Search This Blog

Loading...

Wednesday, 16 December 2009

Anak: dari fashion, makanan hingga hiburan

Usai doa malam, aku teringat bahwa aku masih punya hutang tulisan. Aku dalam dua minggu terakhir ini teringat bahwa aku ingin membuat tulisan tentang anak, dan aku hampir lupa, hingga tadi usai berdoa e ketemu satu ayat di Alkitab tentang anak di Mazmur 127: 3. Karna Alkitab yang kubaca versi Good News, tertulis demikian, “Children are a gift from the Lord; they are a real blessing.” (Anak - anak adalah hadiah dari Tuhan; mereka adalah berkat yang sesungguhnya) Entah kenapa tuh tulisan pake kata sandang ‘a’ dan bukannya ‘the’, don’t ask me lah! (kenapa aku malah ber-Singlish ya ^_^)

Anyway, tulisan kali ini memang tentang anak dan mungkin tak akan terstruktur dengan rapi karena toh aku suka lompat – lompat dengan ideku. Toh, ini hanya uneg – uneg yang perlu ‘kumuntahkan’ keluar, lah aku memang punya morning sickness yang gemar muntah dan mual kalo pagi apalagi kalo pagi dan harus naik bis selama hampir 1 jam ke tempat kerja tiap rabu dan kamis yang bawaannya langsung bukan hanya morning sickness tapi juga motion sickness jadi tiap keluar dari bis dan tiap tiba di tempat kerja, wastafel kamar mandi menjadi tempat wajib mengamati muka. Tapi yang pasti bukan karena mau punya anak ya, lha urusan itu lain lagi 

Ngomong – ngomong tentang tempat kerja, aku malah teringat pada percakapanku dengan ibu MD, guru bahasa Indonesia di sekolahku, tentang anak. Kebetulan sih ibu MD juga guru dan pernah tinggal di Indonesia lebih dari 5 tahun ikut suaminya yang atase pertahanan bidang Angkatan Laut plus pernah 2 tahun tinggal dan mengajar di PNG dan juga kerap pindah – pindah negara karena tugas suaminya, serta punya 4 orang anak yang dua di antaranya kembar. Aku ingat bagaimana kami bercakap tentang dunia anak. Banyak sekali hal yang kudapatkan termasuk dalam bidang pendidikan dan buku anak. Tapi dalam tulisanku kali ini aku lebih membuatnya terbagi – bagi sebelum keburu hilang dari otak.

Fashion
Aku ingat benar bagaimana kuutarakan bahwa saat ini banyak sekali produk fashion yang bukan anak – anak, yang menurutku membuat anak kecil menjadi semacam korban fashion orang dewasa. Aku dan ibu MD sepakat bahwa anak – anak harus menjadi anak – anak. Anak – anak harus hidup dalam dunia mereka yang penuh fantasi dan tanpa batas untuk menjadi apa yang mereka pikirkan dan inginkan dan bukan korban fantasi orang dewasa. Aku bukannya tak suka pada dunia mode dan cara-melekatkan-selembar-kain-di-atas-tubuh, karena toh hobiku masih tetap suka membuat sketfsa fashion., yang aku maksudkan, aku tak suka dengan industri pakaian yang menargetkan anak – anak untuk menjadi serupa ataupun menjadi miniatur orang dewasa. Menjadi serupa.

Aku teringat bagaimana terkaget – kaget melihat fashion anak yang menurutku, memaksakan anak – anak menjadi lebih dewasa dari umur mereka. Bagaimana tidak, trend fashion orang dewasa yang lebih ‘berani’ yang mengekspos bagian – bagian tubuh yang sangat menarik secara seksual, dicontek mentah – mentah di fashion anak. Belum lagi dengan bahan pakaiannya.

Sebenarya kalo ditilik dari fungsi, sebenarnya apa sih yang dibutuhkan oleh anak – anak dalam berpakaian. Aku secara pribadi melihat masa anak – anak adakah waktu yang tepat untuk memberi kesempatan mereka megembangkan sensor saraf dan kemampuan motorik mereka. Mulai dari berlari, melompat hingga berenang. Yang aku pikir, anak – anak layak mendapatkan pakaian yang menyerap keringat, yang membuat mereka leluasa bergerak, yang tak menghambat perkembangan mereka.

Tapi coba lihat ke pasar, apa yang ditawarkan oleh industri pakaian? Yang sialnya, kita sebagai pengguna benar – benar termakan rayuan industri pakaian untuk menjadikan anak – anak kita korban fashion tak sehat. Aku sering miris melihat jenis – jenis sepatu masa kini yang kadang terlalu flat shoes alias beralas rata ataupun terlalu berhak tinggi bagi anak – anak. Padahal dari sebuah artikel kesehatan beberapa tahun lalu, bagi anak, fungsi alas kaki yang baik sangat berpengaruh pada kesehatan sendi mereka. Malah lebih baik kalo lebih sering diberi kesempatan kaki telanjang beberapa saat dan berjalan di medan tak rata. Mungkin bagi orang normal masalah sepatu bukan masalah, tapi bagi orang – orang sepertiku, alas kaki dan sepatu ataupun sandal, salah pakai sepatu bisa efek masuk rumah sakit karena masalah di saraf kaki yang ujung – ujungnya bisa efek ke tulang sendi dan pinggul.

Sudah saatnya memberi anak – anak yang terbaik bagi mereka, bukan yang dianjurkan oleh pakar fashion tapi cobalah kembali menilai ke fungsi dan manfaat kesehatan. Fashion sebaik apapun itu tetaplah menjalankan fungsi untuk menutupi tubuh kita., demi alasan kesehatan. Jangan pernah menggadaikan masa kanak – kanak seorang anak demi sebuah tren fashion. Think wise!

Makanan dan minuman
Mungkin untuk hal ini aku sangat keras pada keponakan – keponakanku dan kadang dulu menjadi hal yang sering membuatku berkelahi dengan ibu mereka. Tapi toh ada juga ipar yang keras kepala dan sering kami bertengkar karena hal ini. Bukannya apa, aku berpikir bahwa anak adalah masa emas yang menentukan seseorang ke depannya mo jadi apa, baik secara jasmani dan psikologis. Apa yang tertanam sejak masa kanak – kanak sangat berdampak besar pada perkembangan seorang manusia di masa mendatang.

Tentang makanan, coba tilik sekarang jajanan yang sering ditawarkan di pasaran? Mulai dari minuman tak sehat hingga jajanan yang hanya menang tampilan. Aku tak bilang bahwa kita tak boleh makan sesuatu yang dikemas dan diawetkan tapi bagaimana kita memakannya dan siapa yang layak memakannya.

Dulu aku sangat gemas dan kadang menjadi bahan pertengkaran melihat ipar yang memberikan minuman Frutang dan Soft drink pada keponakanku yang berumur kurang dari 2 tahun. Bagiku itu sebuah cara yang salah karena otak dan sel – sel keponakanku masih begitu baik dan kenapa harus direcoki dengan sejumlah pengawet. Begitu juga dengan es batu dan minuman dingin bagi keponakanku. Bagiku, makanan dan minuman dingin hanyalah sebuah pilihan dan bukannya sebuah kewajiban. Bagiku selagi bisa, semua makanan yang tak berada pada suhu kamar sebaiknya dikurangi konsumsinya bagi anak – anak.

Mungkin aku cukup ekstrem dalam makanan dan minuman karena toh aku sudah merasakan bagaimana pentingnya makanan bagi tubuh dan bagaimana efeknya bila tak dikontrol dengan baik. Aku merasakan era di mana karna asupan makanan yang salah bisa mempengaruhi kesehatan jangka panjang.

Aku cuma ingin bilang, sebelum terlambat, perhatikanlah apa yang masuk ke dalam tubuh anak. Jangan menunggu hingga diagnosa dokter menyatakan bahwa ada yang salah dengan anak karena faktor makanan. Seorang teman bapak pernah bercerita bahwa pangkat keponakan jauhnya harus diet makanan padahal baru berumur kurang dari 10 tahun karena terkena diabetes tipe 2 karena makanan yang tak sehat. Orang tuanya tak memberikan makanan yang tepat dan memberikan makanan cepat saji dan terlalu banyak mengikuti keinginan anak untuk jajan yang tak sehat.

Tentang mengikuti maunya anak, aku tahu bahwa kadang orang tua sulit membuat anak makan dan akhirnya memilih keinginan anak. Aku kok malah teringat bincang – bincang di meja makan kala kak Butet Manurung mengobrol denganku dan teman – teman tentang anak kecil yang harus dikejar – kejar untuk makan dan kadang butuh waktu berjam – jam memaksa mereka makan. Kak Butet dengan cuek bilang, “kalau kita terbiasa mengikuti apa yang mereka inginkan walaupun kita tahu makanan itu tak sehar, selamanya mereka akan begitu. Kenapa juga harus dikejar, biarkan mereka barang sekejap. Pada akhirnya mereka akan lapar juga dan pasti memilih makan. Semakin dikejar dan semakin dimanjakan malah semakin membuat mereka akan makin susah disuruh makan. Perkara makan itu perkara purba karena dilakukan demi bertahan hidup.” Aku setuju dalam perkara ini. Aku pikir peran orang tua ataupun kerabatlah yang menentukan bagaimana seorang anak menentukan nilai suatu makanan.

Tentang peran makanan, aku kok malah teringat pada perkataan pak Aser Rouw, seorang peneliti pertanian di Manokwari di sebuah catatanku ‘invasi lidah’ bahwa perkara makanan bukanlah masalah ‘modern’ atau ‘tradisional’ tapi tentang masalah pemenuhan gizi. Jadi aku pikir kitalah yang sangat berperan besar menentukan mau dibawa kemana ‘lidah’ anak kita. Kitalah yang berperan menentukan sikap pandang anak kita kelak, dan kitalah yang bertanggungjawab untuk kesehatan anak kita. Think wise!

Hiburan
Kalau untuk hal ini, aku jujur sangat tak suka dengan TV Indonesia yang cuma punya sedikit waktu untuk tayangan anak – anak. Apa karena anak – anak tak menguntungkan secara ekonomi? Entahlah ..

Bayangkan? Coba saja hitung dalam sehari ada berapa banyak tayangan sehat yang mendidik untuk anak – anak? Pasti sedikit. Belum lagi berapa banyak lagu yang diciptakan untuk anak – anak? Pasti sedikit.

Lalu apa yang ditawarkan pada anak – anak? Saudara bisa tanya pada keponakan – keponakan atau anak anda, berapa banyak lagu anak yang mereka tahu. Jangan – jangan malah lagu cinta terbaru dari band ternama saat ini, ataupun juga film yang mengumbar kekerasan, seks ataupun hedonisme berlebihan. Belum lagi sinetron cengeng yang tak masuk akal dan membuat anak – anak penuh curiga pada teman – temannya. Benar – benar tayangan dan hiburan yang tak mendidik.

Padahal masa anak – anak adalah masa emas perkembangan otak dan emosi mereka, karena semua respon dari luar disimpan dalam alam bawah sadar tanpa sebuah filter. Beda dengan orang dewasa yang masih punya waktu mempersepsikan dan menyimpan dalam memori jangka pendek sebelum dipilah masuk dalam storage long term memory. Bayangkan bila yang diisi dalam masa tumbuh kembang anak adalah lagu – lagu yang berisi sakit hati, dendam, selingkuh, patah hati, dan cinta tak sehat? Bayangkan bila yang diisi adalah adegan penuh ketakutan, kekerasan, seks, dan penipuan dan kekecewaan. Mau dibawa kemana generasi yang emosi dan memorinya tak disiapkan untuk menghargai hidup dengan lebih baik, yang menikmati hidup dalam kesederhanaan hidup itu sendiri?

Aku percaya masa kanak – kanak adalah masa di mana anak diberikan pemahaman dasar tentang hidup, tentang bagaimana menghargai tiap bentuk kehidupan, tentang menghargai relasi antar sesama, tentang bagaimana mengekspresikan emosi dengan benar dan tepat.

Aku percaya pada bagian ini kalian akan memrotesku tentang hiburan dan lain – lain. Bagiku, lebih baik membuang sedikit waktu dan usaha serta uang demi tumbuh kembang anak dibanding menerima yang ditawarkan arus. Ingat, hidup adalah pilihan. Mulailah dari hal – hal sederhana, ajak anak – anak anda bercerita, mendongenglah bagi mereka sebelum tidur, dengarkan mereka bercerita, ceritakan apa yang anda tahu tentang alam, misalnya tentang terjadinya hujan, ciptakan permainan – permainan rumah. Anda hanya perlu waktu dan sedikit kerja keras.

Ada banyak ide yang bisa dicoba untuk membuat hidup anda berkualitas. Anda tak perlu TV kadang – kadang untuk membuat hidup anak anda berwarna. Banyak ide simpel yang bisa dicoba, misalnya saja membuat film anda sendiri. Bisa memakai kamera digital sederhana dan merekam proses kehidupan rumah anda, dan diedit dengan software sederhana di komputer dan diubah formatnya dalam media yang bisa dipakai di rumah. Anda bisa membuat boneka kertas menjadi semacam drama miniatur yang bisa dipakai meransang imajinasi anak di rumah. Tak punya lagu anak? Mengapa tak mencoba menulis liriknya sendiri dan merekam di HP anda dan kemudian ajarkan anak anda menyanyikannya. Hidup adalah pilihan. Think Wise!


Aku masih punya banyak hal yang ingin kubagi tentang dunia anak karena bagiku anak adalah sebuah anugerah yang perlu disyukuri. Aku melihat bagaimana teman – teman di sekelilingku saat ini yang merindukan kelahiran anak dan berusaha semampu mereka untuk mempunyai anak tapi belum dianugerahi. Sedang di luar sana, banyak orang yang tak menganggap anak adalah anugerah. Betapa mirisnya.

Sudah saatnya anak – anak mendapat perhatian lebih dalam pembangunan di Papua. Sudah saatnya anak – anak Papua menjadi prioritas pembangunan karena mereka lah yang akan meneruskan ke arah mana tanah ini dibawa. Dengan menginvestasikan yang terbaik pada masa kini, maka kelak kita juga lah akan melihat bagaimana mereka menjadi generasi penerus yang mampu menjadi berkat.

Perubahan untuk kehidupan anak Papua bukan ada di masa depan, bukan ada pada abad mendatang, perubahan bukan diberikan oleh orang lain, bukan pula merupakan sebuah hibah. Perubahan bisa dilakukan bila kita, anda dan saya, berani membuat sebuah keputusan untuk memprioritaskan kehidupan anak hari ini. Jangan terlalu berpikir sulit, mulailah bertanya, apakah anak, baik anak anda sendiri, keponakan atau anak siapa saja di sekitar anda saat ini sudah mendapat perhatian dan kebaikan anda hari ini?

Hidup adalah pilihan (dengan memilih kita akan hidup). Think Wise!


(Canberra 18 Desember 2009/ Seseorang yang kelak akan mengajarkan anak lelakinya bahwa menangis itu sehat dan tak salah.)

0 comments: