Untuk dia yang terus menginsirasiku untuk terus berjuang dan bersemangat, yang mengajarkan ketabahan dan kesabaran menghadapi hidup.
========
Saat mengerjakan tugas, tiba – tiba sebuah SMS masuk di HPku, dari seseorang yang jauh di sana, di sebuah tanah bernama Papua. SMS yang isinya sejak hampir 6 tahun tak pernah berubah dari cara pengirimannya. SMS yang tak pernah memakai huruf besar, yang kadang – kadang tanda bacanya salah terpasang, yang tak pernah sekalipun memakai simbol emotikon dan selalu berlimpah kata ‘ok’.
Aku mengingat lelaki ini sebagai bagian terbesar dari hidupku. Lelaki yang paling setia dalam hidupku, yang menginginkan yang terbaik untukku. Lelaki yang selalu mengirimkan SMS kala telepon selularnya diaktifkan kala senja, pukul 6 P.M. Lelaki yang nada SMSnya tak pernah berubah sejak aku tahu cara mengoperasikan SMS. Lelaki yang menanyakan tentang kesehatanku, bercerita tentang keadaan di rumah maupun lingkungan; tentang siapa yang baru saja melahirkan, baru saja meninggal, tentang masalah rumah tangga di rumah, tentang kelakuan para bandit kecil di rumah dan ikan – ikan di kolam belakang rumah.
Lelaki ini yang padanya kuberjarak 20 tahun, membuatku begitu memimpikan mendapat seseorang seperti dia. Seseorang yang selalu ada kala ku sakit, yang menyemangatiku kala ku sedih dan sakit. Lelaki yang kadang ‘mengancamku’ untuk tak akan membuatkan makanan favoritku atau mengabulkan keinginanku kalau aku tak mau disuntik kala didera malaria. Aku merindukan masakan sopnya ataupun dibelikan soto ayam dan makanan hangat lainnya kala ku sakit. Ia, lelaki yang berbagi suku kata namanya dalamku; Rin, begitu membuat hidupku lengkap sejak kecil.
Banyak orang yang mengatakan bahwa aku berbagi banyak hal dengannya, kecuali tampilan fisikku, dan pada beberapa hal itu, aku percaya bahwa aku benar – benar merupakan warisan kromosomnya yang memilih mandiri. Ia lelaki yang mengajarkan tentang cinta pada lingkungan hidup tanpa perlu menceramahiku tentang ekosistem. Ia hanya mengajarkan lewat sikapnya yang suka menanam pohon dan memberinya sebagai hadianh ulangtahunku sejak aku dan saudara – saudaraku dilahirkan; sebagai pengingat dan juga lambang kemandirian.
Ia, lelaki yang kukenal dalam hampir 26 tahun umurku, yang mengajarkanku untuk janga pernah bergantung pada orang lain, mandiri dan bisa mengandalkan diriku sendiri. Ia lelaki yang memilih menanam sayuran dan bumbu dapur di halaman rumah beserta deretan banyak pohon buah. Aku merindukan deretan pohon pepaya yang ditanamnya dan juga pisang, yang bagiku dan keluarga hanyalah agar tak ada lahan yang kosong. Ia mengajarkan satu hal kecil bahwa kita bisa mandiri tanpa bergantung pada orang lain bila kita mau berusaha lebih keras.
Ia lelaki yang kukenal yang berdiri untukku dan membelaku kala anggota keluarga yang lain tak sependapat denganku dan berniat menjatuhkan semua pendapatku. Lelaki yang tak peduli bagaimana pendapat anggota keluarga yang lain tentangnya kala ia mengijinkan aku melakukan hal – hal tergila dalam masa remajaku selama aku bahagia melakukannya. Tetapi ia juga adalah lelaki tertegas dan terkeras yang kutahu yang tak menginginkan lelaki manapun melukai dan menyakitiku namun ia memilih menyimpan kekecewaanya dalam diam dan membiarkanku menyadari kesalahanku. Ia lelaki yang tak ingin menyakitiku dengan kata – katanya yang kasar dan memilih membuatku menganalisa sendiri dengan cukup mengatakan: “Kalo cari teman, cari teman yang baik” walaupun ia tahu fakta terburuk tentang para lelaki yang menyakitiku.
Ia lelaki yang mengajarkan padaku bahwa kehidupan itu keras dan kita harus selalu berpijak pada realitas dan tak boleh pernah menyerah untuk menaklukan hidup yang keras. Yang mengajarkan aku tentang menggapai impian setinggi mungkin walau ia sendiri cuma lulusan SMP, yang mengajarkan dan mengingatkanku sejak kecil untuk belajar dan terus belajar.
Mengingatnya, hatiku mengenang pengorbanannya untukku sejak kecil.Lelaki yang melepas masa mudanya dengan menggendongku dan membawaku kemana saja, yang menjadikanku rekan balapnya dengan menaruhku di tanki depan motor King dan bergaya dengan kaca mata Chip-nya. Lelaki yang selalu bangga padaku dan selalu membawa dan memperkenalkanku pada rekan – rekan kerjanya. Yang selalu peduli padaku kala kulupa makan, yang mengingatkanku, mengetuk pintu dan membangunkanku kala ku melewatkan jam makan.
Ia lelaki yang bersedia menghadapi pandangan cemoohan orang – orang kala selalu setia memasakkan dan menyuapiku kala terbaring lumpuh selama 1 bulan 1 minggu di rumah sakit, yang bersedia menghabiskan hidupnya antara rumah – RSUD untuk menemaniku, yang tak pernah mau menghakimiku tentang sakitku dan bahkan bisa mengajakku tertawa dan menghadapi kesakitan dengan tertawa. Ia lelaki yang bersedia meninggalkan pekerjaannya dan menggendongku selama 2 minggu bolak – balik ke bangku sekolahku di saat – saat tahun terakhirku di SMA, hingga aku bisa berjalan perlahan dengan kruk. Lelaki yang selalu setia mengantarku berlatih berjalan di halaman rumah dan mencari pengobatan.
Dia, lelaki yang tak pernah merasa gengsi turun ke dapur, meramu masakan dan minuman, yang selalu menyiapkan teh dan kueku sebelum aku bangun pagi. Yang mengisi hari – hari masa kecilku dengan memasakan ‘bubur merah putih’ kala berulangtahun. Dia lelaki yang jarang bersendagurau tapi selalu ada untukku kala kubercerita. Aku merindukan kala makan dan bercerita dengannya. Ia lelaki yang tak terlalu mengharapkanku mengikuti semua tradisi budayanya dan membiarkanku memanggil semua saudaraku dengan nama mereka tanpa embel – embel ‘mas’ atau ‘mbak’.
Aku belajar banyak darinya tentang pribadiku yang sekarang, tentang keadilan. Ia lelaki yang anti kekerasan dan selalu percaya bahwa kekerasan takkan pernah bisa menyelesaikan masalah. Ia lelaki yang belajar banyak dari kesalahan masa remajanya dan mengajarkanku bahwa jalan damai adalah yang terbaik. Lelaki yang mengajarkan bahwa keadilan adalah hal yang perlu dijunjung. Ia mengajarkanku keadilan bukan lewat ceramah berjam – jam tetapi lewat sikapnya yang akan menghajarku dan adikku usai kami berdua berkelahi, dan ia tak peduli siapa yang menang karena usai berkelahi dengan menggunakan semua tinju, tendangan dan pukulan yang kami punya, pada akhirnya kami tetap akan diberi pelajaran di betis kami lewat sabetan rotan karena telah berkelahi.
Ia lelaki terhebat yang kukenal yang mengajarkanku untuk menjadi diriku sendiri, yang tak pernah sekalipun dari kecil memaksaku memakai pakaian perempuan bila tak kuinginkan. Lelaki yang menerimaku apa adanya, dengan segala kegilaanku, segala keanehanku. Lelaki yang akan menjemputku pulang dari acara pesta larut malam, yang akan menelponku bila kutak pulang jam 10 malam, lelaki yang membolehkan anak perempuannya berenang, berjalan kaki pulang dari pantai ke rumah (walau 1 jam lebih). Lelaki yang tak marah bila kupacu motorku dengan kecepatan tinggi di jalanan, kerap ia hanya selalu mengingatkan untuk berhati – hati walau ia tahu aku tetap akan berkeras dengan pilihan kecepatanku. Ia tetap ada untukku dan tak memarahiku walaupun pada akhirnya motor yang kupakai harus mendapat perbaikan usai kecelakaan.
Aku mengingatnya sebagai lelaki yang mendukung minat bacaku sejak kecil, dengan membelikanku majalah Bobo sewaktu kami pulang dari TK, dan dengan gajinya yang terbatas selalu membelikanku semua buku teks pelajaran yang kubutuhkan walaupun buku teks itu pasti akan dipenuhi coretan sketsa fashion dan gambar – gambar abstrak. Ia lelaki yang tak memrotes seberapa banyak buku dan alat tulis yang kuhamburkan bila sibuk menggores sketsa fashion dan bukannya pelajaran.
Dia, lelaki pendongeng pertamaku, yang mendongeng tentang asal mula Ikan Lele dan membuatku tak bisa menyentuh dan mengonsumsi Lele hingga tamat kuliah. Dia, lelaki pecinta pohon, yang mengenalku pada berbagai macam pohon. Dia, lelaki pecinta damai, yang selalu menginginkan agar suasana rumah tenang dan aman.
Aku mencintainya sebagai bagian dari diriku yang tak akan pernah bisa kusangkal, mewarisi kromosomnya, pandangan hidupnya, sikapnya. Aku mencintainya sebagai pahlawanku, pembelaku, sahabatku dan teman berkisah. Aku mencintainya sebagai seseorang yang sangat berarti dalam hidupku.
Kami kadang berargumentasi tentang langkah yang kuambil, tentang preferensiku, tapi ia selalu bersedia untuk mendengarkan dan mempertimbangkan usulanku. Lelaki yang tak pernah sekalipun melontarkan satu perkataan yang mematikan semangatku, lelaki yang tak pernah sekalipun mengucapkan ucapan yang membuatku terluka sebagai manusia. Lelaki yang memahami diriku yang sensitif.
Kelak, suatu hari nanti, kan kukatakan pada anakku bahwa dalam suatu masa, aku telah pernah bertemu dan disayang oleh seorang lelaki terindah di hidupku; the most inspiring one.
Bila jingga terus bergulir dan akhir 2010 semakin mendekat, kuingin berlari pulang dan memeluknya dan berkata: “Sa bangga jadi ko pu anak, Pa!”.
(Canberra, 27 Mei 2009)
Thursday, 28 May 2009
Sunday, 24 May 2009
Aku ingin hujan!
Malam membalut hari,
Mentari berkhianat padaku.
Bulan tak muncul, bintang pun sehati.
Kegelapan melingkupiku.
Lampu jalan memainkan pendarnya,
Kutatap sinar remang – remang,
Mencari jalan pulang,
Atau kah kenangan yang hilang?
Wajah itu kembali lagi,
Menggerogoti akal sehat,
Membunuh sel – sel logikaku,
Membuatku tak berdaya!
Mata itu kembali lagi,
Mencuri ingatanku,
Menghidupkan kenangan mati,
Membangunkan mimpi lama.
Entah sampai kapan,
Berapa jingga yang harus kulewati,
Berapa pendar mentari yang kan datang,
Berapa nyanyian pagi yang menyapa,
Hanya untuk bisa terjaga dari mimpi yang hidup.
Aku ingin hujan!
Hujan dalam ruang.
Hujan yang menari liar!
Hujan yang membuatku melebur,
Membumi dalam aliran pori – pori tanah.
Melebur … hingga jauh
Melebur … hingga lupa.
Melebur … hingga terjaga.
Berapa jingga,
berapa mentari,
berapa bulan,
berapa bintang,
berapa musim,
aku tak tahu .. Entahlah!
Mentari berkhianat padaku.
Bulan tak muncul, bintang pun sehati.
Kegelapan melingkupiku.
Lampu jalan memainkan pendarnya,
Kutatap sinar remang – remang,
Mencari jalan pulang,
Atau kah kenangan yang hilang?
Wajah itu kembali lagi,
Menggerogoti akal sehat,
Membunuh sel – sel logikaku,
Membuatku tak berdaya!
Mata itu kembali lagi,
Mencuri ingatanku,
Menghidupkan kenangan mati,
Membangunkan mimpi lama.
Entah sampai kapan,
Berapa jingga yang harus kulewati,
Berapa pendar mentari yang kan datang,
Berapa nyanyian pagi yang menyapa,
Hanya untuk bisa terjaga dari mimpi yang hidup.
Aku ingin hujan!
Hujan dalam ruang.
Hujan yang menari liar!
Hujan yang membuatku melebur,
Membumi dalam aliran pori – pori tanah.
Melebur … hingga jauh
Melebur … hingga lupa.
Melebur … hingga terjaga.
Berapa jingga,
berapa mentari,
berapa bulan,
berapa bintang,
berapa musim,
aku tak tahu .. Entahlah!
Saturday, 23 May 2009
I need U, Jesus!
Malam ini usai membuat diriku sedikit santai dengan mendengar musik, aku memutuskan untuk berdoa setelah beberapa lama tak ingat untuk membaca Alkitab, itulah sebabnya aku begitu kehilangan arah beberapa hari ini, kala tekanan begitu keras dan aku terjatuh dan begitu bingung.
Malam ini aku mendapatkan kekuatanku kembali usai membaca Alkitab dan membaca mulai dari Yeremia pasal 11 – 13, aku melihat bagaimana Allah mengasihi umat-Nya dan ia tak segan memberi teguran. Pembacaan ini mengingatkan aku bahwa Allah selalu ada dan memperhatikan hidup manusia. Aku tak lupa mengaku segala dosa pikiran, perkataan, dan perbuatan. Meminta ampun pada Bapa. Karena aku membutuhkan pengampunan-Nya. Akhirnya ada rasa tenang yang kudapatkan.
Kemarin aku benar – benar macam orang gila yang tak tau mo bikin apa. Usai terbangun dari 13 jam 30 menit waktu tidur, aku malah terjaga sampai pagi dan sibuk membunuh waktu dengan chatting. FB, dan browsing tak tentu arah dan baru tidur jam 10 pagi tadi dan bangun jam 6 sore. Jam biologis tubuhku kacau. Tapi Thanx God, usai mandi dan makan, aku memilih berdoa dan merasa tenang. Aku jadi ingat teman chattingku di YM tadi malam yang mengingatkan aku untuk mengambil waktu untuk tenang, juga diajarin sama seorang teman baru tentang memasang ads-sense di blogku, plus dikenalkan pada sesama pengagum hujan.
Malam ini , walau rasa malas menyelimutiku untuk membuka komputer dan mengerjakan tugas, aku tiba – tiba ingat bahwa aku perlu pengingat dan segera mengambil kertas buram bekas cetakan yang salah, dan menulis beberapa kalimat sugesti di sekelilingku, mulai dari “Bisa, bisa, ko bisa!”, Ko bisa!”, Maya, smangat!”, sampe “Jesus = Jawaban”, plus “Jesus = success”. Tentu saja kata – kata ini berpasangan dengan kata – kata yang lain seperti “No time 4 love”, “No more Al ***”, “Al***, no more” dan lain – lain. Aku butuh pengingat!
Kusempatkan juga mengecek akun Facebookku dan membalas beberapa komentar teman – teman cewek tentang penyimpangan seksual, juga komentar di dinding FB. Aku bersyukur masih bisa menulis lagi.
Akhirnya, aku mau semangat lagi, mo berkata pada dunia bahwa “Dengan Yesus, aku pasti bisa.” Aku membutuhkan Yesus sebagai pengendali hidupku, penuntunku yang memberi tahu jalan mana yang kubutuhkan. Aku membutuhkan-Mu, Yesus seperti bebungaan yang mekar dan menantikan datangnya embun pagi penyegaran. Semoga sa tra mengecewakan-Mu lagi. We’ll dance, I promise!
Malam ini aku mendapatkan kekuatanku kembali usai membaca Alkitab dan membaca mulai dari Yeremia pasal 11 – 13, aku melihat bagaimana Allah mengasihi umat-Nya dan ia tak segan memberi teguran. Pembacaan ini mengingatkan aku bahwa Allah selalu ada dan memperhatikan hidup manusia. Aku tak lupa mengaku segala dosa pikiran, perkataan, dan perbuatan. Meminta ampun pada Bapa. Karena aku membutuhkan pengampunan-Nya. Akhirnya ada rasa tenang yang kudapatkan.
Kemarin aku benar – benar macam orang gila yang tak tau mo bikin apa. Usai terbangun dari 13 jam 30 menit waktu tidur, aku malah terjaga sampai pagi dan sibuk membunuh waktu dengan chatting. FB, dan browsing tak tentu arah dan baru tidur jam 10 pagi tadi dan bangun jam 6 sore. Jam biologis tubuhku kacau. Tapi Thanx God, usai mandi dan makan, aku memilih berdoa dan merasa tenang. Aku jadi ingat teman chattingku di YM tadi malam yang mengingatkan aku untuk mengambil waktu untuk tenang, juga diajarin sama seorang teman baru tentang memasang ads-sense di blogku, plus dikenalkan pada sesama pengagum hujan.
Malam ini , walau rasa malas menyelimutiku untuk membuka komputer dan mengerjakan tugas, aku tiba – tiba ingat bahwa aku perlu pengingat dan segera mengambil kertas buram bekas cetakan yang salah, dan menulis beberapa kalimat sugesti di sekelilingku, mulai dari “Bisa, bisa, ko bisa!”, Ko bisa!”, Maya, smangat!”, sampe “Jesus = Jawaban”, plus “Jesus = success”. Tentu saja kata – kata ini berpasangan dengan kata – kata yang lain seperti “No time 4 love”, “No more Al ***”, “Al***, no more” dan lain – lain. Aku butuh pengingat!
Kusempatkan juga mengecek akun Facebookku dan membalas beberapa komentar teman – teman cewek tentang penyimpangan seksual, juga komentar di dinding FB. Aku bersyukur masih bisa menulis lagi.
Akhirnya, aku mau semangat lagi, mo berkata pada dunia bahwa “Dengan Yesus, aku pasti bisa.” Aku membutuhkan Yesus sebagai pengendali hidupku, penuntunku yang memberi tahu jalan mana yang kubutuhkan. Aku membutuhkan-Mu, Yesus seperti bebungaan yang mekar dan menantikan datangnya embun pagi penyegaran. Semoga sa tra mengecewakan-Mu lagi. We’ll dance, I promise!
Awas, ada orku!
“Neh ko jang lewat tempat itu kalo su sore eee. Ada Orku!!!”, ujar Mery pada Betty, suatu hari. “Memangnya kenapa? Orku tuh apa jadi”, pungkas Betty acuh tak acuh. “Orku tuh orang kurang ajar ya .. masa ko tra tau tuh”, kata Mery lagi.
Pernahkah anda terpapar dengan percakapan seperti itu, baik berupa teguran, peringatan maupun hanya sekedar pembicaraan sambil lalu? Pernahkah anda mendengar keluhan dari beberapa teman perempuan tentang ketidaknyamanan mereka berpapasan atau melewati tempat tertentu karena akan bertemu dengan orang – orang yang membuat mereka tidak nyaman karena aspek seksualitas? Tulisan ini kubuat untuk mengingat mereka yang pernah menjadi korban, diriku sendiri, serta berbagi guna mengingatkan bagi kaum perempuan agar berwaspada dengan para ‘penjahat seksual’ di luar sana.
Penyimpangan seksual yang akan kubahas ini lebih mengedepankan pada penyimpangan seksual yang kadang dianggap lalu oleh masyarakat. Penyimpangan yang sering dianggap hanyalah karena keisengan orang atau kurangnya moral seseorang. Penyimpangan yang akan kubahas ini lebih bersifat pendapat pribadi dan tak ingin mendiskreditkan siapapun.
Tahukah anda bahwa semua perempuan rentan terpapar dengan pengidap penyimpangan seksual alias sexual deviation. Dalam bahasa medisnya, terdapat istilah paraphilia atau parafilia. Etimologi ini berasal dari bahasa Yunani “para + philein”, to love atau mencintai. Tapi, jangan salah … istilah ini mengacu pada penyimpangan seksual dimana naluri seksual kita yang diekspresikan dalam cara – cara yang secara sosial ditabukan, dilarang atau tak diinginkan atau juga secara biologis tak diinginkan, seperti penggunaan objek non-manusia demi membangkitkan hawa nafsu, aktivitas seksual dengan orang lain yang melibatkan atau dilibatkan secara langsung maupun tidak langsung dimana ada unsure pelecehan dan penderitaan, ataupun hubungan seksual dengan orang lain yang tak seharusnya (terjemahan bebas dari Mosby's Medical Dictionary, 8th edition. © 2009, Elsevier)
Bila anda berselancar di dunia maya, akan ada temukan banyak sekali jenis – jenis penyimpangan seksual yang kerap kita temukan dalam keseharian kita, namun tak kita sadari bahwa itu adalah “penyimpangan”. Penyimpangan yang terjadi ini bukanlah cerita baru yang anda temukan sekarang, karena hampir semua kebudayaan mencatatnya bahkan dalam Alkitab pun ditemukan beberapa cerita tentang penyimpangan seksual. Penyimpangan seksual adalah bentuk aktivitas yang hampir sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Penyimpangan ini terjadi bukan hanya di tempat – tempat yang penduduknya mengagungkan seks bebas, tapi juga dalam lingkungan keseharian kita. Penyimpangan seksual bukanlah konteks di awang – awang yang tak tersentuh oleh akal kita, karena aku percaya bahwa dalam seumur hidup perempuan, pasti pernah walaupun tak langsung, ia pernah mendengar ataupun menjadi korban dari penyimpangan ini.
Aku tak mau mengabsen jenis – jenis penyimpangan lain yang begitu banyak, tapi aku ingin menggarisbawahi beberapa penyimpangan yang kerap kualami, kulihat dan kubaca dari surat kabar. Penyimpangan – penyimpangan yang umum kutemukan adalah:
1. Eksibisionisme
Dari kata ‘eksibis’ kita telah dapat menebak tentang kira – kira penyimpangan seperti apakah ini. Ya anda benar, makna dasar dari ‘eksibis’ adalah “pamer” alias menunjukan. Pada penyimpangan ini, gangguan kejiwaan secara seksual ini umumnya diderita oleh lelaki dimana lelaki ini sering memamerkan alat vitalnya pada situasi sosial dimana tak sesuai konteks, dimana ia mendapatkan kepuasan seksual kala orang yang menjadi target khususnya dari lawan jenis bereaksi misalnya ketakutan dan menjerit. Kejadiannya bisa dimana saja, ada yang di halte bis, di jalan – jalan sunyi di kompleks, atau bahkan di mana saja.
2. Voyeurisme
Penyimpangan ini juga kerap disebut ‘peeping tom’ alias Tom si pengintip. Penyimpangan ini berupa orang yang mendapatkan kepuasan seksual dengan mengintip orang lain yang (maaf) telanjang, alat vital orang lain, ataupun orang lain yang sedang melakukan hubungan seksual. Para perempuan khususnya mahasiswi di kos – kosan sering melaporkan kejadian ini dimana kamar – kamar mereka sering disatroni orang tak dikenal yang membolongi jendela atau kamar mandi mereka untuk alasan yang tak jelas.
3. Pedofilia
Penyimpangan ini adalah dimana penderita mendapatkan kepuasan seksual dengan melibatkan fantasi ataupun tindakan seksual dengan anak – anak. Misalnya mengoleksi gambar – gambar anak – anak kecil yang telanjang dan memakainya dalam fantasi mereka. Pelakunya bisa homoseksual ataupun heteroseksual
4. Transvestisme
Penyimpangan ini adalah penyimpangan seksual dimana pengidap mendapatkan kepuasan seksual dengan berpakaian ataupun memakai barang – barang dari lawan jenis, umumnya dengan cara meniru berpakaian. Kadang dikaitkan dengan gangguan identifikasi jenis kelamin.
5. .Fetisisme
Penyimpangan ini diderita oleh orang yang mendapatkan kepuasan seksual dengan menggunakan barang – barang milik lawan jenis umumnya milik perempuan yang notabene adalah (maaf) pakaian dalam guna membangkitkan hasrat seksual mereka termasuk orgasme. Jadi kalau di tempat anda sering hilang pakaian dalam, waspadalah, jangan – jangan ada pengidap fetisisme di sekitar tempat tinggal anda.
Dalam Fetisisme, ada juga istilahnya “fetisisme transvestik” dimana penderita yang umumnya lelaki yang mengidap sindrom gabungan antara fetisisme dan transvestism.
6. Zoofilia
Penyimpangan ini terjadi kala penderita tergila – gila atau mengalami kepuasan seksual dengan berhubungan seksual dengan hewan ataupun menjadikan hewan sebagai objek fantasi seksualnya.
7. Telefonicofilia atau telephone scatologia
Sering kita mendapatkan telepon gelap dari orang yang tak dikenal yang mengajak kita melakukan hubungan seksual ataupun penelpon berbicara seks dengan nada yang tak kita inginkan, bisa jadi anda telah berhadapan dengan pengidap penyimpanan ini. Penyimpangan ini dimana penderita mendapatkan kepuasan seksual dengan melakukan panggilan telepon yang bernuansa seks dimana penerima umumnya tak menghendaki panggilan itu.
8. Nekrofilia
Penyimpangan ini terjadi sewaktu pengidap tergila – gila dan berfantasi ataupun berhubungan seksual dengan mayat guna mendapatkan kepuasan seksual.
9. Urolagnia
Penyimpangan ini terjadi dimana pengidap mendapatkan kepuasan seksual yang berhubungan dengan urine (air seni). Mereka mendapatkan kepuasan saat melihat orang sedang buang air kecil ataupun sebaliknya.
Penyimpangan – penyimpangan ini tetap ada, dan sayangnya hingga saat ini masih banyak yang tak menaruh perhatian pada hal ini. Padahal orang – orang yang mengidap kelainan ini sebenarnya adalah orang – orang yang sakit secara kejiwaan dan membutuhkan pertolongan dan perawatan. Begitu juga dengan para korban yang umumnya perempuan dari tindakan – tindakan ini yang merasa tersiksa dan trauma walaupun sering tanpa kontak fisik
Bila saat ini di sekitar anda, ada korban maupun pengidap yang anda kenal, inilah saatnya menawarkan bantuan dengan mencarikan orang – orang terpecaya di lingkungan anda untuk berkonsultasi. Sayangnya, jumlah Rumah Sakit Jiwa dimana ada psikiatris sangat terbatas di Indonesia apalagi di tanah Papua padahal para pengidap penyimpangan dan juga korban membutuhkan konseling dan perawatan. Bagi para pengidap, agar cepat terbebas dari hal – hal yang merusak ini. Bagi para korban, agar dapat berdamai dengan diri dan hidup bebas lepas dari trauma.
(Disarikan dari berbagai sumber/ Canberra, 23 Mei 2009)
Info lebih lengkap, silahkan merujuk pada:
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/Sexual+deviations
http://encyclopedia.thefreedictionary.com/Sexual+deviations
Pernahkah anda terpapar dengan percakapan seperti itu, baik berupa teguran, peringatan maupun hanya sekedar pembicaraan sambil lalu? Pernahkah anda mendengar keluhan dari beberapa teman perempuan tentang ketidaknyamanan mereka berpapasan atau melewati tempat tertentu karena akan bertemu dengan orang – orang yang membuat mereka tidak nyaman karena aspek seksualitas? Tulisan ini kubuat untuk mengingat mereka yang pernah menjadi korban, diriku sendiri, serta berbagi guna mengingatkan bagi kaum perempuan agar berwaspada dengan para ‘penjahat seksual’ di luar sana.
Penyimpangan seksual yang akan kubahas ini lebih mengedepankan pada penyimpangan seksual yang kadang dianggap lalu oleh masyarakat. Penyimpangan yang sering dianggap hanyalah karena keisengan orang atau kurangnya moral seseorang. Penyimpangan yang akan kubahas ini lebih bersifat pendapat pribadi dan tak ingin mendiskreditkan siapapun.
Tahukah anda bahwa semua perempuan rentan terpapar dengan pengidap penyimpangan seksual alias sexual deviation. Dalam bahasa medisnya, terdapat istilah paraphilia atau parafilia. Etimologi ini berasal dari bahasa Yunani “para + philein”, to love atau mencintai. Tapi, jangan salah … istilah ini mengacu pada penyimpangan seksual dimana naluri seksual kita yang diekspresikan dalam cara – cara yang secara sosial ditabukan, dilarang atau tak diinginkan atau juga secara biologis tak diinginkan, seperti penggunaan objek non-manusia demi membangkitkan hawa nafsu, aktivitas seksual dengan orang lain yang melibatkan atau dilibatkan secara langsung maupun tidak langsung dimana ada unsure pelecehan dan penderitaan, ataupun hubungan seksual dengan orang lain yang tak seharusnya (terjemahan bebas dari Mosby's Medical Dictionary, 8th edition. © 2009, Elsevier)
Bila anda berselancar di dunia maya, akan ada temukan banyak sekali jenis – jenis penyimpangan seksual yang kerap kita temukan dalam keseharian kita, namun tak kita sadari bahwa itu adalah “penyimpangan”. Penyimpangan yang terjadi ini bukanlah cerita baru yang anda temukan sekarang, karena hampir semua kebudayaan mencatatnya bahkan dalam Alkitab pun ditemukan beberapa cerita tentang penyimpangan seksual. Penyimpangan seksual adalah bentuk aktivitas yang hampir sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Penyimpangan ini terjadi bukan hanya di tempat – tempat yang penduduknya mengagungkan seks bebas, tapi juga dalam lingkungan keseharian kita. Penyimpangan seksual bukanlah konteks di awang – awang yang tak tersentuh oleh akal kita, karena aku percaya bahwa dalam seumur hidup perempuan, pasti pernah walaupun tak langsung, ia pernah mendengar ataupun menjadi korban dari penyimpangan ini.
Aku tak mau mengabsen jenis – jenis penyimpangan lain yang begitu banyak, tapi aku ingin menggarisbawahi beberapa penyimpangan yang kerap kualami, kulihat dan kubaca dari surat kabar. Penyimpangan – penyimpangan yang umum kutemukan adalah:
1. Eksibisionisme
Dari kata ‘eksibis’ kita telah dapat menebak tentang kira – kira penyimpangan seperti apakah ini. Ya anda benar, makna dasar dari ‘eksibis’ adalah “pamer” alias menunjukan. Pada penyimpangan ini, gangguan kejiwaan secara seksual ini umumnya diderita oleh lelaki dimana lelaki ini sering memamerkan alat vitalnya pada situasi sosial dimana tak sesuai konteks, dimana ia mendapatkan kepuasan seksual kala orang yang menjadi target khususnya dari lawan jenis bereaksi misalnya ketakutan dan menjerit. Kejadiannya bisa dimana saja, ada yang di halte bis, di jalan – jalan sunyi di kompleks, atau bahkan di mana saja.
