Search This Blog

Loading...

Monday, 21 December 2009

Madam Intsia

Prolog

Kulangkahkan kakiku secepat mungkin, berusaha menghindari kegelapan di sepanjang lorong CBD kota ini. Ragu – ragu kulihat jam tanganku, “Jam setengah tujuh malam”, batinku. Sambil memikul tas punggungku yang berisi netbook, beberapa catatan resensi buku yang kubaca, beberapa catatan dan buku petunjuk, peta dan juga map berisi resume kerja dan riwayat hidup dan beberapa benda lainnya, aku memicingkan mata mencoba melihat dalam keremangan cahaya lampu jalan. ‘Sa su di mana ni?’, tanyaku pada diri sendiri. “Macam sa tersesat ka”, batinku lagi.

Tergopoh – gopoh kukeluarkan sebuah peta kusut bertuliskan nama sebuah kota di belahan selatan planet ini. Dengan seksama kuperhatikan nama jalan yang kutuju guna menghadiri sebuah presentasi informal klub pencinta buku online di sebuah toko buku kecil di CBD1 kota ini. ‘Spertinya sa masih di blok yang sama, tapi di mana ee?’, batinku lagi. Aku bukan seorang yang pandai membaca peta karena lewat pengalaman sebelumnya, aku berulang kali tersesat di kotaku dan kali ini aku terpaksa harus berangkat sendiri ke kota ini karena permintaan seorang teman. Demi sebuah persahabatan di dunia maya, demi seorang teman. Temanku hendak menerbitkan bukunya tentang catatan harian online, dan aku bersama beberapa teman lainnya diminta membuat resensinya.

Sekali lagi kuperhatikan lorong jalan yang setengah kulalui. ‘Sa su di tempat yang benar ka, di arah yang benar?’, tanyaku pada diri sendiri. Samar – samar lewat lampu lorong yang temaram, kulihat dinding – dinding bata yang menempel di bangunan bergaya Victoria yang menjulang hingga 5 – 6 lantai, tong – tong sampah di pinggir lorong dan sesekali bau tak sedap. Musim dingin ini benar – benar semakin membuatku hampir mengutuki undangan temanku. Satu musim yang paling kubenci adalah musim dingin, membuatku sedikit susah bernafas dan juga sering kedinginan. Untunglah saat ini aku masih sempat memakai pakaian musim dinginku yang memadai, mulai dari sarung tangan, sweater2 hingga coat3 dan beanie4,dan tak lupa sepasang boot5. Tapi tetap saja angin dingin yang bertiup menembus lorong ini membuatku sedikit tersentak. Dingin!

Aku mulai mencari lagi nama jalan dan tempat yang kutuju. Sepertinya aku harus bertanya pada seseorang. Kukeluarkan telepon genggamku dan mulai menekan nomor temanku. ‘Tut … tut .. tut …’. Tak ada bunyi, tak ada reaksi. Kucoba sekali lagi. Masih sama. Tak sabar, kucoba lagi dan tiba – tiba terhubung dengan perangkat perekam suara. Sial!!!

Sambil berusaha untuk tetap berpikir positif, kuberjalan lagi. Kali ini aku berbelok ke sebuah lorong yang sedikit menjauh ke arah luar CBD. Mudah – mudahan aku bisa tiba tepat waktu karena acaranya akan mulai jam 7. Mudah – mudahan aku bisa bertemu dengan seseorang dan memastikan bahwa aku tak salah baca peta. Mudah – mudahan. Sambil terus mencoba untuk tetap hangat dengan sedikit menyesap anggur merah berjenis Pinot Noir yang sengaja kumasukan dalam termos mini, kulangkahkan kaki menuju seseorang yang sedang berdiri di pinggiran lorong. Seorang pria kulit putih berusia 30an tahun. “Excuse me, can you tell me where is the ‘Freedom bookshop’ somewhere around here?”, tanyaku. “Sorry, I Dunno.”, katanya. Aku tak habis akal, mungkin saja ia tahu jalannya, jadi kuberanikan lagi bertanya, “I beg you pardon, but may be you can tell me where is the Duffy St, you know, near the St James Anglican Church?”. Satu jawabnya membuatku langsung terdiam, “I am so sorry, mate6. I’m a newcomer7 here!” Sial!!!

Aku masih tak putus asa, kucoba lagi berjalan dan bertemu beberapa orang tapi hasilnya masih nihil. Tak lama setelah itu, aku mencoba untuk membaca peta lagi. Masih tak menemukan juga tempat yang kuinginkan. Tiba – tiba guruh terdengar dan hujan pun turun dengan sukses dari langit. Sial!!! Padahal setahuku prakiraan cuaca hari ini tak akan turun hujan. Aneh!

Aku kembali lagi berbelok ke sebuah lorong yang diapit beberapa flat. Sedikit nekat bermandi hujan walau hanya bermodal hood8 dari coat yang kupakai. Aku harus tiba apapun resikonya. Harus tiba! Mungkin perlu naik taksi, batinku. Tapi … ah aku masih harus membayar sejumlah tagihan. Pertentangan batinku masih belum selesai hingga tiba tiba di depan mataku, kulihat bahwa lorong ini buntu. Sial!

Sekali lagi kulirik jam tanganku, ‘Yeskol, su jam 7. 30 tuh. Ampun. Su terlambat nih.’, aku mulai panik plus kedinginan. Angin pun masih bertiup. Aku mulai menggigil dan pandanganku sedikit mulai berpendar dan langkahku mulai terasa berat dan lemas. Mabuk? Pusing? Entahlah! Yang aku tahu, ada sebuah tangan yang menarikku dari lorong ini. Sebuah tangan beraroma musk.

***



“Tim. Call me Tim! Welcome to my flat!”, katanya kala aku mulai membuka mataku.Ia pun mulai bicara dengan bahasa yang bagiku tetaplah sebuah bahasa asing. Mulai dari keadaanku yang sedikit lemas beberapa jam lalu. Hingga tiba – tiba ia berujar bahwa ia harus ke mini market terdekat karena tak ada makanan apapun yang bisa disajikannya. Aku hanya bisa tergagap – gagap karena masih tak bisa mencerna perkataannya dengan baik.Hingga ia keluar dari rumah, aku masih sedikit terheran – heran bagaimana mungkin ia mau menolongku, seseorang yang tak dikenalnya dan meninggalkanku di flatnya, di depan perapiannya yang bermodel kuno. Aku masih tak bisa mengerti kejadian ini. Yang aku tahu, aku sedang terbaring hangat ditutupi doona9.

Masih sibuk berpikir dan mencoba menghubungi temanku. Tiba – tiba kudengar sebuah suara yang cukup membuatku terkejut. “Ko pu nama siapa?”. Kucoba memalingkan wajahku, mencoba melihat siapa yang bicara dalam bahasa yang kukenal sejak kecil. Tapi mataku masih sedikit berat.

“Su lama sa tra ketemu orang – orang seperti ko. Su sangat lama. 3 atau 5 tahun atau lebih, entahlah. Sa tra tau. Sa rindu pulang”, katanya lagi.

Aku masih mencoba mencerna kata – katanya. Dia pun mulai berkisah.

Dia bercerita tentang negerinya di utara benua ini. Sebuah tempat bernama Papua. Tentang rumahnya yang hijau, lembab dan asri. Tentang saudara – saudaranya yang kekar, yang kuat dan ceria. Tentang tetangga – tetangga mereka yang suka berkunjung dan bernyanyi bersama. Tentang angin. Tentang udara.

Sambil meringkuk dalam doona yang hangat dan Tim yang tak kunjung datang, aku mendengar ia terus berbicara.

Ia memanggilku dengan sebutan anak dan sibuk bicara, mengenang masa silam yang masih tetap berbekas dan berbau ‘baru’. Kisah indahnya pun berganti tentang penderitaannya. Ia pun sengaja mengganti tuturannya dengan sedikit lebih formal.

“Kau tahu, aku tak lagi muda, anakku. Tak lagi muda. Tapi aku beruntung bisa berakhir di sini, di tempat ini. Tak seperti kerabatku yang lain. Aku ingat kala di hari ulang tahunku, entah yang keberapa, yang pasti sudah sangat lama sejak kuinjak bumi dan menyapa mentari. Mereka datang, anakku. Mereka, orang – orang yang membuatku hingga berada di sini.”

“Kala itu, semua saudara – saudaraku telah pergi, entah naik kapal entah lewat darat. Mereka pergi. Pergi secara paksa. Aku ingat hari itu. Kala mereka memerkosaku di depan anak – anak dan cucu – cucuku, di depan tetangga - tetanggaku. Kala membanting tubuhku yang tua ini ke bumi, menancapkan kuku – kuku mereka yang tajam ke tubuhku, merobek dagingku. Aku berteriak, memaki, menjerit … tapi tak seorangpun yang mendengarku. Serak suaraku! Hilang!”

“Kau tahu, rambutku yang indah dibuat menjadi ibarat bukit gundul. Mereka merantaiku, anakku. Menguliti pakaianku yang indah, menelanjangiku. Para pelindungku di sekitar rumah dibuat tak berdaya dengan sejumlah ancaman. Aku hanya bisa melihat para pelindungku berlinang air mata. Aku masih sempat melihat bekas – bekas kekerasan di tubuh para pelindungku yang berkulit gelap.”

“Mereka membawaku ke beberapa tempat yang tak kutahu, anakku, menawanku. Tubuhku dirusak mereka, tapi aku tak berdaya. Sungguh tak berdaya. Tapi aku beruntung, karena aku bisa dihargai dan dijaga dengan baik hingga saat ini. Tak seperti beberapa kerabat jauh yang pernah kutemui. Kata sang angin yang berhembus, beberapa dari mereka sempat merasakan hidup bahagia beberapa tahun sebelum kemudian dicampakkan.”

“Andai saja kau tahu, apa yang mereka lakukan padaku dan para kerabatku. Mencabut kami dengan paksa dari rumah, memerkosa, merampok keindahan. Menyiksa para pelindung kami. Mereka begitu kuat, anakku. Entahlah … apakah nurani telah mati di hati mereka? Entahlah, apakah lembaran uang yang juga berasal dari kami telah membutakan mereka? Apakah nafsu dan kekuasaan begitu menutup mata mereka? Entahlah!”

“Selama aku ditawan, banyak sekali kusaksikan, kudengar dan kualami perlakuan mereka yang kadang luput dari perhatian banyak orang. Kau tahu, aku mendengar tentang KKN, entah itu seperti apa, tapi yang kutahu, ada saja yang datang dan membawa banyak uang untuk mengakui bahwa rumah kami bukanlah rumah kami. Mereka berbohong, anakku. Kebohongan terbesar! “

Ia masih terus sibuk mengoceh dan aku masih tetap mendengar curahan hatinya.

“Aku telah tua. Sudah sangat tua. Entah kapan aku kan kembali ke rumahku, entah kapan aku akan mencium aroma lembab tanah sehabis hujan. Entah kapan Maleo, kakatua, dan taun – taun akan bermain ke rumahku dan bertengger di jemariku? Aku tak tahu. Tapi yang pasti, aku rindu rumah, anakku.”

“Ah kupikir kau sudah mengantuk. Tidurlah. Jangan khawatir, Tim akan datang membawa makanan untukmu. Ia lelaki yang baik, karena ia mencintaiku dan setia merawatku. Lihatlah tubuhku yang masih tetap indah”

Aku tercenung kala berbalik dan menatapnya dengan seksama. Tercenung dan menjerit sekuat tenaga. Dari bayang perapian kulihat ia tegak di sana dengan kakinya yang berwarna cokelat sebanyak 4 buah. Dan suaranya yang tegas namun lembut meninabobokanku sebelum tak sadarkan diri,

“Jangan takut anakku. Panggil aku, Madam Intsia. Si kayu besi.”

(Canberra, 21 Desember 2009/ Terinspirasi kala menunggu bis dan memandang bangku di bus stop)

Glosarry
1. CBD kepanjangan dari Central Business District, seperti sebuah pusat kegiatan perekonomian sebuah kota.
2. Sweater: Baju hangat, umumnya berupa produk rajut
3. Coat: Sejenis jubah ataupun pakaian panjang kadang dirancang untuk membuat tubuh hangat
4. Beanie: Nama untuk Topi Kupluk di Australia, New Zealand ataupun Inggris. Di Papua umumnya disebut topi borju.
5. Sepatu but
6. Mate: Di Australia merupakan sebutan untuk kawan. Umumnya untuk menyebut pada lawan bicara yang berjenis kelamin lelaki tetapi kadang juga dipakai untuk perempuan. Di Papua seperti kata, “ces; coy, wan/ kawan”.
7. Newcomer: Pendatang baru; orang baru
8. Hood: Sebuah tutup kepala yang umumnya tersambung pada jubah/ jaket. Paling sering ditemukan dalam gaya hip – hop.
9. Doona: Nama Quilt dalam Australian English. Quilt adalah sejenis sprei tebal yang sangat hangat yang umumnya berisikan bulu angsa, streoform ataupun bahan lainnya; sekilas mirip dengan bed cover di Indonesia.

0 comments: