Malam ini usai nonton Film Avatar dan sambil membuka koran Kompas online dan sibuk membaca berita termasuk berita regional yang salah satunya berasal dari tanah kelahiranku, tanah Papua, aku sedikit tersentak. Aku memang sudah membaca sebuah catatan teman di Facebook tentang kematian Kelly Kwalik, seorang panglima OPM tapi belum membaca beritanya di Koran sejak beberapa hari lalu karena kecapaian kerja. Satu yang membuatku cukup tersentak adalah sebuah benang merah yang sama yang kulihat dengan apa yang kutonton di film Avatar malam ini, karena memang saat tadi pergi membeli tiket film, kulakukan secara impulsif tanpa membaca resensi film. Jadi saat film pun dimulai, yang ada aku seakan merasakan sebuah ‘rendezvous’ dalam bentuk lain, merasakan sebuah pertalian yang entahlah, tak dapat kujelaskan di sini.
Berita koran yang kubaca banyak bercerita tentang prosesi pasca kematian Kelly Kwalik, mulai dari otopsi dan lain – lain serta respon massa. Aku juga masih teringat beberapa bulan lalu saat melihat ‘debat seru’ antara pimpinan TNI dan Polda Papua di tanah Papua yang bersikukuh bahwa mereka tahu siapa Kelly Kwalik dalam kaitannya dengan penembakan di areal sebuah perusahaan tambang terbesar di negara kepulauan ini. Tiba – tiba otakku malah berputar – putar tadi, dan bahkan emosinya masih terasa hingga catatan ini kutulis. Catatan ini mungkin lebih banyak berkisar antara film Avatar dan tema ceritanya yang mirip dengan kejadian saat ini di tanahku Papua, yang ujung – ujungnya sama yaitu perseteruan antara masyarakat asli pemilik hak ulayat dan perusahaan pertambangan.
Dalam film Avatar yang dibesut oleh sutradara James Cameron, diceritakan pada suatu waktu di tahun 2154 tentang eksplorasi tambang di sebuah planet bernama Pandora, sebuah planet yang hijau dan tertutup pohon dan penuh dengan keanekaragaman hayati dan bentuk – bentuk kehidupan yang menakjubkan plus air – air terjun yang sangat indah. Di mana dalam film ini, digambarkan perusahaan ini, yang konon milik orang Amerika, menginvasi dan menambang mineral yang bernilai tinggi. Tetapi sayangnya, dari kacamata orang Amerika pemilik perusahaan ini, kehadiran masyarakat asli, yang secara sarkastik dibilang sebagai ‘the blue monkey (monyet biru)’alias orang Na’vi yang merupakan pribumi planet Pandora dan dikategorikan sebagai alien merusak rencana ekspansi perusahaan. Berulang kali kendaraan operasional pertambangan diganggu dengan senjara tradisional mereka berupa tombak dan panah. Iya, para orang Na’vi di film ini bukanlah alien sejenis yang suka digambarkan oleh Hollywood dengan persenjataan canggih tapi lebih sebagai orang – orang suku terasing (versi manusia modern) di planet ini yang dikategorikan sebagai orang – orang yang terbelakang dan teknologinya kurang berkembang. Mereka juga berasal dari ras yang berbeda dengan manusia karena mempunyai tinggi kurang lebih 10 kaki (hitung saja ke dalam CM berapa meter tuh) plus berkulit biru dengan strip putih dan tentu saja dengan sebuah ekor yang mempunyai serat – serat optis yang bisa terkonek dengan makhluk hidup lainya di planet ini ibarat kabel data.
Demi kelancaran proyek pertambangan dan operasional perusahaan, selain membayar sejumlah tenaga keamanan berupa tentara dengan persenjataan yang super duper canggih binti ajaib, perusahaan pun mempunyai program bernama Avatar. Sebuah proyek rekayasa genetika dimana menciptakan hybrid orang Na’vi yang terkonek dengan ‘sistem transfer jiwa’ dari manusia – manusia yang dijadikan ‘kelinci percobaan’. Jadi intinya sih Avatar itu adalah saat jiwamu ditranser masuk ke tubuh hybrid dan kau hanya tertidur manis dalam sebuah kapsul mirip seperti yang dipakai oleh orang Kaukasia untuk membuat kulit mereka kecoklatan (tanning capsule). Jadi saat jiwamu tertransfer ke hybrid yang dilepas ke habitat orang Na’vi, tubuh manusiamu bisa merasakan apa yang dialami oleh tubuh hibridmu. Tugas utama avatar ini adalah belajar tentang budaya dan kebiasaan dari orang Na’vi supaya dapat dipelajari sebuah cara untuk merelokasi komunitas ini secara damai. Sebuah program mengumpulkan data secara langsung alias model penelitian observasi partisipatif begitu.
