Seorang mantan kekasihku pernah bilang bahwa selama hidup, cobalah untuk relaks, santai dan tak usah berpikir yang berat. Kerap pembicaraan kami pun membeku kala kuungkapkan unek – unekku tentang ketidakadilan sosial, ide – ideku untuk menyelesaikan masalah, realita sosial yang kulihat, rencana – rencana gila yang telah kususun sejak lama, masalah tentang iman, ketuhanan dan sejumlah masalah berat yang menurut dia bukanlah hal yang menarik untuk didiskusikan. Kebekuan itu akhirnya mengristal beberapa lama dan sering menjadi alasan kami putus – sambung.
Kadang aku berpikir, apa memang aku yang tolol dalam hidup, terlalu bodoh atau memang naïf dan kurang jelas? Mengingatnya aku kadang berpikir ketololan apa saja yang pernah kubuat dalam hidup, dan aku sadar betul bahwa dahulu aku jatuh cinta pada tawa dan pandangan hangatnya adalah sebuah ‘ketololan’ yang pernah kubuat tapi tak pernah kusesali dalam hidup. Dan aku ingin melihat ke belakang, berbagai bentuk ketololan yang pernah kubuat dan mungkin membuat orang tuaku, saudara – saudaraku dan tetangga plus teman – teman geleng – geleng kepala.
#1. Juli 2005, terlambat naik pesawat, berlari kencang di airport Manokwari memakai jas almamater guna mengikuti sebuah kegiatan mahasiswa di Sumatera dan ternyata usai sampai di tangga pesawat di detik – detik terakhir …. Baru sadar bahwa temanku belum melaporkan tiket dan boarding. “Malu picah’ betul tuh .. TAPI aku belajar, bahwa jangan pernah melalaikan waktu naik pesawat a.k.a. on-time untuk naik pesawat, lebih baik menunggu lama di bandara dibanding ketinggalan pesawat.
#2. 23 Desember 2008, di Jakarta bersama 2 adik, mengalami sebuah perjalanan pacu-jantung lebih kencang daripada naik Superman Escape (roller coaster) karena terlambat mengejar bis dan mempersiapkan diri karena kesalahanku yang tergoda sebuah produk alat masak di Mall (yang ternyata adalah penipuan terselubung). Hingga terpaksa mengalami tekanan dan tegang beberapa jam. TAPI … aku belajar bahwa keserakahan hanya akan menuntun pada mala petaka dan aku belajar dan diajarkan bahwa Allah menjawab doaku dan pertolongan-Nya tak pernah terlambat + Mujizat itu nyata (baca: di note-ku yang berjudul “Miracle (does) exist”.
#3. 20 Februari 2007. Amban, Manokwari. Sedang maskeran untuk persiapan wisuda esok pagi, baru sadar bahwa tak punya kamera dan usai mengadakan beberapa kontak berhasil mendapatkan pinjaman dari dosenku. Tanpa tunggu waktu, segera menyambar kunci motor, memakai celana pendek dan jaket. Memacu motor dengan kencang di atas 80 KM/jam ke kampus, melambung beberapa motor di tanjakan Amban. Di depan rumah Purek II, terbalik dan terseret motor karena jalan berpasir dan motor hancur, tubuh tertindih motor, dagu bocor, jari luka – luka, lutut luka besar dan berdarah, kaki tacukur. Hasilnya, ditolong oleh keluarga Purek II, beberapa senior di kampus, dan teman – teman beserta orang tua datang menjemput. Hasil akhir sih, tetap wisuda berkebaya dan bertoga dengan perban di dagu dan perban – perban di kaki, tapi selama prosesi wisuda yang duduk – berdiri – duduk itu menahan sakit berkepanjangan plus harus terus mengipasi luka selama duduk dan tak bisa berfoto terlalu lama karena kesakitan.Plus harus menjawab pertanyaan beberapa dosen kala menerima ijazah di depan senat Universitas. TAPI … aku belajar bahwa sudah saatnya gantung helm dari hobi balap gila – gilaan, lebih hati – hati saat mengendarai motor.
#4. 2003, kantin Abresso, Manokwari. Tergeletak hampir pingsan menahan sakit karena maag, karena tak mau makan gara – gara browsing dan chatting selama 5 – 6 jam di perpustakaan kampus trus langsung makan gado – gado yang pedas. Hasilnya, Menghabiskan waktu hampir 45 menit terbaring kesakitan tanpa tahu mau bikin apa karena tak bisa berdiri dan duduk. TAPI … aku belajar bahwa aku tak sendiri, karena ada beberapa teman yang baru saja kukenal bersedia menungguku dan menanyakan keadaanku dan menawarkan bantuan mencarikan angkutan pulang + berjanji membawa pulang motorku. Plus, selalu bawa obat maag.
#5. Juni 2004, Amban Pantai. Di sela – sela jadwal kuliah, cabut dari kampus bareng 2 teman, balap – balap ke Amban pantai, menyurvei bahan – bahan dekorasi dari alam guna pameran kelas. Berteriak mengganggu orang yang pacaran di pantai, tak melihat pasir di tanjakan. Hasil akhir, motor jatuh dan taputar plus tubuh ditindih motor yang mesinnya masih hidup plus dada tertumbuk setang motor. Bikin sesak nafas setiap menarik nafas selama 1 minggu tapi tak mau mengaku pada orang tua. TAPI … aku belajar untuk memperhatikan medan yang kutempuh kala membawa motor plus tak usah mengacuhkan urusan pribadi orang lain ^_^ dan juga belajar bahwa para sahabatku adalah orang – orang yang bisa kuandalkan dalam hidup.
#6. 1994. Rumah Oom di Fanindi, Manokwari. Berlari kencang cakadidi di rumah sepupu, bermain benteng padahal sudah diberitahu bahwa ada beberapa anjing galak di halaman rumah. Hasilnya, berlari kencang ke atas pembatas teras, dikejar 3 ekor anjing, dan betis disabet gigitan anjing hingga berdarah dan harus masuk unit Gawat Darurat. E panakut suntik jadi pas ada yang antar korban kecelakaan yang berdarah, korban malah ditinggalkan karena para pengantar membantu dokter menahan tubuhku yang meronta tak mau disuntik. TAPI … aku belajar untuk selalu waspada dengan anjing galak dan tak boleh membuat gerakan tambahan di depan hewan itu.
#7. 1996 - 1997. Rumah tetangga, Fanindi, Manokwari. Suka panjat pohon rambutan Aceh di kebun belakang yang berbatasan dengan halaman belakang tetangga. Sambil makan rambutan di atas pohon, mengganggu anjing tetangga berbulu hitam – putih bernama ‘Ringo’, memanggil namanya dan menyambitnya dengan biji rambutan, tertawa riang setiap anjing itu kesakitan dan menggeram marah menengadah ke arahku, itu berlangsung selama musim rambutan. Hasil akhir, usai musim rambutan, setiap main ke rumah tetangga, harus ditemani oleh kakak – kakak tetangga dan terpaksa nongkrong di kamar mereka karena si ‘Ringo’ berlari kencang mengejarku hendak menggigit. Sempat merasakan ‘sekilas’ gigitan di betis, tapi tak luka karena terhalang celana jinsku yang tebal. Hingga akhirnya si Ringo dieksekusi dan masa damai tiba bagiku. TAPI … aku belajar bahwa terlepas dari siapapun itu, termasuk hewan, membutuhkan ketenangan dan kedamaian untuk hidup di dunia. Aku belajar bahwa bila kita tak ingin diganggu orang atau hewan, jangan mengganggu mereka duluan.
#8. 1989 – 1998. Suka sekali panjat pohon apapun di rumah, dari pepaya, nangka, rambutan, durian, sukun, jambu, langsat, giawas, alpokat, belimbing, jeruk, mangga, bermain ayun – ayunan di pohon pisang, dan lain – lain. Keras kepala bila disuruh turun dari pohon. Punya rumah pohon sederhana yang dibuat dari gantungan karung plastik besar di atas pohon dan mengajak teman – teman berpura jadi kepompong di dalam karung plastik. Cuek dengan pandangan cemas dan panggilan orang tua kala berada di ujung pepohonan, gemar memanjat pohon – pohon tanaman buah dan mematahkan dahan – dahan kering, apalagi bila musim buah, seharian dihabiskan memamah biak di atas pohon karena tak makan makanan yang disiapkan ortu tetapi sibuk makan buah yang kulitnya dengan cuek dibuang seenaknya ke bawah pohon. Ditegur untuk tak naik pohon karena bisa jatuh. Hasilnya, pernah jatuh pas musim Sukun, dari cabang paling atas sukun dan mematahkan semua cabang sukung pada satu sisi, untung di cabang terakhir kuat hingga tubuhku tak langsung jatuh ke tanah yang penuh karang di samping sumur, tertahan di cabang terakhir. Kesakitan usai jatuh dan harus diurut plus dinasehati karena mematahkan semua cabang sukun yang buahnya masih muda. Selain itu pernah jatuh dari cabang pohon belimbing setinggi 3 meter hingga sesak nafas dan another cabang pohon sukun (hingga sesak nafas lagi). TAPI … aku belajar bahwa jangan terlalu keras kepala dan harus mendengarkan nasehat orang tua, dan sekarang aku sadar betapa nakalnya aku sewaktu SD, membuat orang tua cemas.
#9. 1990, kelas 1 SD di SD YPK Fanindi. Sangat takut dengan yang namanya alat suntik. Pada saat imunisasi atau vaksin di sekolah, berlari ketakutan keluar dari kelas, menjerit dan berusaha kabur. Ditangkap guru kelas, dan terpaksa dipegangi oleh beberapa guru dan mantra untuk divaksin/ disuntik. Hasil akhir, hingga sekarang bila ketemu teman – teman SD pasti dipanggil ‘Ayamsari’ yang takut suntik gajah.
1989. Sekitar umur 5/6 tahun. Di ruang praktek dokter keluarga, mengantri periksa. Bersama adik cowok yang setahun lebih muda (my partner-in-crime), bersama mama bertemu dokter, usai diterima dokter, di tengah ananemsis dokter guna mendiagnosa penyakit, mengatakan pada dokter ingin ke kamar kecil. Diijinkan mama dan dokter untuk keluar sendiri, bareng adik, bukannya keluar , tapi malah kabur cabut dari tempat praktek dan pulang ke rumah, abis takut suntik jadi ^_^ (untungnya tempat praktek di suburb sebelah). Hasilnya, sakitnya malah tambah parah dan terpaksa balik lagi ke dokter, tentu saja dengan pengawalan ortu yang ketat.
TAPI … aku belajar untuk jangan menunda periksa ke dokter kalau ada masalah dengan kesehatanku dan mulai mengumpulkan keberanian melawan faktor ketakutanku (fobia). Thanx Jesus, 2 tahun terakhir ini sudah tak takut suntik lagi.
#10. 2002 – 2008. Merasa kosong, hampa, dan merasa tak berarti. Berpikir, merencanakan, dan mencoba untuk bunuh diri selama kurun waktu tersebut, guna menghilangkan rasa hampa. Mencoba berbagai kegiatan (balapan, berenang di pulau dll). Hasilnya, menyiksa diri sendiri dan tetap kosong. TAPI … usai melewati semua itu, aku sadar bahwa begitu banyak sahabat yang peduli padaku dan Yesus tak pernah meninggalkanku.
#11. Desember 2007. Manokwari. Dinasehati ortu khususnya bapa dan teman – teman, untuk tak pacaran dengan mantan pacar. Tapi keras kepala untuk mencoba menaklukan larangan itu. Hasil akhir, pas lagi masa break pacaran, pas lagi training di Jakarta untuk ke Australia, sekitar awal Mei, mantan pacar menikah tanpa pemberitahuan.(walau akhirnya terkuak bahwa pernikahan harus dilakukan demi faktor – faktor X, dan pada akhirnya pernikahannya di ujung tanduk; mati enggan hidup pun tak mau). Bombay abis selama beberapa hari, mata bangka – bangka. Dan hingga kini, masih tak bisa jatuh cinta pada orang lain selain ‘lelaki hujan’. TAPI … aku belajar untuk mencintai hingga terluka dan belajar melepaskan dengan rasa lega tanpa ada rasa benci. Belajar untuk memaafkan. Masih tetap menjalin hubungan yang erat dengan ‘lelaki hujan’, belajar melihat cinta lain yang ditawarkan Tuhan lewat sahabat – sahabatku yang mendukungku bahwa masih ada kehidupan usai cinta pergi dan belajar menata hidup tanpa intervensi seorang yang disebut ‘kekasih’. Belajar banyak tentang makna cinta.
Dan akhirnya … sebagai orang Kristen, Aku percaya BAHWA Yesus begitu baik, begitu banyak ketololan yang kubuat di dalam hidupku (lebih dari yang bisa kuabsen di dalam tulisan ini), tapi Ia selalu ada melindungiku. Mengirimkan orang – orang di waktu dan tempat yang tepat, mengingatkan dan menegurku lewat banyak hal (suka dan duka). Aku bisa saja sekarang hanyalah cewek cacat patah tulang, atau sudah berpulang pada-Nya Aku melihat bahwa apa yang telah dibuatnya dalam 25 tahun 10 bulan umurku lebih dari apa yang bisa kubayangkan sebelumnya. Bahwa aku begitu DIBERKATI. He truly loves me!
Aku percaya bahwa ada satu pribadi di luar sana yang peduli 100% padaku, dan aku percaya bahwa pribadi itu (Yesus) merancangkan hal yang indah bagiku. Tiba – tiba membuatku teringat lirik karangan I.S. Kijne dalam Nyanyian Rohani 134: Tersembunyi Ujung Jalan.
“Tuhan, janganlah biarkan,
Kutentukan nasibku.
Bri’lah hanya kudengarkan,
Keputusan hikmat-Mu.
Aku inipun selaku
Kanak – kanak yang bebal.
Bapa jua bimbing aku,
Ke kehidupan kekal.”
(Campbell, Canberra/ 7 Juli 2009)
0 comments:
Post a Comment