Minggu ini aku begitu tercengang membaca berita tentang sebuah berita di Amerika dimana seorang pria menculik seorang anak perempuan beberapa tahun lalu, menyekapnya dan dijadikan ‘budak seks’ lelaki itu hingga punya 2 anak. Cerita ini kemudian membawa ingatanku kembali lagi pada kisah di Austria tahun lalu tentang seorang bapak yang menyekap anak perempuannya di lantai bawah rumahnya guna dijadikan pelampiasan nafsu. ‘Bejat’, tutur surat kabar. Aku malah ingat beberapa temanku memberikan gelar yang tak kalah sadis, ‘Penjahat Kelamin’. Aku sejak lama paling anti sama makhluk yang berinisial PK ini, bukannya apa, ini berdasarkan pengalaman pribadi dan salah satu musuh besar yang berhasil kutaklukan for the Mercy of God!
Kasus para pelaku kejahatan seksual ini tak hanya ada di belahan bumi lain, tapi juga di Australia dan bahkan di Papua. Salah satu bentuk kejahatan para PK ini yang menakutkan bukan hanya dalam bentuk pemerkosaan, tapi ada banyak bentuk yang dipikir hanyalah hal remeh tapi dampak psikologinya bisa bertahan beberapa tahun, dan aku pernah merasakan pasca traumanya selama beberapa tahun dan kali ini aku ingin membagikan apa yang kurasakan, apa yang kulihat dan kusaksikan dan juga dari tuturan teman – teman lain yang pernah merasakan hal yang sama. Ingat, ‘penjahat kelamin’ bukan hanya lelaki, tapi ada juga perempuan. Bukan hanya orang asing yang kau tak kenal di jalan, malah aku pernah membaca bahwa yang berpotensi menjadi ‘penjahat kelamin’ adalah orang dekat bahkan orang – orang yang dikenal korban.
Setiap kali mendengar berita pemerkosaan dan pelecehan seksual, entahlah mengapa ada amarah yang tiba – tiba menggelegak di dada, sebuah kemarahan tersembunyi yang selalu berusaha kutekan sejak lama, kukendalikan dan kujadikan salah satu pemicu untuk melesat maju meninggalkan masa lalu dan menjadikannya pelajaran berharga dalam kehidupanku. Kali ini aku tak akan membahas tentang ulah para PK dalam bentuk fisik yang ekstrem alias pemerkosaan. Dan tentu saja catatan ini bukan sebuah catatan balas dendam, karena jujur pada satu sisi aku marah pada mereka yang menjadi PK dan menghancurkan hidup banyak orang khususnya kepada anak – anak, tapi pada satu sisi, setelah aku beranjak dewasa, aku merasa kasihan karena mereka tak bisa mengendalikan diri; tak punya kuasa mengontrol diri. Sangat menyedihkan! (sebagai manusia)
Catatanku ini tentang ulah PK yang pernah membuatku berpikir sejak remaja bahwa aku tak berharga, menyimpan malu dan masalah sendiri dan menjadikanku begitu tertutup. Aku ingin berkisah tentang tingkah PK yang kadang menurut kita adalah hal yang lumrah, yang wajah, apalagi kalau dilakukan oleh manusia yang berjenis kelamin lelaki. Tulisan ini bukanlah untuk menghakimi lelaki tetapi untuk memberikan gambaran bahwa dalam kehidupan yang berbasis patriarki dimana lelaki mendapat keistimewaan, kadang langkah mereka yang salah dianulir menjadi sebuah ‘kebenaran’. Catatan ini hanya ingin berbagi bahwa pandangan itu salah; pandangan yang ‘membenarkan’ apa yang salah.
Mungkin catatanku terlalu berputar – putar, dan pembaca catatan ini ingin berteriak, “What’s the point, anyway?”. Aku membuat catatan ini untuk memrotes para ‘penjahat kelamin’ yang mempertontonkan bagian tubuh mereka tanpa izin, yang mengintip lawan jenis yang sedang mandi atau berganti pakaian ataupun sedang tidur, yang mengirimi dan menunjukan gambar – gambar porno ataupun muatan porno dalam media apapun tanpa izin, yang menelpon dan berbicara tentang tindakan asyik-mahsyuk tanpa permisi, yang menyentuh orang lain di bagian yang tak berizin tanpa lisensi, yang mengucapkan kata – kata cabul ataupun penilaian cabul atas diri orang lain tanpa permisi dan stoom, dan yang meneror korban lewat kehadiran yang tak diinginkan dan menjadi serupa ancaman. Aku pernah mengalami enam tahun hidup dalam ketakutan pada semua hal di atas dan aku ingin bilang pada mereka, “sangat disayangkan, anda hidup sebagai manusia tetapi kesadaran anda telah mati”.
Aku membuat catatan ini bukan sebagai hakim yang berhak memberi hukuman pada PK, tapi supaya kita sadar bahwa mereka ada di sekitar kita, dan waspada adalah kunci yang bisa kita pakai plus keterbukaan untuk membicarakannya plus konsuling pasca aksi adalah jalan terbaik, tentu saja diiringi oleh doa. Waspada, Karena kita tak pernah bisa tahu pada awalnya gelagat para penjahat ini, karena terlalu banyak ‘serigala berbulu domba, ataupun ‘pagar makan tanaman’ dalam kasus ini.
Masa kecilku sejak kelas 4 SD – kelas 3 SMP adalah masa kelam dalam hidupku yang membentukku menjadi aku yang sekarang, walau traumanya masih tetap membekas hingga ini, pada beberapa sisi. Masa kelam dimana aku, hanya bisa diam dan menyimpan semua yang kulihat dan kusaksikan, diam dan ketakutan diteror berbagai tingkah seksual yang menakutkan, masa di mana aku hanya bisa bercerita pada Tuhan dan menangis. Masa dimana kupupuk rasa takut dan benci plus dendam terhadap makhluk bernama lelaki. Masa kelam dimana aku melihat bahwa saat itu, tak ada seorangpun yang membelaku dan aku yang harus mengalah pindah ke kota lain. Masa kelam yang mempengaruhi hubunganku dengan orang tua dimana ada gap hingga sekarang, saat pertanyaan besar itu masih tetap menggantung di sana, “Apakah aku tak layak untuk dibela saat itu? Apakah karena aku perempuan?”
Catatan ini tentu saja bukan tentang pemerkosaan, tapi tentang bentuk pelecehan seksual yang kualami. Catatan ini bukan untuk menghakimi, ataupun mengasihani diri sendiri. Karena toh, aku sudah menemukan jalan keluar dari trauma berkepanjangan saat ikut re-treat pemulihan gambar diri 9 tahun lalu di Jayapura. Sebuah jalan panjang menuju pemulihan diri, dan sekarang aku bangga karena penyembuhku; Yesus selalu ada bersamaku, menguatkanku. Aku tak bilang bahwa Ia dulu tak ada, hanya aku yang tak merasa layak datang secara pribadi padanya. Satu yang pasti, aku ingin bilang pada para penjahat itu, “Back Off!!! I’m young, I’m strong, I am beautiful, and I am confident. So, please don’t try me!”
Catatan di bawah ini, kutujukan pada para ‘para penjahat kelamin’ di luar sana! (tolong disampaikan ya ^_^)
SEBUAH SURAT TERBUKA KEPADA PARA ‘PENJAHAT KELAMIN’!
Tahukah kau, kau membuatku merasa bahwa aku tak berharga dan tak cantik dan bodoh, kala kau kirimiku gambar – gambar tak senonoh itu. Mungkin kau adalah orang terbodoh yang kukenal dan tak pernah belajar biologi ataupun anatomi, aku tahu dan memiliki organ – orang itu, jadi apa gunanya kau tunjukkan padaku. Bodoh!
Tahukah kau, kau membuatku merasa malu pada diri sendiri dan juga pada orang lain, kala kau tunjukan organmu padaku dengan harapan aku melihatnya. Mungkin kau adalah orang terbodoh ataupun terbego yang pernah kukenal, karena toh pelajaran biologi yang kuterima telah bijak membahas fungsi dan peran organ – organ itu. Tak ada gunanya kan menunjukan padaku. Mataku masih berfungsi dengan baik, jadi untuk apa kau tunjukan lagi padaku. Bego!
Tahukah kau, kau membuatku merasa tak berharga dan bodoh, kala kau tak permisi menyentuhku di bagian yang tak berlisensi. Mungkin kau adalah orang teregois dan rakus yang kukenal di muka bumi, karena toh kau mencuri milik orang lain, lisensi orang lainnya. Tak ada gunanya kan ‘mencuri’ dari orang lain karena label pencuri itu ada di dahimu sekarang. Egois!
Tahukah kau, kau membuatku merasa malu dan tersiksa dan tak nyaman, kala kau mulai menelponku, mengunjungiku ataupun memantau setiap aktivitasku dan tentu saja dengan embel – embel ‘seksualitas’ dalam dirimu. Mungkin kau adalah orang terbodoh ataupun cacat secara mental karena tak pernah belajar bahwa aku punya Pelindung Hebat di atas sana yang memberikan aku telinga untuk mendengarkan tentang nyanyian bagi penciptaku dan bukannya suaramu yang penuh bumbu cabul. Back off!!!
Tahukah kau, kau membuatku merasa tak nyaman pergi kemana – mana, ke tempat di mana ada kau, kala kau suka mengumpat kata – kata cabul itu padaku dan memandangku dengan tatapan merendahkan seakan – akan aku hanyalah ‘gumpalan daging tanpa otak’. Mungkin kau adalah orang paling serakah dan egois yang kukenal di planet ini, yang merampas hidup orang lain dan waktuku yang berharga dan menebar bibit teror di hatiku. Mungkin kau harus belajar bahwa aku diciptakan dengan sebuah rancangan hebat dan blueprint yang cantik dan kau tak layak merusaknya. Makanya ‘sekolah’!
Tahukah kau, usai semua aksimu, yang kurasakan sebagai perempuan adalah kehilangan rasa berhargaku sebagai manusia. Kau mencuri rasa kemanusiaanku, kau tanamkan bibit kebencian, rendah diri, dan tak nyaman. Aku sempat ragu apakah kau adalah ‘penebar garam dan terang dunia’ ataukan hanyalah samaran dari ‘agen si Jahat’. Ayo cepat ngaku!!!
Tahukah kau, usai semua aksimu, aku harus bertarung dengan diriku sendiri, dengan lingkunganku. Kau tak pernah tahukan bagaimana sakitnya melawan diri sendiri, melawan pandangan mata orang lain dengan iba di mata mereka, melawan perasaan bersalah pada diri sendiri, melawan mimpi buruk tiap malam yang berisi pelarian dari kejaranmu, melawan prasangka buruk yang diciptakan pertahanan tubuh kala dekat dengan makhluk bernama cowok. Kau tak tahu, kan? That’s why, aku kasihan padamu, karena kau begitu bodoh dan tak pernah tahu kebenaran di luar sana.
Tahukah kau, usai semua aksimu, aku harus melewati banyak hari dengan berkalang malu; pada Tuhan, diri sendiri dan lingkunganku. Tahukah kau, berapa banyak air mata yang mengalir, berapa banyak doa yang kupanjatkan, berapa banyak kali kau membuatku berdosa mengeluarkan sumpah serapah demi melepaskan sesak di dada. Tahukah kau, berapa banyak waktu yang kupakai untuk mengurung diri di kamarku dan menghindari kontak dunia luar? Kau tak pernah tahu karena kau memang begitu bodoh terkurung dalam pandanganmu bahwa kau melakukan yang ‘benar’ atas nama keistimewaanmu sebagai lelaki.
Tahukah kau, usai semua aksimu, kisahku akan terus diputar ulang memori otakku kala tidur, kala terjaga. Tahukah kau, berapa banyak tidurku yang dikorupsi mimpi buruk dan pengalaman traumatis plus strategi melarikan diri. Kau benar – benar seorang koruptor kelas kakap. Bring it back!!!
Aku masih punya banyak pesan untukmu, masih punya banyak protes untukmu, tapi kemudian aku sadar bahwa tak ada gunanya aku marah – marah padamu ataupun menumpahkan kekesalanku pada lelaki lain, karena toh, pada akhirnya aku kasihan padamu, karena kau tak tahu rasanya bagaimana menjadi ‘manusia’. Aku kasihan padamu karena kau kehilangan esensi kesadaran sebagai manusia dan mematikan ‘rasa kemanusiaanmu’ karena ada ‘hilang-satu-ons’ di piranti lunakmu. Aku kasihan karena kau membutuhkan obat – obatan dan terapi medis plus doa untuk bisa kembali menjadi ‘manusia’. Aku kasihan padamu karena kau tak bisa melihat dunia yang kulihat dimana ada warna – warni indah dan kekuatan plus penyertaan yang diberikan Tuhan.
Aku berdoa semoga Tuhan menjamah hatimu dan mengubahmu menjadi orang yang lebih baik, yang bisa mengendalikan diri.
Aku berdoa supaya korban – korbanmu yang lain, bisa memaafkan diri sendiri, menemukan jalan pulang ke diri mereka dan ke Tuhan dan bisa bersama – samaku berteriak kencang, “Back off!!! I am young, I am strong, I am beautiful and confident. So, Don’t try me!”
(Subuh di Campbell, Canberra/ 30 Agustus 2009)
Notes: Thanx Jesus sudah mengenalkan pada beberapa orang hebat di masa remajaku yang membantuku untuk bisa jadi seperti sekarang ini, yang membantuku untuk terbuka dan speak up my mind, yang bersedia mendengarkanku; temanz di komsels GBI PoPe Abe, Jayapura era 2000 – 2001 dan kakak2 di PKBI Jayapura era 1998 – 2000).
0 comments:
Post a Comment