Malam ini tanggal 29 Agustus 2009, aku baru saja pulang dari ibadah persekutuan orang Papua di Braddon. Saat ibadah tadi kubagikan apa yang kurasakan tentang satu hal yang mungkin menurut beberapa orang adalah hal yang lumrah, tapi pada apa yang kupelajari lewat pengalamanku kemarin, aku pikir sudah saatnya aku berhenti dengan kebiasaan burukku itu; bamaki.
Kejadiannya bermula dari kemarin sore, usai mengumpulkan tugas dan belajar di perpustakaan, kulanjutkan dengan belanja di Canberra centre dan aku melirik pada jam di telepon selularku yang menunjukan pukul 5.45 p.m. kala menginjakkan kakiku di halte bis di depan Target, Canberra Centre. Asumsiku kala itu, aku tak perlu menahan dingin berlama – lama karena bis akan tiba pukul 6 p.m. Tapi rupanya entah kenapa, hingga jam 6 lebih, bis yang kutunggu tak muncul – muncul juga. Aku mulai gelisah.
Aku gelisah. Orang – orang di sekelilingku pun gelisah. Seorang pria yang hendak pergi ke Campbell juga mulai marah – marah dan bingung. Apalagi 20 menit telah lewat. Setelah 20 menit tak datang – datang juga, orang – orang yang lain pun membubarkan diri dan aku memutuskan menunggu bis jam 7 p.m. Aku sedang dalam kondisi yang tak fit, begitu pula sendi – sendiku sedang sakit sehingga benar – benar tak sanggup berjalan kaki ke rumah. Tapi aku bersyukur karena bis akhirnya datang pukul 7 p.m.
Selama menunggu bis selama 1 jam 15 menit kemarin, ada hal yang kudapatkan tentang makian. Selama ini aku menganggap remeh akan perkataan yang kukeluarkan khususnya makian. Mungkin dosa satu ini telah mengakar di mulutku sejak kecil karena mamaku gemar mengoleskan rica tumbu (hot chilies) di bibirku atau dihukum memakan rica kalo kedapatan sedang bamaki. Dan aku masih suka bamaki. Tapi memang sejak di Canberra, ada perubahan signifikan sehingga aku sudah sangat jarang memaki.
Saat menunggu bis itu, aku menyaksikan dan mendengar para remaja khususnya seorang remaja putri Kaukasian (bangsa kulit putih) yang memaki teman – temannya. Mulai dari kata f-word sampai segala macam kata makian beterbangan di udara selama hampir 30 menit dan aku benar – benar merasa tak nyaman. Orang – orang di sekelilingku pun tak nyaman. Tapi rupanya teriakan ‘bokar’ dan makian itu tak berhenti juga. Aku kemudian disadarkan tentang hal ini dalam hatiku, tentang efek makian.
Aku seakan disadarkan saat suara di dalam hatiku mengingatkanku bahwa makian benar – benar tak membawa damai sejahtera. Benar – benar mematikan semangat dan membuat orang lain tertekan mendengarnya walaupun yang memaki tak menujukannya pada kita tapi karena makian dilepaskan di udara dan didengar oleh panca inderaku, maka aku pun mengambil bagian mendengar kata – kata yang tak mensejahterakan hati. Rupanya benar – benar tak enak didengar.
Usai pulang dalam bis dan juga sampai di rumah, dalam hatiku diingatkan tentang kisah di Amsal tentang perempuan yang suka memaki ataupun bertengkar. Setelah kubuka – buka kitab Amsal, akhirnya ketemu juga ayat itu, dan rupanya ayat tentang perkataan perempuan diulangi sampai 2 kali, pertama di Amsal 21:9 dan juga di Amsal 25: 24 “Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah daripada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar.”. Aku benar – benar mendapatkan kesadaran itu bahwa yang ternyata selama ini kulakukan adalah sebuah kesalahan. Menjadikan orang lain yang tak terlibat menerima ‘sampah kata – kata’ dariku yang sangat tidak membangun hidup mereka. Dan tentu saja ini berimplikasi pada hal – hal lain yang berhubungan dengan perkataan lidah.
Yang pasti, aku berharap aku bisa mengikuti jalan Tuhan dan hanya mengucapkan kata – kata yang membangun sesamaku, memberi kata – kata yang menguatkan, dan menegur dengan menggunakan kata – kata yang membangun dan bukannya melemahkan. Lidah memang kecil tapi bila dipakai dengan salah bisa menimbulkan banyak hal; dari pertengkaran, pembunuhan hingga perang.
Aku berharap ke depannya aku bisa jadi manusia yang lebih baik dalam hidupku khususnya tentang lidah, karena organ satu ini memang benar seperti yang diajarkan Yakobus dalam Yakobus 3: 1 - 12 tentang ‘Dosa karena Lidah’. Aku berharap lidah yang kupakai untuk memuji nama Tuhanku tak kupakai untuk memaki dan mengucapkan hal – hal yang buruk. I wish …
(Canberra, pada sebuah subuh di 30 Agustus 2009)
0 comments:
Post a Comment