Search This Blog

Loading...

Monday, 30 November 2009

Being Me!

Hari ini 30 November 2009, hari dimana nilai – nilai ujian dipampang di layar website kampus, hari di mana sebuah konsekuensi akan ditebar dari hasil yang terpampang berkaitan dengan kesinambungan kuliah plus hari di mana aku kembali lagi menikmati tarian hujan. Indah.

Ditemani suara Josh Groban, aku kembali lagi mengetik dan menanyakan pada diriku, “Jadi bagaimana, Day?”. Sebuah pertanyaan yang diberikan pada diriku sendiri. Sebuah pertanyaan tentang bagaimana ke depan, sebuah pertanyaan melihat sebuah ‘kegagalan’ masuk ke jenjang tesis yang notabene adalah Part B dari studi pascasarjana ini. Walaupun hasil dan keputusan resmi belum keluar dari pihak jurusanku tentang kelanjutan studi karena bagaimanapun penanggungjawab kuliah masih mengirimkan e-mail tentang pertemuan dari tanggal 1 – 6 Desember 2009 guna membahas studi, tapi toh aku tetap harus selalu realistis dengan hidupku. Tetap realistis. Tak ingin menyalahkan siapa pun karena masuk jurusan ini tentu saja telah kutahu segala konsekuensinya kala memilih universitas ini, kala memilih jurusan ini pada tahun 2008. Tak ada penyesalan walaupun tahu bahwa nilai rata – rataku selam kuliah merupakan batas standar di jurusan lain tetapi bukan di jurusanku.

Walau saat ini hingga esok adalah masa – masa negosiasi dan penentuan terakhir karena tiket kepulangan harus dipesan secepat mungkin, plus semua pengaturan kepulangan, namun aku sudah pada titik di mana, “I accept all the consequences. No turning point. No regret for life only lasts once.”

Sambil mencuci piring sore di dapur, tiba – tiba pikiranku kembali diingatkan sebuah perbincangan dengan seorang kenalan dari Afrika bulan lalu, di depan sebuah perpustakaan kala membahas tentang tiket pulang-gratis-liburan. Aku ingat benar kala aku bilang bahwa tiket domestik ditanggung mahasiswa/I yang hendak pulang, ia pun dengan percaya diri bilang bahwa, “That’s the consequence, Day. You just take it for granted, don’t you?”. Hari ini perkataannya bulan lalu kembali bergema lagi bahwa inilah saatnya yang tepat untuk bilang pada diri sendiri dan tak boleh ada kata penyesalan untuk semua hasil ujian kemarin, “You just take it for granted, don’t you? No consequence at all.” Kalau diterjemahkan secara harafiah sih, aku menerima semua kesempatan kuliah dan dibayari tinggal di Australia selama hampir setahun secara cuma – cuma, tanpa beban, merasakan menikmati memegang dan membelanjakan uang dalam jumlah cukup besar dengan cuma – cuma. Jadi tak perlu ada yang disesali.

Minggu lalu saat pulang dari psikolog kampus dan mendiskusikan tentang perubahan dan juga pertanyaannya tentang apa rencanaku ke depan, tentang mimpi – mimpiku dan juga kemungkinan tak akan bisa melanjutkan kuliah, aku dengan mantap bilang bahwa, “I just live once, whatever happen, my life won’t stop. This is just a phase in my life and not the goal of my life.” Intinya sih, “sa hanya hidup satu kali, apapun yang terjadi sa pu hidup tra akan berhenti. Kuliah ini hanya satu tahap dalam sapu hidup dan bukan tujuan dari sapu hidup. Saat itu aku juga bilang aku telah dalam tahap ‘menerima’ karena toh tak ada yang perlu disesali, karena kuliah ini toh sebuah bentuk hibah alias education grant jadi tak ada yang perlu disesali.

Aku bukan sedang ingin membenarkan diriku tapi aku sebagai manusia berkepribadian ENFJ (berdasarkan tes MBTI), aku tahu apa yang kuinginkan dalam hidup. Aku bahkan sembari cuci piring tadi, otakku malah mengakses ide – ide segar tentang rencana tahun depan kalau memang harus pulang akhir tahun ini dan menurutku secara pribadi, aku suka dengan ide – ide usaha itu karena memang sejak kecil aku terbiasa mencari uang sendiri dan usaha ini tak akan membutuhkan banyak modal, palingan < Rp10 juta rupiah, dan aku percaya kalau usaha ini bisa kudirikan maka aku hanya butuh 1 – 3 langkah untuk sekaligus merealisasikan mimpi – mimpiku. Saat mencuci piring tadi, ide – ide usaha pun terbang dengan sukses lengkap dengan rincian apa yang hendak kulakukan sebagai langkah dasar dan semuanya ini belum termasuk pada proyek – proyek pribadiku.

Bagiku, kuliah ini adalah sebuah upaya membuktikan pada orang – orang tertentu bahwa aku bisa berkuliah di luar negeri dengan biaya gratis, aku bisa bekerja di luar negeri dengan sebuah pekerjaan yang bisa memberikanku keterangan yang kuat dan valid tentang riwayat kerja yang bisa dimasukkan dalam CV, dan lebih dari itu, aku bisa mewujudkan salah satu mimpiku sewaktu kecil untuk hidup di luar negeri dan merasakan 4 musim plus merasakan kehidupan yang multibudaya dan membuatku mandiri. Aku puas dalam tahap ini!

Aku teringat pada sebuah perkataan seorang filsuf, entah siapa karena aku lupa, bahwa kadang kita menyesali sesuatu dan merasakan kesedihan yang berkepanjangan karena kita tak mau menerima kenyataan dan karena berharap terlalu banyak padahal kenyataan yang terjadi ternyata tak seperti yang diharapkan. Aku cuma ingin bilang pada diriku sendiri, mengafirmasi perkataan seorang Anthony de Mello SJ tentang hidup, aku suka sekali kutipan kata – katanya ini: “As you identify less and less with the "me", you will be more at ease with everybody and with everything. Do you know why? Because you are no longer afraid of being hurt or not liked. You no longer desire to impress anyone. Can you imagine the relief when you don't have to impress anybody anymore? Oh, what a relief.” (sewaktu ko mulai semakin tak terikat dengan ko pu diri, ko akan semakin mudah menjalani hidup dengan sesama dan dengan segala sesuatu. Ko tahu kenapa? Karna ko su tra lagi khawatir untuk terluka ataupun tidak disukai. Ko tak lagi ingin untuk membuat siapapun terkesan akan ko pu diri. Ko bisa bayangkan sebuah kelegaan saat ko tra harus hidup hanya untuk bikin orang lain terkesan? Betapa leganya.)

Aku juga malah teringat sebuah komentar teman di sebuah situs anak muda Papua yang dikutipnya dari sebuah film, tentang catatanku tempo hari “How do measure your success? How do you measure your happiness?”. Sebuah komentar yang mengindikasikan sebuah prioritas dalam hidup. Setiap orang mempunyai prioritas hidup yang berbeda dan semua orang mempunyai definisi bahagia yang berbeda.

Akhirnya, aku hanya ingin bilang bahwa aku puas dengan hidupku selama ini, aku puas dengan suka duka kuliah di Australia, aku menikmati semuanya, menikmati pergantian musim dan tentu saja aku bersyukur diberi kesempatan yang tak akan pernah terganti dengan uang. Bukan tentang kuliah sih sebenarnya, tetapi tentang bagaimana aku menemukan diriku lewat hidup di sini, menemukan kesadaran tentang diriku sendiri, menemukan bahwa aku benar – benar diberkati.

Akhirnya, aku pun sampai pada sebuah kesimpulan dan meng-amininya bahwa aku punya cukup alasan untuk mengatakan bahwa aku bahagia pada hari ini setelah melihat hasilku apapun konsekuensi esok hari karena aku masih hidup, telah mengecap kesempatan berupa satu fase dalam hidupku.

Yang pasti aku hanya ingin bilang bahwa, “Terima kasih Yesus untuk sapu hidup.”

(Canberra yang hujan di musim panas dan suhu yang drop 11 derajat Celsius/ 30 November 2009)

0 comments: