu bersayap satu, itu sah – sah saja. Dan tentu saja, papan itu kemudian akan dipasang dalam ruang pelatihan.
Perusahaanku juga harus bisa bikin kegiatan pemberdayaan bagi masyarakat, jadi aku akan merekrut para ibu rumah tangga yang tertarik bekerja bersamaku. Mereka akan diberi pelatihan bagaimana caranya mengolah bahan – bahan bekas untuk dijadikan bahan baku industri handicraft. Tentu saja mereka digaji dengan gaji yang standar karena kan mereka bekerja. Selain itu, aku ingin menjalin kerjasama dengan para pembuat kartu dan aksesoris handmade di kotaku yang mempunyai industri rumahan. Aku akan memberikan suntikan modal dengan bunga ringan dan perusahaanku bersedia menjadi semacam badan promosi karya – karya mereka. Asalkan mereka mau menggunakan bahan – bahan daur ulang dari perusahaanku. Aku ingin di Manokwari dan kota – kota di tanah Papua, suatu hari nanti, saat ada hajatan nikah, masyarakat tak perlu memesan hadiah bagi para tamu dari produk luar Papua. Aku berharap industri ini bisa menjadi trademark Manokwari. Jadi saat para tamu dari kota lain datang ke kotaku, mereka dapat mengunjungi outlet perusahaanku yang menyediakan souvenir dari bahan daur ulang dan alam yang tentu saja ramah lingkungan dan dengan harga bersaing.
Aku juga ingin mempunyai jaringan kerjasama dengan sekelompok mama – mama di pasar Sanggeng Manokwari dan pasar Wosi yang bersedia memberikan modal bantuan usaha mereka, ya sejenis suntikan modal bagi usaha tani mereka, tapi dengan syarat mereka harus mengumpulkan sisa – sisa sayur dan tumpukan sampah organik dalam wadah yang sudah kusediakan di areal pasar. Tentu saja sampah organik itu guna pembuatan kompos bagi program sampingan perusahaanku.
Aku juga ingin perusahaanku punya sebuah program ‘sa cinta daur ulang’ di sekolah. Jadi isinya tiap minggu, ada kunjungan ke setiap sekolah di Manokwari, yang isinya cuma 1 jam acara ‘bicara – bicara’ ka ini. Jadi anak – anak sekolah diminta menonton film tentang daur ulang, tentang akibat sampah yang dibuang ke terumbu karang, tentang hubungan hutan dan konsumsi kertas, dan juga tentu saja tentang apa yang perusahaanku lakukan.
Pada tahap ini, panggil saja aku pemimpi. Dan perkataan seorang pemimpi tidah harus selalu dipercaya.
Yang pasti, aku ingin perusahaanku mempunyai dua sistem energi, yaitu pertama mengandalkan listrik dari PLN dan yang kedua, instalasi panel surya guna mendapatkan solar cell. Aku tahu teknologi ini masih mahal, tapi kan tak ada salahnya bila diinstalasi di perusahaanku. Dan tentu saja aku juga wajib yakin bahwa semua air yang dipakai dalam proses produksi telah aman saat keluar dari instalasi pipa – pipa perusahaan ini. Selain itu, aku akan menginvestasikan sebuah alat untuk mengatur jalur air dari bak – bak dan kamar mandi ke tempat daur ulang air yang bisa dipakai mengairi kebun sayur dan bumbu percontohan di areal perusahaanku.
Anyway, membuat perusahaan pasti tak lepas dari karyawan. Aku berharap yang bisa masuk di perusahaanku bukan semuanya para sarjana perguruan tinggi tetapi juga orang- orang yang yang beruntung. Karena aku percaya bahwa setiap orang berpotensi menjadi orang yang lebih baik apabila diberi kepercayaan dan diberi pelatihan. Tentu saja akan ada pelatihan bagi para calon karyawan.
Sambil membayangkan perusahaan yang akan kudirikan kalau diberikan suntikan modal tanpa batas, tiba – tiba aku tersadar bahwa aku ada punya esai yang harus kutulis. Jadi khayalan tingkat tinggiku siang ini harus berakhir di sini hahaha. “Pasti nih pengaruh menulis esai yang banyak jadi bikin otak mengkhayal kapa nih,”, batinku lagi. Anyway, Panggil saja aku pemimpi, toh namaku memang mengandung makna itu.
I am dreamer and I am proud to be a dreamer.
(Canberra, 14 September 2009)
Beberapa tahun lalu, saat masih menjadi mahasiswi di sebuah perguruan tinggi negeri di Manokwari, aku sering menyaksikan sehabis ujian atau di penghujung tahun, banyak tumpukan makalah mahasiswa, soal ujian, dan berkas ujian plus lembaran – lembaran kertas yang dibuang ataupun termakan api dengan percuma. Saat itu aku sudah paham betul bahwa kertas dibuat dari bubur kayu yang namanya ‘Pulp’ yang berasal dari ‘cincangan halus’ batang pohon dan kayu. Jadi intinya, kertas berasal dari kayu dan kayu berasal dari pohon dan pohon berasal dari hutan. Jadi, semakin banyak pemakaian kertas yang tak ramah lingkungan, maka akan banyak pohon yang ditebang.
Waktu masih di Manokwari, aku juga gemar berenang dan melihat – lihat ikan di terumbu karang. Tapi beberapa kali, aku harus menahan kesal melihat surga kecil dalam air itu terhalangi dengan sampah plastik yang menutup tutupan karang, kadang juga harus menarik nafas kesal melihat kaleng – kaleng, botol – botol, dan botol plastik yang beristirahat dengan tenang di dasar laut. Benar – benar merusak pemandangan. Tapi yang paling menjengkelkan adalah saat berenang di pantai Pasir Putih tiap akhir pekan dan kadang harus menahan kesal melihat seisi pantai ditutupi sampah, apalagi sehabis hujan. Betapa kesalnya hatiku!
Jadi tadi saat memikirkan pertanyaan yang seenaknya muncul di tengah waktu membuat esai, e refleks saja aku berpikir bahwa kalau aku diberi modal usaha tanpa batas, aku ingin mendirikan perusahaan daur ulang untuk daerah kepala Burung. Perusahaanku tentu saja mempunyai 2 program kerja yaitu di bidang recycle (daur ulang) dan juga bidang pemberdayaan yang lebih menekankan pada re-use (penggunaan ulang) dan meningkatkan kesadaran masyarakat plus juga memberdayakan sikap reduce (mengurangi sampah).
Mungkin aku pemimpi, tapi kan sah – sah saja kalau aku berpikir demikian, kan ini cuma impian, dan lagipula mungkin karena pengaruh namaku yang artinya ‘ilusi’ dll dan konon dalam mitologi India Kuno, namaku selalu dihubungkan dengan mimpi dan kadang aku dilabel sebagai ‘dewi mimpi’. ^_^ (Apa hubungannya coba dengan tulisan ini hehehe)
Kembali lagi ke rencana perusahaanku, di program kerjaku yang tahap 1, maksudnya yang berhubungan dengan recycle. Perusahaanku akan membuka beberapa pos di kota – kota di kepala burung. Katakan saja Manokwari sebagai pilot project perusahaan ini. Nah aku akan memasang pengumuman dan juga menjalin kerjasama dengan dinas kebersihan kota, semoga saja ada yang membantu menyetorkan sampah – sampah plastik, botol, dan kertas mereka. Nah kemudian semuanya didaur ulang dengan mesin yang canggih, menjadi bahan baku seperti bijih plastik, kaca dan tentu saja kertas daur ulang. Yang termudah sih sebenarnya sampah kertas. Karena prosesnya tak seribet sampah yang lain. Kalau semuanya bisa berjalan dengan baik, aku sudah harus bisa menjalin kerjasama dengan para industri penadah yang mau menggunakan bahan baku tersebut. Tentu saja dengan harga bersaing hihihi.
Nah kalau untuk program yang kedua, tentu saja membutuhkan banyak sekali tim kerja yang terpadu. Aku ingin punya program penyadaran lingkungan tentang sampah dengan membuat program in-house training bagi anak SD – SMA yang tertarik dengan kegiatan daur ulang. Jadi setiap akhir pekan, ada kegiatan di bengkel kerja daur ulang perusahaanku. Kegiatannya bukan tentang teori apa itu daur ulang, tapi aku ingin kegiatannya sih seperti nonton film lingkungan. Trus ada pelatihan bagaimana cara membuat tempat pensil lucu dari botol bekas minuman. Ya tempat pensilnya bisa beraneka ragam dan bisa dihias dengan kain perca, kertas kado, digambar dengan cat minyak, ataupun sekedar ditempel dengan bubur kertas yang dikeringkan dan kemudian dicat, bisa juga dipasang rangkaian manik – manik. Pokoknya terserah para peserta mau menghias botol plastik itu seperti apa. Pelajaran membuat pot bunga cantik untuk ibu mereka dari campuran semen dan pecahan beling botol ataupun pecahan piring.
Ada banyak ide tentang program pelatihan ini, tapi yang pasti aku juga mau menyempatkat mengajarkan mereka bagaimana membuat kompos dan mudah – mudahan ada punya satu kebun sayur organik di daerah perusahaan yang isinya cuma tanaman bumbu dan pohon pepaya hihihi. Jadi pelatihan ini mengajarkan membuat kompos dan hasilnya bisa diaplikasikan dalam lahan kebun sayur kecil ini. Jadi bisa jadi pelajaran mengenal alam bagi anak – anak.
Selain itu, aku ingin anak – anak dan remaja punya kegiatan mencintai dan menghargai kertas, jadi diajarkan bagaimana membuat kertas daur ulang sederhana, mulai dari merendamnya hingga hancur, diblender dan kemudian dimasak dengan tepung kanji, dan dicetak. Tentu saja mereka bebas menambahkan warna, bahan – bahan tambahan dalam bubur kertas itu, mulai dari bebijian ilalang, hingga bunga bayam yang kering. Tentu saja ini membutuhkan waktu beberapa minggu. Kalau semuanya sudah jadi, aku ingin mengajak beberapa pembuat kartu buatan tangan yang kukenal di Manokwari untuk mengajarkan cara – cara sederhana membuat kartu ucapan. Mulai dari memakai isi dalam karton hingga meminjam daun pisang kering yang ada di dekat rumah. Pasti seru melihat anak – anak dan remaja sibuk menuangkan kreativitas. Tentu saja perusahaanku akan menyediakan makanan kecil dan juga hadiah bagi kartu terbaik yang dipilih oleh para peserta pelatihan.
Dalam kegiatan pelatihan ini, aku juga akan meminta para peserta datang dengan membawa pecahan beling kaca dari pantai Pasir Putih, karena akan ada pelatihan membuat lukisan beling. Tentu saja tiap peserta akan dibagi perkelompok yang terdiri atas 3 – 4 orang yang dilengkapi dengan papan dan lem super kuat dan kuas plus beberapa peralatan yang mereka butuhkan. Aku percaya bahwa pecahan botol yang sering dibuang oleh orang – orang yang suka mabuk di pantai dapat digunakan menjadi sesuatu yang cantik, asalkan diolah dengan tepat.
Kayaknya aku terlalu bermimpi saat ini, tapi kalau aku diberi kesempatan untuk bisa melakukan hal – hal yang kusukai sejak kecil seperti ini, aku akan memberikan yang terbaik dariku bagi usaha ini. Aku juga akan membuat suatu lomba penelitian bagi siswa – siswa SMA di kotaku, idenya sih sederhana, mereka harus menulis sebuah laporan penelitian sederhana tentang berapa banyak kaleng ataupun botol plastik yang dikonsumsi teman – teman sekelas mereka dalam sebulan dan juga mengaitkannya dengan berapa biaya yang dikeluarkan teman sekelas mereka. Pokoknya sejenis penelitian kecil – kecilan yang intinya sih agar mereka tahu berapa banyak botol plastik yang berakhir di tempat sampah dalam 1 bulan.
Aku juga ingin perusahaanku punya kegiatan bulanan bagi siswa taman kanak – kanak dan acaranya namanya “Sunday in Color”. Jadi isinya menonton film kartun tentang lingkungan, mendengar dan bercerita tentang lingkungan dan juga mewarnai. Tentu saja akan ada permainan bagi kanak – kanak. Tapi yang pasti, mereka juga akan punya pelajaran bermain cat dimana perusahaanku akan menyediakan sebuah papan tripleks panjang yang diberi cat latar putih, dan para peserta kanak – kanak ini boleh bermain warna dengan menggambar apapun di papan itu. Yang pasti isinya tentang lingkungan. Mereka boleh menggambar bunga berbentuk kotak berwarna hitam hingga kupu – kupu bersayap satu, itu sah – sah saja. Dan tentu saja, papan itu kemudian akan dipasang dalam ruang pelatihan.
Perusahaanku juga harus bisa bikin kegiatan pemberdayaan bagi masyarakat, jadi aku akan merekrut para ibu rumah tangga yang tertarik bekerja bersamaku. Mereka akan diberi pelatihan bagaimana caranya mengolah bahan – bahan bekas untuk dijadikan bahan baku industri handicraft. Tentu saja mereka digaji dengan gaji yang standar karena kan mereka bekerja. Selain itu, aku ingin menjalin kerjasama dengan para pembuat kartu dan aksesoris handmade di kotaku yang mempunyai industri rumahan. Aku akan memberikan suntikan modal dengan bunga ringan dan perusahaanku bersedia menjadi semacam badan promosi karya – karya mereka. Asalkan mereka mau menggunakan bahan – bahan daur ulang dari perusahaanku. Aku ingin di Manokwari dan kota – kota di tanah Papua, suatu hari nanti, saat ada hajatan nikah, masyarakat tak perlu memesan hadiah bagi para tamu dari produk luar Papua. Aku berharap industri ini bisa menjadi trademark Manokwari. Jadi saat para tamu dari kota lain datang ke kotaku, mereka dapat mengunjungi outlet perusahaanku yang menyediakan souvenir dari bahan daur ulang dan alam yang tentu saja ramah lingkungan dan dengan harga bersaing.
Aku juga ingin mempunyai jaringan kerjasama dengan sekelompok mama – mama di pasar Sanggeng Manokwari dan pasar Wosi yang bersedia memberikan modal bantuan usaha mereka, ya sejenis suntikan modal bagi usaha tani mereka, tapi dengan syarat mereka harus mengumpulkan sisa – sisa sayur dan tumpukan sampah organik dalam wadah yang sudah kusediakan di areal pasar. Tentu saja sampah organik itu guna pembuatan kompos bagi program sampingan perusahaanku.
Aku juga ingin perusahaanku punya sebuah program ‘sa cinta daur ulang’ di sekolah. Jadi isinya tiap minggu, ada kunjungan ke setiap sekolah di Manokwari, yang isinya cuma 1 jam acara ‘bicara – bicara’ ka ini. Jadi anak – anak sekolah diminta menonton film tentang daur ulang, tentang akibat sampah yang dibuang ke terumbu karang, tentang hubungan hutan dan konsumsi kertas, dan juga tentu saja tentang apa yang perusahaanku lakukan.
Pada tahap ini, panggil saja aku pemimpi. Dan perkataan seorang pemimpi tidah harus selalu dipercaya.
Yang pasti, aku ingin perusahaanku mempunyai dua sistem energi, yaitu pertama mengandalkan listrik dari PLN dan yang kedua, instalasi panel surya guna mendapatkan solar cell. Aku tahu teknologi ini masih mahal, tapi kan tak ada salahnya bila diinstalasi di perusahaanku. Dan tentu saja aku juga wajib yakin bahwa semua air yang dipakai dalam proses produksi telah aman saat keluar dari instalasi pipa – pipa perusahaan ini. Selain itu, aku akan menginvestasikan sebuah alat untuk mengatur jalur air dari bak – bak dan kamar mandi ke tempat daur ulang air yang bisa dipakai mengairi kebun sayur dan bumbu percontohan di areal perusahaanku.
Anyway, membuat perusahaan pasti tak lepas dari karyawan. Aku berharap yang bisa masuk di perusahaanku bukan semuanya para sarjana perguruan tinggi tetapi juga orang- orang yang yang beruntung. Karena aku percaya bahwa setiap orang berpotensi menjadi orang yang lebih baik apabila diberi kepercayaan dan diberi pelatihan. Tentu saja akan ada pelatihan bagi para calon karyawan.
Sambil membayangkan perusahaan yang akan kudirikan kalau diberikan suntikan modal tanpa batas, tiba – tiba aku tersadar bahwa aku ada punya esai yang harus kutulis. Jadi khayalan tingkat tinggiku siang ini harus berakhir di sini hahaha. “Pasti nih pengaruh menulis esai yang banyak jadi bikin otak mengkhayal kapa nih,”, batinku lagi. Anyway, Panggil saja aku pemimpi, toh namaku memang mengandung makna itu.
I am dreamer and I am proud to be a dreamer.
(Canberra, 14 September 2009)
Seorang pemimpi berbagi mimpi: Bagaimana dengan anda?
Malam ini usai membaca beberapa kiriman warta dan kalender 2010 dari CBM (Christian blind mission), sebuah LSM Kristen yang memfokuskan diri pada pemberdayaan orang cacat dan memerangi kemiskinan di Afrika dan Asia, air mataku menetes melihat gambar – gambar dan keterangan di kalender itu. Aku tersadar bahwa aku begitu beruntung dengan keadaanku saat ini. Begitu diberkati!
Gambar – gambar kalender itu berbicara banyak tentang peran suatu pemberian sekecil apapun itu dapat mengubah hidup banyak orang khususnya anak – anak. Sebuah potret seorang buta di dataran Cina yang harus bekerja di ladangnya mengangkat air dan menyirami kebun petatas dan beberapa tanaman lainnya membuatku menangis. Belum lagi tentang anak – anak dan perempuan cacat di beberapa negara Afrika dan Asia yang diberdayakan dalam keterbatasan mereka; dengan diberikan mesin jahit, menganyam, dan juga pendidikan membaca Braille. Aku menangis melihat seorang bocah perempuan yang menghabiskan hidupnya dan mengorbankan masa kanak – kanaknya dengan menuntun ibunya yang buta karena katarak, mengemis bahan makanan setiap hari dan hanya dengan sebuah operasi katarak bagi ibunya, masa depan mereka berubah. Apalagi ibunya diceraikan bapaknya karena kecacatannya. Hingga pada gambar terakhir dari kalender itu, aku tergugu dalam diam karena aku tahu dan sadar bahwa aku begitu diberkati dengan apa yang kumiliki saat ini. Yang kadang tak kusadari dan kadang masih dihinggapi rasa tak puas; (Ampuni aku, Tuhan!)
Aku masih punya dua buah kaki, yang kadang memang suka nyeri kala cuaca tak bersahabat atau karena aku terlalu beraktivitas yang melelahkan fisik, tapi masih bisa kupakai berjalan dan berdiri, dan kadang melompat tanpa alat bantu apapun. Aku masih punya mata yang masih berfungsi dengan baik, walau aku memakai kacamata berlensa silindris dan minus, tapi aku masih bisa melihat indahnya dan warna – warni dunia dan menikmati setiap bacaan, yang artinya aku punya kemampuan ganda yang harus kusyukuri; bisa melihat dan bisa membaca (artinya aku mengecap pendidikan). Telingaku maish berfungsi dengan baik, walaupun kadang tak bisa menyelam dan sedikit sakit saat ‘molo – molo’ di pantai, tapi aku masih bisa mendengar nyanyian dan suara burung – burung tiap pagi di Canberra, ataupun teriakan mamaku di Manokwari kalau aku tak menyahut kala dipanggil. Aku masih punya lidah yang mampu mengecap rasa, yang walau sedikit sensitif dengan rasa pedas dan cuek dengan rasa asam mangga dan rica garam, tapi aku tak punya masalah dalam mengecap kelezatan sebuah masakan. Dan yang pasti, sistem perasaku masih bisa membedakan panas dan dingin. Aku bersyukur untuk hidupku.
Sambil melihat kalender tadi, aku pun berpikir sejenak ke dalam hidupku, merefleksikan apa yang kulihat selama hampir 26 tahun hidupku, khususnya saat aku berada di tanah Papua di sebuah tempat bernama Manokwari. Aku mulai berpikir tentang apa yang bisa kulakukan untuk ‘mereka yang kadang tak beruntung’ khususnya anak – anak. Aku tahu pemikiran - pemikiranku ini mungkin hanya dianggap ide - ide yang biasa, tapi aku percaya segala sesuatu yang besar berasal dari sesuatu yang kecil, asalkan dikerjakan dengan setia akan berdampak besar dalam kehidupan orang lain. Aku jadi ingat sebuah perkataan salah seorang yang sangat kukagumi dalam hidupku, perkataan Mother Theresa of Calcutta tentang kemiskinan, beliau bilang bahwa kemiskinan terbesar dalam hidup adalah saat ‘being unwanted, unloved and uncared for’, saat berada dalam kondisi tak diinginkan, tak dicintai, dan tak dipedulikan. Aku berharap bahwa kehadiran kita, pada beberapa persen setiap aksi yang kita lakukan, dalam mengeliminasi kemiskinan – kemiskinan yang kita lihat pada hidup orang lain.
