Sore ini aku belajar banyak hal dalam hidupku. Belajar tentang hidup, tentang alam, dan tentang bagaimana seharusnya mengelola sudut pandangku. Sore ini aku bisa bilang bahwa aku belajar banyak tentang mengenal siapa diriku. Sore ini, dalam perjalanan jalan kaki santai dari kampus ke rumah selama lebih dari 50 menit membuatku merasa bahwa aku begitu diberkati, sesuatu yang kerap kulupakan.
1 minggu terakhir hidupku berada pada titik dimana kejenuhan, amarah, kesedihan dan semua hal yang mencabut rasa sejahteraku bercampur baur dalam kumparan sel – sel otakku, tertumpuk dan membuatku tak sejahtera dan kurang bersyukur. Apalagi dalam 2 minggu terakhir ini, hubunganku dengan pacarku (yang telah kuputuskan minggu lalu) pun kacau balau. Aku mengendus ketidakjujuran dan bagiku itu sangat fatal karena aku tak suka dibohongi lagi, tak ingin didustai. Apalagi tingkat dusta kali ini boleh kukatakan benar – benar fatal dan bagiku aku tak bisa saja berjalan dan melanjutkan hubungan dengan lelaki yang tak bisa menghargai perempuan dan anak kecil dalam hidupnya.
Tapi mungkin aku juga yang salah karena tak stabil dan tak berpikir panjang kala ‘say yes’ untuk jadi kekasihnya. Saat itu aku hanya ingin bisa percaya lagi pada makhluk yang dominan berkromoson X dan selalu diberi simbol ♂, tapi ternyata setelah apa yang kualami baru – baru ini, sudah saatnya sementara ini bilang: NO MAN, NO CRY! Bukan untuk menghibur diri pun membela diri, tapi untuk lebih memahami apa dan siapa yang kuinginkan. Untuk memberi waktu pada diriku sendiri!
Sambil mendengarkan alunan CD bertajuk ‘Sea of Tranquility’, dentingan piano dan harum lilin beraroma kopi membuatku begitu relaks untuk menulis. Sebuah pelampiasan dari tumpukan masalah. Ingin lepas dari tekanan teror dan ancaman mantan pacar di Manokwari, tugas akhir berupa esai 3k words (3 ribu kata) sebanyak 3 buah dengan batas akhir yang sama dan sialnya, aku masih terkandas pada bagian awal esai itu (padahal harus dikumpul minggu depan), rasa rindu rumah, dan juga hubunganku dengan Tuhan yang lagi redup.
Aku belajar banyak hari ini dan aku bersyukur saat berjalan sore tadi, kala merasa begitu lelah dan kuputuskan bercerita dengan Tuhan (suatu hal yang sudah jarang kulakukan selama 1 bulan ini), bercerita tentang semuanya, tentang hidupku, tentang bebanku, tentang impianku, tentang semua yang mengganjal ….. Mmmmh aku belajar banyak hal dan ternyata … Hidup ini lebih dari cukup untuk disyukuri DAN aku memutuskan untuk merevitalisasi hidupku dan tentu saja cara pandangku. Guess what? Hari ini aku mendapat banyak peneguhan lewat cara – cara yang jarang kudapatkan dan aku tahu, jauh di sana, Dia peduli padaku dan aku hanya ingin bilang bahwa ‘Thanx Jesus, untuk anugerah pengampunan ini, karena saat aku datang pagi ini dan mengakui semua dosaku, dan kurasakan pengampunan itu, I feel so brand new. Merasa baru. Merasa merdeka!’. Terima kasih untuk hidupku!
Ada banyak hal yang kudapatkan hari ini, khususnya sore ini. Mungkin anda tak setuju pada beberapa poin, tapi secara pribadi, inilah yang kualami hari ini dan benar – benar menjadi penyejuk jiwa saat merasa tak mampu lagi untuk melanjutkan hidup.
#1. Tuhan peduli (lewat sesamamu)!
Pagi tadi saat tiba di sekolah dan bertemu rekan kerja, ia menanyakan kesehatanku dan berbagi tawa denganku. Saat pulang dari tempat kerja, saat naik bis ke arah rumah untuk berganti pakaian dan makan siang di rumah, pak sopir begitu ramah dan menanyakan kabarku dan bahkan saat hendak turun, bilang padaku untuk jangan lupa tersenyum dan menikmati hariku. Gaya bicaranya tak seperti supir yang lain yang hanya basa – basi tapi aku merasakan ketulusan dari cara ngomongnya yang ramah dan menyapa setiap penumpang dan kadang berhenti agak sedikit lama dan mengobrol dengan penumpang yang turun dan aku melihat ‘virus bahagia’ yang menular padaku.
Saat pulang jalan sore dan tiba di arah jalan masuk suburbku, sebuah gardu telepon di dekat hutan Eucaliptus terkena graffiti, tapi aku bersyukur karena ternyata yang mencoret gardu ini memberikan sebuah pesan yang bagiku menjadi sebuah motivasi: “Don’t Give Up. I won’t!” atau secara literal ‘(Ko) Jangan menyerah. Sa (saja) tra akan (menyerah)!’
#2. Cinta tak (mungkin) lahir dari sebuah keterpaksaan!
Itu hal baru yang kupelajari hal ini saat berjalan kaki tadi dan merefleksikan sikap mantan pacarku yang mengirim sejumlah SMS ancaman. Aku belajar bahwa cinta bagiku bukanlah sebuah anugerah Tuhan yang lahir dari sebuah keterpaksaan. Cinta hanya bisa lahir saat aku menerima siapa diriku, dan diri orang lain tanpa keterpaksaan. Aku belajar bahwa saat terpaksa, yang ada hanyalah sebuah rasa kasihan, terpaksa ataupun terancam dan itu bukan cinta bagiku.
Tapi aku bersyukur karena hari ini khususnya sejak pagi, aku bisa menerima diriku, menerima kenyataan bahwa di luar sana, di sebuah tempat bernama Manokwari, ada lelaki yang tergila – gila padaku dan ingin aku tetap menjadi kekasihku walau dengan memakai cara yang membuatku tak nyaman, dan hal ini harus tetap kusyukuri. Aku harus bersyukur karena di tempat lain, ada banyak orang yang bahkan tak diinginkan, tak dicintai ataupun digilai. Namun, sebagaimana cinta sebagai sebuah kehendak bebas yang diberikan oleh Tuhan dalam hidup manusia, aku memilih untuk tidak mencintai lelaki ini lagi sebagai kekasih tetapi sebatas saudara dan sahabat. Tak boleh lebih dan tak boleh kurang. Karena kalau sampai aku terpaksa dan hanya kasihan dan menerimanya kembali, maka itu bukan cinta tetapi belas kasihan pun keterpaksaan.
Cinta itu membebaskan, bukan?
#3. Mencari Dia!
Sore ini kala menyusuri jejeran rumah – rumah dengan taman yang indah dan cerobong – cerobong asap tua khas rumah – rumah bergaya Inggris, aku terpesona pada Tuhan. Aku benar – benar merasa dekat dengan-Nya dan kalau mau jujur pada diriku, aku merasa damai dalam perjalanan sore ini.
Semuanya mungkin karena pagi ini aku kembali membaca manual hidupku selama di dunia, bercerita pada Tuhan tentang dosa – dosaku, pemberontakanku, amarahku dan semua hal yang kurahu salah di mata-Nya, dan saat berdoa minta ampun dan membaca manualku sebelum pergi ke sekolah, aku merasa begitu tenang. Bisa tertawa lagi. Satu hal yang sangat berbeda bila dibandingkan minggu lalu dimana aku harus menangis selama seharian.
Sore ini aku merasa baikan walau beberapa saat sewaktu di kampus sempat down dengan nilai tugasku yang drop lagi dan sampai – sampai memasang kertas post-it di buku cetak mata kuliah itu berlabel ‘Merasa paling GOBLOK!’. Jadi saat awal jalan sore di dalam kampus, aku masih dalam aliran suasana ‘merasa paling goblok’. Sambil berjalan dan menangis (I’m so melancholic), dan bilang pada diri sendiri, “aduh ini kan ko pu kesalahan sendiri. Merasa paling goblok kan cuma dapat nilai begitu dll”. Berjalan sambil mengutuki diri dan menyesali nasib. Tetapi kemudian, Ada suara dalam hati yang bilang begini, aku bukan ahli spiritual apapun, tapi aku percaya, jauh di sana, Dia (siapapun atau apapun yang anda lebeli dengan ‘Dia’) peduli padaku. Sebagai orang Kristen, aku percaya Tuhan-ku sedang berbicara denganku.
Suara itu bilang begini, “May, itu kan ko pu pendapat too, tapi BUKAN Sapu pendapat. Ko sendiri yang bilang ko goblok tapi itu bukan apa yang sa lihat dalam ko pu diri. Ko tidak perlu menjadi seperti apa yang orang lain inginkan dari ko, ko cukup jadi apa yang Sa inginkan. Sa tra lihat ko pu nilai tinggi atau rendah, May. Sa percaya ko pasti bisa melalui hari ini. Sa percaya ko bisa lanjut ke tingkat Master. Ayolah May, ko masih tra mo percaya tuh, ko ingat waktu urus Visa di Jakarta saja tersendat dan ko putus asa, trus Sa bilang kalo nan dalam beberapa hari ko dapat visa, trus ko waktu itu tra percaya, eee betul to ko dapat , walau ko terlambat ikut kegiatan selama 2 minggu?. Masa sekarang ko ragu tuh. Ayo semangat eee!”
Kembali lagi suara itu bilang begini, “May, hidup itu ko perlu jalani saja eee. Sekarang yang Sa pentingkan tuh apa dengan ko pu nilai tinggi tuh ko berguna dan jadi berkat bagi sesama ka trada? Ko tahu, ko termasuk beruntung, May. Tak semua orang dari ko pu tempat tuh bisa ada seperti ko saat ini. May, seberapa banyak perempuan dari ko tempat apalagi dari ko pu mama pu suku yang pu masa kecil kayak ko, yang pu kehidupan kayak ko, yang lulusan daerah tertimur di negara yang berada di utara benua ini bisa seperti ko? May, buka mata, penduduk asli benua ini saja, yang perempuan seperti ko, berapa banyak yang bisa seperti ko? Berapa banyak yang bisa kuliah di sini? Berapa banyak yang bisa berjalan tegap dan PD seperti ko? May, hidup perlu disyukuri dan diperjuangkan. Kalo ko merasa ko sudah lakukan yang terbaik dan sampai di sana adalah hal yang bisa ko lakukan, terimalah dengan ucap syukur eee.
Dan Suara sejenis ini dalam hatiku mulai mengisi perjalanan soreku tadi. Benar – benar menikmati!
Hari ini aku belajar banyak hal, aku belajar mengenal hidupku. Belajar mengenal Dia. Yang pasti seperti kata coretan graffiti di gardu telepon, “Don’t Give Up. I won’t!”.
(Canberra, 29 Oktober 2009.)
0 comments:
Post a Comment