2. Voyeurisme
Penyimpangan ini juga kerap disebut ‘peeping tom’ alias Tom si pengintip. Penyimpangan ini berupa orang yang mendapatkan kepuasan seksual dengan mengintip orang lain yang (maaf) telanjang, alat vital orang lain, ataupun orang lain yang sedang melakukan hubungan seksual. Para perempuan khususnya mahasiswi di kos – kosan sering melaporkan kejadian ini dimana kamar – kamar mereka sering disatroni orang tak dikenal yang membolongi jendela atau kamar mandi mereka untuk alasan yang tak jelas.
3. Pedofilia
Penyimpangan ini adalah dimana penderita mendapatkan kepuasan seksual dengan melibatkan fantasi ataupun tindakan seksual dengan anak – anak. Misalnya mengoleksi gambar – gambar anak – anak kecil yang telanjang dan memakainya dalam fantasi mereka. Pelakunya bisa homoseksual ataupun heteroseksual
4. Transvestisme
Penyimpangan ini adalah penyimpangan seksual dimana pengidap mendapatkan kepuasan seksual dengan berpakaian ataupun memakai barang – barang dari lawan jenis, umumnya dengan cara meniru berpakaian. Kadang dikaitkan dengan gangguan identifikasi jenis kelamin.
5. .Fetisisme
Penyimpangan ini diderita oleh orang yang mendapatkan kepuasan seksual dengan menggunakan barang – barang milik lawan jenis umumnya milik perempuan yang notabene adalah (maaf) pakaian dalam guna membangkitkan hasrat seksual mereka termasuk orgasme. Jadi kalau di tempat anda sering hilang pakaian dalam, waspadalah, jangan – jangan ada pengidap fetisisme di sekitar tempat tinggal anda.
Dalam Fetisisme, ada juga istilahnya “fetisisme transvestik” dimana penderita yang umumnya lelaki yang mengidap sindrom gabungan antara fetisisme dan transvestism.
6. Zoofilia
Penyimpangan ini terjadi kala penderita tergila – gila atau mengalami kepuasan seksual dengan berhubungan seksual dengan hewan ataupun menjadikan hewan sebagai objek fantasi seksualnya.
7. Telefonicofilia atau telephone scatologia
Sering kita mendapatkan telepon gelap dari orang yang tak dikenal yang mengajak kita melakukan hubungan seksual ataupun penelpon berbicara seks dengan nada yang tak kita inginkan, bisa jadi anda telah berhadapan dengan pengidap penyimpanan ini. Penyimpangan ini dimana penderita mendapatkan kepuasan seksual dengan melakukan panggilan telepon yang bernuansa seks dimana penerima umumnya tak menghendaki panggilan itu.
8. Nekrofilia
Penyimpangan ini terjadi sewaktu pengidap tergila – gila dan berfantasi ataupun berhubungan seksual dengan mayat guna mendapatkan kepuasan seksual.
9. Urolagnia
Penyimpangan ini terjadi dimana pengidap mendapatkan kepuasan seksual yang berhubungan dengan urine (air seni). Mereka mendapatkan kepuasan saat melihat orang sedang buang air kecil ataupun sebaliknya.
Penyimpangan – penyimpangan ini tetap ada, dan sayangnya hingga saat ini masih banyak yang tak menaruh perhatian pada hal ini. Padahal orang – orang yang mengidap kelainan ini sebenarnya adalah orang – orang yang sakit secara kejiwaan dan membutuhkan pertolongan dan perawatan. Begitu juga dengan para korban yang umumnya perempuan dari tindakan – tindakan ini yang merasa tersiksa dan trauma walaupun sering tanpa kontak fisik
Bila saat ini di sekitar anda, ada korban maupun pengidap yang anda kenal, inilah saatnya menawarkan bantuan dengan mencarikan orang – orang terpecaya di lingkungan anda untuk berkonsultasi. Sayangnya, jumlah Rumah Sakit Jiwa dimana ada psikiatris sangat terbatas di Indonesia apalagi di tanah Papua padahal para pengidap penyimpangan dan juga korban membutuhkan konseling dan perawatan. Bagi para pengidap, agar cepat terbebas dari hal – hal yang merusak ini. Bagi para korban, agar dapat berdamai dengan diri dan hidup bebas lepas dari trauma.
(Disarikan dari berbagai sumber/ Canberra, 23 Mei 2009)
Info lebih lengkap, silahkan merujuk pada:
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/Sexual+deviations
http://encyclopedia.thefreedictionary.com/Sexual+deviations
Thursday, 21 May 2009
Perang, pemerkosaan dan perempuan!
Beberapa jam lalu saat mengaktifkan internet dan sibuk membaca di Facebook, aku mendapatkan sebuah link dari Cilla; teman di Melbourne tentang petisi penghentian pemerkosaan dalam perang sebagai metode perang khususnya dalam kasus di Afrika, di Kongo dan Angola. Usai menandatangani petisi di Cause di Facebook : “Stop Rape as as weapon of war” , pikiranku melayang jauh ke belakang, jauh ke serpihan kenangan masa kecil yang mengendap, jauh ke berbagai berita yang pernah kubaca dan semuanya seakan mencair dan mengisi ruang batinku dan membuatku ingin berteriak: Kapankah perempuan lebih dihargai hak – hak seksualnya?
Mungkin catatanku kali ini adalah sebuah cerita blak – blakan tentang pendapatku, cerita yang menginspirasi novel dan cerita – cerita pendekku, pendapat tentang hak seksual perempuan khususnya yang berkenaan dengan pelecehan dan pemerkosaan.
Mengapa perempuan selalu menjadi objek seksual dari kaum lelaki? Mengapa beberapa hukum di negara – negara dunia ke tiga dimana lelaki mendominasi seakan tak berpihak pada perempuan dan hak seksual mereka? Mengapa perempuan yang hidup dalam budaya patriarki dimana lelaki mendapat hak yang istimewa dibanding perempuan harus terus hidup dalam keadaan tertekan dimana mereka mempunyai beberapa pembatasan tentang seksualitas mereka? Mengapa dan entah sejuta mengapa terus menggantung di benakku sejak kecil.
Saat membaca tentang pemerkosaan sebagai metode perang, aku tiba – tiba teringat suatu artikel sejak lama, sejak SD kalo tak salah, tentang artikel para korban pemerkosaan dalam perang. Dalam artikel yang kubaca pada sebuah tabloid atau majalah perempuan itu (aku menjadi ‘pemulung’ majalah bekas dari tetangga sejak SD), aku mendapatkan sebuah penggambaran singkat tentang korban – korban seksual selama perang. Artikel itu membahas tentang ‘Jugan Lanfu’ alias para budak seks tentara Jepang pada perang dunia II, tetapi diberikan beberapa gambaran tentang kerasnya kehidupan perempuan saat perang.
Dalam pembahasan lain, sempat kubaca juga tentang faktor budaya yang mempengaruhi para korban pemerkosaan dalam perang. Masih kuingat sebuah penjelasan bahwa pada negara – negara di Asia, khususnya di Asia Tenggara, aku lupa pada negara mana, bahwa perempuan diibaratkan sebagai kapas putih, jadi harus terjaga, sekali kapas jatuh dalam comberan, ia tak akan pernah bersih lagi dan menanggung malu seumur hidupnya. Hal ini sedikit berbeda dengan sebuah paham di sebuah negara di Amerika Selatan (aku lupa nama negara itu), yang pasti ada kepercayaan lokal bahwa para perempuan yang mengalami pemerkosaan dalam perang, mendapatkan sebuah keistimewaan dalam sukunya. Entahlah …. Tapi yang pasti aku percaya bahwa masih banyak budaya yang menganggap bahwa kehormatan perempuan adalah di atas segalanya.
Pemerkosaan dalam konflik bersenjata apalagi dalam perang adalah sebuah mimpi buruk bagi perempuan. Aku tak tahu bagaimana pendapat orang lain tapi bagiku ini adalah sebuah kejahatan perang apalagi kalau korbannya adalah para remaja atau anak – anak. Ada banyak taktik yang digunakan dalam perang apalagi yang berkenaan dengan menaklukkan suatu daerah. Pada zaman dahulu, kadang taktik memperkosa perempuan dari pihak lawan dipakai antara pihak yang bertikai agar menghancurkan mental musuh. Saat perempuan dari pihak lawan telah diperkosa dan diusahakan para perempuan korban menjadi hamil, maka mereka menanam sebuah bom waktu dalam generasi; sebuah calon generasi yang tercuri identitasnya. Kasus – kasus ini telah terjadi berulang kali dalam sejarah hidup manusia di planet ini; mulai dari kasus Muslim Bosnia, kasus di Afrika dan juga beberapa daerah konflik lainnya.
Kasus – kasus seperti ini bukan terjadi karena kekhilafan para tentara pria yang tak bisa menahan hawa nafsu mereka, bukan karena kehangatan para pendamping hidup mereka tak berada di sana, tetapi pada suatu upaya sistematis menghancurkan mental dan semangat lawan, yaitu dengan menitipkan trauma dan benih. Karena perempuan yang terperkosa bisa siapa saja; saudara perempuan, anak perempuan, istri, kekasih, tunangan perempuan ataupun nenek, ibu ataupun ipar dari pihak lawan. Pemerkosaan ibarat menyebarkan virus teror kasat mata bercampur baur dengan kebencian. Taktik ini semakin parah apabila lawan berasal dari etnis dan ras yang berbeda. Para korban yang jelas – jelas adalah perempuan mempunyai kemungkinan hamil dan melahirkan para anak yang tak direncanakan dan diinginkan. Anak – anak tanpa identitas budaya, anak – anak yang tertolak dalam budaya. Tekanan sosial dan psikologi yang dialami perempuan korban pemerkosaan semakin parah apabila anak yang mereka lahirkan ternyata berbeda fisik dan ras dengan mereka dan keluarga besar mereka. Taktik ini sungguh melukai hatiku sebagai perempuan, karena taktik ini ibarat menanam bom waktu yang terus berdetak dalam bentuk warisan genetik musuh di dalam tubuhmu sendiri.
Perempuan baik muda maupun tua, anak – anak maupun oma – oma, dalam perang ataupun konflik bersenjata sangat rentan, mereka kerap dipakai hanya sebagai budak seks, penyalur nafsu syahwat. Anak – anak bayi dibunuh agar ibu mereka bisa dijadikan budak nafsu, gadis – gadis cilik diculik dijadikan ‘peliharaan’ militer. Perempuan menjadi rentan karena rahim perempuan adalah ibarat lahan subur yang siap ditanami benih, yang memberikan tempat untuk hidup dan berkembang dengan baik bagi benih yang entahlah apakah lahir dari cinta ataukah pemaksaan kehendak seksual. Bagi rahim perempuan, ia tak bisa melihat dengan jelas tentang asal usul benih karena baginya ia adalah ‘ibu’ yang selalu menerima ‘anak – anak’ yang dititipkan padanya dan mencoba merangkul dan memberikan makanan.
Isu pemerkosaan terus mengingatkanku tentang berbagai kekerasan ataupun efek konflik bersenjata yang berkaitan dengan pelecehan dan pemerkosaan yang bukan hanya terjadi jauh di benua Afrika, tetapi di sebuah bumi bernama Indonesia. Mulai dari kasus pemerkosaan etnis Tionghoa 11 tahun silam, pemerkosaan - pemerkosaan yang terjadi dalam konflik sipil di Ambon dan juga cerita selentingan yang beredar usai kejatuhan orde baru di daerahku tentang aksi para oknum militer khususnya saat DOM yang hingga tak terselesaikan di tanah Papua yang lagi – lagi tak jauh dari isu seksual ini; PEMERKOSAAN.
Apakah manusia menjadi begitu rakus, tamak, tak tahu diri hingga kehilangan kontrol sebagai manusia? Mengapa taktik ini sampai diinfiltrasikan dalam militer hanya guna mematikan semangat lawan? Mengapa manusia begitu tak manusiawi dalam menjalankan sisi kemanusiaan mereka dan malah lebih mengedepankan sisi ‘kebinatangan’ mereka? Entahlah, karena aku tak tahu jawabannya.
Yang pasti, perempuan adalah makhluk yang berharga dan rentan dalam berbagai konflik. Luka trauma dibunuh tak sekeji luka diperkosa, saat dipaksa melakukan tindakan seksual yang tak diinginkan. Ada rasa malu, tak berharga, rendah diri, kecewa, sakit hati bercampur baur menggurat dalam kalbu, mewariskan insomnia dan mimpi buruk, mematahkan semua simbol kepercayaan pada orang lain khususnya lelaki, menolak diri sendiri dan rentan bunuh diri. Betapa keji pemerkosaan sebagai alat perang.
Perempuan adalah makhluk terindah yang kutahu, yang kuat dalam hidup mereka, bahkan jauh sebelum dilahirkan. Mereka, sebagaimana anak – anak dan penduduk sipil, berhak mendapatkan perlindungan dalam konflik bersenjata. Mari buat perubahan bagi mereka karena aku dan dirimu terlahir dari perempuan. Hidup perempuan!
Mungkin catatanku kali ini adalah sebuah cerita blak – blakan tentang pendapatku, cerita yang menginspirasi novel dan cerita – cerita pendekku, pendapat tentang hak seksual perempuan khususnya yang berkenaan dengan pelecehan dan pemerkosaan.
Mengapa perempuan selalu menjadi objek seksual dari kaum lelaki? Mengapa beberapa hukum di negara – negara dunia ke tiga dimana lelaki mendominasi seakan tak berpihak pada perempuan dan hak seksual mereka? Mengapa perempuan yang hidup dalam budaya patriarki dimana lelaki mendapat hak yang istimewa dibanding perempuan harus terus hidup dalam keadaan tertekan dimana mereka mempunyai beberapa pembatasan tentang seksualitas mereka? Mengapa dan entah sejuta mengapa terus menggantung di benakku sejak kecil.
Saat membaca tentang pemerkosaan sebagai metode perang, aku tiba – tiba teringat suatu artikel sejak lama, sejak SD kalo tak salah, tentang artikel para korban pemerkosaan dalam perang. Dalam artikel yang kubaca pada sebuah tabloid atau majalah perempuan itu (aku menjadi ‘pemulung’ majalah bekas dari tetangga sejak SD), aku mendapatkan sebuah penggambaran singkat tentang korban – korban seksual selama perang. Artikel itu membahas tentang ‘Jugan Lanfu’ alias para budak seks tentara Jepang pada perang dunia II, tetapi diberikan beberapa gambaran tentang kerasnya kehidupan perempuan saat perang.
Dalam pembahasan lain, sempat kubaca juga tentang faktor budaya yang mempengaruhi para korban pemerkosaan dalam perang. Masih kuingat sebuah penjelasan bahwa pada negara – negara di Asia, khususnya di Asia Tenggara, aku lupa pada negara mana, bahwa perempuan diibaratkan sebagai kapas putih, jadi harus terjaga, sekali kapas jatuh dalam comberan, ia tak akan pernah bersih lagi dan menanggung malu seumur hidupnya. Hal ini sedikit berbeda dengan sebuah paham di sebuah negara di Amerika Selatan (aku lupa nama negara itu), yang pasti ada kepercayaan lokal bahwa para perempuan yang mengalami pemerkosaan dalam perang, mendapatkan sebuah keistimewaan dalam sukunya. Entahlah …. Tapi yang pasti aku percaya bahwa masih banyak budaya yang menganggap bahwa kehormatan perempuan adalah di atas segalanya.
Pemerkosaan dalam konflik bersenjata apalagi dalam perang adalah sebuah mimpi buruk bagi perempuan. Aku tak tahu bagaimana pendapat orang lain tapi bagiku ini adalah sebuah kejahatan perang apalagi kalau korbannya adalah para remaja atau anak – anak. Ada banyak taktik yang digunakan dalam perang apalagi yang berkenaan dengan menaklukkan suatu daerah. Pada zaman dahulu, kadang taktik memperkosa perempuan dari pihak lawan dipakai antara pihak yang bertikai agar menghancurkan mental musuh. Saat perempuan dari pihak lawan telah diperkosa dan diusahakan para perempuan korban menjadi hamil, maka mereka menanam sebuah bom waktu dalam generasi; sebuah calon generasi yang tercuri identitasnya. Kasus – kasus ini telah terjadi berulang kali dalam sejarah hidup manusia di planet ini; mulai dari kasus Muslim Bosnia, kasus di Afrika dan juga beberapa daerah konflik lainnya.
Kasus – kasus seperti ini bukan terjadi karena kekhilafan para tentara pria yang tak bisa menahan hawa nafsu mereka, bukan karena kehangatan para pendamping hidup mereka tak berada di sana, tetapi pada suatu upaya sistematis menghancurkan mental dan semangat lawan, yaitu dengan menitipkan trauma dan benih. Karena perempuan yang terperkosa bisa siapa saja; saudara perempuan, anak perempuan, istri, kekasih, tunangan perempuan ataupun nenek, ibu ataupun ipar dari pihak lawan. Pemerkosaan ibarat menyebarkan virus teror kasat mata bercampur baur dengan kebencian. Taktik ini semakin parah apabila lawan berasal dari etnis dan ras yang berbeda. Para korban yang jelas – jelas adalah perempuan mempunyai kemungkinan hamil dan melahirkan para anak yang tak direncanakan dan diinginkan. Anak – anak tanpa identitas budaya, anak – anak yang tertolak dalam budaya. Tekanan sosial dan psikologi yang dialami perempuan korban pemerkosaan semakin parah apabila anak yang mereka lahirkan ternyata berbeda fisik dan ras dengan mereka dan keluarga besar mereka. Taktik ini sungguh melukai hatiku sebagai perempuan, karena taktik ini ibarat menanam bom waktu yang terus berdetak dalam bentuk warisan genetik musuh di dalam tubuhmu sendiri.
Perempuan baik muda maupun tua, anak – anak maupun oma – oma, dalam perang ataupun konflik bersenjata sangat rentan, mereka kerap dipakai hanya sebagai budak seks, penyalur nafsu syahwat. Anak – anak bayi dibunuh agar ibu mereka bisa dijadikan budak nafsu, gadis – gadis cilik diculik dijadikan ‘peliharaan’ militer. Perempuan menjadi rentan karena rahim perempuan adalah ibarat lahan subur yang siap ditanami benih, yang memberikan tempat untuk hidup dan berkembang dengan baik bagi benih yang entahlah apakah lahir dari cinta ataukah pemaksaan kehendak seksual. Bagi rahim perempuan, ia tak bisa melihat dengan jelas tentang asal usul benih karena baginya ia adalah ‘ibu’ yang selalu menerima ‘anak – anak’ yang dititipkan padanya dan mencoba merangkul dan memberikan makanan.
Isu pemerkosaan terus mengingatkanku tentang berbagai kekerasan ataupun efek konflik bersenjata yang berkaitan dengan pelecehan dan pemerkosaan yang bukan hanya terjadi jauh di benua Afrika, tetapi di sebuah bumi bernama Indonesia. Mulai dari kasus pemerkosaan etnis Tionghoa 11 tahun silam, pemerkosaan - pemerkosaan yang terjadi dalam konflik sipil di Ambon dan juga cerita selentingan yang beredar usai kejatuhan orde baru di daerahku tentang aksi para oknum militer khususnya saat DOM yang hingga tak terselesaikan di tanah Papua yang lagi – lagi tak jauh dari isu seksual ini; PEMERKOSAAN.
Apakah manusia menjadi begitu rakus, tamak, tak tahu diri hingga kehilangan kontrol sebagai manusia? Mengapa taktik ini sampai diinfiltrasikan dalam militer hanya guna mematikan semangat lawan? Mengapa manusia begitu tak manusiawi dalam menjalankan sisi kemanusiaan mereka dan malah lebih mengedepankan sisi ‘kebinatangan’ mereka? Entahlah, karena aku tak tahu jawabannya.
Yang pasti, perempuan adalah makhluk yang berharga dan rentan dalam berbagai konflik. Luka trauma dibunuh tak sekeji luka diperkosa, saat dipaksa melakukan tindakan seksual yang tak diinginkan. Ada rasa malu, tak berharga, rendah diri, kecewa, sakit hati bercampur baur menggurat dalam kalbu, mewariskan insomnia dan mimpi buruk, mematahkan semua simbol kepercayaan pada orang lain khususnya lelaki, menolak diri sendiri dan rentan bunuh diri. Betapa keji pemerkosaan sebagai alat perang.
Perempuan adalah makhluk terindah yang kutahu, yang kuat dalam hidup mereka, bahkan jauh sebelum dilahirkan. Mereka, sebagaimana anak – anak dan penduduk sipil, berhak mendapatkan perlindungan dalam konflik bersenjata. Mari buat perubahan bagi mereka karena aku dan dirimu terlahir dari perempuan. Hidup perempuan!
Tuesday, 19 May 2009
Anak Cucu Adam
Tiba – tiba, aku teringat proyek tulisan pribadiku tahun lalu dan beberapa tahun lalu yang tak sempat kubuat karena kesibukan kuliah dan kerja, tentang tradisi nama dan silsilah keluarga plus pahit – manisnya keluarga besarku. Aku ingin suatu hari nanti, ada satu warisan keluargaku yang kubuat dalam bentuk novel yang mengisahkan dirinya sendiri.
Cerita itu akan kubuka dengan sebuah risalah singkat tentang tradisi nama dan lain, seperti namaku yang merupakan akronim dari nama orang tua dan perpaduan budaya dalam keluargaku. I wish …
Aku adalah segmentasi berbagai unsur yang melebur, yang membuatku unik, berharga dan feel so much alive.
RI : (nama bapak)
NI : (nama mama)
IR : IRian (Daerah asal tete dan nene kandung dari mama)
MA : MAluku (Daerah asal opa dan oma; orang tua angkat mama sejak lahir)
YA : JAwa (awalnya hendak ditulis sebagai ;Irmajasari tetapi karena kedengaran ganjil maka fonem J diganti dengan Y; daerah asal kakek dan nenek dari bapak)
SARI : penggalan dari nama desa nenek di Brebes; Tanggung sari. Aku dan ketiga sepupu cewekku di Jayapura memakai nama ‘Sari’ di belakang nama kami sebagai lambang identitas kami, kecuali adik perempuanku yang malah memakai campuran nama Sunda, India, dan Kristen.
Aku bangga dibesarkan dalam budaya gado – gado dengan perpaduan budaya seperti ini, yang membuatku belajar untuk menghargai pluralitas, kebermajemukan pribadi. Aku percaya semua orang setara di hadapan Tuhan, dan tak ada waktunya untuk mendiskriminasikan orang lain hanya karena mereka berbeda dengan kita. Tak ada waktunya lagi untuk mendiskriminasikan orang karena suku, agama, ras, dan fisik serta pilihan politik, ideologi ataupun preferensi seksual mereka.
Aku mengerti dan sadar serta belajar untuk menghargai setiap elemen yang kupunya, yang bertumbuh dalam keluarga dengan latar belakang agama dan budaya yang berbeda, dimana keluarga besar bapak beragama Islam dan keluarga besar mama beragama Kristen Protestan dan aku merasa baik – baik saja bertumbuh hingga SD dengan merayakan kedua hari besar agama, atau belajar menghargai dan bertoleransi saat tinggal selama 3 tahun di keluarga Pakdeku di Jayapura yang notabene adalah keluarga Muslim.
Aku belajar tentang memahami dan mengerti serta menghargai elemen – elemen budaya di dalam hidupku, bagaimana keluarga kakek dari bapak yang asli Tegal berbaur dengan keluarga nenek yang keturunan Sunda pindahan dari Cirebon. Aku melihat warisan Sunda itu pada wajah bapakku dan nama Adikku serta bahasanya bapak yang bilingual (Jawa – Sunda).
Aku melihat bagaimana elemen Papuaku bercampur baur seiring dengan sejarah, mulai dari pergantian nama keluarga mama dari oyang yang asli Biak (Mayor yang berasal dari fam ‘Sroyer’ dari Amberparem, pulau Numfoor) bercampur ke ‘Mandacan’ yang asli Arfak dan terjadi akulturasi budaya orang pante dan orang gunung.
Aku belajar bagaimana budaya Maluku yang khas Seram dan Saparua berakar dalam diriku karena orang tua angkat mama sejak lahir mewariskan nilai – nilai, semangat, dan dialek mereka hingga mempengaruhi cara berbicaraku hingga saat ini (teori language acquisition berdampak padaku).
Belum lagi ditambah dengan budaya tetanggaku (bapa guru dan mama suster) yang kuanggap sebagai orang tua keduaku yang mempengaruhiku bertumbuh, budaya orang Tanimbar (Maluku Tenggara) – Portugis – Cina – Kebar – Napan.
Semua budaya itu membuatku begitu kaya, begitu menikmati hidupku, begitu bersyukur bisa merasakan perpaduan budaya yang mengakar dalam bahasa, pola hidup, aksen, kuliner dan lain – lain.
Hingga aku ingin berteriak dengan lantang menantang mereka yang benci dan anti pada pluralitas, yang mendiskriminasikan bahasa, SARA; yang menilai orang dengan membentuk stereotip dari elemen budaya tertentu, sebuah pernyataan besar telah mengakar di hatiku bahwa:
“Kita tak pernah benar – benar paham tentang asal kita, kita tak penah benar – benar mengerti bagaimana nasib merajut identitas kita. Kita tak pernah ‘asli’ sebagai bagian identitas kita … karena jauh ke belakang, beratus jingga, berpuluh tahun, beberapa abad silam, kita adalah manusia – manusia merdeka yang terjalin erat dalam pertalian nasib, yang terhubung lewat tali – temali kasat mata pertalian darah.”
Stop Diskriminasi Ras, ‘cos we’re one!!! Anak cucu Adam …
Cerita itu akan kubuka dengan sebuah risalah singkat tentang tradisi nama dan lain, seperti namaku yang merupakan akronim dari nama orang tua dan perpaduan budaya dalam keluargaku. I wish …
Aku adalah segmentasi berbagai unsur yang melebur, yang membuatku unik, berharga dan feel so much alive.
RI : (nama bapak)
NI : (nama mama)
IR : IRian (Daerah asal tete dan nene kandung dari mama)
MA : MAluku (Daerah asal opa dan oma; orang tua angkat mama sejak lahir)
YA : JAwa (awalnya hendak ditulis sebagai ;Irmajasari tetapi karena kedengaran ganjil maka fonem J diganti dengan Y; daerah asal kakek dan nenek dari bapak)
SARI : penggalan dari nama desa nenek di Brebes; Tanggung sari. Aku dan ketiga sepupu cewekku di Jayapura memakai nama ‘Sari’ di belakang nama kami sebagai lambang identitas kami, kecuali adik perempuanku yang malah memakai campuran nama Sunda, India, dan Kristen.
Aku bangga dibesarkan dalam budaya gado – gado dengan perpaduan budaya seperti ini, yang membuatku belajar untuk menghargai pluralitas, kebermajemukan pribadi. Aku percaya semua orang setara di hadapan Tuhan, dan tak ada waktunya untuk mendiskriminasikan orang lain hanya karena mereka berbeda dengan kita. Tak ada waktunya lagi untuk mendiskriminasikan orang karena suku, agama, ras, dan fisik serta pilihan politik, ideologi ataupun preferensi seksual mereka.
Aku mengerti dan sadar serta belajar untuk menghargai setiap elemen yang kupunya, yang bertumbuh dalam keluarga dengan latar belakang agama dan budaya yang berbeda, dimana keluarga besar bapak beragama Islam dan keluarga besar mama beragama Kristen Protestan dan aku merasa baik – baik saja bertumbuh hingga SD dengan merayakan kedua hari besar agama, atau belajar menghargai dan bertoleransi saat tinggal selama 3 tahun di keluarga Pakdeku di Jayapura yang notabene adalah keluarga Muslim.
Aku belajar tentang memahami dan mengerti serta menghargai elemen – elemen budaya di dalam hidupku, bagaimana keluarga kakek dari bapak yang asli Tegal berbaur dengan keluarga nenek yang keturunan Sunda pindahan dari Cirebon. Aku melihat warisan Sunda itu pada wajah bapakku dan nama Adikku serta bahasanya bapak yang bilingual (Jawa – Sunda).
Aku melihat bagaimana elemen Papuaku bercampur baur seiring dengan sejarah, mulai dari pergantian nama keluarga mama dari oyang yang asli Biak (Mayor yang berasal dari fam ‘Sroyer’ dari Amberparem, pulau Numfoor) bercampur ke ‘Mandacan’ yang asli Arfak dan terjadi akulturasi budaya orang pante dan orang gunung.
Aku belajar bagaimana budaya Maluku yang khas Seram dan Saparua berakar dalam diriku karena orang tua angkat mama sejak lahir mewariskan nilai – nilai, semangat, dan dialek mereka hingga mempengaruhi cara berbicaraku hingga saat ini (teori language acquisition berdampak padaku).
Belum lagi ditambah dengan budaya tetanggaku (bapa guru dan mama suster) yang kuanggap sebagai orang tua keduaku yang mempengaruhiku bertumbuh, budaya orang Tanimbar (Maluku Tenggara) – Portugis – Cina – Kebar – Napan.
Semua budaya itu membuatku begitu kaya, begitu menikmati hidupku, begitu bersyukur bisa merasakan perpaduan budaya yang mengakar dalam bahasa, pola hidup, aksen, kuliner dan lain – lain.
Hingga aku ingin berteriak dengan lantang menantang mereka yang benci dan anti pada pluralitas, yang mendiskriminasikan bahasa, SARA; yang menilai orang dengan membentuk stereotip dari elemen budaya tertentu, sebuah pernyataan besar telah mengakar di hatiku bahwa:
“Kita tak pernah benar – benar paham tentang asal kita, kita tak penah benar – benar mengerti bagaimana nasib merajut identitas kita. Kita tak pernah ‘asli’ sebagai bagian identitas kita … karena jauh ke belakang, beratus jingga, berpuluh tahun, beberapa abad silam, kita adalah manusia – manusia merdeka yang terjalin erat dalam pertalian nasib, yang terhubung lewat tali – temali kasat mata pertalian darah.”
Stop Diskriminasi Ras, ‘cos we’re one!!! Anak cucu Adam …
Aku bersyukur ...
Malam ini saat mau tidur usai menyesap 1/3 gelas red wine, pikiranku tiba – tiba melayang pada doa – doa yang dipanjatkan di gereja hari Minggu kemarin. Doa – doa yang dipanjatkan oleh beberapa oma – opa mengajarkanku tentang makna mengucap syukur dalam segala keadaan.
Saat para oma opa itu membagikan pokok doa mereka, aku merasa benar – benar ditegur Tuhan tentang makna mengucap syukur dalam berbagai situasi yang kuhadapi. Seorang oma berdoa untuk para korban konflik di Sri lanka yang harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Seorang oma lainnya bercerita tentang sahabatnya yang baru saja kehilangan cucu pertamanya. Cucunya itu telah dinanti sejak lama dan ia telah bersukacita saat mengunjungi kelahiran cucunya dan menghabiskan waktu di sana, saat ia baru saja tiba di Canberra, sebuah panggilan telpon membuatnya bersedih karena cucunya telah berpulang kepada Bapa di surga.
Usai ibadah kemarin dan berbincang – bincang dengan para oma – opa di gereja itu, berbagi cerita tentang artritisku, mendapat kritik tentang pengucapanku dalam kata ‘muscles’ yang kurang tepat dari seorang ahli bahasa yang kebetulan dulu pernah bekerja di fakultasku, berbagi cerita tentang suhu udara yang menurun, bertemu opa John yang berjanji akan mendoakanku karena ia sendiri juga baru saja pulih dari stroke beratnya dan terpaksa memakai sejenis skuter ke gereja (aku salut sama dia, karena ia selalu tersenyum dan ia adalah orang pertama yang kutemui di Canberra yang menanyakan apakah aku memerlukan bantuan saat menunggu bis sendirian pertama kali di suburbku). Aku bersyukur untuk hidup yang kumiliki.
Usai pulang dari gereja hingga hari ini, aku pun mulai menghitung berkat – berkat apa yang kumiliki dan ternyata ada begitu banyak berkat yang kumiliki, antara lain:
1. Hingga saat ini aku bersyukur kedua ortuku masih hidup dalam ikatan pernikahan, dan terlepas dari apa yang kualami dalam masa pertumbuhanku, aku bersyukur mereka tidak memanjakanku untuk selalu mendapatkan apa yang kuingini sehingga mengajarkanku untuk selalu berusaha mendapatkan apa yang kumiliki dengan kemampuan diri sendiri;
2. Aku bersyukur dikelilingi oleh para sahabat yang bersedia menopangku, menegurku dan berbagi kisah hidup, gosip2 kecil dan bahkan lelucon – lelucon tiap hari;
3. Aku bersyukur masih bisa berjalan walau dengan tongkat dan tertatih – tatih, masih bisa merasakan rasa sakit. Aku bersyukur dengan keadaan saat ini karena aku mempunyai kesempatan untuk menikmati setiap perjalanan yang kulakukan saat setiap langkah menjadi begitu berharga. Aku bersyukur diingatkan karena ternyata aku telah lama lupa bagaimana rasanya bisa berdiri dan duduk plus berjalan adalah sebagai bagian dari anugerah yang diberikan Tuhan.
4. Aku bersyukur bisa makan hari ini dengan menu yang kuinginkan, masih bisa menenggak anggur, makan buah dan menikmati jus orange setiap hari, serta kudapan beraneka ragam, sedang di belahan dunia lain, seperti yang sekarang sedang terjadi tentang krisis makanan di Etiopia yang kembali lagi terjadi. Aku bersyukur untuk makanan yang kupunya;
5. Aku bersyukur masih bisa bergerak dan naik bis, menggerakan anggota tubuhku walau terbatas, masih bisa berbicara, masih bisa bernafas tanpa alat bantu, masih bisa menuangkan pikiranku dalam bentuk tulisan ini dan bernyanyi walau bernada sumbang, berpikir keras dan menyelesaikan tugasku karena artinya aku masih hidup, aku masih bisa menyelesaikan tugasku sebagai mahasiswa dan menikmati hari sebagai wanita yang diliputi cinta;
6. Aku bersyukur setiap hari masih menerima SMS dari bapakku yang adalah lelaki paling setia yang kukenal yang sejak tahu cara mengoperasikan SMS selalu rajin mengirimiku SMS sejak 2003 setiap hari saat aku tak berada di rumah dan menelponku untuk mengecek kabarku tiap hari. Kepada dia, aku berjanji akan bekerja keras dan membuktikan bahwa aku bangga menjadi anaknya.
7. Aku bersyukur masih mempunyai tempat tinggal hari ini dengan penghangat ruangan yang memadai, dengan peralatan dapur yang canggih, perabot – perabot dan penunjang kehidupan lainnnya.
8. Aku bersyukur karena hari ini kucing rumah masih mengeong di depan kamarku dan minta makan karena artinya aku telah menjalin hubungan emosional dengan kucing rumah yang awalnya cuek, dan ia telah mempercayaiku sebagai salah satu penjaganya;
9. Aku bersyukur tanaman – tanaman bungaku masih bak – baik walau ada 1 pot yang sedikit laku karena lupa kusiram, tapi aku bersyukur karena anakan bunga yang kupindahkan telah bertumbuh dengan baik;
10. Aku bersyukur karena masih mempunyai uang di rekening tabunganku dan maih bisa kupakai untuk membeli barang – barang yang kuperlukan;
11. Aku bersyukur dengan mantan pacarku yang masih mau ber-SMS dan berbagi kabar plus mengingatkanku untuk menjaga kesehatan, walaupun aku yang memutuskan hubungan kami;
12. After all, aku bersyukur karena aku masih punya Yesus sebagai Tuhan dan penyelamat dalam hidupku hingga dapat hidup dan belajar memahami kehendak Bapa plus bersyukur karena selalu diingatkan Roh Kudus dalam hidupku;
13. Aku bersyukur masih bisa BERNAFAS karena artinya aku masih hidup.
Betapa aku mencintai hidupku, betapa aku bersyukur diberi kesempatan menjadi diriku hari ini, betapa aku bersyukur dikasihi Tuhan dan Ia mempercayakan aku banyak mimpinya yang harus kupenuhi bersamanya. Jesus, we’ll dance someday, I promise!!!
Saat para oma opa itu membagikan pokok doa mereka, aku merasa benar – benar ditegur Tuhan tentang makna mengucap syukur dalam berbagai situasi yang kuhadapi. Seorang oma berdoa untuk para korban konflik di Sri lanka yang harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Seorang oma lainnya bercerita tentang sahabatnya yang baru saja kehilangan cucu pertamanya. Cucunya itu telah dinanti sejak lama dan ia telah bersukacita saat mengunjungi kelahiran cucunya dan menghabiskan waktu di sana, saat ia baru saja tiba di Canberra, sebuah panggilan telpon membuatnya bersedih karena cucunya telah berpulang kepada Bapa di surga.
Usai ibadah kemarin dan berbincang – bincang dengan para oma – opa di gereja itu, berbagi cerita tentang artritisku, mendapat kritik tentang pengucapanku dalam kata ‘muscles’ yang kurang tepat dari seorang ahli bahasa yang kebetulan dulu pernah bekerja di fakultasku, berbagi cerita tentang suhu udara yang menurun, bertemu opa John yang berjanji akan mendoakanku karena ia sendiri juga baru saja pulih dari stroke beratnya dan terpaksa memakai sejenis skuter ke gereja (aku salut sama dia, karena ia selalu tersenyum dan ia adalah orang pertama yang kutemui di Canberra yang menanyakan apakah aku memerlukan bantuan saat menunggu bis sendirian pertama kali di suburbku). Aku bersyukur untuk hidup yang kumiliki.
Usai pulang dari gereja hingga hari ini, aku pun mulai menghitung berkat – berkat apa yang kumiliki dan ternyata ada begitu banyak berkat yang kumiliki, antara lain:
1. Hingga saat ini aku bersyukur kedua ortuku masih hidup dalam ikatan pernikahan, dan terlepas dari apa yang kualami dalam masa pertumbuhanku, aku bersyukur mereka tidak memanjakanku untuk selalu mendapatkan apa yang kuingini sehingga mengajarkanku untuk selalu berusaha mendapatkan apa yang kumiliki dengan kemampuan diri sendiri;
2. Aku bersyukur dikelilingi oleh para sahabat yang bersedia menopangku, menegurku dan berbagi kisah hidup, gosip2 kecil dan bahkan lelucon – lelucon tiap hari;
3. Aku bersyukur masih bisa berjalan walau dengan tongkat dan tertatih – tatih, masih bisa merasakan rasa sakit. Aku bersyukur dengan keadaan saat ini karena aku mempunyai kesempatan untuk menikmati setiap perjalanan yang kulakukan saat setiap langkah menjadi begitu berharga. Aku bersyukur diingatkan karena ternyata aku telah lama lupa bagaimana rasanya bisa berdiri dan duduk plus berjalan adalah sebagai bagian dari anugerah yang diberikan Tuhan.
4. Aku bersyukur bisa makan hari ini dengan menu yang kuinginkan, masih bisa menenggak anggur, makan buah dan menikmati jus orange setiap hari, serta kudapan beraneka ragam, sedang di belahan dunia lain, seperti yang sekarang sedang terjadi tentang krisis makanan di Etiopia yang kembali lagi terjadi. Aku bersyukur untuk makanan yang kupunya;
5. Aku bersyukur masih bisa bergerak dan naik bis, menggerakan anggota tubuhku walau terbatas, masih bisa berbicara, masih bisa bernafas tanpa alat bantu, masih bisa menuangkan pikiranku dalam bentuk tulisan ini dan bernyanyi walau bernada sumbang, berpikir keras dan menyelesaikan tugasku karena artinya aku masih hidup, aku masih bisa menyelesaikan tugasku sebagai mahasiswa dan menikmati hari sebagai wanita yang diliputi cinta;
6. Aku bersyukur setiap hari masih menerima SMS dari bapakku yang adalah lelaki paling setia yang kukenal yang sejak tahu cara mengoperasikan SMS selalu rajin mengirimiku SMS sejak 2003 setiap hari saat aku tak berada di rumah dan menelponku untuk mengecek kabarku tiap hari. Kepada dia, aku berjanji akan bekerja keras dan membuktikan bahwa aku bangga menjadi anaknya.
7. Aku bersyukur masih mempunyai tempat tinggal hari ini dengan penghangat ruangan yang memadai, dengan peralatan dapur yang canggih, perabot – perabot dan penunjang kehidupan lainnnya.
8. Aku bersyukur karena hari ini kucing rumah masih mengeong di depan kamarku dan minta makan karena artinya aku telah menjalin hubungan emosional dengan kucing rumah yang awalnya cuek, dan ia telah mempercayaiku sebagai salah satu penjaganya;
9. Aku bersyukur tanaman – tanaman bungaku masih bak – baik walau ada 1 pot yang sedikit laku karena lupa kusiram, tapi aku bersyukur karena anakan bunga yang kupindahkan telah bertumbuh dengan baik;
10. Aku bersyukur karena masih mempunyai uang di rekening tabunganku dan maih bisa kupakai untuk membeli barang – barang yang kuperlukan;
11. Aku bersyukur dengan mantan pacarku yang masih mau ber-SMS dan berbagi kabar plus mengingatkanku untuk menjaga kesehatan, walaupun aku yang memutuskan hubungan kami;
12. After all, aku bersyukur karena aku masih punya Yesus sebagai Tuhan dan penyelamat dalam hidupku hingga dapat hidup dan belajar memahami kehendak Bapa plus bersyukur karena selalu diingatkan Roh Kudus dalam hidupku;
13. Aku bersyukur masih bisa BERNAFAS karena artinya aku masih hidup.
Betapa aku mencintai hidupku, betapa aku bersyukur diberi kesempatan menjadi diriku hari ini, betapa aku bersyukur dikasihi Tuhan dan Ia mempercayakan aku banyak mimpinya yang harus kupenuhi bersamanya. Jesus, we’ll dance someday, I promise!!!
Monday, 18 May 2009
Masih di sini

Hatiku tiba – tiba bertanya padaku,
“Di mana ia yang dulu menggetarkanku?”
Jantungku berbisik padaku,
“Di mana ia yang dulu membuatku berpacu keras?”
Mataku pun memandang dalam tanya,
“Di mana ia yang dulu membuatku menahan kerjapanku?”
Telingaku pun berujar lirih,
“Di mana ia yang telah membuatku terlena dengan suaranya?”
Bibirku pun berucap,
“Di mana ia telah membuatku bernyanyi?”
Kakiku pun berteriak,
“ Di mana ia yang telah membuatku berlari kepadanya?”
Tanganku tak urung berkata,
“Di mana ia yang telah membuatku menari?”
Aku pun terdiam dan berujar lirih,
“Entahlah …”
“Ia masih ada di sini, dalam piranti lunak penyimpan kenangan”, tutur sang kalbu tiba – tiba.
(Canberra, 18/ 05/ 2009)
Thursday, 14 May 2009
Braless, wine dan walking stick
Dear KPA
Membaca tentang braless day, membuat sa tertawa karena satu hal yang sa tahu, sa memang tra suka pake Bra kecuali kalo terpaksa harus pi ke luar rumah (shopping, ngampus dll). Bukannya apa, sa cuma merasa tra nyaman saja karena ukuran cup bra saya cukup lumayan, jadi kalo pake bra terus, apalagi pas pulang kuliah, tau tidak, tekanan terbesar tuh bukan di payudara tapi yang selalu bikin sa pegal tuh di bahu, karena sa kan pake bra yang agak ketat dan talinya memang agak gede (biar sesuai deng ukuran cup).
Jadi, sa setuju skali kalo ada braless day, supaya sa tra merasa sendiri karna paling suka braless hehehe, apalagi kalo di Mkw, sa pu orang rumah dong tau skali kalo setiap sa di rumah tuh pasti braless everyday, padahal su pake baju yang pendek2 nih :). Btw, apalagi untuk orang2 deng ukuran cup kayak sa, tekanan pake bra tuh besar skali loh, apalagi kalo pake lebih dari 6 jam, plus masih pake tas punggung atau menggunakan tangan untuk membawa2 barang, bebannya itu loh, mo nanggung tangan, apa nanggung beban cup ^_^, makanya I am just afraid kalo nih hamil someday, bebannya bisa seimbang atau tidak ya? heheheh
Btw, I am happy, akhirnya dah pake walking stick yang kayak opa - oma karena cari kruknya mah hanya ada di RS, sedangkan sa tuh cuma perlu untuk bisa bersandar alias lean on something lah, karna pengalaman pake kruk 9 tahun lalu tuh, sempat masalah di armpit juga karena tekanan. Jadi tadi ditemani sama Anton, one of my komin bro' di sini jalan cari ke Calvary Hospital di Bruce. Thanx a lot 4 this guy yang su tunjukin dan temani jalan ke sana, padahal angin dan suhu udara cukup dingin. Jesus, bless my brother Anton. AKhirnya, ya mentok juga di chemist di sekitar Glebe Park dan jadinya malah beli walking stick seharga $33.00 ... lega banget. Hikmahnya adalah skarang kalo naik bis, ada proritas untuk dapat seat yang depan dan tak terlalu kesakitan jalan agak jauh ke bagian belakang.
