Search This Blog

Loading...

Monday, 12 October 2009

Sesuatu yang relatif

Sore ini, sambil sibuk melihat – lihat pertanyaan tugas yang harus dikumpul minggu depan, kembali lagi perhatianku pecah untuk membrowsing internet dan akhirnya aku mendapatkan sebuah artikel terbitan UNHCR tentang persoalan tekanan di masyarakat khususnya yang berkaitan dengan Islam – Kristen di Papua. Linknya kuberikan di akhir catatan ini. Bicara tentang hal ini, apalagi di Indonesia, mmmmmh … mungkin bukan sebuah topik yang menyenangkan, karena yang kerap kulihat adalah saling menghujat siapa yang lebih baik, siapa yang lebih suci, siapa yang lebih benar. Ini mungkin masalah klasik yang menjadi semacam ‘sterile debate’ di dunia antara 3 agama besar: Yahudi, Kristen, Islam. Kerap aku bertanya, “Untuk apa sih berdebat siapa yang paling benar, siapa yang paling baik, siapa yang paling suci kalau toh kita tak bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi sesama? Kalau hidup kita tak bisa membuat satu perubahan yang lebih baik bagi orang – orang di sekitar kita.

Catatan ini mungkin akan menuai protes dari kalian, dalam hal ini, mungkin kalian tak akan sependapat denganku. Itu hak kalian. Tapi bagiku, aku pikir kita manusialah yang selalu membuat sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit.

Baru kali ini aku membuat catatan tentang perdebatan agama dan perdebatan ini menurutku, kisah klasik yang terus berulang, terus menerus dan aku berada pada satu titik, dan bertanya pada diri sendiri, “kenapa ka tong mau saja taputar pada barang ini saja dan tidak hidup dan mengisi hidup kita dengan sesuatu yang lebih bermanfaat ka?” Dan bukannya, saling tuding, saling hujat dan saling membenarkan diri.

Aku kerap merasa miris saat membaca perdebatan di sebuah milis mahasiswa di sini, dimana ada beberapa pihak yang menganggap mereka ‘paling benar’, ada pihak yang membela bahwa sesuatu seharusnya begini ataupun begitu, ada pihak yang saling menyalahkan tentang etnis dan lain – lain. Dalam hal ini aku kok teringat pada tulisan seorang teman di Melbourne (Victoria Fanggidae) tentang rasisme. Aku teringat pada perkataannya bahwa ego kita sebagai manusia lah yang membuatku kita merasa kita-yang-paling-benar daripada orang lain.

Aku percaya, setiap orang terlahir dalam kesetaraan, dengan setiap pilihan hidup yang dibuatnya. Entah preferensi seksualnya berbeda dengan kita, entah kulitnya berwarna berbeda, entah rambutnya berjenis lain dengan milik kita, dan sejumlah pembedaan yang lain. Itu adalah sesuatu yang dipilih oleh Tuhan, untuk fisiknya dan juga pilihan hidup yang dianutnya. Selama ia bahagia dengan pilihannya, selama ia bisa menjadi manusia yang baik bagi sesamanya, selama ia tak mengganggu kita, mengapa kita harus mengintervensi hidupnya?

Mungkin kalian akan memanggilku seorang sekuler ataupun liberal, entahlah. Seorang teman Katolikku mengatakan bahkan aku terlalu radikal untuk keprotestananku karena saat di kampus ada sebuah acara untuk mengumpulkan petisi tanda tangan bagi pernikahan sejenis, aku dengan cuek bilang bahwa itu adalah hak mereka sebagai manusia tapi toh sebagai manusia, aku tak akan memberikan tanda tanganku karena aku membuat pilihan bagi hidupku. Begitu pula saat menonton debat antara Atheis dan kelompok Kristen pada minggu Ateis di kampus, aku cuma tersenyum simpul saat mereka berdebat dengan keras di bawah awan mendung di Union Court. Aku tertawa karena bagiku, hidup hanya perlu dijalani, tak perlu terlalu dianalisa terlalu lama. Jalanilah dengan apa yang kau percaya selama itu tak menyakiti orang lain, selama itu membawa kebaikan di hatimu dan orang lain.

Sewaktu SMK dulu, saat membaca karya – karya Anthony De Mello (saat kelas 1 SMK hingga kini, Doa sang Katak 1 dan 2, masuk dalam daftar buku favoritku), aku terkesima dengan pembahasan tentang kebenaran yang begitu relatif. Kebenaran yang kuanut adalah kebenaran yang relatif karena bukan harga pasti bagi kebenaran yang dianut oleh orang lain, bahkan oleh orang serumahku di Manokwari. Tapi yang kulakukan adalah berusaha menjadikan kebenaran yang kuanut sebagai sebuah langkah untuk dekat dengan Tuhan, dan aku percaya bahwa Tuhan mengejewantah dalam banyak hal, dalam banyak rupa.

Sebagai orang Kristen, aku mempunyai manualnya; Alkitab. Tapi kalau boleh dikata, aku mungkin bukanlah seorang Kristen yang baik di mata orang lain karena toh, bagiku Kekristenan adalah sebuah gaya hidup dan jalan hidup dan bukannya agama. Bagiku, kekristenan menjadikan aku manusia yang lebih baik bagi sesamaku, menjadikan aku menjadi apa yang aku tahu. Aku tak mengatakan bahwa inilah jalan yang terbaik, yang aku ingin tekankan adalah bahwa aku cocok dengan jalan ini dan aku menemukan apa yang kucari bagi ketenangan jiwaku. Anda sah – sah saja mempunyai pandangan yang lain dan berbeda ataupun mendebatku tentang hal ini, karena toh hidup adalah hasil dari setiap keputusan – keputusan yang kita ambil.

Aku kadang merasa sedih saat melihat kita memutuskan hidup dalam budaya yang menyudutkan budaya orang lain, menganggap diri kita lebih benar lewat ujaran kita, lelucon yang kita ungkapkan ataupun candaan sambil lalu. Bagiku, perbedaan fisik, kepercayaan dan gaya hidup bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan. Setiap kita adalah bagai tetesan air di lautan kasih Tuhan yang terbentang luas. Tuhan sebagai sebuah konsep yang abstrak menjadi sesuatu yang absurd bagi pemahaman kita yang begitu kecil. Tuhan dimaknai berbeda oleh setiap orang, setiap suku, setiap pribadi.

Secara pribadi yang aku lihat, kepercayaan dan ‘Tuhan’ yang dianut oleh penganut agama yang bertikai sebenarnya tak ada hubungannya dengan esensi Tuhan sendiri. Sebenarnya yang dipertentangkan oleh pihak yang bertikai lebih didasari oleh motif – motif lain, mulai dari ekonomi, kekuasaan, hingga sebuah pengakuan. Miris!!!

Miris melihat sebenarnya sebuah hal yang sebenarnya lebih bersifat vertikal antara Tuhan dan ciptaannya lebih ‘dipolitisir’ oleh para penganutnya dan menjadi semacam upaya ‘kontes kecantikan’ antar umat beragama. Aku besar dalam elemen yang berbeda dan belajar dan percaya bahwa mempelajari esensi Tuhan lebih utama dibandingkan memperdebatkan siapa itu ‘Tuhan’ karena toh tak ada seorang pun yang pernah bertemu Tuhan secara langsung.

Aku percaya kalau kita bisa membuang stereotype yang kita beri pada penganut agama tertentu, maka dunia pasti akan jadi tempat yang lebih baik. Ketika kita bisa membuang label agama, suku dan ideologi dalam diri kita dan bahu – membahu menjadi sebuah kekuatan besar untuk mengatasi masalah sosial seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan, pengangguran dan lain – lain.

Kepercayaan adalah sebuah pilihan, sebuah upaya mencari ketenangan diri. Saat kita merasa bahwa kitalah yang terbenar, apa yang kita dapatkan dari hal itu? Kepuasan batin diakui sebagai orang benar? Kepuasan batin dianggap sebagai orang suci? Atau …Mungkin pada bagian ini, kalian akan memanggilku ‘tersesat’ ataupun penyesat, tapi bagiku saat kita mulai memasuki tahap itu, sebenarnya kita telah menjadi ‘seorang hakim’, bukan? Kita menghakimi sesama kita dengan label dan standar yang kita anut, padahal sesungguhnya orang lain menganut standar yang berbeda.

Aku percaya Tuhan menyukai keragaman dalam hidup, itulah sebabnya Ia tak pernah menciptakan satu jenis pohon pun satu jenis bunga pun satu jenis ras. Dalam hal ini, kalian pasti akan mendebatku, tapi aku ingin bertanya, pernahkah kalian bertanya mengapa Tuhan mengijinkan hadirnya kepercayaan yang berbeda di dunia ini? Apakah kalian pernah bertanya, mengapa ia mengijinkan manusia berbeda antar budaya, ras dan lain – lain? Aku pikir pertanyaan seperti ini tak bisa terjawab hanya dengan membuat sebuah pemikiran dari satu sisi, karena walaupun kita menyiapkan banyak teori, akan tetap ada sebuah tanda tanya besar di sana yang tergantung di benak kita dan aku pikir hanya bisa kita tanyakan pada Tuhan secara langsung.

Aku pikir hidup hanya sekali dan bila hidup hanya diisi dengan berpikir bahwa ‘sa yang paling benar, yang paling suci, yang paling baik’ maka sebenarnya kita sedang jatuh dalam lingkaran cinta-diri-sendiri dan lupa bahwa Tuhan menginginkan kita menjalankan hidup to its fullest.

Masalah Timur Tengah masih terjadi, konflik India – Pakistan masih terjadi, ketegangan di Filipina selatan masih saja ada, belum lagi konflik – konflik lainnya yang didasari oleh paham sa-lebih-baik-dari-orang-lain.

Sudah saatnya kita berbuat sesuatu, yang paling gampang adalah mengubah pola pikir kita. Mulailah berpikir bahwa orang lain adalah bagian dari lingkaran hidup, kita akan terus bersinggungan dalam lintasan kehidupan. Mulailah dengan bersyukur untuk hidup anda, mulailah dengan menerima bahwa setiap orang berbeda. Bila ada tindakan yang melukai anda, katakanlah dengan lembut dan bukannya memakai kekerasan. Kadang kita lupa untuk berdiplomasi, lupa bahwa saat kekerasan dibalas dengan kekerasan, maka Tuhan pun sebenarnya lenyap dari pertikaian itu.

Panggil aku sekuler, panggil aku pemberontak, panggil aku tersesat, tapi bagiku, aku percaya Tuhan tak butuh sebuah tempat khusus untuk tinggal, Tuhan tak butuh sebuah label dan orang yang membelanya karena Tuhan hanya ingin kita dekat dengannya dan merefleksikannya dalam hidup kita.

Aku merasakan hadirnya Tuhan dalam tetes hujan yang turun, dalam keriapan burung – burung di pagi hari pun dalam percakapan dengan rekan serumahku. Aku merasakan hadirnya Tuhan dalam udara dingin yang bergerak, dalam tetumbuhan yang gembira menyambut panas mentari, dalam setiap interaksi alam yang kulihat.

Hidup hanya perlu dijalani, tak perlu terlalu dirisaukan siapa yang paling benar, paling suci ataupun paling baik. Saat waktu terlalu banyak dihabiskan demi membela yang paling benar, paling suci dan paling baik, sesungguhnya kita telah memboroskan waktu yang indah di dunia ini, memboroskan kesempatan untuk hidup ini.

Sudah saatnya membuat perubahan dan menghentikan kebencian terselubung yang kita wariskan ke orang lain tentang siapa yang paling benar, suci dan baik. Sudah saatnya melihat esensi dari hidup kita sebagai keping puzzle di tangan Tuhan yang saling melengkapi.

Kelak suatu waktu, di suatu hari, di suatu masa, kita kan tahu jawabannya … Kala kita bertemu Tuhan!!!

Karena toh, kebenaran adalah sesuatu yang sangat relatif!!!

(Canberra/ Sore yang mendung, 12 Oktober 2009)

Link artikel:
http://www.unhcr.org/refworld/pdfid/485656b72.pdf

0 comments: