Search This Blog

Loading...

Monday, 14 September 2009

Tukang Mimpi: Kalau Dayanara bikin perusahaan

Saat mengetik esai sebuah mata kuliah siang ini, pukul 12. 38 siang waktu Canberra, tiba- tiba pikiranku melayang pada satu pertanyaan yang tiba – tiba muncul di benakku, “Day, kalo ko dikasi uang yang tak terbatas dan diminta membuat perusahaan di Papua, ko mo bikin perusahaan apa di sana?”. Pertanyaan ini kontan membuatku berhenti memikirkan esaiku dan sibuk menimbang – nimbang apa yang bisa dibuat kalau aku diberi hadiah uang sebanyak itu. Dan tentu saja pemikiranku ini hanyalah pikiranku semata tapi (mungkin) kalau suatu hari aku bisa mempunyai uang sebanyak itu, pasti akan kubuat.

Beberapa tahun lalu, saat masih menjadi mahasiswi di sebuah perguruan tinggi negeri di Manokwari, aku sering menyaksikan sehabis ujian atau di penghujung tahun, banyak tumpukan makalah mahasiswa, soal ujian, dan berkas ujian plus lembaran – lembaran kertas yang dibuang ataupun termakan api dengan percuma. Saat itu aku sudah paham betul bahwa kertas dibuat dari bubur kayu yang namanya ‘Pulp’ yang berasal dari ‘cincangan halus’ batang pohon dan kayu. Jadi intinya, kertas berasal dari kayu dan kayu berasal dari pohon dan pohon berasal dari hutan. Jadi, semakin banyak pemakaian kertas yang tak ramah lingkungan, maka akan banyak pohon yang ditebang.

Waktu masih di Manokwari, aku juga gemar berenang dan melihat – lihat ikan di terumbu karang. Tapi beberapa kali, aku harus menahan kesal melihat surga kecil dalam air itu terhalangi dengan sampah plastik yang menutup tutupan karang, kadang juga harus menarik nafas kesal melihat kaleng – kaleng, botol – botol, dan botol plastik yang beristirahat dengan tenang di dasar laut. Benar – benar merusak pemandangan. Tapi yang paling menjengkelkan adalah saat berenang di pantai Pasir Putih tiap akhir pekan dan kadang harus menahan kesal melihat seisi pantai ditutupi sampah, apalagi sehabis hujan. Betapa kesalnya hatiku!

Jadi tadi saat memikirkan pertanyaan yang seenaknya muncul di tengah waktu membuat esai, e refleks saja aku berpikir bahwa kalau aku diberi modal usaha tanpa batas, aku ingin mendirikan perusahaan daur ulang untuk daerah kepala Burung. Perusahaanku tentu saja mempunyai 2 program kerja yaitu di bidang recycle (daur ulang) dan juga bidang pemberdayaan yang lebih menekankan pada re-use (penggunaan ulang) dan meningkatkan kesadaran masyarakat plus juga memberdayakan sikap reduce (mengurangi sampah).

Mungkin aku pemimpi, tapi kan sah – sah saja kalau aku berpikir demikian, kan ini cuma impian, dan lagipula mungkin karena pengaruh namaku yang artinya ‘ilusi’ dll dan konon dalam mitologi India Kuno, namaku selalu dihubungkan dengan mimpi dan kadang aku dilabel sebagai ‘dewi mimpi’. ^_^ (Apa hubungannya coba dengan tulisan ini hehehe)

Kembali lagi ke rencana perusahaanku, di program kerjaku yang tahap 1, maksudnya yang berhubungan dengan recycle. Perusahaanku akan membuka beberapa pos di kota – kota di kepala burung. Katakan saja Manokwari sebagai pilot project perusahaan ini. Nah aku akan memasang pengumuman dan juga menjalin kerjasama dengan dinas kebersihan kota, semoga saja ada yang membantu menyetorkan sampah – sampah plastik, botol, dan kertas mereka. Nah kemudian semuanya didaur ulang dengan mesin yang canggih, menjadi bahan baku seperti bijih plastik, kaca dan tentu saja kertas daur ulang. Yang termudah sih sebenarnya sampah kertas. Karena prosesnya tak seribet sampah yang lain. Kalau semuanya bisa berjalan dengan baik, aku sudah harus bisa menjalin kerjasama dengan para industri penadah yang mau menggunakan bahan baku tersebut. Tentu saja dengan harga bersaing hihihi.

Nah kalau untuk program yang kedua, tentu saja membutuhkan banyak sekali tim kerja yang terpadu. Aku ingin punya program penyadaran lingkungan tentang sampah dengan membuat program in-house training bagi anak SD – SMA yang tertarik dengan kegiatan daur ulang. Jadi setiap akhir pekan, ada kegiatan di bengkel kerja daur ulang perusahaanku. Kegiatannya bukan tentang teori apa itu daur ulang, tapi aku ingin kegiatannya sih seperti nonton film lingkungan. Trus ada pelatihan bagaimana cara membuat tempat pensil lucu dari botol bekas minuman. Ya tempat pensilnya bisa beraneka ragam dan bisa dihias dengan kain perca, kertas kado, digambar dengan cat minyak, ataupun sekedar ditempel dengan bubur kertas yang dikeringkan dan kemudian dicat, bisa juga dipasang rangkaian manik – manik. Pokoknya terserah para peserta mau menghias botol plastik itu seperti apa. Pelajaran membuat pot bunga cantik untuk ibu mereka dari campuran semen dan pecahan beling botol ataupun pecahan piring.
Ada banyak ide tentang program pelatihan ini, tapi yang pasti aku juga mau menyempatkat mengajarkan mereka bagaimana membuat kompos dan mudah – mudahan ada punya satu kebun sayur organik di daerah perusahaan yang isinya cuma tanaman bumbu dan pohon pepaya hihihi. Jadi pelatihan ini mengajarkan membuat kompos dan hasilnya bisa diaplikasikan dalam lahan kebun sayur kecil ini. Jadi bisa jadi pelajaran mengenal alam bagi anak – anak.

Selain itu, aku ingin anak – anak dan remaja punya kegiatan mencintai dan menghargai kertas, jadi diajarkan bagaimana membuat kertas daur ulang sederhana, mulai dari merendamnya hingga hancur, diblender dan kemudian dimasak dengan tepung kanji, dan dicetak. Tentu saja mereka bebas menambahkan warna, bahan – bahan tambahan dalam bubur kertas itu, mulai dari bebijian ilalang, hingga bunga bayam yang kering. Tentu saja ini membutuhkan waktu beberapa minggu. Kalau semuanya sudah jadi, aku ingin mengajak beberapa pembuat kartu buatan tangan yang kukenal di Manokwari untuk mengajarkan cara – cara sederhana membuat kartu ucapan. Mulai dari memakai isi dalam karton hingga meminjam daun pisang kering yang ada di dekat rumah. Pasti seru melihat anak – anak dan remaja sibuk menuangkan kreativitas. Tentu saja perusahaanku akan menyediakan makanan kecil dan juga hadiah bagi kartu terbaik yang dipilih oleh para peserta pelatihan.

Dalam kegiatan pelatihan ini, aku juga akan meminta para peserta datang dengan membawa pecahan beling kaca dari pantai Pasir Putih, karena akan ada pelatihan membuat lukisan beling. Tentu saja tiap peserta akan dibagi perkelompok yang terdiri atas 3 – 4 orang yang dilengkapi dengan papan dan lem super kuat dan kuas plus beberapa peralatan yang mereka butuhkan. Aku percaya bahwa pecahan botol yang sering dibuang oleh orang – orang yang suka mabuk di pantai dapat digunakan menjadi sesuatu yang cantik, asalkan diolah dengan tepat.

Kayaknya aku terlalu bermimpi saat ini, tapi kalau aku diberi kesempatan untuk bisa melakukan hal – hal yang kusukai sejak kecil seperti ini, aku akan memberikan yang terbaik dariku bagi usaha ini. Aku juga akan membuat suatu lomba penelitian bagi siswa – siswa SMA di kotaku, idenya sih sederhana, mereka harus menulis sebuah laporan penelitian sederhana tentang berapa banyak kaleng ataupun botol plastik yang dikonsumsi teman – teman sekelas mereka dalam sebulan dan juga mengaitkannya dengan berapa biaya yang dikeluarkan teman sekelas mereka. Pokoknya sejenis penelitian kecil – kecilan yang intinya sih agar mereka tahu berapa banyak botol plastik yang berakhir di tempat sampah dalam 1 bulan.

Aku juga ingin perusahaanku punya kegiatan bulanan bagi siswa taman kanak – kanak dan acaranya namanya “Sunday in Color”. Jadi isinya menonton film kartun tentang lingkungan, mendengar dan bercerita tentang lingkungan dan juga mewarnai. Tentu saja akan ada permainan bagi kanak – kanak. Tapi yang pasti, mereka juga akan punya pelajaran bermain cat dimana perusahaanku akan menyediakan sebuah papan tripleks panjang yang diberi cat latar putih, dan para peserta kanak – kanak ini boleh bermain warna dengan menggambar apapun di papan itu. Yang pasti isinya tentang lingkungan. Mereka boleh menggambar bunga berbentuk kotak berwarna hitam hingga kupu – kupu bersayap satu, itu sah – sah saja. Dan tentu saja, papan itu kemudian akan dipasang dalam ruang pelatihan.

Perusahaanku juga harus bisa bikin kegiatan pemberdayaan bagi masyarakat, jadi aku akan merekrut para ibu rumah tangga yang tertarik bekerja bersamaku. Mereka akan diberi pelatihan bagaimana caranya mengolah bahan – bahan bekas untuk dijadikan bahan baku industri handicraft. Tentu saja mereka digaji dengan gaji yang standar karena kan mereka bekerja. Selain itu, aku ingin menjalin kerjasama dengan para pembuat kartu dan aksesoris handmade di kotaku yang mempunyai industri rumahan. Aku akan memberikan suntikan modal dengan bunga ringan dan perusahaanku bersedia menjadi semacam badan promosi karya – karya mereka. Asalkan mereka mau menggunakan bahan – bahan daur ulang dari perusahaanku. Aku ingin di Manokwari dan kota – kota di tanah Papua, suatu hari nanti, saat ada hajatan nikah, masyarakat tak perlu memesan hadiah bagi para tamu dari produk luar Papua. Aku berharap industri ini bisa menjadi trademark Manokwari. Jadi saat para tamu dari kota lain datang ke kotaku, mereka dapat mengunjungi outlet perusahaanku yang menyediakan souvenir dari bahan daur ulang dan alam yang tentu saja ramah lingkungan dan dengan harga bersaing.

Aku juga ingin mempunyai jaringan kerjasama dengan sekelompok mama – mama di pasar Sanggeng Manokwari dan pasar Wosi yang bersedia memberikan modal bantuan usaha mereka, ya sejenis suntikan modal bagi usaha tani mereka, tapi dengan syarat mereka harus mengumpulkan sisa – sisa sayur dan tumpukan sampah organik dalam wadah yang sudah kusediakan di areal pasar. Tentu saja sampah organik itu guna pembuatan kompos bagi program sampingan perusahaanku.

Aku juga ingin perusahaanku punya sebuah program ‘sa cinta daur ulang’ di sekolah. Jadi isinya tiap minggu, ada kunjungan ke setiap sekolah di Manokwari, yang isinya cuma 1 jam acara ‘bicara – bicara’ ka ini. Jadi anak – anak sekolah diminta menonton film tentang daur ulang, tentang akibat sampah yang dibuang ke terumbu karang, tentang hubungan hutan dan konsumsi kertas, dan juga tentu saja tentang apa yang perusahaanku lakukan.

Pada tahap ini, panggil saja aku pemimpi. Dan perkataan seorang pemimpi tidah harus selalu dipercaya.

Yang pasti, aku ingin perusahaanku mempunyai dua sistem energi, yaitu pertama mengandalkan listrik dari PLN dan yang kedua, instalasi panel surya guna mendapatkan solar cell. Aku tahu teknologi ini masih mahal, tapi kan tak ada salahnya bila diinstalasi di perusahaanku. Dan tentu saja aku juga wajib yakin bahwa semua air yang dipakai dalam proses produksi telah aman saat keluar dari instalasi pipa – pipa perusahaan ini. Selain itu, aku akan menginvestasikan sebuah alat untuk mengatur jalur air dari bak – bak dan kamar mandi ke tempat daur ulang air yang bisa dipakai mengairi kebun sayur dan bumbu percontohan di areal perusahaanku.

Anyway, membuat perusahaan pasti tak lepas dari karyawan. Aku berharap yang bisa masuk di perusahaanku bukan semuanya para sarjana perguruan tinggi tetapi juga orang- orang yang yang beruntung. Karena aku percaya bahwa setiap orang berpotensi menjadi orang yang lebih baik apabila diberi kepercayaan dan diberi pelatihan. Tentu saja akan ada pelatihan bagi para calon karyawan.

Sambil membayangkan perusahaan yang akan kudirikan kalau diberikan suntikan modal tanpa batas, tiba – tiba aku tersadar bahwa aku ada punya esai yang harus kutulis. Jadi khayalan tingkat tinggiku siang ini harus berakhir di sini hahaha. “Pasti nih pengaruh menulis esai yang banyak jadi bikin otak mengkhayal kapa nih,”, batinku lagi. Anyway, Panggil saja aku pemimpi, toh namaku memang mengandung makna itu.

I am dreamer and I am proud to be a dreamer.

(Canberra, 14 September 2009)

1 comments:

Anonymous said...

Tarapapa mo, kan banyak hal besar yang terjadi dari sebuah mimpi. Mace ko pu mimpi-mimpi ni memang asli, sa pegang saja. Baru kali ini sa liat perem papua yang punya visi dan misi kedepan yang sangat berguna untuk papua. Kalau ada banyak perem papua yang seperti ko, mungkin papua akan sangat beruntung skali. Mudah2an ada tong pu pejabat2 di papua yang "blog walking" kaini sampai dong tiba di ko pu blog ni, biar dong bisa liat mace ko pu visi untuk papua yang bagus ni. Sa cuma bisa kasi semangat n doa saja smoga suatu saat mace ko bisa wujudkan ko pu mimpi2 tu. Keep posting ne, karena perem papua seperti ko yang mampu untuk hadirkan sebuah perubahan.