
Jam digital layar komputer merangkak meninggalkan jam 2. 14 pagi, tapi mata enggan tertutup. Begitu banyak inspirasi menulis datang menggoda, mengajakku berlari kembali pada masa – masa yang hilang, yang tak akan kembali dan tiba – tiba pikiranku berlari pada masa kecilku di sebuah tempat bernama Fanindi, di kota Manokwari, Papua Barat, negara Indonesia pada sebuah planet bernama Bumi. Sedari tadi aku memikirkan seorang teman lama yang telah lama tak kujumpai dan memang tak akan pernah kujumpa lagi. Seorang yang pernah dekat dan mengisi masa kanak – kanakku namun pergi begitu cepat.
Beberapa hari ini aku tiba – tiba memikirkannya, mungkin karena 3 minggu terakhir ini aku mendengar begitu banyak berita kehilangan orang yang dikasihi, dalam konteks ini, banyak berita duka yang kudengar. Mulai dari seorang teman di Melbourne yang mengirim SMS meminta dukungan doa bagi bapaknya yang masuk UGD (yang sayangnya SMSnya baru kubaca sejam kemudian dan menelponnya hanya untuk mendengarkan berita bahwa bapaknya telah ‘berpulang’), ataupun SMS dan telpon dari orang tuaku yang memberitahu kabar bahwa sejumlah kerabat jauh dan tetanggaku yang meninggal karena sakit (kanker dll), plus sebuah berita beberapa hari lalu tentang berpulangnya mama dari sahabatku di Biak. Semua berita itu menyadarkan aku betapa hidup begitu singkat.
Aku mungkin orang yang cukup kikuk menghadapi berita duka ataupun kematian. Boleh dikata, aku tak tahu harus berbuat apa saat mendengarkan berita duka. Reaksi tubuhku begitu negatif. Aku tak pandai merangkai kata penghiburan untuk mereka yang ditinggalkan, tapi jauh di dalam hati, kuharap aku bisa menawarkan sebuah pelukan persahabatan dan persaudaraan dan meyakinkan bahwa mereka akan baik – baik saja, bahwa apa yang dirancangkan Tuhan pasti baik adanya. Jujur berkenaan dengan topik kematian, aku bukan pujangga!
Aku mencatat 3 kematian yang berbekas di hatiku, aku tahu apa yang pernah kurasakan ini tak sebanding dengan rasa kehilangan yang dialami para sahabat dan kerabat yang sekarang ini sedang dilanda kedukaan. Aku tahu refleksi kematianku tak akan mampu menghilangkan gurat duka di wajah mereka, karena toh, kematian tetap adalah sebuah kedukaan, kehilangan yang besar.
Memutar benang waktu yang terurai, pertama kali terekspos dengan kematian pada waktu usiaku menginjak umur 4 tahun (kalau tak salah), aku masih mengingat jelas sore itu, masih berlari riang bersama kedua saudara lelakiku di ruang tengah, aku masih ingat bagaimana kami memanjat sebuah peti kayu dan menatap opaku; orang tua angkat mama yang membesarkannya sejak bayi. Masih mengingat jelas reaksi mama dengan mata bengkak menangis dan reaksi para kerabat Maluku yang merubung di rumah. Aku tak begitu jelas merasakan kehilangan karena ingatan tentang opa hanyalah kepingan samar – samar kala melihat seorang lelaki tua yang sakit parah dirawat di rumah. Yang aku ingat jelas, aku dan kedua kakak – kakakku melongok pada wajahnya di dalam peti dan tak begitu mengerti apa yang sedang terjadi, yang pasti kuingat ia hanya diam di dalam peti mati itu.
Opa Taha atau opa Chak kemudian hidup dalam ingatanku dalam tuturan mama. Sewaktu kecil, usai kematiannya, ia tetap hidup bagi kami di rumah lewat kisah – kisah masa mudanya di Amahai, Seram, Jayapura, dan Manokwari. Tentang keberanian dan kebengalan masa mudanya melawan tentara Jepang di Maluku (merebus tentara Jepang dll), menjadi spionase bagi tentara Sekutu di sana (menyamar sebagai mata – mata dengan berpura – pura mencari ikan dan menggunakan sejenis kaca untuk memberi tanda pada pesawat pemburu tentang keberadaan tentara Jepang), menjadi biang pesta dan arogansi masa muda, menjadi pawang hujan, menjadi the joker of the party, seseorang yang selalu membuat suasana komunitas menjadi hidup … tapi sayangnya ia juga kukenal sebagai seseorang (dan kemudian diteguhkan penyataan ini lewat bincang – bincang banyak orang yang hidup di masanya di areaku bertumbuh) sebagai seorang penganut dan pemraktek okultisme (secara kasar bisa disebut sebagai salah satu dukun Maluku terhebat di masanya di kotaku).
Bercerita tentang dia tak akan habisnya karena ia kemudian menjelma sebagai salah satu tokoh fantasiku, yang entah kapan akan kututurkan pada anak cucuku. Terlepas dari semua sifat buruknya dan kebengalannya yang melegenda di kompleksku (lelaki tua yang anjingnya tak bisa mati walau dibedil berulangkali oleh tentara Siliwangi, namun segera jatuh tergeletak sepersekian detik usai ia membisikan ucapan selamat tinggal), aku melihat ia adalah seorang pekerja keras yang mengajarkan kemandirian dan kedisiplinan. Lelaki tua yang merantau di tanah orang, membuka kebun buah – buahan, rajin menganyam jala dan pergi menjala ikan kala senggang, seorang tukang kayu bertemperamen keras dan tak segan – segan menghukum keras mama bila ada kesalahan, tetapi juga seorang sosialita dalam arti yang sesungguhnya; bergaya modis, selalu mengedepankan kepentingan orang lain dan selalu menyempatkan waktu mengunjungi semua kerabat dalam suka dan duka mereka.
Kematian kedua yang membuka mataku bahwa hidup begitu singkat adalah kematian sahabatku sewaktu kecil (Ice Woria) sekitar tahun 1992 atau 1993. Seorang teman bermain yang selalu ada saat memancing, pergi berpetualang ke hutan, menyusuri kali – kali kecil di dekat rumah, mencuri buah milik tetangga, teman memanjat pohon, bermain layangan, paku tiga, sumpit, bambu plok. Seseorang yang suka bermain di rumahku dan membantuku membungkus es lilin untuk dijual ke sekolah sebagai modal jajan. Seseorang yang ada kala bermain rumah – rumahan, membuat bivak dari ranting dan dahan pohon, dan membantuku mencuri minyak goreng dari rumah guna menggoreng kue – kue tanah. Sahabat dekatku yang cuek berlari riang dan memanjat pagar – pagar tetangga dan nongkrong berjam – jam di atasnya sambil iseng memanggil setiap orang yang lewat. Aku mengenangnya sebagai sahabat kecilku yang ada kala kami masih suka berenang di kali dan mencari ‘ikan kodok’ (kecebong) dan memamerkan berapa banyak kadal ataupun cicak bangkaro (kadal bengkarung) yang berhasil kami kartafel (ketapel). Ia juga seorang sahabat yang menemaniku bersama saudara – saudaraku beroperasi membongkar sampah – sampah di kompleks, dan pinggiran kali mengumpulkan botol bekas bir/ minyak goreng guna dijual sebagai tambahan uang jajan, kaleng Coke untuk membuat meriam dan teman makan pisang goreng dan es lilin moka di kios Salatiga.
Aku ingat betul sore itu, pada sebuah musim buah. Kami baru saja bermain pada siang hari. Sekitar jam 5 sore, aku diberitahu seorang anggota keluarga, aku tak ingat jelas apa bapak atau kakak laki – lakiku yang bilang. Tapi yang pasti, aku cuma bisa diam dan terhenyak kala melihat tubuh kakunya terbujur di ruang tamu rumahnya diiringi jeritan keluarganya. Saat itu ia satu – satunya anak perempuan dalam keluarga (walau usai kematiannya keluarganya kemudian dikaruniakan 2 anak perempuan yang wajahnya mirip dengan Ice, dan kemudian mereka juga bersahabat dengan adik perempuanku.). Aku ingat betul kebingungan bagaimana bereaksi dengan sebuah kematian, sebuah kehilangan. Yang aku tahu, aku sudah tak punya lagi teman bermain yang bisa diajak gila (aku juga punya beberapa teman perempuan tapi mereka tak diijinkan orang tua mereka untuk bermain gaya-gila seperti gayaku waktu SD dulu). Yang aku tahu, aku baru bisa menangis dan mengeluarkan air mata usai pulang ke rumah. Sejak saat itu, aku jarang menunjukan emosiku dalam bentuk tangisan untuk setiap berita duka yang kudengar, walau kerabatku sendiri. Aku hanya merasa kehilangan dan berharap semuanya akan baik – baik saja tapi tak bisa kuungkapkan dengan kata – kata. Yang pasti, Ice akan tetap kukenang sebagai seorang cewek Ansus kecil yang mengajarkan banyak hal padaku (teknik memancing, makan teripang, papeda dll)
Kematian lain yang cukup berbekas di hatiku adalah kematian anjing kesayanganku yang kunamakan Yayang. Aku tak pernah punya hewan peliharaan tapi usai sembuh sakit parah tahun 2001, di bulan – bulan terakhir tahun itu, kuputuskan memelihara anjing sebagai teman bermainku. Aku baru saja pindah kembali ke kota tempat orang tuaku berada usai selesai SMA di Jayapura. Tak punya teman jalan selain teman – teman lama sewaktu SMP dan juga teman – teman masa kecilku. Yayang yang berarti ‘sayang’, anjing berbulu coklat itu kurawat sejak masih bayi, kucarikan dot dan susu. Setia kuajak ke pantai untuk berendam kala aku menjalankan terapi jalanku di pasir pantai, walau kadang setengah mati menghalau saat ia berkelahi dengan anjing lain di pantai. Anjing itu begitu memahami instruksi yang kuberikan dan yang pasti selalu setia menggoyangkan ekornya kala kupulang ke rumah.
Demi studi di kota lain (Manado), kutinggalkan ia di rumah dengan sejumlah pesan kepada ortuku, namun sayang, sekitar bulan Mei 2003, ia mati diracun orang. Tapi toh, ia membuktikan bahwa ia anjing yang pintar karena ia tak rela dibunuh begitu saja. Walau sudah diracun, ia bersusah payah berlari masuk dalam halaman rumah dan mati di sana. Yang aku tahu, kala itu aku sedang di kamar kos di Manado, sebuah telepon dari lain pulau mengabarkan berita yang cukup membuatku terhenyak, karena sekitar Februari aku baru saja pulang dari Manokwari (mengurus kepindahanku ke UNIPA) dan melihatnya dalam keadaan baik. Yang aku tahu, aku hanya bisa menundukan kepala dari pandangan tanda tanya teman – teman cowok di kos yang sedang nonton, karena letak telpon berada di ruang TV. Berlari masuk ke dalam kamar, memutar musik keras – keras dan menangis Bombay semalaman hingga mata bangka – bangka. Walau pagi hari kemudian aku menghadapi pertanyaan dari ibu kos yang berhati – hati menanyakan tentang berita itu, usai dilaporkan oleh kakak – kakak cowok di kos. “May, kata Venti, tadi malam ada yang ‘pergi’ kang?”, tanyanya. Dan aku cuma bisa bertanya penuh tanda tanya tanpa mengangkat wajah karena malu menatap dengan kelopak mata bengkak, “Siapa yang pergi stow?”, tanyaku kembali. Dan ibu kos pun menjelaskan tentang laporan kakak – kakak cowok di kos, yang membuatku menjawab lirih bahwa anjingku baru saja mati diracun. Dan guess what, aku sempat dijadikan bahan mop oleh teman – teman cowok yang menguping pembicaraan di pancuran air pagi itu, karena Bombay kehilangan anjing.
Kematian bukanlah topik yang mudah dibicarakan. Kematian tetap merupakan kematian, sebuah rasa kehilangan yang tak akan pernah bisa dihapus, walau seiring dengan waktu perlahan – lahan akan terganti prioritasnya dalam susunan ingatan kita … TAPI … rasa itu akan tetap ada di sana. Dalam piranti lunak penyimpan kenangan. Tak ada sesuatupun yang bisa menghapus kehilangan itu dari hati kita, yang ada dan bisa kita lakukan adalah menerima keadaan itu dan menyadari bahwa segala yang hidup suatu hari pasti akan kembali pada-Nya.
Setiap orang bereaksi berbeda pada kematian, tetapi kematian tetap akan meninggalkan sebuah lubang di sana. Sebuah keping kenangan yang hilang. Tak ada cara paten apapun untuk menghapus duka ditinggalkan karena manusia adalah makhluk yang dinamis dan unik. Setiap orang mempunyai sistem penyembuhan yang berbeda dari rasa kehilangan itu, dalam jangka waktu yang berbeda. Tapi yang pasti, percayalah bahwa jangan pernah merasa sendiri saat duka itu datang, karena disadari atau tidak, ada banyak orang yang berempati dan merasakan kehilangan yang sama; ada yang tahu bagaimana caranya mengungkapkan empati mereka dengan baik lewat kata – kata, ada yang tak tahu (aku salah satu di antaranya). Tapi yang pasti, jangan pernah merasa sendiri.
Kematian seperti juga kehidupan adalah sebuah proses. Yang bisa kita lakukan adalah mengenang mereka yang hilang sebagai salah satu bagian terbesar dalam hidup kita, menyimpan semangat mereka dalam hidup kita, mengenang mereka (atau sesuatu) sebagai orang – orang yang pernah mewarnai hidup kita dalam mencari jati diri kita sebagai manusia. Percayalah hanya raga mereka yang mati dan melebur bersama bumi, tapi jauh di sana, mereka tetap hidup. Tetap hidup dalam benak kita, menyemangati kita lewat hidup mereka. Terlepas dari apa yang pernah mereka lakukan, seburuk apapun kelakuan mereka, kematian layak dihargai. Yang pasti, mengucap syukurlah bahwa kita pernah bertemu dengan mereka, sebagai orang – orang yang memberi khazanah hidup, membuat kita menjadi utuh sebagai manusia; mempunyai emosi aksi – reaksi.
Aku bukan pujangga pun orang yang pandai merangkai kata, tapi aku percaya, “ Untuk segala sesuatu ada waktunya”. Jangan pernah merasa sendiri!!!
(Campbell, Canberra/ 9 Juli 2009)
(Sumber foto: http://i.123g.us/c/insp_sympathy/card/110081.gif)
0 comments:
Post a Comment