Aku pernah bermimpi dan aku percaya bahwa suatu hari aku bisa mewujudkan semua impian yang kupunya pada sebuah masa di hidupku. Impian – impian yang mungkin bagi banyak orang hanyalah impian, tapi bagiku, aku percaya bahwa kelak aku bisa melihat impian – impian itu terwujud. Entah kapan, entah esok atau nanti, tapi aku tak ingin mematikan harapan itu di hati karena aku percaya aku punya ‘seseorang’ yang selalu mendukungku dalam titik terendah dan tertinggi dalam hidupku dan aku tahu IA peduli. Bersama-Nya, aku tahu aku bisa melakukan apapun yang kuimpikan asalkan aku percaya pada-Nya dan pada diriku sendiri dan tentu saja membagi impian dengan orang – orang di luar sana.
Beberapa tahun lalu, saat masih menjadi mahasiswi di UNIPA Manokwari, Saat menjadi petugas lapangan survey biaya hidup masyarakat perkotaan selama setahun di Manokwari dalam program BPS (Badan Pusat Statistik), aku mengunjungi 10 rumah tangga yang berbeda tiap bulan dan setiap 6 bulan terjadi pergantian rumah tangga, dan total selama 1 tahun, aku menjadikan 20 rumah tangga itu bagian dari hidupku. Lewat pekerjaan ini dan juga beberapa survey lainnya yang pernah kuikuti beberapa tahun lalu, aku belajar banyak bahwa sebenarnya untuk memerangi kemiskinan di lingkungan kita bukanlah dimulai dari luar sana, tetapi dari diri kita sendiri, dari lingkungan kita sendiri.
Selama aku menjadi petugas survey, aku tak boleh hanya sekedar datang dan mengambil formulir konsumsi mereka tapi juga berinteraksi dengan para responden demi mendapatkan data yang akurat. Aku bersyukur dengan pengalaman menjadi petugas survey itu karena membuka mataku tentang banyak hal dalam kehidupan manusia. Aku terenyuh dengan seorang ibu yang punya seorang anak perempuan berusia 10 tahun, dan suaminya yang tak punya pekerjaan tetap dan hidup di sebuah lereng bukit di kompleks rumahku. Rumahnya hanya berbentuk susunan papan dan kayu buah beratap seng bekas dengan lebar 3 x 3 meter, dengan 1 buah tempat tidur kayu ala kadarnya dan tumpukan rak bekas kayu bekas pak barang – barang. Semua peralatan masak dan tungkunya berada di luar rumah, lengkap dengan ‘para – para’ (sejenis bale – bale) untuk tidur siang. Mereka punya seekor anjing yang suka menggonggongku kala aku meniti jembatan kayu kecil di mata jalan yang mendaki ke rumah mereka. Tapi aku merasa bahagia melihat rumah itu karena ada cinta yang kulihat di sana.
Ahli ekonomi mungkin bilang kalau mereka keluarga miskin, tapi aku melihat mereka bahagia dengan rumah yang dikelilingi dengan bebungaan sejenis bunga matahari dan ‘bunga kertas’ dan jenis bunga – bunga lainnya yang tumbuh dengan subur dan indah. Selain itu, ibu ini menanami halaman rumah dengan berbagai jenis sayur, mulai dari sayur gedi, hingga pohon – pohon pepaya, menanam ‘rica’ dan tomat, dan keladi plus petatas. Karena mereka tinggal di kaki bukit, maka mereka mengandalkan bahan bakar rumah tangga dari ranting pepohonan yang mereka punya. Dan aku melihat mereka bahagia dan bisa mencukupi hidup mereka. Mereka tak terlalu terpengaruh dengan perkembangan fashion yang berganti karena mereka hanya bisa membeli di pasar pakaian bekas. Namun dari pembicaraan selama 6 bulan dekat dengan keluarga ini, aku tak pernah melihat ibu ini mengeluh tentang keadaannya.
Selain itu, aku juga mempunyai seorang keluarga lainnya yang kukunjungi di kompleks rumahku. Seorang perempuan muda yang telah menikah hingga 3 kali dan selalu bermasalah dengan KDRT, ia tinggal bersama dengan suaminya dan 4 anaknya. Pendidikan tertingginya hanya SMA dan sekarang ia hanya bekerja sebagai buruh cuci tapi aku salut karena semua anaknya bersekolah walaupun kadang ia hidup dari belas kasihan para tetangga dan pihak gereja.
Yang kulihat ini hanyalah sampel – sampel kecil dari kehidupan yang kulihat di Manokwari, karena toh daerah tempat tinggalku bukan masuk dalam kategori daerah slum (daerah miskin) di kotaku, tapi aku tahu bahwa di kotaku yang katanya berada pada sebuah tanah yang kaya, perumahan slum itu ada dan aku pernah beberapa kali pergi kesana karena ada kerabat jauh dari ‘pangkat buyutku’ yang tinggal di sana.
Aku percaya jalan keluar dari kemiskinan cuma satu; Pendidikan. Aku tak ingin berbicara tentang program yang megah tentang pendidikan, karena kapasitasku bukan pada tahap itu, walau aku tetap punya harapan suatu saat bisa punya sekolah dan learning centre untuk anak – anak Papua. Aku cuma ingin bilang bahwa kita sebagai individu bisa melakukan sesuatu yang kecil namun berarti dalam kehidupan orang lain khususnya anak – anak kecil tak mampu di sekitar kita. Beberapa ini adalah langkah – langkah yang sering kupikirkan dan pernah kupraktekan dan lumayan membantu, walau tak begitu bombastis.
#1. Setiap bulan, sisihkan uang anda untuk membeli 1 batang pensil dan 1 batang bolpen plus 2 buah buku tulis ataupun kalau mampu 1 pak buku tulis kualitas standar. Kalau memang masih mampu, anda bisa membeli tambahan penghapus dan penggaris.
Asumsinya, kalo 1 bulan saja anda bisa membeli semuanya itu, setiap 6 bulan, anda bisa mempunyai 6 batang pensil, 6 batang bolpen, 12 buah buku dan 6 buah penghapus dan 6 buah penggaris. Terdengar sedikit bukan? Tapi akan sangat berarti bagi keluarga – keluarga kecil yang setiap hari memikirkan tentang makanan apa yang mereka bisa makan tiap hari.
#2. Setiap bulan, sisihkan uang sekitar Rp. 5000 – 10. 000,-, dalam waktu 6 bulan uang anda sudah menjadi sekitar minimal Rp. 30. 000 – 60. 000,-. Jumlah yang kecil tapi bila diberikan pada seorang anak kecil yang orang tuanya tak mampu membayar keperluan sekolahnya, menjadi sebuah bantuan yang tak terhingga.
Bentuk – bentuk seperti ini bisa digunakan dalam bentuk yang lain, bisa juga dalam bentuk menabung bagi sepatu mereka, seragam, atau juga uang jajan mereka dan makanan bernutrisi lainnya.
Anda mungkin sempat berpikir begini, “kalau memang saya tak mempunyai uang seperti itu, apa yang dapat saya lakukan?” Dan saya berpikir bahwa anda punya waktu yang dapat anda lakukan bagi mereka. Misalnya, dengan meluangkan waktu 1 jam dalam 1 minggu anda untuk membahas kesulitan belajar mereka, tak usah jauh – jauh, anda bisa mengajar mereka membaca ataupun memberikan 3 soal matematika yang dapat dimengerti mereka dalam level pendidikan mereka dan berikan sebuah hadiah setiap 2 minggu sekali. Tak perlu yang mahal, sebatang coklat ataupun sekaleng Coca cola sudah sangat berarti bagi mereka. Karena setiap anak kecil ingin dihargai dan merasa berarti dan peran anda akan sangat berdampak dalam hidup mereka.
Saya masih punya banyak ide dan program di kepala saya, mulai dari bikin perpustakaan mini di rumah saya untuk anak – anak kompleks tingkat SD, dan desainnya tentu saja warna - warni seperti milik sekolah dasar yang saya ajar di Canberra , bikin program charity/ amal untuk pakaian dan peralatan bagi bayi – bayi yang dilahirkan oleh para perempuan yang tak beruntung yang mungkin tak berada dalam ikatan pernikahan dan para ibu muda ini masih berusia muda ataupun juga suami mereka tak mempunyai pekerjaan tetap, bikin program ‘Kacang Ijo weekly’ dalam suatu sore bagi anana kompleks yang tak mampu sambil membahas kesulitan pelajaran mereka, mengajak teman – teman bikin kegiatan relawan ngajar membaca dan menghitung dan kalau dimampukan diselipkan dengan pengajaran bahasa Inggris dan menulis, bikin dan mengajar anak – anak kecil mendaur ulang tapi utamanya sih bagaimana membuat kertas daur ulang yang bisa dijual ke beberapa penjual kartu ucapan yang saya kenal dan hasilnya dibelikan buku cetak pelajaran yang bisa mereka akses bersama – sama di ‘perpustakaan mini’ itu, ataupun mengajar mereka membuat kompos serta memberikan mereka satu buah pot polybag berisikan bibit ‘Rica’ yang bisa mereka rawat di rumah mereka dan membantu mengurangi biaya membeli bumbu dapur ini, membuat program bercerita dan mendengar tentang apa yang anak – anak rasakan, karena saya percaya anak – anak kadang menyimpan ‘luka’ yang mereka sembunyikan lewat tawa dan canda padahal sangat membekas di hati mereka dan mereka membutuhkan sebuah tempat dimana mereka didengarkan.
Masih banyak ide di kepala saya, menunggu waktu untuk dituangkan. Saya percaya kita tak perlu berpikir bahwa kita butuh sebuah gebrakan besar untuk memulai sesuatu dan juga butuh dana yang besar dari pihak luar. Saya percaya dengan mensubsidi diri kita sendiri, kita bisa melakukan sesuatu bagi sekitar kita. Semua masalah kemiskinan dan sosial lainnya kadang timbul karena peran masyarakat sendiri yang tak mau peduli.
Saya tahu tulisan ini mungkin hanya dianggap sebuah mimpi. Tapi bagi saya, kadang kita terlalu berpikir sulit untuk sesuatu yang bisa mudah dilakukan. Kadang kita berpikir, ‘adoooh nih bagaimana caranya tentukan siapa tong pu sampel dll, siapa yang mo tong tolong ka?”. Coba amati di sekeliling hidup anda, anda tak perlu jadi seorang Oprah Winfrey yang menolong ratusan anak di Afrika. Anda cuma butuh 1 orang yang anda perlu tolong, dan kalau anda mampu, kembangkan pada orang – orang di sekitar anak itu. Anda akan terkagum – kagum dengan banyak kisah dan warna hidup yang anda akan temukan.
Saya percaya, dengan mengutip kata – kata seorang penginjil di Tanah Papua; I.S. Kijne, “Barang siapa yang bekerja dengan jujur di tanah ini (Papua), maka akan berjalan dari satu tanda heran ke tanda heran yang lain.”. Saya percaya, bila kita melakukan pekerjaan ini dengan setia dan tekun plus jujur, hidup anda akan diberkati dan anda tak akan berkekurangan dalam hidup, selalu akan dicukupkan.
Bagi saya pribadi, apa yang kita lakukan bagi orang lain saat ini, akan dibalaskan Tuhan lewat banyak hal indah dalam hidup. Dan saya percaya, sebuah langkah kecil yang anda ambil saat ini, akan mempengaruhi hidup anda dan hidup orang lain dalam 10 tahun mendatang. Satu yang pasti, “Jangan hanya menunggu. Lakukan sesuatu!”.
Saya percaya suatu hari saya akan mewujudkan semua impian saya. Kala saya percaya pada diri sendiri dan menempatkan Tuhan sebagai penuntun hidup, saya percaya saya bisa. Bagaimana dengan anda?
(Canberra/ 13 September 2009)
Gambar – gambar kalender itu berbicara banyak tentang peran suatu pemberian sekecil apapun itu dapat mengubah hidup banyak orang khususnya anak – anak. Sebuah potret seorang buta di dataran Cina yang harus bekerja di ladangnya mengangkat air dan menyirami kebun petatas dan beberapa tanaman lainnya membuatku menangis. Belum lagi tentang anak – anak dan perempuan cacat di beberapa negara Afrika dan Asia yang diberdayakan dalam keterbatasan mereka; dengan diberikan mesin jahit, menganyam, dan juga pendidikan membaca Braille. Aku menangis melihat seorang bocah perempuan yang menghabiskan hidupnya dan mengorbankan masa kanak – kanaknya dengan menuntun ibunya yang buta karena katarak, mengemis bahan makanan setiap hari dan hanya dengan sebuah operasi katarak bagi ibunya, masa depan mereka berubah. Apalagi ibunya diceraikan bapaknya karena kecacatannya. Hingga pada gambar terakhir dari kalender itu, aku tergugu dalam diam karena aku tahu dan sadar bahwa aku begitu diberkati dengan apa yang kumiliki saat ini. Yang kadang tak kusadari dan kadang masih dihinggapi rasa tak puas; (Ampuni aku, Tuhan!)
Aku masih punya dua buah kaki, yang kadang memang suka nyeri kala cuaca tak bersahabat atau karena aku terlalu beraktivitas yang melelahkan fisik, tapi masih bisa kupakai berjalan dan berdiri, dan kadang melompat tanpa alat bantu apapun. Aku masih punya mata yang masih berfungsi dengan baik, walau aku memakai kacamata berlensa silindris dan minus, tapi aku masih bisa melihat indahnya dan warna – warni dunia dan menikmati setiap bacaan, yang artinya aku punya kemampuan ganda yang harus kusyukuri; bisa melihat dan bisa membaca (artinya aku mengecap pendidikan). Telingaku maish berfungsi dengan baik, walaupun kadang tak bisa menyelam dan sedikit sakit saat ‘molo – molo’ di pantai, tapi aku masih bisa mendengar nyanyian dan suara burung – burung tiap pagi di Canberra, ataupun teriakan mamaku di Manokwari kalau aku tak menyahut kala dipanggil. Aku masih punya lidah yang mampu mengecap rasa, yang walau sedikit sensitif dengan rasa pedas dan cuek dengan rasa asam mangga dan rica garam, tapi aku tak punya masalah dalam mengecap kelezatan sebuah masakan. Dan yang pasti, sistem perasaku masih bisa membedakan panas dan dingin. Aku bersyukur untuk hidupku.
Sambil melihat kalender tadi, aku pun berpikir sejenak ke dalam hidupku, merefleksikan apa yang kulihat selama hampir 26 tahun hidupku, khususnya saat aku berada di tanah Papua di sebuah tempat bernama Manokwari. Aku mulai berpikir tentang apa yang bisa kulakukan untuk ‘mereka yang kadang tak beruntung’ khususnya anak – anak. Aku tahu pemikiran - pemikiranku ini mungkin hanya dianggap ide - ide yang biasa, tapi aku percaya segala sesuatu yang besar berasal dari sesuatu yang kecil, asalkan dikerjakan dengan setia akan berdampak besar dalam kehidupan orang lain. Aku jadi ingat sebuah perkataan salah seorang yang sangat kukagumi dalam hidupku, perkataan Mother Theresa of Calcutta tentang kemiskinan, beliau bilang bahwa kemiskinan terbesar dalam hidup adalah saat ‘being unwanted, unloved and uncared for’, saat berada dalam kondisi tak diinginkan, tak dicintai, dan tak dipedulikan. Aku berharap bahwa kehadiran kita, pada beberapa persen setiap aksi yang kita lakukan, dalam mengeliminasi kemiskinan – kemiskinan yang kita lihat pada hidup orang lain.
Aku pernah bermimpi dan aku percaya bahwa suatu hari aku bisa mewujudkan semua impian yang kupunya pada sebuah masa di hidupku. Impian – impian yang mungkin bagi banyak orang hanyalah impian, tapi bagiku, aku percaya bahwa kelak aku bisa melihat impian – impian itu terwujud. Entah kapan, entah esok atau nanti, tapi aku tak ingin mematikan harapan itu di hati karena aku percaya aku punya ‘seseorang’ yang selalu mendukungku dalam titik terendah dan tertinggi dalam hidupku dan aku tahu IA peduli. Bersama-Nya, aku tahu aku bisa melakukan apapun yang kuimpikan asalkan aku percaya pada-Nya dan pada diriku sendiri dan tentu saja membagi impian dengan orang – orang di luar sana.
Beberapa tahun lalu, saat masih menjadi mahasiswi di UNIPA Manokwari, Saat menjadi petugas lapangan survey biaya hidup masyarakat perkotaan selama setahun di Manokwari dalam program BPS (Badan Pusat Statistik), aku mengunjungi 10 rumah tangga yang berbeda tiap bulan dan setiap 6 bulan terjadi pergantian rumah tangga, dan total selama 1 tahun, aku menjadikan 20 rumah tangga itu bagian dari hidupku. Lewat pekerjaan ini dan juga beberapa survey lainnya yang pernah kuikuti beberapa tahun lalu, aku belajar banyak bahwa sebenarnya untuk memerangi kemiskinan di lingkungan kita bukanlah dimulai dari luar sana, tetapi dari diri kita sendiri, dari lingkungan kita sendiri.
Selama aku menjadi petugas survey, aku tak boleh hanya sekedar datang dan mengambil formulir konsumsi mereka tapi juga berinteraksi dengan para responden demi mendapatkan data yang akurat. Aku bersyukur dengan pengalaman menjadi petugas survey itu karena membuka mataku tentang banyak hal dalam kehidupan manusia. Aku terenyuh dengan seorang ibu yang punya seorang anak perempuan berusia 10 tahun, dan suaminya yang tak punya pekerjaan tetap dan hidup di sebuah lereng bukit di kompleks rumahku. Rumahnya hanya berbentuk susunan papan dan kayu buah beratap seng bekas dengan lebar 3 x 3 meter, dengan 1 buah tempat tidur kayu ala kadarnya dan tumpukan rak bekas kayu bekas pak barang – barang. Semua peralatan masak dan tungkunya berada di luar rumah, lengkap dengan ‘para – para’ (sejenis bale – bale) untuk tidur siang. Mereka punya seekor anjing yang suka menggonggongku kala aku meniti jembatan kayu kecil di mata jalan yang mendaki ke rumah mereka. Tapi aku merasa bahagia melihat rumah itu karena ada cinta yang kulihat di sana.
Ahli ekonomi mungkin bilang kalau mereka keluarga miskin, tapi aku melihat mereka bahagia dengan rumah yang dikelilingi dengan bebungaan sejenis bunga matahari dan ‘bunga kertas’ dan jenis bunga – bunga lainnya yang tumbuh dengan subur dan indah. Selain itu, ibu ini menanami halaman rumah dengan berbagai jenis sayur, mulai dari sayur gedi, hingga pohon – pohon pepaya, menanam ‘rica’ dan tomat, dan keladi plus petatas. Karena mereka tinggal di kaki bukit, maka mereka mengandalkan bahan bakar rumah tangga dari ranting pepohonan yang mereka punya. Dan aku melihat mereka bahagia dan bisa mencukupi hidup mereka. Mereka tak terlalu terpengaruh dengan perkembangan fashion yang berganti karena mereka hanya bisa membeli di pasar pakaian bekas. Namun dari pembicaraan selama 6 bulan dekat dengan keluarga ini, aku tak pernah melihat ibu ini mengeluh tentang keadaannya.
Selain itu, aku juga mempunyai seorang keluarga lainnya yang kukunjungi di kompleks rumahku. Seorang perempuan muda yang telah menikah hingga 3 kali dan selalu bermasalah dengan KDRT, ia tinggal bersama dengan suaminya dan 4 anaknya. Pendidikan tertingginya hanya SMA dan sekarang ia hanya bekerja sebagai buruh cuci tapi aku salut karena semua anaknya bersekolah walaupun kadang ia hidup dari belas kasihan para tetangga dan pihak gereja.
Yang kulihat ini hanyalah sampel – sampel kecil dari kehidupan yang kulihat di Manokwari, karena toh daerah tempat tinggalku bukan masuk dalam kategori daerah slum (daerah miskin) di kotaku, tapi aku tahu bahwa di kotaku yang katanya berada pada sebuah tanah yang kaya, perumahan slum itu ada dan aku pernah beberapa kali pergi kesana karena ada kerabat jauh dari ‘pangkat buyutku’ yang tinggal di sana.
Aku percaya jalan keluar dari kemiskinan cuma satu; Pendidikan. Aku tak ingin berbicara tentang program yang megah tentang pendidikan, karena kapasitasku bukan pada tahap itu, walau aku tetap punya harapan suatu saat bisa punya sekolah dan learning centre untuk anak – anak Papua. Aku cuma ingin bilang bahwa kita sebagai individu bisa melakukan sesuatu yang kecil namun berarti dalam kehidupan orang lain khususnya anak – anak kecil tak mampu di sekitar kita. Beberapa ini adalah langkah – langkah yang sering kupikirkan dan pernah kupraktekan dan lumayan membantu, walau tak begitu bombastis.