Masalah menjadi rumit kala si Jake Sully (Sam Worthington), tokoh utama dalam film ini, seorang marinir yang lumpuh dari pinggang ke bawah, yang ditugaskan sebagai Avatar malah jatuh cinta pada Neytiri (suaranya diisi oleh Zoe Saldana) dan juga tercabik antara kepentingan membela kepentingan perusahaan dan juga komunitas Na’vi. Sully yang lumpuh ini, tapi menjadi sempurna dan tak cacat dalam tubuh Avatarnya, tak urung jatuh cinta pada alam Pandora dan budaya serta kehidupan suku Na’vi. Ia diajarkan banyak tentang alam, bagaimana keterkaitan antar individu, alam, dan semua simbiosis yang terjadi. Lewat tubuh hibridnya, Sully menjadi mediator antara kehidupan dan budaya Na’vi dan manusia. Tapi sayangnya, Sully tetap harus berhadapan dengan kenyataan bahwa deposit mineral terbanyak yang diinginkan perusahaan Amerika ini sayangnya berada tepat di atas tanah keramat komunitas Na’vi, yang disebut mereka sebagai Eiwa, sejenis ibu pertiwi atau mother Earth alias sumber segala kehidupan di planet ini.
Satu hal yang membuat aku begitu takjub menonton film ini adalah bukan hanya karena besutan kamera a la sutradara James Cameron dan teknologi sistem 3-D fusion dan spesial efek dalam film ini tapi bagaimana seorang Sully belajar tentang sebuah kebudayaan baru, tentang sudut pandang. Film ini menurutku lebih kepada sudut pandang kite terhadap kehidupan khususnya kepada mereka yang dikategorikan masyarakat marjinal. Komunitas Na’vi percaya bahwa hutan dan alam adalah bagian dari kehidupan mereka dan pohon – pohon berbagi sebuah keharmonisan hidup bagi mereka dan alam khususnya pohon menjadi ibu. Sully yang notabene orang Amerika yang besar di abad modern, dibawa mengenali kecantikan dalam hutan lebat yang penuh dengan berbagai jenis organisme eksotis, sebuah kecantikan dalam hal – hal sederhana. Sully juga belajar bagaimana membuktikan diri sebagai seseorang yang layak masuk dalam daftar pejuang suku yang tentu saja tantangannya bisa bikin nyawa melayang.
Selain itu, banyak tantangan yang dipelajari Sully yang ternyata malah membuatnya jatuh cinta lebih dalam kepada komunitas ini terlepas dari bentuk ras mereka yang bagi manusia begitu aneh dan tak cantik. Aku sempat terkekeh saat melihat Sully harus belajar bahasa Na’vi, belajar tentang mitos dan adat mereka dalam memerlakukan alam, misalnya saja usai membunuh hewan buruan ada doa khusus. Selain itu, Sully diajarkan bahwa konsep energi dalam planet ini saling berhubungan dan semuanya haya pinjaman. Sangat filosofis menurutku.
Akan tetapi, rupanya bila ketamakan, kekuasaan dan uang bertemu yang ada adalah sebuah sejarah yang berulang kali terjadi dalam sejarah manusia. Toh semulia apapun tujuan awal program Avatar, pada akhirnya para pemegang perusahaan plus kekuatan militer mereka memutuskan bahwa komunitas Na’vi harus dipindahkan terserah resikonya mau seperti apa dan dampaknya mau seperti apa, selama mineral mereka bisa ditambang. Tentu saja yang ada adalah pertempuran besar – besaran yang tak terelakkan. Selama pertempuran yang tak imbang, lah pihak perusahaan dengan kekuatan militernya memborbardir sebuah pohon raksasa yang dikeramatkan suku Na’vi dan tentu saja memakan korban yang cukup banyak di pihak komunitas Na’vi termasuk kepala suku (yang notabene adalah ayah dari Neytiri).
Akhirnya, Sully memutuskan untuk memilih, dibantu dengan sejumlah temannya yang membangkang dari program Avatar, mereka menyusun strategi perlawanan dengan mengadakan kerjasama dengan para pribumi lainnya dari planet ini, dari suku berkuda hingga suku di pesisir untuk mengangkat senjata melawan invasi orang – orang Amerika dari perusahaan. Pertempuran tak imbang pun terjadi yang tentu saja memakan korban cukup banyak termasuk pahlawan – pahlawan terhebat dari komunitas Na’vi. Tapi rupanya Eiwa, sang ibu alamnya Pandora tak tinggal diam. Akhir cerita sih mudah ditebak, kemenangan komunitas Na’vi dan si Sully sukses ditransfer secara utuh dengan kekuatan Eiwa menjadi orang Na’vi dan tentu saja kekalahan besar di pihak perusahaan tambang yang seluruh asetnya dibekukan dan seluruh personelnya mulai dari para petinggi perusahaan hingga tentara dipersona non gratae-kan keluar dari planet ini.
Film ini pada satu sisi mengingatkanku pada kejadian yang terus berlangsung di tanah Papua, sebuah cerita yang hampir sama tapi tak serupa. Cerita tentang perlawanan suku – suku khususnya yang berkenaan dengan kepemilikan hak ulayat dengan kepentingan perusahaan. Aku bukan siapa – siapa yang bisa bilang bahwa siapa benar dan siapa yang salah. Yang aku tahu dan terus bertanya, apakah tak ada cara menghentikan kekerasan dan darah yang mengalir di tanah ini? Menghentikan segala bentuk kekerasan tanpa akhir yang terus saja terjadi? Menghentikan semua jerit tangis yang seakan menjadi sebuah citra tanah ini di negara kepulauan ini?
Aku masih punya banyak pertanyaan dan juga sejumlah tanda tanya, karena toh aku bukan seorang sejarahwan yang bisa mengusut tuntas masalah di tanah ini. Aku bukan siapa – siapa. Tapi aku sempat bertanya, apakah kita, khususnya pihak – pihak yang menggunakan kekerasan sebagai jalan keluar dari segala macam persoalan di tanah ini, apakah kita harus dulu menjadi seperti Jake Sully dalam tubuh Avatarnya untuk bisa menghargai alam dan segala keindahan yang terkandung dalam alam? (Aku suka perkataannya Jake dan Neytiri ‘ I see you’; sangat filosofis). Apakah kita harus dulu menghadapi segala macam tantangan untuk bisa menghargai tiap bentuk kehidupan yang dititipkan di planet ini? Apakah kita tak bisa sedikit saja mengganti persepsi kita tentang standar kebahagiaan dari sudut pandang orang lain? Tentang apa yang kita tahu adalah yang terbaik mungkin bukanlah apa yang dibutuhkan oleh orang lain, bukan apa yang menjadi kebahagiaan mereka (aku ingat percakapan dalam rekaman videonya Jake Sully serta argumentasinya kepada petinggi perusahaan tentang observasinya tentang komunitas Na’vi).
Sudah saatnya melihat yang terbaik untuk masalah di tanah ini, jangan ada lagi kekerasan yang terjadi. Jangan karena ketamakan, kekuasaan dan uang membutakan mata bahwa jauh di sana, ada banyak bentuk kehidupan yang layak dihargai. Bukan karena teknologi yang canggih yang menentukan bahwa kita lebih berhak dan lebih berkuasa mengelola alam ini, bukan karena tingginya kemampuan mengelola dan pendidikan versi kita yang menentukan bahwa kita tahu yang terbaik bagi orang lain.
Selama ketamakan, kekuasaan dan uang masih menjadi orientasi, selama cinta diri sendiri dan kekerasan masih menjadi jalan keluar, selama ego manusia bahwa ‘sa-lebih-baik-dari-ko’ masih dipegang dan tak dicari titik temu, selama itu pula bibit perlawanan akan selalu pecah.
Selama arogansi bahwa ‘sa-yang-berhak’ di tanah ini karena alasan A-Z seperti dikatakan oleh para petinggi program Pandora, selama pemahaman antarbudaya tak dijalin, selama akar permasalahan tak dicari jalan keluarnya, selama itulah akan selalu ada friksi antar dua belah pihak.
Entah apa yang akan terjadi di tanah Papua ke depan, entah seperti Pandora di film Avatar ataupun sebaliknya, aku berharap tak ada lagi darah yang tertumpah di tanah ini, tak ada lagi tangis ratapan yang terdengar alam. Aku bukan siapa – siapa tapi satu yang pasti, aku tahu bahwa ‘kekerasan bukanlah jalan keluar!’
(18 Desember 2009, Campbell, Canberra/ Seseorang yang masih merasakan emosi film ‘Avatar’ dan belajar bahwa cara terbaik memahami orang lain adalah dengan melihat dari sudut pandang mereka.)
0 comments:
Post a Comment