Sambil mendengarkan koleksi lagu gospelku, ku lihat majalah murah (65 cents) WarCry terbitan The Salvation Army, sebuah denominasi gereja. Majalah ini kerap kuambil kala belanja di The Salvos Store; gerai pakaian bekas layak pakai di Australia. Saat membuka majalah edisi 10 Oktober 2009, aku terhenyak dengan pembahasannya tentang kemiskinan, khususnya tentang minggu Anti-Poverty yang digelar di Australia sebagai Anti-Poverty week sejak tahun 2002 sebagai bagian dari Hari Internasional pemberantasan kemiskinan PBB terhitung sejak tanggal 11 – 17 Oktober dengan puncaknya tanggal 17 Oktober. Jadi selama minggu ini, akan ada banyak kegiatan di komunitas di Australia mulai dari pameran fotografi, seminar dan lain – lain yang intinya sih untuk meningkatkan kesadaran bahwa kemiskinan itu nyata dan ada plus terlepas dari semua jenisnya, harus ada langkah nyata yang diambil guna memutuskan rantai kemiskinan.
Bagiku pribadi, kemiskinan begitu menakutkan, mulai dari secara fisik hingga ke rohani. Banyak buku yang kubaca yang begitu menyentuhku secara pribadi dan menjadi sebuah inspirasi untuk maju, mulai dari upaya Greg Monterson dalam ‘Three Cups of Tea’ yang ingin memutuskan rantai kemiskinan lewat pembuatan sekolah – sekolah yang mengutamakan perempuan dan anak – anak miskin di daerah Himalaya, hingga terharu dengan kisah ‘the City Of Joy’ yang bersetting di Kalkutta India dan juga kisah peraih Nobel Muhammad Yunus di Bangladesh yang menciptakan Garmeen Bank untuk para pengemis dan juga deretan kisah – kisah lainnya yang menyentuh kala kubaca edisi Reader’s Digest. Bagiku, kemiskinan memang nyata dan ada, dan selalu ada orang – orang yang berusaha mematahkan rantai kemiskinan itu lewat berbagai cara.
Bicara tentang kemiskinan, aku kok malah teringat kutipan salah seorang tokoh yang jujur pada beberapa hal sangat memengaruhiku beberapa tahun terakhir ini dalam menilai prioritas kepemilikan suatu benda; Mother Theresa. Mungkin karena sejak SMK kelas 1, aku telah membaca karya – karya Anthony De Mello, SJ dimana beliau sering mengutip perkataan Mother Theresa, yang secara otomatis memengaruhiku juga. Adapun kutipan – kutipan Mother Theresa bisa diperoleh di link yang kucantumkan di akhir catatan ini, aku harap bisa menginspirasikan hidup anda. Salah satu perkataannya yang sangat menginspirasiku adalah perkataanya tentang kemiskinan adalah “Loneliness and the feeling of being unwanted is the most terrible poverty” (Kesendirian dan perasaan bahwa kita tak diinginkan adalah kemiskinan yang paling buruk) dan itu terefleksikan dalam banyak hal yang kulihat dan kusaksikan, dan kadang aku masih berjuang keras untuk melawan musuh terbesarku ini. Karena bagiku, hal yang disebutkan ini kadang membuat kita lumpuh dan berpikir bahwa kita tak bisa berbuat apa – apa bagi hidup kita, apalagi bagi hidup orang lain.
Mungkin catatanku ini terlalu berat bagi kalian yang membacanya, terlalu berbelit – belit, tapi aku ingin melihat dalam hidup kalian dan bersyukur bahwa di saat kalian bisa membaca catatan ini, sebenarnya kalian telah berada beberapa langkah ke depan dari berpuluh atau beratus bahkan beribu orang lainnya di dunia. Karena pertama, anda mempunyai akses ke internet. Anda mempunyai uang untuk membayar sambungan ataupun fasilitas ini. Anda bisa membaca apa yang kutulis, artinya anda mendapatkan pendidikan. Anda bisa mengonsep apa yang kutulis dalam pikiran anda, artinya otak anda bekerja dengan baik dan ‘normal’ dan tak mengalami masalah dengan beberapa orang yang kurang beruntung yang kadang tak bisa mengikuti apa yang kutulis ini. Jadi, anda benar – benar diberkati!
Dari catatan statistik yang kubaca dari laporan PBB, ditengarai sekitar 50% dari 6, 5 Milyar orang yang gajinya itu cuma kurang dari AUD $ 2/ hari (kalo 1 AUD $ sekitar Rp. 8000, kalikan saja berapa?), dan lebih dari 1 Trilyun itu hanya kurang dari AUD $. Miris banget kalo melihatnya. Plus ada juga laporan Bank Dunia kalau kemiskinan itu sebenarnya punya “banyak wajah, yang berganti dari satu tempat ke tempat lain”. Kemiskinan yang kulihat di Afrika adalah juga kemiskinan yang kulihat di Papua. Kemiskinan yang kulihat di Asia adalah juga kemiskinan yang kulihat di Australia. Kemiskinan itu nyata, cuma sayangnya kadang kita pikir, itu bukan urusan kita karena toh, sudah ada Departemen Sosial lah, pihak gereja dan pihak agamawi lainnya, plus LSM sosial lainnya.
Sebenarnya apa sih yang kita harus buat guna memerangi kemiskinan? Kan tak ada gunanya kan mengulang cerita lama terus menerus tanpa berbuat sesuatu. Mungkin ini pertanyaan yang akan anda lontarkan padaku saat membaca catatan ini. Dalam hal ini, aku sangat setuju dengan pertanyaan seperti ini. BUAT PERUBAHAN!!! Itu yang ingin kukatakan. Putuskan rantai kemiskinan ini.
Caranya??? Mulailah dari hal – hal sederhana yang bisa kita lakukan karena aku percaya sebagaimana yang diajarkan oleh seseorang beberapa abad lalu bahwa, “bila kita setia dalam perkara yang kecil, maka kita bisa juga membuat perkara yang besar”. Konsep ini diadopsi oleh Mother Theresa sebagai, “In this life we cannot do great things. We can only do small things with great love.” (dalam hidup ini, kita tak dapat melakukan hal – hal yang hebat, Yang kita lakukan adalah dapat melakukan banyak hal kecil dengan kasih yang besar).
Kita bisa mulai dengan menyadari dan mengakui bahwa kemiskinan itu ada. Kemudian mulailah dengan mengucap syukur dengan apapun yang kita punya saat ini dan bukannya apa yang tak kita punya. Aku juga kadang berada dalam posisi yang menggerutu, tapi saat aku mulai menggerutu, aku tersadar bahwa aku sudah kehilangan momen bahagiaku dan malah membuat keadaanku semakin buruk. Jadi dengan mengucap syukur dan mengubah sudut pandang kita, sebenarnya kita telah membuat suatu pembedaan dalam konsep kemiskinan diri kita.
Setelah itu, mulailah melihat sekeliling kita. Tak langsung harus menolong anak yatim piatu satu kecamatan atau satu kota. Mulailah dari dalam keluarga sendiri. Apakah hari ini Tuhan, saudara, anak, kekasih, istri, suami, orang tua ataupun keponakan kita telah mendapatkan perhatian yang seharusnya mereka dapatkan. Membuat mereka merasa dicintai dan bahwa kita mencintai mereka. Aku mungkin tak begitu bisa memberikan contoh yang baik, karena daftar teman di Facebookku saja hanya kusapa kalau sempat, tapi aku selalu menyempatkan bertukar kabar dengan keluargaku khususnya bapak setiap hari. Kalau sampai jam 7 malam belum ada SMS yang masuk, maka aku yang mengirimkan SMS menanyakan kabar, begitupun sebaliknya. Ini caraku untuk menjaga hubungan komunikasi dan menyatakan bahwa mereka tetap menjadi bagian terbesar dari hidupku.
Aku percaya kunci untuk memberantas kemiskinan adalah saat kita menganggap bahwa orang lain adalah bagian dari diri kita sendiri. BERBAGI mungkin kata yang tepat untuk menyatakan hal ini. Berbagi ilmu lewat pendidikan, berbagi Kemakmuran lewat Zakat, persembahan syukur dan bantuan lainnya. Berbagi senyuman untuk orang – orang yang sedang sedih dan murung. Berbagi tawa dengan mereka yang sedang berbeban berat. Banyak hal yang dapat kita buat.
Hari ini, lihatlah ke dalam hidup anda. Apa yang kita bisa buat, buatlah itu. Jangan menunda. Kalau memang hari ini kita bisa melakukan sesuatu, misalkan saja menyumbang 1 buku ataupun 1 pensil pada anak tetangga kita yang tak bisa membeli buku, lakukan itu. Kalau hari ini kita bisa berbagi semangkok sayur untuk tetangga kita yang sedang tak punya uang untuk membeli lauk pauk, lakukan itu. Kalau hari ini, saat berjalan dan bertemu anak – anak kecil yang mencari tumpangan ke sekolah atau pulang ke rumah, berikanlah itu. Aku percaya, Tuhan mengejewantah dalam banyak rupa, dalam banyak orang.
Akhirnya, hari ini, saat membaca catatan ini, cobalah ambil waktu 5 menit dan berpikir apa yang telah terjadi dalam hidup anda. Seberapa banyak hal yang telah anda punya agar bisa disebut manusia, seberapa banyak fasilitas yang anda miliki saat ini, seberapa banyak hal yang bisa anda nikmati cuma – cuma. Aku akan melampirkan beberapa pertanyaan yang aku pikir perlu kutanyakan pada diri sendiri dan juga anda bisa membantu dengan menanyakan pada diri anda sendiri.
• Apakah aku mempunyai makanan hari ini?
• Apakah aku berpakaian hari ini?
• Apakah aku mempunyai tempat untuk tinggal ataupu tidur mala mini?
• Apakah aku mempunyai seseorang yang peduli padaku hari ini?
• Apakah hari ini aku masih bisa melihat, merasakan sesuatu, mendengar bunyi, merasakan asin makanan ataupun membaui makanan?
• Apakah hari ini aku bisa berjalan dari satu ruang ke ruang lain tanpa rasa sakit dan alat bantu?
• Apakah hari ini aku bisa menulis walau hanya satu kalimat, ataupun mengetik walau hanya satu baris, dan bisa membaca walau satu deret huruf?
• Apakah hari ini apa yang dikatakan oleh orang lain dapat kumengerti walau tak begitu sempurna namun aku dapat menangkap maksudnya?
• Apakah hari ini aku bisa membeli sesuatu walau hanya 1 buah permen?
• Apakah hari ini aku menerima 1 SMS, panggilan telpon, 1 e-mail, 1 sapaan ataupun ada yang mengajakku bicara hari ini?
• Apakah aku mempunyai rencana beberapa hari ke depan, atau ke bulan depan atau tahun depan?
Aku ingin menambah lagi daftar pertanyaanku tapi aku tahu tak akan pernah cukup lembar ini untuk menampung berkat – berkat yang mengalir dalam hidup kita. Bayangkan, untuk hidup saja hari ini tanpa satu pun keluhan sakit ada puluhan berkat di dalam tubuh kita.
Jadi, mulailah berbagi apa yang kita bisa lakukan dan bukannya apa yang tak bisa kita lakukan. Jangan pernah berpikir bahwa uang selalulah yang jadi solusi dari permasalahan kemiskinan, karena jauh di sana, … aku melihat banyak hati yang perlu disentuh dengan kasih Tuhan dan mengatakan bahwa mereka berharga dan layak untuk hidup!!!
Bagikan kasih, patahkan rantai kemiskinan, karena Tuhan tak pernah ingin kita hidup miskin!!! Yang Tuhan inginkan adalah hiduplah secukupnya! Yang Tuhan inginkan, hiduplah dalan kecukupan untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain. Kekayaan diijinkan dalam hidup agar kita menjadi orang – orang yang dapat berbagi dengan orang lain.
Hidup cuma satu kali. Buatlah perubahan!!!
Kita adalah manusia yang hidup dalam lingkaran hidup. Apa yang kau buat bagi sesama, sesungguhnya adalah apa yang kita buat bagi diri kita sendiri.
(Canberra/ Di sebuah malam 12 Oktober 2009)
Link kutipan Mother Theresa:
http://www.brainyquote.com/quotes/authors/m/mother_teresa.html
0 comments:
Post a Comment