#1. Setiap bulan, sisihkan uang anda untuk membeli 1 batang pensil dan 1 batang bolpen plus 2 buah buku tulis ataupun kalau mampu 1 pak buku tulis kualitas standar. Kalau memang masih mampu, anda bisa membeli tambahan penghapus dan penggaris.
Asumsinya, kalo 1 bulan saja anda bisa membeli semuanya itu, setiap 6 bulan, anda bisa mempunyai 6 batang pensil, 6 batang bolpen, 12 buah buku dan 6 buah penghapus dan 6 buah penggaris. Terdengar sedikit bukan? Tapi akan sangat berarti bagi keluarga – keluarga kecil yang setiap hari memikirkan tentang makanan apa yang mereka bisa makan tiap hari.
#2. Setiap bulan, sisihkan uang sekitar Rp. 5000 – 10. 000,-, dalam waktu 6 bulan uang anda sudah menjadi sekitar minimal Rp. 30. 000 – 60. 000,-. Jumlah yang kecil tapi bila diberikan pada seorang anak kecil yang orang tuanya tak mampu membayar keperluan sekolahnya, menjadi sebuah bantuan yang tak terhingga.
Bentuk – bentuk seperti ini bisa digunakan dalam bentuk yang lain, bisa juga dalam bentuk menabung bagi sepatu mereka, seragam, atau juga uang jajan mereka dan makanan bernutrisi lainnya.
Anda mungkin sempat berpikir begini, “kalau memang saya tak mempunyai uang seperti itu, apa yang dapat saya lakukan?” Dan saya berpikir bahwa anda punya waktu yang dapat anda lakukan bagi mereka. Misalnya, dengan meluangkan waktu 1 jam dalam 1 minggu anda untuk membahas kesulitan belajar mereka, tak usah jauh – jauh, anda bisa mengajar mereka membaca ataupun memberikan 3 soal matematika yang dapat dimengerti mereka dalam level pendidikan mereka dan berikan sebuah hadiah setiap 2 minggu sekali. Tak perlu yang mahal, sebatang coklat ataupun sekaleng Coca cola sudah sangat berarti bagi mereka. Karena setiap anak kecil ingin dihargai dan merasa berarti dan peran anda akan sangat berdampak dalam hidup mereka.
Saya masih punya banyak ide dan program di kepala saya, mulai dari bikin perpustakaan mini di rumah saya untuk anak – anak kompleks tingkat SD, dan desainnya tentu saja warna - warni seperti milik sekolah dasar yang saya ajar di Canberra , bikin program charity/ amal untuk pakaian dan peralatan bagi bayi – bayi yang dilahirkan oleh para perempuan yang tak beruntung yang mungkin tak berada dalam ikatan pernikahan dan para ibu muda ini masih berusia muda ataupun juga suami mereka tak mempunyai pekerjaan tetap, bikin program ‘Kacang Ijo weekly’ dalam suatu sore bagi anana kompleks yang tak mampu sambil membahas kesulitan pelajaran mereka, mengajak teman – teman bikin kegiatan relawan ngajar membaca dan menghitung dan kalau dimampukan diselipkan dengan pengajaran bahasa Inggris dan menulis, bikin dan mengajar anak – anak kecil mendaur ulang tapi utamanya sih bagaimana membuat kertas daur ulang yang bisa dijual ke beberapa penjual kartu ucapan yang saya kenal dan hasilnya dibelikan buku cetak pelajaran yang bisa mereka akses bersama – sama di ‘perpustakaan mini’ itu, ataupun mengajar mereka membuat kompos serta memberikan mereka satu buah pot polybag berisikan bibit ‘Rica’ yang bisa mereka rawat di rumah mereka dan membantu mengurangi biaya membeli bumbu dapur ini, membuat program bercerita dan mendengar tentang apa yang anak – anak rasakan, karena saya percaya anak – anak kadang menyimpan ‘luka’ yang mereka sembunyikan lewat tawa dan canda padahal sangat membekas di hati mereka dan mereka membutuhkan sebuah tempat dimana mereka didengarkan.
Masih banyak ide di kepala saya, menunggu waktu untuk dituangkan. Saya percaya kita tak perlu berpikir bahwa kita butuh sebuah gebrakan besar untuk memulai sesuatu dan juga butuh dana yang besar dari pihak luar. Saya percaya dengan mensubsidi diri kita sendiri, kita bisa melakukan sesuatu bagi sekitar kita. Semua masalah kemiskinan dan sosial lainnya kadang timbul karena peran masyarakat sendiri yang tak mau peduli.
Saya tahu tulisan ini mungkin hanya dianggap sebuah mimpi. Tapi bagi saya, kadang kita terlalu berpikir sulit untuk sesuatu yang bisa mudah dilakukan. Kadang kita berpikir, ‘adoooh nih bagaimana caranya tentukan siapa tong pu sampel dll, siapa yang mo tong tolong ka?”. Coba amati di sekeliling hidup anda, anda tak perlu jadi seorang Oprah Winfrey yang menolong ratusan anak di Afrika. Anda cuma butuh 1 orang yang anda perlu tolong, dan kalau anda mampu, kembangkan pada orang – orang di sekitar anak itu. Anda akan terkagum – kagum dengan banyak kisah dan warna hidup yang anda akan temukan.
Saya percaya, dengan mengutip kata – kata seorang penginjil di Tanah Papua; I.S. Kijne, “Barang siapa yang bekerja dengan jujur di tanah ini (Papua), maka akan berjalan dari satu tanda heran ke tanda heran yang lain.”. Saya percaya, bila kita melakukan pekerjaan ini dengan setia dan tekun plus jujur, hidup anda akan diberkati dan anda tak akan berkekurangan dalam hidup, selalu akan dicukupkan.
Bagi saya pribadi, apa yang kita lakukan bagi orang lain saat ini, akan dibalaskan Tuhan lewat banyak hal indah dalam hidup. Dan saya percaya, sebuah langkah kecil yang anda ambil saat ini, akan mempengaruhi hidup anda dan hidup orang lain dalam 10 tahun mendatang. Satu yang pasti, “Jangan hanya menunggu. Lakukan sesuatu!”.
Saya percaya suatu hari saya akan mewujudkan semua impian saya. Kala saya percaya pada diri sendiri dan menempatkan Tuhan sebagai penuntun hidup, saya percaya saya bisa. Bagaimana dengan anda?
(Canberra/ 13 September 2009)
Labels:
education,
self - reflection,
Spring 2009
Sunday, 13 September 2009
I love my life
Malam ini tanggal 13 September 2009, pukul 8. 47 p.m., kala ditemani nyanyian gospel ‘7 Sons of Soul’ dengan kumpulan nyanyian mereka dari album ‘Witness’, pikiranku teringat pada situasi moodku beberapa hari ini yang terlalu melankolis, saat ingatan cuma beralih pada rumah di Manokwari, keluarga dan keponakan – keponakan kecil dan juga ‘lelaki hujan’. Tak lupa pula hingga teringat Manokwari yang kutinggalkan. Dan semuanya itu, terbawa hingga dalam mimpi. Membuatku kadang terbangun beberapa hari ini dan seakan kehilangan orientasi tempat. Beberapa kali dalam mimpi aku seakan bertemu dengan orang – orang yang akrab di Manokwari dan akal sehatku tiba – tiba mengingatkanku dalam mimpi bahwa ‘ini cuma mimpi.’ dan aku pun terbangun. Benar – benar kuberada dalam kurva homesick yang naik turun sebagaimana yang pernah kupelajari dalam kelas Cross-culture understanding saat pelatihan di IALF sebelum berangkat ke benua ini.
Beberapa hari ini entahlah suasana hatiku naik turun, aku sadar bahwa ini masih salah satu efek samping dari bipolar, yang belum sepenuhnya pergi dari hidupku. Mungkin karena terlalu kecapaian beberapa hari ini mengerjakan tugas hingga memengaruhi pergantian moodku yang memang kerap naik turun. Namun aku bersyukur pergantiannya dalam paruh kedua tahun ini sudah tak seekstrem pada awal tahun dan tahun sebelumnya yang kadang membuatku sampai kehilangan semangat hidup. Beberapa hari ini aku sadar bahwa ‘ia (bipolar)’ sedang mengintaiku di sudut sana, menungguku untuk terlena dan masuk dengan jutaan tekanan depresinya dan kali ini aku ingin bilang bahwa aku tak mau lagi berlama – lama bersama’nya’. Cukup sudah!
Akhir pekan ini kulalui seperti biasa, menikmati waktu sendiri dan rupanya aku melihat sejak Sabtu hingga hari ini, aku menghabiskan banyak waktu untuk tidur, mulai dari hari Jumat malam usai menelpon ‘lelaki hujan’ dan bercerita banyak dan kulanjutkan dengan ‘menggosip’ dengan bapakku di Manokwari dan tidur lebih awal dari jam biasa, aku bisa sukses tidur sekitar pukul 11 malam lewat dan baru bangun sekitar jam 1 siang keesokan harinya. Dan sabtu kemarin kuisi dengan menonton sejumlah klip video untuk persiapan ‘Praise dan Worship’ dan juga lagu – lagu lainnya dan kemudian membaca beberapa buku ringan dan mengintip referensi tugas dan tentu saja malamnya diisi dengan latihan nyanyi untuk persiapan ibadah. Aku bahkan sempat meikmati senja indah di Canberra saat melihat matahari terbenam dan merayap perlahan di ujung – ujung pepohonan. Begitu indah dan aku ingat rumah.
Hari ini pun aku lebih banyak tidur. Mulai dari tidur pukul 1 pagi usai pulang latihan dan baru bangun jam 11 kurang dan tentu saja aku kehilangan waktu ibadahku hari ini, jadi kuputuskan untuk bersaat teduh sendiri dan menikmati nyanyian pujian seharian penuh lewat sebuah radio Kristen di Canberra, ‘one way FM’, dan tentu saja sambil bersibuk diri mencuci pakaian, membersihkan kamar mandi, dan sibuk membersihkan kamar (menyedot debu – debul, melipat tumpukan pakaian – pakaian), masak, membaca tumpukan novel yang kutumpuk di kamar dan tentu saja usai makan siang, aku pun tidur dengan suksesnya dari siang hingga sore. Aku bersyukur dengan hidupku karena masih punya waktu untuk diri sendiri, bisa menikmati minum kopi (lagi) tapi hanya dari hari Senin – Kamis, dan sebenarnya aku ingin menikmati minum wine (anggur) akhir pekan ini tapi mengingat selama 4 hari aku telah mengonsumsi kopi dalam dosis lebih dari 2 gelas, aku ingin tubuhku beristirahat dengan normal.
Akhirnya hari ini malam ini, usai membereskan beberapa surat dari CBM dan melihat bagaimana progress bantuanku, aku benar – benar terharu dan menangis melihat bagaimana sebuah bantuan kecil dapat mengubah hidup banyak orang, dan aku bersyukur karena aku dikenalkan dengan organisasi ini. Apalagi dari kiriman kalender mereka membuatku betul – betul menangis Bombay melihat bagaimana orang – orang miskin di beberapa negara harus berjuang keras untuk tetap hidup dan aku terharu melihat bahwa Tuhan masih tetap memelihara mereka. Aku bersyukur untuk hidupku.
Akhirnya, aku cuma ingin bilang bahwa aku bersyukur untuk hidupku dan mengucap syukur kepada Bapa di Surga dan kepada anak-Nya dan Roh Kudus. Thanx Jesus 4 my life. Amen.
(Campbell, 14 September 2009)
Beberapa hari ini entahlah suasana hatiku naik turun, aku sadar bahwa ini masih salah satu efek samping dari bipolar, yang belum sepenuhnya pergi dari hidupku. Mungkin karena terlalu kecapaian beberapa hari ini mengerjakan tugas hingga memengaruhi pergantian moodku yang memang kerap naik turun. Namun aku bersyukur pergantiannya dalam paruh kedua tahun ini sudah tak seekstrem pada awal tahun dan tahun sebelumnya yang kadang membuatku sampai kehilangan semangat hidup. Beberapa hari ini aku sadar bahwa ‘ia (bipolar)’ sedang mengintaiku di sudut sana, menungguku untuk terlena dan masuk dengan jutaan tekanan depresinya dan kali ini aku ingin bilang bahwa aku tak mau lagi berlama – lama bersama’nya’. Cukup sudah!
Akhir pekan ini kulalui seperti biasa, menikmati waktu sendiri dan rupanya aku melihat sejak Sabtu hingga hari ini, aku menghabiskan banyak waktu untuk tidur, mulai dari hari Jumat malam usai menelpon ‘lelaki hujan’ dan bercerita banyak dan kulanjutkan dengan ‘menggosip’ dengan bapakku di Manokwari dan tidur lebih awal dari jam biasa, aku bisa sukses tidur sekitar pukul 11 malam lewat dan baru bangun sekitar jam 1 siang keesokan harinya. Dan sabtu kemarin kuisi dengan menonton sejumlah klip video untuk persiapan ‘Praise dan Worship’ dan juga lagu – lagu lainnya dan kemudian membaca beberapa buku ringan dan mengintip referensi tugas dan tentu saja malamnya diisi dengan latihan nyanyi untuk persiapan ibadah. Aku bahkan sempat meikmati senja indah di Canberra saat melihat matahari terbenam dan merayap perlahan di ujung – ujung pepohonan. Begitu indah dan aku ingat rumah.
Hari ini pun aku lebih banyak tidur. Mulai dari tidur pukul 1 pagi usai pulang latihan dan baru bangun jam 11 kurang dan tentu saja aku kehilangan waktu ibadahku hari ini, jadi kuputuskan untuk bersaat teduh sendiri dan menikmati nyanyian pujian seharian penuh lewat sebuah radio Kristen di Canberra, ‘one way FM’, dan tentu saja sambil bersibuk diri mencuci pakaian, membersihkan kamar mandi, dan sibuk membersihkan kamar (menyedot debu – debul, melipat tumpukan pakaian – pakaian), masak, membaca tumpukan novel yang kutumpuk di kamar dan tentu saja usai makan siang, aku pun tidur dengan suksesnya dari siang hingga sore. Aku bersyukur dengan hidupku karena masih punya waktu untuk diri sendiri, bisa menikmati minum kopi (lagi) tapi hanya dari hari Senin – Kamis, dan sebenarnya aku ingin menikmati minum wine (anggur) akhir pekan ini tapi mengingat selama 4 hari aku telah mengonsumsi kopi dalam dosis lebih dari 2 gelas, aku ingin tubuhku beristirahat dengan normal.
Akhirnya hari ini malam ini, usai membereskan beberapa surat dari CBM dan melihat bagaimana progress bantuanku, aku benar – benar terharu dan menangis melihat bagaimana sebuah bantuan kecil dapat mengubah hidup banyak orang, dan aku bersyukur karena aku dikenalkan dengan organisasi ini. Apalagi dari kiriman kalender mereka membuatku betul – betul menangis Bombay melihat bagaimana orang – orang miskin di beberapa negara harus berjuang keras untuk tetap hidup dan aku terharu melihat bahwa Tuhan masih tetap memelihara mereka. Aku bersyukur untuk hidupku.
Akhirnya, aku cuma ingin bilang bahwa aku bersyukur untuk hidupku dan mengucap syukur kepada Bapa di Surga dan kepada anak-Nya dan Roh Kudus. Thanx Jesus 4 my life. Amen.
(Campbell, 14 September 2009)
Wednesday, 9 September 2009
Daud, Goliat, dan 'percakapan' kopi!

Malam ini jam 11.20 p.m., usai mengirimkan sebuah video lagu gospel ke beberapa teman, kuputuskan menulis sebuah catatan tentang apa yang kualami selama 2 hari ini. Sebuah catatan tentang betapa Tuhan masih menyayangi dan memberiku kesempatan menuangkan apa yang ada di pikiranku. Sebuah catatan tentang ‘Dayanara juga Manusia’, that’s why Dayanara butuh Tuhan dalam hidup.
Catatan ini kubuat pada sebuah malam dimana moodku sudah kembali normal, saat aku bisa melihat dengan jernih ke depan tanpa terbeban dengan masalah akademis dan pribadi, sebuah titik yang sangat bertolak belakang dengan kejadian kemarin malam tanggal 7 September 2009. Sebuah malam penuh air mata dan rasa kecewa campur sedih. Tapi Thanx Jesus, hari ini aku sudah baikan.
Malam kemarin adalah salah satu titik kulminasi dari hari – hari kuliah yang berat di semester ini. Kemarin aku begitu merasa lelah dan berpikir apakah aku sedang menyiksa diri sendiri dengan belajar sekeras ini, memaksa diriku berpikir dan berpikir untuk apa aku belajar sekeras ini. Apalagi kemarin aku bertemu dengan dosen merangkap convernor jurusanku di Translation Studies, dan beliau mengembalikan feedback dari esai yang kukumpulkan minggu lalu guna persiapan presentasi hari Kamis besok dan ternyata catatannya cukup membuatku sedikit kecewa dan sedih karena ternyata mendapat banyak koreksian dan fatalnya, beliau bilang kalau salah satu teori yang kupakai bisa misleading mahasiswa yang lain dan aku salah menginterpretasikannya karena teori itu hanya bisa dipakai di karya sastra dan bukan di karya non-sastra. Saat itu, seakan langit terasa runtuh di kepalaku dan mata pun berkaca – kaca.
Aku merasa bahwa aku telah melakukan yang terbaik dari diriku, menyusun teori dan argumentasiku, membaca beberapa buku dan semester ini aku sudah tak memakai sistem SKS (sistem kebut semalam), memasukan esai itu ke ASLC (layanan akademis kampus) guna direvisi dan diperiksa, berdiskusi dengan teman – teman penutur Indonesia lainnya (kebetulan ada 3 anak berbahasa Indonesia di dalam kelasku termasuk aku), dan melakukan hal – hal lain yang terbaik guna tugas ini. Dan jujur, saat beliau mengatakan bahwa aku harus mengecek ulang beberapa referensi yang kupakai dan lain – lain, pertahanan diriku langsung lumer dan luruh. Kecewa. Mendung sore itu seakan menambah kesan muram di wajahku dan jujur, If I could, ingin bongkar menangis bokar – bokar di depan pace dosen eee.
Usai menerima coretan beliau di esai 1500 kataku, kuputuskan ke perpustakaan menyelesaikan beberapa tugas lain hingga jam 7.30 malam. Dan niatnya sih, menunggu bis di dekat perpustakaan Menzies, tapi rupanya salah langkah karena bis telah lewat lebih awal, alhasil dengan menenteng notebook dan tas punggung penuh buku, berjalan menuju civic menunggu bis pulang sambil menahan tiupan angin dingin. Yang ada, sekitar pukul 8 lewat baru tiba di rumah. Saking stressnya, aku malah tak mau mengintip lagi coretan pak dosen dan memilih menuangkan stress dengan memasak. Alhasil dari pukul 8 hingga 10 malam aku masih sibuk masak, mulai dari niatan bikin pisang goreng bulat e malah moodku tiba – tiba berubah dan memutuskan memanggang adonan pisang goreng itu, padahal segala macam bahan sudah kumasukan (telur, mentega, gula, pisang yang sudah dicacah halus, susu segar, tepung, sedikit garam hingga mixed spice bubuk untuk memberi aroma; kayu manis, pala dan cengkeh.) Usai itu berlanjut dengan menumis sawi campur udang dengan bumbu pedas.
Usai masak, dan memutuskan tak mandi karena suhu yang terasa dingin di kulitku, apalagi persendianku sangat rentan dengan cuaca yang dingin, kuputuskan masuk kamar dan mendengar musik sambil membaca sebuah buku tentang pandangan poligami; sebuah kumpulan pandangan beberapa orang yang dikemas dengan apik.
Rupanya membaca buku tak juga menenangkan hatiku, dan yang ada aku malah tak bisa fokus pada apa yang kukerjakan dan memilih untuk berdoa dan membaca Alkitab. Saat membuka Alkitab, sekali lagi aku membaca di kitab 1 Samuel 17: 12 – 58, tentang perkelahian Daud dan Goliat. Kisah ini sudah sering kudengar dan kubaca saat masih di sekolah minggu namun saat beranjak dewasa, jarang kusimak dan lebih memilih membaca di kitab lain. Saat kubaca kisah ini, aku tak terlalu berpikir banyak tentang pembacaan ini walau memang ada ayat yang membuatku cukup terpesona di ayat 45b, “Tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang ini”.
Baru saja usai membaca Alkitab dan say a little prayer, kuputuskan membaharui status di akun Facebook-ku, yang berbunyi: “Dear God, sanggupkan sa e untuk hadapi hidup esok hari. Macam sa rasa sa tra sggp skli, tp sa tw dgn Ko, sa pasti akan baik2 sj. Thanx 4 being my all in all!”
Tak sampai 5 menit statusku kubaharui, dan moodku masih berada di antara ‘ada’ dan ‘tiada’, sebuah SMS masuk dari bapa di Manokwari menginformasikan tentang sebuah berita sedih yang cukup membuat emosiku kembali jebol, kembali ingin berteriak sekuat – kuatnya mengeluarkan emosi yang terpendam. Kucoba menelpon beberapa teman minta didoakan atau setidaknya bisa menemaniku bicara namun ada yang tak bisa mengangkat karena tertidur (sory bro A karena mengganggu jam tidur), mau menelpon teman – teman di ANU, aku teringat bahwa mereka sedang mengejar deadline esai yang kalau tak salah due date hari ini. Karena kebingungan, kalut, dan dan tak tahu harus bagaimana, apalagi SMS konfirmasi dari bapak terasa sangat lama dibalas karena hingga 15 menit tak ada keterangan terperinci tentang berita yang kudengar, aku tak tahu harus bagaimana kemarin malam dan hanya bisa berdoa dan menangis dengan kencang dalam kamar. Kurasakan bahwa pertahananku sebagai manusia luruh, karena aku tak sekuat yang kupikir.
Saat menangis bombay hingga mata bangka – bangka, karena merasa sedih campur sedikit kecewa campur kalut dan bingung, plus beban tugas yang mengalir bagai aliran sungai di musim hujan eee tiba – tiba sebuah SMS masuk dari ‘lelaki hujan’, sebuah SMS yang tak kusangka akan dikirimkannya pada saat – saat down seperti ini dan SMSnya sedikit membuatku lega, “Sebuah doa untuk akhiri hari ini, sebuah senyum untuk menemani pejaman mata, sebuah mimpi untuk temani tidur dan sebuah harapan untuk hadapi hari esok. Met malam dan met bobo, sayang. GBU”. Sebuah SMS yang kadang di hari biasa hanya kuanggap angin lalu, tetapi malam itu benar – benar memberikanku sedikit ketenangan, dan akhirnya kuputuskan mengirimkannya SMS dan curhat, tapi hingga SMS ke tiga yang kuterima, aku telah terlelap karena kecapaian menangis bombay.
Pagi hari, saat terbangun dan say a little prayer, aku masih dalam tahap ‘ada’ dan ‘tiada’, bahkan hingga tiba di kampus, aku masih berada dalam mood yang tak begitu nyaman. Dalam perjalan ke kampus, kubertemu dengan pak YS dan ngobrol tentang perkuliahan dan berita ringan lainnya. Tiba di kampus sekitar jam 10.10 pagi, aku memutuskan duduk menikmati segelas besar mochacinno di Lavazza coffee shop dan menikmati pemandangan di seputaran Chifley dan Union Court. Tak lupa mengeluarkan peralatan gambarku karena entahlah sejak minggu kemarin dan setiap minum kopi, mood membuat sketsa tiba – tiba muncul, padahal seumur - umur, aku dulu tak seperti ini; membuat sketsa tempat seperti yang kubuat Kamis dan Jumat kemarin, karena pada dasarnya aku hanya bisa membuat sketsa fashion dan bukannya tempat.
Saat duduk dan minum kopi, tiba – tiba aku seakan diingatkan tentang pembacaan Alkitab tentang Daud dan Goliat kemarin malam. Aku seakan ditegur untuk tak usah sedih berkepanjangan. Seakan – akan di kepalaku diberi penjelasan bahwa pertempuran Daud dan Goliat adalah analogi dari masalah yang sedang kuhadapi sekarang. Aku adalah Daud, seorang yang dianggap lemah dan tak bisa apa – apa dan hanyalah manusia biasa, sedang Goliat adalah representasi dari masalah yang sedang kuhadapi sekarang; masalah kesehatan, berita sedih yang kudengar, aliran tugas dan ekspetasi dosen yang begitu tinggi, rasa rindu rumah dan lain – lain yang campur aduk. Dan aku diingatkan bahwa Daud hanya bisa menang saat Ia menaruh harapan dan imannya pada Tuhan, berserah pada Tuhannya, plus ia tak lupa berusaha.
Minum kopi pagi tadi benar – benar membuka pikiranku bahwa aku bisa melakukan sesuatu bila kutempatkan Tuhan menjadi panduan dan penolongku. ‘Percakapan’ dengan Tuhan di coffee shop itu benar – benar membuatku lega dan hasilnya adalah hari ini saat di kelas jam 11 siang, kelas jam 12 dan kelas tutorial jam 2, aku bisa fokus dan mengikuti pelajaran dengan baik, bahkan dosen mata kuliah Translation yang sempat membuatku down kemarin sore, usai tutorial memberiku beberapa masukan tambahan untuk presentasi dan esaiku plus memberikan rekomendasi tutor untukku dalam mata kuliah ini karena kemarin aku menanyakan siapa yang bisa kuminta tolong demi membantu kelemahan akademisku dan saat itu ia tak bisa memberikan bantuan. Aku juga menemui Liaison officer dari pemberi beasiswaku usai tutorial dan curhat bahwa aku butuh tutor dan ia menerima berkas permintaanku plus berjanji akan mengecek rekomendasi dan mengurus segala sesuatu.
Selain itu, Bahkan di kelas jam 4 sore yang biasanya kuisi dengan ngantuk dan mencorat – coret bukuku , aku bisa mencatat dengan rapi. Sebuah peningkatan yang sangat signifikan untuk kelas jam 4 ^_^ plus diberi petunjuk oleh dosen pengasuh mata kuliah tersebut tentang ekstensi waktu tugas karena aku membutuhkan ekstensi.
Akhirnya usai kelas terakhir, sekitar jam 5.30 sore, kuputuskan belajar lagi di perpustakaan dan membajak sebuah komputer di laboratorium, dan memeriksa surat – surat elektronik dan rupanya sebuah surat dari liaison officer yang kutemui jam 3.30 sore tadi memberikan sebuah kabar gembira tentang kesediaan tutorku yang kandidat doktor untuk menerimaku sebagai ‘anak asuhan’nya dan aku hanya perlu mengontak tutor dan mengatur jam pertemuan dengan beliau plus berita lainnya yang selama ini menjadi beban pikiranku tentang aturan – aturan beasiswa usai 1 tahun dan juga tentang reunion airfare.
Selain itu, sambil nongkrong di perpustakaan, saat masuk di toilet dan membaca sebuah pengumuman di sana, tiba – tiba aku diingatkan tentang tugas postingan di blog ‘language and society’ dan sepenggal kata ‘WC’ dalam anjuran menjaga kebersihan dalam berbagai bahasa itu pun sukses kutulis menjadi sebuah refleksi penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan sebuah tema mata kuliah tersebut a.k.a. register dengan judul, “when a toilet is not a ‘toilet’ “. Benar – benar merasa lega apalagi setelah menghitung bahwa postinganku telah mencapai angka minimal 5. Lega!!!
Hari ini, saat pulang dan duduk di platform 7 sambil menunggu bis pulang ke Campbell, aku merefleksikan hidupku hari ini dan menyadari bahwa Allah begitu baik dalam hidupku dan ia tak pernah meninggalkanku. Yang kubutuhkan adalah mengganti pola pikirku dengan pola pikir positif yang seturut dengan Firman Tuhan dan bersukacita senantiasa karena dengan bersukacita, pola pikirku akan berbeda dalam menyingkapi suatu masalah, karena kitab Amsal sendiri bilang kalau ‘hati yang gembira adalah obat, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang’.
Secara pribadi, usai yang kualami kemarin dan hari ini, aku tersadar bahwa aku beruntung diingatkan oleh dosenku tentang teori yang salah walau kemarin aku sempat kecewa dan sedih, namun hari ini aku melihat bahwa pak K begitu baik karena menegurku lewat catatan yang banyak dan komentarnya karena artinya ia peduli dengan progress belajarku dan tak ingin aku menyimpan teori yang salah dalam waktu lama yang mungkin berpotensi ‘kutularkan’ pada yang lainnya. Lord, bless this man!!!
Aku bersyukur untuk semua yang kumiliki saat ini, khususnya keluarga di Manokwari walau kadang kami tak sepaham. Untuk ‘lelaki hujan’, walau mungkin kami tak bisa bersama di masa mendatang, untuk teman – teman di mana saja, untuk aliran tugas yang menggila dan kegiatan yang menyita waktu, untuk kemampuan baru yang ‘dipinjamkan’ Tuhan kepadaku saat ini (bikin sketsa tempat dan bisa eksplorasi masak) karena aku tahu bahwa semuanya menandakan bahwa aku masih hidup.
Satu yang pasti, aku tak ingin bilang pada Tuhan dan orang – orang bahwa ‘aku punya masalah yang BESAR!!!’, tapi aku mau bilang, “E Masalah, sa pu Allah yang BESAR!!!”.
With you, Lord, I know I can walk through the rain!!!
(Tengah malam di Campbell, Canberra/ 9 September 2009)
Labels:
self - reflection,
Spring 2009,
X story
Friday, 4 September 2009
Kalo Tuhan bikin 'double-shot coffee' !!!

Catatan ini kubuka dengan satu kalimat: Allah itu sangat BAIK!!!
Terdorong kala duduk minum kopi di sela – sela jam kuliah di Union Court, ANU pada sebuah sore yang mendung dan pohon – pohon ‘botak’ menjadi latar belakang dan mengingat kebaikan Tuhan hari ini. (yang ternyata lebih dari apa yang kupikirkan sore ini, karena ternyata ada ‘double-shot’ yang Tuhan ijinkan ‘kucicipi’ hari ini).
Kamar berukuran 4 x 3 M berdinding bata dicat warna krem. Album One Heart (Sydney Christian Worship Centre). Komputer jinjing Acer Aspire 4520. Cewek keriting berbaju tidur gaya bathrobe ^_^. Pukul 11. 30 p.m di hari ke 3 pada bulan ke 9 di tahun 2009. Perut kenyang dengan masakan sendiri ……. dan hati penuh S-Y-U-K-U-R!!!
Dan jujur ini bukan suatu upaya ‘penginjilan’ kepada yang tak mengenal Kristus. Hanya ingin membagikan bagaimana hidupku ‘disentuh’ oleh sebuah Divine Intervention (meminjam istilahnya Ma’am YM).
Hari ini hidup dimulai seperti hari Kamis lainnya, bangun pagi pukul 5, dilanjutkan dengan berbenah diri dan menyiapkan camilan, dan buku pelajaran hari ini plus peralatan tempur seandainya angin dan hujan hari ini. Pukul 7 telah meninggalkan rumah dan selanjutnya hingga pukul 11 berada di tempat mengajar. Hari ini hanya berupa presentasi dari ibu DR dan aku kebagian mengucapkan beberapa kosa kata tentang keluarga dan juga memeriksa hasil tulisan anak – anak plus menjadi acuan mereka bila ada yang hendak ditanyakan. Aku menikmatinya!
Hari ini, sejak pagi saat menunggu bis, entahlah, aku merasakan tenang dan damai. Damai yang kurasakan seperti tadi malam usia berdoa. Kala melihat mentari malu – malu di langit dan sekawanan burung pagi ribut berkicau, entahlah, ingatanku tiba – tiba terculik ke masa damai di masa kecilku kala menginap di rumah kerabat di luar kota Manokwari yang berada di pinggir pantai dan berjalan pagi di tepi laut melihat bangau – bangau putih bermain air dengan muara dan suara ombak memecah. Damai!
Perasaan ini kembali lagi meliputiku kala naik bis menuju tempat mengajar. Sepanjang jalan kurasakan diriku bersyukur dan menikmati pemandangan alam yang disajikan Tuhan. Magnificent!
Saat selesai mengajar dan menunggu bis selama lebih kurang 20 menit, lagi – lagi, perasaan itu muncul meliputiku, membuatku merasa nyaman duduk sendiri dan menatap langit mendung musim semi. Damai! Aku sedang jatuh cinta sama Tuhan.
Kuakui hari ini aku sedikit tenang dan damai. Walau pada mata kuliah jam 12 tadi, aku dan 2 temanku (Vie dan El) sedikit merasa tidak sejahtera pada tingkah seorang rekan dalam kelas. Tapi kami sudah memutuskan untuk speak up our mind di pertemuan berikut, untuk meluruskan yang salah agar tak terjadi kesalahpahaman.
Tentang tugas, kuakui, aku mulai merasa sedikit tenang usai doa malam, dan hari ini kuputuskan untuk menghadap dosen yang memberiku nilai tak sampai ½ dari critical reviewku, bukannya apa, ia memintaku bila ada waktu datang dan mendiskusikan tugas lanjutannya agar tak semakin buruk. Hasil ini memang sempat membuatku sempat ‘pikiran’ kemarin. Aku mengajak Helen dan kami memutuskan menghadap tanpa bikin perjanjian; langkah yang tak tepat. Begitu gugup karena di depan pintunya ditulis: office hours: wed 1 – 2 (appointment only). Aku dan Helen memutuskan maju walau mungkin akan diusir.
Dengan ragu dan bimbang, ketukan 2 tangan pun membahana dan ibu Jo baru saja meneguk kopinya. Tanpa basa – basi ia mengundang kami masuk dan mulai mengajak bercerita tentang masalah kami, dan aku mengucap syukur atas dirinya. Ternyata ia tak hanya piawai mengajar (karena cara mengajarnya begitu memesona. Tak pernah bosan!) tapi juga seorang ‘guru’ yang mengerti muridnya. Dibahasnya kekurangan kami, diajarkannya apa yang diinginkannya, diulanginya tentang referensi dll plus juga menjawab sejumlah pertanyaan kami, benar – benar pembicaraan yang nyaman, tanpa nada penghakiman sebagai seorang ahli sosiolinguistik di Australia. Pada akhir pembicaraan kami, ia tiba – tiba memberi sebuah berita yang membuat aku dan El benar – benar kaget dan mengucap syukur, aku hanya bisa bilang: “Thanx GOD, you’ve been so good all the time”. Tanpa meminta, ibu Jo memperpanjang batas waktu untuk kami berdua hingga hari Senin dan berita yang lebih heboh adalah, ia mengembalikan tugas critical review yang pertama dan meminta kami mengerjakan ulang dan akan dinilai kembali dan nilai pertama tak akan dipakai. Beliau menekankan bahwa ia ingin melihat mahasiswa/I nya menghubungkan kehidupan sehari – hari dengan bidang ilmu yang diajarkannya.
Dan itulah ‘keajaiban kecil’ku hari ini (yang pertama).
Setelah itu, kuputuskan nongkrong di perpustakaan membunuh waktu hingga jam 4 sore, karena masih ada kuliah dan tutorial hingga jam 6 sore. Usai dari perpustakaan, aku singgah sebentar membeli kopi guna melawan kantuk karena minggu lalu aku ‘tertangkap basah’ ngantuk dan berakibat pada ‘produksi pertanyaan bodoh’ku di kelas tutorial, saking ngantuknya. Tentu saja aku minum kopi dan sibuk mencorat – coret sketsa sekelilingku. Entahlah mengapa hari ini aku menggambar sesuatu yang bukan ‘busana’ ya? Entahlah … sketsa ini tentulah yang menjadi gambar pendukung catatan ini.
Dan aku ternyata masih berkeliaran berbelanja di Canberra Centre, mulai dari membeli daging hingga buah. Dan usai itu, pukul 6. 40 p.m., telah duduk manis menunggu bis di bus stop.
Ternyata, hari ini, the history repeats itself, bis Action #9 menuju rumah tak datang – datang juga dan aku mulai merasa tak damai sejahtera. Usai 12 menit tak datang juga dan orang – orang pada bubar. Seorang lelaki Kulit Putih yang memutuskan untuk ‘bubar – jalan’ tersenyum padaku dan aku hanya bisa membalas senyumannya dengan senyum tipis. Aku masih duduk terdiam dengan tumpukan belanjaan dan lagi – lagi ada daging dalam belanjaanku.
Perasaan campur aduk. Aku sudah siap menangis dan merasa terlantar tanpa tahu mau bikin apa, naik taksi bisa menguras setidaknya $12 yang sama dengan 1 kali makan + minumnya. Kedinginan, geram, kecewa, sedih, campur aduk dalam diri. Ingin sekali berteriak dan menangis, mengeluarkan beban di hati. Sebuah bis pun lewat menuju arah lain dan orang – orang yang sedang menunggu pun pergi. Aku masih sendirian. Status Facebookku pun mencerminkan apa yang kurasakan: Badan malas e. Masa bis #9 tra lewat2 tuh, su telat 12 menit baru. Masa terulang lagi tuh kejadian ini 'n selalu pas sa abis belanja byk n beli daging. Ada apa dgn Action Bus nih? Mangkali perlu bkn pengaduan kapa ni! :(
Guna membunuh waktu dan juga mengusir dingin, kutelpon kaka B karena apartmentnya dekat bus stopku, ternyata ia masih dalam perjalanan. 15 belas menit lagi ia pasti sudah tiba di apartemennya jadi aku bisa datang dan sekalian menunggu oom T yang mo datang menjemput B dan juga M pergi kerja, jadi aku bisa meminta tumpangan.
Usai menelpon kaka B, kutelpon A, seorang teman di Melbourne. Tanpa basa – basi langsung saja kubilang bahwa lagi butuh teman bicara yang pulsanya gratis (pake 3, jadi harus mencari sesama pengguna 3 yang mau ‘dibajak’ ngomong). Ngobrol ngalor ngidul dan membicarakan sistem transportasi di kedua kota yang berbeda, tentang teman bule cowok di Melb dan juga info Praise dan Worship. Tentu saja sambil memerhatikan lintasan bis. Perasaanku masih campur aduk, karena merasa ‘dikhianati’ jadwal bis. Merasa harapan menanti menjadi percuma. ‘sakit hati’!!! Ingin sekali berteriak dan menangis ‘bokar – bokar’.
Saat ngomong dengan A, e tiba – tiba saja dia bilang begini: “Meimosaki, kayaknya nih jangan – jangan ko mo dapat sesuat untuk bahan note di FB lagi’, tentu saja kusanggah dan bilang, ‘bahan apa lagi, kalo bis nih tra mungkin ya, sekarang cuma sa sendiri yang ada tunggu di bus stop nih.”. Walau kemudian saat hendak pergi, ada yang berjalan dan duduk di bus stop.
Tak sampai 5 menit, tiba – tiba seorang pria bule berdiri di hadapanku dan di seberang lintasan bis, mobil Van Action bertengger. Tanpa basa – basi, ia bertanya, “Do you wait for the bus #9? Just get into the car.” Tanpa pikir panjang, kuiyakan dan masuk mobil van. Ternyata pintu bis tak bisa ditutup dan terpaksa diperbaiki. Aku baru tahu kalau sampai bis terlambat, ada pilihan yang bisa diambil yaitu kadang mereka mengirimkan bis pengganti saat peak-hours dan hanya mobil van bila off-peak, dan ternyata, aku satu – satunya penumpang dalam mobil itu. 5 menit kemudian, aku telah tiba di halte bis dekat rumah dan terkaget – kaget saat ia bilang, “Y’know, you are so lucky to have a ride on a car full with the light’ dan aku terkaget – kaget kala melihat ke atas mobil yang terang benderang dengan lampu ala ambulans warna – warni yang artinya ‘emergency’ dan juga kecepatan yang ekspress. Tak sia – sia menunggu selama 30 menit. Apalagi si bapak supir van bilang kalo “I have to learn’ kalo memang bis tak datang, aku harus menelpon ke Action bus melaporkan ataupun bertanya tentang hal ini. Aku bersyukur malam ini, karena mungkin ada ‘malaikat’ lainnya yang menelpon pihak Action dan menginformasikan aku. Selain itu, ada satu hal yang membuatku sedikit bilang bahwa ‘everything happens 4 a reason, there is not either any coincidence nor an accident’ karena mobil ini sekali lagi berwarna putih ^_^
Dan itulah ‘keajaiban kecil’ku hari ini (yang kedua).
Tentu saja ini belum ditambah dengan pencairan rapelan kenaikan biaya hidup dari pihak pemberi beasiswa hari ini (yang tentu saja sebuah berkat dari Tuhan menjawab masalah finansialku) ^_^
Yang pasti, aku hanya ingin bilang bahwa “God is good all the time”, di setiap waktu, di setiap kesempatan. Walau aku sempat mengeluh dan ‘burn out’, Ia tetap baik. Aku belajar bahwa saat aku tak bicara dengannya, aku kehilangan orientasi dan semangatku dan tentu saja memengaruhi cara pandangku melihat hidup!
Segala hormat, kemuliaan, dan pujian hanya bagi Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Amen
Yang merasa sangat diberkati hari ini,
D. Meimosaki
Labels:
self - reflection,
Spring 2009,
X story
Subscribe to:
Posts (Atom)