Search This Blog

Loading...

Saturday, 19 September 2009

Terima kasih kepada yang mengingatku

Malam ini tanggal 19 Agustus 2009, pukul 1.40 pagi. Radio One Way FM masih menemaniku dengan sederet tembang rohani. Aku baru saja pulang latihan nyanyi untuk ibadah dan benar – benar kecapaian. Bernyanyi benar – benar menguras tenaga, tapi aku menikmatinya. Walaupun sempat terkejut dan sedikit merasa tidak sejahtera pada awalnya karena perubahan jadwal nyanyi yang dikonfirmasikan tiba – tiba. Tapi usai tiba dan mulai menyanyi, semua rasa tidak sejahtera itu lenyap seiring dengan pujian dinaikkan, bahkan aku menemukan semangat baru untuk mengerjakan pekerjaan yang tertunda. Begitu lega!!!

Hari ini, masuk hari ke tiga, aku resmi berusia 26 tahun, sebuah usia yang sudah layak menikah dan punya anak, membentuk keluarga baru dan lain – lain. Aku bersyukur karena hingga usia ini aku masih bisa menikmati hidupku sebagai lajang muda yang punya kebebasan menjelajah banyak hal, walau jauh di hatiku tetap saja berpikir, “Kapan ya punya anak?”.

Ulang tahun kemarin benar – benar sebuah hari yang melelahkan karena sejak pukul 5 pagi telah bangun dan jam 7 aku telah berada di atas bis menuju tempat kerja. Kemudian ritual rabu pun dimulai dengan bertemu tutor, mencari buku – buku penunjang tulisan dan juga sejumlah kegiatan melelahkan lainnya. Sebenarnya aku ingin merenung di sebuah tempat sunyi seperti ritual tahunanku di Manokwari, biasanya di pantai dan melihat ke belakang apa yang telah Tuhan berikan sepanjang hidupku. Tahun ini kegiatanku terpaksa kuganti dengan merenung di dalam bis sepanjang tempat kerja ke kampus.

Tahun ini aku juga mendapat banyak kejutan di hari ulang tahunku. Aku bukan orang yang suka merayakan ulang tahun dengan pesta, karena seingatku pertama kali aku mengundang teman makan bersama di warung mie ayam terjadi tahun 2005, kemudian pada tahun 2006 bersama beberapa teman di Rumah makan Salam manis, kebetulan aku ingat karena waktu itu aku baru saja beberapa hari berkenalan dengan mantan pacar di Timika dan saat itu kami sedang sibuk ber-SMS membahas potongan rambutnya ^_^. Tahun 2007 kalau tak salah aku tak merayakannya karena beberapa hari setelah itu aku malah naik gunung ke pedalaman (Anggi) dan menjadi pemandu pasangan opa – oma dari Belanda; temannya seorang kerabat. dan terakhir tahun 2008 bersama beberapa sahabat masa kecilku di restoran 89.

Tahun ini kejutannya berupa pesan – pesan lucu di dinding Facebookku dan juga kejutan teman serumah yang benar – benar ‘gila’. Aku pikir mereka tak ada yang tahu, karena aku sengaja menghapus data kelahiranku di Facebook dan berharap aku bisa bersantai dan menikmati hari dengan tenang tanpa kejutan ataupun tanpa ‘dapa main’. Jadi jam 8 malam aku telah tidur dengan nyenyak karena keesokan harinya aku harus naik bis jam 7 ke tempat kerja dan masih ada kuliah sampai jam 6 sore. E ternyata, pukul 10 malam, sedang tidur nyenyak, masuklah R; teman serumahku ke kamar dan membangunkan aku. Di rumah kami, tak ada satupun kamar yang punya kunci. Ia bilang, “Day, bangun. Si El masuk rumah sakit.” Aku yang masih ngantuk dan sedang ‘mengumpul nyawa’ pun spontan bilang, “ah saya nggak ikut antar.”. Tapi saya ditarik lagi dengan satu frasa yang membuatku sontak berpikir keadaan kak El memang buruk karena memang El sedang sakit beberapa hari ini, “Tapi nggak ada yang bisa gotong dia. Ayo bantu, Day”. Dengan malas dan memaksa tubuh terjaga, aku dengan jubah tidur dan rambut acak – acakan keluar kamar menuju ruang tamu. Tapi kok lampu ruang tamu padam, dan I smelt something fishy … dan benar! Baru berada di ujung gang menuju ruang tamu dan saat kepalaku melongok, tiba – tiba kilatan lampu kamera bersama kue penuh lilin dan juga sambutan lagu ulang tahun dengan diiringi gitar dan satu penghuni rumah ditambah kehadiran B dan M (teman yang suka berkunjung) pun membahana. Benar – benar kaget karena kilatan blitz kamera pun menyala terus. Tak bisa berkata – kata karena langsung digiring ke arah kue dan ‘dipaksa’ meniup lilin yang ternyata lilin kembang api, yang kutiup hingga berkali – kali tak mau padam. Tentu saja akhirnya padam usai dibantu 2 teman ^_^.

Yang membuatku salut dan benar – benar terharu adalah usaha teman – teman memberikan kejutan. Mulai dari berburu anggur merah jenis Cabernet Merlot; pemikirannya B dan juga hadiah ulang tahun yang benar – benar ‘the real me’; peralatan berkebun lengkap dengan garpu rumput dan sekop kecil plus juga sebuah kartu. Usai itu kami pun sibuk berbagi cerita dan sibuk bercanda. Hingga pukul 11 lewat aku masih di ruang tamu. Usai itu aku pun kabur melanjutkan tidur.

Aku juga bersyukur untuk semua ucapan ulang tahun yang masuk di telepon genggamku. Mulai dari orang tua, kerabat dan teman. Benar – benar sebuah hadiah yang tak ternilai; perhatian.

Walaupun hari ulang tahun kemarin minus ucapan dari orang yang kuharapkan memberi ucapan, toh aku bersyukur dikelilingi oleh orang – orang yang mengasihiku.

Satu yang pasti, aku bersyukur tahun ini aku masih diberikan kepercayaan oleh Bapa untuk tetap hidup. Ingin berteriak dengan keras, “Thanx Bapa, Yesus, dan Roh Kudus”.

(Canberra, di sebuah subuh)

0 comments: