“I am in the middle of nowhere”, itu jawaban yang kerap kuberikan pada rekan serumahku yang bertanya tentang progress tugasku.
Berada di antara mimpi dan terjaga, tepatnya!
Beberapa hari ini aku tiba – tiba memikirkan dia yang telah kukeluarkan dari memori otakku, mengingat sakitnya hati yang diabaikan, mengingat dia yang tak pernah mencoba mengerti, yang selalu berpikir semua akan baik – baik saja. Ingin sekali bertemu dan bertanya, ‘tell me, what’s changed?”.
Aku masih kadang merasa berada di rumahku di sebuah tempat yang kurindukan, seakan ingin berlari dan bertemu lelaki hujan dan bertanya, ‘sebenarnya sa salah apa?’. Ingin bertanya padanya secara langsung, ‘apa yang masih kurang dalam hubungan ini ka?’
Beberapa hari lalu, aku mengingat dia lagi dan hatiku sakit, terlalu berat, terlalu sakit mengingat dia. Apakah memang semua lelaki harus seperti dia yang menjaga pride sebagai lelaki?
Kemudian, sekarang saat aku bertemu seorang lain di dalam hidupku, seseorang yang mulai membuatku berwarna dan jatuh cinta, entahlah … mengapa aku mulai ragu lagi. Takut dikhianati, takut diselingkuhin lagi, takut ditipu. Masih tak bisa memercayai dia 100 %
Lelaki baru ini, entahlah …. Mengapa membuatku sedikit was – was, mungkin karena ia terlalu shining atau karena aku sudah lama tak jatuh cinta. Entahlah … mungkin karena aku tahu ada seorang perempuan lain yang menaruh harap padanya. Mungkin aku sudah bosan berada di sebuah keadaan di mana lelaki yang menaruh hati padaku benar – benar tak bebas penggemar. Aku capek. Capek berada pada keadaan tak netral.
Mungkin tak cocok saja jatuh cinta. Tak cocok saja memilih cinta sebagai nama tengahku. Mungkin harus kembali seperti Gibran dengan cinta platonisnya. Mungkin harus seperti itu.
‘Lelaki yang memanggilku bidadari’, bilang bahwa semuanya akan baik – baik saja. Bilang kalau perempuan itu hanya sahabatnya, tapi entahlah, aku tak merasa baikan. Aku tak mau saja menabur benih kembali di lahan yang salah, capek jatuh cinta, capek dikhianati, capek dipermainkan, capek memercayai orang. Dan juga capek menjadi ‘perebut’ lahan hati orang lain. Capek ‘dituduh’ selalu jadi pihak ketiga di tengah hubungan orang lain.
Entahlah, kenapa rasa jatuh cinta tanpa kebimbangan itu hanya bertahan dalam hitungan hari, dan kembali lagi hariku bertanya pada diri, “apakah sudah siap melepas status single dan berganti ‘punya pacar’?” .. Mungkin tak 100 % siap. Mungkin tak akan pernah siap.
Lelaki yang baru ini, berusaha meyakinkanku lewat pesan – pesan pendeknya, berusaha meyakinkanku untuk percaya padanya, tapi entahlah …. Ada keraguan yang terlanjur hadir. Mungkin tak akan begini kalau saja aku tahu perempuan itu tak pernah menaruh hati padanya. Mungkin tak akan begini kalau saja perempuan itu bukan pula mantannya mantan pacarku dulu. Mungkin tak akan ada keraguan kalau saja mereka yang dulu yang pernah datang tak menggoreskan luka, tapi aku terlanjur terluka. Butuh waktu panjang untuk mengerti, memercayai lagi. Butuh waktu untuk bisa sembuh dari ‘trauma’ dibilang ‘perusak hubungan’, ‘perebut lahan hati’ orang lain dan label lainnya.
Kalau mau jujur, tak pernah ingin dan tak pernah mau berada pada keadaan dimana lelaki yang memilihku, sebenarnya sedang ‘ditargetkan’ oleh perempuan lain. Tak mau saja. Aku bukan pilihan!
Kala jarak dan bentangan samudera masih tetap ada, kala kehadiran fisik menjadi sesuatu yang penting. Mungkin benar kata teman serumahku kalau ‘kehadiran fisik dan sentuhan’ tetap berperan penting. Mungkin itu pula yang membuat teman serumahku hanya menggelengkan kepala kalau aku bilang sedang jenuh dengan hubungan ini. Sebenarnya bukan jenuh, hanya takut dikhianati lagi, takut sakit hati lagi. Takut kecewa lagi. Berada pada titik antara mimpi dan terjaga.
Aku tahu ini pilihan yang kubuat, pilihan yang kujalani.
Entahlah, aku juga tak tahu. Ingin berlari masuk dalam laut yang selalu setia memelukku menenangkan kala galau di hati terasa berat. Ingin berteriak seperti dulu dan membiarkan pias ombak menamparku, untuk menyadarkanku tentang hidup dan kenyataan.
Aku rindu hujan yang turun dulu setahun lalu di sebuah pantai di kotaku. Hujan yang penuh maaf. Hujan yang penuh kata – kata marah di pantai. Hujan yang memelukku dan membasuh luka lama, hujan yang kuisi dengan teriakan marah, “outta my life, please!’
Aku rindu hujan yang sama di pinggiran pantai itu. Aku rindu pantai itu. Rindu tetes pertama hujan yang bagai pecahan mutiara dari lensa mataku yang segaris dengan permukaan air. Aku rindu basah hujan mengecup mata dan tubuhku yang mengapung, menatap langit kelabu. Aku rindu ombak yang berbisik dan nyanyian pasir yang mencoba menenangkanku, seperti dulu.
Semuanya tak pernah sama, tak akan sama. Panggil aku pengecut pun seorang yang tak stabil, tapi aku hanya ingin pantai itu, ingin kembali membenamkan diri dalam laut dan mendengar pasir berbisik di telingaku.
Mengingat kepiting pasir.
Mengingat kelomang yang berkeriap.
Mengingat pasir yang diterbangkan angin,
Daun - daun dan bunga kuning yang jatuh,
Karang mati dan pecahan buah bakau.
Mengingat kenangan – kenangan yang kugali, kusimpan, kusembunyikan, kupendam dalam tarian ombak,
Mengingat luka hati yang kubisikan pada air, pada pasir, pada laut.
Mengingat semua kenangan pahit, manis, asam, asin yang dimandikan laut, dicucihamakan.
Mengingat komitmenku pada hidupku yang disaksikan laut.
Aku rindu pantai itu, karena pantai itu masih tetap di sana, masih tetap basah kala hujan, masih tetap bernyanyi padaku. Masih tetap ada kala kubenamkan tubuhku yang penat dengan hujan emosi yang bernyanyi kencang di dadaku. Pantai yang merekam banyak jejak emosiku, lewat tapak kaki yang berjalan mondar – mandir menghitung kerang mati, lewat jejak telapak kaki yang berjalan pasti ke dalam laut mengukur hempasan ombak, lewat tarian tapak kaki yang berbisik padaku bahwa ‘aku pernah di sana.’
Semuanya tak pernah sama, tak akan pernah sama.
Mungkin sudah saatnya memasang label ‘married’ di akun jejaring sosial ini, pun sekalian memasang status ‘NOT AVAILABLE’, kala hati masih saja meragu dan labil, masih tak bisa percaya.
Ingin segera memasang perangkat apapun di memori otak untuk lelaki hujan, mengusirnya dari alam bawah sadarku, mengusirnya dari pikiranku. Semuanya telah selesai.
Panggil aku pengecut pun tak stabil. Aku masih butuh waktu ternyata, butuh waktu untuk menjadikan orang lain kembali dalam hidupku.
Perlu banyak waktu untuk bisa bilang ‘I love you full. No doubt at all’.
Perlu banyak waktu untuk menendang keraguan ini jauh – jauh, tapi toh akan tetap ada kala jarak tetap masih membentang. 3 kali sudah terlalu cukup dalam kamusku, 3 kali sudah sangat cukup menjadi pelajaran berharga, tak ingin lagi.
Sore ini, aku hanya ingin (sekali) berendam dalam ombak pantai Pasir Putih Manokwari, menenangkan galau di hati, membuang kekalutan perasaan dan emosi. Meng-uninstal semua kenangan yang bernama ‘cinta’, membuang semua perasaan interrelasi antar perempuan – lelaki, dan menjadi Maya yang dulu; Maya yang hanya bisa jatuh cinta pada tarian hujan, pada pohon dan alam.
Tak nyaman jatuh cinta, tak nyaman dengan perasaan ini, tak pernah nyaman.
Sudah saatnya membuang perasaan bernama C-I-N-T-A.
Pada tahap ini, entahlah, aku kembali merindukan masa – masa tak punya seorang yang harus kurindukan dan kupercayai. Apa karena memang aku sedari dulu selalu sendiri dan label ‘pacar’ hanya melekat di ponsel dan alamat e-mailku tapi jarang terlihat dalam keseharianku, karena ‘kekasih’ yang sering kurindukan malahan adalah bunyi laut dan debur ombak pun tarian hujan.
Sore ini, kembali lagi pada sebuah tanda tanya besar di benakku, “apa memang sa su siap pu pacar lagi?”. Entahlah, aku tak memungkiri bahwa aku mulai sayang pada lelaki baru ini tapi entahlah … ada sebagian yang dari diriku yang enggan melepas status ‘tanpa pacar’, sebagian dari diriku yang menolak percaya. Walau SMSnya meyakinkan sampai berkali – kali, tapi entahlah …. Apa karena semua yang pernah terjadi dulu terlanjur terekam di benak, terlanjur tak percaya? Entahlah ..
Mungkin perlu waktu … (yang cukup lama). Entahlah …
Satu yang pasti, Ingin berendam di dalam deburan ombak Pasir Putih.
(Campbell, Canberra/ 19 Januari 2009)
0 comments:
Post a Comment