Sore ini saat lagi sedang berusaha fokus menyelesaikan esai yang sudah 50 % selesai, kok pikiranku malah mengembara ke masa lalu. Masa di Manokwari. Mungkin karena sedari tadi, sambil mencari mood yang lenyap usai makan siang, aku malah sibuk melihat – lihat kumpulan foto selama di Manokwari .. Dan aku kelimpungan mencari foto bersama sahabat - sahabatku sejak kecil di Fanindi. Tulisanku kali ini tentang M; sahabatku sejak umur 5 tahun dan T; sahabatku sejak SMP. Keduanya anana Fanindi ^_^
Entahlah, tiba – tiba aku merindukan mereka. Sahabatku sejak kecil. Pertalian selalu datang dan pergi, dan mereka tetap ada di sana. Aku mengenal mereka sebagai bagian dari diriku, dari masa laluku, masa kini, dan masa depanku. Orang - orang yang sering mendengar curahan perasaanku kala sedih, senang dan marah.
Aku merindukan mereka sore ini.
BERSAMA M:
^Masa TK – SD^
Mengingat waktu mancing semasa SD dan mengeksplorasi kali di Fanindi, menangkap udang dan ikan, dikejar anjing, memanen buah cengkeh matang untuk dimakan, bermain tek – tek, memantau jeruk Bali di depan rumahnya, pulang sekolah bersama, menggosip tentang para guru yang galak di sekolah, menjawab lemparan kertas gosip dan soal lewat jendela kelas, memaki para cowok yang iseng, bermain ‘tali merdeka’, ‘tali masuk’, dan gici – gici. Pergi bersama ke sekolah minggu.
^Masa SMP^
Bertemu di sekolah, bergosip tentang pelajaran dan teman sekolah. Sibuk membahas tentang anana kompleks. Menikmati masa remaja dengan bertukar kabar kala bertemu di mata jalan kompleks.
^Masa SMA^
Tiap pulang libur dari Jayapura, kami pun bertukar kabar dan menggosip. Tentang hidup, tentang impian, tentang semuanya.
Kala ku jatuh sakit, Dia ada bersamaku. Mengunjungiku, bercerita, bergosip, tertawa. Memberiku semangat.
^Masa kuliah^
Bergosip, bercerita, teman pulang gereja. Bercerita tentang keluarga dan kerabat, toh ia mengenal keluargaku begitupun aku juga mengenal keluarganya.
Berbisnis, bekerja sama. Tertawa. Sepakat ‘musuhan’ dengan para fans yang tak kami sukai. Bekerja sama menjadi penghubung ‘cinta’ yang jauh.
Menjadi teman cerita, teman menggosip apa saja, saudara yang menampung keluh kesahku kala ada masalah dengan keluarga.
^Masa kerja^
Teman pulang gereja dan bertukar kabar, teman bisnis, teman ‘obat nyamuk’ kala harus ‘jumpa fans’. Seseorang yang setia membelaku, memberi pandangan tentang hubunganku dengan para mantan pacar ataupun yang sedang kutaksir ataupun fans yang tak kuinginkan. Seseorang yang membantuku memaki tapi sekaligus serius membahas usaha bisnis.
Teman yang setia menemaniku mencari jenis pakaian yang kuinginkan, yang tak pernah memrotes jenis rambutku malah sibuk membantuku mewarnai rambut sembunyi – sembunyi di rumahnya karena bapaku pasti protes kalau kuwarnai di rumah, membantuku merapikan alis, mengajarkanku trik – trik dandan. Perempuan yang cuek dan kuat plus mandiri.
BERSAMA T:
^Masa SD^
Bertemu kala melintas jalan yang sama pulang sekolah. Hanya tersenyum karena tak tahu namanya, hanya tahu bahwa ia tinggal di kompleks sebelah kali.
^Masa SMP^
Satu kelas dari kelas 1 – 3. Seorang teman yang paling kalem dan susah bilang kata ‘Terserah’ tapi malah jadi ‘seterah’. Suka membantuku kala stuck di pelajaran Matematika, setia menjelaskan tentang pecahan dan aljabar.
Kami kadang pulang bersama, kadang sendiri – sendiri.
Menjadi sahabat kompleks yang kadang kukunjungi kalau ada tugas kelompok.
^Masa SMA^
Seorang teman yang kukunjungi kala liburan pulang ke Manokwari.
Seseorang yang mengenalkanku dengan Andrea Bocelli dan menularkan ‘virus-cinta-mati-Andrea-Bocelli’ dan musiknya.
Kala sakit parah dan lumpuh selama sebulan lebih di rumah sakit, setia datang mengunjungiku, membawa kue kering, bercerita denganku, memberikan warna dan semangat dalam bangsal rumah sakit yang bikin depresi.
^Masa Kuliah^
Menjadi teman cerita dan bergosip; pendengar terbaik.
Teman yang memberikan masukan kala harus ‘jumpa fans’ dengan para fans ^_^ dan kadang jadi ‘obat nyamuk’.
Memberikan masukan tentang banyak hal khususnya tentang lingkungan akademik di Amban.
Menjadi teman terbaik yang suka mengajakku naik motor malam minggu, mengajakku menjadi anggota keluarganya, merasakan kehangatan keluarganya di Fanindi
Teman yang selalu setia menginformasikan tentang info ‘minyak tanah’. Yang setia mengajarkan tentang cara memasak dan bikin kue tapi tooh aku tak bisa juga.
Sahabat terbaik yang mengajarkanku cara ‘naik motor’, yang mengajarkan tentang keberanian dan teknik balap, yang menemaniku ‘mengeksekusi’ motornya. Yang setia menjelaskan tentang cara merawat motor de el el.
Guru terbaik pelajaran renangku, yang mengajarkanku cara mengapung dan dilarung laut.
Teman bercerita kala ku ada masalah dengan keluarga. Seseorang yang mengajarkanku untuk jatuh cinta pada Pasir Putih dan pantai.
Seseorang yang tak takut komputernya diutak – atik kala aku belum punya komputer, yang menemaniku mengetik tugas – tugas kuliahku, yang mengantarkanku memilih komputer PC pertamaku.
Seseorang yang tak pernah melupakan aku dalam momen – momen spesialnya.
^Masa Kerja^
Tetap menjadi teman yang kadang kukunjungi usai pulang gereja walaupun hanya masuk sebentar di rumah dan berteriak ‘selamat siang’ ^_^
Bertukar kabar lewat telpon dan SMS kala aku begitu sibuk.
Seseorang yang setia memberitahukan kebar dirinya kala aku telah begitu sibuk dengan tumpukan tugas dan jalan – jalan; seseorang yang mempercayakan keping momennya bersamaku, kisah cintanya, rasa sedihnya ditinggal bapaknya ke Surga, kala pamit ke Jogja melanjutkan kuliah akta IV.
Seseorang yang berbagi kabar gembira kala ia menjadi ibu dan mau saja kutitipi nama untuk anak lelakinya.
BERSAMA MEREKA:
Aku menjadi utuh, bertumbuh dalam warna – warni.
Sahabat – sahabat yang lebih dekat dari saudara, yang lebih kental dari pertalian darah.
M yang menjadi pembelaku kala aku tak sanggup lagi berkata – kata, T yang memberikan aku pemahaman untuk tenang dan diam.
M yang mengajarkanku semangat mandiri, T yang setia menjadikanku anak muridnya dalam pelajaran bertahan hidup: berenang dan mengendarai motor.
Mereka bukanlah yang terbaik dalam disiplin ilmu ataupun dalam peringkat kelas.
Tapi mereka adalah guru – guru terbaik dalam hidupku, yang mengajarkanku untuk berkawan dengan siapa saja, yang mengajariku untuk memercayai orang lain, yang mengajariku untuk jatuh cinta pada hidup, yang mengajariku untuk bisa speak up my mind ataupun pada saat lain untuk diam dan merenung tentang hidup.
Mereka mungkin bukanlah yang tercantik dan termanis ataupun yang sadar ‘mode’
Tapi mereka adalah role modelku kala berkaca pada hidup, kala kucoba masuk dalam komunitas bersosialisasi. Orang – orang yang tulus yang selalu ada bagiku kala aku tak begitu diterima di lingkungan lain. Orang – orang yang mengenalku ‘luar dalam’.
Mereka mungkin bukanlah yang terbaik dan secara fisik selalu ada bersamaku.
Tapi mereka adalah orang – orang yang selalu berpesan padaku dalam SMS ataupun e-mail mereka, “Jaga kesehatan eee. Ingat istirahat” dan puluhan pesan lainnya yang intinya sih, “I care about You.”
Mereka mungkin bukanlah yang terbaik dalam komunitas dan juga bukanlah pengikut Kristen yang tanpa masalah.
Tapi mereka adalah orang – orang yang menawarkan banyak hal dalam hidupku, orang – orang yang mengajarkanku tentang pemahaman etnik bagiku. M yang memberikan pengaruh budaya Papua dalam diriku, yang menjelaskan banyak hal tentang yospan, menyanyi dan adat istiadat plus makanan tradisional dan juga silsilah. T yang memberikan banyak pemahaman Jawa, tentang sikap nrimo dan masakan plus beberapa petunjuk adat istiadat.
Aku merindukan mereka.
Sahabat, saudara, dan guru terbaikku.
Tunggu aku di Manokwari!
(Canberra, 6.26 p.m./ 21 September 2009)
0 comments:
Post a Comment