Search This Blog

Loading...

Sunday, 19 July 2009

Sesak!

Sesak …
Itu yang kurasakan kala kekerasan kembali lagi terjadi di bumi Papua
Sesak …
Itu yang kurasakan kala terjadi lagi penambahan aparat keamanan di Tanah Papua
Sesak …
Itu yang kurasakan kala memikirkan dampak operasi militer di pedalaman Papua
Sesak …
Itu yang kurasakan kala mengingat cerita tingkah laku aparat kala penyisiran.

Ingin kuteriak,
Sekuatnya, sekerasnya, sebesar – besarnya!
Ingin kuberteriak,
Sekeras guruh di langit, sekeras deburan ombak kala marah.
Ingin kuteriak,
Sekencang tiupan angin badai di pesisir pantai.
Ingin … T-E-R-I-A-K!

Sesak …
Memikirkan stigmatisasi, labelisasi, penuduhan tanpa bukti.
Sesak …
Melihat permainan lempar batu – sembunyi tangan.
Sesak …
Melihat nurani terbutakan kekuasaaan.
Sesak …
Memikirkan negeri yang mendulang tragedi karena kecantikannya.

Sesak …
Memikirkan ketidakadilan sosial, ekonomi, sejarah.
Sesak …
Menghitung berapa banyak nyawa tak bersalah yang akan melayang lagi …
Sesak …
Memikirkan rakusnya cinta-uang mempora – porandakan negeri Cenderawasih.
Sesak …
Memikirkan langkah tanah ini ke depan.

Sesak …
Mendengar tangisan, jeritan, trauma yang akan kembali lagi.
Sesak …
Melihat kebenaran diputarbalikan oleh gula – gula kepalsuan.
Sesak …
Tubuh dan jiwaku.

Sesak …
memikirkan MIDAS bernama Papua.
Sesak …
Memikirkan Kecantikan, keindahan, kekayaan yang diburu.
Sesak …
S-E-S-A-K!

(Campbell, 18 Juli 2009)

(Catatan: Midas, merujuk pada cerita Raja Midas dalam mitologi Yunani, yang tak merasa bahagia karena setiap sentuhan jemarinya mengubah segala sesuatu menjadi emas, bahkan putrinya. Dalam hal ini, Tanah Papua ibarat Midas)

Saturday, 18 July 2009

Always (being there 4 me)

Malam ini, 17 Juli 2009, entahlah kenapa perasaan tak nyaman ini kembali hadir, perasaan yang tak nyaman untuk dibicarakan, perasaan yang membuat sepersekian detik dari hidup menguap tanpa kedamaian. Perasaan kosong, hampa, sepi, merasa bersalah, terbuang, dan tak berharga yang mencoba masuk dalam benak, mencoba mengontrol emosi malam ini, dan kusadari telah ada sejak sore tadi, mencoba masuk dalam sel – sel batang otak, menginstruksi hormon – hormon pemicu kebahagianku untuk pergi, untuk menyingkir.

Beberapa jam lalu saat duduk – duduk dengan anak – anak Papua di rumah seorang senior, walau aku tertawa dan mendengar cerita lucu dan berdiskusi, satu sudut hati terlanjur ‘terinfeksi’ dan rasa tak nyaman itu sempat menyelinap masuk beberapa saat, membuatku sempat merasa kosong dalam riuh tawa.

Akhirnya kuputuskan pulang beberapa menit menjelang pukul 9, karena aku tahu aku hanya bisa mengatasinya dengan satu hal; berdoa dan membaca Alkitab, plus mendengarkan lagu rohani, yang menguatkanku. Dengan berdingin ria dan napas yang berembun plus suhu di bawah 10 derajat kala menunggu bis sekitar 15 menit, akhirnya sebuah bis nomor 9 arah Campbell pun berhenti dan senyum ramah si pengemudi lumayan membuat hatiku sedikit nyaman dalam malam yang beku.

Dalam perjalanan pulang berjalan kaki dari halte bis ke rumah, sekitar 7 - 10 menit, entahlah … aku merasa begitu melankolis dengan rasa tak nyaman ini, dan kuputuskan berbicara dengan Tuhan dalam perjalanan pulang itu, berjalan kaki perlahan. Kuutarakan bahwa aku merasa tak nyaman malam ini, merasa tak berharga dan lain – lain. Dan aku mendapat satu perkataan dalam hatiku bahwa “Ia mengasihiku, lebih dari yang kutahu, lebih dari yang kubayangkan. Bahwa aku kuat dan bisa mengatasi semua rasa tak nyaman ini,”

Usai masuk ke dalam rumah yang temaram karena perapian gas sedang padam, dan tak ada seorangpun teman serumah (housemate) yang di lantai bawah, kuputuskan menaruh dan membereskan semua barang yang kubawa (tas dan barang hibah yang kuperoleh beberapa bulan lalu, dan komik Tintin 6 judul). Usai berganti pakaian dan menyalakan heater kamar, kuaktifkan komputer dan radio. Tiba – tiba seakan jawaban dari perasaan tak nyaman itu muncul dalam pembahasan di Radio One Way M; radio Kristen di Canberra. Sebuah pembahasan dari program InTouch tentang “How to praise God”. Dalam pembahasan itu dibahas tentang Maria Magdalena yang mempersembahkan minyak wangi dan membasuh dengan airmata dan sekaan rambut dan protes Yudas.

Pembahasan dalam acara itu membuka mataku, saat satu hal yang dibahas itu benar – benar menguatkan bahwa Tuhan melihat hati kita sebagai pujian yang sesungguhnya; lewat hidup. Dan Ia menginkan kita mencintai-Nya karena pribadinya, dan bukan karena apa yang kita dapatkan dari dia atau apa yang akan kita dapatkan dari dia. Kita mencintai Yesus karena pribadi Yesus sendiri. Mungkin terdengar konyol bagi beberapa orang, tapi inti dari khotbah tadi memang menekankan pada unconditional love-nya Yesus.

Usai itu, kuputuskan memutar video ‘Come to Jesus’ milik Chris Rice dan kudapatkan satu versi videonya yang sangat indah di http://www.youtube.com/watch?v=pOzYcXaZY8k&feature=related
Benar – benar menguatkan! Tak lupa pula berdoa dan membaca firman.

Hingga saat menulis pada bagian ini, aku masih tetap ditemani lagu ini hampir 2 jam dan mood-ku perlahan membaik dan rasa tak nyaman itu telah menghilang. Aku bersyukur punya Allah yang mengerti dan peduli padaku, yang mengasihiku tanpa syarat.

Bapa, terima kasih untuk hidup yang kau beri, untuk semua pahit manisnya yang Kau ijinkan terjadi. Thanx karena lewat pengorbanan Kristus di Kayu Salib, aku tahu bahwa aku dikasihi. Thanx Yesus karena Kau pernah memilih hidup sebagai manusia dan mengerti bagaimana perasaan manusia yang mudah terinfeksi rasa tak nyaman yang ditawarkan Iblis, terimakasih karena Kau selalu menguatkanku saat ku merasa ku tak sanggup berjalan lagi, saat merasa ingin menyerah. Terima kasih untuk perkataan-Mu dalam hati lewat perantaraan Roh Kudus bahwa aku bisa melewati saat – saat ini, saat perasaan tak nyaman ini datang.

Aku mengucap syukur karena dengan-Mu, kurasakan arti hidup. Terima kasih untuk selalu percaya bahwa aku bisa melakukan banyak hal besar yang Kau bagi dalam hidupku. Terima kasih untuk menjadi ‘seseorang’ yang suka protes dan menaruh perkataan penuh empati dalam hatiku bahwa Kau mengerti dan siap mendengar apa yang kurasakan. Terima kasih untuk selalu ada untukku kala kubutuhkan seseorang yang sangat kupercaya untuk berbagi cerita tentang rasa rindu, rasa sakit, marah, kecewa, dan sedih.

Terima kasih untuk setiap perkataan di hatiku yang sering menyemangatiku kala kumulai rasa hilang dan hampa. Terima kasih karena tak pernah capek dan lelah mengatakan bahwa “Aku Mencintaimu lebih dari yang kau tahu, lebih dari yang kau pikirkan.”, untuk setiap perkataan, “Ko bisa dan berharga. Jangan menyerah.”. Untuk setiap perkataan penghiburan kala ku hilang arah dan alasan untuk untuk hidup. Aku mencintaimu Yesus.

Terima kasih karena begitu mengerti dan memahamiku walau kadang ku suka melawan-Mu, berhenti dan menolak mendengarkan suara-Mu di hatiku, menolak dan memilih mengikuti free willingku, atau berpura – pura tak mendengarkan Kau berbicara di sela – sela kegiatanku. Ampuni aku, Yesus.

Terima kasih untuk malam ini, Yesus, dan juga untuk semua janji-mu dan perkataan-Mu yang Kau buktikan selama minggu ini. Terima kasih karena beberapa hari lalu saat ku khawatir karena terlambat menghubungi pihak sekolah dan kebingungan karena telpon sekolah hanya terhubung dengan mesin penjawab, Senin Malam itu Kau bilang bahwa semuanya akan baik – baik saja, dan sungguh Kau baik dan menepati janji kala hari Selasa itu saat kuputuskan langsung mendatangi alamat sekolah yang berjarak 1 jam dari Civic. Betapa janjimu terpenuhi kala suara seorang Ibu dari pihak sekolah menelponku 5 menit sebelum aku naik bis ke sekolah, dan mengonfirmasi serta mengatur pertemuan untuk minggu mendatang. Kau ingat Yesus, hari itu usai menerima telpon itu, saat berada di dekat danau di Tuggeranong, dari jendela Bis, ada pelangi cantik yang bertengger di atas danau itu. Terima kasih untuk hal itu.

Akhirnya, aku cuma mau bilang bahwa, “Thanx Jesus 4 being the biggest part of my life. My great comforter, provider, counselor, a true friend, my parent, ‘n definitely the lover of my soul. We’ll dance someday, I promise.”


Dari-yang-merasa-diberkati,


D.M.

Thursday, 9 July 2009

Kematian (Sebuah topik yang sulit dibicarakan)


Jam digital layar komputer merangkak meninggalkan jam 2. 14 pagi, tapi mata enggan tertutup. Begitu banyak inspirasi menulis datang menggoda, mengajakku berlari kembali pada masa – masa yang hilang, yang tak akan kembali dan tiba – tiba pikiranku berlari pada masa kecilku di sebuah tempat bernama Fanindi, di kota Manokwari, Papua Barat, negara Indonesia pada sebuah planet bernama Bumi. Sedari tadi aku memikirkan seorang teman lama yang telah lama tak kujumpai dan memang tak akan pernah kujumpa lagi. Seorang yang pernah dekat dan mengisi masa kanak – kanakku namun pergi begitu cepat.

Beberapa hari ini aku tiba – tiba memikirkannya, mungkin karena 3 minggu terakhir ini aku mendengar begitu banyak berita kehilangan orang yang dikasihi, dalam konteks ini, banyak berita duka yang kudengar. Mulai dari seorang teman di Melbourne yang mengirim SMS meminta dukungan doa bagi bapaknya yang masuk UGD (yang sayangnya SMSnya baru kubaca sejam kemudian dan menelponnya hanya untuk mendengarkan berita bahwa bapaknya telah ‘berpulang’), ataupun SMS dan telpon dari orang tuaku yang memberitahu kabar bahwa sejumlah kerabat jauh dan tetanggaku yang meninggal karena sakit (kanker dll), plus sebuah berita beberapa hari lalu tentang berpulangnya mama dari sahabatku di Biak. Semua berita itu menyadarkan aku betapa hidup begitu singkat.

Aku mungkin orang yang cukup kikuk menghadapi berita duka ataupun kematian. Boleh dikata, aku tak tahu harus berbuat apa saat mendengarkan berita duka. Reaksi tubuhku begitu negatif. Aku tak pandai merangkai kata penghiburan untuk mereka yang ditinggalkan, tapi jauh di dalam hati, kuharap aku bisa menawarkan sebuah pelukan persahabatan dan persaudaraan dan meyakinkan bahwa mereka akan baik – baik saja, bahwa apa yang dirancangkan Tuhan pasti baik adanya. Jujur berkenaan dengan topik kematian, aku bukan pujangga!

Aku mencatat 3 kematian yang berbekas di hatiku, aku tahu apa yang pernah kurasakan ini tak sebanding dengan rasa kehilangan yang dialami para sahabat dan kerabat yang sekarang ini sedang dilanda kedukaan. Aku tahu refleksi kematianku tak akan mampu menghilangkan gurat duka di wajah mereka, karena toh, kematian tetap adalah sebuah kedukaan, kehilangan yang besar.

Memutar benang waktu yang terurai, pertama kali terekspos dengan kematian pada waktu usiaku menginjak umur 4 tahun (kalau tak salah), aku masih mengingat jelas sore itu, masih berlari riang bersama kedua saudara lelakiku di ruang tengah, aku masih ingat bagaimana kami memanjat sebuah peti kayu dan menatap opaku; orang tua angkat mama yang membesarkannya sejak bayi. Masih mengingat jelas reaksi mama dengan mata bengkak menangis dan reaksi para kerabat Maluku yang merubung di rumah. Aku tak begitu jelas merasakan kehilangan karena ingatan tentang opa hanyalah kepingan samar – samar kala melihat seorang lelaki tua yang sakit parah dirawat di rumah. Yang aku ingat jelas, aku dan kedua kakak – kakakku melongok pada wajahnya di dalam peti dan tak begitu mengerti apa yang sedang terjadi, yang pasti kuingat ia hanya diam di dalam peti mati itu.

Opa Taha atau opa Chak kemudian hidup dalam ingatanku dalam tuturan mama. Sewaktu kecil, usai kematiannya, ia tetap hidup bagi kami di rumah lewat kisah – kisah masa mudanya di Amahai, Seram, Jayapura, dan Manokwari. Tentang keberanian dan kebengalan masa mudanya melawan tentara Jepang di Maluku (merebus tentara Jepang dll), menjadi spionase bagi tentara Sekutu di sana (menyamar sebagai mata – mata dengan berpura – pura mencari ikan dan menggunakan sejenis kaca untuk memberi tanda pada pesawat pemburu tentang keberadaan tentara Jepang), menjadi biang pesta dan arogansi masa muda, menjadi pawang hujan, menjadi the joker of the party, seseorang yang selalu membuat suasana komunitas menjadi hidup … tapi sayangnya ia juga kukenal sebagai seseorang (dan kemudian diteguhkan penyataan ini lewat bincang – bincang banyak orang yang hidup di masanya di areaku bertumbuh) sebagai seorang penganut dan pemraktek okultisme (secara kasar bisa disebut sebagai salah satu dukun Maluku terhebat di masanya di kotaku).

Bercerita tentang dia tak akan habisnya karena ia kemudian menjelma sebagai salah satu tokoh fantasiku, yang entah kapan akan kututurkan pada anak cucuku. Terlepas dari semua sifat buruknya dan kebengalannya yang melegenda di kompleksku (lelaki tua yang anjingnya tak bisa mati walau dibedil berulangkali oleh tentara Siliwangi, namun segera jatuh tergeletak sepersekian detik usai ia membisikan ucapan selamat tinggal), aku melihat ia adalah seorang pekerja keras yang mengajarkan kemandirian dan kedisiplinan. Lelaki tua yang merantau di tanah orang, membuka kebun buah – buahan, rajin menganyam jala dan pergi menjala ikan kala senggang, seorang tukang kayu bertemperamen keras dan tak segan – segan menghukum keras mama bila ada kesalahan, tetapi juga seorang sosialita dalam arti yang sesungguhnya; bergaya modis, selalu mengedepankan kepentingan orang lain dan selalu menyempatkan waktu mengunjungi semua kerabat dalam suka dan duka mereka.

Kematian kedua yang membuka mataku bahwa hidup begitu singkat adalah kematian sahabatku sewaktu kecil (Ice Woria) sekitar tahun 1992 atau 1993. Seorang teman bermain yang selalu ada saat memancing, pergi berpetualang ke hutan, menyusuri kali – kali kecil di dekat rumah, mencuri buah milik tetangga, teman memanjat pohon, bermain layangan, paku tiga, sumpit, bambu plok. Seseorang yang suka bermain di rumahku dan membantuku membungkus es lilin untuk dijual ke sekolah sebagai modal jajan. Seseorang yang ada kala bermain rumah – rumahan, membuat bivak dari ranting dan dahan pohon, dan membantuku mencuri minyak goreng dari rumah guna menggoreng kue – kue tanah. Sahabat dekatku yang cuek berlari riang dan memanjat pagar – pagar tetangga dan nongkrong berjam – jam di atasnya sambil iseng memanggil setiap orang yang lewat. Aku mengenangnya sebagai sahabat kecilku yang ada kala kami masih suka berenang di kali dan mencari ‘ikan kodok’ (kecebong) dan memamerkan berapa banyak kadal ataupun cicak bangkaro (kadal bengkarung) yang berhasil kami kartafel (ketapel). Ia juga seorang sahabat yang menemaniku bersama saudara – saudaraku beroperasi membongkar sampah – sampah di kompleks, dan pinggiran kali mengumpulkan botol bekas bir/ minyak goreng guna dijual sebagai tambahan uang jajan, kaleng Coke untuk membuat meriam dan teman makan pisang goreng dan es lilin moka di kios Salatiga.

Aku ingat betul sore itu, pada sebuah musim buah. Kami baru saja bermain pada siang hari. Sekitar jam 5 sore, aku diberitahu seorang anggota keluarga, aku tak ingat jelas apa bapak atau kakak laki – lakiku yang bilang. Tapi yang pasti, aku cuma bisa diam dan terhenyak kala melihat tubuh kakunya terbujur di ruang tamu rumahnya diiringi jeritan keluarganya. Saat itu ia satu – satunya anak perempuan dalam keluarga (walau usai kematiannya keluarganya kemudian dikaruniakan 2 anak perempuan yang wajahnya mirip dengan Ice, dan kemudian mereka juga bersahabat dengan adik perempuanku.). Aku ingat betul kebingungan bagaimana bereaksi dengan sebuah kematian, sebuah kehilangan. Yang aku tahu, aku sudah tak punya lagi teman bermain yang bisa diajak gila (aku juga punya beberapa teman perempuan tapi mereka tak diijinkan orang tua mereka untuk bermain gaya-gila seperti gayaku waktu SD dulu). Yang aku tahu, aku baru bisa menangis dan mengeluarkan air mata usai pulang ke rumah. Sejak saat itu, aku jarang menunjukan emosiku dalam bentuk tangisan untuk setiap berita duka yang kudengar, walau kerabatku sendiri. Aku hanya merasa kehilangan dan berharap semuanya akan baik – baik saja tapi tak bisa kuungkapkan dengan kata – kata. Yang pasti, Ice akan tetap kukenang sebagai seorang cewek Ansus kecil yang mengajarkan banyak hal padaku (teknik memancing, makan teripang, papeda dll)

Kematian lain yang cukup berbekas di hatiku adalah kematian anjing kesayanganku yang kunamakan Yayang. Aku tak pernah punya hewan peliharaan tapi usai sembuh sakit parah tahun 2001, di bulan – bulan terakhir tahun itu, kuputuskan memelihara anjing sebagai teman bermainku. Aku baru saja pindah kembali ke kota tempat orang tuaku berada usai selesai SMA di Jayapura. Tak punya teman jalan selain teman – teman lama sewaktu SMP dan juga teman – teman masa kecilku. Yayang yang berarti ‘sayang’, anjing berbulu coklat itu kurawat sejak masih bayi, kucarikan dot dan susu. Setia kuajak ke pantai untuk berendam kala aku menjalankan terapi jalanku di pasir pantai, walau kadang setengah mati menghalau saat ia berkelahi dengan anjing lain di pantai. Anjing itu begitu memahami instruksi yang kuberikan dan yang pasti selalu setia menggoyangkan ekornya kala kupulang ke rumah.

Demi studi di kota lain (Manado), kutinggalkan ia di rumah dengan sejumlah pesan kepada ortuku, namun sayang, sekitar bulan Mei 2003, ia mati diracun orang. Tapi toh, ia membuktikan bahwa ia anjing yang pintar karena ia tak rela dibunuh begitu saja. Walau sudah diracun, ia bersusah payah berlari masuk dalam halaman rumah dan mati di sana. Yang aku tahu, kala itu aku sedang di kamar kos di Manado, sebuah telepon dari lain pulau mengabarkan berita yang cukup membuatku terhenyak, karena sekitar Februari aku baru saja pulang dari Manokwari (mengurus kepindahanku ke UNIPA) dan melihatnya dalam keadaan baik. Yang aku tahu, aku hanya bisa menundukan kepala dari pandangan tanda tanya teman – teman cowok di kos yang sedang nonton, karena letak telpon berada di ruang TV. Berlari masuk ke dalam kamar, memutar musik keras – keras dan menangis Bombay semalaman hingga mata bangka – bangka. Walau pagi hari kemudian aku menghadapi pertanyaan dari ibu kos yang berhati – hati menanyakan tentang berita itu, usai dilaporkan oleh kakak – kakak cowok di kos. “May, kata Venti, tadi malam ada yang ‘pergi’ kang?”, tanyanya. Dan aku cuma bisa bertanya penuh tanda tanya tanpa mengangkat wajah karena malu menatap dengan kelopak mata bengkak, “Siapa yang pergi stow?”, tanyaku kembali. Dan ibu kos pun menjelaskan tentang laporan kakak – kakak cowok di kos, yang membuatku menjawab lirih bahwa anjingku baru saja mati diracun. Dan guess what, aku sempat dijadikan bahan mop oleh teman – teman cowok yang menguping pembicaraan di pancuran air pagi itu, karena Bombay kehilangan anjing.

Kematian bukanlah topik yang mudah dibicarakan. Kematian tetap merupakan kematian, sebuah rasa kehilangan yang tak akan pernah bisa dihapus, walau seiring dengan waktu perlahan – lahan akan terganti prioritasnya dalam susunan ingatan kita … TAPI … rasa itu akan tetap ada di sana. Dalam piranti lunak penyimpan kenangan. Tak ada sesuatupun yang bisa menghapus kehilangan itu dari hati kita, yang ada dan bisa kita lakukan adalah menerima keadaan itu dan menyadari bahwa segala yang hidup suatu hari pasti akan kembali pada-Nya.

Setiap orang bereaksi berbeda pada kematian, tetapi kematian tetap akan meninggalkan sebuah lubang di sana. Sebuah keping kenangan yang hilang. Tak ada cara paten apapun untuk menghapus duka ditinggalkan karena manusia adalah makhluk yang dinamis dan unik. Setiap orang mempunyai sistem penyembuhan yang berbeda dari rasa kehilangan itu, dalam jangka waktu yang berbeda. Tapi yang pasti, percayalah bahwa jangan pernah merasa sendiri saat duka itu datang, karena disadari atau tidak, ada banyak orang yang berempati dan merasakan kehilangan yang sama; ada yang tahu bagaimana caranya mengungkapkan empati mereka dengan baik lewat kata – kata, ada yang tak tahu (aku salah satu di antaranya). Tapi yang pasti, jangan pernah merasa sendiri.

Kematian seperti juga kehidupan adalah sebuah proses. Yang bisa kita lakukan adalah mengenang mereka yang hilang sebagai salah satu bagian terbesar dalam hidup kita, menyimpan semangat mereka dalam hidup kita, mengenang mereka (atau sesuatu) sebagai orang – orang yang pernah mewarnai hidup kita dalam mencari jati diri kita sebagai manusia. Percayalah hanya raga mereka yang mati dan melebur bersama bumi, tapi jauh di sana, mereka tetap hidup. Tetap hidup dalam benak kita, menyemangati kita lewat hidup mereka. Terlepas dari apa yang pernah mereka lakukan, seburuk apapun kelakuan mereka, kematian layak dihargai. Yang pasti, mengucap syukurlah bahwa kita pernah bertemu dengan mereka, sebagai orang – orang yang memberi khazanah hidup, membuat kita menjadi utuh sebagai manusia; mempunyai emosi aksi – reaksi.

Aku bukan pujangga pun orang yang pandai merangkai kata, tapi aku percaya, “ Untuk segala sesuatu ada waktunya”. Jangan pernah merasa sendiri!!!

(Campbell, Canberra/ 9 Juli 2009)



(Sumber foto: http://i.123g.us/c/insp_sympathy/card/110081.gif)

Tuesday, 7 July 2009

Sebuah tulisan untuk 'lelaki hujan'

Malam masih setia membalut Canbee dengan jemarinya yang dingin, mencengkram menembus tulang, meluluhlantakkan kehangatan dan aku teringat wajahnya. Lelaki hujanku yang kapan kan kembali. Yang entah kapan kulihat lagi.

Musik yang keluar dari kasa pembungkus speaker radio seakan memaksa ingatanku menari dan mengingatnya. Saat bunga – bunga masih bermekaran di hati tanpa takut menentang panas mentari, tanpa takut terhempas angin. Saat rasa masih begitu sederhana dan naïf, ‘ya’ atau ‘tidak’ yang begitu kental dan aku larut di dalamnya.

Tak banyak yang kuinginkan sekarang untuk hubungan ini, tak terlalu banyak bermimpi karena toh, mimpi dan kenyataan saling bermusuhan dan membuatku tercabik di dalamnya, menunggu rekonsiliasi yang masih tak tampak. Tapi satu yang pasti, yang tertera di hatiku:

“Yesus, jaga ‘lelaki hujan’ku. Ajar dia menjadi lelaki yang Kau inginkan, yang berjalan dengan mengandalkan-Mu di dalam hidup, yang memancarkan Engkau di dalam hidupnya. Kenyataan hidup memang tak bersahabat bagi kami, tapi kuberharap ia akan baik – baik saja, menjadi lelaki yang membawa tawa pada dunia, menjadi berkat lewat sikapnya yang ramah, lucu, jenaka. Lewat tatapan hangat, tarian, dan nyanyiannya.

Aku merindukannya, Yesus. Walau mungkin salah, mungkin terlalu bermimpi melawan kenyataan yang tak bisa diulang kembali, melawan status sosial dan label diri yang begitu keras, melawan nasib yang tak berpihak.

Dia, lelaki yang paling banyak membuatku berpikir tentang makna cinta; tentang eksistensi cinta sejati. Dia, lelaki yang membuatku mencintai hingga terluka. Dia, lelaki yang membuat mimpi indahku berganti rupa dan fase menjadi mimpi buruk dalam waktu semalam, dan dalam proses fase in-out.

Aku mengasihinya sebagai sahabat, mantan kekasih, saudaraku. Mengasihinya dengan hatiku.

Walau ada jarak, status sosial, dan norma – norma yang menghalangi.

Tapi …tuntun dia menemukan kebenaran di dalam-Mu. Amen”


(Canberra, 4 Juli 2009)

Ketololan dalam hidup (It's not a joke!)

Seorang mantan kekasihku pernah bilang bahwa selama hidup, cobalah untuk relaks, santai dan tak usah berpikir yang berat. Kerap pembicaraan kami pun membeku kala kuungkapkan unek – unekku tentang ketidakadilan sosial, ide – ideku untuk menyelesaikan masalah, realita sosial yang kulihat, rencana – rencana gila yang telah kususun sejak lama, masalah tentang iman, ketuhanan dan sejumlah masalah berat yang menurut dia bukanlah hal yang menarik untuk didiskusikan. Kebekuan itu akhirnya mengristal beberapa lama dan sering menjadi alasan kami putus – sambung.

Kadang aku berpikir, apa memang aku yang tolol dalam hidup, terlalu bodoh atau memang naïf dan kurang jelas? Mengingatnya aku kadang berpikir ketololan apa saja yang pernah kubuat dalam hidup, dan aku sadar betul bahwa dahulu aku jatuh cinta pada tawa dan pandangan hangatnya adalah sebuah ‘ketololan’ yang pernah kubuat tapi tak pernah kusesali dalam hidup. Dan aku ingin melihat ke belakang, berbagai bentuk ketololan yang pernah kubuat dan mungkin membuat orang tuaku, saudara – saudaraku dan tetangga plus teman – teman geleng – geleng kepala.

#1. Juli 2005, terlambat naik pesawat, berlari kencang di airport Manokwari memakai jas almamater guna mengikuti sebuah kegiatan mahasiswa di Sumatera dan ternyata usai sampai di tangga pesawat di detik – detik terakhir …. Baru sadar bahwa temanku belum melaporkan tiket dan boarding. “Malu picah’ betul tuh .. TAPI aku belajar, bahwa jangan pernah melalaikan waktu naik pesawat a.k.a. on-time untuk naik pesawat, lebih baik menunggu lama di bandara dibanding ketinggalan pesawat.

#2. 23 Desember 2008, di Jakarta bersama 2 adik, mengalami sebuah perjalanan pacu-jantung lebih kencang daripada naik Superman Escape (roller coaster) karena terlambat mengejar bis dan mempersiapkan diri karena kesalahanku yang tergoda sebuah produk alat masak di Mall (yang ternyata adalah penipuan terselubung). Hingga terpaksa mengalami tekanan dan tegang beberapa jam. TAPI … aku belajar bahwa keserakahan hanya akan menuntun pada mala petaka dan aku belajar dan diajarkan bahwa Allah menjawab doaku dan pertolongan-Nya tak pernah terlambat + Mujizat itu nyata (baca: di note-ku yang berjudul “Miracle (does) exist”.

#3. 20 Februari 2007. Amban, Manokwari. Sedang maskeran untuk persiapan wisuda esok pagi, baru sadar bahwa tak punya kamera dan usai mengadakan beberapa kontak berhasil mendapatkan pinjaman dari dosenku. Tanpa tunggu waktu, segera menyambar kunci motor, memakai celana pendek dan jaket. Memacu motor dengan kencang di atas 80 KM/jam ke kampus, melambung beberapa motor di tanjakan Amban. Di depan rumah Purek II, terbalik dan terseret motor karena jalan berpasir dan motor hancur, tubuh tertindih motor, dagu bocor, jari luka – luka, lutut luka besar dan berdarah, kaki tacukur. Hasilnya, ditolong oleh keluarga Purek II, beberapa senior di kampus, dan teman – teman beserta orang tua datang menjemput. Hasil akhir sih, tetap wisuda berkebaya dan bertoga dengan perban di dagu dan perban – perban di kaki, tapi selama prosesi wisuda yang duduk – berdiri – duduk itu menahan sakit berkepanjangan plus harus terus mengipasi luka selama duduk dan tak bisa berfoto terlalu lama karena kesakitan.Plus harus menjawab pertanyaan beberapa dosen kala menerima ijazah di depan senat Universitas. TAPI … aku belajar bahwa sudah saatnya gantung helm dari hobi balap gila – gilaan, lebih hati – hati saat mengendarai motor.

#4. 2003, kantin Abresso, Manokwari. Tergeletak hampir pingsan menahan sakit karena maag, karena tak mau makan gara – gara browsing dan chatting selama 5 – 6 jam di perpustakaan kampus trus langsung makan gado – gado yang pedas. Hasilnya, Menghabiskan waktu hampir 45 menit terbaring kesakitan tanpa tahu mau bikin apa karena tak bisa berdiri dan duduk. TAPI … aku belajar bahwa aku tak sendiri, karena ada beberapa teman yang baru saja kukenal bersedia menungguku dan menanyakan keadaanku dan menawarkan bantuan mencarikan angkutan pulang + berjanji membawa pulang motorku. Plus, selalu bawa obat maag.

#5. Juni 2004, Amban Pantai. Di sela – sela jadwal kuliah, cabut dari kampus bareng 2 teman, balap – balap ke Amban pantai, menyurvei bahan – bahan dekorasi dari alam guna pameran kelas. Berteriak mengganggu orang yang pacaran di pantai, tak melihat pasir di tanjakan. Hasil akhir, motor jatuh dan taputar plus tubuh ditindih motor yang mesinnya masih hidup plus dada tertumbuk setang motor. Bikin sesak nafas setiap menarik nafas selama 1 minggu tapi tak mau mengaku pada orang tua. TAPI … aku belajar untuk memperhatikan medan yang kutempuh kala membawa motor plus tak usah mengacuhkan urusan pribadi orang lain ^_^ dan juga belajar bahwa para sahabatku adalah orang – orang yang bisa kuandalkan dalam hidup.

#6. 1994. Rumah Oom di Fanindi, Manokwari. Berlari kencang cakadidi di rumah sepupu, bermain benteng padahal sudah diberitahu bahwa ada beberapa anjing galak di halaman rumah. Hasilnya, berlari kencang ke atas pembatas teras, dikejar 3 ekor anjing, dan betis disabet gigitan anjing hingga berdarah dan harus masuk unit Gawat Darurat. E panakut suntik jadi pas ada yang antar korban kecelakaan yang berdarah, korban malah ditinggalkan karena para pengantar membantu dokter menahan tubuhku yang meronta tak mau disuntik. TAPI … aku belajar untuk selalu waspada dengan anjing galak dan tak boleh membuat gerakan tambahan di depan hewan itu.

#7. 1996 - 1997. Rumah tetangga, Fanindi, Manokwari. Suka panjat pohon rambutan Aceh di kebun belakang yang berbatasan dengan halaman belakang tetangga. Sambil makan rambutan di atas pohon, mengganggu anjing tetangga berbulu hitam – putih bernama ‘Ringo’, memanggil namanya dan menyambitnya dengan biji rambutan, tertawa riang setiap anjing itu kesakitan dan menggeram marah menengadah ke arahku, itu berlangsung selama musim rambutan. Hasil akhir, usai musim rambutan, setiap main ke rumah tetangga, harus ditemani oleh kakak – kakak tetangga dan terpaksa nongkrong di kamar mereka karena si ‘Ringo’ berlari kencang mengejarku hendak menggigit. Sempat merasakan ‘sekilas’ gigitan di betis, tapi tak luka karena terhalang celana jinsku yang tebal. Hingga akhirnya si Ringo dieksekusi dan masa damai tiba bagiku. TAPI … aku belajar bahwa terlepas dari siapapun itu, termasuk hewan, membutuhkan ketenangan dan kedamaian untuk hidup di dunia. Aku belajar bahwa bila kita tak ingin diganggu orang atau hewan, jangan mengganggu mereka duluan.

#8. 1989 – 1998. Suka sekali panjat pohon apapun di rumah, dari pepaya, nangka, rambutan, durian, sukun, jambu, langsat, giawas, alpokat, belimbing, jeruk, mangga, bermain ayun – ayunan di pohon pisang, dan lain – lain. Keras kepala bila disuruh turun dari pohon. Punya rumah pohon sederhana yang dibuat dari gantungan karung plastik besar di atas pohon dan mengajak teman – teman berpura jadi kepompong di dalam karung plastik. Cuek dengan pandangan cemas dan panggilan orang tua kala berada di ujung pepohonan, gemar memanjat pohon – pohon tanaman buah dan mematahkan dahan – dahan kering, apalagi bila musim buah, seharian dihabiskan memamah biak di atas pohon karena tak makan makanan yang disiapkan ortu tetapi sibuk makan buah yang kulitnya dengan cuek dibuang seenaknya ke bawah pohon. Ditegur untuk tak naik pohon karena bisa jatuh. Hasilnya, pernah jatuh pas musim Sukun, dari cabang paling atas sukun dan mematahkan semua cabang sukung pada satu sisi, untung di cabang terakhir kuat hingga tubuhku tak langsung jatuh ke tanah yang penuh karang di samping sumur, tertahan di cabang terakhir. Kesakitan usai jatuh dan harus diurut plus dinasehati karena mematahkan semua cabang sukun yang buahnya masih muda. Selain itu pernah jatuh dari cabang pohon belimbing setinggi 3 meter hingga sesak nafas dan another cabang pohon sukun (hingga sesak nafas lagi). TAPI … aku belajar bahwa jangan terlalu keras kepala dan harus mendengarkan nasehat orang tua, dan sekarang aku sadar betapa nakalnya aku sewaktu SD, membuat orang tua cemas.

#9. 1990, kelas 1 SD di SD YPK Fanindi. Sangat takut dengan yang namanya alat suntik. Pada saat imunisasi atau vaksin di sekolah, berlari ketakutan keluar dari kelas, menjerit dan berusaha kabur. Ditangkap guru kelas, dan terpaksa dipegangi oleh beberapa guru dan mantra untuk divaksin/ disuntik. Hasil akhir, hingga sekarang bila ketemu teman – teman SD pasti dipanggil ‘Ayamsari’ yang takut suntik gajah.

1989. Sekitar umur 5/6 tahun. Di ruang praktek dokter keluarga, mengantri periksa. Bersama adik cowok yang setahun lebih muda (my partner-in-crime), bersama mama bertemu dokter, usai diterima dokter, di tengah ananemsis dokter guna mendiagnosa penyakit, mengatakan pada dokter ingin ke kamar kecil. Diijinkan mama dan dokter untuk keluar sendiri, bareng adik, bukannya keluar , tapi malah kabur cabut dari tempat praktek dan pulang ke rumah, abis takut suntik jadi ^_^ (untungnya tempat praktek di suburb sebelah). Hasilnya, sakitnya malah tambah parah dan terpaksa balik lagi ke dokter, tentu saja dengan pengawalan ortu yang ketat.

TAPI … aku belajar untuk jangan menunda periksa ke dokter kalau ada masalah dengan kesehatanku dan mulai mengumpulkan keberanian melawan faktor ketakutanku (fobia). Thanx Jesus, 2 tahun terakhir ini sudah tak takut suntik lagi.

#10. 2002 – 2008. Merasa kosong, hampa, dan merasa tak berarti. Berpikir, merencanakan, dan mencoba untuk bunuh diri selama kurun waktu tersebut, guna menghilangkan rasa hampa. Mencoba berbagai kegiatan (balapan, berenang di pulau dll). Hasilnya, menyiksa diri sendiri dan tetap kosong. TAPI … usai melewati semua itu, aku sadar bahwa begitu banyak sahabat yang peduli padaku dan Yesus tak pernah meninggalkanku.

#11. Desember 2007. Manokwari. Dinasehati ortu khususnya bapa dan teman – teman, untuk tak pacaran dengan mantan pacar. Tapi keras kepala untuk mencoba menaklukan larangan itu. Hasil akhir, pas lagi masa break pacaran, pas lagi training di Jakarta untuk ke Australia, sekitar awal Mei, mantan pacar menikah tanpa pemberitahuan.(walau akhirnya terkuak bahwa pernikahan harus dilakukan demi faktor – faktor X, dan pada akhirnya pernikahannya di ujung tanduk; mati enggan hidup pun tak mau). Bombay abis selama beberapa hari, mata bangka – bangka. Dan hingga kini, masih tak bisa jatuh cinta pada orang lain selain ‘lelaki hujan’. TAPI … aku belajar untuk mencintai hingga terluka dan belajar melepaskan dengan rasa lega tanpa ada rasa benci. Belajar untuk memaafkan. Masih tetap menjalin hubungan yang erat dengan ‘lelaki hujan’, belajar melihat cinta lain yang ditawarkan Tuhan lewat sahabat – sahabatku yang mendukungku bahwa masih ada kehidupan usai cinta pergi dan belajar menata hidup tanpa intervensi seorang yang disebut ‘kekasih’. Belajar banyak tentang makna cinta.

Dan akhirnya … sebagai orang Kristen, Aku percaya BAHWA Yesus begitu baik, begitu banyak ketololan yang kubuat di dalam hidupku (lebih dari yang bisa kuabsen di dalam tulisan ini), tapi Ia selalu ada melindungiku. Mengirimkan orang – orang di waktu dan tempat yang tepat, mengingatkan dan menegurku lewat banyak hal (suka dan duka). Aku bisa saja sekarang hanyalah cewek cacat patah tulang, atau sudah berpulang pada-Nya Aku melihat bahwa apa yang telah dibuatnya dalam 25 tahun 10 bulan umurku lebih dari apa yang bisa kubayangkan sebelumnya. Bahwa aku begitu DIBERKATI. He truly loves me!

Aku percaya bahwa ada satu pribadi di luar sana yang peduli 100% padaku, dan aku percaya bahwa pribadi itu (Yesus) merancangkan hal yang indah bagiku. Tiba – tiba membuatku teringat lirik karangan I.S. Kijne dalam Nyanyian Rohani 134: Tersembunyi Ujung Jalan.

“Tuhan, janganlah biarkan,
Kutentukan nasibku.
Bri’lah hanya kudengarkan,
Keputusan hikmat-Mu.
Aku inipun selaku
Kanak – kanak yang bebal.
Bapa jua bimbing aku,
Ke kehidupan kekal.”

(Campbell, Canberra/ 7 Juli 2009)

Friday, 3 July 2009

Tak pernah (benar - benar) sendiri!


Sambil membersihkan kamar di rumah baru di Campbell, kerja keras yang membutuhkan banyak energi karena pernak – pernik kamarku yang begitu banyak, aku menemukan beberapa edisi The Humanitarian kiriman The Red Cross (Palang Merah) yang belum sempat kubaca. Banyak artikel dan laporan yang kutemukan di dalamnya, yang membuatku menyadari bahwa aku benar – benar diberkati dan wajib mengucap syukur atas apapun yang kupunya; khususnya keluarga, tempat tinggal dan kesehatan yang kupunya.

Beberapa kisah yang kubaca ini mungkin hanya seperti reportase tiap hari yang kita temui di media, tapi beberapa kisah ini bila dicermati lebih baik, mengajarkan bahwa hidup kita, seburuk apapun, pasti akan ada jalan keluar dan juga selalu ada harapan di luar sana. Aku percaya hidup bukan hanya hitam – putih tetapi berwarna – warni. Kisah – kisah ini membuatku percaya bahwa sebagai manusia, kita tak patut terus menggerutu atas hidup kita untuk semuanya apalagi sampai menyalahkan Tuhan.

Kisah dan foto yang kulihat mengingatkanku tentang banyak hal; tentang hidup. Tentang kasih. Tentang sebuah tantangan hidup yang harus ditaklukan dan juga tentang melihat hidup dari kacamata yang lebih baik; to see the bright side of everything in life. Be thankful for everything.

Kisah petani John Heffernan yang juga bekerja sebagai relawan pemadam kebakaran di daerah terpencil di Australia, seorang pemuda berumur 20an yang berniat menolong memadamkan api pada sebuah kebakaran di musim panas 2006 di NSW, Australia tetapi malah mengalami kecelakaan luka bakar parah akibat kobaran api yang besar, mengajarkanku bahwa dunia ini dibangun oleh hubungan dan bantuan dari orang lain dan bukan hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Hidupnya tertolong oleh 54 liter darah dari 114 orang yang mendonorkan darah dan ia berterima kasih atas ‘hidup’ yang dipinjamkan padanya. Kisahnya membuat mataku terbuka bahwa di luar sana ada banyak orang yang bersedia menolong. Mengingatkanku pada sebuah kutipan novel yang beberapa tahun lalu kubaca saat kuliah S1.

• Berpeganglah selalu pada diri sendiri. Tapi akan selalu ada, meskipun sedikit, meskipun tiada kau rasakan, orang – orang yang berpikir sepertimu, yang bisa memahamimu, dan bisa menyayangimu. Tak seorang pun benar – benar sebatang kara. Kita tidak pernah benar – benar sendirian...(Novel “Area X“ oleh Eliza V. Handayani, hal. 354)

Kisah seorang pria Etiopia di Melbourne yang berusaha melacak keberadaaan saudara – saudara tirinya dari ayahnya yang renta membuka mataku, bahwa apapun yang terjadi, a family remains a family karena disadari atau tidak, sense of belonging akan tetap ada. Saat Berhane, seorang pria 29 tahun, melakukan pelacakan tentang nasib saudara- saudaranya yang lain, yang terpisah dari ayahnya kala perang sipil di Etiopia tahun 1976 dan membuat ayahnya berkelana selama 24 tahun ke berbagai kamp pengungsian dan akhirnya mendarat di Australia. Saat akhirnya sang waktu bersahabat dengan mereka dan ia beserta ayahnya dapat kembali ke Etiopia dan bertemu dan menari bersama seorang saudarinya. Sebuah kisah non fiksi yang mengingatkanku betapa aku patut bersyukur untuk keluarga dan orang – orang tersayangku, yang bisa kuhubungi tiap hari, bisa berkomunikasi dengan mudah dengan hanya cukup menekan sejumlah tombol dan mendapatkan kabar terbaru mereka dalam sepersekian detik.

Sebuah kisah lain keluar dari mulut Jack Douch, seorang pelajar SD di Victoria, Australia yang akhirnya belajar menghadapi bagaimana menghadapi bulan – bulanan dan ejekan teman sekolahnya yang mengejek fam-nya (nama keluarga). Ia akhirnya bisa mengungkapkan rasa itu kala diberi kesempatan berbicara tentang masalahnya. Dan juga tuturan Claire Braidshaw, seorang pelajar SMA, yang belajar bahwa di luar sana, banyak sekali anak muda yang mengidap kecenderungan jiwa yang merusak diri mereka dan tak mereka sadari, dan belajar bahwa inilah saatnya bukan hanya sekedar menunggu mereka bercerita dan curhat tentang kecenderungan mereka tetapi juga belajar untuk mempertanyakan sebuah pertanyaan langsung, “are you hurting yourself?“. Hanya untuk memberitahu mereka bahwa ’kau tahu, dan mengerti.“

Akhirnya, apapun yang kau alami hari ini, mengucap syukurlah. Karena di luar sana, begitu banyak orang di planet yang bernama bumi ini yang tak seberuntung dirimu ^_^. Tetap semangat!!!

... karena hidup itu indah (dan kau masih punya kesempatan menikmatinya, dengan GRATIS !!!)

(Campbell, Canberra/ 3 Juli 2009)


(Sumber foto: http://www.genderandhealth.ca/en/modules/poverty/poverty-childhood-experience-02.jsp. Copyright of WHO/ P. Virot)

Wednesday, 1 July 2009

Slapped by an angel!

Kepada mereka yang terpaksa harus tidur tanpa atap, mencari makan dengan susah payah, yang berjuang untuk tetap bisa hidup!


Malam ini tanggal 30 Juni 2009, hari terakhir dalam bulan Juni. Sambil mengetik dan memutar videonya Kirk Franklin; seorang penyanyi gospel dari Amerika, lagunya yang berjudul ‘Imagine Me’ seakan membawa ingatanku kembali ke pengalamanku kala liburan minggu lalu tanggal 21 – 24 Juni yang benar – benar mengunjungi 4 kota sekali jalan (Canberra – Brisbane – Gold Coast – Sydney). Pengalamanku tanggal 24 Juni 2009 pada sekitar jam 11 siang di food court di Chinatown, Sydney benar – benar menegurku dan juga mengingatkanku untuk menghitung berkatku dan mengucap syukur.

Sebelum kejadian tanggal 24 Juni 2009 siang, aku dan teman – teman dalam perjalanan ke Gold Coast dan Brisbane. Melepaskan lelah dan tekanan psikologis akibat ujian dan aku benar – benar puas jalan dan bersenang – senang dan tertawa. Menikmati hidup, merasa begitu lepas. Masih sanggup untuk berjalan khususnya usai sakit selama 1,5 bulan. Liburan ini benar – benar sebagai luapan rasa bahagiaku usai sembuh; sebuah kompensasi dan upaya pemulihan dan rupanya memang kesehatanku usai liburan ini membaik dengan cepat, termasuk emosiku lebih stabil.

Tapi ada satu hal yang terjadi pada tanggal 29 Juni itu, sebuah siang yang membuatku tersadar betapa aku beruntung, betapa aku diberkati dalam hidup, betapa aku merasakan kenikmatan hidup yang bagi orang lain mungkin hanyalah sebuah mimpi untuk masa depan. Tulisanku ini tidak bermaksud menghakimi ataupun mendiskreditkan siapapun, ataupun sebagai kampanya ‘memuji diri’ tetapi aku berharap, usai membaca tulisan ini, mari kita belajar mengucap syukur atau hidup yang kita punya dan berterima kasih atas kesempatan untuk hidup; khususnya untuk makanan hari ini.

===============

Siang itu, usai check out dan menitipkan beberapa tas di loker, aku dan teman – teman perjalanan liburan Canbee – Brissie beranjak pergi dari hotel Formula 1 di bilangan Kings Cross, Sydney. Aku, Kak El, Kak Remy (suaminya kak El). Roudo, dan Lisna memutuskan naik kereta ke Central Station. Kami kemudian berjalan kaki dari sana menuju China Town dengan membawa beberapa koper. Siang itu Lisna akan pulang ke Indonesia via Sydney. Jadi, kami memutuskan wisata kuliner di China Town.

Setiba di food court yang dituju, setiap kami memesan makanan yang kami inginkan. Ada sup, ikan, ayam, dan tentu saja tak lupa kuputuskan memesan sayur kangkung dan daging babi saus. Kami benar –benar menikmati porsi besar makanan kami karena bagi aku dan teman – teman, makanan murah begini banyak adalah sebuah kemewahan bagi mahasiswa yang tinggal di Canberra. Hanya dengan AUD $ 8, sebuah porsi besar daging plus nasi telah ada di atas meja, yang kadang di Canbee minimal $15 atau bahkan $ 20s yang harus dirogoh dari kocek ataupun digesek dari tabungan demi hidangan yang sama.

Aku tentu saja memutuskan makan sepuasnya, jadi dengan modal $ AUD 16, sebuah porsi cah kangkung bertabur daging ayam dan 1 porsi iga daging babi berbumbu pindah ke atas mejaku. Perjuangan menunggu sekitar 20 menit tak sia – sia saat melihat hidangan lezat mengepul ditemani semangkok nasi hangat di depan mataku. Karena terlalu banyak, aku sengaja memesan daging babi dalam kontainer plastik agar mudah kubawa pulang.

Saat perut telah kenyang, aku dan teman – teman duduk bercerita guna mengumpulkan energi untuk berjalan lagi. Kebetulan temanku., si Roudo duduk di sebelah kiriku, tepat di sebelahku. Di hadapanku duduk kak Remy. Saat itu aku masih sibuk melihat pesan yang masuk di ponselku, dan nasi sisa makanannya Roudo masih tersisa di atas meja, tepat di sampingku, dalam sebuah mangkok. Sayur pesananku juga masih sisa ½ dari porsinya, apalagi daging babiku. Makanan pesananku dan teman – teman yang lain juga masih banyak yang bersisa. Bukannya apa, porsinya memang untuk ukuran makan 2 orang. Begitu banyak.

