Sore ini sambil mencoba menetralkan moodku yang masih berlompatan kesana kemari, aku mencoba untuk membuat sebuah pelarian, kata psikologku, dengan membuat catatan di blogku. Sebuah pelarian dari tekanan esai terakhir 2,500 kata yang entah, kok masih terbang mengawang – awang di sebuah tempat di otakku. Padahal sedari tadi sudah kupanggil dengan lembut, “ayo otak sayang, ayo mood belajar, ko di mana ka? Sayang itu ko ka? Jang lari – lari ka!” . Aku hampir saja memakai cara lama yang tak gentle dan dilarang oleh psikologku seperti “e nene, ko dimana? Awas ko eee, berani sa ketemu ko ni, ko harus bikin akan tempo dan selesai dalam waktu lama eee. Nan sa kasi ko tobat belajar eeee. Sampe ko step – step …”
Ditemani Josh Groban dan suaranya yang versi bajakan, aku pun mulai mencoba merangkai kata – kata di blog ini yang berlarian dengan cepat bagaikan saputan kilat di ujung – ujung pohon, bagaikan kerjapan mata, begitu cepat, begitu tak peduli.
Hari ini, Minggu 15 November 2009, satu hari terlewat dari ekstensi tugasku dan aku bahkan belum selesai menulis esai ini. Mulai dari serangan sakit kepala yang entahlah beberapa hari ini membuatku terhuyung – huyung kala berdiri, tapi toh tetap nekat saja berjalan kaki bersama teman serumah (yang juga sedang sakit) dan belanja dan mengejar sale-1- hari di mall ^_^, mulai dari mood yang sedikit terganggu saat mendengar keponakan kecil yang kutunggu sejak lama dan lahir dengan air ketuban berwarna keruh sekali dan harus mengunjungi dokter anak dalam beberapa hari ini plus sedikit tidak sejahtera mendengar bayi kecilku harus disuntik selama 3 kali/ hari selama 3 hari demi kekuatannya (aku sedikit cemas tadi tapi usai berdoa merasa sedikit lega). Selain itu aku juga tak ikut ibadah hari ini dan melewatkan siang multicultural di gereja walaupun komunitas West Papua sudah mendapat jatah menyanyi di gereja.
Tapi hari ini aku belajar sesuatu, belajar berkomunikasi dengan teman serumah yang 1 jurusan denganku. Belajar tentang bagaimana mengonsep diri kita, belajar menerima diri kita dan aku bahagia ia sudah sedikit lebih tenang, lebih bisa menerima bahwa segala sesuatu tak harus berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, dengan apa yang kita harapkan. Bahwa kita hanya bisa menjalani semampu kita apa yang bisa lakukan, selebihnya biarkan menjadi sebuah bagian dari hidup kita walaupun adalah sebuah kegagalan.
Ada beberapa poin yang kami bahas dan menurutku sangat menarik untuk dibagikan dalam ‘percakapan dapur’ kami hari ini.
#1. Bagian (kecil) dari hidup
Hari ini kami membahas tentang tekanan tugas dan bagaimana melihat semuanya itu. sambil tertawa dan membahas tentang dinamika hidup kami yang kok malah ‘taputar’ hanya pada kampus dan mencari nilai bagus di kampus dan lain – lain plus ekspektasi diri pribadi dan lain – lain, kami pun mencapai sebuah resolusi diri pribadi bahwa beasiswa ini ataupun kuliah ini adalah salah satu bagian dari hidup kami tapi bukan yang terpenting dan bukan pula yang harus didewakan dan kalau memang tak masuk tingkat Master, that’s life.
Kegagalan pastilah tetap ada di dalam hidup dan tak harus ditolak. Tapi setidaknya yang bisa aku lihat dan tadi kuungkapkan adalah bagaimana bisa mensyukuri keadaan ini, dibayarkan beasiswa gratis dan bergengsi di universitas #1 di Asia Pasifik dan dibayari masuk dan mendapatkan pelajaran berharga di universitas #16 dunia yang tentu saja bergerak dengan ekspektasi yang berbeda. Apalagi jurusan kami adalah salah satu jurusan langka yang di Australia pun hanya ada di 5 universitas dan yang mempunyai program hingga 2 tahun hanya ada di Universitas ini. Selain itu, satu – satunya yang membahas tentang terjemahan tulisan (translation) untuk bahasa Indonesia secara mendetail hanya ada di universitas ini, walaupun yang menawarkan terjemahan bahasa Indonesia – Inggris ada juga di 2 universitas lainnya tapi sayangnya mereka tak fokus pada terjemahan tulisan dan digabung dengan interpreting (penerjemahan lisan) dan dengan durasi yang sangat singkat (1 – 1,5 tahun). Sehingga kesempatan merasakan atmosfer akademik di satu – satunya universitas riset terbesar di Australia merupakan satu hal yang patut disyukuri.
Kami juga wajib bersyukur diberikan satu pelajaran berharga untuk bisa merasakan tekanan akademik tugas yang membuat mimpi – mimpi buruk sering hadir dalam alam bawah sadar saat tidur. Setidaknya kami bersyukur masuk di sebuah universitas yang menerapkan sistem ketat dan belajar bagaimana belajar ‘kaki-kepala’ karena demi menjaga mutu universitas, maka semua mahasiswa/i yang lulusan S1 dari negara – negara non Anglo-Saxon wajib mengikuti program bridging course (Graduate Diploma) selama 1 tahun dan baru bisa masuk dalam tingkat Master selama 1 tahun berikut dengan syarat nilai IPK minimal 7.00, dan jurusanku termasuk berat karena setara dengan hukum yang mensyaratkan masuk ke tingkat Master dengan IPK 7.00 dan bukannya 6.5 seperti fakultas dan jurusan lain ^_^. Tapi aku bersukur karena semua teori dan praktek singkat jurusanku telah kudapatkan selama 1 tahun kuliah ini, hanya belum tahu apakah akan masuk ke tingkat Master tahun depan untuk melakukan thesis.
Kadang salah satu poin tak enaknya masuk universitas riset adalah jangan pernah berharap bisa lulus tanpa menulis. Walau judulnya aku mengambil Master by Course Work tapi intinya selama kuliah 1 tahun ini adalah tetap menulis ^_^. Walau ada ujian semester lalu untuk 1 mata kuliah tapi toh aku tetap membuat esai beberapa ribu kata untuk mata kuliah itu dan untungnya semester ini hanya berupa esai beberapa ribu kata untuk semua mata kuliah. Tapi tetap saja di tahun ke dua, mau ambil thesis ataupun minor thesis, tetap saja akan menulis. Kalau Tuhan mengijinkan, aku ingin mengambil thesis selama 1 tahun (untung cuma 15, 000 kata saja) dibandingkan harus mengambil mini-thesis + translation project setara 7, 500 kata yang cuma 1 semester.
Aku belajar bahwa ini hidupku, ini keputusan yang kuambil, apapun yang terjadi, ini bagian dari hidupku. Tak boleh kecewa berkepanjangan kalau apa yang kuharapkan tak menjadi kenyataan, karena toh, aku hidup bukan untuk kuliah ini tapi aku berkuliah ini untuk membantuku dalam mengejar mimpi – mimpiku.
Para dosen boleh saja mengritik terjemahanku, mengritik tata bahasaku yang kadang salah memakai kata dan sensenya, ataupun salah mengaplikasikan teori dalam ajang ‘sterile debata’ dunia teori terjemahan. Tutor boleh saja mengritik caraku membuat kalimat yang kadang salah memakai artikel ‘the’ dan kata hubung yang sense-nya tak sesuai, para teman boleh mengkritikku dengan caraku mengendalikan moodku dan caraku mengisi hariku dan nilaiku yang Credit dan cuma 1 Distinction semester lalu. Tapi satu yang pasti, aku tak akan pernah mau membiarkan semua kritikan, dan pandangan orang menentukan kebahagiaanku dalam menjalani hidupku. Aku pasti akan tak sejahtera beberapa saat, itu proses alamiah, tapi kemudian, aku harus tetap bilang pada diriku, : “Ini sapu hidup. Terima saja dan nikmati. Karena sa cuma hidup 1 kali. Tra perlu membuat orang lain terkesan, tra perlu merasa apa – apa, karena sa hidup toh bukan untuk membuat orang lain terkesan deng sa. Setidaknya sa su berbuat yang terbaik yang sa bisa, jadi sa harus tetap bersyukur untuk apapun yang terjadi kelak. Perkara mo masuk ke tingkat Master atau tidak, itu perkara akademik tapi bukan suatu hal yang menentukan sapu kebahagiaan, bukan perkara penting yang harus menyita sapu emosi dan perhatian karena ini hanyalah sebuah momen dalam sapu hidup.”
#2. Nikmati hidup dan bersyukur
Usai percakapan dapur tadi, aku menemukan sebuah pemikiran dalam skema yang lebih luas dari hidupku, dari hidup orang – orang di sekitar yang kulihat, kudengar dan kusaksikan.
Rentetan pertanyaanku adalah , “Sebenarnya apa yang tong cari dalam hidup? Di mana tong bisa cari akan? Bagaimana tong bisa cari akan? Kalau tong su dapat akan, apa yang tong mo buat?”
Mungkin pertanyaanku terdengar bodoh, terdengar naïf, tapi aku percaya hingga saat ini jurusan dan Fakultas Filsafat dan begitu banyak agama dan kepercayaan muncul hanya karena pertanyaan – pertanyaan sejenis ini.
Sebenarnya esensi hidup dan kebahagiaan itu seperti apa?
Bagiku pribadi, kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Kebahagiaan adalah saat yang kumiliki saat ini kala aku bisa menulis catatan ini, kala aku bisa bangun pagi dan bernafas, kala aku masih bisa menggunakan panca inderaku untuk menganalisa dan melihat dunia ini. Aku hidup dan akan tetap hidup untuk menjadi apa yang Tuhan inginkan dalam hidupku. Sebagai seseorang yang percaya pada Kristus, aku percaya bahwa hidupku adalah agar aku bisa merefleksikan Kristus dalam hidupku dan menggenapi cetak-biru desainku sebagai manusia. Semua orang diberi cetak-biru desain yang berbeda dan semua orang begitu unik.
Mulai saat ini, tak usah terlalu stress dan berpikir bahwa anda bukanlah orang yang bahagia karena tak mempunyai mobil atau motor ataupun rumah pribadi yang bagus, tak punya tabungan ratusan juta di bank, tak punya tubuh seksi ibarat Jeniffer Lopez, tak punya anak, tak punya pacar, tak punya seseorang yang mengasihi anda saat ini dan rentetan ‘TAK PUNYA … lainnya”. Aku ingin bilang bahwa hidup lebih dari cukup untuk bisa dinikmati dan disyukuri. Jadi mari melihat ke dalam diri anda dan bilang, “sa tra punya ini – itu, tapi SA PUNYA …(sebutkan apa yang ada dalam diri anda). Mengafirmasi diri anda sendiri adalah cara terbaik menerima diri anda ^-^
Mungkin untuk mengubah pola pikir ini sangat sulit tapi aku percaya, khususnya bagi orang – orang Kristen, silahkan mengoptimalkan ‘DNA Surga’ kalian untuk bisa melihat dunia ini dengan kacamata yang berbeda.
Akhirnya, aku bersyukur karena diajarkan beberapa hal baru hari ini, dalam kelas pelajaran dan pelatihan pembentukan karakter yang disediakan Tuhan yang bernama H-I-D-U-P!!!
Apakah anda bersedia mendaftar dan belajar bersama-Nya dalam ‘pelatihan’ ini?
(Canberra, 15 November 2009/ Dari seseorang yang tiba-tiba otaknya bergerak untuk menulis esai segera)
0 comments:
Post a Comment