Search This Blog

Loading...

Saturday, 18 July 2009

Always (being there 4 me)

Malam ini, 17 Juli 2009, entahlah kenapa perasaan tak nyaman ini kembali hadir, perasaan yang tak nyaman untuk dibicarakan, perasaan yang membuat sepersekian detik dari hidup menguap tanpa kedamaian. Perasaan kosong, hampa, sepi, merasa bersalah, terbuang, dan tak berharga yang mencoba masuk dalam benak, mencoba mengontrol emosi malam ini, dan kusadari telah ada sejak sore tadi, mencoba masuk dalam sel – sel batang otak, menginstruksi hormon – hormon pemicu kebahagianku untuk pergi, untuk menyingkir.

Beberapa jam lalu saat duduk – duduk dengan anak – anak Papua di rumah seorang senior, walau aku tertawa dan mendengar cerita lucu dan berdiskusi, satu sudut hati terlanjur ‘terinfeksi’ dan rasa tak nyaman itu sempat menyelinap masuk beberapa saat, membuatku sempat merasa kosong dalam riuh tawa.

Akhirnya kuputuskan pulang beberapa menit menjelang pukul 9, karena aku tahu aku hanya bisa mengatasinya dengan satu hal; berdoa dan membaca Alkitab, plus mendengarkan lagu rohani, yang menguatkanku. Dengan berdingin ria dan napas yang berembun plus suhu di bawah 10 derajat kala menunggu bis sekitar 15 menit, akhirnya sebuah bis nomor 9 arah Campbell pun berhenti dan senyum ramah si pengemudi lumayan membuat hatiku sedikit nyaman dalam malam yang beku.

Dalam perjalanan pulang berjalan kaki dari halte bis ke rumah, sekitar 7 - 10 menit, entahlah … aku merasa begitu melankolis dengan rasa tak nyaman ini, dan kuputuskan berbicara dengan Tuhan dalam perjalanan pulang itu, berjalan kaki perlahan. Kuutarakan bahwa aku merasa tak nyaman malam ini, merasa tak berharga dan lain – lain. Dan aku mendapat satu perkataan dalam hatiku bahwa “Ia mengasihiku, lebih dari yang kutahu, lebih dari yang kubayangkan. Bahwa aku kuat dan bisa mengatasi semua rasa tak nyaman ini,”

Usai masuk ke dalam rumah yang temaram karena perapian gas sedang padam, dan tak ada seorangpun teman serumah (housemate) yang di lantai bawah, kuputuskan menaruh dan membereskan semua barang yang kubawa (tas dan barang hibah yang kuperoleh beberapa bulan lalu, dan komik Tintin 6 judul). Usai berganti pakaian dan menyalakan heater kamar, kuaktifkan komputer dan radio. Tiba – tiba seakan jawaban dari perasaan tak nyaman itu muncul dalam pembahasan di Radio One Way M; radio Kristen di Canberra. Sebuah pembahasan dari program InTouch tentang “How to praise God”. Dalam pembahasan itu dibahas tentang Maria Magdalena yang mempersembahkan minyak wangi dan membasuh dengan airmata dan sekaan rambut dan protes Yudas.

Pembahasan dalam acara itu membuka mataku, saat satu hal yang dibahas itu benar – benar menguatkan bahwa Tuhan melihat hati kita sebagai pujian yang sesungguhnya; lewat hidup. Dan Ia menginkan kita mencintai-Nya karena pribadinya, dan bukan karena apa yang kita dapatkan dari dia atau apa yang akan kita dapatkan dari dia. Kita mencintai Yesus karena pribadi Yesus sendiri. Mungkin terdengar konyol bagi beberapa orang, tapi inti dari khotbah tadi memang menekankan pada unconditional love-nya Yesus.

Usai itu, kuputuskan memutar video ‘Come to Jesus’ milik Chris Rice dan kudapatkan satu versi videonya yang sangat indah di http://www.youtube.com/watch?v=pOzYcXaZY8k&feature=related
Benar – benar menguatkan! Tak lupa pula berdoa dan membaca firman.

Hingga saat menulis pada bagian ini, aku masih tetap ditemani lagu ini hampir 2 jam dan mood-ku perlahan membaik dan rasa tak nyaman itu telah menghilang. Aku bersyukur punya Allah yang mengerti dan peduli padaku, yang mengasihiku tanpa syarat.

Bapa, terima kasih untuk hidup yang kau beri, untuk semua pahit manisnya yang Kau ijinkan terjadi. Thanx karena lewat pengorbanan Kristus di Kayu Salib, aku tahu bahwa aku dikasihi. Thanx Yesus karena Kau pernah memilih hidup sebagai manusia dan mengerti bagaimana perasaan manusia yang mudah terinfeksi rasa tak nyaman yang ditawarkan Iblis, terimakasih karena Kau selalu menguatkanku saat ku merasa ku tak sanggup berjalan lagi, saat merasa ingin menyerah. Terima kasih untuk perkataan-Mu dalam hati lewat perantaraan Roh Kudus bahwa aku bisa melewati saat – saat ini, saat perasaan tak nyaman ini datang.

Aku mengucap syukur karena dengan-Mu, kurasakan arti hidup. Terima kasih untuk selalu percaya bahwa aku bisa melakukan banyak hal besar yang Kau bagi dalam hidupku. Terima kasih untuk menjadi ‘seseorang’ yang suka protes dan menaruh perkataan penuh empati dalam hatiku bahwa Kau mengerti dan siap mendengar apa yang kurasakan. Terima kasih untuk selalu ada untukku kala kubutuhkan seseorang yang sangat kupercaya untuk berbagi cerita tentang rasa rindu, rasa sakit, marah, kecewa, dan sedih.

Terima kasih untuk setiap perkataan di hatiku yang sering menyemangatiku kala kumulai rasa hilang dan hampa. Terima kasih karena tak pernah capek dan lelah mengatakan bahwa “Aku Mencintaimu lebih dari yang kau tahu, lebih dari yang kau pikirkan.”, untuk setiap perkataan, “Ko bisa dan berharga. Jangan menyerah.”. Untuk setiap perkataan penghiburan kala ku hilang arah dan alasan untuk untuk hidup. Aku mencintaimu Yesus.

Terima kasih karena begitu mengerti dan memahamiku walau kadang ku suka melawan-Mu, berhenti dan menolak mendengarkan suara-Mu di hatiku, menolak dan memilih mengikuti free willingku, atau berpura – pura tak mendengarkan Kau berbicara di sela – sela kegiatanku. Ampuni aku, Yesus.

Terima kasih untuk malam ini, Yesus, dan juga untuk semua janji-mu dan perkataan-Mu yang Kau buktikan selama minggu ini. Terima kasih karena beberapa hari lalu saat ku khawatir karena terlambat menghubungi pihak sekolah dan kebingungan karena telpon sekolah hanya terhubung dengan mesin penjawab, Senin Malam itu Kau bilang bahwa semuanya akan baik – baik saja, dan sungguh Kau baik dan menepati janji kala hari Selasa itu saat kuputuskan langsung mendatangi alamat sekolah yang berjarak 1 jam dari Civic. Betapa janjimu terpenuhi kala suara seorang Ibu dari pihak sekolah menelponku 5 menit sebelum aku naik bis ke sekolah, dan mengonfirmasi serta mengatur pertemuan untuk minggu mendatang. Kau ingat Yesus, hari itu usai menerima telpon itu, saat berada di dekat danau di Tuggeranong, dari jendela Bis, ada pelangi cantik yang bertengger di atas danau itu. Terima kasih untuk hal itu.

Akhirnya, aku cuma mau bilang bahwa, “Thanx Jesus 4 being the biggest part of my life. My great comforter, provider, counselor, a true friend, my parent, ‘n definitely the lover of my soul. We’ll dance someday, I promise.”


Dari-yang-merasa-diberkati,


D.M.

0 comments: