Search This Blog

Loading...

Wednesday, 23 September 2009

Tukang Mimpi: Pesta Nikah

Catatan ini kubuat di saat aku telah membuat pernyataan di dinding akun Facebookku bahwa “Tidur sore in progress bla bla bla”. Niat awalnya sih memang mau tidur sore, tapi karena sibuk membalas sejumlah pesan dari seorang lelaki kenalan baru di sebuah pulau bernama Papua (yang lagi – lagi kok etnis, senyum dan pandangan matanya mirip banget dengan mantan pacarku di tempat kerja yang sama .. gubraaaakkkzzz) plus juga karena cuaca yang cocok untuk bermalas – malasan, kebetulan hari ini baru saja usai hujan dan cuacanya sejuk hingga kembali lagi suasana hati yang melankolis membuatku tak bisa tidur sore. Sambil mencari rasa ngantuk yang entah menghilang kemana, mungkin saja ia sedang mencari pisang goreng di ujung jalan ataupun sedang naik ojek entah kemana, eee tiba – tiba kok pikiranku tersangkut pada satu pikiranku sejak lama, yang sudah lama terpendam dan masih ada di sana. Maybe it is so foolish for you, mungkin konyol, mungkin kedengaran macam ‘big – big’ (slang anana Manokwari saat aku masih SMP tahun 1995 – 1998 untuk ‘bingung – bingung’), mungkin juga kedengaran ‘stegi’ ataupun ‘seno’ … but it is the real me. Seorang pemimpi! Nih cuma sebuah pemikiran yang telah lama mengristal di otak sejak remaja. Tentang pernikahan …Gubrrrrrraaaaaakzzzz. Yeap, jelasnya …pesta pernikahanku!!!

Mungkin para teman dekatku apalagi yang satu kelas saat kuliah di UNIPA, saat mata mereka membaca alinea ini akan segera tertawa dan bilang, “Day, su trada topik lain lagi ka?”. Topik ini bagi mereka kedengaran sama dengan frasa, “Carikan sa pacar ka?”. Entahlah, tapi pikiran ini telah lama tersusun sejak remaja dan kadang membuatku senyum – senyum sendiri membayangkan bagaimana pesta pernikahanku. Tentu saja baru kali ini aku berani membuatnya dalam tulisan, toh sudah tak ada yang perlu disembunyikan dari diriku, karena mottoku sejak tahun ini adalah “Everybody has their own story!” (pasti kalimat ini akan diprotes oleh convernor jurusanku karena tak menggunakan ‘one’s story’ ^_^).

Waktu remaja dulu, impianku untuk pesta pernikahanku tuh masih yang standar a la di Papua; sebuah pesta besar di gedung, banyak kursi dan tamu – tamu undangan. Tentu saja dengan makanan – makanan lezat. Namanya juga impian remaja. Walau saat itu aku masih masuk kategori cewek tomboy saat SMA tapi karena melihat pesta nikahnya saudara sepupuku (mbak Is) di Jayapura, sempat berpikir juga tentang ‘pesta nikah’ ^_^

Seiring dengan waktu, apalagi saat bertemu dengan para mantra (manusia sastra) yang ‘gila’, ‘kreatif’ dan juga mendukungku untuk menjadi apa yang kuinginkan, pemikiran ini malah sering jadi topik pembahasan di kelas, malah sudah sampai tahap kalo melahirkan anak tuh kira – kira cara menangis sih bayi pasti kayak apa *_*. Nah saat itu, waktu masih sangat tomboi waktu kuliah, otak masih ‘error – error’ dan masih suka balapan di jalan raya (Oh Tuhan, ampuni gaya balapku jaman dulu yang mungkin membuat ketar – ketir orang yang kubonceng ataupun yang kusambar dengan motor ataupun ‘ojek – ojek’ yang kuajak ‘balapan’, khususnya kalau ke arah Amban), saat ‘ketomboian’ masih kental di darah, waktu itu malah berpikirnya begini, aku ingin acara nikahku tuh di atas motor. Kedengaran gila ya?

Saat itu, aku berpikir, pasti seru kalo pemberkatan nikahku saat aku berada di atas motor. Jadi aku dan KAGA (kaka gantengku; istilah ini kulontarkan saat masih kuliah di Manado pada teman – teman dekatku di sana) akan naik sebuah motor trailer a la belalang tempur, tentu saja gaun nikahku dimodifikasi. Terus, tentu saja meminta jasa polisi lalu lintas sekitar 2 orang sebagai pembuka iringan – iringan pengantin, karena aku mau pemberkatannya harus di jalan raya, terus semua pengiring harus memakai motor, dan tentu saja aku akan menyewa jasa ojek sekitar 20 orang untuk menjadi pengiring di belakang motor pengantin ^_^. Aku suka saja sama warna kuning dan kebetulan komunitas ojek di Manokwari memakai helm kuning dan rompi scotchlight kuning ngenjreng. Jadi saat itu aku sudah membuat ancang – ancang rencana ‘plan A’ dan ‘Plan B’. Plan A sih yang ekstrim alias bahwa aku mau acara pemberkatannya di jalan raya depan gereja EH Fanindi alias di seputaran Makalo, terus pendetanya wajib berdiri di depan ‘CKB’ (Calon Keluarga Baru) dan pemberkatannya di jalan di depan motor jadi kan kalo di fotonya, motor yang sudah diotak – atik itu akan kelihatan. Nah plan B adalah kalau seandainya banyak menuai protes, maka segera saja dipindahkan ke dalam gedung gereja, tapi abis itu ya tetap saja naik lagi di atas motor dan mulai konvoi. Tentu saja aku sudah memikirkan mengurus izin ke kepolisian agar tak perlu memakai helm dan melakukan tindakan akrobatik ^_^. Saat itu aku bahkan sampai memikirkan serunya kalo rombongan ojek yang kusewa juga mengganti ulang suara klakson motor mereka dengan nada dering lagu favoritku. ^_^

Saat menjelang akhir tahun kuliah dan aku lagi senang jadi relawan bagi kegiatan beberapa LSM Lingkungan hidup yang sibuk mengurusi hutan, aku mulai berpikir tentang pesta pernikahanku .. lagi. Kali ini tentu saja dengan tema hutan dan pohon, pokoknya hutan tropis. Aku malah berpikir mau mengganti tema gaun nikahku dengan suasana hutan, dimana acaranya akan kuadakan di sebuah hutan. Saat itu yang kepikiran malah kebun milik keluarga di luar kota Manokwari, khususnya di Mandopi. Aku membayangkan pesta itu tak perlu memakai tenda karena kanopi beberapa pohon di kebun cukup rindang, apalagi dari pinggir jalan tak begitu jauh dan jalan setepak menuju ke kebun bersisian dengan nenas hutan, bambu dan tanaman merambat. Aku bahkan berkhayal bahwa janji ‘sehidup – semati’ apa ‘satu hidup – satu mati’ itu harus diberkati dari sebuah mimbar yang dibuat dari bambu – bambu nasi, dan aku sudah membayangkan kursi pengantinnya yang sederhana saja dibuat seperti para – para kayu buah yang diberi sandaran dan dihias dengan tanaman menjalar yang ada di pinggiran pantai mandopi dan sirih gading dan tentu saja dilengkapi dengar simbar menjangan (paku kuda). Musiknya tentu saja aku mau ada tifa, dan perkusi dan tetabuhan suara alam. Kalau perlu, sejenis ngengat yang berisik dan suka menandakan petang di Manokwari akan ‘kupinjam sementara dan ‘disimpan dalam wadah perangkap tikus’. Santapan pesta itu pastilah hasil kebun dan kalau perlu a la barapen. Tentu saja ‘keladi tumbu wajib hadir di pestaku. Tentu saja, sebelum acara aku sudah memastikan lokasi bebas dari nyamuk ^_^ (dan agas).

Saat mulai memasuki dunia kerja dan mulai berinteraksi dengan banyak hal apalagi mulai rajin snorkeling dan makin jatuh cinta lebih pada pantai. Aku pun memutuskan untuk pesta nikahku tetap wajib berada di pantai, khususnya di pantai di sebuah kampung yang bukan di dekat kota. Sampai saat ini aku masih punya harapan akan pesta nikah seperti ini. Apalagi saat tahun 2008 dan ikut kegiatan kabupaten Supiori, aku jatuh cinta pada dermaga kayunya, dan tentu saja mengingat dermaga Mansinam tercinta. Aku bahkan sampai saat ini telah membuat daftar dermaga ataupun pinggiran pantai dan kampung yang bisa dijadikan tempat pesta nikah. Pertama, halaman gereja GKI di kampung Abassi di Manokwari, aku suka halamannya yang berpasir putih dan berpohon kelapa, dan sejak kecil, aku sudah menganggap tempat itu memesona. Yang kedua tentu saja, dermaga kayu pulau Mansinam. Ketiga, halaman gereja di pulau Lemon, tempat teman – teman di Komunitas Pesisir sering berkemah dan membersihkan sampah bawaan ombak yang nyasar. Ke empat, sebuah kampung atau resor di kep. Raja Ampat, karena aku terpesona melihat pantai dan pemandangan alamnya.

Karena aku pecinta mentari yang terbenam dan laut, aku ingin acara janji ‘sehidup – semati ka satu hidup – satu mati’ dilangsungkan saat senja, saat mentari jingga pulang ke peraduannya. Dan aku ingin di jalan atau dermaga kayu menuju tempat mengikat janji itu diterangi dengan obor – obor bambu, dan di dekat dermaga itu akan diterangi oleh lilin – lilin yang dimasukan dalam sejenis toples tempat bunga (agar tak padam tertiup angin). Aku bahkan membayangkan janji itu akan diikat dibawah sebuah gerbang besi yang dipasang di ujung dermaga dan berhiaskan sulur – suluran dan ikatan – ikatan mawar (bunga plastik juga tak apa – apa yang penting mawar plastik berwarna crimson; merah darah babi), atau kalau berada di pantai, maka akan dihias dengan bunga – bunga Bugenvil. Di ujung dermaga itu tentulah ada pendeta dan mimbar kayu kecil dan juga obor – obor di sudut – sudut dermaga. Tentu saja tak lupa agar kelihatan seperti ‘pesta’. Maka aku ingin lantai dermaga diberi guntingan hati dari kertas perak dan bertabur ‘ujung-pukul-ujung’. Satu hal yang tak boleh dilupakan tentu saja lagu – lagu favoritku.

Bicara tentang musik, aku bahkan sudah pernah membuat daftar lagu – lagu yang akan kupakai di acara pernikahanku, kalau perlu aku akan membayar seorang teman lelaki yang kutahu suaranya bagus dan bisa menyanyi lagu – lagu R & B kesukaanku ^_^. Yang pasti, aku sudah membayangkan aku tak ingin memakai irama khas musik pengantin di Manokwari. Tak mau saja! Satu yang pasti, lagu Black Brothers (Diru Dina & Peirambo) wajib hadir usai pemberkatan karena aku lagi jatuh cinta sama kedua lagi ini dan cocok dipakai berdansa, dan moga- moga saja saat nikah besok kedua lagu ini bisa dinyanyikan oleh ‘anana KOCA = komen Canberra’ hihihi

Tentang fashion, aku bahkan sudah merancang konsep gaun pengantin untukku dan Kaga. Aku tak suka yang berat dan terlalu banyak detail. Karena konsepnya di pinggir pantai, aku ingin rambutku cuma digerai dan diberi gel biar berkesan basah, sedikit kribo pun tak apa, tentu saja aku akan membuat sendiri mahkota kerangku, dalam hal ini, aku ingin semuanya bertema pantai. Kaga pun tak perlu memakai jas, karena aku ingin dia cukup memakai kemeja putih off-white dengan kerah seperti baju koko. I want as simple as possible! Aku ingin pakaiannya sederhana supaya aku bisa bebas bergerak dan bisa berdansa. Yang pasti, aksesoris tetap ada.

Aku membayangkan hidangan di pesta ini yang pasti bertemakan laut, walau aku juga menyediakan yang umum, dan tentu saja makanan favoritku seperti ketupat kuning, udang dan gurita (kombrof) wajib ada. Yang pasti aku ingin semuanya bertemakan laut hingga meja makan kalau perlu dihias dengan tatanan kulit kerang dan karang yang telah mati.

Aku bahkan pernah membayangkan tentang konsep pesta pernikahanku tak boleh membosankan karena terus terang saja, saat di Manokwari, kadang aku sampai ‘baku marah’ alias marahan dengan mama karena masalah undangan pesta nikah. Bukannya apa, aku selalu menjadi perutusan keluarga kala ada undangan nikah. Mo temannya mama, ataupun bapa, atau orang kompleks, pastilah namaku yang langsung diabsen. Kadang aku malas saja menghadiri acara nikah karena beberapa alasan klasik yang sering kujumpai. Kalau bukan format acaranya yang hanya duduk manis, diam, tenang, dan makan, pasti bertemu dengan pertanyaan basa – basi, “Baru ko sendiri kapan nikah?, ko pacar siapa sekarang? Ko su umur berapa sekarang? de el el”. Bukannya tak bersyukur diberi perhatian seperti itu oleh kenalan ataupun kerabat. Aku cuma malas saja menjawab pertanyaan mereka saban datang ke acara nikah seorang diri atau kadang mengajak teman cewek.

Bahkan dulu aku sampai membuat heboh di pesta nikahnya seorang teman di sebuah gedung karena datang bersama seorang teman bule; temanku yang fotografer di Melbourne. Mana saat itu kami kompakan berpakaian hitam dan ia sedang suka menggimbalkan rambutnya yang pirang. Tentu saja salah satu poin yang membuat heboh adalah ia benar – benar bertampang bule lengkap dengan mata biru dan rambut pirang. Alhasil, saat duduk di belakang, para tamu yang lain tak fokus ke pengantin dan malah sibuk memerhatikan kami berdua yang asyik cerita. Tentu saja ini belum ditambah saat pulang dan berjabat tangan dan bertemu beberapa kerabat dari pihak pelanya oma. Jangan ditanya lagi bagaimana pertanyaan mereka, “Itu Day ko pu calon ka? De el el …”. ‘Macam mo pingsan saja langsung’, untung temanku tak fasih berbahasa Indonesia.

Tapi satu yang pasti, aku ingin saat acara nikahku adalah acara yang dilengkapi dengan musik, tak harus dengan penyanyi tiap saat, tapi bisa juga dengan musik favorit dan acara dansa singkat. Aku juga ingin membuat sebuah proyek rekaman pra-nikah, programnya tak harus pakai webcam yang baik, cukup dengan kamera digital pun bisa dibuat, dan tak perlu program komputer yang rumit, karena intinya aku mau dibuat seperti ‘film acak’ tentang ‘pernikahan’. Jadi aku dan KAGAku akan bertemu beberapa teman, sahabat, kenalan, keluarga dan kerabat dan juga teman – teman kerja ataupun tetangga kami. Aku mau rekaman itu dibuat sebelum kami mengirimkan undangan pernikahan kami yang resmi, sebelum ada rapat – rapat antar 2 keluarga. Intinya adalah ‘wawancara’ dengan orang – orang yang akrab dengan kami. Dan kami akan memberikan pertanyaan yang ditulis di kertas seperti begini, “E Day or Kaga su mo nikah nih, menurut ko bagaimana? Ko ada pesan – kesan ka trada? De el el”, pokoknya biarkan mereka bicara apa adanya. Aku ingin ada tawa, kejutan, makian, candaan, dan juga pesan – kesan yang ‘kaco, ancur, jorok’ semuanya. Karena niatnya sih, video rekaman yang telah diedit itu akan diputar sebelum iringan pengantin masuk dalam arena pesta usai pemberkatan. I want the real me and my future-hubby on that video.

Tentu saja video itu akan dilengkapi dengan lagu favoritku plus berisikan sejumlah potongan keseharian kami, mulai dari rekaman sembunyi – sembunyi di tempat kerjanya dan rumahnya, kalau perlu aku akan membayar temannya dan juga temanku untuk mengambil gambar ataupun rekaman singkat tentang keseharian kami di tempat kerja, rumah dan saat kumpul dengan teman – teman. Ide video ini sebenarnya dari film Mr. Bean yang liburan di Paris, aku suka sekali pada pencahayaannya plus gaya penuturannya sang sutradara kala filmnya salah. Aku ingin orang – orang yang datang ke acara nikahku benar – benar tahu siapa pasangan yang menikah, mengenal keseharian kami dan tentu saja tak menganggap kami ‘raja dan ratu sehari’ tapi besoknya malah jadi ‘partner in crime atau sparing partner’ kala bertengkar. Yang pasti aku tak mau ini seperti another cinderella’s story. Tentu saja aku tak mau juga membuat para tamu yang datang merasa bahwa mereka datang karena sebuah keharusan ataupun demi menjaga perasaan pengantin tetapi tak dihibur, karena toh mereka telah meluangkan waktu mereka yang berharga untuk bergabung merayakan ikatan komitmenku pada pasangan. So, acaraku wajib pesta dan menghibur.

Aku juga ingin para undangan yang datang, apakah acaranya itu di pinggir pantai ataupun di dekat dermaga, para tamu wajib datang dengan membawa alat tulis karena aku akan menyediakan kertas origami warna – warni yang kupotong berbentuk hati dan para penerima tamu akan memberinya pada para tamu. Aku akan meminta para tamu itu menulis tentang bagaimana mereka mengenal aku atau pasanganku, mangkali saja akan ada tetanggaku yang menulis bahwa aku seorang penakut kelas kakap yang tiap pulang malam dari sebelah rumah harus berlari dan berteriak kencang - kencang saat melewati pohon Jambu air, atau juga bisa tentang kapan mereka mengenal salah satu dari kami dan kalau perlu ada pesan dari kami. Mereka tak perlu menulis nama mereka, aku hanya ingin jawaban mereka. Kertas – kertas itu tentu saja akan kubuat dalam bentuk scrapbook karena toh, aku pecinta scrapbook sejak remaja (saat menulis bagian ini, aku kok malah ingat proyek – proyek anak literature angkatanku. Ma’am Y, thanx su kasi kesempatan sa dan teman – teman mengeksplorasi diri kami.). Selain undangan nikah yang ditempel, tentu saja foto – foto pre-wedding, foto acara nikah, DVD rekaman acara nikah dan video komentar, dan tentu saja, aku akan menempelkan komentar para tamu plus kronologi pesta nikahku. Aku ingin komentar yang masuk tanpa nama agar buku itu saat kubaca, akan mengingatkanku tentang setiap momen dan pendapat orang tentang pesta nikah ini.

Aku juga sempat berpikir begini, kebetulan aku tak terlalu menyukai kue tart ataupun kue sejenis itu, jadi kalau bisa sih, kuenya sederhana saja, kecil dan tak perlu bertingkat, dan kalau perlu cukup pake Black Forest saja, tentu dengan Inisial namaku dan Kaga-ku dengan lilin – lilin kecil dan ditemani acara minum anggur lah, karena aku penyuka anggur, yang pasti harus jenis Pinot Noir ^_^. Tapi yang pasti, intinya aku tak mau acaranya terlalu lama pada acara pemotongan kue pengantin, yang aku inginkan malah aku dan Kaga-ku ada prosesi menanam pohon secara simbolis dalam pot yang disediakan, bisa biji mangga ataupun nangka ataupun anakan pohon dan secara simbolis ditanam dalam pot bersama dan disiram. Tentu saja tuh pohon wajib dirawat ^_^. Aku memilih pohon karena sejak aku lahir, bapaku menghadiahiku beberapa pohon sebagai penanda kelahiranku dan aku ingin di momen spesial ini wajib ada pohon yang kutanam, dan kelak saat aku meninggal, inginnya sih ada pohon yang ditanam di atas kuburku atau di suatu tempat sebagai simbol ^_^. Aku terbiasa melihat pohon sejak kecil dan ingin pepohonan menjadi keseharianku.

Aku juga ingin dalam acara nikah itu aku tak harus duduk pada sebuah kursi yang bagai raja atau ratu, aku malah ingin acara nikah yang di mana aku dan Kaga bisa berbicara dengan para tamu, berkenalan dan memperkenalkan. Aku malah berpikiran kalau kursi pengantinnya wajib dibuat dari para – para kayu buah yang dihias dengan daun kelapa
Sampai di bagian ini, panggil aku pemimpi dan aku bangga menjadi pemimpi. Karena pertanyaannya yang paling penting adalah adakah lelaki di luar sana dan tentu saja keluarga besarnya yang mau pesta nikahnya dibuat seperti ini?

Panggil aku pemimpi, karena aku bisa bilang kapan aku nikah dan bagaimana aku nikah, tapi aku masih tak tahu dengan siapa aku akan menikah. Panggil aku pemimpi!
(Pada bagian ini, percayalah, kalau ini ungkapan orang yang baru ‘patah hati’ ^_^ karena aku malah kepikiran sama SMS lucu yang bilang, datang ya pada acara nikah sang pengirim SMS plus sekalian bawa calon pengantin pria-nya hehehe)

Catatan ini pun kututup sambil mendengar kata – katanya Darren Hayes dari ex. Savage Garden “I knew I loved you” sambil terus bermimpi kalau suatu hari nanti akan ada lagunya Bon Jovi “Thank you for loving me” diputar di sebuah pesta nikah di pinggiran pantai di sebuah kampung pesisir di tanah Papua. Sebuah pesta nikah seorang pemimpi.

“I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life”

(Savage Garden)

“I never knew I had a dream
Until that dream was you
When I look into your eyes
The sky's a different blue
Cross my heart
I wear no disguise
If I tried, you'd make believe
That you believed my lies”

(Bon Jovi)

(Campbell, Canberra/ pada hari ulang tahun ke 25 ade nyongku, how I miss him so much; mopnya, cerewetnya, kejailannya, 4 – 8 p.m.)

0 comments: