Search This Blog

Loading...

Monday, 31 August 2009

Penjahat Kelamin

Minggu ini aku begitu tercengang membaca berita tentang sebuah berita di Amerika dimana seorang pria menculik seorang anak perempuan beberapa tahun lalu, menyekapnya dan dijadikan ‘budak seks’ lelaki itu hingga punya 2 anak. Cerita ini kemudian membawa ingatanku kembali lagi pada kisah di Austria tahun lalu tentang seorang bapak yang menyekap anak perempuannya di lantai bawah rumahnya guna dijadikan pelampiasan nafsu. ‘Bejat’, tutur surat kabar. Aku malah ingat beberapa temanku memberikan gelar yang tak kalah sadis, ‘Penjahat Kelamin’. Aku sejak lama paling anti sama makhluk yang berinisial PK ini, bukannya apa, ini berdasarkan pengalaman pribadi dan salah satu musuh besar yang berhasil kutaklukan for the Mercy of God!

Kasus para pelaku kejahatan seksual ini tak hanya ada di belahan bumi lain, tapi juga di Australia dan bahkan di Papua. Salah satu bentuk kejahatan para PK ini yang menakutkan bukan hanya dalam bentuk pemerkosaan, tapi ada banyak bentuk yang dipikir hanyalah hal remeh tapi dampak psikologinya bisa bertahan beberapa tahun, dan aku pernah merasakan pasca traumanya selama beberapa tahun dan kali ini aku ingin membagikan apa yang kurasakan, apa yang kulihat dan kusaksikan dan juga dari tuturan teman – teman lain yang pernah merasakan hal yang sama. Ingat, ‘penjahat kelamin’ bukan hanya lelaki, tapi ada juga perempuan. Bukan hanya orang asing yang kau tak kenal di jalan, malah aku pernah membaca bahwa yang berpotensi menjadi ‘penjahat kelamin’ adalah orang dekat bahkan orang – orang yang dikenal korban.

Setiap kali mendengar berita pemerkosaan dan pelecehan seksual, entahlah mengapa ada amarah yang tiba – tiba menggelegak di dada, sebuah kemarahan tersembunyi yang selalu berusaha kutekan sejak lama, kukendalikan dan kujadikan salah satu pemicu untuk melesat maju meninggalkan masa lalu dan menjadikannya pelajaran berharga dalam kehidupanku. Kali ini aku tak akan membahas tentang ulah para PK dalam bentuk fisik yang ekstrem alias pemerkosaan. Dan tentu saja catatan ini bukan sebuah catatan balas dendam, karena jujur pada satu sisi aku marah pada mereka yang menjadi PK dan menghancurkan hidup banyak orang khususnya kepada anak – anak, tapi pada satu sisi, setelah aku beranjak dewasa, aku merasa kasihan karena mereka tak bisa mengendalikan diri; tak punya kuasa mengontrol diri. Sangat menyedihkan! (sebagai manusia)

Catatanku ini tentang ulah PK yang pernah membuatku berpikir sejak remaja bahwa aku tak berharga, menyimpan malu dan masalah sendiri dan menjadikanku begitu tertutup. Aku ingin berkisah tentang tingkah PK yang kadang menurut kita adalah hal yang lumrah, yang wajah, apalagi kalau dilakukan oleh manusia yang berjenis kelamin lelaki. Tulisan ini bukanlah untuk menghakimi lelaki tetapi untuk memberikan gambaran bahwa dalam kehidupan yang berbasis patriarki dimana lelaki mendapat keistimewaan, kadang langkah mereka yang salah dianulir menjadi sebuah ‘kebenaran’. Catatan ini hanya ingin berbagi bahwa pandangan itu salah; pandangan yang ‘membenarkan’ apa yang salah.

Mungkin catatanku terlalu berputar – putar, dan pembaca catatan ini ingin berteriak, “What’s the point, anyway?”. Aku membuat catatan ini untuk memrotes para ‘penjahat kelamin’ yang mempertontonkan bagian tubuh mereka tanpa izin, yang mengintip lawan jenis yang sedang mandi atau berganti pakaian ataupun sedang tidur, yang mengirimi dan menunjukan gambar – gambar porno ataupun muatan porno dalam media apapun tanpa izin, yang menelpon dan berbicara tentang tindakan asyik-mahsyuk tanpa permisi, yang menyentuh orang lain di bagian yang tak berizin tanpa lisensi, yang mengucapkan kata – kata cabul ataupun penilaian cabul atas diri orang lain tanpa permisi dan stoom, dan yang meneror korban lewat kehadiran yang tak diinginkan dan menjadi serupa ancaman. Aku pernah mengalami enam tahun hidup dalam ketakutan pada semua hal di atas dan aku ingin bilang pada mereka, “sangat disayangkan, anda hidup sebagai manusia tetapi kesadaran anda telah mati”.

Aku membuat catatan ini bukan sebagai hakim yang berhak memberi hukuman pada PK, tapi supaya kita sadar bahwa mereka ada di sekitar kita, dan waspada adalah kunci yang bisa kita pakai plus keterbukaan untuk membicarakannya plus konsuling pasca aksi adalah jalan terbaik, tentu saja diiringi oleh doa. Waspada, Karena kita tak pernah bisa tahu pada awalnya gelagat para penjahat ini, karena terlalu banyak ‘serigala berbulu domba, ataupun ‘pagar makan tanaman’ dalam kasus ini.

Masa kecilku sejak kelas 4 SD – kelas 3 SMP adalah masa kelam dalam hidupku yang membentukku menjadi aku yang sekarang, walau traumanya masih tetap membekas hingga ini, pada beberapa sisi. Masa kelam dimana aku, hanya bisa diam dan menyimpan semua yang kulihat dan kusaksikan, diam dan ketakutan diteror berbagai tingkah seksual yang menakutkan, masa di mana aku hanya bisa bercerita pada Tuhan dan menangis. Masa dimana kupupuk rasa takut dan benci plus dendam terhadap makhluk bernama lelaki. Masa kelam dimana aku melihat bahwa saat itu, tak ada seorangpun yang membelaku dan aku yang harus mengalah pindah ke kota lain. Masa kelam yang mempengaruhi hubunganku dengan orang tua dimana ada gap hingga sekarang, saat pertanyaan besar itu masih tetap menggantung di sana, “Apakah aku tak layak untuk dibela saat itu? Apakah karena aku perempuan?”

Catatan ini tentu saja bukan tentang pemerkosaan, tapi tentang bentuk pelecehan seksual yang kualami. Catatan ini bukan untuk menghakimi, ataupun mengasihani diri sendiri. Karena toh, aku sudah menemukan jalan keluar dari trauma berkepanjangan saat ikut re-treat pemulihan gambar diri 9 tahun lalu di Jayapura. Sebuah jalan panjang menuju pemulihan diri, dan sekarang aku bangga karena penyembuhku; Yesus selalu ada bersamaku, menguatkanku. Aku tak bilang bahwa Ia dulu tak ada, hanya aku yang tak merasa layak datang secara pribadi padanya. Satu yang pasti, aku ingin bilang pada para penjahat itu, “Back Off!!! I’m young, I’m strong, I am beautiful, and I am confident. So, please don’t try me!”

Catatan di bawah ini, kutujukan pada para ‘para penjahat kelamin’ di luar sana! (tolong disampaikan ya ^_^)


SEBUAH SURAT TERBUKA KEPADA PARA ‘PENJAHAT KELAMIN’!

Tahukah kau, kau membuatku merasa bahwa aku tak berharga dan tak cantik dan bodoh, kala kau kirimiku gambar – gambar tak senonoh itu. Mungkin kau adalah orang terbodoh yang kukenal dan tak pernah belajar biologi ataupun anatomi, aku tahu dan memiliki organ – orang itu, jadi apa gunanya kau tunjukkan padaku. Bodoh!

Tahukah kau, kau membuatku merasa malu pada diri sendiri dan juga pada orang lain, kala kau tunjukan organmu padaku dengan harapan aku melihatnya. Mungkin kau adalah orang terbodoh ataupun terbego yang pernah kukenal, karena toh pelajaran biologi yang kuterima telah bijak membahas fungsi dan peran organ – organ itu. Tak ada gunanya kan menunjukan padaku. Mataku masih berfungsi dengan baik, jadi untuk apa kau tunjukan lagi padaku. Bego!

Tahukah kau, kau membuatku merasa tak berharga dan bodoh, kala kau tak permisi menyentuhku di bagian yang tak berlisensi. Mungkin kau adalah orang teregois dan rakus yang kukenal di muka bumi, karena toh kau mencuri milik orang lain, lisensi orang lainnya. Tak ada gunanya kan ‘mencuri’ dari orang lain karena label pencuri itu ada di dahimu sekarang. Egois!

Tahukah kau, kau membuatku merasa malu dan tersiksa dan tak nyaman, kala kau mulai menelponku, mengunjungiku ataupun memantau setiap aktivitasku dan tentu saja dengan embel – embel ‘seksualitas’ dalam dirimu. Mungkin kau adalah orang terbodoh ataupun cacat secara mental karena tak pernah belajar bahwa aku punya Pelindung Hebat di atas sana yang memberikan aku telinga untuk mendengarkan tentang nyanyian bagi penciptaku dan bukannya suaramu yang penuh bumbu cabul. Back off!!!

Tahukah kau, kau membuatku merasa tak nyaman pergi kemana – mana, ke tempat di mana ada kau, kala kau suka mengumpat kata – kata cabul itu padaku dan memandangku dengan tatapan merendahkan seakan – akan aku hanyalah ‘gumpalan daging tanpa otak’. Mungkin kau adalah orang paling serakah dan egois yang kukenal di planet ini, yang merampas hidup orang lain dan waktuku yang berharga dan menebar bibit teror di hatiku. Mungkin kau harus belajar bahwa aku diciptakan dengan sebuah rancangan hebat dan blueprint yang cantik dan kau tak layak merusaknya. Makanya ‘sekolah’!

Tahukah kau, usai semua aksimu, yang kurasakan sebagai perempuan adalah kehilangan rasa berhargaku sebagai manusia. Kau mencuri rasa kemanusiaanku, kau tanamkan bibit kebencian, rendah diri, dan tak nyaman. Aku sempat ragu apakah kau adalah ‘penebar garam dan terang dunia’ ataukan hanyalah samaran dari ‘agen si Jahat’. Ayo cepat ngaku!!!

Tahukah kau, usai semua aksimu, aku harus bertarung dengan diriku sendiri, dengan lingkunganku. Kau tak pernah tahukan bagaimana sakitnya melawan diri sendiri, melawan pandangan mata orang lain dengan iba di mata mereka, melawan perasaan bersalah pada diri sendiri, melawan mimpi buruk tiap malam yang berisi pelarian dari kejaranmu, melawan prasangka buruk yang diciptakan pertahanan tubuh kala dekat dengan makhluk bernama cowok. Kau tak tahu, kan? That’s why, aku kasihan padamu, karena kau begitu bodoh dan tak pernah tahu kebenaran di luar sana.

Tahukah kau, usai semua aksimu, aku harus melewati banyak hari dengan berkalang malu; pada Tuhan, diri sendiri dan lingkunganku. Tahukah kau, berapa banyak air mata yang mengalir, berapa banyak doa yang kupanjatkan, berapa banyak kali kau membuatku berdosa mengeluarkan sumpah serapah demi melepaskan sesak di dada. Tahukah kau, berapa banyak waktu yang kupakai untuk mengurung diri di kamarku dan menghindari kontak dunia luar? Kau tak pernah tahu karena kau memang begitu bodoh terkurung dalam pandanganmu bahwa kau melakukan yang ‘benar’ atas nama keistimewaanmu sebagai lelaki.

Tahukah kau, usai semua aksimu, kisahku akan terus diputar ulang memori otakku kala tidur, kala terjaga. Tahukah kau, berapa banyak tidurku yang dikorupsi mimpi buruk dan pengalaman traumatis plus strategi melarikan diri. Kau benar – benar seorang koruptor kelas kakap. Bring it back!!!

Aku masih punya banyak pesan untukmu, masih punya banyak protes untukmu, tapi kemudian aku sadar bahwa tak ada gunanya aku marah – marah padamu ataupun menumpahkan kekesalanku pada lelaki lain, karena toh, pada akhirnya aku kasihan padamu, karena kau tak tahu rasanya bagaimana menjadi ‘manusia’. Aku kasihan padamu karena kau kehilangan esensi kesadaran sebagai manusia dan mematikan ‘rasa kemanusiaanmu’ karena ada ‘hilang-satu-ons’ di piranti lunakmu. Aku kasihan karena kau membutuhkan obat – obatan dan terapi medis plus doa untuk bisa kembali menjadi ‘manusia’. Aku kasihan padamu karena kau tak bisa melihat dunia yang kulihat dimana ada warna – warni indah dan kekuatan plus penyertaan yang diberikan Tuhan.

Aku berdoa semoga Tuhan menjamah hatimu dan mengubahmu menjadi orang yang lebih baik, yang bisa mengendalikan diri.

Aku berdoa supaya korban – korbanmu yang lain, bisa memaafkan diri sendiri, menemukan jalan pulang ke diri mereka dan ke Tuhan dan bisa bersama – samaku berteriak kencang, “Back off!!! I am young, I am strong, I am beautiful and confident. So, Don’t try me!”

(Subuh di Campbell, Canberra/ 30 Agustus 2009)


Notes: Thanx Jesus sudah mengenalkan pada beberapa orang hebat di masa remajaku yang membantuku untuk bisa jadi seperti sekarang ini, yang membantuku untuk terbuka dan speak up my mind, yang bersedia mendengarkanku; temanz di komsels GBI PoPe Abe, Jayapura era 2000 – 2001 dan kakak2 di PKBI Jayapura era 1998 – 2000).

Lelaki terindah; keping hilang!

Entahlah mengapa subuh ini kala hendak belajar, aku memikirkan dia yang jauh di sana; seseorang yang bukan ‘lelaki hujan’, seseorang yang kulabel ‘lelaki terindah’. Terakhir kali aku bercakap dengan dia sekitar tahun lalu, pada bulan yang sama; akhir Agustus 2008.

Jalan kami telah membentang jauh, sangat jauh dan berbeda. Impian dan keinginan kami tak sejalan ke depan dan sangat sulit untuk disatukan yang pada akhirnya aku harus memilih dan memintanya melupakanku; sebuah keputusan yang sangat berat kala itu. Ia akan tetap menjadi ‘lelaki terindah’ bagiku.

Kuharap ia baik – baik saja, begitu juga keluarganya. Aku berharap pada akhirnya ia menemukan tujuan hidupnya dan menjadi apa yang Tuhan inginkan dalam hidupnya. Aku akan tetap mengasihinya sebagai seseorang yang pernah mengajarkanku untuk jatuh cinta dan tertawa, bercerita dan menjadi pendengar.

Wish him and his family all the best things in life. Hope to meet him someday to say ‘I am sorry 4 what I did’ dan semoga ia masih mau memaafkanku untuk semua yang pernah kulakukan dulu.

“Kala cinta dan impian tak sejalan, maafkan karena aku lebih memilih impian, Abel.”


(Sebuah subuh dingin di Campbell, Canberra/ 30 Agustus 2009)

Sunday, 30 August 2009

Watch Out!!! The Tongue Attack!!!

Malam ini tanggal 29 Agustus 2009, aku baru saja pulang dari ibadah persekutuan orang Papua di Braddon. Saat ibadah tadi kubagikan apa yang kurasakan tentang satu hal yang mungkin menurut beberapa orang adalah hal yang lumrah, tapi pada apa yang kupelajari lewat pengalamanku kemarin, aku pikir sudah saatnya aku berhenti dengan kebiasaan burukku itu; bamaki.

Kejadiannya bermula dari kemarin sore, usai mengumpulkan tugas dan belajar di perpustakaan, kulanjutkan dengan belanja di Canberra centre dan aku melirik pada jam di telepon selularku yang menunjukan pukul 5.45 p.m. kala menginjakkan kakiku di halte bis di depan Target, Canberra Centre. Asumsiku kala itu, aku tak perlu menahan dingin berlama – lama karena bis akan tiba pukul 6 p.m. Tapi rupanya entah kenapa, hingga jam 6 lebih, bis yang kutunggu tak muncul – muncul juga. Aku mulai gelisah.

Aku gelisah. Orang – orang di sekelilingku pun gelisah. Seorang pria yang hendak pergi ke Campbell juga mulai marah – marah dan bingung. Apalagi 20 menit telah lewat. Setelah 20 menit tak datang – datang juga, orang – orang yang lain pun membubarkan diri dan aku memutuskan menunggu bis jam 7 p.m. Aku sedang dalam kondisi yang tak fit, begitu pula sendi – sendiku sedang sakit sehingga benar – benar tak sanggup berjalan kaki ke rumah. Tapi aku bersyukur karena bis akhirnya datang pukul 7 p.m.

Selama menunggu bis selama 1 jam 15 menit kemarin, ada hal yang kudapatkan tentang makian. Selama ini aku menganggap remeh akan perkataan yang kukeluarkan khususnya makian. Mungkin dosa satu ini telah mengakar di mulutku sejak kecil karena mamaku gemar mengoleskan rica tumbu (hot chilies) di bibirku atau dihukum memakan rica kalo kedapatan sedang bamaki. Dan aku masih suka bamaki. Tapi memang sejak di Canberra, ada perubahan signifikan sehingga aku sudah sangat jarang memaki.

Saat menunggu bis itu, aku menyaksikan dan mendengar para remaja khususnya seorang remaja putri Kaukasian (bangsa kulit putih) yang memaki teman – temannya. Mulai dari kata f-word sampai segala macam kata makian beterbangan di udara selama hampir 30 menit dan aku benar – benar merasa tak nyaman. Orang – orang di sekelilingku pun tak nyaman. Tapi rupanya teriakan ‘bokar’ dan makian itu tak berhenti juga. Aku kemudian disadarkan tentang hal ini dalam hatiku, tentang efek makian.

Aku seakan disadarkan saat suara di dalam hatiku mengingatkanku bahwa makian benar – benar tak membawa damai sejahtera. Benar – benar mematikan semangat dan membuat orang lain tertekan mendengarnya walaupun yang memaki tak menujukannya pada kita tapi karena makian dilepaskan di udara dan didengar oleh panca inderaku, maka aku pun mengambil bagian mendengar kata – kata yang tak mensejahterakan hati. Rupanya benar – benar tak enak didengar.

Usai pulang dalam bis dan juga sampai di rumah, dalam hatiku diingatkan tentang kisah di Amsal tentang perempuan yang suka memaki ataupun bertengkar. Setelah kubuka – buka kitab Amsal, akhirnya ketemu juga ayat itu, dan rupanya ayat tentang perkataan perempuan diulangi sampai 2 kali, pertama di Amsal 21:9 dan juga di Amsal 25: 24 “Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah daripada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar.”. Aku benar – benar mendapatkan kesadaran itu bahwa yang ternyata selama ini kulakukan adalah sebuah kesalahan. Menjadikan orang lain yang tak terlibat menerima ‘sampah kata – kata’ dariku yang sangat tidak membangun hidup mereka. Dan tentu saja ini berimplikasi pada hal – hal lain yang berhubungan dengan perkataan lidah.

Yang pasti, aku berharap aku bisa mengikuti jalan Tuhan dan hanya mengucapkan kata – kata yang membangun sesamaku, memberi kata – kata yang menguatkan, dan menegur dengan menggunakan kata – kata yang membangun dan bukannya melemahkan. Lidah memang kecil tapi bila dipakai dengan salah bisa menimbulkan banyak hal; dari pertengkaran, pembunuhan hingga perang.

Aku berharap ke depannya aku bisa jadi manusia yang lebih baik dalam hidupku khususnya tentang lidah, karena organ satu ini memang benar seperti yang diajarkan Yakobus dalam Yakobus 3: 1 - 12 tentang ‘Dosa karena Lidah’. Aku berharap lidah yang kupakai untuk memuji nama Tuhanku tak kupakai untuk memaki dan mengucapkan hal – hal yang buruk. I wish …

(Canberra, pada sebuah subuh di 30 Agustus 2009)

Menari dalam hujan

Hari ini aku mengingat dia yang pernah menorehkan luka dalam hatiku. Apa karena hujan sedang turun dan kenanganku meleleh bersamanya?

Hari ini kala hujan turun dan langit begitu kelabu, aku mengingatnya. Setiap kata dan senyuman yang larut dalam tetesan hujan setahun lalu.

Hari ini kala rona jingga malu – malu muncul di langit sore dan awan pun berarak liar dalam tarian angin, dan hujan masih turun, aku merindukan dia. Apakah karena aku terlanjur menitipkan hatiku di sana?

Lelaki hujan…
Menari dalam kenangan hujan
Menari dalam kepingan kenangan
Menari dalam bayang mataku

Lelaki hujan …

Tunggu aku di Manokwari
Bermain hujan bersama
Menangkap tetes yang jatuh

Tunggu aku!

Saturday, 29 August 2009

Lelaki dalam Hujan


Kala hujan turun,
Aku mengingatnya.
Seperti hari ini, pun kemarin, atau setahun lalu.

Kala hujan turun,
Aku mengenangnya
Kala tertawa, menari, ataupun diam.

Kala hujan turun,
Aku teringat
Mata, bibir, dan wajahnya.

Kala hujan turun,
Ingatanku pun basah
Dengan tetes rindu yang mengalir.

Kala hujan turun,
Pantai yang basah dan ombak yang pecah, dan jerit kemarahanku
Menjadi titik balikku.

Setahun lalu - Pada dia -

Lelaki hujan!




(Source of Photograph: http://unpiano.com/music/wp-content/uploads/2008/09/rain45.jpg)

Friday, 28 August 2009

Api dan Angin

Hari ini, 28 Agustus 2009, waktu bergulir begitu cepat hingga saat aku menulis catatan ini dalam lembar elektronik perangkat lunak bernama MS Word buatan pak Gates, aku masih belum bisa melepaskan ingatan dari satu berita yang kulihat dan kusaksikan hari Rabu kemarin dan ada pelajaran yang kuambil dari peristiwa ini; sebuah jalan panjang menuju pemulihan dari sesuatu yang ‘relatif’. Anyway, catatanku adalah hasil pemikiran tak runut yang suka lompat – lompat mengikuti kemana pikiranku mengakses simpanan memori yang mungkin siap dihapus ataupun disimpan dan kadang proses pemanggilan memori (recall) mengalami gangguan karena file – file yang disimpan di piranti lunak otak tak tersimpan dalam skala prioritas sehingga begitu acak tersebar. Kali ini aku ingin bercerita tentang unsur – unsur alam yang kualami dalam minggu ini dan menyadarkan aku bahwa Tuhan begitu baik padaku dan pada sesama yang kulihat. Ini mungkin hanyalah sebuah cerita membosankan tentang api dan angin.

Beberapa hari ini, tubuhku mengalami penurunan kondisi karena kurang tidur dan efeknya berujung pada nyeri sendi, lemas, dan tentu saja kurang konsentrasi. Tapi aku tahu bahwa sakit ini tak seperti efek psikologi yang dialami oleh para murid khususnya kelas TK yang kuajar di sekolah ataupun juga tak seperti yang dialami oleh para guru di sekolah itu. Ceritanya bermula hari Kamis kemarin, tanggal 20 Agustus 2009, pukul 1 siang di sebuah tempat bernama Conder di ujung selatan Canberra. Kata rekan guru yang kelasnya kuasisteni, kejadiannya begitu cepat dan mendadak plus masih belum diketahui penyebabnya. Kebakaran!

Saat kudatang, aku cukup terkejut saat diberitahu bahwa sejak minggu ini, kelas kami (ruang Bahasa Indonesia) telah diambil alih menjadi kelas TK. Awalnya aku bingung. Tapi setelah ibu guru bahasa Indonesia, sebut saja ibu MD menjelaskan, aku betul – betul tak bisa berkata - kata karena tak pernah berpikir bahwa kebakaran terjadi di sekolah ini pada akhir musim dingin. Apalagi kejadiannya terjadi hanya beberapa jam usai kutinggalkan sekolah. Aku kaget karena pukul 10. 30 pagidi hari naas itu kutinggalkan sekolah dan kejadiannya terjadi pukul 1 siang. Alhasil, aku begitu terperangah melihat 2 ruangan kelas TK hangus sampai ke atap. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya melihat semua kelas itu terbakar dari sudut pandang anak – anak TK.

Yang aku tahu, anak – anak TK itu masih trauma dan bahkan, ada beberapa siswa yang mengatakan padaku bahwa orang tua mereka meminta mereka membawa telepon selular agar dapat dipantau. Yang aku tahu dan lihat, dan juga berdasarkan cerita ibu MD bahwa anak – anak itu begitu kaget dan menangis plus masih trauma karena selain melihat ruangan mereka dilalap api, apalagi saat kaca – kaca ruangan meledak, mereka masih dalam jarak pandang menyaksikan. Bahkan ada laporan bahwa anak – anak itu bertambah sedih dan meratapi tas – tas sekolah mereka terbakar dan meleleh. Padahal tas – tas mereka diletakan di luar ruangan kelas karena merupakan peraturan di sekolah ini. Tapi satu yang pasti, aku bersyukur karena anak – anak TK semuanya selamat karena saat kejadian mereka sedang di luar kelas.

Kejadian kebakaran ini juga memberikan satu pelajaran hidup yang kulihat dari guru – guru di sekolah ini. Saat evakuasi anak – anak dari kebakaran, setiap guru harus meletakkan kewajiban mereka sebagai orang tua pada rekan mereka dan bertanggung jawab mengevakuasi anak didiknya. Padahal mayoritas guru di sekolah ini mempunyai anak yang bersekolah di sekolah yang sama dengan tempat mereka mengajar. Aku membayangkan betapa beratnya tekanan psikologi para guru yang anak mereka sedang berada di tingkat TK.

Aku percaya bahwa setiap kejadian yang terjadi dalam hidup manusia, seburuk apapun itu pasti akan ada cerita indah di baliknya. Dan aku mulai merasakan itu, walaupun dampak dari kebakaran ini adalah ibu MD dan Ibu DR harus merelakan ruang mengajar mereka dipakai anak TK dan juga kami harus ‘gerilya’ menarik trolley penuh buku – buku dan menenteng alat – alat peraga ke tiap kelas yang kami ajar setiap 30 menit (jam ngajar per kelas hanya 30 menit), tapi aku mendapatkan banyak hal yang membuatku jatuh cinta mati pada pengalaman mengajar ini. Ya …kami mengeksplorasi tiap kelas yang berbeda, yang artinya dekorasi kelas pun berbeda. Minggu ini aku mengeksplorasi kelas ruang angkasa penuh dekorasi futuristik dengan gambar – gambar planet tata surya, astronot dan bintang – bintang, kemudian meloncat ke kelas dinosaurus yang penuh dengan sejuta nama dinosaurus dan bebatuan, singgah sebentar di kelas herbarium musim gugur penuh dengan dedaunan dan ranting – ranting patah, dan juga bermuara sebentar di kelas musim semi penuh karya kertas krep berbentuk kembang Ceri. Aku merasakan kehidupan mengalir dalam ruang warna – warni itu, mengalir lewat tawa anak – anak kecil dan celoteh mereka.

Aku bersyukur bisa menyaksikan upaya sekolah ini memulihkan diri dan berusaha memulihkan trauma yang dialami oleh anak – anak dan guru – guru. Karena sekolah yang kuajar adalah sekolah Katolik dan merupakan SD Katolik terbesar di Canberra dengan siswa sekitar 700 orang dan staf lebih dari 50, aku melihat upaya signifikan. Minggu ini saat ada misa bersama, selain doa seperti biasa, anak – anak mulai berdoa dari diri sendiri dan mengucap syukur karena selamat dari kebakaran plus untuk keselamatan tiap orang di sekolah. Selain itu, mata pelajaran minggu ini banyak diisi dengan refleksi dan para guru meminta para murid khususnya kelas TK untuk bersama bercerita tentang apa yang mereka rasakan, untuk mengeluarkan emosi yang tertahan. Aku tahu ini sangat berat bagi para anak – anak TK dan juga guru kelas mereka, saat melihat hasil karya, prakarya dan semua data – data beserta fasilitas ngajar dimana mulai komputer, laptop hingga papan sentuh canggih (smartboard) dan lain – lain hangus jadi abu. Sebuah rasa kehilangan yang besar. Aku kagum dengan upaya yang dilakukan sekolah demi mengembalikan rasa sejahtera di hati anak – anak dan para guru.

Bercerita tentang api, minggu lalu pun di rumahku, karena ada yang lupa mematikan kompor, alhasil pagi – pagi, untung seorang rekan serumah memergoki dapur yang dipenuhi kepulan asap hitam dan bau gosong menyeruak ke mana – mana, hingga sepanci ayam pun hangus berlapiskan jelaga. Menjadi sebuah pelajaran bagi kami penghuni rumah untuk berhati – hati dengan api. Api menjadi begitu relatif, sewaktu kecil berguna dan disayang, tetapi saat menjadi besar dan galak, menjadi musuh yang menakutkan.

Unsur – unsur alam memang tak bisa diprediksi kerelatifannya dan waspada adalah kunci terbaik. Seperti beberapa hari lalu kala angin kencang menghantam Canberra hingga rumahku pun berbunyi menderak, seakan – akan hendak dicabut. Ditambah lagi dengan bunyi desau dedaunan dan derik ranting yang menakutkan, dan ternyata malam itu, pihak PLNnya Australia di Canberra (ACTEWAGL) sepakat memadamkan listrik pukul 2 subuh hingga pagi menjelang karena khawatir akan ada kebakaran kalau pepohonan pada tumbang. Bukannya apa, Canberra adalah kota sejuta pohon dan burung dan kehidupan liar; the wildlife paradise. Dan subuh itu, kuakui aku tak begitu merasa sejahtera dengan suara angin. Hingga berbagai upaya kulakukan, mulai mengajak SMSan kak Yana di Toad Hall, meng-update statusku di Facebook, mengirim SMS ke ‘Lelaki Hujan’ dan juga berdoa dalam malam gelap. Aku begitu terperangah dengan keadaan langit yang terang berderang seakan telah jam 6 pagi. Aku begitu takjub dan sempat sebersit pikiran pun singgah di hati, “Tuhan, inikah akhir jaman itu? Inikah hari penghakiman?”. Dan rupanya keesokan harinya kala berbincang dengan kak El, ternyata kami berbagi pikiran yang sama.

Setiap kejadian membawa cerita, baik buruk maupun baik, ada kisah yang tersimpan. Sebuah pelajaran hidup telah diajarkan oleh unsur – unsur alam. Satu yang pasti, aku hanya boleh waspada tapi tak boleh ketakutan karena aku tahu bahwa aku punya DIA yang adalah penguasa alam dan pernah menenangkan sang angin nakal.

(Canberra, 28 Agustus 2009)

Tuesday, 25 August 2009

It's a life style! (Kekristenan bagiku)

Malam ini sambil ditemani dengan lagu – lagunya yang berjenis Lullaby dari album ‘bedtime prayers”lullabies and peaceful worship’, aku mulai merangkai kata – kata dalam note ini. Walaupun album ini sedianya untuk balita dan anak kecil, tapi bagiku album ini sangat memberkatiku kala belajar karena sering kujadikan lagu pengiring belajar.

Hari ini entahlah apakah karena cuacanya yang sejuk, aku menghabiskan banyak waktu untuk tidur. Mulai bangun jam 8 pagi, usai say my little prayer, kuhabiskan dengan sarapan sepotong donat beraroma kayu manis dan segelas susu plus beberapa bab novelnya Mitch Albom ‘for one more day’. Usai itu bermalas – malasan dan mandi. Kemudian kulanjutkan dengan mengintip buku – buku teks tapi kutinggalkan dan memilih melanjutkan membaca novel. Hari ini karena aku tak ada tutorial, jadi benar – benar cocok untuk relaks. Tak sampai jam 2 siang, aku sudah tertidur lagi. Niatnya sih sampai jam 4 sore, tapi rencana ternyata berubah seiring dengan cuaca yang sejuk karena aku baru bangun jam 10 malam ^_^

Usai terbangun jam 10 malam, bukannya langsung bangun dan bangkit berdiri, malah kulanjutkan bermalas – malasan hingga pukul 11 lewat dan usai itu bergegas ke dapur mencari masakan sop yang kubuat tadi siang. Nikmat sekali makan jam 11 lewat sambil ditemani segelas susu dan juga sepotong majalah Kristen ‘insight’.

Usai makan malam, jam 12 malam, kusempatkan membaca Firman Tuhan karena dari siang hingga malam apalagi tidur, aku begitu lelah secara fisik dan mental, apalagi dari bangun tidur sampe saat makan (tengah) malam tadi aku merasakan mood-ku sedikit tidak enak, tanda – tanda mo pergantian mood ke fase depresi seperti dulu, dan satu – satunya cara untuk menghalau perasaan tidak enak itu ya dengan berdoa, membaca Alkitab dan mendengar musik rohani lembut. Tentu saja usai itu menulis ‘note’. Itulah sebabnya dengan menulis seperti ini membuat luapan emosiku bisa keluar dan tak tertumpuk dan pada akhirnya tak akan membebani pikiranku.

Saat berdoa tadi, kutemukan sebuah pembacaan di kitab James 1: 19 – 27 (Yakobus), dan ada satu ayat yang sangat menguatkanku yaitu di Yakobus 1: 22 isinya begini: “Do not deceive yourselves by just listening to his word; instead, put into practice”. Perkataan ini diulangi lagi dalam ayat ke 25: “But if you look closely into the perfect law that sets people free and keep on paying attention to it and do not simply listen and then forget it, but put into practice – you will be blessed by God in what you do.” Alkitab yang kupakai sih versi bahasa sehari – hari. Dan aku tersadar bahwa salah satu melakukan apa yang bisa kulakukan adalah dengan berbagi pembacaan yang baru kudapatkan, walau mungkin hanya lewat catatan Facebook.

Aku sadar bahwa untuk menjadi orang Kristen itu tak gampang, apalagi dari yang kulihat dari kehidupan di Canberra benar – benar membuatku kadang merasa bahwa banyak orang yang berpikir bahwa ‘being a Christian is not cool!” di tempat ini. Tapi bagiku, kekristenan bukanlah agama, bagiku menjadi orang Kristen adalah sebuah gaya hidup; to live what Jesus wants and Alkitab adalah manualnya. Bagiku, menjadi Kristen adalah bukan hanya menjadi orang yang penuh kasih dan bersyukur, tetapi juga mengatakan yang benar sebagai ‘benar’ dan tak benar sebagai ‘tak benar’ dengan prinsip kasih, tentu saja dengan justifikasi Alkitab dan juga dengan menggunakan ‘what would Jesus do?”.

Bagiku Kekristenan adalah apa yang kita katakan dan kita lakukan harus sejalan. Bagiku kekristenan adalah sebuah integritas diri. Bagiku kekristenan bukanlah dihitung dari berapa banyak kunjungan yang kulakukan ke gereja dan berapa besar Dollar atau Rupiah yang kumasukan ke dalam pundi – pundi gereja ataupun waktu yang kupakai untuk pelayanan dll. Bagiku kekristenan adalah sebuah upaya pencarian jati diri untuk dekat dengan DIA yang mengasihi aku, menjadi dekat dan berserah pada rencana-Nya.

Bagiku kekristenan adalah saat menghadapi masalah sekecil apapun dan tak membiarkan diri memutuskannya sendiri tapi berdoa dan berpikir dengan pola pikir ‘apa yang akan Yesus lakukan kalo berada dalam posisinya sa (WWJD)?”. Kadang aku sadar bahwa aku tak membiarkan WWJD terjadi atau tak mengambil ‘formula berpikir’ itu karena aku membiarkan ego dan harga diriku yang menguasaiku dan hasil akhirnya adalah menyelesaikan masalah dengan menciptakan masalah baru ^_^. Benar – benar jalan keluar yang tak patut ditiru.

Kekristenan bagiku adalah dengan mengambil sikap bagi sesuatu yang tak benar. Kekristenan bagiku adalah kala melihat perempuan dan anak kecil mendapatkan hak yang tak layak mereka dapatkan dan mereka tak bisa menyuarakannya dan kita bersuara untuk mereka. Bukan mencampuri urusan orang lain, tapi karena kadang masalah baru hanya dapat diselesaikan dengan adanya intervensi orang lain.

Kekristenan bagiku adalah dengan menjadi apa yang kukatakan, menjalaninya dalam hidup dan bersuara apa adanya. Kekristenan bagiku adalah dengan mengutarakan apa yang kurasakan, dan tak menyimpannya sendiri, dan berdoa serta memohon bantuan doa dari orang – orang di sekelilingku, karena aku tahu aku tak sanggup menjalani hidupku sendiri tanpa bantuan Tuhan lewat sesamaku.

Kekristenan bagiku adalah gaya hidup mengucap syukur atas apa yang kuterima, tapi bukanlah gaya mengucap syukur yang hanya pasrah dan ‘nrimo’ dan mau saja diperlakukan dengan semena – mena, tetapi mengucap syukur dan berusaha serta membuat perubahan, setidaknya bila bukan untuk diri sendiri, sekurang – kurangnya untuk kehidupan orang lain. Karena bagiku, teologi Kristen adalah teologi pembebasan, yang membebaskan individu dari keterikatan pada apapun, khususnya penindasan dan penjajahan. Kekristenan dan hidup Yesus mengajarkanku banyak hal tentang mengucap syukur dan bersuara.

Kekristenan mengajarkanku tentang melihat uang dan kekayaan dari sudut pandang yang berbeda; kekayaan sebagai sarana menjadi saluran berkat bagi hidup orang lain. Kekayaan yang bukan untuk menimbun harta demi kepentingan diri sendiri. Aku pernah membaca sebuah analogi surga dan neraka yang benar – benar mengingatkanku tentang makna mengucap syukur dan berbagi. Tatkala seseorang diberi pemandangan antara surga dan neraka, ia begitu terkejut melihat bahwa orang – orang di surga dan neraka ternyata berada pada kondisi yang sama; makan dari sebuah periuk lebar dan diberi sebuah sendok yang bertangkai panjang sehingga tak seorangpun yang bisa makan. Bedanya hanyalah orang – orang di neraka selalu mengeluh lapar karena mereka berusaha sendiri untuk makan dari sendok milik mereka sendiri, yang ibarat ‘ayam tumbuh gigi’ pun tak akan pernah bisa. Sedangkan orang – orang di surga saling memberi makan orang lain dengan sendok mereka dan menerima makanan dari sendok orang lain.
Kekristenan bagiku adalah dengan berpikir bahwa hidup ini adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri. Hidup dengan teratur karena aku percaya Allah yang kusembah adalah Allah yang teratur, yang bekerja dalam keteraturan dan proses dan siklus. Aku percaya bahwa Allah yang kusembah mengajarkan banyak hal dalam keteraturan ciptaannya. Sehingga hidupku sebagai anugerah layak dan patut kujalankan dalam keteraturan.

Kekristenan bagiku adalah saat mengucapkan pendapat dalam batasan ‘hitam’ dan ‘putih’ dengan jelas, karena tak ada yang namanya ‘daerah abu – abu’. Mengutarakan apa yang kurasakan sekonyol apapun itu, dan tak ragu untuk meminta maaf kalau pada akhirnya keliru. Kadang aku lebih mementingkan ego dan harga diriku dan memilih untuk tak mengungkapkan apa yang kurasakan dengan jujur tentang suatu hal hanya demi menjaga perasaan orang lain, dan akhirnya tak memberikan rasa damai sejahtera dalam hidupku.

Kekristenan bagiku mungkin berbeda dengan apa yang dipahami orang lain ataupun pembaca note ini. Tapi bagiku, kekristenan adalah gaya hidup keseharian yang bukan hanya ada setiap hari Minggu. Kekristenan bagiku bukanlah tentang pakaian, simbol – simbol kekristenan yang menempel di diri, nyanyian, ataupun sumbangan ke gereja dan berapa banyak doa yang dipanjatkan ataupun ayat Fiman yang dihafal. Bagiku Kekristenan adalah saat aku membiarkan Allahku hidup di dalamku dan aku hidup di dalam-Nya.

Satu yang pasti, kekristenan bagiku adalah saat aku tahu Yesus tak akan pernah meninggalkanku dan aku kan menari bersama-Nya suatu hari nanti. I wish!!!

(Canberra, 25 Agustus 2009)

Saturday, 22 August 2009

Kisah Musim

Tak terasa sudah berada di akhir Agustus, tak lama lagi September kan tiba. Tak terasa sudah 8 bulan aku berada di ibukota Australia. Meninggalkan Manokwari dan orang – orang di sana, meninggalkan luka dan tawa.

Sekarang musim ke tiga sedang kujelang; spring (musim semi).

kala kudatang pertama kali, Kala Januari, musim panas lah yang kurasakan. Udara panas dan sinar mentari teriklah menjadi makanan harian. Kala minyak – minyak di dedaunan Eucalyptus pun mencair dalam tiupan angin panas, hingga tak perlu disuling. Kala matahari tetap bersinar terang dan baru terbenam pukul 9 malam, kala jam harus dimundurkan 1 jam. Kala botol air dan kaca mata riben plus krim sunblock menjadi peralatan wajib kemana – mana tentu saja plus topi. Kala bule – bule berseliweran dalam potongan pakaian minim, kala dosen yang mengajar dengan cuek memakai celana pendek dan mahasiswa dengan cuek menyeruput coke dalam ruang kelas.

Musim panas adalah musim penuh keceriaan. Kala berenang di kolam renang luar ruangan begitu menyegarkan. Berjemur dan berendam. Olahraga outdoor di mana – mana. Warna – warni pun tumpah di jalan – jalan Canberra. Multicultural festival dari semua budaya yang ada di Canberra memancing masyarakat tumpah ruah di pusat kota, mulai dari makanan, tari hingga adat istiadat. Bunga – bunga semarak mengajak bernyanyi dan buah – buahan turun harga di pusat perbelanjaan makanan. Tak lupa berbagai festival luar ruangan pun digelar dan aku pun begitu tergila – gila melihatnya; mulai dari Australia Day hingga musik dan pameran seni.

Musim panas, kala mentari nakal dan kadang bersinar 40 derajat Celsius di Canberra, dan mengeringkan pakaian dengan cepat. Kala panas seperti udara pemanggangan oven dan tak ada secuilpun keringat yang keluar dari pori – pori tubuh. Kala es krim dan gelato laris manis dan bir – bir pun mengisi kafe – kafe. Kala pakaianku yang ringan dan warna – warni melayang cantik ditempa aliran udara panas. Kala aroma daging Barbie (barbeque) berlarian di udara yang kuhirup dan tawa pecah di mana – mana.

Dan ia pun pergi.

Musim gugur (Autumn) pun datang menjenguk. Mengantarkan hujan dan embun dan kadang kabut. Membuat pepohonan tertawa riang, bermain air. Dedaunan berganti warna. Tuhan sedang melukis pepohonan. Hijau daun berganti jingga, merah, kuning dan coklat. Tuhan sedang bermain air kala hujan dan kabut bermain bersama meninggalkan bercak – bercak air di mana – mana. Angin sejuk pun bertiup meninabobokan.

Musim gugur pun tiba, kala Tuhan membuat daun – daun perlahan merontokkan diri. Kala mentari begitu cantik dipandang, dan kulit sedikit sejuk. Musim gugur begitu seksi kala hujan kadang menari lincah di pagi hari.

Musim gugur pun tiba, kala mentari mulai terbenam lebih cepat. Kala jaket tipis mulai menjadi bawaan wajib di tas. Kala payung mulai setia menemani buku – bukuku.

Dan ia pun pergi.

Musim dingin pun datang menyapa, dengan jemarinya yang dingin menyentuh tiap pohon dan membuat mereka begitu telanjang dalam dingin. Pagi hari dibuka dengan lapisan es tipis di rerumputan dan angin yang kadang terlalu liar menari, membuat pakaian pun berlapis – lapis. Musim dingin adalah saat Tuhan meninabobokan kerja pepohonan guna berganti diri menjadi lebih sehat, rerumputan kering kecoklatan di hibur-Nya, kala Tuhan menahan cahaya dan membuat para warga Canberra memajukan 1 jam waktu mereka dan bersyukur untuk kehangatan diri yang dipunya. Kala Tuhan menahan semua reptil khususnya ular untuk menjauh dari Canberra.

Musim dingin, kala sarung tangan, beanie, shawl, dan boot berbagai bentuk dan warna mengisi ruang pandang kota Canberra. Kala subuh ku meringkuk hangat di bawah donna tebal dan cuek dengan suhu yang liar merayap turun di bawah 0 derajat dan berbagi pengalaman penderitaan ‘daging ayam’ yang meringkuk dalam freezer. Kala menunggu bis menjadi begitu berharga, kala 1 menit di luar begitu kuhargai. Kala tidur menjadi saat yang menyenangkan. Musim dingin, kala tagihan listrik membumbung gila – gilaan. Kala kabut tebal kadang membuat mobil – mobil kecelakaan dan membungkus rapat Canberra dalam kulkas udara dingin.

Dan sekarang aku berada di penghujungnya.

Ku bersyukur kala Tuhan mengajakku menikmati pergantian musim ini. Kala ia mengajarkanku menghitung waktu dan kesempatan yang diberikannya. Kala ia mengajakku melihat bagaimana ia sedang ‘pesta Barbie’, ‘menyirami tamannya’, melukis alam, dan juga meninabobokan mayapada.

Dan sekarang, aku sedang menikmati waktu berkebun-Nya, kala ia sedang sibuk menanam dan menumbuhkan bebungaan dan tanaman – tanaman cantik yang membuatku takjub tiap pagi kala naik bis.

Aku kan merindukan-Nya dalam setiap musim yang diberi-Nya! Selalu…

(Campbell, 22 Agustus 2009)

Cerita Sabtu ^_^

Sabtu ini adalah hari libur yang menyenangkan. Ritual pagiku dimulai dengan ‘say a little prayer’. Biasanya sih bukan yang berat sampe baca Alkitab, biasanya sih cuma bilang ‘Pagi Bapa, thanx untuk pagi ini. I love You’, tapi pagi ini aku merasakan bahwa walau tak ada kata apapun yang keluar dari mulutku, entahlah, dengan mata yang masih terkatup sedikit ngantuk, jauh di dalam hatiku, ada yang menyanyi dan itu di luar kontrol kesadaranku, dan nyanyian yang kudengar dari dalam hatiku, nyanyian yang tak bersuara adalah Nyanyian Rohani 14 “Kesukaan yang Ceria”, nyanyian itu seperti dinyanyikan beberapa bait, dan jujur aku menikmati nyanyian itu. Entahlah, tapi aku menemukan ketenangan dan energi baru dalam nyanyian itu.

Bangun pagi langsung kubereskan tempat tidur seperti biasa, mematikan pemanas ruangan dan selimut listrik. Mampir sebentar di kamar mandi. Lanjut ke dapur membuka kulkas, mengeluarkan susu. Menenggak isinya. Dilanjutkan dengan mengecek jumlah nasi di pemanas nasi. Setelah itu sibuk menimba masakan semalam berupa masakan daging sapi bumbu jintan dan tumis kangkung bumbu terasi. Selanjutnya mengeluarkan novel karya Mitch Albom dan sibuk membaca sebanyak 1 bab sambil makan pagi. Setelah semuanya usai berpindah ke perut. Ritual pagi pun selesai.

Kegiatan pun dilanjutkan dengan mandi pagi. Usai itu sibuk membersihkan kamar mandi dan toilet. Mengecek persediaan tissue toilet. Lalu sibuk mencuci secara manual lap – lap kaki dan serbet – serbet. Setelah semuanya sukses berada di gantungan. Kulanjutkan dengan sibuk membereskan kamar dan berkas – berkas kuliah, mulai dari kertas handout (fotokopi), sampai pinjaman buku cetak dari perpustakaan, yang bisa sampai 40 buku. Usai itu vacuum cleaner mulai bekerja menyedot debu – debu nakal yang hinggap di kamar tidur.

Ternyata, aku masih harus sibuk menyetrika sapu tangan sekitar 20 buah, karena aku tak begitu menyukai tissue wajah, apalagi selama winter ini, aku sangat rentan mimisan, jadi sapu tangan sangat membantu.

Setelah semuanya selesai dan aku masih juga kenyang karena aku baru bangun jam 10 yang artinya aku telah melewatkan breakfast (makan pagi) jadi aku langsung saja brunch (makanan antara breakfast dan lunch, sekitar jam 10an) dan kemungkinan tak akan lunch (makan siang) karena perutku masih kenyang. Kuaktifkan komputerku dan mulai sibuk menulis, mengecek e-mail dan hal – hal lainnya.

Sekarang ini, usai sibuk dengan komputer, aku akan melanjutkan membaca referensi untuk essai – essaiku dan juga tugas analisa lainnya. Setelah itu, kurencanakan malam ini untuk menonton sebuah film dokumenter dari PNG tentang perjuangan ibu – ibu masyarakat asli PNG yang membesarkan anak korban pemerkosaan tentara Jepang kala perang dunia II, judulnya ‘Senso Daughters”. Dan tentu saja bila masih ada waktu, kulanjutkan membaca bukunya Mitch Albom “for one more day”. Malam ini juga kuharapkan aku bisa memposting sesuatu ke blog kuliahku dan juga sebelum tidur, saat teduhku wajib hukumnya.

Aku cuma bisa bilang aku bersyukur pada Yesus yang begitu baik meminjamkan aku kesempatan hidup ini, kesempatan untuk belajar. Aku bersyukur untuk hari yang cerah ini, yang tak terlalu dingin ataupun terlalu panas. Aku bersyukur untuk keluargaku, mulai dari Bapa, Mama, kaka D, I, S dan juga keponakan – keponakan kecilku (O, J, Mu dan yang masih janin; yang kunamai ‘Eudaimonia = kebahagiaan) plus ipar – iparku dan juga mama tua penjaga J.

Aku bersyukur dikelilingi orang – orang yang mengasihiku yang membuatku menjadi aku yang sekarang ini. walau keluargaku bukanlah keluarga yang harmonis 100 % tapi aku bersyukur orang tuaku masih berada dalam ikatan pernikahan, saudara – saudaraku masih ada dan masih mau kupanggil saudara/I, keponakan – keponakanku masih mau berceloteh denganku dan juga teman – teman dan kerabat jauh dan dekat. Aku bersyukur karena masih punya beberapa teman yang masih mau mengirimku dan men-tagku di Facebook untuk melihat video, lagu ataupun note mereka ataupun membuat komentar untuk postingan note ataupun wallku. Juga yang masih sempat meluangkan waktu mereka menelponku, untuk sekedar bercerita. Tak lupa beryukur untuk mereka yang tak sempat ‘say –hi’ tapi mengingatku dalam doa mereka. Aku juga beryukur untuk mereka yang tak sejalan pandangannya denganku, yang mengritikku atapun juga membenciku, karena tanpa mereka, aku tak akan bisa seperti sekarang ini. Karena kritik, kecaman ataupun makian yang mereka beri, telah menjadi pemicu bagi diriku untuk menjadi lebih baik dan belajar bahwa setiap orang punya cerita dan sudut pandang yang berbeda dalam menyingkapi hidup.

Aku bersyukur untuk ‘lelaki hujan’ku, yang walau jauh dan terpisah dan dengan status berbeda tapi masih mau bercerita dan bertanya tentang kesehatanku, dan masih tetap mengingatkanku untuk tetap tenang dan fokus dan jangan terlalu banyak mengeluh.

Aku bersyukur untuk dosen – dosen mata kuliahku, mulai dari si Johanna yang gaya ngajarnya bikin ku jatuh cinta mati sama mata kuliah ‘Language and Society’, Si Kevin yang gaya ngajarnya tak terlalu asyik tapi sangat baik dan kooperatif dalam menilai dan selalu memberikan feedback tulisan yang sangat membantuku mengtritisi karya terjemahan dan juga tentu saja sangat bermurah hati dalam membuka pintu ruang kerjanya bila kami datang tanpa bikin janji demi berkonsultasi tugas. Juga untuk si Cindy yang kuliahnya selalu jam 4 sore dan kadang tutorialnya sampe jam 6 sore, yang kadang – kadang membuatku tertidur dan ngantuk berat di kelas tapi caranya menerangkan membuatku sedikit terhibur karena mendapatkan banyak hal baru yang tak kuketahui.

Aku bersyukur untuk teman – teman jalanku saat kuliah, mulai dari Si El yang juga teman serumahku, yang kadang suka panik karena tugas dan kadang begitu semangat berburu barang saat Thursday market di kampus, atau si V yang asli Jogja dan bersuamikan orang Australia, yang menjadi semacam konselor dan juga tutor kala ada pelajaran yang tak kumengerti plus yang suka kutanyai dan menjadi tempat curhat macam – macam tentang dosen dan kuliah. Ada juga si Hana, cewek Jepang yang suka naik sepeda, yang tampangnya kalo di Indo bisa jadi model, yang cuek bersamaku ‘mencuri’ jeruk nipis di Union Court dan sibuk memakan jeruk asam kecil – kecil itu dengan kulitnya yang tentu saja telah dibubuhi garam. Plus beberapa teman dari RRC lainnya. Teman – teman kuliah ini belum ditambah dengan teman – teman Indonesia lainnya di ANU yang kadang cuma ber-say hi, bertegur sapa atau juga sekaligus duduk menggosip ^_^

Aku beryukur untuk teman – teman serumah di Campbell yang walau kadang kami tak sejalan tapi tetap masih tetap dalam keharmonisan Campbell Family. Mereka mengajariku banyak trik – trik masak dan juga kuliah dan hal – hal lainnya, mulai dari Chef R yang jago banget masak ayam, L yang jago dengan masakan daging sapi, ataupun si El yang suka bikin sop dan produk ikan. Si Ro yang suka ingatkan untuk 'jangan tunda tugas', plus Re yang jadi partner minum anggur dan suka menyuplai persediaan anggur dan liquor. Aku bersyukur untuk mereka semua.

Aku bersyukur untuk komunitas anana Papua di Canberra, yang menjadi keluarga dan sahabat, yang membantuku tetap kuat dan tak terlalu rindu rumah. Mulai dari keluarga B*** (Oom B, mama I dll) yang tak pernah bosan menyuplaiku dan anana KOCA dengan makanan lezat, cerita – cerita dan juga musik yang mantapz plus bantuan mengantar kami pulang kalau ada kegiatan, juga oom S yang selalu memberikan masukan yang sangat mantap dalam latihan menyanyi. Juga aku bersyukur untuk anana KOCA apa Conlitra alias Komen Canberra. Mereka adalah teman dan saudara/I berbagi suka dan duka, cerita lucu dan tawa. Tak lupa pula beryukur untuk keluarga Pdt. M*** di Sydney yang tiap 2 minggu mengunjungi anana Koca dan mengadakan ibadah yang sangat membantu mengisi ruang kosong tentang pengenalan Tuhan.

Akhirnya, segala hormat, syukur, kemuliaan, dan pujian hanya bagi Bapa, Anak, dan Roh Kudus karena begitu baik dalam hidupku.

Mari mulai berhitung berkat dalam hidup!


(Canberra, 22 Agustus 2009)

Wednesday, 19 August 2009

Datang 'n Hidup! (Kala lelah menderaku)

Lelah, itu yang kurasakan; fisik dan mental. Hari ini aku berada pada titik kulminasi jenuh dan bosan plus stress dengan beban tugas – tugas. Mulai dari pagi hingga sore, aku tak bisa fokus pada kuliah. Aku bahkan mengisi jam 1 – 2 siang dengan cuek tidur di sofa lantai 4 perpustakaan Chifley. Lelah.

Sore hari usai kuliah, kusempatkan mengunjungi seorang teman di Toad Hall dan bercerita melepas uneg – uneg dan beban kuliah plus menikmati masakan daging sapinya yang lumayan enak. Usai kenyang dan puas bercerita, kurasakan sedikit lepas dan lega.

Walau cuaca malam ini suhunya agak dingin dan angin sedikit liar menari, tapi toh aku masih selamat tiba di rumah dan sibuk mengangkat jemuranku. Usai itu sibuk membereskan kamar yang penuh dengan tumpukan pakaian dan handout mata kuliah di mana – mana plus tumpukan buku. Kamarku bagai kapal pecah walau hari Minggu kemarin telah kubersihkan. Semuanya kacau, sekacau tampangku.

Kunyalakan komputer dan mengecek kriteria tugas dan lain – lain plus mengintip lembar Facebook dan kotak surat di Gmail. Lelah secara fisik dan mental. Tiba – tiba aku teringat bahwa minggu ini saat teduhku benar – benar kosong dan melompong. Aku telah berusaha mengatasi rasa stress dan tekanan ini dengan menelpon keluarga dan kerabat dan mantan pacar di Manokwari guna mengisi rasa kosong di hati tapi toh, masih saja terasa berat. Akhirnya aku sadar bahwa aku tak bisa jauh dari-Nya.

Cepat – cepat kubuka layar pemutar musik di komputerku, menyalakan perangkat musik dan lagu – lagu rohani Kristen pun mengisi ruang dengarku. Begitu menenangkan. Usai itu, kuputuskan berdoa dan bercerita tentang bebanku. Aku mendapatkan satu pembacaan di kitab Amos 5: 4, 6. Alkitab yang kubaca adalah versi Good News Bible dalam bahasa Inggris sehari – hari karena bagiku Alkitab adalah ku panduan hidupku yang bahasanya kalau bisa sesederhana mungkin untuk kupahami, dan sungguh pembacaan itu menguatkanku malam ini. Isinya seperti ini: “Come to me, and you will live”. Sebuah panggilan untuk datang pada Tuhan dan kehidupan akan kuperoleh. Pada ayat 6, panggilan itu dikonfirmasikan lagi dengan kata – kata, “Go to the Lord, and you will live.”.

Usai merenungi tentang isi Firman itu, dan berdoa dan curhat sebanyak – banyaknya pada Tuhan, kurasakan sebuah kedamaian dan energi baru untuk menghadapi hari esok. Aku percaya walau besok dari pagi jam 7 aku sudah akan keluar rumah, hingga sore menjelang, aku percaya bahwa aku akan dikuatkan-Nya karena Ia adalah pelindungku.

Aku percaya kesempatan yang diberikan-Nya untuk merasakan perbedaan sistem pendidikan di ANU, Australia adalah sebuah berkat besar dan kesempatan untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Kesempatan belajar lewat beasiswa ini bukanlah hal yang mudah dan bisa diperoleh semua orang karena tingkat persaingan yang keras, oleh karena itu aku tahu bahwa kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dan belajar sambil tetap menjadi terang dan garam.

Kesempatan belajar ini adalah sebuah kesempatan dan anugerah yang harus kusyukuri karena aku percaya bahwa Allah memberikan setiap kesempatan terbaik dalam hidup kita dan dalam titik – titik terendah hidup kita, Allah tak akan meninggalkan kita tetapi bahkan menawarkan dekapan kasihnya untuk menenangkan, menawarkan bahu-Nya untuk menggendong kita melewati saat – saat penuh tekanan seperti ini. Aku percaya bahwa saat ini adalah saat paling tepat untuk kembali mengingat bahwa hidup ini adalah sebuah anugerah dan kesempatan belajar ini adalah bukti dari apa yang dijanjikannya dalam hidupku sejak kecil; memberikan aku kesempatan mewujudkan impianku sejak kecil untuk tinggal dan belajar di luar negeri dan merasakan perbedaan budaya. Aku percaya Ia mendengar dan menjawab doa kita sesuai dengan waktu-Nya dan kehendak-Nya.

Akhirnya, aku percaya bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus begitu baik dalam hidupku, melimpahiku dengan beragam berkat dan anugerah yang tak terhitung lagi, dan tak akan pernah meninggalkanku. Satu yang pasti, aku percaya Allah akan buka jalan bagi hidupku menjadi apa yang diinginkan-Nya asalkan aku tetap FOKUS, BERSERAH, dan PERCAYA pada-Nya.

Segala hormat, kemuliaan dan syukur hanya bagi Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

(Campbell, 18 Agustus 2009)

Monday, 17 August 2009

Merdeka, penjajah, dan sejarah! (Meimosaki pun bertanya)

Hari ini tanggal 17 Agustus 2009, hari dimana Bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke 64. sebuah ekspresi pernyataan sikap bahwa mereka tak lagi berada dalam tekanan penjajahan dari pemerintah Belanda. Itu pernyataan yang dibuat pada tahun 1945 di sebuah tempat bernama Jakarta, ribuan Kilometer dari tempat ku dilahirkan; Tanah Papua.

Aku baru saja menyelesaikan sebuah program pribadiku menonton film mingguan, yang pasti bukan produk Hollywood karena aku toh bukan pecinta film Hollywood melainkan film – film independen ataupun dokumenter. Film yang baru saja selesai kunonton adalah sebuah film yang kutahu pasti masuk dalam daftar terlarang di tanah Papua dan Indonesia; sebuah film tentang tanah kelahiranku. “Land of the Morning Star”. Sebuah dokumenter yang dinarasikan dengan begitu cantik. Dan aku menontonnya pada hari ini untuk mencari makna ‘merdeka’, sebuah kata abstrak yang begitu relatif. Sebuah pertanyaan besar pun muncul di pikiranku. Sebuah pertanyaan besar yang membuatku berpikir sejak lama, tentang makna merdeka, dan seiring dengan pertambahan usia dan mulai mengeksplorasi tentang berbagai literatur dan aku bersyukur bahwa ANU (Australian National University) adalah tempat terbaik untuk belajar tentang negeriku karena ANU sekarang telah menjadi universitas terlengkap di dunia tentang Asia Pasifik apalagi Indonesian Studiesnya telah mengalahkan Cornell University di Amerika. Dan Canberra dengan segala kemudahan akses ke berbagai tempat – tempat penting termasuk Museum dan perpustakaan nasional membuatku belajar banyak tentang negeriku; sebuah surga tropis yang terlupakan.

Aku pun mulai bertanya, Siapakah orang Indonesia sebenarnya? Siapakah yang dimaksud dengan Indonesia? Apa yang dimaksud dengan ‘merdeka’? Seperti apakah kemerdekaan itu? Bagaimana implementasi kemerdekaan itu? Apakah dengan mengakui dan mendeklarasikan sebuah pernyataan ‘merdeka’ secara otomatis membuat orang lain juga menjadi bagian dari si deklarator? Apakah tak ada kemungkinan sejarah diputarbalikan ataupun disalahpersepsikan dan menjadi ‘kebenaran turun temurun yang salah tapi toh diwariskan demi menjaga kestabilan’? Apakah makna kemerdekaan telah mempunyai satu common platform di mata semua orang, khususnya para pemegang KTP dan paspor NKRI? Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di dalam batinku.

Aku bukan politikus pun bukan siapa – siapa yang berafiliasi dengan partai ataupun kepentingan siapa pun. Aku hanya seorang perempuan yang dilahirkan dengan latar belakang percampuran budaya yang bagai langit dan bumi dan bertumbuh di sebuah tempat dimana udara tropis dan bunyi ombak menjadi teman bermain di saat bersamaan aku menjadi penjelajah hutan. Aku hanya seorang yang melihat bagaimana hidupku disimpulkan dari perbedaan yang terangkai dan dijalin dalam sebuah kemandirian menjadi perempuan yang menyaksikan hal – hal unik di dunia ini dan belajar untuk mencari kebenaran identitas yang sesungguhnya. Dan bagiku, secara pribadi, aku tak pernah merasa menemukan pemahaman sebagai ‘orang Indonesia’ atau ‘siapakah orang Indonesia’, karena bagiku ‘Indonesia’ adalah sebuah label politik. Tak lebih dari itu. Karena toh, sejak kecil dan bertumbuh, dan berpindah – pindah, yang kusaksikan adalah sebuah demarkasi yang jelas antara makna ‘Indonesia’ yang dikonsepsikan di kepalaku.

Tahun ini kala kembali lagi kemerdekaan dikumandangkan dan seperti biasa, wara – wiri upacara kembali lagi dilakukan. Aku mempertanyakan apakah yang dirasakan oleh masyarakat di ujung barat negara yang bernama Indonesia sama dengan apa yang didefinisikan oleh para penduduk di sebelah timur negara ini yang kerap dilabel sebagai ‘penduduk kelas 2’ dan jutaan label derogatif lainnya? Aku kerap bertanya, apakah makna ‘merdeka’ yang dirasakan kakekku dari pihak bapak, sama dengan apa yang dipersepsikan oleh ‘tete’ dan ‘opa’ dari pihak mamaku? Apakah konsepsi mereka tentang makna merdeka pernah bertemu dalam sebuah interseksi penalaran yang sama secara politis? Aku meragukan itu.

Merdeka yang dimaknai oleh penduduk di sebelah barat negara ini pada beberapa hal akan sangat berbeda dengan apa yang dirasakan oleh orang – orang asli penghuni surga tropis yang kukenal. Karena toh, kalau mereka berbagi persepsi yang sama, mengapa hingga hari ini, bahkan pagi ini di sebuah tempat bernama Abe Pantai, sebuah “bintang Kejora” masih saja dikibarkan dan dilabel oleh sebuah Koran besar Indonesia sebagai upaya ‘penodaan’ hari keramat bangsa Indonesia. Lalu, siapa yang salah? Mungkin sudah saatnya merefleksikan dalam diri kita sendiri makna ‘merdeka’ ataupun ‘kemerdekaan’ dan ‘penjajah’ itu sendiri.

Kemarin di tempat tinggalku, bersama teman – teman serumah dan teman – teman Indonesia lainnya, aku mengikuti diskusi dan perenungan tentang makna ‘merdeka’ karena toh pasporku masih berlabel WNI. Dan kembali lagi aku mengikuti perbincangan mereka karena aku hanyalah seorang pengamat, karena toh aku tak akan pernah membicarakan pandangan politikku karena bagaimanapun hukum dasar politik yang selalu dikumandangkan dalam mata kuliah ‘pengantar Politik’ adalah ‘There is no eternal friend nor enemy in politics, what we have is eternal interest’. Dan kembali lagi aku melihat banyak keambiguan yang muncul.

Satu topik yang hangat yang dibahas yang dibawa oleh seorang petinggi dari Departemen Pertahanan yang kebetulan beliau bersekolah di ADFA (Australian Defense Force Academy) adalah pengakuan kemerdekaan Indonesia. Beliau mengatakan bahwa negara luar khususnya negara – negara barat cenderung tak mengakui kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945 dan berkata bahwa yang diakui adalah tanggal 27 Desember 1949 (silahkan baca buku sejarah NKRI untuk mencari arti dari tanggal itu), tapi bangsa Indonesia dengan kebulatan tekad mengatakan bahwa 170845 adalah harga mati bagi NKRI. Usai itu tak beberapa lama, seorang teman berkisah bahwa ia pernah mengunjungi museum arsip Nasional di bilangan kota, Jakarta dan mendapatkan sebuah kliping Koran tahun 1948 yang berkisah tentang insiden di Banda Neira atau Maluku yang tertulis “terjadi perkelahian antara bangsa Maluku dan bangsa Makassar” dll. Yang menjadi pemikiranku, bila hingga tahun 1948 saja masih ada kesimpangsiuran tentang pengertian ‘bangsa’, lalu siapakah ‘bangsa Indonesia’ yang dimaksudkan dalam proklamasi yang dibacakan tahun 1945 oleh Sukarno?

Aku masih punya banyak pertanyaan menggelitik tentang makna kemerdekaan karena aku perempuan yang dilahirkan di Tanah Papua dan kata ‘merdeka’ bila salah diucapkan di tempatku bisa membuat para pengucapnya meringkuk di penjara ataupun masuk daftar hitam di tangan para intelijen yang beredar di mana – mana; mulai dari menyamar sebagai pedagang, tukang ojek ataupun yang sekedar meng-add orang – orang di daftar Facebook.

Aku mempertanyakan apakah kala proklamasi tahun 1945 ataupun sumpah pemuda 1928 itu, ada seorang Papua yang hadir dan turut serta dalam setiap momen pembentukan negara ini? Apakah sumpah ‘amukti Palapa’ yang dikumandangkan Gajah Mada yang mengatakan bahwa ia akan menyatukan nusantara dan secara eksplisit diyakini para sejarahwan bangsa ini bahwa tanah Papua termasuk di dalamnya karena laporan para penjelajah Majapahit yang menyatakan melihat gunung salju dan pulau di timur jauh dan menyatakannya sebagai bagian dari kerajaan itu, adalah bukti bahwa tanah Papua adalah bagian dari cikal bakal NKRI? Kalau merujuk ‘sumpah Amukti Palapa’ maka argumentasi itu akan menjadi begitu lemah karena toh, analoginya adalah apabila aku membeli ataupun mengontrak rumah di Canberra, bukan berarti aku memiliki Canberra.

Banyak hal yang perlu dibereskan oleh para petinggi negara ini dan juga penduduk Papua dalam mendeskripsikan makna ‘merdeka’ hingga tak perlu lagi ada pertumpahan darah di tanah Papua karna satu kata abstrak bernama ‘merdeka’. Kala pemerintah dan militer negara ini mempersepsikan kata ‘merdeka’ yang dipahami sebagai lepasnya ikatan penjajahan dari pemerintah Belanda, maka orang – orang Papua lama termasuk para leluhurku dan opa omaku akan mengartikannya sebagai hal yang berbeda, karena bagi mereka, pemerintah Belanda telah banyak berjasa dalam mempersatukan orang Papua dan memberi pendidikan dasar dan juga upaya – upaya dokumentasi kebudayaan Papua. Sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang mereka lihat tentang pemerintah Indonesia pada tahun 1960an.

Makna ‘merdeka’ menjadi begitu relatif. Kala para sejarahwan RI akan dengan kukuh mengatakan bahwa tanah Papua adalah bagian integral dari NKRI karena berada di bawah pemerintahan kesultanan Ternate dan Tidore sehingga secara otomatis saat Maluku menjadi bagian dari NKRI, maka tanah Papua akan menjadi bagian tak terpisahkan dari NKRI. Yang menjadi pertanyaan, apakah tanah Papua adalah bagian administrasi dari kesultanan Ternate – Tidore ataukah hanya daerah operasi pencarian budak dan kekayaan alam seperti Cendrawasih dan damar?

Makna merdeka dan memerdekakan diri dari penjajahan menjadi begitu absurd, karena konsep merdeka yang abstrak sangat sulit dideskripsikan, saat kita masih bingung menetapkan siapa ‘penjajah’ kita. Di era kemerdekaan, para pejuang NKRI yang melawan Belanda melabel bangsa kulit putih itu sebagai perampas kemerdekaan hidup dan hak hidup mereka dan harus dihancurkan dengan kekuatan senjata, itu persepsi mereka. Pada saat yang sama, pada masa awal 1960an di tanah Papua, kala Sukarno dengan gencar menyerukan Trikora dan membakar semangat muda – mudi di belahan barat Indonesia untuk menggagalkan pemerintahan negara boneka Belanda di ‘Irian Barat’… di sebuah tempat bernama Manokwari, angkatan opa – omaku dan juga mamaku serta tete – neneku (gelar kakek nenek di kalangan masyarakat Papua) melihat sepak terjang tentara Divisi Siliwangi yang masuk mengobrak – abrik rumah dan menempelkan pistol di kening mamaku yang berumur 5 tahun bukanlah suatu tindakan pejuang yang membela kepentingan rakyat yang ‘dikatakan bangsa Indonesia’. Ataupun iring – iringan para tentara yang menjarah rumah – rumah bekas tinggalan orang Belanda ataupun penduduk Papua yang mengungsi ke hutan karena takut dibedil. Konsep merdeka dan penjajah menjadi kabur dan absurd; siapa ‘rakyat’ dan siapa ‘penjajah’?

Sudah saatnya sejarah menjadi pelajaran yang menyenangkan untuk diuji kebenarannya karena sejarah adalah satu mata kuliah yang sangat absurd, kala politik, kekuasaan, dan ekonomi menjadi faktor pemicunya. Sejarah dibuat demi melanggengkan siapa yang berkuasa, sejarah tetap menjadi sejarah hingga orang – orang yang mengalaminya dan mempunyai bukti – bukti fisik menunjukan diri.

Mungkin aku bukanlah orang yang bisa menyusun pemikiranku secara runut. Tapi berbicara tentang sejarah ini, entahlah mengapa aku tiba – tiba berpikir tentang Cenderawasih. Pernahkah ada yang berpikir mengapa Cenderawasih dilabel sebagai ‘bird of paradise’? Mungkin hanya sedikit yang tahu sejarah atau pernah membaca sejarahnya, tapi kalau anda melirik sebuah buku yang berkisah tentang sejarah Ternate dan Tidore, sebuah laporan sejarah dan perjalanan yang ditulis seorang Belanda apa Portugis antara era 1600 – 1800an dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Indonesia, dan sewaktu masa awal perkuliahanku, kala begitu terpesona mengeksplorasi perpustakaan kampus dan mendapati sebuah buku tua, aku begitu terkesima. Dan buku itu memberi banyak jawaban keingintahuanku tentang mengapa ada beberapa teman Maluku di Manado yang mirip dengan orang Papua ataupun orang Papua yang mirip seperti orang Maluku.

Kembali lagi ke topik Cenderawasih, burung itu dilabel sebagai burung surga karena pada awal pelayaran budak dan perdagangan yang dilakukan oleh kesultanan Tidore, komoditas unggulan saat itu adalah budak dan burung kuning. Burung Cenderawasih yang dijual adalah burung awetan yang dikeringkan dan dipotong kakinya. Itulah sebabnya para ‘bule’ pembeli begitu terpesona dan berasumsi bahwa burung ini yang tak mempunyai kaki adalah sebuah fantasi yang dimanifestasikan dalam bentuk nyata, itulah sebabnya lahir kata ‘burung surga’.

Lalu apa hubungan sejarah Ternate dan tanah Papua dan makna kemerdekaan? Mungkin kita adalah bangsa pelupa dan pemaaf sehingga banyak sejarah bangsa ini yang terlupakan dan tak dikaji dengan baik. Sehingga akar pemasalahan yang hanya ‘sekecil tai kuku’ tapi dibiarkan tertinggal dalam ‘luka iris’ toh makin lama akan menginfeksi dan menjadi ‘borok’ besar yang disebut ‘wepambok’ ataupun ‘lupus’ (luka pusaka). Dengan mempelajari sejarah Ternate dengan baik dan relevansinya dengan isu merdeka dan integrasi - disintegrasi, dan melihat esensinya dengan tepat, kita akan menemukan jawaban mengapa hingga saat ini kata ‘merdeka’ masih tetap menjadi satu kata ‘sakti’ di tanah kelahiranku; kata yang mengikat persatuan ‘anana tanah’ atau kata yang pada satu sisi dapat ‘menjerumuskan’ mereka ke dalam pengadilan yang ambigu dan berakhir di penjara.

Mungkin sejarah begitu menakutkan bagi banyak petinggi negara ini, dan juga sebaliknya sangat menyakitkan bagi para orang tua dan orang – orang asli di tanah kelahiranku. Sebuah persepsi ‘merdeka’ yang relatif, yang tergantung dari sisi mana, dengan apa, bagaimana, siapa yang melihatnya begitu menyesakkan dada karena bila salah diucapkan pada momen dan tempat yang salah, maka ‘maut’ pun distempel secara kasat mata dalam diri pengucap.

Kembali lagi dalam sejarah Ternate dan Tidore, buku itu membuka mataku dan menjadi salah satu titik awalku mempelajari sejarah diri dan juga makna ‘merdeka’ dalam diriku. Dalam buku itu, aku begitu terkesiap bahwa perdagangan budak pada era 1600 – 1800 menjadi salah satu alasan pelayaran Hongi dan ‘impor budak’ ke kepulauan Maluku, yang pada waktu budak di sana BUKANLAH budak dari bagian barat Indonesia seperti yang banyak dipercayai banyak orang yang tak membaca banyak buku sejarah, tapi ribuan penduduk suku – suku dari sebuah surga tropis bernama Papua yang ditawan dan dipindahkan untuk menggarap perkebunan – perkebunan Maluku dan sejarah mencatat, aku masih ingat sebuah estimasi angka yang dipaparkan dalam buku itu berdasarkan manuskrip – manuskrip perdagangan VOC dan Portugis bahwa hampir 10. 000 orang Papua pada masa kejayaan rempah – rempah menjadi budak perkebunan dan sejarah mencatat bahwa ‘mereka’ tak pernah kembali ke tanah Papua dan menetap di sana. Tak heran apabila ada penduduk kepulauan Maluku yang apabila dikaji bahasanya dengan menggunakan historical linguistics akan dilihat bentuk proto dari bahasa yang sama dengan beberapa bahasa suku di Papua.

Tapi sejarah tetap adalah sejarah, dengan mempelajari sejarah, maka kita bisa memaknai jati diri kita dan memaknai apa yang kita inginkan ke depan dan mau dibawa kemana diri kita. Karena aku toh tak punya hak menghakimi tentang perbudakan di era rempah – rempah di masa lalu karena apabila tak ada hal itu, maka aku juga tak akan pernah dilahirkan karena sejarah kekuargaku mencatat bahwa oyang mamaku yang suku Biak tak akan pernah bisa sampai di Manokwari dan berbaur dengan masyarakat Arfak apabila tak ada pelayaran perahu ‘ponsauw’ guna pembayaran upeti ke sultan Tidore dan ekses dari habisnya bahan makanan mereka membuat terjadinya kontak dengan penduduk lokal pegunungan Manokwari dan membuat oyangku menjadi jaminan bagi rombongan pelayaran mereka agar bisa bertahan hidup dan pulang ke Numfoor.

Aku belajar banyak bahwa sejarah adalah guru yang terbaik dalam merumuskan diri sendiri, jati diri pribadi dan langkah ke masa depan. Aku belajar banyak lewat sejarah keluargaku yang terakumulasi dari banyak hal dan perpaduan kebudayaan yang berbeda, belajar banyak tentang sejarah yang membentuk karakter diri dan pencapaian masa kini. Aku tak akan ada di sini sebagai perempuan dengan kemampuan mobilitas yang gemar berpindah dan menjelajah apabila subtansi itu tak ada dalam struktur genetikku. Aku percaya semua individu mewarisi rekaman subtansi masa lalu yang diwariskan kasat mata dalam diri pribadi dan menjadi kekuatan untuk menapaki masa depan. Dengan mengenalinya, maka kita bisa berpikir tentang masa depan dan identitas diri pribadi.

Aku belajar banyak tentang makna ‘merdeka’ lewat perjalanan sejarah moyang laki - lakiku dari pihak mama yang berpindah dari sebuah kampung di Biak Utara/ Barat ke Numfoor dan kemudian ke Manokwari, berasimilasi dengan penduduk asli Arfak di Manokwari, belajar banyak tentang pergantian fam dalam sejarah hidup moyang laki – lakiku, dari ‘S***’ ke ‘M***’ ke ‘M***’, belajar tentang makna merdeka dari perjalanan hidup opa dan oma angkatku dari pihak mama; tentang pergantian fam opa dari ‘W***’ menjadi ‘T***’ (karena hal pernikahan), belajar banyak tentang sejarah akulturasi kakek – nenekku dari pihak bapak, yang mana sejarah kampung nenek adalah akibat perpindahan sebuah kelompok masyarakat Sunda Pesisir yang dipimpin oyangku (kakeknya nenek) membuka hutan dan memberantas bromocorah (perampok dan pejagal dll) di perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat dan akhirnya menetap di daerah Jawa Tengah. Aku belajar banyak dari sejarah mereka; para leluhur yang membentukku menjadi aku sekarang ini.

Akhirnya makna merdeka menjadi hal yang sangat relatif, tapi satu yang pasti; sejarah adalah guru terbaik terlepas dari kenisbiannya. Sudah saatnya melihat dan mengkaji sejarah dengan baik tapi toh, pada akhirnya keputusan individulah yang menentukan dibawa kemana sejarah diri dan identitas diri guna membentuk sejarah dalam konteks lebih luas dan makro.

Aku rindu suatu saat di tanah Papua, kala semua penduduk Papua;, Papua dan Non- Papua duduk bersama dan mendiskusikan sejarah tanah ini dari sudut pandang humanitas, dari sudut pandang kedamaian dan bersama mencari titik temu makna ‘merdeka’ dan ‘penjajah’. Melepas semua atribut suku, agama, kepentingan pribadi, politik dan cinta diri sendiri, bersama – sama merumuskan dan berbicara dari hati ke hati tentang makna tertindas, diskriminasi, dan ketidakadilan dan mencari jalan keluar yang bahagia bagi semua pihak. Bersama – sama melihat musuh bersama; the common enemies yang adalah kemiskinan, kapitalisme, kurangnya keahlian dasar (basic life skills), pemanasan global, kehancuran lingkungan, kurangnya kesetaraan perempuan, gizi buruk, kecanduan minuman keras, dan HIV/ AIDS. Sudah saatnya para non – Papua melihat dan bersama belajar tentang sejarah tanah ini dan mengakui tentang luka – luka lama yang ditimbulkan oleh kontak yang dipicu oleh kekuasaan militer, dan juga saatnya ‘anana Tana’ belajar mengampuni dan melihat langkah – langkah ke depan yang terbaik bagi kedua belah pihak. Sudah saatnya ‘merdeka’ yang dimaknai oleh ‘orang pante’ dimaknai esensinya sama dengan yang dibicarakan ‘orang gunung’. Sudah saatnya Papua menjadi surga tropis yang memancarkan kedamaian karena keindahannya.

Sejarah menuliskan, mencoretkan, mengumandangkan banyak cerita tentang makna merdeka, terlalu banyak darah yang tertumpah dan disaksikan alam Papua. Sudah saatnya merenungi makna merdeka yang sesungguhnya, senisbi apapun definisinya, yang pasti di sana, ada perasaan bebas dari ikatan – ikatan dan tekanan yang mendukakan hati, kala sukacita hadir di dalam diri dan Tuhan begitu dekat di hati.

(Menzies Library, ANU/ Canberra, 17 Agustus 2009)

Friday, 14 August 2009

Aroma tanah Surga

Hari ini burung – burung tak menampakkan diri mereka. Kabut tebal mengisi sudut -sudut Canberra yang kulewati. Tawa riang burung pagi telah pergi berbaur dengan suhu 3 derajat Celsius. Dan aku kedinginan.

Sambil menyusuri pertokoan dan beberapa bangunan tua di Civic, kuteringat sebuah surga tropis yang terlupakan. Sebuah tempat di mana aku lahir dan dibesarkan dan dininabobokan keindahan alam yang tiada taranya. Tiba – tiba aku rindu bau tanah yang kerap mengisi mimpiku. Bau tanah sehabis hujan. Lembab, basah, dan beraroma. Aku rindu aroma tanah itu sejak November 2008. Sudah hampir 1 tahun.

Rasa rindu akan tanah itu kurasakan juga kemarin, kala mengenang surga tropis yang terlupakan. Kala bangun pagi dan harus bergegas ke tempat ngajar. Jam 7 pagi saat menerobos jalan kecil menuju perhentian bus, dan semburat mentari pagi mengisi pandangan lensa mataku, diiringi bunyi Kakatua dan Nuri beraneka warna. Aku rindu Papua.

Beberapa hari ini rasa rindu itu tak tertahankan, mengendap dalam mimpi – mimpiku dan membuatku terbangun kala subuh beberapa kali. Mengingat keindahan dan kedamaian yang kurasakan di sana. Walau Canberra juga sesunyi Manokwari dan penuh pepohonan, tapi ada yang hilang dari hujan di sini, dari alam di sini; aroma tanah yang segar, yang lembab. Aku rindu pulang.

Aroma tanah yang kukenal adalah tanah yang lembab, basah, dan segar. Tanah yang begitu seksi kuhirup masuk dalam paru – paruku. Apakah karena berabad yang lalu aku hanyalah tanah hingga kehadirannya begitu dekat dengan aku? Entahlah … yang kutahu aku rindu aroma tanah itu.

Tapi akhir – akhir ini, aroma tanah yang kucium tak lagi sama, ataukah aku saja yang bermimpi mendapat aroma tanah yang segar dari sebuah surga tropis yang terlupakan? Entahlah. Karena aroma tanah yang kuendus lewat panca inderaku bukan hanya tanah yang sama dengan apa yang kupersepsikan, karena banyak aroma lain yang merasuk, menyusup, membuyarkan impianku tentang tanah yang segar. Membuyarkanku tentang aroma surga yang tersimpan dan termaterai dalam tanah.

Surga tropis itu telah lama menyimpan bau darah kental yang membusuk, mengering dan kadang terendus hidungku. Aroma segar tanah itu kadang mengeluarkan aroma kebencian dan pertikaian dan keserakahan yang terbungkus aroma segar dedaunan, seakan – akan hanya kesegaran yang ada. Aroma tanah itu kadang berbaur dan menghembuskan aroma cinta diri sendiri dan prasangka tanpa dasar hanya karena aroma tubuh, warna kulit, jenis rambut yang berbeda. Aroma tanah itu kadang membuatku menyadari bahwa ada bom waktu yang tertanam di dalam tanah itu yang siap – siap untuk meledak suatu saat; aroma pertikaian antaretnis, aroma diskriminasi dan syak wasangka tanpa dasar.

Aku masih tetap melihat aroma ketidakadilan di surga tropis itu. Saat setiap diri kita memunculkan pertentangan dan berpikir bahwa kitalah yang terbaik, saat penghuni – penghuni surga itu mulai membuat faksi – faksi mereka. Saat penghuni – penghuni hutan mulai berpikir bahwa mereka harus berbicara, bersuara dan bersaing. Dan lupa … bahwa mereka ada di surga itu untuk memainkan nada surga yang menenangkan jiwa. Saat Kakatua berpikir bahwa ia lebih baik dan layak untuk hidup di hutan surga dan mulai menindas Cendrawasih. Saat Cendrawasih bersuara namun lupa akan kewajibannya menyebarkan benih – benih pepohonan yang kelak menjadi menjadi buah – buah kasih. Kakatua dan Cendrawasih lupa bahwa mereka ada di surga tropis untuk saling mendukung, saling membantu, saling mengisi kekurangan. Saling berbagi.

Kakatua dan cendrawasih pun bersaing, bertengkar, dan bertikai. Bebijian milik cendrawasih diserang Kakatua tanpa ampun, dirampok. Anak – anak Kakatua pun dikurangi pakannya oleh cendrawasih. Mereka pun larut dalam pertikaian kasat mata yang mulai mengental, dan membumi bersama aroma tanah yang kukenal.

Andai saja mereka sadar bahwa aroma tanah itu bukanlah aroma penuh kebencian, pertikaian dan cinta diri sendiri. Andai saja kakatua dan cendrawasih sadar dan mau berbagi dengan lebih adil sambil bahu – membahu melindungi hak mereka dan menjaga surga tropis ini. Andai saja Kakatua dan Cendrawasih sadar bahwa musuh mereka yang sebenarnya adalah si ular putih bernama keserakahan, cinta diri sendiri dan kapitalisme. Andai saja mereka sadar bahwa si pemanasan global akan menghampiri mereka pabila mereka tak sigap berkelit. Andai saja Kakatua tak lagi egois dan membusungkan dada dan berkaok – kaok sombong. Andai saja Cendrawasih tak lagi sibuk memamerkan keindahan bulu – bulunya dan lupa tanggungjawabnya. Andai saja aroma tanah yang kukenal akan kembali lagi sama, saat aroma Tuhan hadir dalam surga tropis yang terlupakan.

(Canberra, 14 Agustus 2009)

Lelaki tanpa status

Kubertemu mereka dalam banyak kesempatan. Berjabat tangan, bercanda ria, tertawa terbahak – bahak. Menikmati waktu bersama mereka, berkisah tentang banyak hal, berdebat tentang hal – hal sepele dan lebur dalam olok – olokan.

Kubertemu mereka dalam berbagai kesempatan. Berpapasan di jalan, berbagi kabar singkat lewat telepon, lewat tanya di ujung SMS, dan juga tuturan lewat barisan di ruang obrolan di internet. Bertukar pandang, memalingkan muka dan terbenam dalam diam.

Kubertemu mereka dalam dunia yang berbeda, waktu yang berbeda, dan setting yang berbeda namun dengan plot yang sama; kisah tanpa akhir, tanpa pangkal dan ujung.

Kubertemu mereka dalam tawa, tangis, candaan dan olok – olokan serta makian. Ku bertemu dan bercengkrama dengan mereka, bertukar kisah, menertawakan permainan nasib yang entah semakin gila ataukah semakin waras. Entahlah .. aku tak tahu.

Ku bertemu mereka, lagi dan lagi. Dalam labirin ketidaktahuan, menjadi tahu dan menjadi sadar.

Ku bertemu mereka dalam ada dan tiada, antara mimpi dan terjagaku.

Kubertemu mereka lagi
Di persimpangan jalan
Usai hujan pagi hari
Di lampu merah kehidupan

Mereka … lelaki tanpa status!!!



(Canberra, 14 Agustus 2009)

Note: Untuk ‘lelaki hujan’ dan ‘pria lebahku’

Monday, 10 August 2009

Untuk Paradisaea raggiana

Untuk seorang Paradisaea raggiana yang kurindukan,

Bulan merangkak perlahan di ujung – ujung pohon – pohon Beerch yang meranggas. Dari ujung danau, bayangnya yang panjang menyisakan garis cahaya yang panjang di kulit air. Sayup – sayur suara opossum yang menguyah serangga – serangga kecil mengisi ruang dengarku, berdenyut, berdentang keras bagai suara lonceng kecil di ujung – ujung sudut gereja di sebuah kampung beribu mil di atas benua ini.

Bulan yang kulihat masih sama, masih tampak angkuh dengan pesonanya yang disaput arak – arakan mega yang berarak kelam. Tak berwarna merah muda ataupun hitam, tak cantik namun tak pula buruk. Masih sama, dengan pandangan angkuh mencemoohku.

Angin musim dingin kembali lagi berdesir kencang dan aku tiba – tiba mengingatnya. Mengingat dia yang jauh di sana. Mengingat dia yang entah masih hidup, telah hilang ataukah masih ada. Mengingat keindahannya kala bernyanyi bersamaku, bercerita tentang pohon – pohon, biji – bijian, dedaunan ataupun serangga – serangga kecil. Mengenang kala bermain bersama dalam bentangan rimba dan rimbunan pohon, menentang angin dan mentari. Berteriak kencang bertaruh menangkap ikan – ikan nakal yang mengganggu kami. Berlari mengejar dan membelai angin yang menggoda. Aku rindu dia.

Telah lama kutak berjumpa, sejak masa kanak – kanak kami. Sejak kunjungan terakhirku padanya. Sewaktu kecil, hanya cerita indah yang kami dengar tentang keindahan mayapada yang kami miliki. Saat para tetua mengajari kami untuk berjalan dan terbang, melompat dan bernyanyi. Saat bumi masih menjadi sumber mata air dan bukannya air mata. Kala kami masih menari lincah menggerakkan tubuh kami tanpa beban, bukan karena sebuah keharusan ataupun tekanan, tapi karena kami begitu bahagia tinggal dalam surga tropis.

Malam ini, angin musim dingin bertiup lagi membawa suhu terjun indah ke titik 0, hingga aku kebingungan tentang sensasi panas dan dingin yang begitu tipis. Tapi aku bersyukur untuk bulu – bulu yang menghangatkan ini, yang membuatku hidup dengan bahagia di sini.

Ku teringat dia yang jauh di sana. Apakah ia sanggup melawan semua tekanan di hari –hari yang kejam ini? Apakah ia sanggup melawan sepak terjang kerakusan mereka? Apakah ia masih bisa bercerita pada bumi dan bermain bersamanya saat hari begitu panas? Entahlah aku tak tahu.

Kecantikannya membuat dia dan sahabat – sahabatku yang lain hidup dalam sebuah paradoks surgawi. Bermandikan emas tetapi mendulang air mata. Membungkam nyanyian mereka dan bersembunyi dari hangatnya mentari. Menjual impian indah anak cucu mereka demi sebuah harga diri bernama ‘hidup’. Hidup adalah perjuangan dan aku paham itu, sebuah perjuangan yang menguras air mata.

Terakhir kali aku bertemu dia, ia menangis padaku dan berkisah. Kala suara dan teriakannya, jeritan dan kemarahannya hanya dibalas dengan sebuah ketidakpedulian. Sat raungan mesin – mesin besi itu memorak – porandakan rumah leluhurnya. Bayi – bayi jatuh dari rumah mereka, digilas tapak – tapak kaki serakah. Anak – anaknya ditangkap dan dirantai, dipenjara. Dipertontonkan dalam ketelanjangan mereka sambil menahan lapar. Tak ada lagi rumah yang hangat, tak ada lagi nyanyian, tak ada lagi senda gurau.

Sahabat – sahabatnya meronta menangis kala dipaksa pergi, terpisah dari kerabat mereka. Keindahan mereka membawa derita, membawa kematian. Jerit kematian berhembus di udara, memainkan melodi melankolis di gendang siputku, memaksaku terbangun dari mimpi indahku dan berteriak, “kenapa?”

Aku rindu dia, rindu tawa dan nyanyiannya. Rindu godaannya yang memikat hati. Andai saja mereka mengerti apa yang kurasakan.

Seorang sahabat telah pergi, masih ada, ataukah telah hilang, aku tak tahu. Tapi yang aku tahu, rumahnya sekarang telah dirampok, dijarah, dihancurkan. Entah kapan akan kembali seperti dulu kala. Satu yang pasti, semua tak sama, tak pernah sama lagi.

Karena aku, C. Galerita, akan selalu mengingatnya.



(Canberra/ 10 Agustus 2009)

Notes: Terinspirasi oleh keindahan burung – burung di Canberra dan membuatku teringat nasib ‘saudara’ mereka yang jauh di sana. The beauty in the brokenness.

Sunday, 2 August 2009

Malaikat bermobil putih (My reflection on prayer)

Sambil mendengarkan nyanyian dari CD Glasgow Choir hasil buruan di Salvos store, tiba – tiba aku teringat pada beberapa kejadian beberapa hari belakangan ini, yang sekali lagi mengingatkan aku bahwa aku begitu diberkati. Dan tulisanku kali ini, sebagai seorang Kristen, bercerita tentang yang namanya DOA.

Kata ‘doa’ atau berdoa mungkin sudah jadi sesuatu yang sangat umum bagi telinga orang Kristen, bahkan doa dikatakan sebagai ‘nafas hidup orang Kristen’. Dan pada prinsipnya, doa adalah cara kiat berkomunikasi dengan Tuhan, untuk tetap ‘keep in touch’. Bahkan sewaktu masih SD dan aktif di sekolah Minggu, ada satu perkataan pengasuh sekolah mingguku yang kerap bikin kuiz tentang berapa nomor telponnya Tuhan di Alkitab dan spontan aku dan teman – teman pasti menjawab ‘Matius 6: 9 – 13”. Sewaktu SMK di Jayapura, aku malah mendapatkan perpaduan angka yang mengingatkan tentang doa yaitu ‘73545’. Ini sebenarnya cara menulis nama Yesus memakai angka ^_^

Yang pasti, aku percaya bahwa doa adalah cara berbicara dengan Tuhan, dan berdoa kepada Bapa dengan perantaraan Yesus, dan akhir – akhir ini, jujur aku merasakan ketenangan yang besar dari Yesus saat berdoa, banyak hal yang kualami dalam hal berdoa, khususnya mendengar suara Tuhan. Aku tak berbicara dalam konsep suara audible yang berbicara dengan suara manusia, tapi dengan suara dalam hati yang berbicara padaku dan sering saat kuberbicara dan mempertanyakan sesuatu, apalagi kalo lagi ada masalah, ‘suara dalam hati’ itu tiba – tiba bisa gencar berbicara. Tapi yang pasti, semua suara itu membuatku tenang dan memberikan jalan keluar. Tak pernah ada penuduhan. Tak pernah membuatku merasa bersalah tetapi memberikan penghiburan. Aku tahu banyak orang yang skeptis saat ada orang yang berbicara tentang mendengarkan ‘suara Tuhan’, ataupun juga suara yang lain, karena banyak yang berpikir ‘ah itu kan bisa saja cuma penderita skisofrenia dll’. Secara pribadi, aku percaya dalam konsep Trinitas Kekristenan, saat akhir jaman ini, Roh Kuduslah yang berperan banyak bagi manusia, yang berbicara untuk menghibur, menguatkan tetapi juga menegur.

Ada beberapa kejadian beberapa hari ini yang membuatku membuat tulisan ini. Bukan untuk memuji diri atau apalah, tapi ingin berbagi bahwa Allah selalu menjawab doa kita ‘tepat pada Waktu-Nya’ berdasarkan kehendak-Nya. Aku mengalami banyak hal akhir – akhir ini yang membuatku sadar bahwa aku begitu kecil dibandingkan kemahakuasaan Tuhan TAPI nyatanya Ia begitu peduli padaku. Kiranya segala kemuliaan, hormat, dan pujian bagi Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Kisahku kubagi dalam sub-bagian, yang kuberi judul ‘Malaikat bermobil putih’ dan ‘Dia tahu … (dimana tiket bisku)!’

#1. Malaikat bermobil putih

Malam itu, hari Jumat 31 Juli 2009, usai sibuk berberes kamar dan sedikit kecapaian usai kuliah dan belanja beberapa item barang bekas di Salvos Store, plus sibuk menyiapkan makan malam, sekitar pukul 7 malam, kulihat layar telepon genggamku menampakkan pesan dari seorang kakak Papua tentang latihan menyanyi untuk ibadah dan penggalangan dana.

Malam itu, kondisi kesehatanku sedang menurun karena sejak kamis malam, mata kakiku bengkak karena terkilir. Kondisiku sih sebenarnya karena beberapa hari berjalan jauh memakai alas kaki yang tak baik bagi kesehatanku (sepatu boot kulit). Sebenarnya sih ini kesalahanku juga karena 3 hari berturut – turut kakiku kecapaian berjalan jauh, dimulai dari Selasa sore tersesat kedinginan bersama seorang teman selama 45 menit menyusuri pinggiran danau guna mencari KBRI karena harus menghadiri rapat guru bantu, Rabu dan Kamis pagi berjalan kaki cepat, dengan durasi 30 menit ke Civic jam 6.30 pagi menembus suhu dingin 0 derajat Celsius yang sedikit berangin guna mengejar bis pertama ke tempat kerja di sebuah SD di kawasan paling selatan dari Canberra (jarak tempuh bis sekitar 1 jam dari kota).

Akumulasi rasa capek dan nyeri akibat gesekan sepatu boot membuat peradangan pada mata kakiku, hingga kamis malam aku terpaksa menelan beberapa butir tablet pereda sakit dan anti peradangan, tentu saja disertai dengan perendaman air panas, pemijatan, dan juga pemanasan di depan heater. Sakit ini, khususnya rasa nyeri, membuatku sedikit lemas karena tak cukup tidur. Jadi hari Jumat itu aku kembali memakai tongkat ke kampus dan mengganti alas sepatu dengan sandal gunung yang alasnya dirancang sesuai kontur telapak kaki.

Jumat malam itu, cuaca lumayan dingin, di bawah 10 derajat dan berangin. Jam di HPku telah lewat pukul 7 dan bis berikut menuju Civic sekitar pukul 7. 44 p.m. sekitar pukul 7. 30 p.m., aku telah siap menunggu di bus stop tanpa atap berbentuk kursi taman di depan mata jalan potong, sekitar 7 menit jalan kaki dari rumah. Suasana jalan yang begitu gelap dengan lampu jalan yang menggunakan solar cell di kejauhan rupanya tak begitu sukses menunjukkan penampakanku. Membunuh waktu, kubuka HPku dan mengecek akun Facebookku dan juga membaca berita, tentu saja sambil ‘dugem’ (duduk gemetar), apalagi aku hanya memakai sweater ungu dan vest orange plus sarung tangan, minus shawl dan beanie ataupun jaket. Satu dua mobil berlari kencang memberi secercah cahaya di malam gelap. Canberra yang pada dasarnya adalah kota (city) paling sunyi di Australia semakin sunyi di suburb pada malam – malam musim dingin.

Sambil duduk dan menyampirkan tongkatku di bangku kayu, aku melirik jam di HPku, waktu beranjak mendekati pukul 7.44 a.m, tapi belum tampak bis akan datang, aku mulai gelisah. Apakah perlu menelpon para senior Papua untuk menjemputku? Tapi kutepis pikiran itu. ‘Bukankah naik bis masih bisa kulakukan, jadi kenapa harus merepotkan orang lain?’, pikirku. Sambil menahan nyeri, kulirik lagi jam di HP. Dalam keadaan dingin, aku pun bicara dalam hati begini: “Yesus, sa mo pi latihan ini, tapi macam trada bis ka ini. Adoooh ini dingin sekali. Sa tra sanggup kalo jalan kaki ke Civic abis sa pu kaki ada sakit nih. Baru bis nih macam de tra ada penampakan nih. Yesus, sa pu latihan nih su mulai kapa nih, sa mungkin terlambat kapa, tapi sa ingin pergi. Yesus, tolong buka jalan ka. Sa betul – betul tra sanggup sekali ooooo untuk jalan.”.

Sambil bicara begitu, aku mencoba menepis rasa nyeri di kakiku, sambil duduk menatap jalan menatap ke arah kanan, arah bis akan datang. Masih gemetaran menahan terpaan angin, aku sempat berpikir apa harus menyerah dan pulang saja ke rumah dan membatalkan niat ikut latihan, toh aku tak ada tugas dalam ibadah hari Sabtu. Tiba – tiba, sebuah suara perempuan berteriak mengagetkanku. Sebuah mobil berwarna terang, berhenti sekitar 3 meter dari bangkuku, di sisi kiri jalan. ‘Hei, do you need a lift to go to somewhere else?’, kira – kira begitu suara seorang perempuan itu yang kutangkap dari teriakannya. Dengan cuek aku duduk dan tak bereaksi, kupikir pengemudi mobil itu sedang berbicara dengan seorang lain, karena ia berhenti di mata jalan beberapa unit rumah di sebelah kiri jalan dekat Ovale. Aku juga tak mengambil pusing karena takut mungkin saja pengemudinya sedang mabuk. Aku kembali mengecek jam di HP, ‘sudah 2 menit lewat nih, tapi tak ada penampakan bis, padahal biasanya lebih awal 5 – 10 menit’, ujarku lagi dalam hati.

Mobil berwarna terang, yang akhirnya kukenali ternyata berwarna putih itu pun berjalan setelah sekitar 5 menit berhenti dan berjalan maju dan memutar di sebuah jalan masuk mobil di sebelah kanan jalan, searah dengan tempatku duduk. Dalam hati kupikir ia mungkin adalah salah satu penghuni rumah. Ternyata ia membalikan arah dan berhenti di depanku. Diturunkannya jendela kaca, dan kulihat seorang perempuan Kulit Putih di dalamnya. Ia kembali lagi mengulang perkataannya yang bertanya apakah aku memerlukan tumpangan ke suatu tempat. Dengan ragu – ragu kuperhatikan dia. Dan tanpa pikir panjang kuiyakan bahwa aku sedang menunggu bis ke Civic tapi bisnya belum juga datang walau sudah 5 menit lewat dari jadwalnya. Perempuan itupun segera menawarkan tumpangan untuk mengantarku.

Saat membuka pintu, ia berseru pada anak lelakinya di jok belakang, seorang balita bernama Ben untuk ‘say hi’ kepadaku. Aku spontan membalas sapaannya dan memberitahu namaku. Kejadiannya begitu cepat saat aku telah masuk di dalam mobil dengan membawa tongkatku. Perjalanan sekitar 7 – 10 menit itu memberiku cukup waktu untuk mengamati penolongku. Ia, seorang perempuan hamil, berkulit putih berkaca mata dengan rambut bob berwarna pirang atau coklat muda, yang kutaksir sedang hamil sekitar 5 – 6 bulan, membawa seorang balita laki – laki di jok belakang. Kutanyakan apakah ia tinggal di sekitar Campbell dan diiyakannya.

Perjalanan menuju Civic itu diisi dengab pertanyaanya tentang tempat ia akan menurunkanku, dan kujawab bahwa aku mau pergi latihan di sekitar Canberra Centre a.k.a. Currong Apartment guna latihan nyanyi untuk ibadah. Dan pembicaraan kamipun mengalir mulai dari jadwal bis, hingga rencana penggalangan dana di gereja. Tak lupa kudapatkan informasi bahwa ia sepertinya bukan berasal dari Canberra karena aksennya yang sedikit British, dan ternyata ia bercerita dan membandingkan Canberra dan London, dan membuatku berasumsi ia berasal dari London. Tak lupa ia bercerita bahwa ia sebenarnya dalam perjalanan pulang dan melihatku sendiri dalam kegelapan menunggu bis, dan melihat tongkatku.

Malam itu usai tiba di Boomerang Centre milik Coorong Apartment, aku disambut kernyitan dahi dari kak Yana, Uchak dan Kak Boyke karena tongkatku, karena sudah hampir 1 bulan lebih aku tak memakai tongkat. Tapi pandangan mereka tak kupedulikan karena aku begitu dipenuhi rasa sukacita yang besar dan langsung tak sabar ‘menculik’ kak Yana dan bercerita tentang pengalamanku beberapa menit lalu.

Aku benar – benar mengucap syukur atas pertolongan yang diberi perempuan itu, yang bahkan tak memberi tahu namanya. A kindness of a stranger is definitely what I had that night. An angel in a white car. Usai bercerita dengan kak Yana, aku benar – benar menggucap syukur pada Yesus dalam hati atas pertolongan-Nya yang tepat waktu; mengirimkan seorang ‘malaikat’ dalam bentuk seorang perempuan hamil yang membawa balita dalam malam di sebuah musim dingin.

Aku tak habis pikir bahwa ia mau menolongku, karena berdasarkan pengalaman, bahkan walau hari masih terang dan aku dulu memakai tongkat, mencoba beberapa kali hitch-a-ride juga kadang dicuekin karena banyak pengendara yang takut bahwa aku hanyalah kriminal berdalih orang cacat. Dan malam itu, dalam gelap malam dan hanya pasrah duduk gemetar di bangku kayu, pertolongan datang bagaikan saputan angin tiba – tiba di depanku, usai kuucapkan permohonan kepada Tuhan.

Aku percaya, Allah selalu memberikan mujizat – mujizat kecil tiap hari, yang kadang tak kita sadari dan kadang kita lupa mengucap syukur. Aku percaya Allah tak pernah terlambat memberi pertolongan, yang Ia inginkan adalah ‘berserah pada-Nya dan percaya bahwa Ia sanggup.’ Yang pasti, akhir – akhir ini, aku diajarkan bahwa Allah begitu baik dalam hidupku. Segala kemuliaan dan hormat dan pujian bagi Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

#2. Dia Tahu … (di mana tiket bisku)!

Kejadian ini baru saja kualami tadi siang, Minggu 2 Agustus 2009, karena semalam pulang ibadah aku tak langsung tidur tapi sibuk browsing tentang beberapa berita dan menemukan beberapa artikel lintas agama, akhirnya aku baru bisa tidur pukul 4 pagi. Alarmku kuatur agar berbunyi pukul 8 pagi, tapi toh gagal juga membangunkan, hingga aku malah terbangun kelelahan pukul 9 lewat., dan artinya aku terlambat bangun untuk menyiapkan diri untuk ibadah dan artinya juga terlambat menunggu bis ke Civic.

Walau kakiku telah pulih pada hari Sabtu kemarin (Thanx God, He is the greatest healer!), namun aku tak berani mengambil resiko berjalan kaki 30 menit ke Civic. Jadi kuputuskan tidur kembali. Sekitar pukul 11 aku terbangun lagi, dan baru sadar bahwa ada SMS dari Kak Yana tentang rencana kami hari ini untuk bertemu. Kubalas pesannya dan bilang bahwa sekitar jam 12, aku akan ke Civic. Aku pun sibuk menyiapkan makan siangku berupa lalap daun selada dan telur mata sapi. Setelah itu kucoba meyiapkan pakaian yang akan kupakai, tak lupa memeriksa tiketku. Tiba – tiba aku tersadar bahwa aku tak bisa menemukan di mana tiketku. Gelombang pencarian tiket pun menyeruak keluar dari adrenalinku. Mana aku tak punya uang tunai untuk membeli tiket bis.

Hingga jam 12 lewat, tiket bisku belum kutemukan. Mulai dari tas – tas yang kupakai, saku – saku celana, lemari pakaian, lemari buku, meja belajar, Alkitab, hingga laci – laci kamar mandi kusatroni. Bolak – balik kuangkat kasur, bantal – bantal. Sisi belakang lemari pun tak luput. Isi dompetpun kubongkar. Keranjang tutup rotan berisi pakaian kotor pun kuobrak – abrik. Tak lupa kutanyakan teman – teman di rumah. Pencarianku pun mulai merembet ke rak – rak sepatu dan dapur. Sambil mencari, tak lupa kubercerita pada Yesus kalo tiketku tak tahu entah ada dimana.

Dalam masa pencarian, kutelpon kak Yana melaporkan bahwa aku kehilangan tiket bis dan minta ia membelikan aku tiket bis. Aku pun mulai menyusun rencana apa yang bisa kulakukan sekarang. Aku sedikit panik menjelang pukul 1 karena aku baru sadar bahwa di pocket tiket itu ada kartu mahasiswaku yang berfungsi sekaligus sebagai kartu perpustakaan. Aku khawatir kalau kartu itu jatuh ke tangan yang salah dan dipakai untuk meminjam buku. Tentu saja sambil panik itu, aku masih berkata dalam hati, “Yesus, sapu kartu hilang nih. Buka jalan ka?”. Mungkin kedengaran egois doaku itu, kedengaran terlalu memaksakan kehendak. Aku benar – benar putus asa dan berpikir untuk menyerah saja.

Hingga mandi dan keramas, aku masih diliputi perasaan cemas dan khawatir. Padahal beberapa saat lalu saat berkisah pada Yesus bahwa tiketku hilang, sebuah suara di hatiku bilang begini, “Tenang. Relaks. Tiket tuh ada dalam rumah ini. Cari pelan – pelan saja. Akan tra jauh – jauh.”. Perkataan penghiburan itu beberapa kali kudengarkan, tapi karena aku toh manusia yang keras kepala, kucoba acuhkan perkataan itu dan membuat beberapa teori tentang tempat jatuhnya tiket, dan mulai berpikir jalan keluar dari masalah ini, khususnya tentang kartu mahasiswa.

Selama mandi, perasaanku benar – benar tak sejahtera. Muka pikiran sekali ^_^

Usai berganti pakaian, kulanjutkan lagi mencari tiket dengan rute yang sama. Bongkar – bangkir kamar hingga tak ada satu jengkal yang terlewat. Aku pun mulai mengingat pakaian terakhirku kala naik bis hari Jumat lalu. Sempat berpikir apa memang tiket bisku jatuh kala mendapat pertolongan hari Jumat kemarin. Namun suara yang mengingatkanku untuk tetap tenang dan mencari perlahan masih tetap ada.

Tiba – tiba aku melihat ke celana kargo yang sedang kupakai, yang sama dengan celana pada hari Jumat kemarin. Sejak sejam lalu, saku – sakunya yang banyak itu telah kuperiksa, tapi nihil hasilnya. Dan mataku seakan diarahkan pada 1 satu kecil di bagian bawah lutut, dan tanpa pikir panjang, kurogohkan tanganku ke dalamnya. Guess what? Tiket bis dan kartu mahasiswa itu dengan manisnya muncul di hadapan mataku. Spontan, kuteriakan kata ‘Thanx Jesus’ besar – besar, benar – benar lupa bahwa saat itu ada di rumah , di ruang tamu ada banyak tamu yang sedang datang. Aku benar – benar tak peduli, karena yang kutahu, “He knows … He understands. Tete manis trada yang blok”

Mungkin kisah ini kedengaran lucu dan menunjukan kecerobohanku. Tapi yang pasti aku belajar bahwa Allah selalu memberi jalan keluar dari setiap masalah kita. Dan yang pasti, mencari tiket bis bulanan dan kartu mahasiswa selama hampir 2 jam tanpa hasil bisa mencuri rasa sukacita yang kumiliki. Tapi kubersyukur, selalu ada penghiburan yang diberi-Nya.

‘Yesus, trada yang blok!’.

(Campbell, Canberra/ 2 Agustus 2009)