Saat mengaso, tiba – tiba seorang lelaki Asia Timur datang dan tanpa bicara ia mengambil nasi sisa di mangkok, milik Roudo. Saat itu Lisna dan Roudo sedang menyelesaikan pembayaran mereka dan memesan minuman. Aku tak menyadarinya karena membelakanginya. Kak Remy yang melihat pun kaget dan langsung berkomentar tentang sikap orang itu. Aku pikir si Roudo, ternyata orang lain. Awalnya aku pikir orang itu bermaksud jahat. Aku bergegas memperhatikan isi meja karena kamera digitalku kuletakan di atas kursi dekat meja. Aku, kak El, dan Kak Remy pun menoleh kepada pria itu yang duduk berjarak 2 meja dari kami. Dari balik punggungnya kulihat dia seperti sedang melakukan sesuatu.

Kuberjalan ke arah pria itu dan terkesima melihat dia, ditemani ransel lusuhnya di atas meja dan baju kumal serta tampang acak, sedang lahap memakan makanan sisa. Hatiku tiba – tiba merasa iba dan tersadar betapa beruntungnya hidupku yang masih bisa makan dengan mudah tanpa pusing memikirkan uang untuk membeli makanan. Tanpa banyak bicara, dan tentu saja dengan meminta pendapat dari kak El (aku khawatir akan menyinggung perasaan pria ini), kuberanikan mengantar sayur kangkung ½ porsiku kepadanya, dan rupanya ia tak keberatan menerimanya. Mataku melihat 1 kontainer daging babi milikku yang sedianya akan kubawa pulang untuk bekal makan malam nanti. Tapi tiba – tiba, sebuah suara di hatiku seakan bicara bahwa lelaki ini lebih membutuhkan makanan itu dibanding diriku yang kadang suka makan, kadang tidak. Kuhampiri lagi lelaki itu dan kutanyakan apakah ia boleh makan daging babi, usai mendapat jawabannya yang ‘iya’ dengan pandang mata hangat dan anggukan kepala plus kata ‘yes’, kuberikan kontainer makanan itu plus selembar uang dengan nominal yang bisa membantunya makan untuk 2 hari. Aku tahu pemberianku kecil tapi aku berharap setidaknya bisa membantunya untuk naik bis menuju tempat – tempat free food for homeless guna bertahan hidup beberapa hari ini di tengah musim dingin di Sydney.

======================

Selama ini aku tak pernah sekalipun bersinggungan dengan para gelandangan begitu emosional seperti ini. Sewaktu di Jakarta kadang aku memang memberikan beberapa koin Rp. 500 pada para pengemis di jalanan, tapi emosi yang kurasakan sangat berbeda saat mengalami hal ini. Begitu disentuh!

Selama di Australia memang aku mendaftarkan diri sebagai donatur tetap di Red Cross Australia dan juga kadang memberi sumbangan lewat CBM lewat warta di gerejaku sebagai pengganti perpuluhanku (anggota jemaatku umumnya adalah para lansia mapan jadi offering di gerejaku tak terlalu dibutuhkan demi perawatan gereja sehingga kami lebih diberi link dan sampul sumbangan ke beberapa organisasi amal Kristen dan misi pelayanan luar negeri Uniting Church dan untuk organisasi kaum yang terpinggirkan), tapi emosi memberi yang kuberi lewat debit rekeningku itu tak begitu se-emosional saat berjumpa lelaki ini. Pengalaman di Jakarta pun tak seperti ini. Tanggal 29 Juni 2009 siang itu, aku melihat dan menyaksikan betapa kemiskinan dan kelaparan adalah mimpi buruk. Mimpi buruk yang membuat rasa sebagai manusia begitu tipis; rasa malu harus dibuang jauh kalau ingin hidup.

Usai berbagi makanan dan uang yang menurutku sangat kecil (dibanding tunjangan beasiswaku per bulan), aku disadarkan bahwa aku beruntung, aku diberkati. Aku belum pernah mengalami kejadian seperti ini; melihat seseorang memakan makanan sisa makanan dari piring dan menggunakan sendok bekas di depan mata kami dan menikmatinya. Aku tak akan pernah bisa lupa tatapan mata hangat lelaki itu beserta senyum; sebuah ucapan terima kasih yang tak keluar dari mulutnya tetapi diwakili oleh bahasa tubuhnya. Sebuah ekspresi yang membuatku merasa dibutuhkan kala beberapa hari sebelum liburan sempat dihinggapi fase depresiku yang sempat membuatku berpikir bahwa hidupku kosong dan tak berarti.

Pengalamanku ini benar – benar menampar kesadaranku bahwa aku berarti bagi Tuhan, aku sangat diberkati. Aku juga disadarkan bahwa liburan ini, dengan uang yang kupakai untuk liburan ini bisa memberi makan orang – orang seperti pria ini selama 1 – 2 minggu. Batinku sekali lagi disadarkan betapa aku DIBERKATI. Pria ini mungkin selama 1 tahun ini atau lebih bahkan mungkin tak punya kesempatan sepertiku untuk membeli tiket masuk Movie World, Warner Bros di Gold Coast ataupun tiket pesawat dan tiket bis plus biaya nginap di hotel dan segala macam tiket masuk taman hiburan.

Krisis ekonomi ini benar – benar tamparan dan mimpi buruk bagi banyak negara termasuk Australia karena laporan dari beberapa badan dan media menyebutkan angka homeless alias gelandangan meningkat. Tentu saja artinya di luar sana, ada banyak orang yang mulai kelaparan dan bingung tentang bagaimana cara bertahan hidup. Apalagi dampak krisis ini semakin buruk bagi negara – negara miskin alias third world nations. Selain itu, tahun ini mencatat bahwa di Ethiopia; sebuah negara di Afrika, krisis pangan yang buruk seperti tahun 1984 akan terjadi lagi karena gagal panen akibat perubahan iklim (lagi – lagi pemanasan global ….).

Aku berharap kita bisa mulai melakukan sesuatu bagi mereka dan orang – orang lain yang tersingkirkan dalam hidup ini. Tidak harus dalam bentuk uang secara langsung (secara pribadi, aku lebih memilih mengirimnya kepada badan – badan yang telah terpercaya dalam pengelolaan uang bagi kaum terlantar yang laporan auditnya bisa kuterima, yang mana program mereka bukan sekedar memberi ‘umpan’ tetapi lebih banyak ke ‘kail’) dan makanan, tapi bisa dengan perhatian, ataupun yang paling mudah; sebuah senyuman. Serta kita mulai menjalankan fungsi dan tanggung jawab kita dengan tepat; tak mengambil apa yang bukan milik kita, memberi apa yang bisa kita beri dan semuanya tentu saja tak boleh dengan membanggakan diri. Aku percaya bila kita bisa menjalankan peran kita dengan baik, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih baik.

Sebagai seorang Kristen, Aku percaya Bapa di surga adalah Allah yang kaya dan Ia mau berbagi kekayaan-Nya lewat setiap diri kita yang akan dibagikan lagi kepada sesama. Be the channel of blessings. Merefleksikan Kristus dalam hidup kita. Amen.

(Canberra, 30 Juni 2009)