Malam ini setelah merasa sedikit baikan usai beberapa hari lalu sempat drop (sempat pusing dan hampir jatuh usai perayaan natal masyarakat Papua; thanx kaka Yana untuk gerakan sigapnya menangkapku), setelah menghabiskan hari Minggu dengan tidur selama 17 jam lebih, usai menghabiskan hari memulihkan keadaan usai mimisan yang tak kunjung henti kemarin, usai bermalas – malasan dengan menonton film seharian, akhirnya hari ini merasa menemukan diriku kembali.
Beberapa hari ini aku bersyukur memperoleh pemahaman tentang hidupku lebih baik, tentang hubungan dengan sesama dan lawan jenis, tentang kesehatan dan diriku sendiri. Aku benar – benar bersyukur untuk hidupku karena pada akhirnya, Allah begitu baik dalam hidupku dan hidup adalah sebuah hal yang layak disyukuri.
Segala sesuatu yang dirancangkan Tuhan, baik adanya. Mungkin ungkapan ini tepat untuk hidupku saat ini. Usai stress dan gugup beberapa minggu lalu, akhirnya semua yang kuterima adalah yang terbaik. Pihak donor beasiswaku setuju aku transfer ke jurusan lain dan puji Tuhan, ternyata aku hanya butuh waktu 1 semester untuk bisa memperoleh gelar Master of Studies dan aku bersyukur karena ada mata kuliah yang kuambil yang berhubungan dengan rencana kerjaku di masa depan yang lebih berhubungan dengan pembangunan dan setidaknya mata kuliah lama juga tercakup dalam jurusan baru sehingga tak perlu dibuang. Jadi bidang ilmuku nanti lebih melihat studi terjemahan dari sisi makronya dan bagaimana relasinya dengan bahasa dalam konteks di Indonesia, dan Asia serta pembangunan dan masyarakat. Tak terlalu ke unsur intrinsik bahasa sendiri, lebih ke hubungan masyarakat dan peran bahasa. Aku bisa bilang bahwa aku menyukai jalan Tuhan seperti ini. Benar – benar sebuah keajaiban bagiku.
Aku juga bersyukur karena tentang bagaimana relasi antar sesama dan lawan jenis, aku dibukakan sekali lagi tentang sebuah kebenaran. Aku memang agak keras kepala dalam hal ini. Aku bukannya seorang ‘Thomas’ yang enggan percaya, tapi aku memang tipe orang yang ‘learning by doing’ jadi ya walau di jawaban doaku tiap kali yang kudengar adalah rasa tidak sejahtera untuk pergumulanku tentang seseorang ini tapi toh, aku tetap bilang, “tapi .. ini sa pu free will kan, Tuhan. Kali ini saja ya.” Aku berusaha mencoba membuat sebuah penawaran, sebuah bargaining. Tapi akhirnya kejadian kemarin membukakan mataku bahwa ‘He’s not the right man for me!’. Dia bukan yang tepat untukku. Pada titik ini, aku ingin bilang, “Terima kasih Bapa, Kau sungguh baik.”
Aku bersyukur diberi pemahaman bahwa tidur adalah sebuah terapi sejak jaman purba untuk memulihkan kesehatan. Aku bersyukur untuk 3 hari yang penuh acara tidur dan ternyata, energiku benar – benar diisi penuh. Terima kasih Tuhan telah menciptakan mekanisme alami dalam tubuh untuk mendinginkan mesin – mesin tubuh yang bekerja keras untuk menjalankan proses ‘produksi’ yang bernama hidup. Terima kasih karena semua ‘mesin hidup’ masih bekerja dengan baik, mulai dari jantung, paru – paru, hati hingga otak dan juga sensor kulit.
Akhirnya aku ingin bilang bahwa apapun yang terjadi pada anda hari ini, seburuk apapun itu, percayalah (bahwa akan ada jalan keluar terbaik). Saat ini anda hanya sedang berjalan dalam sebuah lorong gelap yang pada akhirnya tetap di ujung sana ada jalan keluarnya, dan percayalah … saat ini ada Tuhan yang sedang memegang tangan anda. Satu kata saja: Percaya!
(Campbell, Canberra/ 17 Desember 2009; dari yang merasa diberkati)
0 comments:
Post a Comment