Search This Blog

Loading...

Friday, 20 February 2009

Beres ......



Malam ini, tanggal 19 Februari 2009, aku merasa tenang karena telah membereskan segala macam belanjaan untuk kamar baruku di 95Macfarland, Pearce, ACT, Australia. Selama beberapa minggu ini kerjaanku hanyalah belanja dan belanja. Mulai dari mencari pakaian second-hand di Salvos hingga sale summer di DFO (Direct Factory Outlet) Fyshwick, mencari boot dan kaos kaki musim dinging, hingga tadi akhirnya memilih membeli quilt alias donner bekas layak pakai di Salvos stores Fyshwick. Aku mendapatkan donner bekas dengan kualitas sangat bagus dan hanya berharga sekitar $16 dan $ 18, padahal sore kemarin aku baru mengecek harganya di Big W dan yang murah saja minimal $ 79.

Aku juga sejak beberapa minggu di sini (mmmmh baru satu bulan nih di sini) tapi sudah hunting lemari cantik dengan kaca rias, awalnya aku pikir kemahalan tapi ternyata setelah mengecek yang second di Salvos saja harganya $ 220 belum termasuk ongkos pengantarannya yang sekitar $ 45, jadi waktu itu sekitar akhir Januari, aku memutuskan membeli furniture itu di Sunday market (alias pasar barang bekas) di parkiran Woden dekat mall, seharga $ 160 sudah termasuk jasa pengantaran … jadi sekarang aku baru sadar bahwa aku beruntung. Aku juga kemarin usai membeli berbagai outfit dan pakaian musim dingin mulai dari jaket, jumper, sweater, beanie sampe mitten, baik dari baru, hasil sale ataupun second, aku sempat melirik dan tertarik pada dua kotak kayu alias lemari kecil berukuran 75 cm x 75 cm x 75 cm yang dijual sepasang seharga $ 90, tanpa pikir panjang, aku langsung saja membelinya. Setelah menanyakan segala macam prosedur pengantaran, akhirnya seorang petugas di Salvos menyarankan aku menghubungi teman yang punya mobil atau taksi biar aku tidak perlu keluar banyak duit.

Aku sempat bingung karena tak punya teman yang punya mobil. Paling banter cuma pak Ted; orang NTT yang kerja di Bank Dunia Jayapura, tapi aku tak mungkin meminta tolong. Segan saja sih sama pak Ted. Jadi aku meminta perpanjangan penitipan lemari karena tidak bisa langsung kubawa pulang, karena paling lama hanya 2 hari sejak hari pembelian tapi petugas di Salvos memperbolehkan aku menyetoknya hingga hari Sabtu ini. Tapi rupanya Tuhan baik padaku. Sore itu sehabis aku membeli lemari, jam 5 sore, seorang oma di gereja (aku berjemaat di South Woden Uniting Church, denominasinya tidak beda jauh dengan GKI di Tanah Papua, cuma yang mayoritas yang ibadah adalah para lansia), namanya Jill Franz datang mengunjungiku. Kami memang telah membuat janji untuk bertemu, dengan datang membawakanku bunga ungu kecil – kecil dari tamannya, Jill mulai dari menanyakan apakah aku sudah bisa settle alias ‘tenang’ dan menikmati hidupku di sini ataukah aku masih homesick .. jadi kami pun mulai bercerita tentang banyak hal; dari bahasa dan pengalaman masa kecilnya di Inggris (Molley kalo tidak salah, dekat dengan Leeds), hingga anjing betinanya jenis Labrador berumur 12 tahun bernama Tessa yang konon sangat jinak.

Aku juga sempat menanyakan tentang jenis Alkitab apa yang bisa kupakai karena sudah 3 minggu ini aku selalu membawa Alkitab Bahasa Indonesiaku ke gereja dan tentu saja tidak bisa mengikuti dengan baik kalo ada ayat yang harus dibaca bersama – sama. Jill merekomendasikan Good News dibanding versi King James karena bahasanya lebih sederhana dan tidak memakai bahasa Inggris yang rada jaman Baheula. Tapi ia memintaku mendiskusikan dengan pendeta kami; Reverend Jonathan Baker di kebaktian minggu besok.

Hingga tiba – tiba aku teringat lemariku di Salvos dan menanyakan info tentang jasa taksi yang murah ataupun jasa pengantaran, karena rumahku hanya sekitar 7 menit naik mobil dari Salvos Stores di Philip tempat membeli barang. Aku tak pernah menyangka bahwa Jill sangat kooperatif, jadi ia memintaku memberikan nota pembelian dan berjanji akan mengembalikannya keesokan harinya, ia juga berjanji akan meminta suaminya mengecek jenis lemari itu apakah bisa dimuat di mobilnya atau tidak.

Keesokan harinya aku benar – benar terkejut karena Jill menelponku pukul 6 sore dan menanyakan apakah aku sudah pulang dari kampus atau belum. Kujawab dengan singkat tentang kehadiranku. Selang 10 menit, ia pun muncul di rumah dan hanya bilang bahwa ia ingin mengembalikan nota pembelian. Aku pikir memang hanya itu .. tapi tiba – tiba Jill bilang bahwa, “Come and bring your furniture.”. Rupanya Jill berinisiatif membawa lemari itu ke dalam mobilnya dan voila … kejutan yang sangat manis dari oma ini hehehe. Aku bersyukur untuk para teman seperti ini yang telah kuperoleh di gereja. Jill dan beberapa oma lainnya sedang mereferensikan aku untuk bertemu seorang ahli linguistik yang kebetulan dulu pernah bekerja di ANU namun telah pensiun dan kebetulan oma ini juga satu jemaat denganku. Jill bilang bahwa ia telah menghubungi oma itu dan oma itu ingin mengetahui latar belakang pendidikanku plus ia tak menjanjikan tapi katanya ia punya banyak buku linguistik yang mungkin ingin kulihat suatu saat.

Aku merasakan sebuah perubahan gaya hidupku, di Canberra aku merasa tenang dan nyaman. Berasa sangat rumah, dan itu sudah kualami sejak hari pertama aku datang. Walau sempat sedikit shock merindukan nasi pada 5 hari pertama karena berasa tidak makan kalo tidak pake nasi. Akhirnya setelah duit cair langsung saja kuborong beras 3 KG @ $ 1 sekian sen dan hingga hari ini masih ada …. aku tetap bertahan hidup karena memang makananku tak banyak berubah dari Papua, karena aku tak suka makan ikan laut jadi bukan sebuah masalah besar bagiku. Cuma kadang merindukan makan es pisang ijo dan sayur -sayur khas Papua hahaha, khususnya daun papaya, daun kasbi, dan gedi plus ganemo. Di sini ya kita benar – benar mengonsumsi sayuran dengan standar tinggi dan kalo di Papua sudah termasuk sayur – sayur mahal. Yang pasti badanku stabil saja karena walau tiap hari hampir makan daging ataupun ayam (blame all Barbie I’ve got), tapi konsumsi buah dan sayurku sangat tinggi. Jadi belanja makanku habis di buah saja karna pada dasarnya sejak kecil aku terbiasa makan buah sebagai camilan jadi kebiasaan ini tak bisa hilang juga, padahal di Canberra, makanan dan rumah termasuk mahal tapi mo bagaimana lagi. Lah wong sekolahnya gratis dan dibayarin kok mikir … nikmati saja lah.

Yang pasti aku merasa sehat di sini, walau sempat mimisan dan agak sesak nafas satu minggu terakhir kala malam karena darah beku di hidung, namun thanx Jesus, dua hari ini suhu telah kembali ke musim panas dan aku bisa bernafas lega hahaha. Tapi agak mo pilek dikit karena kurang tidur (iya, kalo aku kurang tidur pasti langsung flu dan pilek).

Btw, kuliahku baru akan dimulai tanggal 23 February 2009 dan sebenarnya ini minggu orientasi tapi karna pada dasarnya aku orang yang tidak terlalu suka rame – rame saat ini …..jadi kadang aku malas ikut kegiatan kampus dan memilih cabut belanja sendiri atau mengeksplorasi Canberra dalam hal naik bis; walau sudah nyasar beberapa kali tapi ketemu banyak hal baru.

Oh ya, ini adalah beberapa gambar tempat tinggalku. Aku menyewa sebuah kamar di keluarga Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di Canbee tapi dalam hal bicara, kita lebih banyak pake bahasa Inggris karena kedua anak ceweknya lahir besar di Canberra begitu juga tante Wilma. Di rumahku ini penghuninya adalah Tante Wilma (c. 50s tahun), Yanti (19 tahun), dan Rini (20 tahun), serta aku sendiri. Karena namaku sama dengan anaknya tante, makanya aku dipanggil “Maya”, sedangkan aku panggil Rini dengan nama tengahnya “Nisa” hehehe. Anak tante yang lain berada di Queensland dan Sydney. Jadi bagi landlordku sih mereka sudah menganggap Canberra sebagai rumah mereka karena Tante Wilma sejak umur 3 tahun telah tinggal di Canberra … So, aku menikmati suasana rumah yang unik ini, apalagi rumah ini tuh sebenarnya rumah kopel gitu. Jadi ada dua unit rumah yang tergabung dalam 1 kepemilikan. Sebelahnya ditempati oleh Hanif dan mbak Mei (Konsuler di KBRI). Dan yang lucunya adalah kami begitu unik hahaha, karena ngomong dengan Bahasa Inggris tapi kadang kalo aku tak bisa mengerti maka akan di-switch ke bahasa Indonesia, cuma karena biasanya tante atau Yanti kalo sudah tidak bisa menjelaskan lagi, ya tetap switch ke Inggris lagi hahaha. Satu hal yang kusuka adalah keragaman kepercayaan kami di dua kopel rumah ini. Aku, tante Wilma dan mbak Mei beragama Kristen sedangkan Yanti, Nisa dan Hanif beragama Islam. Jadi urusan pembagian makanan di kulkas tuh saling mengertilah karena memang aku tak mungkin juga membeli daging babi dan menaruhnya di kulkas karena kan berbagi kulkas hehehe

Aku juga ingin melampirkan beberapa foto rumah dan kamar dan tentu saja foto terbaruku hahaha. Jujur aku tidak merasakan homesick karena mungkin sejak tahun 2008 kemarin aku terbiasa pindah – pindah terus jadi saat ini aku telah menemukan satu tempat yang homy banget jadi kayaknya nyaman banget, apalagi fasilitasnya yang sangat membuatku puas hahaha. Walau dua kali naik bis, tapi aku rela tuh, demi sebuah kenyamanan seperti ini.

Thanx Jesus untuk semua yang kuterima. Ajarku untuk selalu mengucap syukur atas segala keadaanku.

Friday, 6 February 2009

Andai kau bukan miliknya


Al, sekali lagi maafkan aku karna kutak bisa melupakanmu

Kala jarak dan waktu tlah terbentang dan benua telah terlewati, di sana, sebuah titik antara mimpi dan terjaga, ada dan tiada, rasa rindu ini mengendap dan mengristal.

Dua tahun bukan waktu yang cepat, Al. Dua tahun waktu yang cukup lama untuk melihatmu (lagi), bila masih ada kesempatan. Dua tahun tak seperti saat kukerjapkan mata dan langsung terlewati. Dua tahun adalah saat menguji apakah semua yang kita rasakan ini benar adanya.

Al, andai Manokwari – Canberra hanyalah Fanindi – Kampung Ambon. Andai Australia – Papua hanyalah Amban – Sanggeng. Andai “pintu kemana saja” Dora Emon bisa kubajak untuk bertemu kau, Andai alat teletranspotter bisa kupinjam untuk mengantarku padamu …. Andai dan jutaan andai yang lain Al, tapi aku tak itu semua “tra mungkin ya”. Hingga aku percaya hanya Doa yang bisa mengantarkan semua ini bahwa semua rasa ini memang hanya untukmu …. “Ko saja, Al. Trada yang lain.”

Al, pernahkah kau rasakan jatuh cinta dan terperangkap dalam rasa itu? Pernahkan kau merasa bahwa kau sudah tidak bisa jatuh cinta lagi? Bukan karena kau menyimpan benci, sakit hati ataupun dendam …. TAPI karena kau merasa bahwa kau telah menemukan dermaga di pulau kecil yang tenang dan damai, yang tersedia hanya untukmu saja. Seperti itulah Al kau bagiku. Aku bukan terperangkap dalam cinta yang kurasakan, tapi yang kutahu aku memang tidak ingin keluar dari rasa cinta ini, yang menjadi penyemangatku kala hidup, menjadi nyanyian pagi hari mengiringi mentari. Aku …. Entahlah .. aku hanya tahu bahwa “sa sayang ko skali”.

Al, pernah seorang teman berinisial RK memberiku puisi ini, tentang rasa dan cinta, tentang perasaan terdalam dalam benak manusia, aku ingin kau tahu bahwa apa yang kurasakan terwakilkan lewat puisi ini. Aku ingin kau tahu bahwa kau begitu berarti bagiku. Aku ingin kau tahu bahwa aku terlanjur mengunci hatiku dan menitipkan kuncinya padamu. Al, ….


Mengingatmu,
Ada sesuatu yang pecah di hatiku
Hidupku bagai dalam impian surgawi…
Luas, tak bertepi…
Engkau bagiku,
Padang rumput, yang hijau mengundang kerinduanku
Hutanku, kelam terpendam
Tersuruk antara akar – akar dan daun – daun
Lautku, yang dalam biru teduh berkilauan
Bagai permata murni
Gunungku, yang tinggi menjulang, kukuh, bisu…
Dalam kedalamanmu
Aku………mabuk pada semua itu
Segala yang terungkap darimu………
Aku tak berdaya menyebutnya.

Bila waktu itu tetap datang juga, waktu dimana aku harus melepaskanmu sesadar- sadarnya, waktu dimana aku harus membunuh gambarmu di hatiku, membuang semua profil dirimu, waktu dimana kenyataan benar – benar tidak bersahabat dengan moral, etika, dan tanggung jawab .. Aku ingin kau tahu bahwa aku (masih dan akan tetap) sayang padamu.

Entahlah, aku tak begitu tahu dan begitu paham dengan apa yang orang lain pikirkan, aku tahu semua ini di mata mereka adalah kegilaan sesaat, atau biarlah mereka memanggilku ’sesat’, biarlah mereka memanggilku ‘terhilang’ dan ‘buta’. Biarlah mereka memanggilku ‘bodoh’ dan ‘tertipu’ dan ‘merendahkan diri sendiri’. Tapi aku tak bisa menipu hati, Al. Kalau aku bahagia dengan hubungan yang pernah kita jalani walau pernah dipenuhi dengan tipudaya, pengkhianatan, dan rasa dicampakkan.

Al, aku merindukanmu kala melihat langit malam dan menghitung setiap bintang, kala hatiku berbisik lirih, ‘adakah kau lihat langit yang sama dan melihat rindu yang kutitip pada bintang?’. Kala kepekatan malam datang dan mengantarkan suhu yang rendah, adakah kau rasakan keheningan yang membalut hati ini?

Al, aku bukan pencerita pun penutur yang baik .. tapi aku ingin bilang bahwa denganmu, aku belajar banyak hal, belajar memahami orang lain dan bersabar. Belajar mencintai hingga terluka dan kau tahu … aku bersedia menunggu, Al!
Andai saja kau bukan miliknya …..