Untuk Al:
Sa memilih berhenti, Al. I quit. It's not right and it's not fair. Sa layak kan dapat cowok yang lebih menghargai sa, sa layak kan memilih yang terbaik bagi sa. Cukup suda waktu yang pernah ada, sa tra marah ko atau menyesal kenal ko, cuma sa harus sadar tentang semua ini.
It's time to spread out my wings and fly. ke negeri lain, ke tempat lain, sa akan merindukan ko ... karena ko pernah menjadi yang terbaik bagi sa ..
Tapi sa cuma ingin nyanyi lagu ini untuk ko.
Sa sudah berhenti berharap, dan sekarang sa ingin kembali normal, Al. mengejar cinta sendiri, belajar jatuh cinta lagi tanpa beban layaknya remaja yang lagi jatuh cinta ..
It's enough, Al. Sa LAYAK jatuh cinta lagi. Sa layak mendapat seseorang yang bisa bikin sa ketawa lagi dengan lepas ...
Al, I'm gonna miss you, kasih-tak-sampai.
Semoga ko bahagia deng pilihan yang telah ko buat sendiri; that's ur consequence .. every steps u took, lead to another consequence .. That's ur choice!!!
=======================================================================
Berhenti Berharap
by MARCEL
Dulu Ku Tak Pernah Percayakan Cinta
Yang Tak Harus Memiliki
Pernah Ku Paksakan Walau Tak Sejalan
Meski Ku Tahu Ku Salah
Dan Ku Coba Melupakanmu
Karena Ku Tahu Kau Bukan Milikku
Dan Ku Berhenti Berharap
Akan Cinta Mu Yg Dulu Ada Di Hati
Dan Ku Coba Tuk Bertahan
Walau Berat Kini Ku Berhenti
Berharap...
Kini Ku Akui Hatiku Tak Bisa
Selalu Miliki Dirimu
Pernah Ku Paksakan Walau Tak Sejalan
Meski Ku Tahu Ku Salah
Dan Ku Coba Melupakanmu
Karena Ku Tahu Kau Bukan Milikku
Dan Ku Berhenti Berharap
Akan Cinta Mu Yg Dulu Ada Di Hati
Dan Ku Coba Tuk Bertahan
Walau Berat Kini Ku Berhenti
Berharap...
Tuesday, 24 March 2009
Monday, 23 March 2009
Merasa tidak mengerti

Merasa tidak mengerti
Merasa begitu bimbang dan hilang
Merasa tak tahu hendak kemana
Merasa risau, keluh, bercampur senang
Jatuh cintakah aku,
Ataukah terjebak dalam euforia sesaat
Merasa takutkah aku,
Menjalani hari baru yang masih tak pasti.
Aku ingin tertawa lagi
Ingin menari lagi
Ingin tersenyum lagi
Ingin jatuh cinta lagi
Telah lama hati dibiarkan membeku
Ingin kucairkan
Tapi tak sampai meleleh
Tak sampai menguap
Aku ingin hatiku kembali utuh
Kembali sempurna tanpa cacat
Tanpa retak
Tanpa goresan
Dan aku ingin bisa kembali lagi
Menjadi aku yang dulu
Yang naïf dan tak takut jatuh cinta
Yang ‘bubbling’ dan cuek
Entahlah …
Apakah aku sedang jatuh cinta
Sedang menggantang asap
Ataukah menggarami lautan,
Aku tak tahu …….
Jatuh cintakah aku padanya,
Pada sepotong kata yang dituliskannya
Pada permintaannya untuk tersenyum
Ataukah sapaannya?
Entahlah … aku tak tahu
Kuharap perasaanku kembali normal
Kembali biasa, kembali pulang
Pada raga yang telah mematikan
Sepotong kata bernama “cinta”
Entahlah …
Aku tak tahu
Aku bingung dan lelah
Menanti dan menelaah
Sepotong kata berlabel ‘cinta’
Wednesday, 18 March 2009
Menanti sebuah Jawaban
Untuk Al:
Saatnya aku harus menata hidupku lagi, saatnya aku harus belajar menghargai hidupku lagi dan mulai berpikir tentang kebahagianku, dan bukannya hidup hanya untuk orang lain.
Ini saatnya dimana aku sudah harus berhenti menjadi 'milikmu' yang rentan dan rapuh. Di saat di mana aku harus berhenti menjadi 'sephia' tanpa status abadi, aku lelah.
Ini saatnya menghargai cinta lain di hatiku, menghargai hidupku.
Entah apakah kau mencintaiku karena kau tulus ataukah karena hal lain; ko saja yang tahu. Yang pasti sa ingin bisa hidup dan jatuh cinta lagi.
=================================================
MENANTI SEBUAH JAWABAN
Artist: Padi
Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
Seiring jejak kakiku bergetar
Aku tlah terpaku oleh cintamu
Menelusup hariku dengan harapan
Namun kau masih terdiam membisu
Sepenuhnya aku...ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan...tuk mencintaimu
Setulusnya aku...akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu
Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tau isi hatiku...
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku
Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
Saatnya aku harus menata hidupku lagi, saatnya aku harus belajar menghargai hidupku lagi dan mulai berpikir tentang kebahagianku, dan bukannya hidup hanya untuk orang lain.
Ini saatnya dimana aku sudah harus berhenti menjadi 'milikmu' yang rentan dan rapuh. Di saat di mana aku harus berhenti menjadi 'sephia' tanpa status abadi, aku lelah.
Ini saatnya menghargai cinta lain di hatiku, menghargai hidupku.
Entah apakah kau mencintaiku karena kau tulus ataukah karena hal lain; ko saja yang tahu. Yang pasti sa ingin bisa hidup dan jatuh cinta lagi.
=================================================
MENANTI SEBUAH JAWABAN
Artist: Padi
Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
Seiring jejak kakiku bergetar
Aku tlah terpaku oleh cintamu
Menelusup hariku dengan harapan
Namun kau masih terdiam membisu
Sepenuhnya aku...ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan...tuk mencintaimu
Setulusnya aku...akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu
Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tau isi hatiku...
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku
Aku tak bisa luluhkan hatimu
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
Big man
Sambil mendengarkan alunan suara dari Twila Paris, album lullaby untuk bayi tetapi berisi lagu – lagu penyembahan kepada Tuhan, aku mengetikan kisah hari ini. Maret tanggal ke 18, tahun 2009. Aku bersyukur untuk hidupku.
Hari ini aku bangun kesiangan, karena kecapekan dan begadang sampai pukul 12 lewat, yang pasti kepalaku pening dan dadaku sesak. Makanya aku bangun kesiangan.
Bangun pagi jam 10, ditemani semangkok bubur kacang ijo dan segelas sari jeruk, kubaca bab 6 buku teksku dan tentu saja ditemani musik. Tante Wilma dan seorang ibu dari Gerejanya sedang memasak di dapur, tak lupa seorang ibu dari Red Cross datang mengunjungi kami.
Di kampus, aku bertemu kawan-pantaku; Ellen dan bergosip plus memantau perkembangan kuliah yang lagi – lagi masih berkisar tentang emosi. Aku sempat terkaget – kaget kala Ibu Zhengdao tiba – tiba menanyakanku … aku sedang melamun dan lebih banyak melamun akhir – akhir ini. Entahlah ….
Banyak hal yang sedang kupikirkan akhir – akhir ini, entahlah … perasaan yang entah tak bisa kujelaskan.
Saat pulang tadi dan melihat semburat jingga di langit petang, jam 8 kurang, aku merasakan suatu pemahaman baru dalam hatiku, betapa aku benar – benar dikasihi Yesus, betapa aku begitu beruntung, betapa aku berharga.
Jadi sepanjang perjalanan itu aku hanya merasakan kepenuhan dan ucapan syukur di dalam hati dan menikmati setiap pemandangan senja di luar kaca bis dan hamparan rumput dan pepohonan yang mulai berbayang.
Entahlah … apakah aku sedang jatuh cinta, sedang jatuh cinta pada seseorang. Entahlah kenapa aku sudah mulai tak memikirkan Al walau kemarin kusempat menyisipkan titipannya di dalam kotak kiriman yang kukirimkan ke rumah. Entahlah … tapi hatiku mulai merasa hilang rasa, hilang gairah padanya, entahlah ….
Aku malah sedang merasa jatuh cinta etau entahlah … sebuah perasaan ketergantungan pada seseorang lain, yang berada hanya enam jam perjalanan naik bis dari rumahku, seseorang yang entahlah mengapa tiba – tiba hadir dalam hidupku. Seseorang yang membuatku hampir muntah semalaman karena pernyataannya tentang ulat sagu yang enak dikunyah kala hidup dan mengandung protein tinggi atau pun kebiasaannya minum teh.
Entahlah mengapa sekarang aku mulai peduli padanya, mengapa aku mulai “merindukan” suaranya, entahlah. Seseorang yang baru saja kukenal 3 minggu belakangan ini, yang mengajakku chat di FB, berpindah ke YM, akhirnya mendarat di Skype (ia mengajariku tentang software dan fasilitas ini dan membuat kami ngobrol sampe 2 jam lebih) yang kemudian berpindah lagi ke fasilitas ngobrol 3000 menit via 3 (kebetulan nomor HP kami berprovider yang sama).
Mungkin aku lagi dalam proses yang enggan kuberi nama, entahlah. Panggil saja dia ‘Big Man’. Entahlah ….. aku berada dalam unexplained state. Tapi aku merasa nyaman, sudah lama tidak bertemu seorang yang bisa diajak berdebat, berdiskusi dan saling bertaruh … perasaan lama yang tak kumiliki. Entahlah, mengapa aku bisa merasakan begitu nyaman seperti ini, ngobrol berjam – jam dengan seseorang yang baru saja kukenal, tetapi bagai dua sahabat lama. Bisa berdiskusi dari politik, pendidikan, acara pernikahan dan konsep budaya sampai cinta dan hubungan dengan orang tua. Entahlah …. Tapi satu topik menarik adalah ia orang yang nyaman diajak diskusi tentang Tuhan; tentang Yesus.
Aku suka kata – katanya saat seseorang yang berada di Papua mengungkapkan perasaannya dan membuatku sedikit kacau, sehingga tak bisa fokus pada tugas. Kau tahu, ia cuma bilang 5 huruf: FOKUS. Dan terus mengingatkanku pada 5 kata itu yang kadang kucuek bilang bahwa 5 huruf adalah CINTA atau STRESS, tapi ia akan menggantinya menjadi FOKUS atau STUDY atau YESUS. Ia membuatku merasa sedikit tenang mempunyai teman diskusi dan berdebat .. dan juga berbicara tentang kasih Yesus.
Tentang hidupku, aku mengucap syukur untuk hal – hal yang telah kuperoleh, sedang kuperoleh dan akan kuperoleh. Aku mengucap syukur Yesus masih menjagaku.
Aku mengucap syukur untuk Paskah, saat aku merasa begitu dekat dengan Yesus, merasa mendapat anugerah terbesar. Aku mengasihimu, Yesus.
Tentang Al, entahlah … perhatian dari Big Man membuatku sedikit mulai rasional dan juga karena film “He’s just not that into you” yang pembahasan bukunya sempat kunonton berapa tahun lalu di Oprah Show dan dimana ada kutipan yang menarik dari acara itu yaitu : DON’T WASTE YOUR BEAUTY untuk seseorang yang tidak bisa menghargainya.
Entahlah … aku lagi dalam proses menemukan cinta dalam hubungan lelaki - perempuan dan dalam proses untuk percaya bahwa cinta itu ada dan eksis. Karena aku terlanjur percaya dan pesimis bahwa aku tak beruntung dalam cinta jenis ini. Entahlah ….
Saturday, 14 March 2009
Pemuja Rahasia
Untuk seseorang yang entah berada di mana ^_^
===============================================
Pemuja Rahasia
Artist: Sheila On 7
Kuawali hariku dengan mendoakanmu
Agar kau slalu sehat dan bahagia di sana...
Sebelum kau melupakanku lebih jauh,
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh...
Ku tak pernah berharap
Kau kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini
Ku hanya ingin bila kau melihatku kapanpun
Dimanapun hatimu kan berkata seperti ini...
Pria inilah yang jatuh hati padamu
Pria inilah yang kan s’lalu memujamu...
Aha... yeah... aha... yeah...
Begitu para rapper coba menghiburku
Akulah orang yang selalu menaruh bunga
Dan menuliskan cinta di atas meja kerjamu
Akulah orang yang kan selalu mengawasimu
Menikmati indahmu dari sisi gelapku
Dan biarkan aku jadi pemujamu
Jangan pernah hiraukan perasaan hatiku
Tenanglah tenang pujaan hatiku sayang
Aku takkan sampai hati bila menyentuhmu
Mungkin kau takkan pernah tahu
Betapa mudahnya kau untuk dikagumi
Mungkin kau takkan pernah sadar
Betapa mudahnya kau untuk dicintai
Akulah orang yang akan selalu memujamu
Akulah orang yang akan selalu mengintaimu
Akulah orang yang akan selalu memujamu
Akulah orang yang akan selalu mengintaimu
Karena hanya dengan perasaan rinduku yang dalam padamu
Kupertahankan hidup
Maka hanya dengan jejak-jejak hatimu
Ada arti kutelusuri hidup ini
Selamanya hanya kubisa memujamu
Selamanya hanya kubisa merindukanmu
===============================================
Pemuja Rahasia
Artist: Sheila On 7
Kuawali hariku dengan mendoakanmu
Agar kau slalu sehat dan bahagia di sana...
Sebelum kau melupakanku lebih jauh,
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh...
Ku tak pernah berharap
Kau kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini
Ku hanya ingin bila kau melihatku kapanpun
Dimanapun hatimu kan berkata seperti ini...
Pria inilah yang jatuh hati padamu
Pria inilah yang kan s’lalu memujamu...
Aha... yeah... aha... yeah...
Begitu para rapper coba menghiburku
Akulah orang yang selalu menaruh bunga
Dan menuliskan cinta di atas meja kerjamu
Akulah orang yang kan selalu mengawasimu
Menikmati indahmu dari sisi gelapku
Dan biarkan aku jadi pemujamu
Jangan pernah hiraukan perasaan hatiku
Tenanglah tenang pujaan hatiku sayang
Aku takkan sampai hati bila menyentuhmu
Mungkin kau takkan pernah tahu
Betapa mudahnya kau untuk dikagumi
Mungkin kau takkan pernah sadar
Betapa mudahnya kau untuk dicintai
Akulah orang yang akan selalu memujamu
Akulah orang yang akan selalu mengintaimu
Akulah orang yang akan selalu memujamu
Akulah orang yang akan selalu mengintaimu
Karena hanya dengan perasaan rinduku yang dalam padamu
Kupertahankan hidup
Maka hanya dengan jejak-jejak hatimu
Ada arti kutelusuri hidup ini
Selamanya hanya kubisa memujamu
Selamanya hanya kubisa merindukanmu
Tak sebebas Merpati
Andai ada cowok yang ikhlas dan tulus! It is for my future hubby; someday, somewhere, some how, I'll find him.
=====================================
Tak Sebebas Merpati
Artist: Kahitna
Kala kita lihat
Sepasang merpati
Terbang bebas lepas
Tepat di hadapan
Lalu kaubertanya
Kapan kita bagai mereka
Terbang lepas bebas....
Lepas bebas ke ujung dunia
Dan kubertanya
Maukah kau terima
Pinangan tanpa
Sisa cinta yang lain
Rona bahagia
Terpancar dari anggukan
Saat kupasangkan....
Pasang cincin di jemari
Terimakasih kau terima
Pertunangan indah ini
Bahagia meski mungkin
Tak sebebas merpati
=====================================
Tak Sebebas Merpati
Artist: Kahitna
Kala kita lihat
Sepasang merpati
Terbang bebas lepas
Tepat di hadapan
Lalu kaubertanya
Kapan kita bagai mereka
Terbang lepas bebas....
Lepas bebas ke ujung dunia
Dan kubertanya
Maukah kau terima
Pinangan tanpa
Sisa cinta yang lain
Rona bahagia
Terpancar dari anggukan
Saat kupasangkan....
Pasang cincin di jemari
Terimakasih kau terima
Pertunangan indah ini
Bahagia meski mungkin
Tak sebebas merpati
Cinta sendiri
Untuk Al, Wish u can read this lyric someday!
