Search This Blog

Loading...

Monday, 9 November 2009

Memilih untuk B-A-H-A-G-I-A

Hari ini seperti biasa, aku kembali lagi di depan layar komputerku dan mencoba merangkai kata dari pikiranku yang tercerai berai entah kemana. Usai bertemu tutor pukul 9. 30 pagi, aku segera membereskan bawaanku yang banyak, mulai dari menarik troli belanja merah berisikan tumpukan buku guna menulis esai 3. 500 kata hari ini, hingga memanggul tas ransel berwarna kuning bermerk Exsport yang kubeli Agustus 2002 dan masih tetap kupakai hingga sekarang ( I really love this backpack!) dan tentu saja tas laptop jinjingku bermerk Billabong hasil berburu sale di outlet Billabong DFO Brisbane Juni kemarin. Lelah dan capek tapi aku sedang bahagia menikmati minggu ini dan menepis semua ‘Benci-Monday’ feeling dari otakku. Apalagi aku bahagia karena cuaca yang begitu cerah pagi ini sehingga “hari sandal jepit sedunia” bisa diaplikasikan dengan sandal jepit kuningku ^_^

Sambil menatap pohon Beerch yang menantang langit biru dari jendela Chiefley lantai 4 tempatku mojok hari ini, aku merasa bahagia. Bukan karena tugas telah selesai karena toh aku masih punya utang 2 esai beberapa ribu kata yang harus kuselesaikan minggu ini. Bukan pula karena jumlah digit tabunganku yang sedang banyak di rekening Commonwealth Bank karena toh aku harus membayar tagihan telpon yang cukup tinggi bulan ini. Bukan pula karena aku sedang jatuh cinta ataupun dicintai seseorang di luar sana, karena toh saat ini aku sedang lajang.

Tapi aku bahagia karena hari ini dan beberapa hari ini aku merasa dekat dengan Tuhan, bisa bercakap – cakap tanpa beban saat berdoa dan melakukan aktivitas. Aku belajar banyak tentang apa yang diinginkan Tuhan lewat percakapan dengan senior, lewat peneguhan – peneguhan yang kubaca lewat Firman dan doa banyak orang, lewat percakapan dan suntikan semangat yang diberikan oleh orang lain. Aku merasa bahagia sekali dan aku bisa bilang bahwa aku percaya kebahagiaan adalah sebuah pilihan dan aku memilih untuk bahagia. Bahagia bagiku bukan nanti saat semua yang kuinginkan tercapai tapi saat ini, dalam setiap hembusan nafasku: aku memilih bahagia sekarang.

Sejak beberapa hari lalu, aku bahagia. Bahagia karena aku merasa begitu lega tak harus memikirkan tentang kuliahku. Bukan karena telah selesai tugas, tapi karena aku merasa lega dan bebas saat sadar bahwa di atas sana, ada Yesus yang akan selalu bersamaku dalam setiap titik tertinggi dan terendahku. Aku tak lagi berpikir yang aneh – aneh tentang kekhawatiran dan aku merasa bahagia 2 hari ini bisa bangun pagi dengan satu perasaan yang tak dapat kuungkapkan, entahlah bagaimana mendeskripsikan perasaan ini, yang pasti aku merasa tenang. Kalo meminjam kata yang mirip maknanya, aku ingin bilang kalau aku sedang merasakan yang namanya D-A-M-A-I S-E-J-A-H-T-E-R-A!

Satu yang pasti, aku percaya masalah akan tetap ada dalam hidupku, akan tetap ada. hal – hal yang membuatku marah pasti akan tetap ada , yang mau menyakitiku masih akan tetap ada, tapi aku belajar dalam minggu ini bahwa semuanya akan terjadi kalau aku mengijinkannya untuk mencuri rasa damai sejahteraku. Ini pilihan yang kubuat. Kalau aku tak memilih untuk seperti itu, maka aku juga tak akan apa – apa.

Aku bersyukur banyak karena beberapa hari lalu usai membaca beberapa artikel rohani rujukan seorang dosen senior di Unipa, aku belajar banyak dan mulai merasa menemukan arahku kembali ke pada Tuhan. Mulai untuk belajar berserah lagi. Belajar banyak!

Hidup cuma 1 kali dan aku percaya dan beberapa hari ini mulai gencar mengafirmasi diriku bahwa ‘Day bisa melakukan pekerjaan ini hingga selesai’, ‘Day datang ke Canberra bukan sebuah kebetulan tetapi ada rencana Tuhan.’, ‘Day percaya Tuhan sedang membentuk karakter Day saat ini’. Mungkin kedengarannya lucu, tapi bagiku dengan mengafirmasi diriku sendiri tiap pagi saat bangun pagi dan berkaca plus bilang pada diriku sendiri ‘Ko cantik dan diberkati. Jadi berkat e hari ini’, aku merasa tenang karena aku memercayai diriku, memberi kepercayaan pada diri sendiri.

Aku bahagia hari ini karena aku bisa makan pagi, bercanda pagi – pagi dengan teman – teman serumah, ketawa bokar – bokar, mandi dan menyegarkan diri, menikmati sejumlah fasilitas belajar yang memadai, tapi satu yang pasti aku bersyukur karena aku masih bisa hidup dan bernafas serta berjalan dan bergerak tanpa alat bantu.

Sebagai orang Kristen, aku bersyukur karena hari ini Yesus masih ada untukku dan masih memberi pinjaman hidup untuk tanggal 9 November 2009, itu yang paling penting bagiku.

Aku tak tahu kapan aku akan bertemu Yesus tapi kuingin memerlakukan hari ini ibarat hari terakhirku, aku akan menikmatinya dengan sebaik mungkin dengan melakukan apa yang harus kulakukan. Menikmatinya dengan cara yang kutahu.

Aku bahagia hari ini. Bahagia dikelilingi oleh alam yang tenang. Dikelilingi oleh keluarga dan para sahabat yang jauh, dekat dan di mana saja. Aku bersyukur untuk hidupku.

Satu yang pasti, aku ingin bilang: I love my life!

Bagaimana dengan anda?

(9 November 2009/ Chifley Library level 4)

0 comments: