Search This Blog

Loading...

Saturday, 31 January 2009

Black ...



Thanx Lidya, for sending this beautiful impressive poem

(This poem was nominated by UN as the best poem of 2006..
Written by an African Kid)


When I born, I black
When I grow up, I black
When I go in sun, I black
When I scared, I black
When I sick, I black
And when I die, I still black



And you white fellow
When you born, you pink
When you grow up, you white
When you go in sun, you red
When you cold, you blue
When you scared, you yellow
When you sick, you green
And!!! when You die , you gray

And you calling me colored?

Akhir pekan


Mentari baru saja hendak beranjak ke “pengungsiannya” sejak dengan garang bersinar sejak pagi tadi. Panasnya sudah sedikit bersahabat. Layar komputer jinjingku mencatat pukul 7. 42 p.m. pada sebuah 31 Januari 2009, tapi karena musim panas maka tak aneh melihat mentari masih bertengger di langit hingga waktu sepetang ini.

Ditemani dengan irisan mangga, potongan strawberry segar, dan sebotol air, aku sibuk mengecek surat elektronik dan berbagai macam kepentingan dunia maya sejak beberapa jam lalu. Hingga tiba – tiba aku tersentak dan mengingatkan diri bahwa aku belum menulis apapun di blog-ku. Tersadar bahwa aku lupa mendokumentasikan euforia rasa senangku yang sempat datang.

Canberra hari ini lumayan tak begitu panas seperti kemarin yang sempat menyentuh 39 derajat Celsius dan membuatku kelelahan dan kepanasan plus hampir dehidrasi. Tapi aku bersyukur karena bagaimanapun aku masih punya kondisi yang baik, masih bisa ‘bersembunyi’ di perpustakaan hingga sedikit teduh, masih bisa belanja dan menikmati apapun yang Tuhan berikan dalam hidup, masih punya makanan dan bahan logistik yang cukup dan tempat tidur yang super empuk dan tuan rumah yang tidak maniso. Aku bersyukur untuk semua keadaan ini, bersyukur untuk apapun yang Tuhan berikan dan aku bersyukur karena aku tidak mengalami gangguan pernafasan ataupun jantung seperti yang kadang – kadang kualami di Manokwari.

Hari ini adalah akhir pekan yang kunikmati dengan berjalan – jalan ke Civic dan menjelajahi Canberra centre mencari beberapa item barang yang kuinginkan plus mencari pasokan buah segar untuk kudapan, karena aku tak bisa mengudap camilan penuh gula dan cokelat. Tapi tetap saja aku memberi kesempatan pada diriku untuk sebuah kue coklat bertabur kelapa plus cake untuk sarapan. Aku juga memberi hadiah pada diriku atas seminggu bertahan dan beradaptasi dengan Canbee, tak lupa juga belanja kebutuhan untuk perlengkapan kamar seperti hanger pakaian, tas makan siang dan beberapa perlengkapan makan. Betapa bahagia menemukan 4 gelas mug keramik bergambar kekupu warna – warni dan juga seperangkat mangkuk melamin bergambar hutan. Sebuah hadiah untuk diriku, walau sempat berpeluh mengangkat jinjingan itu ke platform bis 7 menuju Woden Interchange. Aku juga sempat memberikan diriku hadiah yang sedikit mahal yaitu hasil SALE dompet kulit di sebuah butik; sebuah dompet bermerk dabn juga beberapa perangkat kalung dan anting - anting.

Saat bertukar kabar di dunia Maya, aku sempat mendapat kabar dari beberapa teman lama di Papua; mulai dari yang masih liburan, yang sudah keluar dari tempat kerja, yang sedang sibuk mengeluh akan panas, hingga yang sekedar menanyakan kabar. Benar – benar bukti bahwa aku belum dilupakan. Juga mengecek surat – surat elektronik dari para seniorku di Manokwari ataupun pesannya Olive yang protes karena aku tak mengangkat telponnya kemarin malam.

Aku bukannya tak mengangkat telpon, tapi karena kemarin subuh aku baru tertidur pukul 4 pagi dan harus bangun jam 7 pagi lewat, membuatku kelelahan luar biasa, hingga pulang dari kampus pukul 4 sore lewat dan dilanjutkan dengan belanja hingga pukul 6 sore kurang, aku langsung kelelahan dan tertidur.

Guess what? Aku baru bangun pukul 9 pagi ini dan mengecek daftar panggilan tak terjawab yang cukup banyak di ponselku. Jadi pagi ini aku menikmati mandi sejam lebih dan sibuk mencoba shampoo baru yang baru kubeli bermerk Herbal Essence yang labelnya ‘untuk rambut keriting’ …. Aku suka aromanya yang sedikit lavender tapi sayangnya rambutku sedikit kering hehehe jadi terpaksa kupakai lagi conditioner dan serum rambut, kalo tidak rambutku akan membandel dan benar – benar kering.

Hari ini benar – benar perjalanan yang melelahkan tapi aku menikmatinya, karena bagaimanapun aku masih hidup dan merasakan semua kesempatan untuk hidup ini. Aku suka langit biru yang selalu menyambutku, dan bunyi kemerisik dedaunan Reg Gum alias Eucalyptus di depan rumah ataupun sekedar suara kucing yang mengeong. That’s life and Thanx Jesus for let me be in!

Wednesday, 28 January 2009

Makan siang



Siang ini aku baru saja menghabiskan bekal makan siangku di bangku – bangku taman depan sebuah gedung bernama HC Coombs Lecture Theater. Makan siang berupa tumisan sawi dan suwiran ikan tuna kaleng sukses mengisi lambungku. Tak lupa meminum sebotol air mineral Frantelle yang ternyata hanyalah spring water.

Ruang dengarku sedari tadi diisi dengan lagu – lagu daerah Papua, mencoba membujuk rasa rindu pulang dan ke pantai. Apalagi nomor HPku sudah kuaktifkan, itulah sebabnya seorang teman di Melbourne sedari tadi mencoba menelpon dan mengirimkan beberapa pesan bahwa kalau aku punya waktu, ia berbaik hati menjadi guide untuk mengantarku jalan – jalan di Melbourne. Kebetulan ia seorang fotografer dan juga backpacker. Ah, tadi tugas IAPku juga masih ada beberapa yang masih belum kukerjakan karena aku terlambat mengikuti orientasi.

Tempat kumelabuhkan pantat dan makan siang ini jaraknya hanya sepelemparan batu dari gedung JG Menzies, perpustakaan Asia Pasifik terlengkap di dunia karena semua koleksi terbitan negara – negara Asia dan pasifik berada di salah satu perpustakaan ANU ini. Karena jurusan post graduate-ku yang lebih ke linguistik, maka aku ditempatkan dalam kelompok non eksakta dimana aku harus mengikuti kelas di salah satu gedung perpustakaan. Bersamaku tak lupa juga ada teman diplomatku; mas Budi, ada Rufika, dan juga Saur Marlina Manurung alias Butet Manurung; cewek pengajar di suku Anak Dalam dan penggagas Sokola Rimba.

Musim panas kali ini terasa begitu panas siang ini, membuatku terpaksa memicingkan mata dan mengetik lembaran kisah hari ini. Entahlah, aku tak begitu bisa tahan dengan panas yang cukup membuatku pusing, apalagi udara Canberra yang kering, sangat beda dengan panas di Papua yang kelembabannya masih terasa. Benar – benar beda, tapi untunglah selama ini aku belum pernah sampai harus mimisan seperti Helen; teman dari Kupang.

Sambil menikmati pemandangan kampus kala siang, melihat berbagai macam ras manusia yang ada, mencari angin di bawah pohon – pohon eucalyptus alias Red Gum tanpa koala. Benar - benar bersyukur untuk hidupku yang diberkati bisa belajar di universitas riset terbesar dan utama di Australia dengan fasilitas perpustakaan terbaik di Australia. Thanx Jesus for my life!

Tuesday, 27 January 2009

kisah awal Canbee

Malam ini adalah malam pertama aku mulai kembali bersentuhan dengan tuts papan ketik komputer jinjingku guna merangkai huruf menjadi kata dan berjalin menjadi kalimat dalam lingkaran cerita yang terjadi dalam hidupku di Canberra 2009.

Sejak datang tanggal 22 Januari 2009 hingga hari ini aku tak sempat menuliskan apapun di dokumen apapun tentang apapun yang kurasakan karena aku begitu jatuh cinta pada kota ini, jatuh cinta pada pepohonan dan burung – burung yang beterbangan di alam, begitu jatuh cinta pada suasana baru yang kurasakan, begitu terpesona pada fasilitas yang banyak dan tak ada di tempatku, begitu terheran – heran dengan bahasa baru dan berbagai dialeknya .. .. hingga aku begitu merasa ‘penuh’ dan menyimpannya di hati saja. Tapi kuputuskan untuk menuliskannya setelah kuendapkan beberapa hari, karena kuingin ia mengristal di dalam tulisanku, mengalir bersamaan dengan emosi yang kurasakan.

Perjalananku ke kota ini dimulai dari tanggal 20 Januari kala aku ditelpon orang ADS tentang visa dan tiketku yang sudah ada, semuanya berlanjut hingga malam 21 Januari di bandara Sukarno Hatta. Jujur saat itu aku merasa begitu ketinggalan, merasa takut, begitu khawatir karena ini perjalanan pertamaku ke luar negeri seorang diri.

Tapi kemudian aku bertemu seorang teman waktu pelatihan di IALF, dari kelas yang berbeda. Mas Budi, seorang diplomat RI yang sedang lanjut S3 di ANU benar – benar menjadi malaikatku saat itu, karna dari ngobrol sana – sini ternyata kami senasib karena urusan visa yang terlambat plus karena urusan medis. Akhirnya aku diperkenalkan dengan keluarga besarnya, dari orang tua, istri hingga keponakan – keponakannya yang lucu – lucu, sempat makan malam bareng dan berfoto di bandara. Sempat juga secara informal mengenal konjen RI di Sidney yang ternyata mantan bawahan bapak mas Budi sewaktu di Berlin. Lewat acara bincang – bincang dan makan – makan, Benar – benar membuatku tak merasa sendiri.

Setelah itu urusan pun bergulir dari bincang – bincang, mengurus imigrasi dan lain – lain yang cukup membuatku khawatir, dan satu hal yang kucatat adalah aku terpaksa merelakan botol sambal ABC pesanan teman mendarat dengan empuk di tong sampah petugas bandara. Tapi aku bersyukur karena hanya itu yang bermasalah.

Berangkat dengan Qantas menjadi pengalaman pertamaku tapi juga mengingatkan aku bahwa aku bersyukur bertemu berbagai manusia yang menolong dan memudahkanku dalam perjalanan ini. Di dalam pesawat, aku baru sadar bahwa kabin pesawat cukup tinggi sehingga aku tak dapat meletakkan barang bawaanku. Untunglah seorang Jepang berbaik hati mengangkat barang – barangku ke atas kabin. Selama perjalanan yang mulai dari jam 8. 45 p.m. waktu Jakarta (GMT +7), aku mencoba tidur karena sudah tak tidur selama 2 hari, tapi entahlah aku tak bisa, jadi kunikmati tayangan perjalanan Qantas dari fasilitas musik, hingga film. Aku tak sempat memutar permainan karena aku telah terpesona dengan lagu – lagu etnik perkusi yang mengisi ruang gendang telingaku. Mencoba meninabobokanku.

Ketika terbangun karena perubahan cahaya lampu pesawat, aku mencoba melihat keluar dan rupanya benua Australia telah berada di bawah burung besi Qantas. Dari kejauhan sinar fajar telah menembus kaca pesawat dan memainkan guratan jingga. Aku sempat berpikir bahwa aku berada di atas lautan tapi ternyata sedang di atas gurun atau daratan. Hingga tersadar bahwa pesawat telah mendarat di bandara Internasional di Sidney. Pukul 7 lewat di sebuah pagi bertanggal 22 January 2009.

Usai acara pemeriksaan yang cukup ribet dan pusing karena visaku sempat diperiksa cukup lama sehingga mas Budi harus menungguku. Mungkin karena ia ingin memeriksa apakah aku juga pelajar, karna aku memakai paspor yang berbeda dengan mas Budi. Setelah itu kami menuju pengambilan barang yang lumayan lama. Untunglah berjalan aman.

Tapi di bagian karantinalah aku merasa gugup karena takut obat – obatanku akan ditahan, tapi sekali lagi Tuhan begitu baik dengan memberikanku berbagai orang yang sangat menolong proses, semuanya tak bermasalah setelah di-declare. Aku membawa obat hampir 300 butir berbagai bentuk khususnya antibiotik dan anti inflamasi. Tapi ternyata tak ada hambatan karena wanita yang memeriksaku mengijinkanku membawa semuanya.

Setelah itu kami keluar ke areal luar dan ternyata seorang teman mas Budi dari Konjen Sidney menjemput kami. Mas Fery ternyata sudah beberapa tahun tinggal di Sidney dan menceritakan sedikit tentang kerjaannya sebagai diplomat. Jadi aku terhisap dalam labirin percakapan mereka dari keluarga, pandangan politik, pekerjaan dan berbagai trik hidup di OZ. Sempat merasakan summer pertama kali di OZ, dan tentu saja makan egg dan toast yang dibayarin mas Fery, tapi rupanya perutku tak bisa menampung makanan yang terasa aneh di lidahku dan terpaksa mencari wastafel terdekat. Poor me!!!

Mas Fery mengantarkan kami ke bandara domestik Sidney dan setelah urusan prosedur check-in beberapa kali, kami bisa sampai dengan selamat di dalam pesawat QantasLink yang sedikit kecil dengan baling – baling di samping kiri kanan pesawat. Mas Budi dan aku meninggalkan Sidney pukul 11. 30 lewat. Aku bersyukur berjalan dengan dua orang diplomat yang terbiasa dengan berpergian ke luar negeri sehingga urusan bagasiku yang kelebihan dan lain – lain bisa berjalan dengan beres, aman, dan terkendali. Dan tentu saja berjalan dengan teman cerita yang bisa memberikan wawasan baru.

Akhirnya “Canberra, saya datang!” terjadi pukul 12 lewat hampir jam 1 waktu Canberra yang GMT +10. Udara panas telah menyambut dengan baik kala menjejakkan kaki di tempat yang dijuluki sebagai The Bush Country ini karena pohon - pohonnya. Usai mengecek bagasi dan lain – lain kami pun melangkah ke dalam terminal menjemput bagasi kami.

Ternyata perwakilan AusAID telah tiba, begitu juga para penjemput kami. Pihak AusAID diwakili oleh Janet yang senyumnya manis sekali hehehe Penjemput Mas Budi ternyata datang bersamaan dengan penjemputku. Rupanya mas Budi tinggal bersama dengan pak Caka, rekan diplomatnya di KBRI Canberra. AKu dijemput Hanif Mahendratta, lulusan Internasional Business Int’l ANU, yang ternyata lebih muda beberapa tahun dariku, dan aku sempat kecele karena berpikir bahwa ia orang tua.

Dari Airport ke rumah, Hanif sempat mengajakku berputar – putar melihat Canbee dan banyak bercerita tentang Canbee.

Aku datang hampir jam 1 siang dan sekitar jam 3 lewat, aku dan Hanif telah menjelajah Canbee, mulai dari cara menunggu bis, bagaimana cara membaca timetable dan berganti bis, berkeliaran di Civic (city), berputar – putar di mall Canberra Centre, dibelikan es krim rasa Karamel yang perlu 30 menit memakannya, hingga mencoba berbagai sampel HP, kamera dan lain, mengunjungi ANU, berkenalan informal dengan ALO AusAID. Tak lupa juga mengajarku bagaimana cara berbelanja di berbagai Asian shop dan swalayan. Hari itu kami pulang sekitar jam 8 lewat dengan wajah kecapaian. Tapi aku bersyukur karena ada seseorang yang mau mengajarkanku naik bis, karena aku tahu bahwa Hanif sudah hampir setahun ini tak naik bis setelah memiliki mobil, sehingga benar – benar sebuah pertolongan yang sangat berarti.

Ia juga mengenalkanku pada Yanti; pemilik akomodasi yang ternyata lagi – lagi aku kecele karena Yanti masih muda, masih 18 tahun. Aku sempat tak percaya ia orang Indonesia karena tampangnya yang unik, mirip Vanessa Mae dengan kulit kecoklatan yang tanningnya sempurna. Ternyata ia blasteran Jawa – Padang tapi sejak lahir tinggal di Canberra karena keluarganya telah berada di OZ sejak jaman opa – omanya. Itulah sebabnya kala aku diperkenalkan dengan mamanya; Wilma, aku sempat kagok bicara bahasa Inggris. Rupanya tante Wilma juga sejak umur 3 tahun sekitar 1960an telah berada di OZ.

After all, aku merasa benar – benar menemukan rumah; tempat tenang untuk tinggal dan tak takut apapun. Aku kan membahasnya di tulisan berikutku tentang tempat tinggal baruku di MacFarland Crescent, Pearce, Canberra yang benar – benar membuatku jatuh cinta. Padahal sempat merasa khawatir dengan akomodasi.

Aku cuma bisa bilang Thanx Jesus untuk semua yang kuterima; karena membolehkanku mendapatkan host seperti Yanti dan Wilma plus tetangga seperti Hanif.

Hoptumityusun.

Tuesday, 20 January 2009

Cerpen - Kala Hujan Turun

Samar – samar bau alkohol menyeruak keluar dari rongga mulutnya kala ia berbicara. Kupandangi matanya yang sedikit memerah dan kepalanya yang menggeleng ke kanan dan ke kiri tak beraturan bersamaan dengan suaranya yang meninggi tiba – tiba:

“Meri, jadi ko belum masak sampe jam begini? Perempuan macam apa ko ini. Laki pulang baru makanan belum siap. Sa lap ko eeee”.

Belum lima menit perkataan itu hilang di telingaku, sebuah tamparan keras mendarat dengan telak di pipiku dan membuat pandanganku kabur seketika.

Tanpa bicara banyak, aku segera ke dapur dan menyiapkan bumbu untuk sayur daun kasbi yang telah kurebus dan kucacah halus sedari pagi. Ikan asar sisa semalam juga telah kusuwir halus dan kuuleni dengan bumbu guna kogoreng kering. Nasi sedari pagi telah kutanak dan tersimpan dengan hangat di dalam penanak nasi elektronik. Aku hanya belum menyiapkan lauk pauk hari ini. Semua ini bukan karena aku enggan atau malas, tapi karena sedari pagi aku harus ke Puskesmas memeriksakan kandunganku yang telah menginjak bulan ke tujuh. Hari ini banyak sekali orang yang pergi ke sana dan aku mendapatkan nomor panggilan terakhir.

Tetapi yang membuatku terlambat memasak adalah hujan yang turun dengan deras sewaktu di Puskesmas. Padahal sedari pagi tak ada awan gelap yang berarak. Aku terpaksa menghabiskan waktu sekitar 1, 5 jam menunggu hujan reda dan kemudian berjalan ke jalan raya menunggu angkutan yang lewat guna mengantarkan diriku pulang ke rumah di pinggiran kota Manokwari.

Aku heran mengapa Anes begitu mempersoalkan makanan hari ini yang terlambat masak. Sedari kami menikah 1 tahun lalu ia tahu bahwa aku kerap terlambat masak karena pulang terlambat dari tempat kerjaku. Sebagai guru honor di sebuah Sekolah Dasar, aku tak punya banyak pilihan. Aku harus bangun pagi – pagi, menyelesaikan semua pekerjaanku sebagai istri dan bergegas ke tempat kerja pukul 7 pagi. Semuanya baru akan berakhir kala pukul 1 siang. Biasanya setelah pukul 1, aku baru bergegas pulang usai singgah sebentar di pasar. Dan selama ini tak kudengar keluh kesah seputar urusan perut.

Tapi sejak 2 bulan ini aku merasakan ia begitu berubah. Begitu tak perhatian. Begitu tak kumengerti. Apalagi sejak pekerjaannya sebagai operator mesin sensor dihentikan karena perusahaan kayu tempatnya bekerja, ditutup sementara. Rumor yang beredar adalah karena proses hukum yang menjerat pemiliknya terkait dengan kasus pembalakan liar. Sehingga apa lagi yang dapat diharapkan dari seorang suami yang sedang mengalami krisis pekerjaan seperti ini. Mau tak mau, aku menjadi tulang punggung keluarga saat ini.

Aku dan Anes memilih menempati sebuah rumah kontrakan murah berkamar satu, berdinding papan, di pinggiran kota beriman ini. Walau tak begitu luas dan nyaman seperti rumah orang tuaku di Jayapura, tapi ini adalah pilihan yang telah kubuat. Pilihan yang tak pernah kusesali selama ini. Walau pernikahan kami cukup ditentang keluarga besarku, aku tetap bersikukuh mengikuti Anes merantau ke Manokwari, jauh dari para kerabat dan teman.

Bagi Anes, Manokwari bagaikan rumah keduanya karena ia menghabiskan kuliahnya di Manokwari. Namun gelar sarjananya bahkan tidak menjaminnya untuk memperoleh sebuah pekerjaan tetap yang dapat menghidupi kami dengan layak. Tapi bagaimanapun aku telah cukup bersyukur saat dulu ia diterima di perusahaan kayu, dan aku bersyukur masih bisa mengajar di sebuah sekolah dasar walau sebagai guru honor.

Namun menginjak bulan ke tujuh ini, aku merasakan Anes begitu banyak berubah. Hampir setiap pulang mengajar, aku tak mendapatinya di rumah. Aku selalu berharap dan berdoa dalam hati, mudah – mudahan hari ini ia telah memperoleh pekerjaan. Aku tak terlalu banyak berharap bahwa ia akan memperoleh pekerjaan tetap yang bergaji besar, setidaknya pekerjaan yang dapat membuat kami bertahan dan mungkin bisa menambah biaya persalinanku. Aku sudah mencoba menelpon mama adeku di Jayapura guna meminjam sedikit uang tapi sampai saat ini, belum ada serupiah pun yang masuk ke dalam rekeningku. Jadi aku enggan berharap banyak. Aku sama sekali tak berani menelpon orang tuaku karena campuran rasa malu, dan sedih ditambah lagi kuingat dengan jelas kata mama kala setahun lalu kuputuskan untuk kawin lari dengan Anes.

“Meri, ko dengar. Itu ko pu keputusan untuk kas tinggal nih rumah. Jadi kalo ko su keluar dari pintu dan tong pu kintal ni. Jang harap ko bisa masuk lagi e. Mama dan bapa su cape deng kam anana semua dalam rumah pu kelakuan ini. Kam macam trada yang sayang tong orang tua ka. Tinggal bikin tong pu hati sakit saja pikir kam. Bikin tong tinggal berdoa untuk kam tra amin – amin saja. Jadi sekarang nih ko pu hidup, ko urus akan sendiri suda. Ko sendiri yang tentukan, jadi kalo ada apa – apa jang datang menangis ke tong eeee.”

Saat itu, aku tak begitu peduli dengan ucapan orangtuaku karena bagiku Anes adalah segalaku. Aku tahu mama pasti sangat terluka dengan sikapku usai yang dilakukan oleh ketiga kakakku yang lain. Kakak laki – lakiku telah cukup membuat mama dan bapa menderita membayar berjuta – juta denda karena sikapnya yang telah membawa lari dan menghamili pacarnya. Belum lagi dua kakak perempuanku yang membuat pusing dengan tindakan mereka yang cukup membuat mama dan bapa berpikir keras dan membuat mereka lebih tua dari usia mereka. Kaka Mia pernah dikejar istri seorang lelaki karena dekat dengan suami orang, dan lagi – lagi kami harus berurusan dengan urusan sidang adat karena pihak keluarga istri orang itu enggan memperkarakan di pengadilan negeri. Orangtuaku semakin tertekan lagi dengan tindakan kaka Lince yang yang nekat pergi berpetualang ke pedalaman dan tempat – tempat terpencil tanpa memberitahukan orangtuaku, hingga beberapa tahun lalu, seorang lelaki muda berbadan tegap datang melapor ke rumah bahwa kak Lince termasuk dalam anggota tim ekspedisi sebuah proyek penelitian keanekaragaman hayati yang tewas terbalik dari perahu dan jenazahnya tak pernah ditemukan. Semua ini menjadi alasanku menjauhkan diri dari keluargaku.

***

Tiba – tiba pikiranku kembali lagi ke tingkah aneh Anes akhir – akhir ini. Bau alkohol semakin lama semakin kuat keluar dari mulutnya kala pulang. Kami pun jarang lagi menghabiskan waktu untuk keluar bersama ataupun bercerita, apalagi bercinta. Kalau aku pulang lebih awal ia tak pernah ada di rumah. Kerap kutanyakan bapa ade Yakob di ujung jalan, seorang kerabat Anes, tentang ke mana Anes pergi dan hari itu aku mendapatkan sebuah jawaban yang cukup membuatku marah: “Anak perempuan, Anes de ada duduk tuang deng de pu teman – teman di para – para depan pace Rambo pu rumah. Ko pi cek saja suda.”

Saat itu sudah pukul 8 malam, sehingga aku bergegas mencarinya guna memintanya mengantarku ke apotik. Aku mengingat jelas saat tiba di sana dan melihatnya bersama teman – temannya.

Satu dua temannya mulai bicara riuh rendah dan saat seorang dari mereka melihatku, ia mencolek Anes dan memberitahu kedatanganku.

“Ipar, sa pinjam Anes sebentar e. Ada keperluan sedikit jadi.” ujarku pada teman – temannya.

Tapi rupanya Anes enggan menuruti permintaanku walaupun aku memaksa. Aku memintanya lagi dan tiba – tiba suaranya meninggi ditambah sebuah tamparan: “Perempuan bodok. Ko pi sendiri suda, jang ganggu sa dulu. Tra bisa lihat orang lagi senang ka.”

“Bah Anes, temani sa cepat saja, sa pu obat abis nih, dari tadi sa mo jalan tapi ko belum pulang jadi sa tunggu ko. Kalo tra minum sebentar malam nih, nan sa pusing besok. Bah antar dulu ka …. Ko baik baru”, rajukku saat itu.

“Bodok! Ko tra bisa lihat ka sa lagi bikin apa!”, tanpa banyak bicara ia langsung memotong kata – kataku. Tapi yang membuatku sedikit ngeri adalah ia tak pernah begitu kasar seperti malam itu, aku mengingat dengan jelas bagaimana tubuhku terpaksa harus jatuh karena terkena sebuah tendangan dan pukulan. Untung dapat kutepis dengan tangan kananku. Aku bersyukur malam itu teman – teman mabuknya masih bisa menahan Anes dan mama Yako yang kebetulan berjualan pinang di sekitar tempat itu membawaku masuk ke rumahnya dan memeriksa lukaku. Syukurlah tidak ada cedera apapun, hanya bibirku yang sedikit pecah terkena tamparan namun kuputuskan untuk tidak masuk kerja keesokan harinya guna memeriksa kandunganku.

Sejak saat itu, aku begitu berhati – hati menjaga sikap dan perkataanku karena enggan mengulangi kejadian yang sama. Bila ia pulang dalam keadaan mabuk, aku kadang membiarkannya saja. Kerap kali saat ia sadar kunasehati Anes tentang bahaya minuman keras plus mengatakan bahwa tabunganku semakin menipis guna membeli obat dan kontrol ke dokter kandungan. Satu malam kukatakan padanya bahwa kami butuh uang lebih untuk bersalin karena ini akan menjadi persalinan pertamaku. Tapi lagi – lagi Anes cuek dan bilang bahwa aku akan bersalin di rumah, dan bukan rumah sakit karena ia telah menghubungi bidan Maria. Saat itu walaupun sikapnya sangat cuek tapi aku sedikit lega karena kupikir ia telah tahu kewajibannya sebagai calon bapak.

***

Hujan turun dengan deras ditingkahi dengan sahutan gemuruh berkali – kali, membuatku sedikit takut. Sedari tadi bunyi tetesan hujan di atas loyang kuningan di dapur telah menemaniku. Aku gelisah hingga pukul 10 malam, Anes belum juga pulang untuk makan. Sedari siang ia telah pergi tanpa meninggalkan pesan. Bapa ade Yakob memberi informasi bahwa ia pergi dengan beberapa temannya. Perasaanku mulai tak enak, setara dengan perutku yang mulai berasa aneh. Tiba – tiba aku begitu ketakutan kala cairan bening mengalir dengan tenang di antara sela – sela pahaku.

“Mama Sin, Mama Sin, tolong sa.” Teriakku sambil menggedor dinding pembatas kontrakan dengan tetanggaku. “Mama Sin, tolong sa!” sekali lagi kuteriakan panggilan minta tolong.

Tergopoh – gopoh, wanita tua berambut keriting yang telah memudar seiring usianya, berlari ke dalam kontrakanku. Tak sempat lagi ia memakai sandal. Kudengar suaranya memanggil Danny, anaknya. “Danny, cepat ko cari kaka Anes dulu. Bilang dia, de maitua su mo melahirkan. Cepat!!!”

Aku mulai kehilangan kesadaranku kala cairan yang mengalir itu semakin deras keluar. Aku masih sempat menahan perih yang tak terlukiskan dan mencoba bernafas mengikuti arahan mama Sin kala tubuhku telah dinaikkan ke dalam taksi sewaan. Hingga tubuhku diusung ke dalam ruang bersalin, aku tak melihat Anes dan aku sudah tak sanggup berpikir lagi kala kurasakan cairan deras tadi berbau amis, aku mulai pusing, sangat pusing, semuanya bercampur dengan rasa perih, bercampur dengan erangan keras dari bibirku. Setelah beberapa menit perjuangan antara hidup dan mati, aku pun langsung tak sadarkan diri.

EPILOG

Aku tak tahu bahwa hidup akan seperti ini. Sangat pedih! Entahlah, tapi bagaimanapun aku bahagia bisa memberi Anes seorang anak lelaki. Walau harus mencintai hingga terluka seperti ini, tapi ini pilihan yang kubuat karena hidup adalah sebuah pilihan.

Keesokan harinya sebuah surat kabar lokal mengangkat tajuk berita:

ISTRI SEKARAT MELAHIRKAN, SUAMI PESTA MIRAS

***

(Setiabudi, Jakarta/ 20 Januari 2009)


Jangan Ragu Memberi

JANGAN RAGU MEMBERI

Pada suatu siang, di sebuah pastori, bel tamu berbunyi. Padre Antonio, yang sebetulnya juga adalah pastor tamu di pastori itu, yang menggantikan tugas pastor setempat yang sedang cuti, segera membukakan pintu. Seorang lelaki paruh baya berdiri di muka pintu ingin bertemy dengan pastor.

Setelah dipersilahkan duduk, laki – laki itu memperkenalkan jati dirinya dan mengungkapkan maksud kedatangannya. Rupanya ia adalah seorang yang sedang dalam perjalanan dan terpaksa mampir ke pastori karena ia memerlukan pakaian. Ia bertanya siapa tahu pastor mempunyai pakaian bekas untuknya. Sebuah permintaan yang sederhana. Apalagi laki – laki itu tidak datang untuk meminta sejumlah uang, tetapi hanya mau meminta pakaian.

Namun sejenak Padre Antonio berpikir. Sebagai sama – sama seorang tamu, Ia juga tidak membawa banyak pakaian. Ia hanya membawa 4 helai baju. Dari ke empat baju itu, 1 helai sedang ia kenakan, 1 helai sedang dicuci. Ia masih mempunyai 2 helai baju. Hanya saja problem untuknya sekarang adalah dari 2 helai yang masih ada di lemari, yang mana yang hendak ia berikan: baju yang sudah agak lama atau baju yang masih lumayan baru dan merupakan baju favoritnya?

Akhirnya padre Antonio masuk ke kamarnya. Setelah beberapa saat, ia muncul lagi dengan membawa sebuah bungkusan. Laki – laki itu menerimanya dengan gembira dan mohon diri. Bungkusan itu berisikan baju favoritnya.

Tidak berapa lama, bel tamu pastori kembali berbunyi. Kali ini yang datang sepasang suami istri. Padre pernah berjumpa dengan pasutri ini sepulang kebaktian pada hari minggu kemarin.

“Hallo, Padre Antonio. Selamat sore!” sapa mereka.

“Hallo juga. Apa kabar?” balas Padre Antonio. “Masuklah. Dari mana dan mau ke mana anda ini?” lanjutnya.

“Dari rumah dan memang mau ke sini. Kami hanya ingin sekedar menyampaikan sesuatu untuk padre,” jawabnya seraya menyerahkan sebuah bungkusan.”

“Bungkusan apa ini?” tanya padre keheranan.

“Boleh dibuka sekarang!” jawab mereka seraya tersenyum.

Padre Antonio membuka bungkusan itu. Dan di dalamnya ia menemukan … 2 helai baju baru.

***

(Sumber: Ide Antonio DS. Dikutip tanpa pengubahan dari “65 Cerita tentang Kebahagiaan” oleh Rahkito Jati Omi. Penerbit Yayasan pustaka Nusatama, hal 30 - 31)

Sapu catatan:

Kadang Tuhan ingin melihat sampai sejauh mana kesungguhan kita untuk melayani DIA sehingga kadang ia menguji kita lewat hal – hal kecil. Bila kita telah belajar mengelola berkat – berkatnya dalam hal kecil, maka Ia tak ragu melimpahi kita dengan banyak anugerah besar.

Monday, 19 January 2009

KEBAHAGIAAN DALAM GENGGAMAN


KEBAHAGIAAN DALAM GENGGAMAN

Kita meyakinkan kepada diri kita sendiri bahwa hidup ini akan menjadi LEBIH BAIK setelah kita menikah, mempunyai seorang anak. disusul yang lain. Kemudian kita menjadi frustasi karena anak – anak kita ternyata belum cukup umur dan kita akan merasa lega setelah mereka cukup besar.

Setelah itu, kita frustasi karena kita harus menghadapi anak – anak yang menginjak usia remaja. Kita akan bahagia ketika mereka telah lepas dari masa itu.

Kita juga berkata kepada diri sendiri bahwa hidup kita akan lengkap ketika pasangan kita tidak membuat keputusan dan bertindak sendirian, ketika kita mempunyai sebuah mobil baru, ketika kita bisa bersama pergi liburan, atau ketika kita pensiun.

Sebuah kebenaran yang sesungguhnya adalah: TIDAK ADA SAAT YANG LEBIH BAIK UNTUK MENJADI BERBAHAGIA SELAIN DARIPADA SAAT SEKARANG INI. Bila tidak sekarang ini, lalu kapan? Hidupmu akan selalu penuh dengan tantangan. Sungguh merupakan hal terbaik bila (Anda) mau mengakui hal ini dan membuat keputusan untuk berbahagia. Kebahagiaan adalah sebuah jalan. Maka hargailah setiap saat yang anda miliki dan makin hargailah saat itu sebab anda membagikan waktu itu bersama dengan seseorang yang istimewa, cukup istimewa untuk menghabiskan waktu anda dengannya dan ingatlah bahwa waktu tidak menanti siapa – siapa.

Maka janganlah menunda …

Sampai cicilan mobil atau rumahmu lunas,

Sampai anda membeli mobil atau rumah baru,

Sampai anda menikah,

Sampai anda memiliki beberapa anak,

Sampai anak – anakmu meninggalkan rumah,

Sampai berat badan anda turun 10 kilo,

Sampai anda memasuki masa pensiun,

Sampai saat kematian anda tiba.

Tidak ada saat yang lebih baik daripada saat sekarang ini untuk menjadi lebih berbahagia. Kebahagiaan adalah sebuah perjalanan, bukan sebuah tujuan. Maka bekerjalah seakan – akan anda tidak memerlukan uang, mencintailah seakan – akan hatimu belum pernah terlukai, dan menarilah seakan – akan tidak ada seorangpun yang menontonnya. Berharaplah yang terbaik dan jangan pernah lupa bahwa segala sesuatu mungkin selama anda tetap berdedikasi pada tugas – tugas anda.

(Sumber: Anonim. Dikutip tanpa pengubahan dari “65 Cerita tentang Kebahagiaan” oleh Rahkito Jati Omi. Penerbit Yayasan pustaka Nusatama, hal 95 - 96)

Menikmati hidup


MENIKMATI HIDUP

Pada suatu pagi, seorang turis Korea, seorang pengusaha, sedang berjalan – jalan di sepanjang pantai. Tiba – tiba matanya tertarik pada seorang bapak tua yang sedang duduk dengan santai di bale – bale di depan pondoknya, sambil menyedot rokok kreteknya, dan matanya memandang ke arah laut lepas. Turis dari Korea itu merasa heran.

“Selamat pagi, pak.” Tegurnya kepada bapak tua itu.

“Selamat pagi juga, tuan. Mari mampir!” jawab nelayan itu.

Sesaat setelah duduk di sebelah bapak tua itu, turis itu bertanya, “Kok bapak tidak bekerja seperti teman – teman bapak itu?” katanya sambil jarinya menunjuk pada beberapa nelayan yang sedang membersihkan perahu atau membersihkan jala – jalanya di tepi pantai.

Bapak tua itu tersenyum. “Itu dua orang anak saya di sana. Mereka sedang merawat kapal kami.”

“Seandainya bapak juga ikut bekerja bersama anak – anak bapak itu, saya yakin bapak akan menjadi nelayan yang sukses, punya lebih dari satu kapal,” kata orang Korea itu.

Bapak tua itu mengangguk – angguk. “Begitu ya? Kalau saya bisa punya kapal lebih dari satu, lalu apa yang dapat saya lakukan?”

“Ya bapak akan bisa menangkap lebih banyak ikan. Dan itu berarti juga akan mendapat lebih banyak uang,” jawab orang Korea itu.

“Setelah uang saya menjadi lebih banyak, lalu apa lagi yang dapat saya buat?”

“Pasti bapak dapat membeli kapal baru. Jumlah kapal bapak akan bertambah. Dan pada suatu hari nanti, bapak akan menjadi salah seorang juragan kapal di tempat ini.”

“Begitu ya?” lalu setelah jadi juragan?”

“Ya bapak akan tambah kaya. Punya banyak uang. Bapak bisa membeli apa saja yang bapak inginkan. Bapak bisa pesiar kemana – mana. Sama seperti saya ini. Bapak bisa menikmati hidup ini,” jawab orang Korea itu dengan bangga.

Bapak tua itu tersenyum. “Memangnya dari tadi tuan pikir saya ini sedang buat apa?”

“Maksud bapak?” orang Korea itu tampak bingung.

Jawab bapak tua itu sambil tersenyum, “Tuan tidak melihat ya bahwa dari tadi saya ini sedang menikmati hidup?” Bapak itu menyedot lagi rokoknya dalam – dalam. Lalu mengeluarkan asapnya dengan santainya.

(Sumber: Anonim. Dikutip tanpa pengubahan dari “65 Cerita tentang Kebahagiaan” oleh Rahkito Jati Omi. Penerbit Yayasan pustaka Nusatama, hal 73 – 74)

Catatannya Dayanara:

Kadang perspektif kita tentang bahagia khususnya dalam artian ‘menikmati hidup’ begitu relatif antar setiap individu dan kita lebih sering ‘menghakimi’ sesama kita tentang makna menikmati hidup dan bahagia. Karena kerap kita asosiasikan bahagia khususnya dalam artian ‘menikmati hidup’ dengan banyaknya harta dan uang di dalam rekening kita, padahal makna bahagia dan menikmati hidup tak ada kaitanya dengan segala bentuk duniawi seperti harta.

Sudah saatnya kita berpikir untuk menikmati hidup bukan pada saat kita telah mencapai sesuatu ataupun bisa memperoleh yang kita inginkan, karena kita cuma HIDUP SEKALI dan jangka waktu kita untuk hidup begitu singkat. Nikmatilah dan mengucap syukur untuk apa yang kita miliki saat ini.

Nikmatilah hidup dan mengucap syukurlah untuk segala kebutuhan yang telah disediakan dan diberikan oleh Tuhan, bukannya untuk keinginan karena bila hidup hanya digunakan untuk mendapatkan keinginan maka kita tidak punya cukup waktu karena keinginan manusia begitu banyak dan tidak terbatas.

Tetap semangat dan katakan pada diri anda sendiri: Thanx God for my life!


Salon dan hedonisme


18 Januari 2009

Aku merasakan sebuah kebahagiaan bisa kembali merasakan sentuhan susunan huruf “QWERTY” papan ketik komputer jinjing di jemariku usai dua hari berpisah dengan Acer Aspire 4520 tercinta di kos. Aku melewatkan dua hari menemaniku seorang kakak perempuan di hotel di bilangan Mangga Besar.

Sebenarnya acara menginap dengan kakakku tak pernah kupikirkan karena beberapa hari lalu aku baru saja mengunjungi bapak dan oomku di sebuah hotel bintang lima di Jakarta, sebuah hotel yang cukup punya nama. Jadi saat kakak perempuan yang juga tetanggaku di Fanindi menelpon dan menanyakan posisi, maka aku begtu kaget saat berkata: “May, posisi?” Jadi aku langsung mengerti bahwa ia ingin mengajak menemaninya.

Bertemu kakakku saja yang kupanggil kak Meli (sebut saja begitu, nama disamarkan hehehe) cukup seru, aku bahkan harus terjepit di jejalan penumpang busway karena ternyata ada perubahan rencana titik pertemuan, semula dari Mangga dua berganti menjadi Mall Ambassador Kuningan, sehingga dari kos di daerah Setiabudi bawah yang berada di antara Sudirman dan Kuningan, buru – buru kunaik busway arah Kota, ternyata setelah di dalam bis dan telah melewati halte transit Dukuh Atas, e ternyata kak Lin bilang bahwa dia telah berpindah ke Kuningan karena harus bertemu dengan kerabatnya. Jadi terpaksa aku melompat turun di halte Tosari dan menunggu busway ke arah Dukuh Atas. Sampai di Dukuh Atas ternyata maish harus berjuang lagi ngantri beberapa menit (15 menit) menunggu busway arah Ragunan. Tak disangka aku bertemu dengan Jeffry, teman statistik dari Manokwari, yang pernah kongkow denganku sampai jam 1 pagi di Muara Angke makan ikan bakar. Akhirnya setelah menjawan sejumlah telpon dari kak Lin, aku berhasil keluar dari busway di halte GOR Sumantri Brojonegoro dan segera menyeberang jembatan dan mencegat ojek: Bang, ambassador ya. Balap!!!

Akhirnya kami bertemu, ternyata kak Meli sedang hamil dua bulan. Terakhir kali bertemu adalah November 2008. Kak Meli bekerja di sebuah dinas di tingkat provinsi Papua Barat. Saat ini, ia dan rekannya baru saja pulang pelatihan dari Ciawi sehingga ia mengontakku agar bergabung menemaninya belanja. Aku selalu berusaha meluangkan waktuku bersamanya atau menemaninya karena aku pernah merasakan bagaimana rasanya kala berjalan tidak seimbang. Kak Meli sekarang cacat usai ditabrak di depan Umega Manokwari awal tahun 2008 kemarin. Yang membuatnya terpaksa berjalan dengan kruk ataupun pincang karena tulang kaki kanannya patah dan terpaksa ia berjalan timpang karena ada perbedaan sekitar 2 CM antara kaki kanan dan kiri.

Ketimpangan itu menurutku sangat berat bagi kak Meli yang peranakan Papua – Jawa karena ia seorang lapangan, sebut saja peneliti lapangan khususnya untuk bidang herpetologi dan ia satu – satunya di dinasnya ataupun angkatannya semasa kuliah yang meneliti tentang Ular. Menemaninya artinya aku mendapatkan banyak pengetahuan baru, pengetahuan ilmiah yang tak kudapatkan dari anggota genkku antara lain tentang jenis ular putih; endemik Papua dan mana yang dari Australia. Ia juga membagikan cerita tentang ular endemik Papua yang sangat berbisa yang disebut Death Adder yang banyak di Manokwari khususnya di Gunung Meja, ia bilang Death Adder ini jarang keluar dan hanya ada karang – karang. Ia mengatakan bahwa ular ini gempal dan licin dan pendek tetapi mempunyai dua cula di atas matanya plus ia mengatakan bahwa ular ini sangat berbahaya karena sekali menggigit, bisanya akan membuat pembuluh darah pecah dalam sepersekian detik. Aku sampai bergidik mendengarnya. Katanya ular ini tak akan menggigit orang sembarangan dan konon sering menjadi ular suruhan untuk membunuh orang. Entahlah ….

Saat bertemu dengannya, aku dikenalkan dengan dua wanita lain; seorang ibu berjilbab yang berasal dari Tidore; teman pelatihannya dan seorang perempuan seksi beretnis Maluku dari kampung Aboru; mantan karyawati BP yang sedang mengurus visa ke OZ.

Kami pun bergegas ke salon. Aku cukup terpana melihat gaya mereka khususnya teman seksinya, sebut saja Barbie. Ia memang cantik; bentuk tubuhnya bagus, dengan berat badan proporsional, rahang yang tinggi dan hidung mancung. Rambutnya telah mengalami beberapa kali pelurusan dan diberi sentuhan warna copper atau mahoganies, agak kemerahan berbalut coklat. Tapi yang membuatku kerap menatapnya adalah sikapnya yang menurutku apa ya … aku tahu bahwa instingku mungkin salah, tapi aku tidak suka saja berlama – lama dengan dia karena kesanku dia sombong dan suka memaksa, mungkin juga dapat kukatakan perempuan yang agresif dan ternyata ia juga …. Temperamental. Aku sempat menangkap penggalan cerita kak Meli tentang aksi Barbie memarahi supir taksi ataupun cara dia menuntun ini – itu pada para kapster salon. Aku yakin mereka pasti gerah dengan suaranya yang cukup tinggi. Tapi satu hal yang enggan adalah ia membuat kak Meli harus berjalan dengan cepat dari satu tempat ke tempat yang lain, aku bisa bilang bahwa si Barbie seperti burung gelatik yang terbang dari satu ranting ke ranting lainnya dengan cepat dan kadang aku kasihan pada kak Meli. Tapi akhirnya usai dari Salon yang cukup lama, kami pun pulang ke hotel tanpa harus bersama Barbie lagi.

Saat di salon, entahlah, aku memang mengagumi para perempuan cantik yang berseliweran, beberapa di antaranya adalah model. Salon yang berlokasi di areal lower ground Ambassado ini seakan menjadi tempat pertemuan para wanita yang hendak mendapuk kecantikan artifisial sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup mereka. Aku dengan tampang kecoklatan dan rambut kribo yang sangat mekar menjadi sebuah kontradiktif bagi mereka yang sedang smoothing, rebonding ataupun memasang hair extension. Sempat kulihat pandangan mereka bersirobok denganku kala menatap pantulan di cermin. Aku hanya menjadi penonton menjaga barang belanjaan kak Meli.

Para wanita berambut cat berjalan hilir mudik dengan stiletto, sepatu wedge ataupun jenis pumpkin shoes, berbalut dalam gaun – gaun sackdress, baby doll terbaru, tentu saja dibarengi dengan aroma parfum kelas atas yang harga beberapa CCnya saja bisa cukup untuk makan bakso beberapa mangkuk. Belum lagi kutersima dengan kuku – kuku mereka yang begitu cantik dan berkesan mahal hasil kunjungan rutin bermanicure pedicure di salon. Cepat – cepat kubuang keinginanku untuk tampil dan menjadi seperti mereka karena aku merasakan diriku tiba – tiba mual dan tidak enak badan membayangkan hidup mereka yang artifisial. Seakan – akan tak ada bagian diri mereka yang asli dan tertinggal, kubayangkan berapa banyak uang yang mereka keluarkan hanya untuk mempunyai penampilan seperti yang kulihat, aku pun membayangkan berbagai zat kimia kosmetik yang singgah dan meresap di tubuh dan rambut mereka …. Dan lagi – lagi entahlah, kenapa aku berpikir tentang orang – orang yang tidak dapat makan hari ini. Aku tiba – tiba ingin keluar dari ruangan itu. Untunglah sebuah ‘instruksi’ dari kak Meli yang memintaku mencari rekan pelatihannya menyelamatkanku dari ruang beraroma ‘kebohongan fisik’ ini.

Untunglah aku tak harus lama – lama di mall karena usai belanja, kami bergegas kembali ke hotel.

Friday, 16 January 2009

Cerpen: Usai gempa dan aku pun tergugu

Usai Gempa Dan Aku Pun Tergugu


Prolog
Satu persatu kelopak mataku membuka, pandanganku begitu samar dan kurasakan setiap sendi di tubuhku menjerit kesakitan.. Pinggiran ranjang besi menyentuh kulitku dan mengirimkan sinyal ‘dingin’ pada reseptor otak. Kucoba menggerakan jemari tangan kiriku tetapi yang tertangkap oleh telingaku adalah bunyi erangan ‘aaahhhhh’ lirih yang keluar dari rongga mulutku. Aku begitu bingung dengan respon tubuhku yang tak kupahami.

Sambil mencoba menguatkan diri, aku memaksakan diriku untuk duduk dan mengamati apa yang terjadi di sekitarku. Sambil menahan rasa sakit yang menjalar gila di tulang punggungku dan pandangan yang sedikit nanar, kucoba menebak tentang kondisi dan lingkungan dimana kuberada.

Sayup kudengar erangan lirih dari arah sebelah kiri dan saat itu kutersadar sedang berbagi oksigen dengan seseorang berbalut perban di ranjang besi bercat putih di sebelah kananku, dalam sebuah ruangan bercat putih dan bau karbol yang menyeruak masuk ke dalam paru. Jam dinding di atas lukisan abstrak berwarna campuran hitam – magenta – terakota menunjukan pukul 2 dini hari saat sel – sel otakku menangkap sebuah pesan: Aku berada di sebuah ruangan rumah sakit, karena sebuah tonggak alat infus dengan apuket sedang tertancap di lengan kiriku beserta sebuah kantong kateter yang menggantung di dekat pinggul.

***
3 Januari 2008
Aku baru saja mengakhiri panggilan Dei usai bertengkar hebat dengannya,. Malam ini kami kembali lagi bertengkar tentang status hubungan kami. Aku telah berada pada titik kulminasi dari kejenuhan hubungan kasih selama 8 bulan ini dan kucoba menetralkannya lewat kerjaanku mengambil lembur malam ini menyusun program kerja tahunan, tapi ia enggan mengerti.

“Sebenarnya ko lembur ka ko cuma cari alasan untuk tra ketemu sa. Rhe, ko stop alasan suda. Ko stuju atau tra stuju sa akan masuk minang ko dua minggu lagi. Epen ka deng kata orang! Ko pikir sa peduli deng apa yang orang – orang bicara tentang tong dua. Sapu ortu su OK – OK saja mo, ko pikir apa ka. Jang sampe ko su dapat lak – lak baru kapa nih. Awas kalo sa tau ko ada tipu sa, ko su tau sa too”, cecarnya di ujung sana kala pembicaraan sudah berada di titik yang cukup panas, siap untuk meledak.

Kucoba menjelaskan sedetail mungkin tentang kerjaanku malam ini, dan alasan mengapa aku tak bisa menemaninya makan malam dan menikmati nyanyian ombak. Dengan nada sedikit jengkel, kubalas jutaan pertanyaannya yang terlalu paranoid itu dengan satu sodokan yang kutahu sangat menyakiti hatinya: “Neh pelan tooooo .. ko siapa jadi, sadar ka sa bukan ko pu maitua eee, ko pu begini – begini yang mungkin ko pu maitua lari bawa ko pu anak!” dan langsung menutup sambungan telpon itu tepat pukul 10 malam waktu Manokwari, Papua Barat.

Ini bukan pertengkaran kami yang pertama kali, karena sudah hampir satu bulan belakangan ini ketegangan mewarnai hubungan kami yang tanpa status. Aku tahu bahwa hubungan ini memang benar – benar bagai ‘kerakap di ujung batu’, yang mati enggan tapi hidup pun tak mau. Serba salah karena aku berpacaran dengan seorang lelaki yang masih berstatus suami orang walau kutahu dengan pasti telah 1 tahun ini istrinya telah membawa kabur anak mereka ke rumah orangtuanya di kota lain di provinsi ini, tapi bagaimanapun belum ada keputusan apapun dari pengadilan tentang status pernikahan mereka.

Statusnya yang menggantung inilah yang membuatku semakin menenggelamkan diri dalam pekerjaan dan menikmati tambahan kerja dari atasanku untuk membuat rancangan program kerja tahun ini. Kebetulan teman satu unit kerjaku sedang sakit sehingga pada malam ini aku benar – benar sendiri di ruang kerja yang biasanya dihuni 3 orang termasuk atasanku. Berkutat dengan barisan angka pendapatan dan prediksi inflasi di tahun ini membuatku semakin mempunyai alasan untuk menolak setiap ajakan kencan Dei walau aku tahu ia telah membicarakan dengan para kerabat dekatnya tentang pinangannya pada waktu mendatang. Pada titik ini aku benar – benar tidak pasti.

Aku melanjutkan menyusun program kerja dalam bulan ini dan mencoba menghitung analisa keuangan 3 bulan mendatang plus menghitung dan menganalisa beberapa neraca keuangan perusahaan selama 3 tahun terakhir guna memperhitungkan prediksi pengembangan usaha. Aku bekerja di bagian keuangan perusahaan yang menyediakan jasa bagi penduduk di kota buah – buahan, namun aku lebih dipercayakan bosku untuk juga membantunya membuat analisa pasar dan prediksi keuangan lainnya, mungkin karena disebabkan latar belakangku yang double degree atau bertitel ganda sewaktu kuliah dulu; mengawinkan gelar akuntan dan ahli manajemen usaha plus karena dari pihak mamaku aku masih mempunyai hubungan keluarga dengan suami atasanku.

Waktu pun bergulir hingga saat seorang kenalan di belahan dunia lain yang tersambung lewat jaringan yang bernama internet mengundurkan diri, aku tersentak karna jarum pendek jam Seiko bulat berwarna merah bata berada pada pukul 2 pagi. Kucoba menahan kuapan panjangku dan menumpuk bantal – bantal sofa kayu jati di ruanganku. Ruang kantorku bukanlah seperti ruang kantor yang umum karena berkesan sangat santai dengan paduan etnik yang bertabrakan dengan desain interior minimalis. Kuletakkan notebookku di atas meja samping sofa. Sambil mencari posisi tidur yang nyaman, kusapukan mataku ke ruang berukuran 3 x 5 meter ini, menyaput lantai kayu coklat dan pot Sanseviera bergaris-tepi-kuning di pinggir 2 unit komputer desktop hitam bermerk LG.. Lemari file dan dokumen kantor berdiri dengan angkuh di samping pintu penghubung ke lobi. Lemari ‘kayu besi’ lainnya berada di dekat beberapa unit komputer. Mataku juga masih sempat memperhatikan kulkas mini berwarna hijau tosca di sudut ruang. Aku juga tak lupa mematikan dua buah lampu berpendar perak dan kugantikan dengan lampu sudut berkap kain terawang. Aku kembali lagi memperhatikan apa gantungan kunci telah kucabut dari induk pintu dan tentu saja tak lupa menyalakan sebuah dupa beraroma musk mengisi paruku dan membuatku nyaman.

4 Januari 2008
Kurasakan tubuhku bergoyang, dalam mimpi kulihat Dei sedang mendorong tubuhku dalam ayunan di halaman sebuah TK. Kuteriakan kata ‘stop’ tapi ia enggan untuk berhenti. Kucoba lagi namun ia tak mendengarnya. Tiba – tiba tubuhku tersentak jatuh dan rasa sakit menjalar di punggungku. Aku masih mencoba mengumpulkan nyawa, saat kudengar suara lengkingan Koni dari bagian resepsionis menjerit kencang.

“Tana goyang, keluaaaaaaaar!!! Tempo!”

Cepat – cepat batinku tersadar bahwa gempa bumi sedang menyapa kotaku. Dengan tergopoh – gopoh kusambar rencengan kunci dan berlari menuju pintu. Kumasukan satu kunci dengan gerakan cepat dan berlari keluar tanpa alas kaki melewati lobi dan voila!!! … Aku telah berada di luar gedung berwarna putih ini.

Bersamaku beberapa teman kerja dari unit lain memenuhi pelataran parkir. Martha dan Ais dari bagian Front Office menginformasikan bahwa ia telah melaporkan pada atasanku tentang kondisi hotel dan tamu. Jadi beberapa menit usai gempa lewat, aku dan karyawan lainnya malah menghabiskan waktu bercerita mob tentang reaksi gila kami kala gempa tadi.

Selang sejam dari gempa pertama, kuputuskan untuk masuk ke hotel dan memeriksa beberapa ruang yang baru dibangun di bagian belakang gedung di lantai 3. Bersama Ronny dari bagian Maintenance atau perawatan gedung, kami berjalan naik ke atas. Berjalan dari satu lorong ke lorong lain, mendiskusikan retakan yang terjadi dan sesekali melemparkan candaan tentang kejadian ini. Dari jendela lorong, kulemparkan pandangan mataku ke arah jalan raya. Rupanya para tukang ojek di gedung bertingkat depan gedungku sudah tidak ada, yang ada hanya seliweran kendaraan bermotor roda dua yang kadang memekakan telinga dengan cabikan gas.

Sambil berjalan ke arah tangga untuk turun ke ruang kerjaku, tiba – tiba aku merasakan diriku tergoncang hebat. Aku terjerembab ke arah tangga dan merasakan tanganku mencoba mengais ke berbagai arah mencari pegangan. Ronny telah sukses mencium lantai tangga di depanku. Tubuhku terhuyung maju tanpa bisa kucegah dan “buuuuukk”., kepalaku telah menabrak dinding samping tangga bergantung lukisan kulit kayu. Kurasakan setetes aliran cairan kental berasa asin mengalir melewati pipiku dan sempat singgah di bibir. Pandanganku mulai nanar saat kutahu lantai tiba – tiba berderak dengan ganas dan tubuhku terperosok ditingkahi dengan pecahan dinding – dinding di sekitarku. Aku pun melayang jatuh.

***
18 Januari 2008
Usai mataku membiasakan diri dengan ruang putih berbau karbol ini, dan aku sudah tak begitu pusing. Kuedarkan mataku sekali lagi menyisir setiap jengkal ruang ini. Kulihat di lemari samping ranjangku sebuah surat kabar lokal bertanggal 12 Januari 2008. Aku merasa kaget membaca tanggal harian ini dan berpikir mungkin saja salah cetak. Aku bertanya apa memang aku sudah tertidur begitu lama. Headlinenya cukup membuatku seram dan bulu kudukku tiba – tiba berdiri saat membaca berita itu.

Isi reportase berita itu cukup membuatku miris dan mau menangis. Seorang karyawan wanita sudah seminggu tak sadarkan diri dan menderita luka yang cukup parah di kepala dan kaki usai diseret keluar dari reruntuhan sebuah gedung bertingkat di kotaku. Tetapi yang cukup miris adalah kekasihnya menolak mengunjunginya di rumah sakit dan memutuskan hubungan mereka.

Sambil mencoba membaca keterangan lanjutan berita itu di halaman selanjutnya, tiba – tiba tanpa kusadari selimutku tersingkap dan tertarik jatuh saat tak sengaja kugerakkan kaki, bersamaan dengan jeritan panjang memilukan dari bibirku. Sebelum pingsan, aku masih sempat melirik headline reportase itu:

“KAKI DIAMPUTASI, PACAR PUN MELAYANG”


(Setiabudi, Jakarta/ Pada sebuah subuh di 16 Januari 2009)

Seandainya ...


Seandainya …



Satu kata yang sa paling suka adalah ‘seandainya’ … Banyak hal yang bila disandingkan deng kata ini maka artinya akan sangat beda, bahkan bisa berubah sama sekali. Saat di bis kemarin malam, tiba – tiba sa terdiam saat pikiran sa mencoba mencerna satu pertanyaan ini, ‘SEANDAINYA KO TRA DILAHIRKAN DI TANAH PAPUA PADA ERA INI, TRUS ….?”. dan sa langsung mendapatkan banyak alasan bahwa sa tetap bersyukur pada Tuhan karena sa lahir sesuai deng apa yang terlah terjadi 25 tahun di Fanindi Manokwari, karena kalo seandainya sa tra lahir sesuai deng apa yang telah digariskan maka, akan ada banyak hal yang berubah dan mungkin sa tidak akan seperti sa yang sekarang. Sa ingin membahasnya dari perspektif KEBAHAGIAN. Intinya adalah sa bersyukur untuk apapun yang sa pu saat ini.

Mari tong pikirkan apa yang terjadi seandainya sa tidak lahir sesuai deng apa yang telah terjadi.

PILIHAN YANG BAIK:
#1. Sa bisa saja lahir jadi seseorang yang hampir sempurna dengan kecantikan yang mantap, uang yang banyak, otak yang encer, pu keluarga yang begitu menyayangi sa, pu sahabat – sahabat yang sungguh baik dan setia, pu kesehatan yang fit, dan pu pacar atau suami plus anak – anak yang sungguh sempurna.

TAPI …..
Berapa persen orang di dunia yang bisa memiliki itu???? Apakah ada statistiknya? + 1 pertanyaan penting: Apakah ia BAHAGIA?

Jadi sa coba analisa secara kasar betapa beruntungnya sa lahir sesuai deng yang telah terjadi 25 tahun lalu.

SEANDAINYA SA TRA LAHIR DI PAPUA PADA ERA INI, DAN MISALNYA SA LAHIR DI BEBERAPA ABAD SEBELUMNYA DI TANAH INI, MAKA …

#1. Sebagai perempuan, pasti sangat berat bagi sa. Pertama sa tidak pu kesempatan untuk mengakses kesehatan khususnya yang berkaitan dengan kesehatan perempuan dan anak, apalagi untuk orang deng ketahanan fisik yang lemah seperti sa. Mulai dari masalah melahirkan sampe lain – lain, sa mungkin tra pu cukup kesempatan untuk mendapatkan itu semua.

#2. Sa pasti tra pu akses ke pendidikan yang baik dibanding era ini karna saat itu laki – laki masih diutamakan untuk mendapatkan pengetahuan kebudayaan suku, jadi kemungkinan sa hanya terbatas mempelajari beberapa hal saja.

#3. Sa pasti hanya boleh mengenal dan pacaran deng cowok yang dari satu suku deng sa saja, karna ada aturan – aturan tak tertulis yang mengatur sa. Bandingkan deng saat ini dimana sa bisa mengenal laki2 komin dari suku lain yang mungkin pada jaman dulu lumayan sulit dilakukan.

SEANDAINYA SA TRA LAHIR DI PAPUA, DAN MISALNYA SA LAHIR DI TEMPAT LAIN TAPI PADA ERA INI, MAKA …

#1. Sa bisa saja sekarang ini menjadi salah satu dari buruh perempuan deng upah sangat rendah di beberapa tempat di Asia dan Afrika.

#2. Sa bisa saja jadi sekarang ini jadi pekerja seks atau wanita korban perdagangan wanita di beberapa bagian Asia dan Eropa.

#3. Sa bisa saja jadi seorang wanita cantik dan supermodel tapi mungkin tidak pu banyak sahabat dekat dan terjebak dalam gaya hedonisme dan kehilangan konsep kebahagiaan dan arah hidup.

#4. Sa bisa saja mengalami ‘sunat wanita’ yang sangat menyakitkan sebagaimana yang terjadi pada perempuan – perempuan yang tinggal di negara – negara sub Sahara.

#5. Sa bisa saja mengalami pingitan dan dijodohkan sejak bayi dan dinikahkan pada usia dini sebagaimana yang terjadi pada para perempuan di beberapa tempat lainnya di dunia.

#6. Sa bisa saja menjadi korban pelecehan seksual tingkat tinggi ataupun menjadi korban kekerasan pada perempuan sebagaimana yang terjadi di beberapa negara di Asia.

#7. Sa bisa saja menjadi seorang TKW yang bekerja dan disiksa oleh majikan di luar negeri.

#8. Sa bisa saja jadi pengemis, pencopet, penodong, dan masuk daftar criminal karena sa tra pu cukup uang untuk menyambung hidup.

#9. Sa bisa saja menjadi beberapa mimpi buruk yang ditakutkan oleh para perempuan di mana saja.

SEANDAINYA SA TRA LAHIR DI SAPU KELUARGA, DAN MISALNYA SA LAHIR DI KELUARGA ORANG LAIN, MAKA …

#1. Sa bisa saja menjadi sasaran kemarahan dari bapak atau ibu sa yang tra bisa mengontrol emosi tiap hari.

#2. Sa bisa saja jadi perem yang terpaksa menjual diri demi sapu keluarga ataupun guna menutupi utang keluarga ataupun demi membalas budi.

#3. Sa bisa saja mendapat bapa atau mama yang tra dukung sa sekolah setinggi mungkin, yang paksa sa harus kawin pada umur sekian dan mungkin juga menjodohkan sa.

#4. Sa bisa saja dapat sodara – sodara yang kapala lap atau pukul sa karna sa perem dan ttra bisa terima sa pu pendapat.

#5. Sa bisa hidup terkukung di rumah saja karna sa tra boleh keluar setelah menginjak umur tertentu.

Jadi ….

Sa bersyukur untuk sa pu orangtua yang sangat mendukung sa walau kadang tong bertengkar karena pendapat yang berbeda, untuk sapu sodara laki – laki dong walau dong tukang mabuk tapi sangat melindungi sa dan bisa menerima sapu pendapat yang sangat mandiri sejak kecil dan kadang bertentangan deng dong pu pendapat. Sa bersyukur untuk sapu keluarga besar yang tra pernah peduli sa mo pake baju apa, bagaya deng gaya apa saja asalkan tra telanjang dan bikin malu keluarga.

Akhirnya, sa berharap kam juga bisa mulai menikmati dan bersyukur untuk apa yang kam pu saat ini, untuk hidup yang kam pu dan bisa setiap hari katakan: Tuhan, sa bersyukur dilahirkan dan besar di Papua sebagai orang Papua dengan segala keunikan yang Kau beri. Amen.

(Setiabudi, Jakarta/ 15 Januari 2009)

God knows ...

Malam ini, 14 Januari 2009, hujan sedang turun dengan derasnya menumpahi jalan – jalan dan bentang luas yang terhampar di atas bumi yang bernama Jakarta. Air – air got berlomba – lomba meluap memenuhi jalan ditingkahi dengan gemuruh bunyi di langit.

Sejam yang lalu aku baru saja menghabiskan sepiring Ayam Bakar Lengkuas yang beroleskan madu, membuatku menikmati setiap gigitan daging lembut bangsa Aves ini, tentu saja tak lupa kubalurkan sambal beraroma asam jeruk purut dan memaksa dua potong irisan timun tipis dan tomat masuk ke dalam lambungku. Sesekali saat makan kunikmati sorotan lampu mobil yang menampar masuk ke dalam tirai – tirai warung pinggir jalan ini, yang kerap disebut penduduk kotaku KENTAKI alias warung ‘kentara kaki’ atau bahasa Indonesianya sih ‘warung yang hanya mempertontonkan penampakan kakimu’saja. Aku tak lupa juga menikmati pantulan sinar lampu jalanan yang menari lincah di antara bulir air yang telah rapi mengikat setiap karbondioksida dan kerabatnya saat turun ini, sebuah upaya alam membersihkan paru – parunya. Mungkin persis seperti saat kau menangis saat kemasukan debu.

Hari ini aku mengalami banyak hal yang cukup menyenangkan sebenarnya, tapi lebih daripada itu adalah aku mengalami hal lain dimana hari demi hari, aku melihat Yesus menjawab setiap pergumulanku, walau kadang aku sudah pada titik dimana benar – benar berserah karena tak tau hendak bagaimana lagi.

Hari ini aku bertemu dengan papa dan oomku. Seperti biasa, aku harus mengunjungi mereka di sebuah hotel Bintang lima di perbatasan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Aku menikmati mendengar cerita papaku tentang keponakan – keponakan kecilku di rumah plus juga sambil sedikit nelangsa mendengar kelakuan kakak tertuaku yang seperti ‘black sheep of the family’. Tentu saja acara bertemu seperti ini membawa sedikit keuntungan buatku, secara finansial dan emosi … tapi tetap saja aku merasa sedikit ‘bangkrut’ kala saudara – saudaraku mendengar bahwa aku yang bertugas belanja maka mereka pun mengirim daftar pesanan mereka yang banyak TAPI tanpa menitipkan uang barang sepeserpun. Benar – benar ‘saudara’ banget kelakuan mereka hehehehe

Satu hal yang sebenarnya menjadi dasar penulisan kisah hari ini adalah bahwa aku merasa benar - benar diberkati karena aku percaya Tuhan tahu bahwa keluargaku akan berkunjung ke Jakarta sehingga aku tak langsung berangkat dan memperoleh visa karena aku terakhir kali bertemu papa dan oomku di hotel yang sama adalah awal bulan lalu, sehingga ini menjadi semacam kunjungan terakhir sebelum aku berangkat.

Saat aku pergi dari hotel dan mencari barang – barang pesanan, saat aku turun dari bis dan tidak memperhatikan halte, ternyata satu hal yang selama dua bulan di Jakarta kutunggu akhirnya tiba juga. Seorang perempuan dari perwakilan kantor pemberi beasiswa menelponku dan bilang bahwa aku AKAN berangkat tanggal 18 Januari tapi aku harus menandatangani sebuah form Visa yang wajib kukirimkan balik secepat mungkin. Saat mendengar hal itu, reaksiku yang baru saja turun di tempat yang salah, tiba – tiba berubah dengan semangat penuh seperti mobil yang sedang dipacu dengan cepat karena tanpa kusadar kutinju udara dan berteriak “Yes” dengan senyum selebar ‘panta kuali’; tukang ojek pun terpana. Menit berikutnya adalah aku telah hinggap di kamar kos dan bersegera mencari warnet terdekat.

Aku percaya bahwa ini adalah jawaban yang kuminta dari Yesus pagi ini.

Pagi ini saat bangun dan merasa begitu lelah, sebenarnya sejak kemarin sore aku merasa lelah. Bukan secara fisik, tapi secara mental. Aku capek dan bilang pada Yesus bahwa aku benar – benar merasa tidak sanggup dan aku minta kepastian ‘ya’ atau ‘tidak’. Aku capek berada dalam ketidakpastian seperti ini. Jadi pagi hari saat kubangun lagi, kutanyakan hal yang sama pada Yesus dan kusampaikan bahwa aku benar – benar perlu kepastian pengurusan minggu ini karna aku merasa benar tidak sanggup. Aku berada pada fase ketidakmengertian, mungkin karena pekerjaan paling berat di dunia adalah MENUNGGU.

Jangan pikir aku seseorang yang cukup kuat untuk menghadapi segala sesuatu, yang aku tahu aku sempat menangis dan menanyakan pada Tuhan dan bilang bahwa aku sudah tidak sanggup, capek dan lelah. Aku bilang bahwa aku butuh Yesus untuk menghadapi semua ini karena aku tak sanggup lagi memikirkannya. Dan ……. Voila!!! Allah bekerja dengan waktu dan kebijakan-Nya. Allah tahu yang terbaik untukku pada saat yang tepat.

P. Lama: Pengkhotbah: 3

3:1. UNTUK SEGALA SESUATU ADA MASANYA, UNTUK APAPUN DI BAWAH LANGIT ADA WAKTUNYA.
3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.

3:11. IA MEMBUAT SEGALA SESUATU INDAH PADA WAKTUNYA, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
3:12 Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.
3:13 Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.
3:14 AKU TAHU BAHWA SEGALA SESUATU YANG DILAKUKAN ALLAH AKAN TETAP ADA UNTUK SELAMANYA; ITU TAK DAPAT DITAMBAH DAN TAK DAPAT DIKURANGI; ALLAH BERBUAT DEMIKIAN, SUPAYA MANUSIA TAKUT AKAN DIA.
3:15 Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.

3:16. Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.
3:17 Berkatalah aku dalam hati: "Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya."
3:18 Tentang anak-anak manusia aku berkata dalam hati: "Allah hendak menguji mereka dan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka hanyalah binatang."
3:19 Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia.
3:20 Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu.
3:21 Siapakah yang mengetahui, apakah nafas manusia naik ke atas dan nafas binatang turun ke bawah bumi.
3:22 Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?

Monday, 12 January 2009

Kesaksian sahabatku: 70 x 7 masa

Malam ini tanggal 10 Januari 2008, aku baru saja selesai menghubungi sahabatku sejak kecil di Manokwari untuk berbagi cerita karena kebetulan aku ada sedikit masalah. Aku merencanakan bercerita hanya sekitar 10 menit saja tapi tiba – tiba molor menjadi 30 menit lebih karena mendengar apa yang kudengar dari dia. Sebuah cerita yang mengingatkanku sekali lagi bahwa Allah itu ADA, NYATA, dan BERKUASA. Selain itu juga sebuah kisah yang mungkin perlu didoakan agar kiranya Allah mau memalingkan wajah-Nya dan memberi belas kasihan atas kota Manokwari, kiranya Allah menyenggara atas kota Manokwari di Papua Barat.

Kisah berikut ini berdasarkan pembicaraan lewat telpon dengan seorang sahabat, kiranya bila ada kekurangan, biarlah Tuhan bantu melengkapi kepingan kisah yang hilang. Sahabat saya masih sangat takut, sedikit tidak percaya dengan apa yang dialaminya subuh tadi sehingga saya tidak dapat menuliskan namanya di dalam kesaksian ini namun saya berharap tidak mengurangi esensi dari kisah ini. Saya juga tidak secara benar-tepat menuliskan apa yang tertulis atau akurat 100% dari apa yang sebenarnya terjadi karena tak ada suatu alat perekam tapi esensi yang disampaikan adalah benar adanya. Kiranya Tuhan mau bantu ketidaksempurnaan ini dan menambahkannya di hati saudara. Saya tidak bermaksud apapun dengan mengirim kisah ini, hanya ingin berbagi tentang penyertaan kasih Yesus dan juga tentang apa yang diberikan kepada sahabat saya dan kiraya dapat menguatkan iman saudara bahwa sungguh Allah mengasihi manusia.


Salam hangat,


Maya
*****

OMA, KITAB DANIEL, DAN GEMPA MANOKWARI


Tempat : Fanindi, Manokwari
Tanggal : 10 Januari 2009
Pukul : 02. 00 WIT


Kisah ini bermula saat sahabat saya, sebut saja Anna, sedang menginap di rumah omanya. Saat itu Manokwari sedang dilanda gempa susulan usai gempa besar tanggal 4 Januari 2008 (sampai saat saya menulis kisah ini gempa kecil – kecilan masih tetap terjadi). Sebenarnya ini bukanlah rumah oma dalam pertalian sedarahnya karena mereka terikat hubungan karena sejak kecil keluarga Anna dan keluarga Oma telah bersahabat dan pernah bertetangga serta telah menganggap diri sebagai keluarga. Kebetulan rumah Oma yang telah berusia lanjut (lebih dari 80 tahun) saat itu hanya dihuni oleh 2 cucu perempuannya (sebut saja Mawar dan Melati) ditambah seorang anaknya dari luar kota yang menemani karena Manokwari sedang diguncang gempa. Sedianya rumah oma hanya ditempati oleh oma dan anak lelaki bungsu dan menantunya plus Melati tapi karena mereka sedang berlibur ke Manado, maka Anna beserta anak lelaki Oma dan putrinya yang menempati rumah ditambah Melati yang tidak liburan ke orang tuanya di Manggarai. Keluarga oma adalah keturunan Cina – Bugis dan beragama Kristen Protestan khususnya denominasi mereka adalah GBI Bethany sedangkan Anna, sahabatku sejak kecil, adalah penganut Protestan khususnya GKI (presbiterian) dan ia asli Waropen.

Anna sejak kecil menyayangi oma seperti omanya sendiri dan bahkan sewaktu SMA hingga kuliah tinggal menemani oma, ia yang kerap merawat oma dan menemani tinggal. Jadi ia punya dua keluarga dan dua rumah. Aku sudah sangat paham dengan fenomena ini karena aku sudah tau mencarinya kemana bila ia tidak ada di rumahnya, kebetulan aku satu kompleks dengan oma dan Anna.


BAGIAN I: KISAH PENYERTAAN YESUS PADA OMA
Pada malam itu, sudah menjelang subuh, karena Manokwari yang masih terus diguncang gempa susulan hingga beberapa kali (terjadi 2 kali sekitar jam 22. 00 WIT dan tengah malam), sehingga oma yang sedang sakit lanjut usia terpaksa ditunggui oleh para cucunya termasuk Anna. Oma sejak gempa terjadi kondisi kesehatannya makin parah, jantungnya kuat plus anggota – anggota badannya khususnya tangan dan kaki juga makin sakit, belum ditambah lagi dengan mulutnya yang sempat terserang stroke jadi hanya bisa minum dari samping, semakin menambah beban pemikiran penghuni rumah bercat putih dengan kolam ikan itu.

Gempa yang baru terjadi beberapa jam sebelumnya membuat mereka kelelahan dan berjaga namun menjelang pukul 2 subuh, oma yang sedang tertidur di dekat sofa dan sahabatku Anna sedang berusaha mencari ngantuk karena benar – benar kelelahan setiap saat berjaga memantau kesehatan oma plus harus bereaksi cepat kala gempa. Anna bukan perempuan kekar dengan tonjolan otot tetapi hanya seorang perempuan hitam manis dan mungil dengan tubuh proposional. Saat itu semua penghuni rumah telah tidur dengan nyenyak, Mawar dan Melati tidur di atas kasur di dekat buffet, bapaknya Mawar memilih tidur di bagian lainnya. Anna memilih tidur di sofa. Sebelum ia tidur, ia memutuskan untuk berdoa, sebuah ritual yang jarang ia lakukan.

Sambil duduk di sofa dan memegang bantalan sofa, dipejamkan matanya dan mulai berdoa. Saat ia berdoa, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia sudah lama sekali tidak berdoa dan ia malu pada Tuhan karena lama tidak berdoa tapi karena saat ini keadaan oma yang parah, ia ingin sekali berdoa untuk omanya.

Saat Anna mulai berdoa ia bilang pada Yesus begini: “Tuhan, sa mo berdoa tapi sa malu karena sa jarang berdoa dan sa juga tidak tahu apa yang mo sa doakan.” . Saat ia baru berucap kata itu, tiba – tiba didengarnya sebuah suara, ia berkata bahwa suara itu seperti berasal dari dalam dirinya dan ia benar – benar ketakutan. Ia belum pernah mengalami hal itu dan ia juga dahulu tidak percaya kalau ada orang yang menceritakan saat berkhotbah bahwa Tuhan berbicara. Namun kali ini ia mendengar seperti itu. Suara itu bukan seperti suara laki – laki atau perempuan. Suara itu berkata kepadanya bahwa ia jangan takut dan khawatir. Ia boleh berdoa dengan apa yang ia tahu.

Karena ia masih takut, dijawabnya suara itu sambil berdoa, menutup mata, dan menangis, “Tapi Tuhan sa tra tau berdoa, sa malu karna sa berdosa. Sa takut Tuhan karena semua yang terjadi sekarang apalagi tentang oma.”. Kemudian suara itu berkata lagi dalam hatinya, “Jangan Khawatir. Jangan Takut. Aku menyertai kalian. Aku mengasihi oma.”. Suara itu terus berkata dan meyakinkan bahwa oma akan baik – baik saja. Tapi Anna benar – benar masih ketakutan dan menangis terus.

Suara itu kemudian melanjutkan lagi bicara bahwa Ia sedang melihat Anna dan keluarga oma saat ini. Seketika itu juga Anna semakin takut dan ia berkata bagaimana bisa. Suara itu berbicara lagi apakah Anna mau melihat dia. Anna bilang bahwa ia berdosa dan ia malu. Saat itu ia berdoa tertunduk sambil memeluk bantalan sofa. Tiba – tiba ia merasakan dagunya diangkat dan didongakkan melihat ke atas langit – langit rumah. Dan suara itu meminta ia melihat. Anna segera membuka mata namun yang dilihatnya hanyalah langit – langit rumah. Sekali lagi suara itu meminta Anna menutup mata dan berdoa kembali, Anna berkata bahwa ia tidak melihat apapun. Jadi suara itu memberikan solusi padanya, kalau ia mau melihat sekarang, bukalah telapak tangannya dan lihatlah suara itu di dalam tangannya, tapi karena Anna masih saja takut, ia pun berkata bahwa Ia berdosa dan tidak layak untuk melihat gambar ataupun rupa gambar suara itu. Ia benar – benar sangat ketakutan, berada pada titik percaya atau tidak. Sangat bingung.

Suara itu kemudian berkata bahwa Anna tidak perlu takut. Tiba – tiba suara itu bilang pada Anna, “ulurkan tanganmu dan sentuhlah kepala Omamu, katakan padanya, “Oma, Yesus mengasihimu. Jangan takut dan khawatir. Yesus mengasihimu.”. Anna masih takut tapi ia mengaku ada sebuah kekuatan yang menggerakannya tanpa disadarinya karena tangannya telah ada di kepala oma yang terbaring dan ia mengatakan, “Oma, Tuhan Yesus mengasihi oma. Oma jangan takut. Tuhan Yesus sayang oma.”. Ia juga tiba – tiba telah beranjak kepada kaki Mawar dan Melati yang sedang terbaring tidur nyenyak dan memegang kaki mereka dan berdoa dengan pesan yang sama.

Tidak lama setelah itu oma tiba – tiba bangun dan meminta ditempatkan di kursi roda dan dibawa pintu ke luar, karena jantungnya tiba – tiba sangat sakit. Semua penghuni rumah dengan pagar kayu bercat hijau dan penuh tetumbuhan itu tergopoh – gopoh bangun. Suara itu berbicara kepada Anna temanku bahwa berikan “air hangat dicampur gula” kepada oma. Anna tanpa pikir panjang segera ke dapur menyalakan lampu dan membuat air gula secepat mungkin. Oma masih menahan sakit di jantungnya. Suara itu berbicara lagi kepada Anna bahwa “Jangan takut dan khawatir. Yesus mengasihi oma. Pencobaan ini hanya berlangsung hingga jam 4 saja. Tidak lebih dari itu. Oma akan baik – baik dan tidur nyenyak.”. Awalnya oma menolak minum air gula, tapi Anna kembali menawarkan oma minum. Oma yang biasanya sangat sulit minum dari gelas karena pengaruh mulutnya yang bengkok karena pernah strok, saat itu bisa minum dengan banyak hingga setengah gelas habis. Setelah itu sekitar jam 4 kurang, oma pun terlelap hingga pagi tanpa gangguan apapun dan bangun pagi dengan semangat.

BAGIAN II: KITAB DANIEL
Saat itu kata Anna, usai memperhatikan oma yang sedang mencari ngantuk dan kadang masih sedikit menahan sakit dengan jantungnya, ia tiba – tiba diingatkan untuk membaca Alkitab; suatu kegiatan yang sangat jarang dilakukan Anna. Saat itu Mawar dan Melati karena sangat kecapaian meminta oma mereka untuk tidur jadi mereka bisa tidur. Tapi karena oma masih belum bisa tidur, Anna akhirnya memutuskan untuk menemani menjaga oma. Jadi oma sudah tidur tapi masih kadang terbangun, kejadian membaca Alkitab ini terjadi dari sebelum pukul 4 pagi hingga jam 5 pagi dan Anna mengakui baru kali ini ia membaca banyak pasal Alkitab tanpa merasa mengantuk.

Sebenarnya Anna tidak ingin membaca Alkitab tapi suara itu kembali bicara bahwa ia harus membaca Alkitab jadi ia pun segera mengambil Alkitab. Pada bagian ini, aku kurang tau pasti apakah letak Alkitab di dekat sofa atau di dekat buffet. Entahlah. Yang pasti di ruang tamu itu ada Alkitab. Anna pun berdoa dan bilang bahwa ia tidak tahu mau membaca dari mana, tentang kisah apa, dan bagaimana memulainya. Suara itu kembali lagi bicara, “Jangan takut dan khawatir. Bukalah di kitab Daniel dan Aku akan menunjukan apa yang harus kau baca”. Saat itu Anna berkisah bahwa tangannya disuruh membuka pada Daniel 7 dan ia mulai membaca. Semalam itu ia pun membaca dari Daniel 7 hingga sampai berakhirnya kitab Daniel. Anna bertutur padaku bahwa ia sangat jarang membaca Alkitab apalagi kitab Daniel bukanlah kitab Favorit ataupun kitab yang sering dibacanya.

Ada satu bagian dari kitab Daniel yang saat ia membacanya ia begitu kaget, ketakutan, campur aduk semuanya, apalagi saat suara itu berkata bahwa itulah yang sedang terjadi untuk Manokwari; kota Anna dan aku dibesarkan. Anna enggan menjelaskan secara gamblang apa yang dimaksud untuk pembacaan di dalam Daniel 9: 20 – 27 tapi ia hanya bilang padaku bahwa kata suara itu pembacaan itu untuk kota Manokwari, sehingga kami harus banyak berdoa. Aku mencoba menuliskannya di sini. Semoga saat ini apabila saudara membacanya sebaiknya dari pasal – pasal sebelumnya. Sehingga dapat kita pahami tentang maksud Tuhan.

Daniel 9: 20 – 27

TUJUH PULUH KALI TUJUH MASA

9:20. Sementara aku berbicara dan berdoa dan mengaku dosaku dan dosa bangsaku, bangsa Israel, dan menyampaikan ke hadapan TUHAN, Allahku, permohonanku bagi gunung kudus Allahku,

9:21 sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel, dia yang telah kulihat dalam penglihatan yang dahulu itu pada waktu persembahan korban petang hari.

9:22 Lalu ia mengajari aku dan berbicara dengan aku: "Daniel, sekarang aku datang untuk memberi akal budi kepadamu untuk mengerti.

9:23 Ketika engkau mulai menyampaikan permohonan keluarlah suatu firman, maka aku datang untuk memberitahukannya kepadamu, sebab engkau sangat dikasihi. Jadi camkanlah firman itu dan perhatikanlah penglihatan itu!

9:24 Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus.

9:25 Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan.

9:26 Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dan tempat kudus itu, tetapi raja itu akan menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan.

9:27 Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu."

Inilah satu bagian Firman yang kata Anna untuk kota Manokwari, saat aku menelponnya tadi, sambil membuka Alkitab, aku sempat ketakutan dan tersadar bahwa Allah sedang bekerja untuk Manokwari lewat cara-Nya.

Anna mengaku bahwa usai membaca firman ia hanya bisa menangis. Sekitar pukul 5 pagi, ia mendengar suara itu berkata lagi bahwa ia boleh tidur dan ia akan tidur lelap tapi pada pukul 6 ia harus bangun pagi dan memang terjadi seperti yang didengarnya.

***

Itulah kisah Anna yang kudengar lewat penuturannya lewat telpon. Ia hanya bisa bilang bahwa sebenarnya ada bagian yang tidak bisa ia sampaikan ke orang banyak tapi karena aku sahabatnya begitu juga Mawar dan Melati maka ia tidak dapat menahan kegundahan hatinya. Melati memang sempat heran karena Anna menangis hingga matanya bengkak tak karuan. Anna tadi sempat mengakui bahwa kejadian seperti ini pernah dialaminya waktu ia SMA tapi kemudian ia acuhkan dan tidak memedulikannya, hanya saat itu lewat mimpi kala tidur.

Aku secara pribadi meyakini bahwa saat ini Allah sedang berencana untuk sahabatku Anna dan juga warga Manokwari. Aku secara pribadi percaya bahwa gempa ini adalah seperti MEGAFON Allah yang dipakai untuk membangunkan umat Kristen di kota Manokwari untuk kembali mencari Yesus dan mulai benar – benar menempatkan Yesus sebagai Tuhan dan Raja atas kota Manokwari. Sudah saatnya kita bertobat. Serukanlah pertobatan hingga Allah berkenan memalingkan wajah-Nya dan memberikan belas kasihan. Kota Niniwe saja yang hendak dihancurkan Allah masih bisa berubah nasibnya kala penduduk kota memohon belas kasihan Allah, mengapa Manokwari tidak? Untuk generasi muda Manokwari dan Tanah Papua umumnya: Jangan berkeras hati. Saya percaya bahwa akhir zaman telah dekat. Jangan biarkan Yesus menunggu, turn back to God, please.


(Setiabudi, Jakarta 10 Januari 2009)