Sesak …
Itu yang kurasakan kala kekerasan kembali lagi terjadi di bumi Papua
Sesak …
Itu yang kurasakan kala terjadi lagi penambahan aparat keamanan di Tanah Papua
Sesak …
Itu yang kurasakan kala memikirkan dampak operasi militer di pedalaman Papua
Sesak …
Itu yang kurasakan kala mengingat cerita tingkah laku aparat kala penyisiran.
Ingin kuteriak,
Sekuatnya, sekerasnya, sebesar – besarnya!
Ingin kuberteriak,
Sekeras guruh di langit, sekeras deburan ombak kala marah.
Ingin kuteriak,
Sekencang tiupan angin badai di pesisir pantai.
Ingin … T-E-R-I-A-K!
Sesak …
Memikirkan stigmatisasi, labelisasi, penuduhan tanpa bukti.
Sesak …
Melihat permainan lempar batu – sembunyi tangan.
Sesak …
Melihat nurani terbutakan kekuasaaan.
Sesak …
Memikirkan negeri yang mendulang tragedi karena kecantikannya.
Sesak …
Memikirkan ketidakadilan sosial, ekonomi, sejarah.
Sesak …
Menghitung berapa banyak nyawa tak bersalah yang akan melayang lagi …
Sesak …
Memikirkan rakusnya cinta-uang mempora – porandakan negeri Cenderawasih.
Sesak …
Memikirkan langkah tanah ini ke depan.
Sesak …
Mendengar tangisan, jeritan, trauma yang akan kembali lagi.
Sesak …
Melihat kebenaran diputarbalikan oleh gula – gula kepalsuan.
Sesak …
Tubuh dan jiwaku.
Sesak …
memikirkan MIDAS bernama Papua.
Sesak …
Memikirkan Kecantikan, keindahan, kekayaan yang diburu.
Sesak …
S-E-S-A-K!
(Campbell, 18 Juli 2009)
(Catatan: Midas, merujuk pada cerita Raja Midas dalam mitologi Yunani, yang tak merasa bahagia karena setiap sentuhan jemarinya mengubah segala sesuatu menjadi emas, bahkan putrinya. Dalam hal ini, Tanah Papua ibarat Midas)
0 comments:
Post a Comment