==========================================
Cinta Sendiri
Artist: Kahitna
Kau ungkapkan kepadaku
Kan ada saatnya nanti
Engkau milikku satu
Ku menunggu dalam bimbang
Adakah sungguhnya aku
Kasih yang kau inginkan
Biar aku yg pergi
Bila tak juga pasti
Adakah selama ini
Aku cinta sendiri
Biar aku menepi
Bukan lelah menanti
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan
Pedih aku rasakan
Kenyataannya
Cinta tak harus
Saling memiliki
Ku menunggu dalam bimbang
Adakah sungguhnya aku
Kasih yang kau inginkan
Biar aku yg pergi
Bila tak juga pasti
Adakah selama ini
Aku cinta sendiri
Biar aku menepi
Bukan lelah menanti
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan
Pedih aku rasakan
Kenyataannya
Cinta tak harus
Saling memiliki
Jujur aku tak yakin bisa
Jalani hari tanpa dirimu
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan
Biar aku yg pergi
Bila tak juga pasti
Adakah selama ini
Aku cinta sendiri
Biar aku menepi
Bukan lelah menanti
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan
Pedih aku rasakan
Kenyataannya
Cinta tak harus
Saling memiliki
===================================================
==========================================
Cinta Sendiri
Artist: Kahitna
Kau ungkapkan kepadaku
Kan ada saatnya nanti
Engkau milikku satu
Ku menunggu dalam bimbang
Adakah sungguhnya aku
Kasih yang kau inginkan
Biar aku yg pergi
Bila tak juga pasti
Adakah selama ini
Aku cinta sendiri
Biar aku menepi
Bukan lelah menanti
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan
Pedih aku rasakan
Kenyataannya
Cinta tak harus
Saling memiliki
Ku menunggu dalam bimbang
Adakah sungguhnya aku
Kasih yang kau inginkan
Biar aku yg pergi
Bila tak juga pasti
Adakah selama ini
Aku cinta sendiri
Biar aku menepi
Bukan lelah menanti
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan
Pedih aku rasakan
Kenyataannya
Cinta tak harus
Saling memiliki
Jujur aku tak yakin bisa
Jalani hari tanpa dirimu
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan
Biar aku yg pergi
Bila tak juga pasti
Adakah selama ini
Aku cinta sendiri
Biar aku menepi
Bukan lelah menanti
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan
Pedih aku rasakan
Kenyataannya
Cinta tak harus
Saling memiliki
===================================================
Just 4 the money, honey!!!
Entahlah, mengapa hari ini saat hujan turun dan kulihat kembali tarian liar hujan di atas rumahku, di atas rambutku dan menimpa tetumbuhan, dibarengi dengan udara dingin yang menyeruak, aku tiba – tiba merasa rindu pada seseorang, seseorang yang baru kukenal; seseorang yang membuatku 1 minggu terakhir ini hampir tak memikirkan Al, seseorang yang berhasil mencuri perhatianku dan emosiku, tentu saja.
Entahlah … kenapa aku harus merindukannya di kala hujan turun; di saat terbaik bagiku kala menikmati fenomena alam seperti ini. Entahlah, aku juga tak tahu. Jangan tanya aku, karena aku juga tak tahu.
Hari ini walau sempat terkena siraman hujan kala jalan kaki ke Philip mencari tanaman hias dan peralatan berkebun, entahlah … aku menjadi begitu melankolis. Aku sempat terpaku melihat hujan yang turun karena aku baru saja menjemur cucianku dan kutinggalkan di tali jemuran berbentuk seperti honae dari rangka baja (untunglah landlord berbaik hati mengangkatnya).
Aku mendapatkan banyak tanaman hias yang kuinginkan dan bersusah payah membopongnya pulang. Walau menunggu bis sekitar 45 menit, aku menikmati suasana melankolis ini. Kusempatkan menelpon Al di Manokwari, tapi entahlah … mengapa hatiku terasa tawar untuknya walau ia mengatakan sejumlah kata sayang di telpon, entahlah. Ataukah aku merasa il-fil lagi karena sikapnya yang (selalu dan kadang) menanyakan apakah aku bisa mengirimkan barang, dan jujur saja, emosiku langsung berubah; mengapa ia tak pernah bisa membicarakan hubungan tanpa embel – embel ‘meminta sesuatu’ ataupun yang berkenan tentang uang?. Sampai detik ini aku masih tak tahu, apakah ia menyayangiku karena apa yang kumiliki dan dapat kuberikan ataukah ia menyayangiku karena memang ia menyayangiku dengan tulus. Entahlah …
Setiap kali berada pada titik ini, setiap kali berbicara tentang uang, entahlah … mengapa hatiku tib a- tiba beku dan kaku. Walau berulang kali berbicara tentang pernikahan, dan rencana – rencana lain seperti mempunyai anak dan lain – lain, semuanya bisa mulus kubicarakan. Tetapi saat menyentuh masalah uang, mengapa ia sangat ‘aneh’ dan berubah, sangat membingungkan. Aku pernah curhat pada sahabat – sahabatku tentang masalah ini, dan mereka memintaku meninggalkannya dengan segera. Entahlah, aku tak tahu.
Dulu saat masih pacaran, memang aku yang bilang bahwa bila kami keluar makan dan jalan – jalan, setiap pengeluaran dibayar sendiri (go dutch), tapi entahlah, aku mendapati bahwa ia bukan orang yang royal dengan uang dan pengeluaran, dan kadang pada beberapa case, aku yang harus menanggungnya. Entahlah ….
Dan aku masih ingat pasti, saat dulu masih training di Jakarta, masa terberatku kala itu usai baru putus 1 bulan dengannya, dan kusempatkan menelponnya, ia masih seperti sikapnya tadi (kala kutelpon di interchange), meminta oleh – oleh. Waktu itu pernah kutelpon untuk curhat karena trainingku yang bagai kamp konsentrasi dan membuatku stress, tapi ia memarahiku dan menjawab dengan malas dan ogah – ogahan dan hanya menanyakan kapan aku mengirimkan kenang – kenangan bergambar tkoh kartun favoritnya, dan saat itu aku tahu pasti bahwa hatiku benar – benar hancur karena yang ia pentingkan hanya benda itu dan bukannya aku. Dan yang makin membuatku sedih adalah ia sama sekali tidak memberi tahu rencana pernikahannya pada 2 minggu mendatang.
Sekarang, kembali lagi aku merasa kehilangan perasaan, begitu tawar. Apakah Al hanya mencintaiku karena apa yang dapat kuberikan kepadanya ataukah karena ia tulus mencintaiku apa adanya? Entahlah … aku ingin bisa percaya bahwa ia menyayangiku karena ia menyayangiku dan bukan karena apa yang kumiliki.
Aku pernah mengetes seberapa sayangnya ia padaku saat aku tertimpa musibah tertipu dan kehilangan uang dalam jumlah lumayan di Jakarta. Aku ingin tahu bagaimana ia akan bereaksi, apakah ia akan meminjamkan uang padaku yang hanya < IDR. 2 juta, ataukah juga apakah ia mau berusaha mencari pinjaman uang untukku? Dan reaksinya adalah apa yang bisa kuprediksi yaitu “maaf sayang, ko mengerti ee, sa tra bisa kasi pinjam, sa juga ada urusan keluarga”. Pada titik ini, sa benar – benar masih bisa mengerti, tapi saat kutelpon dia, jawabannya di telpon sempat mengusik ego-ku dan membuatku hampir meledak. Ia bilang bahwa kalo berurusan dengan urusan duit, sebaiknya aku mengonsultasikannya dengan dia, apalagi untuk sesuatu yang mahal, tapi aku benar – benar marah dengan nada suaranya kala itu. Entahlah ….
Kalo bicara tentang masalah duit, aku benar – benar merindukan Abel karena ia laki laki yang bisa kelihatan ada usahanya untuk sebuah hubungan, untuk mau mengorbankan sedikit duit. Aku tak pernah memintanya untuk mengirimku apapun apalagi uang karena aku tak ingin merepotkannya. Walau ia pernah mengirimku pulsa dalam jumlah besar tanpa sepengetahuanku, namun setelah kutegur, ia menghentikannya. Aku merindukannya karna ia lelaki yang ada punya usaha, seseorang yang berani menanggapi permintaan sahabatku untuk cokelat dan bunga. Aku berharap ia bahagia sekarang.
Tapi tentang Al, mengapa saat bicara tentang uang, kami kembali pada posisi yang enggan tuk kujelaskan. Para sahabatku memanggilnya ‘lelaki skakar’ karena walau ia bekerja dan begitupun aku juga berusaha mandiri, kalau aku mengajaknya jalan, artinya aku yang harus menanggung semua pengeluaran kami. Tetapi satu hal yang membuatku kadang kesal dan marah adalah telpon. Ia tak pernah berusaha menelponku sewaktu pacaran dan masih di Indonesia. Harus aku yang menelpon dan mencarinya. Setelah beberapa kali kukatakan bahwa ada cowok yang mendekatiku, ia baru akan mulai mengirimiku SMS, itupun setelah aku tak menelpon dan mengirim SMS berhari – hari. Entahlah …
Aku takut bila kami akan menikah nanti, kalau berjodoh, dan kalau ia tak berganti kelakuan, bisa – bisa aku akan makan hati dengan sikapnya yang cuek dengan uang. Aku takut ia hanya memanfaatkanku; just for the money, honey. Entahlah …
Aku cuma merasa takut karena aku sempat mendengar bahwa ia tak mengeluarkan duit untuk acara nikahnya karena keluarga perempuan yang membayar acaranya. Aku takut … aku cuma tak ingin hal itu terjadi dalam hidupku.
Entahlah, aku benar – benar hilang feeling, merasa tawar.
Aku ingin sekali melihat ada cowok yang menyayangiku dengan tulus, kalo memang ada. Karena dari pegalamanku, dari pengalaman orang – orang di sekitarku yang kulihat dan amati, para lelaki hanya memanfaatkan kami untuk uang, tubuh, dan kepintaran plus gengsi untuk berpacaran dengan kami. Aku takut sekali …
Mimpi aneh
Entahlah sa lagi merasa tra enak badan saja akhir – akhir ini usai abis blood test hari selasa kemarin, memang sih pemeriksaan darah lengkap, jadi mungkin efek pusing – pusingnya tambah parah karena sa mengonsumsi daging tambah banyak juga.
Btw, sa cuma merasa bagaimana e deng mimpi tadi malam, sa tra mengerti juga kenapa dalam jangka waktu yang hampir mirip deng mimpi sejenis ini, dan sa kepikiran sekali. Dulu sekitar bulan Mei 2008, sa pernah mimpi melihat situasi dalam mimpi dimana sa melihat Yesus dalam kemuliaan datang dan melihat dunia, dan saat itu sa benar – benar ketakutan melihat bumi menjadi gelap, dan kemudian semua bintang jatuh dari langit dan sa harus berlari ketakutan dan ada suara yang bilang bahwa sa harus kasi tau siapa saja yang sa kasihi atau siapapun bahwa hari terakhir semakin dekat, dan sa ingat betul dalam mimpi itu sa sampe ketakutan sekali mencari siapa saja yang sa dapat dan beteriak ingatkan dong, dan dalam mimpi itu sa sekilas melihat ada 3 salib di atas sebuah bukit tapi sa tra bisa lihat muka siapa saja di atas bukit itu. Dan sa jujur ketakutan sampe – sampe sa tra bisa tidur di kos di Jakarta. Tapi sa tra mengerti arti mimpi itu.
Nah tadi malam, sa tidur memang agak larut jam 12 malam, dan saat sa tidur, sa ternyata mimpi yang mirip begini, dan sa merasa bahwa itu seperti di Manokwari begitu, di sapu halaman rumah, tapi suasananya seperti waktu rumah masih kayak sa kecil dulu, 20 tahun lalu. Nah sebelum sa ke depan rumah, sa lihat ada angin puting beliung kecil dengan daun – daun kering yang taputar dan sa karna takut, sa lari ke halaman rumah, dan saat di halaman rumah, mungkin pada bagian ini kam rasa lucu kapa eeeee. Sa melihat ada sejenis kamar atau ada jendela di bagian atas rumah, dan sejenis cerobong asap begitu, tapi nih lagi suasana tropis kan.
Satu hal yang sa kaget dalam mimpi adalah tiba – tiba di atas rumah itu, tiba – tiba ada macam ada awan ka asap yang naik trus macam bentuk kayak burung merpati putih, trus yang kedua macam ada simbol hati ‘love’ ka itu, trus ada wajah orang cuma sa tra mengerti, dan saat sa terpesona di dalam mimpi itu sambil memandang awan ka asap itu, tiba – tiba sa kaget lihat ke atas langit di atas rumah, dan suasananya tuh macam sore tapi tra terlalu cerah, jadi matahari tra panas, dan sa kaget berat, sa melihat banyak sekali malaikat yang macam berdiri dalam arak – arakan sehingga sa harus mendongakan kepala dan sa tra mengerti kenapa sa tra bisa melihat dong pu wajah deng jelas, jadi sa bisa melihat bentuk mereka dengan sayap dan ada yang tanpa sayap dengan pakaian terang/ putih tapi sa sama sekali tra bisa mengenali wajah mereka begitu, dan saat terpesona itu, sa seperti melihat sesosok orang atau manusia, entah pria atau wanita yang sedang datang ke arah para malaikat yang berdiri bagaikan di sebuah trap – trap jadi berjejer ke arah atas dan menyebar dalam jarak yang teratur, ibarat penyambut tamu begitu, tapi tamunya seakan datang dari langit yang lebih tinggi. Dan sa melihat sosok yang datang itu semakin mendekat, dan sa merasa mengenalnya sebagai sosok Yesus tapi entahlah, sa tra bisa pastikan karena sa tra bisa lihat wajahnya dengan jelas karena dalam mimpi seakan – akan saat memandang pada makhluk2 di langit, tiba – tiba pandangan mata saya seakan tidak memakai kacamata dan sedikit kabur.
Saat sa merasa bahwa sosok itu semakin dekat dan para malaikat itu mulai bergerak seakan menyambutnya, tapi sa tiba – tiba terbangun dengan perasaan bingung dan tanda tanya ka ini.
Tapi ada satu hal yang beda dibanding deng mimpi tahun lalu dimana sa merasa ketakutan dan seakan dikejar, kali ini, sa merasa benar – benar nyaman dan entahlah, seperti ada bahagia tapi sa tra tau mengapa. Sa cuma merasa bahwa sa tenang dan terkagum – kagum melihat makhluk2 di atas langit dan suasananya tuh seperti benar – benar menyambut seseorang yang penting dan sa ingin menyaksikan siapa yang datang, tapi tanpa rasa takut.
Apakah karena memang su mo paskah kapa jadi sapu alam bawah sadar benar – benar menangkap dan meresponnya dalam mimpi. Entahlah
Yang pasti, sa minta dukungan doa eee, karena sa tra mengerti juga arti mimpi ini.
Btw, sa cuma merasa bagaimana e deng mimpi tadi malam, sa tra mengerti juga kenapa dalam jangka waktu yang hampir mirip deng mimpi sejenis ini, dan sa kepikiran sekali. Dulu sekitar bulan Mei 2008, sa pernah mimpi melihat situasi dalam mimpi dimana sa melihat Yesus dalam kemuliaan datang dan melihat dunia, dan saat itu sa benar – benar ketakutan melihat bumi menjadi gelap, dan kemudian semua bintang jatuh dari langit dan sa harus berlari ketakutan dan ada suara yang bilang bahwa sa harus kasi tau siapa saja yang sa kasihi atau siapapun bahwa hari terakhir semakin dekat, dan sa ingat betul dalam mimpi itu sa sampe ketakutan sekali mencari siapa saja yang sa dapat dan beteriak ingatkan dong, dan dalam mimpi itu sa sekilas melihat ada 3 salib di atas sebuah bukit tapi sa tra bisa lihat muka siapa saja di atas bukit itu. Dan sa jujur ketakutan sampe – sampe sa tra bisa tidur di kos di Jakarta. Tapi sa tra mengerti arti mimpi itu.
Nah tadi malam, sa tidur memang agak larut jam 12 malam, dan saat sa tidur, sa ternyata mimpi yang mirip begini, dan sa merasa bahwa itu seperti di Manokwari begitu, di sapu halaman rumah, tapi suasananya seperti waktu rumah masih kayak sa kecil dulu, 20 tahun lalu. Nah sebelum sa ke depan rumah, sa lihat ada angin puting beliung kecil dengan daun – daun kering yang taputar dan sa karna takut, sa lari ke halaman rumah, dan saat di halaman rumah, mungkin pada bagian ini kam rasa lucu kapa eeeee. Sa melihat ada sejenis kamar atau ada jendela di bagian atas rumah, dan sejenis cerobong asap begitu, tapi nih lagi suasana tropis kan.
Satu hal yang sa kaget dalam mimpi adalah tiba – tiba di atas rumah itu, tiba – tiba ada macam ada awan ka asap yang naik trus macam bentuk kayak burung merpati putih, trus yang kedua macam ada simbol hati ‘love’ ka itu, trus ada wajah orang cuma sa tra mengerti, dan saat sa terpesona di dalam mimpi itu sambil memandang awan ka asap itu, tiba – tiba sa kaget lihat ke atas langit di atas rumah, dan suasananya tuh macam sore tapi tra terlalu cerah, jadi matahari tra panas, dan sa kaget berat, sa melihat banyak sekali malaikat yang macam berdiri dalam arak – arakan sehingga sa harus mendongakan kepala dan sa tra mengerti kenapa sa tra bisa melihat dong pu wajah deng jelas, jadi sa bisa melihat bentuk mereka dengan sayap dan ada yang tanpa sayap dengan pakaian terang/ putih tapi sa sama sekali tra bisa mengenali wajah mereka begitu, dan saat terpesona itu, sa seperti melihat sesosok orang atau manusia, entah pria atau wanita yang sedang datang ke arah para malaikat yang berdiri bagaikan di sebuah trap – trap jadi berjejer ke arah atas dan menyebar dalam jarak yang teratur, ibarat penyambut tamu begitu, tapi tamunya seakan datang dari langit yang lebih tinggi. Dan sa melihat sosok yang datang itu semakin mendekat, dan sa merasa mengenalnya sebagai sosok Yesus tapi entahlah, sa tra bisa pastikan karena sa tra bisa lihat wajahnya dengan jelas karena dalam mimpi seakan – akan saat memandang pada makhluk2 di langit, tiba – tiba pandangan mata saya seakan tidak memakai kacamata dan sedikit kabur.
Saat sa merasa bahwa sosok itu semakin dekat dan para malaikat itu mulai bergerak seakan menyambutnya, tapi sa tiba – tiba terbangun dengan perasaan bingung dan tanda tanya ka ini.
Tapi ada satu hal yang beda dibanding deng mimpi tahun lalu dimana sa merasa ketakutan dan seakan dikejar, kali ini, sa merasa benar – benar nyaman dan entahlah, seperti ada bahagia tapi sa tra tau mengapa. Sa cuma merasa bahwa sa tenang dan terkagum – kagum melihat makhluk2 di atas langit dan suasananya tuh seperti benar – benar menyambut seseorang yang penting dan sa ingin menyaksikan siapa yang datang, tapi tanpa rasa takut.
Apakah karena memang su mo paskah kapa jadi sapu alam bawah sadar benar – benar menangkap dan meresponnya dalam mimpi. Entahlah
Yang pasti, sa minta dukungan doa eee, karena sa tra mengerti juga arti mimpi ini.
Sa tra tau
Hingga detik dan sepersekian milidetik kutuliskan ini, sa masih berada pada keadaan yang tak terdefinisikan; tanpa makna, tanpa tindakan, tanpa penalaran. Dan sa kembali bingung ko.
Hingga saat ini, sa masih bingung ko, masih bingung tentang semua yang pernah terjadi, tentang tujuan hidup; tentang mimpi; tentang cerita dan ko pu kesukaan.
Sa pernah tanya pada diri sendiri, apakah sa yang terlalu batanya ataukah ko yang tra mo terbuka? Dan sekali lagi sa bingung karena sa cuma dapat satu potong kata: entah; dua potong kata: epen ka?, tiga potong kata: stop menuntut suda; atau empat potong kata: Tra usah pikir akan.
Sa pernah bilang kalo tong dua pu jalan entah akan bertemu ato bercabang lagi, sa juga tra tau, sa juga masih tra yakin, karna sa bingung ko.
Ko tahu, sa kemarin cerita sama sa sahabat perem sejak 6 tahun lalu, de sampe tanya sa: Apa sa su tau ko pu semua – semua? Dan de kasi sa beberapa pertanyaan ini, dan sa semakin bingung ko:
Ko pu makanan favorit? Tra tau
Ko pu minuman favorit? Tra tau
Ko pu warna favorit? Tra tau
Ko pu sodara pu nama – nama? Tra tau.
Ko pu ortu pu pekerjaan? Tra tau
Ko pu ortu pu nama? Tra tau
Ko pu sahabat – sahabat dekat? Tra tau
Ko pu famili – famili yang ko kapala kunjungi? Tra tau
Ko pu hobi? Tra tau
Ko paling senang barang apa? Sa tra tau
Ko paling tra suka apa? Sa tra tau
Ko pu jenis musik yang paling ko suka? Sa tra tau
Ko pu jenis film favorit? Sa tra tau
Ko pu kutipan ka motto? Sa tra tau
Ko pu afiliasi politik? Sa tra tau
Ko pu ukuran sepatu dan celana? Sa tra tau
Ko pu olahraga favorit? Sa tra tau.
Dan sejuta pertanyaan lain yang masih tetap sa pikirkan dan jawabannya masih : SA TRA TAU.
Ko bagai sosok misterius bagi sa, su hampir 1 tahun 4 empat bulan sa kenal ko, jalan deng ko, bertemu dan cerita deng ko, tapi sa tetap masih tra tau ko. Kenapa, Al???
Apakah sa tra layak untuk tau tentang ko? Untuk kenal ko, untuk berbagi kisah dengan ko, untuk menjadi seseorang yang ada untuk ko? Sa selalu merasa sa hanya mencintai ko sebagai bayangan yang sa kenal sewaktu Desember 2007 itu, di pinggiran laut kala makan dan bertukar SMS lucu? Sa rindu ko yang dulu, dan sa rindu ko pu pesona tuh …
Pernah ko bilang sa terlalu menuntut, terlalu bapaksa, tra mo mengerti. Entahlah, Al. Sa cuma ingin tahu tentang ko pu keseharian, apa yang ko makan, bagaimana ko pu hari di tempat kerja, apakah ko baik – baik saja, apakah ada yang ko risaukan dan pikirkan? Dan ko pu jawaban adalah, sekali lagi, : Stop batanya suda. Tapi selalu sa abaikan kan, Al. Karna sa tra bisa berhenti peduli sama ko, sa tra bisa berhenti peduli pada ko, dan sa tra mo berhenti peduli pada ko.
Ko masih SMS sa bilang kalo ko sayang sa, tapi saat ini saat sa su tra ketemu ko 5 bulan ini, sa ingin sekali tanya ko: Apakah ko benar – benar sayang sa karena ko sayang sa, ataukah ko sayang sa karena hanya sa saat ini yang ada untuk ko? Sa capek, Al. Saat sa mulai tanya itu dan tong pu pembicaraan mulai bergeser ke hal lain, tapi sekali lagi, sa tahu ko pasti tahu kalo sa sayang dan masih akan tetap sayang ko, walau dalam hati saja, walau tra akan ketemu, walau tra akan memiliki lagi.
Al, ko masih ingat pembicaraan Januari kemarin sebelum sa berangkat, saat sahabatku mengirimkan sebuah puisi tentang ko dan sa, tentang kita, tentang perasaannya untuk tong dua dan membuat sapu air mata gugur di warnet, karena sa ingin sekali bisa seperti sapu sahabat yang menuliskan protesnya untuk ko, tapi sa tetap tra bisa, Al. Karena sa tra akan pernah bisa memberikan ko de pu titipan puisi ini untuk ko, sa tra tega dan tra ingin sakiti ko.
Al, entahlah, tapi sa berharap ko akan bahagia dan baik – baik saja. Sa berdoa untuk itu, karena ko pu nama masih ada dalam sapu daftar doa, Al.
Al, andai saja …
Hingga saat ini, sa masih bingung ko, masih bingung tentang semua yang pernah terjadi, tentang tujuan hidup; tentang mimpi; tentang cerita dan ko pu kesukaan.
Sa pernah tanya pada diri sendiri, apakah sa yang terlalu batanya ataukah ko yang tra mo terbuka? Dan sekali lagi sa bingung karena sa cuma dapat satu potong kata: entah; dua potong kata: epen ka?, tiga potong kata: stop menuntut suda; atau empat potong kata: Tra usah pikir akan.
Sa pernah bilang kalo tong dua pu jalan entah akan bertemu ato bercabang lagi, sa juga tra tau, sa juga masih tra yakin, karna sa bingung ko.
Ko tahu, sa kemarin cerita sama sa sahabat perem sejak 6 tahun lalu, de sampe tanya sa: Apa sa su tau ko pu semua – semua? Dan de kasi sa beberapa pertanyaan ini, dan sa semakin bingung ko:
Ko pu makanan favorit? Tra tau
Ko pu minuman favorit? Tra tau
Ko pu warna favorit? Tra tau
Ko pu sodara pu nama – nama? Tra tau.
Ko pu ortu pu pekerjaan? Tra tau
Ko pu ortu pu nama? Tra tau
Ko pu sahabat – sahabat dekat? Tra tau
Ko pu famili – famili yang ko kapala kunjungi? Tra tau
Ko pu hobi? Tra tau
Ko paling senang barang apa? Sa tra tau
Ko paling tra suka apa? Sa tra tau
Ko pu jenis musik yang paling ko suka? Sa tra tau
Ko pu jenis film favorit? Sa tra tau
Ko pu kutipan ka motto? Sa tra tau
Ko pu afiliasi politik? Sa tra tau
Ko pu ukuran sepatu dan celana? Sa tra tau
Ko pu olahraga favorit? Sa tra tau.
Dan sejuta pertanyaan lain yang masih tetap sa pikirkan dan jawabannya masih : SA TRA TAU.
Ko bagai sosok misterius bagi sa, su hampir 1 tahun 4 empat bulan sa kenal ko, jalan deng ko, bertemu dan cerita deng ko, tapi sa tetap masih tra tau ko. Kenapa, Al???
Apakah sa tra layak untuk tau tentang ko? Untuk kenal ko, untuk berbagi kisah dengan ko, untuk menjadi seseorang yang ada untuk ko? Sa selalu merasa sa hanya mencintai ko sebagai bayangan yang sa kenal sewaktu Desember 2007 itu, di pinggiran laut kala makan dan bertukar SMS lucu? Sa rindu ko yang dulu, dan sa rindu ko pu pesona tuh …
Pernah ko bilang sa terlalu menuntut, terlalu bapaksa, tra mo mengerti. Entahlah, Al. Sa cuma ingin tahu tentang ko pu keseharian, apa yang ko makan, bagaimana ko pu hari di tempat kerja, apakah ko baik – baik saja, apakah ada yang ko risaukan dan pikirkan? Dan ko pu jawaban adalah, sekali lagi, : Stop batanya suda. Tapi selalu sa abaikan kan, Al. Karna sa tra bisa berhenti peduli sama ko, sa tra bisa berhenti peduli pada ko, dan sa tra mo berhenti peduli pada ko.
Ko masih SMS sa bilang kalo ko sayang sa, tapi saat ini saat sa su tra ketemu ko 5 bulan ini, sa ingin sekali tanya ko: Apakah ko benar – benar sayang sa karena ko sayang sa, ataukah ko sayang sa karena hanya sa saat ini yang ada untuk ko? Sa capek, Al. Saat sa mulai tanya itu dan tong pu pembicaraan mulai bergeser ke hal lain, tapi sekali lagi, sa tahu ko pasti tahu kalo sa sayang dan masih akan tetap sayang ko, walau dalam hati saja, walau tra akan ketemu, walau tra akan memiliki lagi.
Al, ko masih ingat pembicaraan Januari kemarin sebelum sa berangkat, saat sahabatku mengirimkan sebuah puisi tentang ko dan sa, tentang kita, tentang perasaannya untuk tong dua dan membuat sapu air mata gugur di warnet, karena sa ingin sekali bisa seperti sapu sahabat yang menuliskan protesnya untuk ko, tapi sa tetap tra bisa, Al. Karena sa tra akan pernah bisa memberikan ko de pu titipan puisi ini untuk ko, sa tra tega dan tra ingin sakiti ko.
Al, entahlah, tapi sa berharap ko akan bahagia dan baik – baik saja. Sa berdoa untuk itu, karena ko pu nama masih ada dalam sapu daftar doa, Al.
Al, andai saja …
Antara perempuan, pisang, keladi, dan beras


Kembali lagi kuterperangah membaca tulisan temanku yang bekerja di sebuah daerah Teluk di bumi Cenderawasih. Temanku, yang pada beberapa sisi bisa kupanggil kerabat dari saudara laki – lakiku itu, menulis tentang apa yang dilihatnya sewaktu mengunjungi sebuah pasar Tradisional di tempat kerjanya.
Saya ingin membagikan apa yang ditulisnya, tetapi tentu saja telah ada beberapa pengeditan, baik tentang kata – katanya yang agak kasar, nama tempat dan plus yang berkaitan dengan SARA.
Tulisan temanku ini dimuat di dalam ‘notes’ Facebooknya, dan saya tidak bermaksud memprovokasi para pembaca. Sa ingin bahwa kita, khususnya perem tana yang bisa hidup berkecukupan saat ini, bisa melihat sisi lain yang terjadi pada para perempuan Papua. Tulisan ini ditulisnya tanpa bermaksud mendikreditkan siapa – siapa, ia hanya ingin bercerita tentang perasaannya saat duduk di sebuah pasar tradisional.
Kiranya tulisan ini bisa membuka mata kita bahwa mungkin suatu hal yang bagi kita kecil; seperti meminta makan nasi tiap hari, bisa menjadi suatu beban bagi para mama – mama Papua.
(Untuk pace Rudolfo, thanx su bagi mop pas chat yang berisi paradoks dan kritik sosial tentang ‘jual pisang untuk beli pisang goreng’ tuh. Sa pikir tulisan sapu teman nih menjadi gambaran yang bro bagikan saat kasi mop itu).
Salam hangat,
Dayanara Meimosaki
=============================================
SENJA KALA PEREMPUAN PAPUA: Menjual Pisang dan keladi, Membeli Beras
Siang itu, sambil terus duduk di emperan toko sepatu, dengan ditemani sebungkus Sampoerna…, mataku tetap awas, mengawasi hiruk pikuk kehidupan siang kota Bintuni. Hari itu, entah kenapa, aku memilih pasar rakyat sebagai tempat istirahat sehabis makan siang di warung kaki lima.
Padahal biasanya, aku akan memilih kembali ke penginapan dan tidur…., atau bertamu ke rumah beberapa kenalan mencari segelas kopi… Sambil terus mengamati lalu lalang manusia dan kendaraan yang terus lewat sambil menerbangkan debu, aku mencoba untuk melihat sisi kehidupan siang itu sebagai bahan belajar memahami orang lain. Dan sisi kehidupan itu, yang ku lihat adalah perempuan Papua penjual keladi dan pisang.
Ingatanku kembali menerawang ke bangku kuliah belasan tahun yang lalu,…dosenku pernah berkata: untuk bisa memahami suatu realita sosial yang kompleks dengan baik, pengamatan kamu harus fokus pada satu aktifitas dan aktor sosial saja.
Pada saat itulah mata, telinga, akal dan rasa akan peka terhadap apa yang sedang terjadi dihadapanmu. Ketika semua panca indra kamu paksakan untuk melihat semua yang terjadi, maka kamu tidak akan pernah memetik pelajaran berharga dari semua itu.
Sambil mencoba untuk menterjemahkan nasehat dosenku, aku mulai membuang teori-teori sosial dan gaya berpikir anak kuliahan yang selama ini bagai penyakit kronis yang terus mengendap di benakku… otak harus kosong dari semua jeratan ke-aku-an,…agar aku bisa memaknai denyut nadi pergulatan hidup perempuan Papua…, agar aku bisa membawa rasa dan jiwaku, memasuki rasa dan jiwa mereka… agar aku bisa membasahi kerongkongan kesombonganku dengan tetesan peluh mereka,…agar aku bisa sadar bahwa senyum mereka bukan duka, melainkan bahagia… sehingga akhirnya, tangan-tangan keriput itu akan membelaiku dengan kasih… dan kemudian mereka berkata, “ko itu, mama pu anak laki-laki”,… …
Jalanan itu masih tetap ramai seperti kemarin, saat kaki-kaki tegar itu, kulihat dipaksakan untuk terus melangkah.
Bagai tak kenal lelah, terik matahari telah menjadi hal yang biasa bagi mereka…, peluh bercampur debu kotor kota ***, terus menghiasi wajah-wajah keriput dengan senyum penuh harap. Hari ini, jelas terlihat, perempuan-perempuan tua Papua, sambil menggendong nokeng penuh berisi keladi, melenggang bagai artis dangdut di pentas…, berjalan seakan deru mobil, motor, dan alunan kayuhan becak adalah musik syahdu pengantar,…bait-bait lagu:
“Padamu Tanah Papua, kami lahir dan hidup,…meski senja telah berganti malam,…malam berganti siang dengan semburat jingga membakar tanah,…kami perempuan Papua,…anak-anakmu,…masih terus berada pada kegelapan malam,…seakan kami bukanlah bulan, apalagi menjadi matahari,…biarlah kami menjadi bintang… meski kecil terlihat dari balik malam… tapi kami tetap menyinari kehidupan…bahwa pada malam, masih ada secercah harapan.”
Di dalam pasar itu, mataku melihat seorang perempuan tua dari suku ***, yang tengah kelelahan berupaya menurunkan nokeng penuh berisi keladi dan pisang dari atas kepalanya, hampir saja mama itu jatuh karena beratnya pisang dan keladi yang dipikul. Tiba-tiba dari arah belakang terlihat dua orang perempuan tua seusia, sambil mengucapkan bahasa daerahnya, dengan cepat berlari membantu perempuan tua itu. Pikulan yang berat itu akhirnya juga bisa diturunkan. Ketiga perempuan tua itu, akhirnya tersenyum juga.
Wajah kelelahan yang tadi aku lihat seakan larut tertiup angin teluk yang berhembus perlahan, menghapus beberapa tetes peluh yang hinggap di dahi mereka. Peluh itu, telah berganti senyum dan canda mereka.Lelah itu, telah berganti menjadi harapan…”pasti ada sesuatu yang akan dibawa pulang ke rumah, bila nanti, keladi dan pisang habis terjual”.
Dari pengamatan ini, aku melihat dengan jelas, bahwa perempuan Papua – di teluk ***, saat ini sedang berkompetisi secara ekonomi dengan perempuan-perempuan lain dari luar Papua. Dengan bermodalkan semangat seadanya, komoditi sejenis, dan teknik dagang pas-pasan, perempuan Papua telah masuk dalam mekanisme hukum pasar yang kompleks,…siapa mampu beradaptasi dengan cepat (memiliki modal dan jaringan pasar/pembeli) yang baik, maka dia mampu bertahan.
Semua ini tidak terjadi seketika, seperti semudah membalik telapak tangan. Tapi lebih daripada itu, saat ini,… sedang terjadi peperangan budaya, antara kebudayaan subsisten dengan budaya dagang dan konsumeris…siapa mampu membaca kebutuhan pasar, maka ia akan memetik hasil lebih dari cukup,…dan siapa mempertahankan kebudayaan aslinya … pasti akan tergilas. Perempuan tua itu, sama seperti perempuan-perempuan Papua lain yang berjualan di pasar…, mereka meletakan dagangannya di atas tanah beralaskan karung plastik. Malahan ada sebagian yang tidak memiliki alas dari plastik, terpaksa mengatur dagangannya di atas tanah berdebu pinggiran jalan.
Saat itu, aku tidak melihat kondisi ini sebagai sesuatu yang salah dari mereka….dari cara mereka berdagang. Meskipun terlihat dari kejauhan, pisang dan keladi berserakan bagai sampah yang teronggok kering di antara ludah pinang, puntung rokok, plastik, tanah pecek bercampur sisa sayuran dan buah membusuk, hempasan kerikil dari jalanan … lelehan peluh para pembeli.
Pikiranku kemudian, melintas jauh menyusuri jejak-jejak pembicaraan para pemimpin birokrasi di kota ini. Aku masih ingat dengan jelas, putra dan putri Papua, pemimpin daerah ini….berjanji kepada mama-mama mereka….:
”Kalau saya nanti sudah memegang jabatan di kabupaten, saya pasti akan perhatikan bapak dan mama dorang pu kebutuhan ekonomi. Saya akan bangun pasar yang baik, supaya mama dorang bisa jualan dengan tenang. Saya akan bantu mama dorang dengan modal, supaya mama dorang jangan kalah dengan pedagang-pedagang dari luar.”…
Kondisi ini sangat berbeda dengan janji kesejahteraan dari anak kandung….”kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”
Kontras dengan kondisi perempuan Papua penjual pisang dan keladi, para perempuan dari seberang (suku *** – transmigrasi), mereka juga menjual keladi dan pisang…, tapi mereka bejualan pada tempat-tempat yang relatif lebih baik (menaruh dagangan di atas meja jualan)… Andai aku adalah pembeli, maka aku memilih membeli pisang dan keladi dari perempuan ***, karena mereka menaruh jualan pada tempat-tempat yang lebih bersih, jauh dari genangan air dan debu jalanan… Andai aku pengamat ekonomi, aku akan sarankan mama-mama Papua untuk mengikuti cara berdagang perempuan-perempuan ***… Andai aku pejabat daerah, aku akan perlakukan dengan adil semua pedagang, dengan menyediakan tempat berjualan yang layak, dan melakukan intervensi pada sistem produksi dan distribusi ekonomi perempuan-perempuan Papua.
Dari beberapa perempuan Papua penjual pisang dan keladi, aku lebih menaruh perhatian (ter-fokus) pada perempuan tua yang tadi memikul pisang dan keladi…., aku ingin melihat lebih dekat, bagaimana ia berjualan (menarik pembeli), memperlakukan dagangannya, dan seperti apa ia akan menggunakan uang hasil jualannya, dan bagaimana calon pembeli menilai pisang dan keladi yang diletakan di atas tanah…. rasa ingin tahu membuatku memberanikan diri untuk mendekat dan mendengar langsung….
Hmmmm, sebungkus Sampoerna habis…, aku harus membeli lagi…agar pengamatanku lebih “sharp, in-deep, alived to, dan aware of”…dengan berbekal sebungkus rokok, sebotol Aqua dingin, plus sambil makan pinang kering, aku datang dan duduk di samping mama itu. “Mama makan pinang ka?”, sebungkus pinang kering dan dua batang sirih kuberikan kepadanya.
Kemudian, beberapa pegawai Pemda yang masih gadis (ukuranku) melihat aku sambil tersenyum mengejek…, “Orang gila, pegang kamera, makan pinang… duduk menghitung empasan kerikil di samping perempuan tua Papua. ,…Dekil”….senyum sinis mereka. Aku balas dengan tatapan mata dan senyum simpul. Tidak berapa lama, datanglah seorang ibu, pegawai Pemda berseragam, “Mama, pisang satu sisir berapa?” tanyanya. “Lima ribu, ibu”. Pegawai pemda itu melengos pergi, tanpa basa-basi. Pandangan mataku dengan semakin liar mengikuti langkah ibu itu,…”Apa yg salah?”, batinku. Aku melihat ibu itu berhenti di pedagang suku ***, Ia membeli pisang raja di pedagang itu.
Kalau aku taksir, pisang jualan perempuan Papua dengan si ibu ***, jenis sama, harganya juga sama lima ribu per sisir, malahan pisang milik perempuan Papua lebih segar dan besar, masak di pohon, tidak diperam (dipaksakan supaya masak – kuning). Dalam benakku aku bertanya, apa penyebab ibu tadi tidak membeli pisang milik mama ini. Apakah karena mama ini menaruh dagangannya di tanah? Mmmmh, pembeli yang rata-rata pegawai, golongan menengah ke atas, suku pendatang, pasti juga mempertimbangkan faktor kesehatan dan kebersihan….
Tapi aku pun bertanya lagi, kenapa mama-mama Papua tidak disediakan tempat jualan yang sama seperti pedagang yang lain? Datang lagi seorang ibu keturunan *** ( *** lokal di ***), ibu ini bertanya sama seperti si ibu pegawai pemda…, kemudian…berlalu pergi membeli pisang raja di pedagang dari suku pendatang lagi….Sudah empat orang pembeli yang bertanya…dan mereka semua meninggalkan mama ini dan pergi membeli ke pedagang lain… Yang aku dengar…, hanyalah keluhan nafas panjang yang keluar dari perempuan tua ini….seakan ia hanya pasrah menerima nasib….. Enam sisir pisang raja masak, dan enam tumpuk keladi, tetap teronggok seperti baru semenit yang lalu digelar….padahal jam di hp ku menunjukan hampir pukul lima sore.
Sepertinya, ketika sang mentari dengan perlahan mulai beranjak masuk ke peraduan…datanglah seorang pembeli. Aku melihat dengan jelas, lelaki itu (orang *** – penjual gorengan keliling), tadi melintas di depan kami, kemudian setelah mengamati keadaan penjual pisang yang lain…, berbalik ke tempat kami. Aku langsung bertanya, “pisang, m**!”. Sambil tersenyum ia menjawab, “ia, aku cari pisang, tapi sepertinya sudah habis.” Aku langsung menjawab, “Yang ini, lima ribu satu sisir ***, masak di pohon lagi”. Tanpa menjawab apapun, sambil tersenyum ia langsung melangkah pergi. Amarahku seketika muncul, “Ba***** ni, baru yang ada di depan ko pu mata ni apa ka?”. ”Tara lama sa hantam pace **** ni!” Laki-laki muda itu, kemudian melangkah jauh ke dalam pasar meninggalkan kami.
Saat itu aku merasa, “Andai aku adalah mama ini, pasti sa su isi masuk pisang dan keladi ke dalam nokeng, panggil ojek, sa pulang ke rumah di Manimeri”. Tapi, kenapa mama ini masih mau duduk menunggu pembeli? Aku kemudian bertanya, “kalau mama pu pisang deng kladi habis, mama mo beli apa ka?. Perempuan tua itu tersenyum dan menjawab, “mama mo beli beras sedikit deng sabun cuci, jawabnya. ”Beli beras untuk apa? Kan mama ada punya pisang deng kladi baru? cecarku lagi. ”Ah tarada, ko pu ade dong di rumah tu, kalo tara makan nasi satu hari, adooooo, dong ribut mama sampe”, jawabnya. “Mama juga tara tau ni, kenapa anana skarang dong suka skali makan nasi, padahal tong orang tua ni stengah mati bajual untuk beli beras. Baru kadang-kadang juga barang yang tong bawa ini tara laku lagi” jawab perempua tua itu sambil tertawa lebar.
Sambil berusaha memahami gurauan perempuan tua itu, aku aku langsung mengejarnya dengan pertanyaan yang lain, "Baru, bapak ada dimana?". Sambil tertawa lagi perempuan tua ini menjawab, "bapa de pu kerja tu aparat kampung, tapi anak su tau to, bapa-bapa dorang tu..., kalo su pegang uang pemberdayaan kampung, pasti dorang ada tinggal di hotel-hotel, dorang suka perempuan putih jadi". "Mama tu tara pusing, ko mo pigi, pigi sudah, sa juga masi bisa kasi makan anak-anak mo", tandasnya lagi.
Aku semakin bingung, mendengar nada kelakar dari perempuan tua ini. Seakan ia tidak begitu ambil pusing, sama keadaan yang tadi terjadi. …, sambil terus aku dan mama itu bercerita tentang para calon anggota legislatif – Caleg di kota ini.
Tidak lama kemudian lelaki **** itu kembali ke tempat kami. Kemudian ia bertanya, “ibu, pisang ini jual ka? Aduh, saya tadi cari ke dalam tapi yang di dalam sudah habis, langgananku dari SP (Transmigrasi) juga habis, satu sisir berapa? Mama itu menjawab, “lima ribu, ***”. ”Ia, saya beli semua”, jawab lelaki ini.
Hatiku mendongkol kesal, melihat tingkah laki-laki itu. “Kalau ini di Manokwari, ***, sa su tumbu ko pu muka”
Ternyata kejengkelanku belum selesai,…laki-laki itu malah meminta tambahan setumpuk keladi. “Mama, tambah keladi satu tumpuk ya, saya kan sudah beli pisang semua. Jadi tambah keladi satu tumpuk ya! Daripada mama bawa pulang berat”. Setelah merenung sesaat, perempuan tua itu akhirnya menambah keladi satu tumpuk ke dalam kantong plastik laki-laki itu.
Melihat kejadian ini, tepat di mukaku….hmmm, ba*****! Tapi aku sadar, perasaan bersifat “empati” harus aku buang, sebab aku mempunyai tujuan yang lain. Sambil menggenggam uang tiga puluh ribu, perempuan tua itu berkata, “Anak tolong jaga mama pu kladi dulu ee, mama ke dalam sebentar”….aku melihat perempua tua ini, melangkah tertatih-tatih (mace de cape duduk lama jadi) ke dalam pasar….,”kenapa ke-tidak – adil-an, masih terus terjadi pada perempuan-perempuan Papua, dan di depan mataku lagi?”
Sambil kembali duduk di atas pinggiran tembok selokan, aku menatap jauh ke dalam sebuah counter hp “Rizkia”. Terlihat seorang ibu muda (suku pendatang), dengan menggunakan headset dari Hp, duduk menatap layar komputer sambil menggoyang-goyang kepalanya. Sepertinya ia sedang mendengar lagu kemenangan bernada sumbang. Hmmm, *** adalah miliknya, “sedangkan kami mengais kepingan rupiah yang tak kunjung datang di tanah sendiri”.
Keasyikanku mengamati perempuan penjaga Rizkia, akhir terhenti, ketika mama itu datang dan menyapaku, “beeh, ko ada liat apa lagi”…karena kaget aku menjawab, “mama, suda sore ni”. Perempuan tua itu sambil duduk, ia berkata, “ini, ko minum sirop ni, ko dari tadi duduk jaga mama jualan jadi”…,
Apakah ini kebaikan, atau balas budi karena sejak tadi aku menemaninya jualan?. “Sa tara haus mama, nanti sa beli sendiri”, jawabku…”Akh, suda, ko minum suda, mama ada beli dua, ko minum satu”, katanya membalas… Hmmm, sirup, campuran air dan sedikit gula yang diberi pewarna merah,… tidak manis…airnya berasa payau…, akhirnya ku habiskan juga, demi menyenangkan hati perempuan ini.
Sambil merokok lagi, aku melihat perempuan tua itu memasukan beras lima kilogram (taksiranku) ke dalam nokengnya. “Mama, mama beli beras satu kilo brapa? Sambil melihatku ia menjawab, “1 kilo? Lima ribu, anak. Ah, mama beli beras jatah saja, kalo beras yang orang amber (sebutan untuk orang pendatang luar Papua) dorang makan tu mahal. Satu kilo, delapan ribu”.
Sambil mengumpulkan keladi yang masih tersisa, perempuan tua itu kemudian bertanya, “Anak asal mana ka?”. “Ooh, sa pernakan mama. Sa pu bapak dari Sulawesi, sa pu mama Papua; Wandamen. Sa dari Manokwari” jawabku. “Skarang di sini tinggal di mana?” tanyanya lagi. “Sa tinggal di penginapan Grand Mutiara”. Perempuan tua itu terkejut, “Adoo, anak, mama minta maaf ee. Kenapa ko mo datang duduk kotor-kotor deng mama di sini. Adoo, mama minta maaf” kata perempuan tua itu sambil menunjukan raut wajah bersalah.
Aku tidak dapat menatap wajahnya, tatapanku, seakan terus menghujam pada ujung sepatu Eiger ku…, aku merasa bersalah. Kenapa ketika senja telah datang, perasaan bersalah itu yang mengantar perpisahanku dengan seorang perempuan tua Papua yang tegar. Apakah perasaan bersalah itu, karena aku tinggal di penginapan? Yang dalam pandangan orang kampung, penginapan hanya untuk orang berduit, terpelajar, dan memiliki status sosial lebih. …, perempuan tua itu terdiam.
Kemudian, ia berkata, “mama pulang dulu ee, mama minta maaf anak”…, kemudian perempuan tua itu menghentikan sebuah truk milik salah satu perusahaan lokal di ***,…lalu naik ke atas baknya yang berdebu, bercampur dengan para kuli lokal pengangkut pasir,…lambaian tangan dan senyum ketegaran-nya, perlahan mengantar langkah kakiku menyusuri senjanya kota ***,…kembali ke penginapan. …,
Di penginapan, aku duduk dengan segala kesombongan diri bercampur kelelahan, dan berpikir. Tadi mama itu datang menggunakan ojek dari Manimeri, harga ojek Manimeri – Bintuni Kota Rp 10.000, mama itu tadi pisangnya satu sisir harganya Rp 5.000, pisangnya tadi 6 sisir di beli ***, jadi mama itu dapat uang hasil jual pisang Rp 30.000, mama itu beli beras 5 kilogram, satu kilogram beras harganya Rp 5.000, ditambah mama itu beli 2 plastik sirup, satu plastik sirup harganya Rp 2.000. Pantas mama itu tidak punya uang lebih untuk naik ojek. Apakah kejadian ini, terus berlangsung dan mendera perempuan-perempuan Papua? Kembali lagi kubertanya.
=============================================
Wednesday, 11 March 2009
Andai kata ...
Andai bunyi tak jadi morfem
morfem tak jadi kata
Kata tak jadi kalimat
Kalimat tak jadi alinea
Alinea tak jadi wacana
Dan tak usah diperdebatkan
Andai kata tak punya makna
Kosong dan tanpa arti
Andai kata tak punya nama
Hampa dan tanpa makna
Andai kata hanyalah simbol
Kosong dan tanpa makna
Hampa dan lapang
Hingga tak bisa dicerna
Andai ujaran, tuturan dan komat – kamit mulut
Tak usah dibahasakan dan disimak
tak usah disarikan dan ditrankripsikan
hingga menjadi tulisan
Tapi sapu hidup
tanpa kata
Tanpa simbol
Tanpa transkripsi
Adalah kematian
Bila kata tak bisa disarikan
Diinterpretasi dan dicerna
Tak bisa diolah dan diproses
Tak dikode dan didekode
Maka sapu hidup
Adalah kekosongan
tanpa makna, tanpa arti
tanpa citra, tanpa esensi
Kata tanpa makna
Bagaikan terjebak dalam labirin
Di antara ada dan tiada
Di antara mimpi dan terjaga
- untuk seseorang yang entah berada di mana-
morfem tak jadi kata
Kata tak jadi kalimat
Kalimat tak jadi alinea
Alinea tak jadi wacana
Dan tak usah diperdebatkan
Andai kata tak punya makna
Kosong dan tanpa arti
Andai kata tak punya nama
Hampa dan tanpa makna
Andai kata hanyalah simbol
Kosong dan tanpa makna
Hampa dan lapang
Hingga tak bisa dicerna
Andai ujaran, tuturan dan komat – kamit mulut
Tak usah dibahasakan dan disimak
tak usah disarikan dan ditrankripsikan
hingga menjadi tulisan
Tapi sapu hidup
tanpa kata
Tanpa simbol
Tanpa transkripsi
Adalah kematian
Bila kata tak bisa disarikan
Diinterpretasi dan dicerna
Tak bisa diolah dan diproses
Tak dikode dan didekode
Maka sapu hidup
Adalah kekosongan
tanpa makna, tanpa arti
tanpa citra, tanpa esensi
Kata tanpa makna
Bagaikan terjebak dalam labirin
Di antara ada dan tiada
Di antara mimpi dan terjaga
- untuk seseorang yang entah berada di mana-
Aku telah mati
Hatiku telah lama lenyap
Tertelan tetesan hujan yang lembab
Dalam rembesan lumpur hitam
Yang penuh bayang kelam
Kau tahu,
Aku baru saja mati
Kukubur jiwaku dalam dukamu
Hempaskan asaku dalam tangismu
Hitam mentari tak ada
Yang ada hanya merah menggelegak
Dendam pun lukaku telah sirna
Dalam genangan darah air mata
Dan aku pun tergeletak kosong
Tanpa asa tanpa makna
Kerontang berdiri sendiri
Kelu tak bersuara
Dan aku pun mati lagi
Dalam teriakan amarahmu
Melebur ke dalam degup laju adrenalinmu
Aku telah mati!
Tertelan tetesan hujan yang lembab
Dalam rembesan lumpur hitam
Yang penuh bayang kelam
Kau tahu,
Aku baru saja mati
Kukubur jiwaku dalam dukamu
Hempaskan asaku dalam tangismu
Hitam mentari tak ada
Yang ada hanya merah menggelegak
Dendam pun lukaku telah sirna
Dalam genangan darah air mata
Dan aku pun tergeletak kosong
Tanpa asa tanpa makna
Kerontang berdiri sendiri
Kelu tak bersuara
Dan aku pun mati lagi
Dalam teriakan amarahmu
Melebur ke dalam degup laju adrenalinmu
Aku telah mati!
Kembali diam
Dan sekarang aku kembali diam
Dalam luka yang enggan mengering
Amarah pun telah usai
Yang ada hanyalah lara yang membuncah
Kerontang jiwaku menggelegak
Menatap pancaran wajah yang telah jauh
Asa tak kunjung hadir lagi
Dan semuanya pun usai
Lidahku bagai menggenggam lebah
Tak kutahu apa yang kan kukulum ini
Sengatan berbisa ataukah madu murni
Entahlah ....... aku tak tahu
Pagi ini dengan mata yang sembab
Kubuka jendela kamarku dan mulai menangis
Menyapa mentari dengan duka yang mendalam
Tak ada lagi cerita.
Dalam luka yang enggan mengering
Amarah pun telah usai
Yang ada hanyalah lara yang membuncah
Kerontang jiwaku menggelegak
Menatap pancaran wajah yang telah jauh
Asa tak kunjung hadir lagi
Dan semuanya pun usai
Lidahku bagai menggenggam lebah
Tak kutahu apa yang kan kukulum ini
Sengatan berbisa ataukah madu murni
Entahlah ....... aku tak tahu
Pagi ini dengan mata yang sembab
Kubuka jendela kamarku dan mulai menangis
Menyapa mentari dengan duka yang mendalam
Tak ada lagi cerita.
Setiap kali kubuka jendela kamarku
Setiap kali kubuka jendela kamarku
Dan menatap kelamnya langit di malam hari
Benakku ku pun mengakses waktu terakhir
Saat suaramu masih menjadi milikku
Dan hujan pun turun lagi hari ini
Dengan pelangi yang enggan muncul
Semuanya basah dan berlumut
Dan hanya bau lembab itu yang kutangkap
Hingga berapa purnama lagi
Yang akan kulalui dalam diam
Bahkan hembusan nafas pun terlalu berat
...... sangat berat
Lalu jam dindingku pun memainkan hentakan kakinya
Dan kuberharap mimpi buruk ini kan berakhir
Saat kubangun esok hari
Kuingin kau tetap jadi milikku ..... (andai saja)
Dan menatap kelamnya langit di malam hari
Benakku ku pun mengakses waktu terakhir
Saat suaramu masih menjadi milikku
Dan hujan pun turun lagi hari ini
Dengan pelangi yang enggan muncul
Semuanya basah dan berlumut
Dan hanya bau lembab itu yang kutangkap
Hingga berapa purnama lagi
Yang akan kulalui dalam diam
Bahkan hembusan nafas pun terlalu berat
...... sangat berat
Lalu jam dindingku pun memainkan hentakan kakinya
Dan kuberharap mimpi buruk ini kan berakhir
Saat kubangun esok hari
Kuingin kau tetap jadi milikku ..... (andai saja)
Sunday, 8 March 2009
Jatuh cintakah aku?
Jatuh cintakah aku,
Pada sepotong kata di ujung sana,
Pada satu simbol emotikon,
Pada kata – kata yang dikirimkannya?
Jatuh cintakah aku,
Pada kesan yang ditimbulkannya,
Saat kata beruntai dalam pesan,
Saat hati berdebar mencerna huruf?
Jatuh cintakah aku,
Saat menebaknya hari ini,
Dengan keladi dan ikan bakar,
Atau kah nasi dan kangkung yang disantapnya?

Jatuh cintakah aku,
Saat namanya mulai menjelma,
Dalam doa dan rapat komat – kamit mulut,
Dan benak pun berkhianat menunggunya?
Jatuh cintakah aku,
Saat lirik cinta pun bergema,
Dan bibir menyenandungkan irama kasih,
Dan aku terbuai.
Entahlah …
Tapi aku menikmati masa seperti ini,
Saat cinta bertumbuh (lagi).
-Untuk seseorang yang entah berada di mana-
Pada sepotong kata di ujung sana,
Pada satu simbol emotikon,
Pada kata – kata yang dikirimkannya?
Jatuh cintakah aku,
Pada kesan yang ditimbulkannya,
Saat kata beruntai dalam pesan,
Saat hati berdebar mencerna huruf?
Jatuh cintakah aku,
Saat menebaknya hari ini,
Dengan keladi dan ikan bakar,
Atau kah nasi dan kangkung yang disantapnya?
Jatuh cintakah aku,
Saat namanya mulai menjelma,
Dalam doa dan rapat komat – kamit mulut,
Dan benak pun berkhianat menunggunya?
Jatuh cintakah aku,
Saat lirik cinta pun bergema,
Dan bibir menyenandungkan irama kasih,
Dan aku terbuai.
Entahlah …
Tapi aku menikmati masa seperti ini,
Saat cinta bertumbuh (lagi).
-Untuk seseorang yang entah berada di mana-
Dusta dan persahabatan
Malam ini sa ‘terpaksa begadang bikin surat konfirmasi tentang perseteruan tiga sahabat lama sa yang terbentang lintas benua. Sa bingung terjebak dalam labirin persahabatan ini kala yang harus sa hadapi dan memberikan kebenaran versi adalah tiga orang sahabat lama yang tersebar di Amerika, Manokwari, dan Australia. Sa capek urus masalah ini sejak Januari kemarin. Capek secara mental
Kenapa cinta selalu menjadi alasan dari semua perseteruan ini? Kenapa tipu daya dan mulut manis menjadi bumbu dalam percintaan. Kenapa dan kenapa, itu yang sa mo tanyakan trus.
Sa capek secara psikologis melihat hal ini, tapi sa tra bisa bikin apa – apa dan cuek, karena dong 3 adalah sapu sahabat – sahabat lama, yang telah sa kenal lebih dari 5 tahun, yang sa su pi tidur di dong pu rumah, makan di sana, jalan dan bersenang – senang serta mengenal keluarga besarnya dong … Kenapa harus ada dusta di dalam hubungan persahabatan ni ka.
Sa sakit hati dan kecewa melihat dusta menjadi kebiasaan yang dilakukan, sa capek. Sa pikir dia akan berubah setelah tahun – tahun yang kami lewati ini, sa pikir de akan berhenti dengan sikap buruknya yang menyebarkan kabar tak benar yang berisikan kebohongan dan pembunuhan karakter sahabat – sahabat yang lain. Sa memang su jaga jarak 2 tahun terakhir nih tentang diri sa, karna sejak pu blog pribadi di blogger, sa su tra mo talalu curhat ke orang dan ke orang – orang di kantor juga sa cukup terbuka deng sapu masalah. Tapi saat de bikin sesuatu yang menyakiti sapu sahabat – sahabat yang lain, sa su tra bisa tahan hati nih, dan sa harus bicara karna sa tahu kasus ini dengan baik.
Sa capek o, selalu jadi saksi atas sesuatu, selalu diminta konfirmasi dari hal – hal yang sa ketahui, sa su tra mo o kayak begini, dicari untuk pernyataan sikap dan informasi. Sa capek .. kenapa sa harus selalu jadi saksi ka, sa lelah oooo, sa cuma ingin lihat orang tuh dong sadar sendiri lewat sindiran kecil karena sa tra ingin begitu kejam kasi kesaksian yang ‘menelanjangi’ dong. Entahlah …
Tapi pada akhirnya adalah kebenaran tetap harus dinyatakan sepahit apapun itu, kebenaran harus dinyatakan demi menyelamatkan yang tertindas oleh kebohongan itu, dan sa paham betul bahwa pada akhirnya kebenaran itu yang akan melegakan walau mempunyai banyak konsekuensi.
Entahlah kalo sapu sahabat lama ini su tra mo baku teman deng sa, farek suda … yang pasti sa harus membuat diri sa lega dan enggan simpan nih beban lama – lama.
Bila saja persahabatan bisa lepas dari kebohongan dan dusta dan pembelaan diri.
Entahlah ….
Friday, 6 March 2009
Cinta seh ... (surat kepada seorang teman)

Shalom,
Dear ….
Terima kasih sudah mengirimkan e-mail. Adapun kabar saya baik2 saja. Sorry … kalimat intro ka ini hehehhehe
Saat ini saya sedang rajin kuliah dan bikin banyak tugas dan saat ini Canberra sedang musim gugur sehingga suhu mulai berkisar pada 10 – 15 derajat. Untuk saya yang lebih sering berada di tempat tropis dengan limpahan matahari, suhu seperti ini membuat badan malas ya. Karna tra biasa jadi ya efeknya ya kulit menjadi kering dan paling bikin badan malas adalah mimisan, jadi nih kadang kalau bangun tengah malam tiba – tiba rasa sesak nafas sedikit karena darah beku di hidung, tapi masih dalam batas wajar kok hahaha. Setidaknya sa bersyukur karena sa masih mendapatkan suhu seperti ini dan bukan salju, karena Canbee paling dingin cuma sekitar -12 Farenheit saja, jadi tidak ada salju, paling banter cuma hail alias hujan es batu. Setidaknya sa tidak harus mengalami salju.
Sa pu kuliah sejak tanggal 23 Februari tapi sa hanya ambil 3 mata kuliah dengan bobot masing2 6 SKS, dan setiap mata kuliah rata2 buku wajib yang dibaca adalah sekitar 30 buku lebih dengan ketebalan bervariasi, umumnya setebal novel ‘Laskar Pelangi’ lah
Mmh sodara mengucapkan ucapan sukses untuk kuliah dan cinta …. Hahahaha, kalo kuliah, mungkin saya bisa jamin 90 %, saya akan sukses karena saya akan berusaha keras belajar di universitas peringkat 16 Dunia dan #1 di Australia (ANU: Australian National University) dan membuktikan bahwa saya bisa lulus dari sini serta memanfaatkan fasilitas sebaik mungkin tetapi tentang cinta …. Satu topik yang sangat sulit dikatakan karena saya harus tahu letak persoalannya apabila saya merujuk pada kesuksesan cinta.
Cinta sebuah perkara yang sangat sulit saya pahami sejak dulu dan perkara yang paling banyak menguras air mata, energi, tenaga, dan perhatian plus tentu saja uang dan pertanyaan saya adalah kesuksesan di sini perlu dimaknai lewat cara apa; standar apa yang harus saya pakai untuk mendefinisikan kata ‘sukses dalam cinta’? Karena kalau dimaknai sebagai akhirnya saya akan menikah dengan cowok yang saya sayang, tentu itu sebuah pembodohan publik karena lelaki yang saya sayang sudah terikat dalam ikatan pernikahan dan mempunyai seorang putri. Lelaki lain yang masih sampai sekarang saya sayangi dan anggap sebagai ANUGERAH TERINDAH di dalam sapu hidup dan masih tetap mengingat saya bahkan sesudah menikah dan saat ini sedang menunggu kelahiran anaknya di Timika juga adalah sebuah pembodohan publik apabila saya kembali dengan dia karena ia bukan milik saya. Sayang …. mereka berdua berbagi Inisial nama yang sama; AM dan nama mereka dimulai dengan suku kata yang sama: Al. dan keduanya adalah Kasih tak sampai-nya saya.
Sukses dalam cinta … saya jadi mengenang apakah saya pernah sukses dalam cinta? Yang pasti, saya pernah pacaran 3 X dan gagal semua dengan cara yang makin lama kok makin tragis ya ….. apa karena saya pecinta Kahlil Gibran sejak kelas 1 SMA (11 tahun lalu) sehingga gaya pacarannya Gibran yang Platonis abis membuat saya mengalami hal yang sama? Entahlah …. Yang pasti saya lebih banyak mengalami “ sayap – sayap patah-nya” Gibran karena mungkin saya pecinta pandangan cinta-nya Almitra dalam Sang Nabinya Gibran.
Saya minta maaf kalau surat ini begitu personal tapi bicara tentang kesuksesan cinta apalagi dari seorang lelaki yang tidak begitu saya kenal kadang seperti membuka luka lama dan mungkin kesannya adalah saya mengasihani diri dengan apa yang akan saya tulis kemudian, karena saya orang yang ekstrovert tapi melankolis dalam cinta. Saya lebih suka memaparkan secara gamblang tentang posisi saya sekarang ini sehingga saudara mempunyai gambaran yang lebih jelas tentang mengapa sangat sulit bagi saya untuk bisa meyakinkan pada diri sendiri bahwa cinta bisa mendapatkan kesuksesan karena lewat pengalaman tiga kali gagal, sudah banyak sekali cerita yang dapat tentang mengenal lelaki tanah khususnya laki – laki yang berasal dari sebuah pulau bernama Biak. Para lelaki yang masuk dalam daftar harus dihindari sebisa mungkin kala jatuh cinta sejak gagal pertama kali tapi terus terjerat hingga tiga kali dan entah sampai kapan … Mungkin saya ‘terkena kutukan’ teman waktu kuliah yang pernah mengatakan bahwa saya Dayanara Meimosaki tercipta hanya untuk napi saja …. Entahlah …. Ataukah karena saya masih ada turunan Biak dari oyangnya Mama sehingga mengalami suatu ikatan kekerabatan? Entahlah … tapi saya cuma bisa jatuh cinta sama lelaki Biak walaupun saat itu banyak lelaki tanah maupun amber yang menawarkan cinta, entahlah …. There’s something about napi that I do not recognize yang bisa bikin sa terpesona … entahlah!
Saya pernah pacaran jarak jauh hingga dua kali dan setiap hubungan ini berlangsung minimal 1 tahun dan semuanya berakhir dalam motif yang sama yaitu perselingkuhan. Saya tak ingin mengabsen semua kesalahan mantan – mantan saya karena saya percaya pada dasarnya mereka adalah pribadi yang baik hanya tidak dapat membuat prioritas dan pilihan yang tepat saja. Dan kami bertemu dan jatuh cinta dalam waktu yang tidak tepat …. Perpisahan dengan Abel yang bekerja di Freeport adalah sebuah penyesalan yang kadang membuat saya berpikir bahwa saya telah membuat kesalahan besar dengan meninggalkan dia saat saya tahu bahwa dia adalah Lelaki Terindah yang pernah saya temukan dalam hidup, lelaki yang bisa membuat emosi saya naik – turun ibarat rollercoaster, namun semuanya harus diakhiri dengan baik dan damai; ia adalah orang yang bisa saya lepaskan dengan damai tanpa benci, tanpa tanda tanya, karena saya sadar bahwa saya dan ia tak sejalan ke depan; bagaimana perasaan saya padanya ada di blog saya tanggal 4 Agustus 2008. Tapi bagaimanapun ia adalah kisah klasik saya.
Hingga akhirnya saya bertemu Al di Manokwari, satu – satunya cowok nyata yang bisa menemani saya berenang, snorkeling, dan bercerita secara langsung (Abel di Timika juga pernah datang tapi hanya seminggu dan saya juga tak menghabiskan banyak waktu dengan dia karena sibuk ujian skripsi).Al adalah pelarian, tempat curhat dan seseorang yang bisa membuat saya tertawa dan tenang setelah hampir setengah tahun meratap Abel yang harus saya tinggalkan.
Tapi hubungan kami hanya bisa berjalan selama tiga bulan saja karena ada satu fakta yang sempat membuat saya shock dan memilih mengundurkan diri dari hubungan ini apalagi ditambah dengan tekanan sosial dan prasangka orang – orang di lingkungan kerja yang menjuluki saya “penggoda” dan berbagai label yang sempat membuat saya down, apalagi saya sedang dalam proses mau training guna keberangkatan beasiswa, akhirnya saya meminta Al menjadi sekedar teman saja, dan meninggalkannya tanpa pernah berbalik melihatnya; sebuah hal yang sangat sulit saya lakukan dan hingga beberapa bulan membuat saya terus bertanya KENAPA?. Saya harus melakukan semua itu demi membuktikan bahwa saya tidak seburuk apa yang para mahasiswa baru laporkan ke teman – teman kerja dan atasan saya. Saya harus merelakan Al kembali pada mantan pacarnya dan bertanggung jawab atas bayi mereka. Saya merasa menjadi orang paling bodoh di dunia saat itu karena bisa dibodohi dan ditipu oleh seseorang yang sangat saya sayangi; saat saya pacaran, saya tidak pernah tahu bahwa Al sedang dalam proses menggantung dengan mantan pacarnya yang hamil karena saya bukan tipe anak kota yang gaul. Urusan Al dan keluarga pacarnya cukup sulit karena keluarga pihak perempuan; yang notabene baru tamat SMA tidak mau menerima Al sebagai menantu dan mengirim pacar Al ke kota lain dan membiarkan hubungan mereka terkatung – katung selama 5 bulan lebih, hingga anak mereka lahir, saat itulah saya bertemu dia, diperkenalkan oleh teman SMP saya yang adalah sahabatnya Al (saya menghabiskan masa SMA di Jayapura sedangkan Al di Manokwari).
Saya harus meninggalkannya karena saat itu keluarga perempuan telah bersedia menerima Al sebagai menantu demi anak kecil dan saat mereka memintanya, Al pun spontan bilang bahwa ia tak ingin kembali ke pacarnya karena ia sudah pacaran dengan saya tapi ia bersedia merawat anaknya dan karena alasan inilah sampai saya dicari – cari di kampus tapi saat itu telah berangkat ke kota lain guna pengurusan proyek kantor. Saya tak ingin membela Al karena mungkin ia berkata demikian usai keluarga besarnya dicaci maki dan dihina saat melamar 2 kali, kebetulan Al sudah diangkat anak oleh pangkat nenek sepupu kandung saya jadi saya cukup mengetahui berita tentang dia.
Semuanya mungkin sudah beres, tapi ternyata fakta lain telah hadir, karena faktor kesehatan dan membuat saya tidak jadi kuliah bulan Juni lalu, maka saya balik ke Manokwari hanya untuk mendapatkan fakta bahwa Al dan Abel telah menikah pada bulan yang sama plus juga untuk melihat pemandangan dipandangi dengan tatapan tidak mengenakan dari istri Al yang kebetulan mengenal saya. Andai saya tahu dari awal, apalagi tahu siapa pacarnya, saya tidak akan pernah sekalipun memberi kesempatan pada Al untuk berkenalan. Pantang dekat dengan laki – laki beristri …
Tapi nasib sekali lagi mengantarkan saya bertemu dengannya, di pantai. Menjelang lebaran dan tugas penyelesaian kerja proyek sedang banyak2nya; membuat buku teks bahasa Inggris untuk SD di Supiori, kami bertemu lagi. Kali ini aku tergugu mendengar bahwa ternyata pernikahannya hanya berlangsung 2 bulan, dimana istri dan anaknya diungsikan orang tua istrinya ke kota lain tanpa pamit ke Al. Aku juga mendengar Al mengamuk dan memukuli kedua mertuanya plus istrinya saat diberitahu mertuanya bahwa anak itu bukan anaknya Al tetapi anak lelaki lain. Sekedar pemberitahuan, istri Al pada saat itu gagal lulus ujian SMA dan mengulang kembali di kota lain; Jayapura, dan hanya pulang pas liburan saat mereka mengadakan ‘konsepsi’.
Saat aku bertemu dengan Al kembali, aku memang masih menyimpan rasa tidak suka dan benar – benar enggan tuh menyapanya, tapi aku tak sanggup untuk tidak memaafkannya saat mendengar ceritanya. Ternyata aku masih lebih beruntung dibanding dia, aku hanya harus menghadapi pandangan sinis mahasiswi2 tana di kampus yang menjuluki ‘baku bawa deng orang pu laki’, aku hanya menghadapi amarah dan mogok bicara bapakku selama 2 bulan karena memilih pacaran secara backstreet dengan Al saat itu (Al sekantor dengan bapakku), aku hanya menghadapi pandangan kasihan sahabat2ku, aku hanya perlu menangis dan membiarkan bebanku hilang tapi apa yang Al alami, aku percaya lebih berat dariku …… karena ia mengikatkan diri dalam sebuah ikatan pernikahan dengan meterai tri tunggal, ia melewati rangkaian acara adat dan seremonial pernikahan yang tentu saja berurusan dengan uang dan nama baik. Ia menghadapi tekanan diproses di provos selama hampitr 1 tahun dengan tuduhan – tuduhan …. Jadi bagaimana mungkin saya tidak memaafkannya
Akhirnya kami kembali sebagai teman akrab yang suka keluar makan, nongkrong dan jalan – jalan … sempat menyandang label ‘selingkuhan’ dengan mantan pacar yang ditinggal istri dan anaknya, bahkan kerabatnya Al sempat mengenalku, sempat diajak berangkat ke Biak untuk diperkenalkan dengan keluarga besarnya tapi sayang harus kutolak……. Ketidakjelasan hubungan inilah yang membuatku akhirnya memutuskan untuk membuat jarak, apalagi VISA-ku harus kuurus di Jakarta dan membuatku sadar pada pertengahan Desember kemarin bahwa Al bukan milikku karena ia milik anak dan istrinya karena ia telah mengikrarkan diri dalam Trinitas; sesuatu yang sangat sakral bagiku.
Kami masih saling mengontak hingga sekarang tapi sangat jarang, itupun lewat SMS. Entahlah kalau kami berjodoh, pasti akan jadi juga, tapi kalo tidak, saya tetap bersyukur masih bisa sayang dia seperti ini; mencintai tapi tidak bisa memiliki.Terlepas dari semua sikapnya kepada saya; yang kadang beberapa kali membuat teman – teman saya marah dan bilang saya ‘otak bagetah’ karena masih mau memaafkannya …. Entahlah … Butuh proses untuk bisa melupakan, butuh waktu untuk bisa menerima keadaan ini.
Saya berharap apapun yang terjadi, Al pada akhirnya akan berbahagia, entah dengan istri dan anaknya, entah dengan wanita lain, entah dengan saya ..tapi yang pasti saya tidak ingin memaksa dia mengambil keputusan yang akan dia sesali lagi, karena saya tidak ingin membuat dia mengambil keputusan di bawah tekanan. Saya percaya kalo memang Al untuk saya, saat saya pulang ke Manokwari, ia pasti ada untuk saya. Tapi kalo memang tidak, saya tetap bersyukur untuk dia di dalam hidup saya; yang membuat saya tertawa dan merasa tenang atas leluconnya yang tidak pernah habis, mengalir lewat kisah – kisah mop segar dalam keseharian. Andai saya tidak pernah sama – sama dia lagi, saya bersyukur pernah disayang dan akan tetap sayang dia.
Saya sadar betul bahwa saya sangat potensial menjadi penggoda karena saya sudah langganan dapat maki, dapat ancam, dapat terror dari para perempuan tana yang merasa para lelaki mereka melirik dan mendekati saya ….. itulah sebabnya saya tidak bisa memberikan jawaban atas prediksi kesuksesan dalam cinta ataupun memberikan definisinya karena saya perempuan yang belajar bahwa yang bisa saya lakukan adalah mencintai hingga terluka.
Apapun yang telah diperbuat oleh para mantan saya, saya tidak akan pernah menyangkal ataupun membenci mereka karena bagaimanapun saya pernah sayang sama mereka dan ada yang masih sangat saya sayang hingga saat ini. Karena dengan menyangkal dan membenci mereka berarti saya menyangkal proses yang pernah terjadi, menyangkal kebenaran yang terjadi. Lebih baik mencintai hingga terluka daripada tidak pernah berani untuk jatuh cinta dan menyatakan perasaan, karena setidaknya orang yang tong sayang atau apa yang tong rasakan ka ini. Kalo memang semuanya tidak berjalan dengan baik, setidaknya ada rasa yang telah tumbuh di hati.
Cinta adalah perkara menggenggam angin, bisa dirasakan tapi tak bisa dimiliki dan dikungkung. Seharusnya saat jatuh cinta dan dalam cinta, kita adalah orang – orang merdeka karena cinta membebaskan dan selalu mengingat bahwa Allah adalah Cinta dan Ia lebih dahulu mengasihi manusia.
Sa bersyukur untuk napi di Makassar yang mengajarkan saya tentang menghargai hidup; untuk Abel di Timika yang mengajarkan saya bahwa saya cantik dan layak menghargai diri saya dan tetap PD, serta Al yang selalu mengajarkan saya untuk “slow down” dan menikmati hidup yang saya punya. Apapun yang telah terjadi adalah proses menjadi siapa saya hari ini dan proses mengucap syukur untuk semua yang saya punya hari ini. Tanpa mereka, saya tidak akan sekuat dan setegar ini. Thanx for coloring my life adalah kata yang ingin saya ucapkan kala bertemu mereka kelak.
Btw, sory kalo sa malah curhat nih, bro, karena saya tidak mungkin bisa menjawab kata ‘sukses dalam cinta’ kalo tidak memberikan gambaran ini. Jatuh cinta tuh menyenangkan dan bikin hidup tambah hidup ….. Tapi saat ini sa lebih suka bilang sama cowok – cowok yang dekat dengan saya: TOLONG, JANGAN JATUH CINTA SAMA SAYA .. karena sa tidak buka lowongan sekarang! Sa terlanjur menitipkan kunci serpihan hati pada seseorang di Manokwari, yang hanya bisa sa miliki SMS dan rekaman suaranya karena bahkan foto berdua ataupun fotonya sendiri tidak saya miliki …. Hahaha (ironis banget ya .. ka sa otak yang ‘bagetah’ sekali?)
Thanx dan enjoy your day,
Salam hangat,
Meimosaki
Ketika perempuan dipersalahkan; SM's case

Tadi malam tanggal 5 Maret 2009, saat sa lagi chatting deng seorang teman di Jayapura, de tiba – tiba bilang sa begini: kaka, ko su tau kabar tentang tong pu perem komin satu yang bikin kasus ka? Dan detik selanjutnya su bisa ditebak pembicaraan mengarah kemana, dan tentu saja sa dikasi link ke beberapa situs berita dan laporan di internet. Jadi sa langsung cek dan membaca berbagai artikel itu dan melihat komentar – komentar yang masuk, yang ternyata sangat beragam. Sa kaget mati e, karena kali ini skala pemberitaan su masuk tahap nasional. Sekali lagi, sa langsung bertanya – tanya, apa yang salah dengan tong pu perem ka, atau dengan tong ka, sampe – sampe beberapa media khususnya di internet dan media cetak (ada yang sa temukan) yang tidak memakai kode etik penulisan hingga nama “pemeran” foto mesum itu harus dipampang begitu lengkap. Sa langsung bertanya – tanya, kenapa masalah ini begitu dibesarkan saat seorang mantan praja IPDN yang kebetulan berasal dari tanah Papua dan kebetulan beragama Kristen mempunyai foto mesum itu, tetapi beberapa tahun lalu saat para dosen dan praja lain juga ada yang ditengarai dan membuat hal yang sama, tapi kasusnya cuma konsumsi di berita infotainment saja. Dan sa pun mulai bertanya lagi (pada diri sendiri).
Mungkin tulisan saya ini sangat liberal dan mungkin menyentil saudara/i. Secara pribadi, sa memandang apa yang sedang terjadi harus dilihat dengan bijak dan menggunakan azas praduga tak bersalah, walau sa sempat merasa sedih mengapa foto yang harusnya menjadi konsumsi pribadi malah menjadi sebuah pameran kolase di internet. Terlepas dari pandangan agama saya (Kristen), saya melihat bahwa berhubungan seks serta memiliki ataupun membuat foto seperti yang diperdebatkan ini adalah HAK saudari SM. Itu merupakan hak asazi dia yang tidak bisa diganggu gugat karena merupakan kebebasan pribadinya di dalam berekspresi. Akan tetapi sebagaimana suatu tindakan pribadi lainnya, maka selayaknya hanya menjadi sebuah konsumsi pribadi.
Saya tidak ingin memperdebatkan siapa yang memasukan foto pribadi itu ke internet; apakah karena ada orang yang menransfer foto – foto tersebut ke internet atau saudara SM atau partner SM sendiri, tapi yang pasti ada hal yang perlu dipertimbangkan di dalam membuat, mendokumentasikan serta menyebarkan muatan foto pribadi seperti itu. Media adalah sahabat sekaligus musuh berbahaya bagi tong. Satu hal yang perlu dipertimbangkan saat membuat, mendokumentasikan adalah tingkat kerahasiaan perlindungan dokumen yang dibuat. Seberapa persen saudara/ i yakin bahwa dokumen itu tidak akan pernah menjadi konsumsi publik? Seberapa persen saudara/i yakin bahwa apa yang saudara buat (baca: dokumentasi) akan aman?
Satu hal yang perlu dikaji ulang saat saudara/i memutuskan untuk membuat dokumentasi pribadi itu dan disebarkan di internet hanya untuk membuktikan bahwa saudara/i bisa melakukan suatu hal yang berani, saya cuma ingin mengingatkan bahwa untuk mencari pengakuan tak perlu dengan cara seperti itu, karena tanpa pengakuan dari publik di internet atas tubuh saudara/i, kalian telah cukup berharga. Saya ingin mengatakan bahwa tanpa kontribusi foto/video/ rekaman pribadi saudara/i, di internet dan media lain sudah terlalu banyak dokumentasi video/foto/ dokumen pribadi dari berbagai tipe perempuan dan laki – laki , dalam berbagai bentuk dan budaya, dalam berbagai setting , dalam berbagai warna dan bentuk, dan keanekaragaman lainnya yang bisa saudara akses dengan mudah. Jadi, saya pikir apa yang ingin saudara/i capai dengan mempublikasikan diri seperti itu adalah sebuah tindakan bodoh.
Saya katakan bodoh karena kita hidup di budaya dimana nama kita adalah nama dengan sebuah tanggungjawab besar; sebuah keret, fam yang harus dijaga. Kita khususnya perem tana, tidak hidup dan diberi nama seperti para teman – teman dari Jawa yang tidak mempunyai nama keluarga. Kita, khususnya kaum perempuan, masih hidup di dalam dunia yang didominasi oleh pria. Kita masih hidup dimana masyarakat (baca: belahan timur dunia) lebih cenderung menghakimi kita tanpa pernah melihat alasan di balik tindakan kita, di masyarakat yang masih cenderung menuduh dan mengritik kita dengan tajam saat kita jatuh dan bukannya menegur dan berkata pada kita bahwa mereka memaafkan kita dan mengerti bahwa kita juga adalah manusia yang bisa berbuat salah dan mau menemani kita memperbaiki kesalahan.
Saat kita memahami sebuah beban besar di balik nama kita, saya percaya saudara/i bisa memilah tindakan saudara/i dalam hal dokumentasi pribadi ini. Kebebasan berekspresi seksual adalah hak pribadi kita dan merupakan hak asazi saudara/i, tapi kita hidup di dalam tatanan adat dan budaya yang membantu kita hidup dengan sesama. Pikirkan dampak saat rekaman pribadi ini muncul di kalangan publik, bagaimana reaksi para kerabat dan keluarga kita? Bagaimana bila suatu hari nanti, khususnya bagi perem tana, saat kita mempunyai anak, dan beban moral mereka di lingkungan pergaulan bila mereka harus disudutkan dengan masa lalu kita? Pernahkan kita mencoba berpikir ke depan.
Bagi saudara/i di Papua, janganlah kita serta merta menghakimi saudari SM hingga kebenaran dinyatakan lewat proses penyidikan. Apabila memang terbukti bahwa SM lah yang memasukan kumpulan kolase foto itu ke internet, Inilah saatnya untuk menawarkan sebuah tangan persahabatan dan maaf serta memahami bahwa semua orang bisa melakukan hal yang salah. Inilah saatnya untuk melihat bahwa masih ada banyak perem tana di luar sana yang membutuhkan dukungan untuk pengakuan mereka. Inilah saatnya untuk memberikan dukungan dan berkata bahwa mereka telah begitu berharga dan cantik hingga tak perlu membuktikan apa – apa atas apa yang mereka punya.
Hendaknya kita juga jangan sepihak di dalam memberikan pendapat, karena dari beberapa kasus video mesum atau dokumentasi pribadi lainnya, kerap kali kita hanya menyalahkan para perempuan sedang para lelaki tetap bebas tanpa sebuah rasa malu di wajah mereka; tanpa beban pikiran atas apa yang terjadi, dan kerap terlihat cuci tangan. Kiranya saudara/i lebih adil di dalam memberikan pendapat.
Akhir kata, semoga kasus SM ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa sesuatu yang berada di ranah pribadi, memang harus berkisar di dalam ranah pribadi dan tidak berpindah ke ranah publik.
(Canberra, 6 Maret 2009)
Wednesday, 4 March 2009
Kaktus, Krisan, dan Suplir + Yayang
Malam telah merambati tempat tinggalku hingga jam di layar komputer menunjukan pukul 10. 01 p.m kala aku mulai mencoba mengristalkan hariku di tanggal 4 Maret 2009. Hari ini aku kembali berjibaku dengan rentetan kuliah dan tutorial.
Pagi tadi aku bangun dengan energi penuh walau baru tidur jam 3 pagi dan terbangun jam 7 lewat. Tanpa basa – basi, kunikmati bubur kacang ijo yang kupanaskan di microwave dan mulai mengutak – atik soal untuk tutorialku yang berkisar tentang minigrammar bahasa Zulu. Namun aku tak bisa menepis kenyataan bahwa aku tergoda dengan para nuri cantik yang menikmati apel di halaman depan rumah dan membuatku bergegas merogoh kamera dari laci lemari dan mengabadikan momen – momen berharga itu.
Hari ini entahlah, aku begitu bersemangat dengan kuliahku walau suhu telah turun ke angka 15 derajat dan angin yang berhembus cukup menyesakan dada karena begitu dingin, padahal matahari sedang bersinar cerah. Aku, Ellen dan Vivi serta Ying masih setia bergosip ria menunggu mata kuliah Semantik, tak lupa juga aku sempat berkenalan dengan seorang siswi dari Cina yang bernama Maggy, yang sama sekali bingung dengan konsep bahasa aglutinativ, jadi tadi aku menjadi tutor gratis untuk dia. Padahal menurutku konsep morfem terikat dalam bahasa aglutinatif cukup mudah, karena yang paling utama adalah apabila kita bisa cracking the linguistic code, maka semuanya akan mudah, yang penting dengan adanya data, maka analisa bisa dilaksanakan.
Kuliah semantic walaupun susah namun aku terlanjur jatuh cinta pada konsep Natural Semantic Metalanguage (NSM), yang begitu cantik diutak – atik, aku benar – benar fokus dan memahami konsep yang diajarkan, walaupun sangat banyak. Padahal harus kuakui bahwa aku tak sempat membaca buku teks dan reading bricks karena kecapaian hihihi. Tapi aku menyukai tutorial dan kelas semantikku.
Usai kuliah, aku masih mengunjungi perpustakaan dan mengantar Ellen membeli reading bricks semantics dan tak lupa menggosip tentang cowok ganteng yang berkeliaran di kampus, sambil tentu saja memberi komentar tentang segala cowok yang kami temukan di jalan. Pembicaraan kami tentu saja sangat ramai, apalagi kalo ada Vivi bersama kami, karena kami bertiga akan mengupas tentang semua cowok yang kami lihat karena selera kami berbeda – beda. Vivi dan Ellen telah menikah dan mereka bersahabat sejak kuliah undergraduate, Vi menikah dengan bule Australia sedang El suaminya masih berada di Jakarta dan akan menyusul pertengahan tahun. Tapi satu hal yang membuat kami bisa bergosip tentang apa saja adalah karena kami berada pada 2 kelas mata kuliah yang sama plus kami bertiga dari Indonesia dan ternyata kami bertiga beragama Kristen yang tentu saja membuat kami bisa saling membantu dalam mata kuliah terjemahan yang membahas tentang terjemahan Alkitab dan Doa Bapa Kami (tugas rumah untuk tutorial).
Saat pulang, aku dan El juga singgah dan membeli beberapa pot bunga guna menghias rumah. Aku membeli 1 pot suplir untuk kutaruh di kamar mandi, lumayan mahal sih kalo dikonversikan ke Rupiah, karena kalo di rumahku aku pasti bisa mendapatkan suplir itu di pinggiran rumah atau got yang lembab, tapi tak apalah karena aku benar – benar butuh suasana hijau, maka $ 18 pun melompat untuk bunga ini. Tak lupa juga kubeli sepot kaktus kecil yang lucu untuk kutaruh di dekat jendela, lagi – lagi seharga $ 18. kaktus imut itu kuletakkan bersisian dengan kerang – kerang kering di pinggiran kaca jendela, sehingga bisa mendapatkan mentari dengan sepuasnya.
Perjalanan membawa pulang bunga telah kulakukan 2 hari terakhir, dan saat di Woden, aku benar – benar kedinginan saat angin dingin bertiup. Saat duduk menunggu bis, tiba – tiba kudengar pembicaraan yang begitu akrab di telingaku menggunakan bahasa Indonesia dan ternyata cewek pernakan Kaukasia yang tampangnya sangat tidak Indonesia itu berasal dari Indonesia, yang kuprediksi mungkin campuran Indonesia. Singkat kata kami pun berkenalan, ternyata ia sekelas dengan juniorku dari Papua yang sedang berada di masa persiapan sebelum kuliah di ANU. What a small world!
Saat bis 23 datang, dengan sedikit hati – hati kuhempaskan badanku ke atas tempat duduk, tapi tentu saja dengan mengawasi bebungaan yang kubawa. Hingga turun di Pearce, aku berjalan dengan hati – hati, namun saat melewati pepohonan Eucalyptus dengan areal playground, tiba – tiba seekor makhluk berbulu putih empuk berlari kencang ke arahku dan tiba – tiba melompat dan mengajakku bermain. Aku refleks sangat kaget dan hampir melepaskan tanaman yang kupegang. Tapi anjing lucu yang belakangan kuketahui bernama Cocoa itu ingin bermain, jadi walaupun tuannya; seorang anak lelaki berumur 10 tahun dan teman – temannnya memanggilnya, ia berlari ke mereka tetapi tib a- tiba kembali lagi mengajakku bermain, jadi kusempatkan bermain dan menepuk bulu – bulunya yang panjang dan ia begitu senang hingga menggonggong dan tidur – tiduran di kakiku. Hingga bocah – bocah bule berpipi merah itu berusaha menariknya menjauh dariku karena Cocoa terus melompat dan mengajakku bermain.
Melihat Cocoa, aku tiba – tiba rindu Yayang; anjingku 7 tahun lalu, satu – satunya anjing yang kumiliki dan pintar serta patuh. Tapi sayang saat aku kuliah di Manado dan meninggalkannya di Manokwari, orang – orang jahat yang berniat mencurinya meracuninya dan membunuhnya. Tapi Yayang enggan mati di halaman sehingga ia berlari masuk ke dalam rumah. Aku ingat benar saat mamaku mengabarkan bahwa Yayang mati diracun, aku menangis tersedu – sedu di kos hingga mataku bengkak dan membuat khawatir para penghuni kos yang mayoritas cowok karena mereka mengira seorag kerabatku berpulang ke surga. Tentu saja setelah usaha ibu kos mencari tahu dan mereka diberitahu, aku sempat menjadi mop untuk para cowok teman – temanku itu karena kekonyolan sikapku yang menangis semalaman demi seekor anjing. Sejak saat itu aku membuat sebuah janji kecil bahwa aku tak ingin memelihara anjing lagi karena aku tak mau kecewa lagi. Yayang bagiku seperti seorang bayi yang kurawat dan kuajari dengan baik. Jadi kepergiannya benar – benar membuatku sedih.
Usai menata ulang kamar dengan bebungaan yang kubeli, baik Krisan kuning dan kaktus serta suplir. Tak lupa kurapikan lemari pakaian dan menyetrika tumpukan cucian yang kuangkat, dan juga berendam air panas guna melepaskan diri dari tumpukan stress kuliah. Lalu kusempatkan makan malam sedikit lebih awal sambil menonton berita di TV tentang penembakan di Pakistan dll.
Dan inilah aku sekarang, mengetikkan jemariku di papan ketik elektronik ini sambil mendengarkan alunan suara CeCe Winans. Aku bersyukur dengan hidupku yang dilimpahi Tuhan anugerah dan keselamatan. Aku mengucap syukur padamu Yesus untuk berkat yang mengalir dalam hidupku. Aku mengucap syukur karena Kau begitu baik, Yesus.
Segala hormat dan pujian serta kemuliaan hanya pada Bapa di surga; yang kukenal melalui putra-Nya Yesus dan perantaraan Roh Kudus. Amen
Tuesday, 3 March 2009
Mati pulang & Al

Aku kembali mengetikan rentetan kata tanpa bunyi di atas papan ketik komputer jinjingku. Kalender digitalku menunjukan tanggal 3 Maret 2009, pukul 9. 09 p.m. Aku baru saja selesai makan malam dengan tumisan sayur buncis dan wortel serta suwiran tuna kaleng beserta sepiring nasi putih. Aku memilih minum susu dingin tanpa rasa yang benar – benar segar.
Hari ini dan hari sebelumnya aku begitu kecapaian hingga lebih banyak tidur. Jadi guna merevitalisasi diriku, aku membeli serumpun bunga Krisan berwarna kuning cerah, yang kutaruh di pojok kamar. Bunga ini membuatku merasa begitu nyaman, hidup dan bahagia. Aku suka warna kuning sejak lama, membuatku begitu tenang, kreatif dan bahagia. Entahlah …. There’s something about yellow.
Hari ini suhu di Canberra mulai menurun karena mulai masuk musim gugur. Hujan juga tak lupa mulai rajin menyapa. Tadi hanya rintik – rintik yang turun, padahal aku sudah lama tak melihat tarian hujan, walau aku tau sekarang ini aku harus benar – benar merindukan aroma tanah sehabis hujan dan juga musik di atas atas rumah, karena bunyi hujan yang jatuh di atas rumahku sangat berbeda dengan yang kupunya di Papua. Aku rindu rumah.
Kemarin dan hari ini saat naik bis pulang dan melewati lahan – lahan kosong di antara Civic – Woden, perasaanku tiba – tiba ingin pulang. Aku merindukan Papua. Aku merindukan orang – orang berkulit gelap yang berjalan sambil mengunyah pinang, aku merindukan celotehan bersuara riuh rendah di dalam angkot penuh penumpang, aku merindukan panas mentari yang diikuti semilir angin menyapa kulitku, aku rindu rumah. Aku sampai berpikiran untuk mem-booking tiket pesawat untuk pulang, yang kuperkirakan biayanya sekitar minimal Aus 1.500 untuk pulang pergi menggunakan pesawat Garuda. Jadi itu artinya aku harus menabung beberapa bulan ini, karena sebulan aku hanya mendapat ‘gaji’ sekitar $ 1. 700, yang dipotong dengan uang rumah sekitar $ 600/ bulan, jadi uang yang bisa kupakai hanya $ 1. 200 (kalikan saja dengan kurs IDR. 7.500 hehehe).
Saat gerimis turun dan menyapa tadi siang, saat aku pulang. Dadaku tiba – tiba sesak dan membuatku melankolis. Aku tiba – tiba begitu rindu Papua. Aku tiba – tiba ingat Al di Manokwari. Aku rindu melihatnya, mendengarnya bercerita tentang kartun favoritnya; Naruto. Aku rindu parfumnya. Aku benar – benar merasa sesak hingga mataku berkaca – kaca. Apakah ini pengorbanan dan harga yang harus kubayar demi sebuah cita – cita dan impian yang kuimpikan sejak kecil? Entahlah …..
Aku merindukan Al sejak 2 hari terakhir, dan itu membuatku hingga seperti bertemu dengannya dalam mimpi. Tapi aku takut, karena di dalam mimpi aku bahkan tidak bisa bertemu dan bicara dengannya karena ia begitu tak tergapai. Begitu tak bisa kusentuh. Aku takut. Subuh di hari minggu, telepon genggamku menampilkan sebuah SMS dari Al, kalau ia sangat menyayangiku namun karena pulsaku yang tak kuisi sejak 2 minggu ini membuatku tak bisa membalas SMSnya. Aku rindu Al.
Entahlah bagaimana ke depan, entahlah. Aku masih menyimpan rapi perasaanku padanya. Masih tetap berharap dan menanti walau aku tahu akan sangat berat jalan yang harus kami tempuh. Kadang aku ingin berlari jauh dan melupakannya 100%, menghapus setiap instalasi program tentang Al di benakku. Entahlah ……. Tapi aku masih tetap rindu dia, memutar setiap pembicaraan kami di ujung saluran telekomunikasi, menyimpan dan membaca setiap pesan yang pernah dikirimkannya. Aku rindu dia.
Kalau hidup kami akan tetap begini, entahlah .. tapi aku ingin sekali memeluknya walau sekali saja, walau mungkin tak akan pernah memilikinya lagi. Aku rindu Al.
Entahlah apakah ia juga sedang merindukanku saat ini? Entahlah … yang pasti kutahu rindu ini untuk dia yang jauh di Manokwari.
Terima kasih Yesus untuk semua perasaan yang kau ijinkan tumbuh di hatiku.
Sunday, 1 March 2009
Open house - government house





Hari ini 1 Maret 2009, seperti hari Minggu yang lain, kusempatkan pergi ke Gereja. Di gereja tadi setiap tanggal baru, kami mengadakan perjamuan namun kali ini bukanlah perjamuan lengkap dan besar seperti biasa, tetapi hanya mengambil roti dan mencelupkannya ke dalam anggur, dan di dalam ibadah ini siapapun boleh mengambil roti dan anggur termasuk para anak kecil sebagai lambing kesatuan diri kami dan Kristus. Akan tetapi satu hal yang membedakan antara hari ini dan hari Minggu lainnya adalah karena usai dari gereja, aku langsung pergi ke Open house Government house di Yarralumla, di tepian danau Burley Griffin.
Kunjungan kali ini yang lebih tepat disebut sebagai piknik adalah atas inisiatif teman dari gerejaku di South Woden Uniting Church; Carolyn Tweedy – Curnow dan suaminya Bill. Secara aku orang baru di gereja ini sehingga anggota jemaat yang notabene adalah para senior citizen alias para lansia begitu memberi bantuan dan perhatian dengan maksud agar aku bisa settle dan tal terlalu homesick. Aku benar – benar menghargai apa yang mereka lakukan untukku. Kemarin sore adalah kunjungan pastoral dari pendeta Jemaat; Rev. Jonathan Baker. Kami sempat berdiskusi tentang jenis Alkitab yang bisa kupakai hingga mengenai kuliahku. Aku juga sempat ditawari untuk acara makan malam dalam waktu dekat, apabila anak bapak pendeta yang Phd. Antropologi di ANU datang bersama keluarganya.
Piknik kali ini adalah kunjungan ke government house yang didiami oleh Governor General, sejenis perwakilan dari kerajaan Inggris di Australia. Rumah yang lebih tepat mirip peristirahatan bangsawan ini didirikan sejak tahun 1891 dengan luas areal yang WOW. Aku sampai termangu memandang hamparan rumput yang tertata rapi bertumbuh dengan riang di bawah naungan pohon – pohon berdaun jarum, ek, dan eucalyptus. Tentu ini belum lagi dengan hiasan bebungaan beraneka ragam; mulai dari Mawar, Hortenzia, Azalea, Petunia, dan berbagai jenis bakung. Aku sampai harus menahan napas melihat semua ini. Taman di berbagai sudut rumah ini tak luput dihiasi patung – patung.
Open house ini dikelola oleh The Smith Family yang bergerak di bidang amal. Hasil pembelian tiket masuk akan dikelola untuk usaha amal. Harga tiket bervariasi mulai dari konsesi dan anak – anak yang hanya $ 8, dewasa $ 10 serta tiket untuk keluarga yang $ 20 dengan syarat 2 orang dewasa dan 4 anak maksimal. Aku tak ingin melewatkan acara ini karena kegiatan ini hanya 2 – 3 setahun, dan kemungkinan baru akan dibuka pada bulan Oktober, tapi kan hanya ini kunjungan pada musim panas jadi tak ingin kulewatkan piknik di alam terbuka. Semua yang ada di dalam areal ini gratis; pertunjukan musik, pameran lukisan dan melihat rumah.
Satu hal yang kunikmati selain berfoto di acara ini dan melihat bebungaan adalah makan siang dengan roti isi daging dan ikan sambil menikmati pertunjukan musik secara langsung, tarian bush dance, hingga pameran seni. Tentang musik, aku mengacungkan 4 jempol karena aku benar – benar puas menonton berbagai kelompok musik tampil, mulai dari National Orchestra yang memainkan lagu – lagu klasik kegemaranku hingga paduan suara versi Afro – American, juga nyanyian dari beberapa organisasi. Genre musik yang disuguhkan sih berkisar dari Pop, folk musik, Jazz dan klasik. Selain di panggung utama, kita juga masih dapat menikmati small orchestra di pinggir danau di dekat kios – kios penjaja makanan dan mimuman; hot dog, donuts, teh dan kopi. Tapi aku benar – benar puas karena menyaksikan berbagai macam tarian klasik Australia dan juga menyaksikan atraksi orang – orang Skotlandia dan Irlandia menari. Mulai dari iringan Bagpipe hingga menyaksikan gerakan gemulai dalam gaun – gaun petticoat yang mengembang. Puas …..
Aku tak melewatkan kesempatan menyaksikan pameran lukisan yang umumnya adalah jenis impresionisme, naturalis, dan abstrak. Aku suka melihat campuran warna – warni hingga hitam pekat bercamput keemasan menari lincah di atas kanvas, kertas dengan berbagai media, mulai dari akrilik, cat minyak hingga cat air. Aku sempat melakukan kesalahan dengan memegang sebuauh lukisan, untung Carolyn menyelamatkanku dari memegangnya terlalu lama. Aku benar – benar terpesona.
Aku juga sempat terpesona melihat para penerjun payung dengan asap merah muda memenuhi luasan angkasa di atas government house sehingga membuat sekerumunan kakatua begitu panik dan terbang lintang – pukang, aku baru kali ini melihat kakatua sebanyak itu; mungkin sekitar 30 ekor beterbangan mencari pohon baru karena mereka kaget. Karena para penerjun payung membawa bendera Australia dan juga karena parasut warna – warni.
Sekitar jam 4 sore, aku, Carolyn dan Bill mulai melangkah meninggalkan areal government house. Aku berharap tahun depan atau Oktober akan mengunjungi tempat ini lagi. Aku benar – benar bahagia dan puas … dan jujur mungkin terlalu udik juga saat berlari riang seperti anak kecil menghampiri para pemain bagpipe dan penari bush dance ….. tapi epen kaaaaaaaaaaa .. hehehe. I love my life!
Thanx Jesus dengan membiarkan aku bisa menikmati semua yang kau berikan dan dikelilingi dengan orang – orang yang peduli padaku.
Perem Papua: kemana dan bagaimana ko akan melangkah?

Ketika ku bertemu para perempuan berkulit hitam keling itu di Civic Canberra, aku tersadar betapa bahagianya andai para perempuan di Tanah Papua suatu saat bisa seperti mereka; menuntut ilmu lintas benua dan bebas mengekspresikan diri mereka tanpa pernah merasa rendah diri karena rambut dan warna kulit mereka. Aku tersadar kemudian bahwa perempuan di tanahku masih banyak yang terikat pada lingkaran tanpa ujung pangkal guna memenuhi kebutuhan pokok dan bertahan hidup; para perempuan di tanahku masih banyak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan hubungan mereka; para perempuan di tanahku masih banyak yang menjadi pilar bagi kelangsungan hidup keluarga. Hingga akhirnya kuingin berteriak keras kepada semua orang: Mau dibawa kemana para perempuan Papua ini?
Dalam tulisan yang lebih bersifat renungan ini aku tidak akan membahas apa makna dari kata perempuan dan etimologi serta segala ramifikasi arti dan penggunaannya karena kata perempuan yang kurujuk dalam tulisan ini adalah manusia berlawan jenis selain lelaki dan mencakup mulai dari bayi hingga usia renta. Aku lebih menekankan tulisan ini pada apa yang kulihat selama hidup selama 25 tahun di Tanah Papua. Tulisan ini bukanlah suatu karya ilmiah tetapi merupakan elaborasi dari apa yang kulihat, rasakan, serta menyarikan dari apa yang dibagikan seorang teman padaku. Aku bisa mengatakan tulisan ini lebih bersifat pribadi. Aku tidak ingin mendiskreditkan siapa – siapa di dalam tulisan ini tetapi ku tetap berharap barang siapa yang selama ini menggunakan keistimewaan mereka sebagai lelaki dan telah salah mengartikan sikap perlindungan mereka kepada perempuan untuk mulai belajar menghargai makhluk Tuhan yang bernama Perempuan.
Aku membuat tulisan ini karena sebuah surat yang dikirim oleh seorang temanku yang bekerja di sebuah LSM lingkungan di sebuah daerah teluk di Tanah Papua. Aku ingin membagikan apa yang ia tulis di sebuah surat di Facebook kepadaku dan beberapa teman. Mengenai tempat, aku sengaja menyamarkannya karena aku tidak ingin mendiskreditkan suku atau daerah tertentu, dan aku hanya berharap ini bisa menjadi sebuah renungan kepada kita. Ia membagikan kisahnya tentang para perempuan di daerah kerjanya yang mengalami banyak kesusahan. Ia, yang hanya “komin cangkokan”, tidak luput memperhatikan kenyataan pahit yang diderita kaum perempuan Papua karena aku tahu bagaimanapun ia mempunyai ikatan emosi dengan tanah ini dan penduduknya, sebagaimana juga aku, tidak bisa menampik fakta bahwa kami adalah manusia yang dilahirkan dari rahim para perempuan Papua dan karena merekalah kami bisa seperti hari ini.
Tulisan temanku benar – benar ingin membuatku berteriak kencang sekali lagi: Mau dibawa kemana para perempuan ini?
Berikut adalah tulisannya:
=====================================================================================
Hari itu, langit masih tetap menampakan keceriaannya. Matahari masih tetap setia membakar perut bumi,… tampak dari kejauhan, dua sosok perempuan berbeda usia dengan setia masih menancapkan kaki dan tangannya pada lumpur bakau. Terik matahari bagi mereka bukan lagi hambatan, apalagi membersihkan tubuh penuh lumpur kotor.
“…dari speedboat yang melaju cepat, aku masih jelas melihat mereka tertawa riang, ketika seekor kepiting bakau (Scylla sp) berada dalam genggaman perempuan kecil,..”
Sejak tahun 2000 sampai sekarang, aku masih tetap melihat sosok perempuan (suatu tempat di daerah teluk di tanah Papua) seperti dulu. Mereka jauh dari hiruk pikuk investasi. Juga arus perubahan lain dari sistem pembangunan yang didorong pemerintah. Mereka ibarat lahir dan hidup tidak pada kondisi kekinian. Tapi terus setia menampilkan wajah perempuan Papua tempo dulu.
Aku kadang terenyuh, melihat mereka dalam keseharian. Pernah beberapa kali, aku mendampingi beberapa perempuan kampung, yang dalam keadaan hamil, sakit malaria, lagi menggendong anak, harus berjalan beberapa ratus meter untuk mengambil air dan atau kayu bakar. Pernah juga aku menunggui seorang ibu, yang harus rela kehilangan nyawanya demi melahirkan seorang bayi yang kurang gizi. Pernah juga, aku mengobati kepala seorang ibu yang terluka akibat dipukul suaminya yang mabuk. Pernah aku membesuk seorang ibu di Puskesmas yang tulang rusuknya patah ditendang saudara laki-lakinya yang marah sewaktu mengemis uang kompensasi kayu dari perusahaan.
Pernah juga, aku dengan perasaan malu bertanya pada seorang ibu muda di teras rumahnya, “Mama, kenapa pucat sekali?. ”Saya habis keguguran, oom”, jawabnya. ”Mama, sudah minum obat?”, tanyaku lagi. Air matanya jatuh dari kelopak yang layu, seakan hidup hanya sekedar untuk bertahan. Air mata, tidak harus sebagai tanda kasih atau amarah, tapi ia juga bisa menjadi jawaban yang jujur dari hidup, ketika kata tidak lagi bermakna “tolong saya”.
Itulah potret kehidupan perempuan-perempuan Papua pada wilayah kerjaku.
Dalam prinsip hidup perempuan ini, membantu suami adalah pekerjaan mulia. Ia bernilai ibadah. Ia berujung kasih,… sebab kata “saling membantu” adalah mutiara rumah tangga bagi mereka.
Para perempuan ini tidak hanya urusan-urusan domestik (rumah tangga) saja mereka bertanggungjawab. Tapi lebih daripada itu, mereka juga harus terlibat untuk membuat asap api di dapur lebih tinggi. Urusan ekonomi (cari uang), adalah tanggungjawab yang harus mereka terima, ketika perusahaan-perusahaan pertambangan, HPH, perkebunan monokultur di wilayah ini, menetapkan syarat pendidikan menengah formal (skill) bagi anak dan suami-suami mereka.
Suatu ketika, aku pernah bertanya pada seorang perempuan paruh baya yang menjajakan kepiting di emperan toko, “Mama, sejak kapan berjualan kepiting?. “Sudah sejak tahun 2006, anak,” ia menjawab. Pada perempuan penangkap-penjual kepiting yang lain, aku masih sempat bertanya disela-sela kelelahan mereka, “Hasil dari menjual kepiting, mama pake untuk apa?”. Dan jawaban yang kudapat adalah “Untuk makan dan biaya adik-adik skolah”. Pada momen-momen tersebut, aku berusaha untuk menjauhkan mulut dari bertanya: “Berapa keuntungan (uang) dari hasil menjual kepiting.?” Sebab aku tidak ingin untuk melihat lagi, air mata mereka yang tumpah karena perjuangan mendapatkan nominal rupiah.
Pernah suatu saat, aku dan seorang teman coba untuk menghitung berapa besar hasil yang mereka dapat dari berjualan kepiting; seperti apa mereka menggunakan uang hasil berjualan?; berapa banyak waktu yang dipakai oleh seorang perempuan dalam menangkap kepiting di alam?; apa simpul ikatan emosi mereka dengan hutan bakau?, dan bagaimana mereka memandang perubahan-perubahan besar yang terjadi di sekitar ruang hidupnya.
Pendekatan yang kami gunakan, jauh dari kesan akademis - ilmiah, apalagi gaya berpikir anak sekolahan yang teoritis dan menganut ujar-ujar pintar.
Ternyata yang kami temui adalah:
1). Seorang perempuan, sanggup untuk menangkap lebih dari 30 ekor kepiting setiap hari (dibawah tahun 2006), sekarang hanya lebih dari setengahnya.
2). Satu ekor kepiting ukuran berat >60 ons dijual dengan harga Rp 6000 - Rp 7000. Ukuran berat >80 ons dijual dengan harga Rp 10.000 –> Dalam penjualannya, rata-rata tidak lebih dari sepuluh ekor dapat terjual.
3). Uang hasil penjualan digunakan untuk membeli: Beras 1 - 2 Kg @Rp 7000; Gula 1 Kg Rp 1o.000; Minyak goreng 1 botol (0,5 lt) Rp 10.000; Bahan bakar minyak (bensin campur) 2 lt @ Rp 15.000; Pinang + kapur Rp 10.000, —> berapa untuk biaya anak sekolah, kesehatan, dst….?
4). Dalam satu hari, mereka menghabiskan waktu antara 8 - 12 jam (pukul 06.00 - 17.00) untuk mencari ataupun menjual kepiting.
5). Mereka selalu berkata “Alam, tanah adalah ibu bagi kami, sebab ialah yang membesarkan kita, memberikan kita makan, tempat dimana kita mengadukan nasib dan air mata, dan ia akan memeluk jasad kami kelak, ketika kematian merenggut kami dari kesusahan dunia”.
6). Bagaimana dengan deru mesin-mesin pembangunan, dan segala macam bentuk investasi di daerah teluk di bumi Cenderawasih ini? “Mereka bilang kami tidak sekolah, jadi tidak boleh kerja di perusahaan dan pemerintah. Kewajiban kami hanya mengurus rumah”. –> “Bagaimana kami bisa maju seperti perempuan-perempuan lain di luar sana, sedangkan apa yang terjadi disekitar kampung saja kami tidak mengerti, apalagi diberi pemahaman”.
Pernah suatu ketika, dalam merealisasikan proyek community development, suatu perusahaan pertambangan multinasional di kawasan ini mendatangkan para ahli Antropology, Ekonomi dan ekonom lain dari universitas terkemuka di Australia dan Inggris, tujuannya cuma dua, Pertama, potret kondisi ekonomi masyarakat asli; Kedua, buat rencana pengembangan ekonomi. Hasilnya…? (sebuah pertanyaan yang harus dijawab)
Pemerintah daerah ini juga pernah mendatangkan ahli ekonomi dari salah satu universitas riset di tanah Jawa dengan tujuan cuma satu, yaitu melihat potensi pengembangan ekonomi lokal di kampung. Hasilnya…? (sebuah pertanyaan yang harus dijawab)
Sudah menjadi pemandangan umum di daerah ini, bahwa semua hamparan tanah berlumpur dan hutan bakau, pasti pernah dijelajahi kaum perempuan dari suku ini. Mereka biasanya pergi menangkap kepiting atau mencari kerang (siput), kalau tidak berkelompok ( < 6 orang), pasti akan membawa anak-anak mereka usia sekolah. Wilayah mencari mereka dahulu (dibawah tahun 2005) adalah sekitar pulau …... Tapi sekarang wilayah mencari (baca: kepiting dan hasil yang bisa dipakai guna mendapatkan uang) sudah jauh. Harus menempuh waktu lebih dari 30 menit perjalanan menggunakan perahu bermotor. Bagaimana dengan perahu perempuan-perempuan yang tidak memiliki mesin? Ya, harus mendayung.
Pergulatan hidup mencari setetes keadilan bagi mereka, tidak dilakukan dengan teriakan dan doa saja,…apalagi meminta bantuan orang lain, tapi lebih dari itu, panggung kehidupan benar-benar mereka hiasi dengan tetesan keringat. Sebab air mata dan janji, bagi mereka adalah urusan nanti. Sekarang mereka harus bertahan hidup, mereka harus tegar, harus bekerja, agar generasi kemudian di Teluk ini dapat lahir dari rahim-rahim cinta mereka. Mereka meletakkan dasar perjuangan hidup perempuan tanpa pamrih, mereka membasuh ketidakadilan dan kesewenangan dengan senyum. Mimpi mereka cuma satu, biarlah peluh dan air mata ini tumpah di tanah ini, agar ia menjadi saksi kejayaan perempuan-perempuan Papua nanti.
====================================================================================
Saat aku selesai membaca suratnya itu, aku benar – benar terdiam dan tergugu dan berkata lirih pada diriku, entah kapan para perempuan kami bisa seperti Michelle Obama? Dan lantang kuteriakan pada diriku: Suatu hari nanti aku akan melihat para perempuan Papua yang telah bekerja keras ini tak akan bersedih melihat keringat mereka membasahi tanah ini karena aku percaya bahwa para perempuan penerus mereka akan jadi para pembuat perubahan. Ayo bangkit perempuan tana …!!! Karena hidup tak bisa menunggu!!!
(Canberra, 27 Februari 2009)
Note: Catatan temanku ini bisa diakses di blognya di http://intsia.wordpress.com
Subscribe to:
Posts (Atom)