Oh ya, tolong doakan sa eeee., baik untuk kesehatan dan juga rencana pindah ke apartemen, mudah2an ada dapat di dekat kota/ kampus. Jadi tadi ditemani kak Yuda, Anton dan kak Meri, n juga ketemu pak Musa, pak Ucu dan Kak Boy, sa su pi lamar untuk apartemen, plus sa juga su hubungi Janet untuk bikin statement tentang sa pu kondisi as student under particular scholarship, jadi senin baru ambil.
Sa juga bersyukur nih su bisa mulai cicil tugas ka ini. Su hubungi tutor dan mulai diskusi dan kumpul buku. Jesus, tolong perangi rasa malas ini ka, bantu sa untuk bisa menjalankan semuanya deng baik ka ini. I love U, Jesus.
Hampir lupa, skarang setiap akhir pekan, sa jadi peminum red wine, lumayan lah, skarang mulai bisa membedakan mana yang merlot, pinot noir, rose, atau juga yg white wine chavignong etc, shiraz etc, jadi nih 1 botol standar cukup lah untuk 2 minggu hehehe, enaknya adalah, sa bisa tidur deng lelap hehehe, obat insomnia ka ini, abis walau su segelas besar (gelas standar) dan mengandung 13,5 % tapi tra mabuk hehehehe, karena tujuan kan untuk relaxing hehehehe. Jaid sekarang yang ada di kulkas tuh yang red wine jenis pinot noit merk Oyster Bay dan yang shiraz, sejenis anggur putih merk Jacob's Creek :)
Salam hangat dari yang pincang di sini,
D. Meimosaki
Membaca tentang braless day, membuat sa tertawa karena satu hal yang sa tahu, sa memang tra suka pake Bra kecuali kalo terpaksa harus pi ke luar rumah (shopping, ngampus dll). Bukannya apa, sa cuma merasa tra nyaman saja karena ukuran cup bra saya cukup lumayan, jadi kalo pake bra terus, apalagi pas pulang kuliah, tau tidak, tekanan terbesar tuh bukan di payudara tapi yang selalu bikin sa pegal tuh di bahu, karena sa kan pake bra yang agak ketat dan talinya memang agak gede (biar sesuai deng ukuran cup).
Jadi, sa setuju skali kalo ada braless day, supaya sa tra merasa sendiri karna paling suka braless hehehe, apalagi kalo di Mkw, sa pu orang rumah dong tau skali kalo setiap sa di rumah tuh pasti braless everyday, padahal su pake baju yang pendek2 nih :). Btw, apalagi untuk orang2 deng ukuran cup kayak sa, tekanan pake bra tuh besar skali loh, apalagi kalo pake lebih dari 6 jam, plus masih pake tas punggung atau menggunakan tangan untuk membawa2 barang, bebannya itu loh, mo nanggung tangan, apa nanggung beban cup ^_^, makanya I am just afraid kalo nih hamil someday, bebannya bisa seimbang atau tidak ya? heheheh
Btw, I am happy, akhirnya dah pake walking stick yang kayak opa - oma karena cari kruknya mah hanya ada di RS, sedangkan sa tuh cuma perlu untuk bisa bersandar alias lean on something lah, karna pengalaman pake kruk 9 tahun lalu tuh, sempat masalah di armpit juga karena tekanan. Jadi tadi ditemani sama Anton, one of my komin bro' di sini jalan cari ke Calvary Hospital di Bruce. Thanx a lot 4 this guy yang su tunjukin dan temani jalan ke sana, padahal angin dan suhu udara cukup dingin. Jesus, bless my brother Anton. AKhirnya, ya mentok juga di chemist di sekitar Glebe Park dan jadinya malah beli walking stick seharga $33.00 ... lega banget. Hikmahnya adalah skarang kalo naik bis, ada proritas untuk dapat seat yang depan dan tak terlalu kesakitan jalan agak jauh ke bagian belakang.
Oh ya, tolong doakan sa eeee., baik untuk kesehatan dan juga rencana pindah ke apartemen, mudah2an ada dapat di dekat kota/ kampus. Jadi tadi ditemani kak Yuda, Anton dan kak Meri, n juga ketemu pak Musa, pak Ucu dan Kak Boy, sa su pi lamar untuk apartemen, plus sa juga su hubungi Janet untuk bikin statement tentang sa pu kondisi as student under particular scholarship, jadi senin baru ambil.
Sa juga bersyukur nih su bisa mulai cicil tugas ka ini. Su hubungi tutor dan mulai diskusi dan kumpul buku. Jesus, tolong perangi rasa malas ini ka, bantu sa untuk bisa menjalankan semuanya deng baik ka ini. I love U, Jesus.
Hampir lupa, skarang setiap akhir pekan, sa jadi peminum red wine, lumayan lah, skarang mulai bisa membedakan mana yang merlot, pinot noir, rose, atau juga yg white wine chavignong etc, shiraz etc, jadi nih 1 botol standar cukup lah untuk 2 minggu hehehe, enaknya adalah, sa bisa tidur deng lelap hehehe, obat insomnia ka ini, abis walau su segelas besar (gelas standar) dan mengandung 13,5 % tapi tra mabuk hehehehe, karena tujuan kan untuk relaxing hehehehe. Jaid sekarang yang ada di kulkas tuh yang red wine jenis pinot noit merk Oyster Bay dan yang shiraz, sejenis anggur putih merk Jacob's Creek :)
Salam hangat dari yang pincang di sini,
D. Meimosaki
We'll dance, Jesus!
Malam ini betapa sa bersyukur untuk sapu hidup, bertrimakasih atas pemberian Yesus dalam sapu hidup. Ternyata telah lama Dia membawaku berjalan hingga hari ini.
Sa bersyukur untuk sapu hidup, untuk segala yang De bri, De limpahkan.
I wanna dance with U, Jesus, someday. We’ll sing and dance, we’ll walk, we’ll jump and run altogether. I miss U so much!!!
Sa bersyukur untuk sapu hidup, untuk segala yang De bri, De limpahkan.
I wanna dance with U, Jesus, someday. We’ll sing and dance, we’ll walk, we’ll jump and run altogether. I miss U so much!!!
Wednesday, 13 May 2009
So melancolic ...
Sambil mendengar Glasgow Phoenix Choir menyanyikan lagu – lagu pujian yang kebanyakan adalah lagu Gospel klasik Eropa yang disarikan dalam Nyanyian Rohani, hatiku tiba – tiba terangkat dan membawa kenangan – kenangan masa lalu kembali. Entahlah malam ini begitu melankolis.
Hatiku tiba – tiba ingat kenangan masa kecil, masa – masa bersekolah, dan masa – masa tinggal di Manokwari. Ternyata sudah lama sekali aku berjalan dan meninggalkan kenangan – kenangan itu, meninggalkan semua kenangan di belakangku.
Malam ini aku benar – benar merasa tak nyaman, merasa tak tahu, merasa sedikit hampa, hampa dengan perasaan yg tak kumengerti. Entahlah, yang pasti perasaanku terasa begitu sesak, membuatku begitu merasa ingin mengatakan sesuatu yang entah tak akan kupahami. Aku cuma tahu perasaan ini harus dilepaskan.
Aku rindu rumah bercampur baur deng semuanya. I miss home. Mati pulang
Hatiku tiba – tiba ingat kenangan masa kecil, masa – masa bersekolah, dan masa – masa tinggal di Manokwari. Ternyata sudah lama sekali aku berjalan dan meninggalkan kenangan – kenangan itu, meninggalkan semua kenangan di belakangku.
Malam ini aku benar – benar merasa tak nyaman, merasa tak tahu, merasa sedikit hampa, hampa dengan perasaan yg tak kumengerti. Entahlah, yang pasti perasaanku terasa begitu sesak, membuatku begitu merasa ingin mengatakan sesuatu yang entah tak akan kupahami. Aku cuma tahu perasaan ini harus dilepaskan.
Aku rindu rumah bercampur baur deng semuanya. I miss home. Mati pulang
Sunday, 10 May 2009
Painful day
Aku baru saja menenggak beberapa butir obat pereda nyeri (pain killer) dan antibiotik. Aku tak tahan lagi, nyeri ini semakin menjadi kala kutak mengonsumsi pain killers selama seharian. Benar – benar mencuri kebahagiaanku. Aku tak sanggup. Sakit sekali
Usai pergi ke Emergency Room The Canberra Hospital hari rabu, 6 Mei 2009, aku benar – benar tak peduli walau akan bayar sekitar Aud $ 387,00. Benar – benar tak peduli saat harus mengeluarkan $ 75 untuk massage. Benar – benar tak peduli walau harus menunggu selama 3 jam di ER, karena percuma juga mengandalkan jadwal temu dokter di Health Centre ANU yang lagi fully-booked karena banyak yang sakit di musim ini, jadi kalau toh dapat juga artinya minggu depan baru bisa dilayani.
Aku juga tak pedulu kalau harus dipijat oleh seorang laki – laki yang berlabel tukang pijat profesional walau tubuhku hanya memakai underwear dan ditutupi handuk yang tetap saja tak luput harus dibuka pada bagian punggung dan kaki saat dipijat. Semua ini demi hilangnya rasa sakit biadab ini.
Aku juga cuek saja walau harus bersendawa beberapa kali dan mual kala menenggak Shiraz, sejenis wine, demi membunuh rasa sakit ini. Belum termasuk latihan peregangan – peregangan yang melelahkan. Tapi toh, nyeri sialan ini belum mau hilang juga.
Di ER, setelah dianalisa, teryata toh bukan rematik tapi katanya karena tight muscles alias otot kaku di bokong kananku akibat duduk berlama – lama. Jadi setelah diuji dengan berbagai metode dan dipijat untuk mencari titik nyeri, akhirnya aku tahu bahwa ini hanya TM …alias tight muscle.
Aku benar – benar tak tahu lagi harus bagaimana. Yang pasti aku sedang mencari crutches alias kruk, karena tak sanggup harus jalan, berdiri dengan kesakitan ini. saat yang paling nyeri adalah saat harus bangun atau berdiri. Benar – benar bagaikan dagingku sedang disobek – sobek dari dalam. Sakit sekali
Jesus, please takes this pain away. I cannot stand it any longer. Please ….
Usai pergi ke Emergency Room The Canberra Hospital hari rabu, 6 Mei 2009, aku benar – benar tak peduli walau akan bayar sekitar Aud $ 387,00. Benar – benar tak peduli saat harus mengeluarkan $ 75 untuk massage. Benar – benar tak peduli walau harus menunggu selama 3 jam di ER, karena percuma juga mengandalkan jadwal temu dokter di Health Centre ANU yang lagi fully-booked karena banyak yang sakit di musim ini, jadi kalau toh dapat juga artinya minggu depan baru bisa dilayani.
Aku juga tak pedulu kalau harus dipijat oleh seorang laki – laki yang berlabel tukang pijat profesional walau tubuhku hanya memakai underwear dan ditutupi handuk yang tetap saja tak luput harus dibuka pada bagian punggung dan kaki saat dipijat. Semua ini demi hilangnya rasa sakit biadab ini.
Aku juga cuek saja walau harus bersendawa beberapa kali dan mual kala menenggak Shiraz, sejenis wine, demi membunuh rasa sakit ini. Belum termasuk latihan peregangan – peregangan yang melelahkan. Tapi toh, nyeri sialan ini belum mau hilang juga.
Di ER, setelah dianalisa, teryata toh bukan rematik tapi katanya karena tight muscles alias otot kaku di bokong kananku akibat duduk berlama – lama. Jadi setelah diuji dengan berbagai metode dan dipijat untuk mencari titik nyeri, akhirnya aku tahu bahwa ini hanya TM …alias tight muscle.
Aku benar – benar tak tahu lagi harus bagaimana. Yang pasti aku sedang mencari crutches alias kruk, karena tak sanggup harus jalan, berdiri dengan kesakitan ini. saat yang paling nyeri adalah saat harus bangun atau berdiri. Benar – benar bagaikan dagingku sedang disobek – sobek dari dalam. Sakit sekali
Jesus, please takes this pain away. I cannot stand it any longer. Please ….
Wednesday, 6 May 2009
Kalau tak ada tukang bangunan … (sebuah refleksi tentang pendidikan dan infrastrukturnya di Indonesia)
Usai membaca berita tentang 6 siswa SD yang terkubur di sebuah tempat di Bogor kala mengambil pasir guna memadatkan lapangan bulu tangkis, aku tiba – tiba terenyuh dan berkata pada diriku, kapan ya para siswa SD di Indonesia bisa menikmati masa kanak – kanak mereka di bangku sekolah dengan hanya bermain dan belajar? Tulisan ini dibuat dengan mengenang apa yang kulihat dari masa SDku, kepingan kisah keponakan – keponakanku dan realita yang kulihat, kubaca, dan kusaksikan dalam keseharianku. Andai saja …
Bicara tentang pendidikan di Indonesia, khususnya untuk mengurai simpul kusut sistem pendidikan yang terjadi, bukanlah pekerjaan mudah, karena dibutuhkan kerjasama dan kesiapan berbagai pihak terkait. Salah satu ekses dari ketidakteraturan manajemen sekolah adalah tewasnya para siswa saat mengambil pasir. Padahal pasir itu akan dipakai guna memadatkan lapangan bulu tangkis sekolah yang notabene akan dipakai oleh para siswa saat berolahraga. Kejadian ini hanyalah salah satu dampak yang terjadi kala sekolah tak mempunyai sistem pengelolaan yang baik. Tapi, kita juga tak serta merta bisa menyalahkan pihak sekolah, karena walaupun seharusnya lapangan itu dikerjakan oleh tenaga profesional, pertanyaannya adalah “apakah pihak sekolah mempunyai keuangan yang memadai untuk membayar para tukang bangunan?”. Ini yang perlu dikaji lagi.
Bicara tentang dana sekolah, mmmh … ini kasus yang agak sensitif. Karena bagaimana sebuah sekolah dapat berjalan dengan baik penyelenggaraanya kalo dana penyelenggaraannya tidak ada atau dananya memang ada tapi para penyelenggaranya sendiri mati kelaparan dan selanjutnya sudah dapat ditebak kemungkinan apa yang akan terjadi dengan dana tersebut. Sebuah dilema yang dihadapi sistem pendidikan kita. Sudah sering kita mendengar laporan di berbagai media massa bahwa ada sekolah tertentu yang sudah siap rubuh dan ambruk karena infrastruktur yang rusak, tapi hanya beberapa meter dari lokasi tersebut, ada pembangunan sarana pembelanjaan dengan sistem terkini yang ternyata dibiayai oleh pemerintah. Kejadian ini bukanlah kejadian yang hanya terjadi di pulau Jawa saja, bahkan di sebuah kabupaten pemekaran di Papua yang pernah kukunjungi kala bekerja sempat membuatku terhenyak: “What the hell is goin’ on here?”
Aku akui sempat memaki – maki dalam hati dengan sistem pengelolaan pendidikan di daerah itu dan mungkin juga terjadi di tempat lain di Indonesia karena aku benar – benar sedih melihat bagaimana skala prioritas yang dibuat pemerintah setempat benar- benar tidak masuk akal. Bayangkan … di tempat yang notabene baru saja dimekarkan dan notabene penduduknya masih sangat terbatas serta arus perputaran uang sangat terbatas, dibangun sebuah pasar dan mall dengan konsep yang sangat memukau. “Sophisticated”, kata orang OZ. Sebuah pusat perbelanjaan lengkap dengan areal bermain anak - anak dipadu dengan konsep pasar tradisional yang memisahkan antara pasar basah dan kering, yang sudah dapat bersaing dengan pasar lain di Indonesia bahkan aku percaya beberapa pasar tradisional di Jakarta, masih kala konsepnya dari pasar ini tapi dibangun di lokasi yang sangat terisolir. Aku sempat berbisik kecewa pada diriku, “mmmmh … memangnya siapa yang mau belanja di sini???”
Mungkin anda akan protes dan bicara, “wajar dong, kan kabupaten baru, perlu pasar yang memadai.”. Memang pemikiran itu benar dan baik adanya kalau berdasarkan realita yang ada. Tapi yang terjadi adalah pembangunan pasar yang menyedot anggaran APBD dalam jumlah banyak itu benar – benar sebuah utopia yang bersifat paradoks dalam kenyataan di kabupaten pemekaran di pulau itu. Bayangkan saja, pasar yang hanya dibuka 2 kali dalam seminggu itu hanya menjual sayur – sayur lokal dengan penjual yang terbatas. Akses ke pasar hanya dengan menggunakan ojek yang lumayan sulit untuk dicegat karena umumnya sudah di-booking oleh pemakai jasa yang lain.
Pasti anda bertanya, “apa relevansinya dengan pembicaraan tentang pendidikan?”. Nah aku ingin saudara membayangkan apa yang pernah kulihat di sana dan juga pasti pernah saudara lihat di tempat lain, tidak jauh dari sana, ada banyak SD yang kulihat, yang ternyata masih kekurangan guru dan yang menjadi masalah selain tenaga guru yang kurang adalah kurangnya sarana rumah guru dan gedung kelas yang tidak memadai. Hal itu tambah parah dengan gaji guru honor/guru bantu yang baru dibayarkan setelah 5 bulan itupun masih disunat sana – sini. Benar – benar miris. Bukankah pembangunan pasar itu benar – benar menjadi sebuah istana di tengah padang pasir kala sesuatu yang penting di dalam pembangunan; pendidikan dan kesehatan, masih saja terabaikan?
Infrastruktur sekolah memang menjadi masalah yang cukup pelik diselesaikan. Mulai terkait dari pengadaan alat bantu ajar - mengajar sampai ketersedian perangkat pembantu lainnya. Saat menulis ini, pikiranku menerawang jauh ke buku “Three cups of tea” tentang biografinya Greg Monterson di daerah Baltistan di Pakistan Utara. Bagaimana keteguhan hatinya membangun sekolah dasar bagi kanak – kanak di sebuah daerah yang cukup ekstrem alamnya, bagaimana ia dan Haji Ali dan beberapa orang lainnya yang nekat mendobrak sistem yang lama dan memberikan peluang bagi kanak – kanak khususnya perempuan yang mungkin suatu hari akan jadi para peraih Nobel di berbagai bidang dan bekerja bagi kemanusiaan. Aku salut pada dia.
Infrastruktur sekolah memang pelik, namun masih banyak saja pihak yang bahkan pernah terlibat di bidang pendidikan khilaf dan lupa bahwa pendanaan infrastruktur harus dipakai untuk membangun tempat yang layak bagi penerus bangsa. Masih banyak saja kasus korupsi yang menyeruak di badan pendidikan nasional kita mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Yang terjadi adalah penurunan kualitas infratruktur yang dipakai, maka jangan heran bangunan sekolah banyak yang harus dirombak usai beberapa tahun atau tak begitu kuat menghadapi goncangan gempa, karena sewaktu dibangun, campuran material telah dikurangi demi keuntungan pihak pembangun. Atau juga kadang desain rancang bangunan diubah demi kepentingan pihak tertentu, yang ujung – ujungnya guna memanen berapa banyak Rupiah yang masuk ke dalam pundi – pundit pribadi. Tapi pernahkah mereka berpikir bahwa yang akan memakai gedung ataupun infrastruktur tersebut adalah manusia yang bernyawa dan bukannya onggokan meja kursi tanpa jiwa? Entahlah …
Kadang juga kekhilafan menuntun pada hal lain yang merusak infrastruktur, misalnya pembakaran aset pendidikan seperti kasus pembakaran direkotorat Uncen. Atau yang paling keren dan tercatat dalam sejarah dunia adalah pembakaran perpustakaan di Alexandria beberapa abad silam. Entahlah …
Infrastruktur sekolah dan sarana pendidikan yang baik , wajib hukumnya.; terlepas apakah konsep yang diusung adalah sekolah alam, negeri, swasta, ataupun alternatif. Aku masih teringat bagaimana sekolah dasarku di sebuah tempat di daerah kepala burung di tanah Papua. Kala bersekolah itu, kamar kecil merupakan satu kemewahan tersendiri karena sekolah kami tak mempunyai kamar kecil jadi kalau memang ada “panggilan alami”, rumah kerabat, guru, atau teman – teman di dekat sekolah menjadi sasaran pelarian. Tapi kalau tidak beruntung, resikonya bisa parah karena ada beberapa gelar yang diberikan pada para pihak yang tidak beruntung yang kadang masih kerap kudengar kala bertemu dengan teman – teman lama dan saling mengolok tentang kenangan masa kecil di bangku SD..
Infrastruktur sekolah kadang menjadi alasan mahal tidaknya biaya pendidikan di sebuah sekolah. Aku sempat terkesima kala tinggal beberapa bulan di Setiabudi, Jakarta Selatan. Bagaimana tidak, di sekitar kosku ada sekolah dengan minimal pembayaran SPP per bulan sekitar 5 juta Rupiah, atau ada SD yang uang pangkalnya berbunyi juta. Aku juga masih mengingat kala sekolah dulu di SMP di Manokwari, yang kebijakannya cukup membuatku mengacungkan jempol, khususnya tentang uang pembangunan. Saat diterima, tak ada yang namanya “uang meja kursi” seperti sekolah lain, uang pembangunannya pun termasuk murah apalagi ada sebuah sistem pembayaran yang meringankan orang tua, yaitu apabila seorang anak telah bersekolah di sekolah tersebut, maka apabila saudaranya juga bersekolah di tempat yang sama, maka orang tua cukup membayar untuk satu orang anak. Makanya aku bersyukur karena selama sekolah, uang pembangunan telah dibayar oleh kakakku dan aku terbebas, begitu juga saat tahun berikutnya, giliran adikku masuk sekolah yang sama, hanya aku yang membayar dan adikku terbebas dan yang pasti uang pembangunannya jelas dipakai buat membangun beberapa kelas baru, pagar sekolah, dan rumah – rumah guru. Sebuah contoh yang baik tentang pembangunan infrastruktur. Tak heran kala ini sekolahku menjadi sekolah berstandar Nasional (SSN) di provinsiku.
Untuk melihat perubahan yang signifikan dalam pengelolaan pembangunan infrastruktur di bidang pendidikan di Indonesia mungkin masih lama terjadi, tapi harapan tak boleh pupus. Aku percaya bahwa masih akan ada banyak jalan alternatif yang bisa ditempuh guna menyediakan sarana yang memadai, apakah bergaya “Maleo” di film “Denias”, ataukah bergaya kak Butet Manurung dengan “sokola Rimba”nya, ataukah dengan berbasis Sekolah Alamnya alm. Romo Mangun? Yang pasti, aku percaya selama masih ada harapan untuk berbuat yang terbaik, maka kanak – kanak itu akan berlarian riang pergi ke sekolah dan orang – orang tuapun akan menarik napas lega terlepas dari beban uang pembangunan yang berat. Jaya pembangunan pendidikan, jangan pernah menyerah!!! Karena hanya kau yang bisa mengubahnya …. Karena hidup tak bisa menunggu.
Bicara tentang pendidikan di Indonesia, khususnya untuk mengurai simpul kusut sistem pendidikan yang terjadi, bukanlah pekerjaan mudah, karena dibutuhkan kerjasama dan kesiapan berbagai pihak terkait. Salah satu ekses dari ketidakteraturan manajemen sekolah adalah tewasnya para siswa saat mengambil pasir. Padahal pasir itu akan dipakai guna memadatkan lapangan bulu tangkis sekolah yang notabene akan dipakai oleh para siswa saat berolahraga. Kejadian ini hanyalah salah satu dampak yang terjadi kala sekolah tak mempunyai sistem pengelolaan yang baik. Tapi, kita juga tak serta merta bisa menyalahkan pihak sekolah, karena walaupun seharusnya lapangan itu dikerjakan oleh tenaga profesional, pertanyaannya adalah “apakah pihak sekolah mempunyai keuangan yang memadai untuk membayar para tukang bangunan?”. Ini yang perlu dikaji lagi.
Bicara tentang dana sekolah, mmmh … ini kasus yang agak sensitif. Karena bagaimana sebuah sekolah dapat berjalan dengan baik penyelenggaraanya kalo dana penyelenggaraannya tidak ada atau dananya memang ada tapi para penyelenggaranya sendiri mati kelaparan dan selanjutnya sudah dapat ditebak kemungkinan apa yang akan terjadi dengan dana tersebut. Sebuah dilema yang dihadapi sistem pendidikan kita. Sudah sering kita mendengar laporan di berbagai media massa bahwa ada sekolah tertentu yang sudah siap rubuh dan ambruk karena infrastruktur yang rusak, tapi hanya beberapa meter dari lokasi tersebut, ada pembangunan sarana pembelanjaan dengan sistem terkini yang ternyata dibiayai oleh pemerintah. Kejadian ini bukanlah kejadian yang hanya terjadi di pulau Jawa saja, bahkan di sebuah kabupaten pemekaran di Papua yang pernah kukunjungi kala bekerja sempat membuatku terhenyak: “What the hell is goin’ on here?”
Aku akui sempat memaki – maki dalam hati dengan sistem pengelolaan pendidikan di daerah itu dan mungkin juga terjadi di tempat lain di Indonesia karena aku benar – benar sedih melihat bagaimana skala prioritas yang dibuat pemerintah setempat benar- benar tidak masuk akal. Bayangkan … di tempat yang notabene baru saja dimekarkan dan notabene penduduknya masih sangat terbatas serta arus perputaran uang sangat terbatas, dibangun sebuah pasar dan mall dengan konsep yang sangat memukau. “Sophisticated”, kata orang OZ. Sebuah pusat perbelanjaan lengkap dengan areal bermain anak - anak dipadu dengan konsep pasar tradisional yang memisahkan antara pasar basah dan kering, yang sudah dapat bersaing dengan pasar lain di Indonesia bahkan aku percaya beberapa pasar tradisional di Jakarta, masih kala konsepnya dari pasar ini tapi dibangun di lokasi yang sangat terisolir. Aku sempat berbisik kecewa pada diriku, “mmmmh … memangnya siapa yang mau belanja di sini???”
Mungkin anda akan protes dan bicara, “wajar dong, kan kabupaten baru, perlu pasar yang memadai.”. Memang pemikiran itu benar dan baik adanya kalau berdasarkan realita yang ada. Tapi yang terjadi adalah pembangunan pasar yang menyedot anggaran APBD dalam jumlah banyak itu benar – benar sebuah utopia yang bersifat paradoks dalam kenyataan di kabupaten pemekaran di pulau itu. Bayangkan saja, pasar yang hanya dibuka 2 kali dalam seminggu itu hanya menjual sayur – sayur lokal dengan penjual yang terbatas. Akses ke pasar hanya dengan menggunakan ojek yang lumayan sulit untuk dicegat karena umumnya sudah di-booking oleh pemakai jasa yang lain.
Pasti anda bertanya, “apa relevansinya dengan pembicaraan tentang pendidikan?”. Nah aku ingin saudara membayangkan apa yang pernah kulihat di sana dan juga pasti pernah saudara lihat di tempat lain, tidak jauh dari sana, ada banyak SD yang kulihat, yang ternyata masih kekurangan guru dan yang menjadi masalah selain tenaga guru yang kurang adalah kurangnya sarana rumah guru dan gedung kelas yang tidak memadai. Hal itu tambah parah dengan gaji guru honor/guru bantu yang baru dibayarkan setelah 5 bulan itupun masih disunat sana – sini. Benar – benar miris. Bukankah pembangunan pasar itu benar – benar menjadi sebuah istana di tengah padang pasir kala sesuatu yang penting di dalam pembangunan; pendidikan dan kesehatan, masih saja terabaikan?
Infrastruktur sekolah memang menjadi masalah yang cukup pelik diselesaikan. Mulai terkait dari pengadaan alat bantu ajar - mengajar sampai ketersedian perangkat pembantu lainnya. Saat menulis ini, pikiranku menerawang jauh ke buku “Three cups of tea” tentang biografinya Greg Monterson di daerah Baltistan di Pakistan Utara. Bagaimana keteguhan hatinya membangun sekolah dasar bagi kanak – kanak di sebuah daerah yang cukup ekstrem alamnya, bagaimana ia dan Haji Ali dan beberapa orang lainnya yang nekat mendobrak sistem yang lama dan memberikan peluang bagi kanak – kanak khususnya perempuan yang mungkin suatu hari akan jadi para peraih Nobel di berbagai bidang dan bekerja bagi kemanusiaan. Aku salut pada dia.
Infrastruktur sekolah memang pelik, namun masih banyak saja pihak yang bahkan pernah terlibat di bidang pendidikan khilaf dan lupa bahwa pendanaan infrastruktur harus dipakai untuk membangun tempat yang layak bagi penerus bangsa. Masih banyak saja kasus korupsi yang menyeruak di badan pendidikan nasional kita mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Yang terjadi adalah penurunan kualitas infratruktur yang dipakai, maka jangan heran bangunan sekolah banyak yang harus dirombak usai beberapa tahun atau tak begitu kuat menghadapi goncangan gempa, karena sewaktu dibangun, campuran material telah dikurangi demi keuntungan pihak pembangun. Atau juga kadang desain rancang bangunan diubah demi kepentingan pihak tertentu, yang ujung – ujungnya guna memanen berapa banyak Rupiah yang masuk ke dalam pundi – pundit pribadi. Tapi pernahkah mereka berpikir bahwa yang akan memakai gedung ataupun infrastruktur tersebut adalah manusia yang bernyawa dan bukannya onggokan meja kursi tanpa jiwa? Entahlah …
Kadang juga kekhilafan menuntun pada hal lain yang merusak infrastruktur, misalnya pembakaran aset pendidikan seperti kasus pembakaran direkotorat Uncen. Atau yang paling keren dan tercatat dalam sejarah dunia adalah pembakaran perpustakaan di Alexandria beberapa abad silam. Entahlah …
Infrastruktur sekolah dan sarana pendidikan yang baik , wajib hukumnya.; terlepas apakah konsep yang diusung adalah sekolah alam, negeri, swasta, ataupun alternatif. Aku masih teringat bagaimana sekolah dasarku di sebuah tempat di daerah kepala burung di tanah Papua. Kala bersekolah itu, kamar kecil merupakan satu kemewahan tersendiri karena sekolah kami tak mempunyai kamar kecil jadi kalau memang ada “panggilan alami”, rumah kerabat, guru, atau teman – teman di dekat sekolah menjadi sasaran pelarian. Tapi kalau tidak beruntung, resikonya bisa parah karena ada beberapa gelar yang diberikan pada para pihak yang tidak beruntung yang kadang masih kerap kudengar kala bertemu dengan teman – teman lama dan saling mengolok tentang kenangan masa kecil di bangku SD..
Infrastruktur sekolah kadang menjadi alasan mahal tidaknya biaya pendidikan di sebuah sekolah. Aku sempat terkesima kala tinggal beberapa bulan di Setiabudi, Jakarta Selatan. Bagaimana tidak, di sekitar kosku ada sekolah dengan minimal pembayaran SPP per bulan sekitar 5 juta Rupiah, atau ada SD yang uang pangkalnya berbunyi juta. Aku juga masih mengingat kala sekolah dulu di SMP di Manokwari, yang kebijakannya cukup membuatku mengacungkan jempol, khususnya tentang uang pembangunan. Saat diterima, tak ada yang namanya “uang meja kursi” seperti sekolah lain, uang pembangunannya pun termasuk murah apalagi ada sebuah sistem pembayaran yang meringankan orang tua, yaitu apabila seorang anak telah bersekolah di sekolah tersebut, maka apabila saudaranya juga bersekolah di tempat yang sama, maka orang tua cukup membayar untuk satu orang anak. Makanya aku bersyukur karena selama sekolah, uang pembangunan telah dibayar oleh kakakku dan aku terbebas, begitu juga saat tahun berikutnya, giliran adikku masuk sekolah yang sama, hanya aku yang membayar dan adikku terbebas dan yang pasti uang pembangunannya jelas dipakai buat membangun beberapa kelas baru, pagar sekolah, dan rumah – rumah guru. Sebuah contoh yang baik tentang pembangunan infrastruktur. Tak heran kala ini sekolahku menjadi sekolah berstandar Nasional (SSN) di provinsiku.
Untuk melihat perubahan yang signifikan dalam pengelolaan pembangunan infrastruktur di bidang pendidikan di Indonesia mungkin masih lama terjadi, tapi harapan tak boleh pupus. Aku percaya bahwa masih akan ada banyak jalan alternatif yang bisa ditempuh guna menyediakan sarana yang memadai, apakah bergaya “Maleo” di film “Denias”, ataukah bergaya kak Butet Manurung dengan “sokola Rimba”nya, ataukah dengan berbasis Sekolah Alamnya alm. Romo Mangun? Yang pasti, aku percaya selama masih ada harapan untuk berbuat yang terbaik, maka kanak – kanak itu akan berlarian riang pergi ke sekolah dan orang – orang tuapun akan menarik napas lega terlepas dari beban uang pembangunan yang berat. Jaya pembangunan pendidikan, jangan pernah menyerah!!! Karena hanya kau yang bisa mengubahnya …. Karena hidup tak bisa menunggu.
Monday, 4 May 2009
Kalau hidup begitu singkat ...
In memoriam of those Swine Flu’s Victim and other deadly diseases
=================================================================
Apa yang akan kau lakukan kalau waktu yang tersisa dalam hidupmu dapat kau hitung dengan jari?
Apa yang akan kau lakukan kalau tiba – tiba kau divonis bahwa kau mengidap suatu penyakit yang mematikan dan membuatmu harus dikucilkan dari masyarakat?
Apa yang akan kau lakukan kala semua pertalian yang kau miliki harus dihentikan demi alasan kesehatan?
Semua pertanyaan ini berkecamuk di hatiku kala tiba – tiba membayangkan bahwa seandainya aku menjadi salah seorang pasien Flu Babi (Swine Flu) ataupun penyakit mematikan lainnya misalnya pengidap HIV, kanker dll, apakah aku akan bereaksi sama dengan orang – orang yang sekarang sedang mengidap dan berjuang menghadapi penyakit – penyakit ini? Apakah aku akan begitu tegar menghadapi bahwa inilah realita yang kuhadapi dengan membawa virus mematikan di dalam tubuhku dan mempunyai kemungkinan menularkannya pada orang lain? Ataukah aku akan menyerah dan bilang pada diriku bahwa “usahlah berusaha lagi, toh pada akhirnya aku akan mati, hanya waktunya yang berbeda?” Ataukah aku akan tetap menyemangati diriku bahwa ini lah piihan hidup yang kupunya saat ini dan tak ada pilihan lain, jadi kenapa harus bersusah payah memikirkan penderitaan sakit itu, toh masih ada waktu yang tersisa untuk berbuat sesuatu bagi sesama? Pada tahap ini, entahlah .. pilihan mana yang akan kuambil.
Entahlah … semua harus bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan dan pikirkan, dan semua orang mempunyai kemungkinan untuk bereaksi pada suatu hal dalam tingkatan yang berbeda – beda, bisa menjadi sangat baik ataupun menjadi sangat buruk.
Entahlah … bila aku menjadi salah seorang pengidap salah satu penyakit itu, mungkin pada awalnya aku akan sangat marah dan bertanya, “Kenapa harus sa? Kenapa bukan orang lain?”. Itu reaksi normal yang akan kulakukan karena pada dasarnya aku masih tetap manusia dengan sifat dasar yang mementingkan diri pribadi dan bukannya orang lain. Tetapi kemudian, aku percaya bahwa kelak seiring dengan waktu, aku pasti bisa menerima hal itu menjadi sebuah kenyataan yang tak bisa terelakkan dalam diriku, bahwa “ OK, semua orang pasti akan mati, yang berbeda adalah cara, waktu, dan durasinya. Inilah caraku dan jalanku, tak perlu lagi khawatir. Toh aku tak pernah menginginkan ini terjadi tapi tetap terjadi juga, pasti ada rencana Tuhan yang lain mengapa sampai aku begini. Mungkin akan ada banyak orang yang dimenangkan dengan kesakitanku. Toh aku sudah menjalani lebih dari separuh hidupku menikmati anugerah hidup yang bahkan tak banyak orang bisa jalani dan rasakan.”
“Hidup itu pilihan dan dengan memilih, maka kita akan hidup.” Aku ingat betul perkataan ini kala mantan pacarku yang pertama memberikan kutipan ini padaku. Maka aku percaya, seandainya aku termasuk di dalam segelintir orang dari populasi manusia yang harus mengidap berbagai penyakit yang mematikan itu, biarlah aku saja yang mengidapnya dan tak usahlah bersusah hati karena harus dikarantina karena toh dengan dikarantina, kita telah melakukan satu kebaikan dengan tidak menyebarkan virus itu ke orang lain. Pasti jalan hidup kita akan berbeda, tapi saya percaya bahwa kita telah mengalami suatu pengalaman hidup yang tak akan pernah dimiliki oleh orang lain, pengalaman yang tidak akan pernah bisa dihargai dengan uang. Dan kelak … seandainya Tuhan memilih membuat sebuah keajaiban agi hidup kita, maka aku percaya bahwa pengalaman itu adalah sebuah kekayaan batiniah yang tak akan lekang oleh zaman dan ingatan karena bagaimanapun kita telah menjadi pemenang.
Tapi apabila ternyata jalan hidup ternyata tidak lebih baik, mengapa kita harus semakin bersusah hati dan bersedih dengan kondisi kita. Aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah mendatangkan kesusahan dan rancangan yang jahat atas diri kita, yang terjadi juga bukanlah sebuah hukum tabur – tuai, karena yang terjadi murni dari pilihan – pilihan yang telah kita ambil sebelumnya, dan dalam hal ini, kita sangat tak layak menyalahkan Tuhan atas kondisi yang terjadi. Dengan menerimanya dengan lebih terbuka, bukankah lebih ringan bagi batin kita? Mungkin mencoba jujur pada diri sendiri adalah pilihan yang sangat berat, kala semua harapan dan mimpi yang telah didesain lama harus dirombak dan dibuang, tapi bukankah pada akhirnya dengan memijakkan hidup pada kenyataan itu lebih manis dan bermanfaat? Entahlah …
Kelak, bila memang pada akhirnya harus meninggalkan dunia ini dalam waktu yang lumayan cepat, mengapa tak kita isi dengan hal – hal yang membantu sesama agar apa yang mereka punya dan alami tak harus seberat seperti kita. Bukankah dalam hidup bukan masalah seberapa lamanya kita hidup, tetapi sekualitas apakah hidup kita bagi sesama, seberapa besarkah hidup kita membawa pengaruh yang positif pada sekeliling kita, itu yang perlu dipikirkan.
Bila memang saat itu harus terjadi juga, bukankah penyakit dapat saja merenggut semua yang terbaik dari tubuh kita, tapi aku percaya bahwa sekuat – kuatnya penyakit menggerogoti tubuh kita, semangat dan harapan adalah hal yang tak akan pernah bisa dicuri dari hidup kita, oleh siapapun juga, dengan cara apapun juga.
Seandainya hidup hanya sesingkat itu, biarlah kala kumeninggal, aku masih bisa diiringi dengan berbagai nyanyian dari Boyz II Men, CeCe Winans, Brian McKnight, Craig David dan puisinya Rudyard Kipling “If”. Aku selalu berharap bahwa di acara pemakamanku, tak ada yang menangis, tetapi tersenyum dan berkata, “Sungguh dia akan bahagia di sana, karena dia sedang pergi ke rumah Bapa yang tenang.”.
(Canberra, 4 Mei 2009)
=================================================================
Apa yang akan kau lakukan kalau waktu yang tersisa dalam hidupmu dapat kau hitung dengan jari?
Apa yang akan kau lakukan kalau tiba – tiba kau divonis bahwa kau mengidap suatu penyakit yang mematikan dan membuatmu harus dikucilkan dari masyarakat?
Apa yang akan kau lakukan kala semua pertalian yang kau miliki harus dihentikan demi alasan kesehatan?
Semua pertanyaan ini berkecamuk di hatiku kala tiba – tiba membayangkan bahwa seandainya aku menjadi salah seorang pasien Flu Babi (Swine Flu) ataupun penyakit mematikan lainnya misalnya pengidap HIV, kanker dll, apakah aku akan bereaksi sama dengan orang – orang yang sekarang sedang mengidap dan berjuang menghadapi penyakit – penyakit ini? Apakah aku akan begitu tegar menghadapi bahwa inilah realita yang kuhadapi dengan membawa virus mematikan di dalam tubuhku dan mempunyai kemungkinan menularkannya pada orang lain? Ataukah aku akan menyerah dan bilang pada diriku bahwa “usahlah berusaha lagi, toh pada akhirnya aku akan mati, hanya waktunya yang berbeda?” Ataukah aku akan tetap menyemangati diriku bahwa ini lah piihan hidup yang kupunya saat ini dan tak ada pilihan lain, jadi kenapa harus bersusah payah memikirkan penderitaan sakit itu, toh masih ada waktu yang tersisa untuk berbuat sesuatu bagi sesama? Pada tahap ini, entahlah .. pilihan mana yang akan kuambil.
Entahlah … semua harus bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan dan pikirkan, dan semua orang mempunyai kemungkinan untuk bereaksi pada suatu hal dalam tingkatan yang berbeda – beda, bisa menjadi sangat baik ataupun menjadi sangat buruk.
Entahlah … bila aku menjadi salah seorang pengidap salah satu penyakit itu, mungkin pada awalnya aku akan sangat marah dan bertanya, “Kenapa harus sa? Kenapa bukan orang lain?”. Itu reaksi normal yang akan kulakukan karena pada dasarnya aku masih tetap manusia dengan sifat dasar yang mementingkan diri pribadi dan bukannya orang lain. Tetapi kemudian, aku percaya bahwa kelak seiring dengan waktu, aku pasti bisa menerima hal itu menjadi sebuah kenyataan yang tak bisa terelakkan dalam diriku, bahwa “ OK, semua orang pasti akan mati, yang berbeda adalah cara, waktu, dan durasinya. Inilah caraku dan jalanku, tak perlu lagi khawatir. Toh aku tak pernah menginginkan ini terjadi tapi tetap terjadi juga, pasti ada rencana Tuhan yang lain mengapa sampai aku begini. Mungkin akan ada banyak orang yang dimenangkan dengan kesakitanku. Toh aku sudah menjalani lebih dari separuh hidupku menikmati anugerah hidup yang bahkan tak banyak orang bisa jalani dan rasakan.”
“Hidup itu pilihan dan dengan memilih, maka kita akan hidup.” Aku ingat betul perkataan ini kala mantan pacarku yang pertama memberikan kutipan ini padaku. Maka aku percaya, seandainya aku termasuk di dalam segelintir orang dari populasi manusia yang harus mengidap berbagai penyakit yang mematikan itu, biarlah aku saja yang mengidapnya dan tak usahlah bersusah hati karena harus dikarantina karena toh dengan dikarantina, kita telah melakukan satu kebaikan dengan tidak menyebarkan virus itu ke orang lain. Pasti jalan hidup kita akan berbeda, tapi saya percaya bahwa kita telah mengalami suatu pengalaman hidup yang tak akan pernah dimiliki oleh orang lain, pengalaman yang tidak akan pernah bisa dihargai dengan uang. Dan kelak … seandainya Tuhan memilih membuat sebuah keajaiban agi hidup kita, maka aku percaya bahwa pengalaman itu adalah sebuah kekayaan batiniah yang tak akan lekang oleh zaman dan ingatan karena bagaimanapun kita telah menjadi pemenang.
Tapi apabila ternyata jalan hidup ternyata tidak lebih baik, mengapa kita harus semakin bersusah hati dan bersedih dengan kondisi kita. Aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah mendatangkan kesusahan dan rancangan yang jahat atas diri kita, yang terjadi juga bukanlah sebuah hukum tabur – tuai, karena yang terjadi murni dari pilihan – pilihan yang telah kita ambil sebelumnya, dan dalam hal ini, kita sangat tak layak menyalahkan Tuhan atas kondisi yang terjadi. Dengan menerimanya dengan lebih terbuka, bukankah lebih ringan bagi batin kita? Mungkin mencoba jujur pada diri sendiri adalah pilihan yang sangat berat, kala semua harapan dan mimpi yang telah didesain lama harus dirombak dan dibuang, tapi bukankah pada akhirnya dengan memijakkan hidup pada kenyataan itu lebih manis dan bermanfaat? Entahlah …
Kelak, bila memang pada akhirnya harus meninggalkan dunia ini dalam waktu yang lumayan cepat, mengapa tak kita isi dengan hal – hal yang membantu sesama agar apa yang mereka punya dan alami tak harus seberat seperti kita. Bukankah dalam hidup bukan masalah seberapa lamanya kita hidup, tetapi sekualitas apakah hidup kita bagi sesama, seberapa besarkah hidup kita membawa pengaruh yang positif pada sekeliling kita, itu yang perlu dipikirkan.
Bila memang saat itu harus terjadi juga, bukankah penyakit dapat saja merenggut semua yang terbaik dari tubuh kita, tapi aku percaya bahwa sekuat – kuatnya penyakit menggerogoti tubuh kita, semangat dan harapan adalah hal yang tak akan pernah bisa dicuri dari hidup kita, oleh siapapun juga, dengan cara apapun juga.
Seandainya hidup hanya sesingkat itu, biarlah kala kumeninggal, aku masih bisa diiringi dengan berbagai nyanyian dari Boyz II Men, CeCe Winans, Brian McKnight, Craig David dan puisinya Rudyard Kipling “If”. Aku selalu berharap bahwa di acara pemakamanku, tak ada yang menangis, tetapi tersenyum dan berkata, “Sungguh dia akan bahagia di sana, karena dia sedang pergi ke rumah Bapa yang tenang.”.
(Canberra, 4 Mei 2009)
Subscribe to:
Posts (Atom)